Selasa, September 24

[Al-Bidayatul Hidayah, Al-Imam Abu Hamid Muhammad Al-Ghazali.ra]


Bismillahirrahmanirrahim...

Nabi SAW bersabda :
“Siapa yang meninggalkan perdebatan padahal dia dalam keadaan salah, maka Allah SWT akan membangunkan untuknya rumah di tepi surga. Dan barangsiapa yang meninggalkan perdebatan padahal dia dalam posisi yang benar Allah akan membangun untuknya sebuah rumah di surga yang paling tinggi.”

Jangan sampai engkau tertipu oleh setan yang berkata padamu, “Tampakkanlah yang benar, jangan bersikap lemah!” sebab, setan selalu akan menjerumuskan orang dungu, kepada keburukan dalam bentuk kebaikan. Jangan sampai engkau menjadi bahan tertawaan setan sehingga dia mengejekmu. Menampakkan kebenaran kepada mereka yang mau menerimamnya adalah suatu kebaikan. Tetapi hal itu harus dilakukan dengan cara nasihat secara rahasia bukan dengan cara berdebat. Sebuah nasihat memiliki karakter dan bentuk tersendiri. Ia haru dilalukan dengan cara yang baik. Jika tidak, ia hanya akan mencemarkan aib orang. Sehingga keburukannya lebih banyak daripada kebaikan yang ditimbulkan. (mudharatnya lebih besar) Orang yang sering bergaul dengan para Faqih zaman ini, memiliki kecenderungan karakter suka berdebat sehingga sulit diam. Berdebat merupakan sesuatu yang mulia dan mampu berdiskusi merupakan satu kebanggaan. Oleh karena itu, hindarilah mereka sebagaimana engkau menghindari dari singa. Ketahuilah, perdebatan merupakan sebab datangnya murka Allah dan murka makhluk-Nya.

ALLAH SWT berfirman, “Jangan kalian merasa suci. Dia yang lebih mengetahui siapa yang bertakwa.” (QS. An-Najm:32). Sebagaimana ahli hikmat ditanya, “Apa itu jujur yang buruk?”. Beliau-beliau.rhm menjawab, “seseorang yang memuji dirinya sendiri.” Jangan engkau terbiasa demikian. Ketahuilah bahwa hal itu akan mengurangi kehormatanmu di mata manusia dan mengakibatkan datangnya murka Allah SWT. Jika engkau ingin membuktikan bahwa membanggakan diri tak membuat manusia bertambah hormat padamu, lihatlah sekelilingmu, kerabatmu, manakala mereka membanggakan kemuliaan, kedudukan dan harta mereka sendiri, bagaimana hatimu membenci mereka dan muak atas tabiat mereka. Jadi sadarlah bahwa mereka juga bersikap demikian ketika engkau mulai membanggakan diri. Di dalam hatinya, mereka akan mecelamu dan hal itu akan mereka ungkapakan ketika mereka tidak berada di hadapanmu.

Jangan sampai engkau mencela ciptaan Allah SWT, baik itu hewan, makanan, miniman apalagi manusia. Janganlah engkau dengan mudah memastikan seseorang yang menghadap kiblat sebgai kafir, atau munafik. Karena, yang mengetahui semua rahasia hanyalah ALLAH SWT. Oleh karena itu, jangan mencampuri urusan antara hamba dan Allah SWT. Ketahuilah engkau tidak akan ditanya kelak, “Mengapa engkau tidak mencela si-fulan?mengapa engkau mendiamkannya?”

Wa min Allah at taufiq hidayah wal inayah, wa bi hurmati Habib wa bi hurmati fatihah!!

Tiada ulasan:

Catat Ulasan