Sabtu, Ogos 31

يا سيدي يا رسول الله يا سيدي يا رسول الله

يا سيدي يا رسول الله
يا سيدي يا رسولَ الله - يا من له الجَاهُ عند الله
إنّ الْمُسِيْئِيْنَ قدْ جَاءُوك - بالذّنْبِ يَسْتَغْفِرُونَ الله
يا سيّد الرُّسْل هَادِيْنـا - هَيـّا بِغَارة إِلَيْنا الآن
يا هِِمَّة السّادات الأقْطاَب- مَعَادِن الصِّدْقِ والسِّرّ
نَادِ المُهَاجِرصَفِيّ الله -ذاك ابْنُ عيسى أبَا السَّادات
ثُمّ المُقَدّم ولِيّ الله - غَوْث الوَرَى قُدْوَة القَادات
ثمّ الوَجِيْـه لِديْنِ الله - سَقّافَنا خَارِق الْعَادَات
والسّيّد الكامِل الأَوّاب - العَيْدرُوس مَظْهَر القُطْر
قُومُوا بِنا واكْشِفُوا عَنّا - يا سَاداتِي هذِه الأَسْوَ
وَاحْمواُ مَدِيْنَتْكُم الغَنَّا - مِنْ جُمْلةِ الشَّرّ والْبَلْوَى
Qasidah ini menceritakan tentang tawassul kepada Rasulullah SAW dan para salaf, di antara mereka: Ahmad bin Isa Al-Muhajir, Al-Faqih Al-Muqaddam, Abdurrahman Al-Saggaf, Abdullah Al-idrus untuk kita mendapat pengampunan dari Allah SWT dan di jauhkan dari segala kejahatan dan musibah

يَا رَبِّ يَا عَالِمَ الْحَالْ

يَا رَبِّ عَالِمَ الْحَـالْ
Wahai Allah yang mengetahui hal hamba
إِلَيْكَ وَجَّهْتُ اْلآمـَالْ
Kepada-Mu aku hadapkan segala cita-cita
فَامْنُنْ عَلَيْناَ بِاْلإقْبـَالْ
Kurniakanlah kami nikmat perkenan dari-Mu
وَكُنْ لَناَ وَاصْلِحِ الْبـَالْ
Serta belas kasihan dan tenteramkan hati kami
يَارَبِّ يَا خَيـْرَ كـَافِي
Wahai Allah yang Maha mencukupi
اُحْلُـلْ عَلَيْنـَا الْعَـوَافِي
Berilah kami sihat afiat
فَلَيْسَ شَيْء ثَمَّ خـَافِي
Kerana tiada yang sulit atas-Mu
عَلَيْكَ تَفْصِيْلُ وَاجْمـَالْ
Segala sesuatu dalam pengetahuan-Mu
وَقَـْد أَتـَاكَ بِعُـذْرِه
Ia telah datang pada-Mu dengan dosa
وَبِانْكِسـَارِهِ وَفَقْـرِه
Dan kesedihan dan kefakirannya
فَاهْزِمْ بِيُسْـرِكَ عُسْـره
Angkatlah dengan kemudahan-Mu segala kesusahannya
بِمَحْضِ جُوْدِكَ وَاْلإِفْضَالْ
Dengan Berkat kemurahan dan kurnia-Mu
وَامْـنُنْ عَلَيـْهِ بِتَوْبـَةْ
Kurniakanlah padanya taubat
تَغْسِلْهُ مِنْ كُلِّ حَوْبـَةْ
Yang dapat menghapus segala dosa
وَاعْصِمْهُ مِنْ شَرِّ أَوْبـَةْ
Jagalah ia dari segala bahaya
لِكُلِّ مَا عَنْهُ قَدْ حـَالْ
Dari segala yang akan menimpa padanya
فَأَنْتَ مَـوْلَى الْمَـوَالِي
Engkau adalah Tuhan seluruh hamba
الْمُنْـفَرِدُ بِـالْكَمـَالِ
Yang Esa dalam kesempurnaanMu
وَبِـالْعُـلَى وَالتَّعـَالِي
Dalam ketinggian dan keagunganMu
عَلَوْتَ عَنْ ضَرْبِ الأَمْثَالْ
Maha suci Allah dari semua keserupaan
جُوْدُكَ وَفَضْلُكَ وَبِـرُّكَ
Kemurahan, kurnia, dan kebaikan-Mu
يُرْجَى وَبَطْشُكَ وَقَهْـرُكَ
Sungguh sangat di harapkan. Murka dan marah-Mu
يُخْشَى وَذِكْرُكَ وَشُكْـرُكَ
Sungguh sangat di takutkan. Berdzikir dan bersyukur pada-Mu
لاَزِمْ وَحَمْدُكَ وَاْلإِجْـلاَلْ
Adalah lazim, demikian pula memuji dan mengagungkan-Mu
وَصَـلِّ فِي كُلِّ حَالَـةْ
Selawat pada setiap masa
عَلَى مُزِيْـلِ الضَّلاَلـَةْ
Di atas nabi penghapus kesesatan
مَـنْ كَلَّمَتْـهُ الْغَزَالـَةْ
Kepadanya rusa bercakap
مُحَمَّدِ الْهـَادِي الـدَّالْ
Iaitu Muhammad penunjuk jalan
وَالْحَمْـدُ لِلّـه شُكْـرًا
Segala puji bagi Allah sebagai tanda syukur
عَلَى نِعَمٍ مِنْـهُ تَتْـرَى
Atas nikmatNya yang tidak putus
نَحْمَـدُهُ سِـرًّا وَجَهْـرًا
Kami memuji padaNya dengan rahsia dan terang
وَبِـالْغَـدَايَـا وَاْلآصـَالْ
Siang malam setiap waktu

Kisah Adzan Terkahir Bilal bin Rabbah R.A

Pada waktu dhuha di hari Senin 12 Rabi’ul Awal 11 H (hari wafatnya Rasulullah shalallahu alaihi wasallam) masuklah putri beliau Fathimah radhiyallahu anha ke dalam kamar Rasulullah shalallahu alaihi wasallam, lalu dia menangis saat masuk kamar Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam. Dia menangis karena biasanya setiap kali dia masuk menemui Rasullullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam, beliau berdiri dan menciumnya di antara kedua matanya, akan tetapi sekarang beliau tidak mampu berdiri untuknya. Maka Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam bersabda kepadanya: ”Mendekatlah kemari wahai Fathimah.” Beliaupun membisikkan sesuatu di telinganya, maka dia pun menangis. Kemudian beliau bersabda lagi untuk kedua kalinya:” Mendekatlah kemari wahai Fathimah.” Beliaupun membisikkan sesuatu sekali lagi, maka diapun tertawa. Maka setelah kematian Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam, mereka bertanya kepada Fathimah : “Apa yg telah dibisikkan oleh Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam kepadamu sehingga engkau menangis, dan apa pula yang beliau bisikkan hingga engkau tertawa?” Fathimah berkata: ”Pertama kalinya beliau berkata kepadaku: ”Wahai Fathimah, aku akan meninggal malam ini.” Maka akupun menangis. Maka saat beliau mendapati tangisanku beliau kembali berkata kepadaku:” Engkau wahai Fathimah, adalah keluargaku yg pertama kali akan bertemu denganku.” Maka akupun tertawa. Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam memanggil Hasan dan Husain, beliau mencium keduanya dan berwasiat kebaikan kepada keduanya. Lalu Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassalam memanggil semua istrinya, menasehati dan mengingatkan mereka. Beliau berwasiat kepada seluruh manusia yang hadir agar menjaga shalat. Beliau mengulang-ulang wasiat itu. Lalu rasa sakitpun terasa semakin berat, maka beliau bersabda:” Keluarkanlah siapa saja dari rumahku.” Beliau bersabda:” Mendekatlah kepadaku wahai ‘Aisyah!” Beliaupun tidur di dada istri beliau ‘Aisyah radhiyallahu anha. ‘Aisyah berkata:” Beliau mengangkat tangan beliau seraya bersabda:” Bahkan Ar-Rafiqul A’la bahkan Ar-Rafiqul A’la.” Maka diketahuilah bahwa disela-sela ucapan beliau, beliau disuruh memilih diantara kehidupan dunia atau Ar-Rafiqul A’la. Masuklah malaikat Jibril alaihis salam menemui Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassalam seraya berkata:” Malaikat maut ada di pintu, meminta izin untuk menemuimu, dan dia tidak pernah meminta izin kepada seorangpun sebelummu.” Maka beliau berkata kepadanya:” Izinkan untuknya wahai Jibril.” Masuklah malaikat Maut seraya berkata:” Assalamu’alaika wahai Rasulullah. Allah telah mengutusku untuk memberikan pilihan kepadamu antara tetap tinggal di dunia atau bertemu dengan Allah di Akhirat.” Maka Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassalam bersabda:” Bahkan aku memilih Ar-Rafiqul A’la (Teman yang tertinggi), bahkan aku memilih Ar-Rafiqul A’la, bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah yaitu :para nabi, para shiddiqiin, orang-orang yg mati syahid dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah rafiq (teman) yang sebaik-baiknya.” ‘Aisyah menuturkan bahwa sebelum Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam wafat, ketika beliau bersandar pada dadanya, dan dia mendengarkan beliau secara seksama, beliau berdo’a: “Ya Allah, ampunilah aku, rahmatilah aku dan susulkan aku pada ar-rafiq al-a’la. Ya Allah (aku minta) ar-rafiq al-a’la, Ya Allah (aku minta) ar-rafiq al-a’la.” Berdirilah malaikat Maut disisi kepala Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassalam- sebagaimana dia berdiri di sisi kepala salah seorang diantara kita- dan berkata:” Wahai roh yang bagus, roh Muhammad ibn Abdillah, keluarlah menuju keridhaan Allah, dan menuju Rabb yang ridha dan tidak murka.” Sayyidah ‘Aisyah berkata:”Maka jatuhlah tangan Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassalam, dan kepala beliau menjadi berat di atas dadaku, dan sungguh aku telah tahu bahwa beliau telah wafat.” Dia berkata:”Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan, tidak ada yang kuperbuat selain keluar dari kamarku menuju masjid, yang disana ada para sahabat, dan kukatakan:” Rasulullah telah wafat, Rasulullah telah wafat, Rasulullah telah wafat.” Maka mengalirlah tangisan di dalam masjid. Ali bin Abi Thalib radhiyallahu anhu terduduk karena beratnya kabar tersebut, ‘Ustman bin Affan radhiyallahu anhu seperti anak kecil menggerakkan tangannya ke kanan dan kekiri. Adapun Umar bin al-Khaththab radhiyallahu anhu berkata:” Jika ada seseorang yang mengatakan bahwa Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam telah meninggal, akan kupotong kepalanya dengan pedangku, beliau hanya pergi untuk menemui Rabb-Nya sebagaimana Musa alaihis salam pergi untuk menemui Rabb-Nya.” Adapun orang yg paling tegar adalah Abu Bakar radhiyallahu anhu, dia masuk kepada Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam, memeluk beliau dan berkata:”Wahai sahabatku, wahai kekasihku, wahai bapakku.” Kemudian dia mencium Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassalam dan berkata : ”Anda mulia dalam hidup dan dalam keadaan mati.” Keluarlah Abu Bakar menemui manusia dan berkata:” Barangsiapa menyembah Muhammad, maka Muhammad sekarang telah wafat, dan barangsiapa yang menyembah Allah, maka sesungguhnya Allah kekal, hidup, dan tidak akan mati.” Maka akupun keluar dan menangis, aku mencari tempat untuk menyendiri dan aku menangis sendiri.” Inna lillahi wainna ilaihi raji’un, telah berpulang ke rahmat Allah orang yang paling mulia, orang yg paling kita cintai pada waktu dhuha ketika memanas di hari Senin 12 Rabiul Awal 11 H tepat pada usia 63 tahun lebih 4 hari. semoga shalawat dan salam selalu tercurah untuk Nabi kiat tercinta Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Wassalam.  Langit Madinah kala itu mendung. Bukan mendung biasa, tetapi mendung yang kental dengan kesuraman dan kesedihan. Seluruh manusia bersedih, burung-burung enggan berkicau, daun dan mayang kurma enggan melambai, angin enggan berhembus, bahkan matahari enggan nampak. Seakan-akan seluruh alam menangis, kehilangan sosok manusia yang diutus sebagai rahmat sekalian alam. Di salah satu sudut Masjid Nabawi, sesosok pria yang legam kulitnya menangis tanpa bisa menahan tangisnya. Waktu shalat telah tiba. Bilal bin Rabah, pria legam itu, beranjak menunaikan tugasnya yang biasa: mengumandangkan adzan.  “Allahu Akbar, Allahu Akbar…” Suara beningnya yang indah nan lantang terdengar di seantero Madinah. Penduduk Madinah beranjak menuju masjid. Masih dalam kesedihan, sadar bahwa pria yang selama ini mengimami mereka tak akan pernah muncul lagi dari biliknya di sisi masjid. “Asyhadu anla ilaha illallah, Asyhadu anla ilaha ilallah….” Suara bening itu kini bergetar. Penduduk Madinah bertanya-tanya, ada apa gerangan. Jamaah yang sudah berkumpul di masjid melihat tangan pria legam itu bergetar tak beraturan. “Asy…hadu.. an..na.. M..Mu..mu..hammmad…” Suara bening itu tak lagi terdengar jelas. Kini tak hanya tangan Bilal yang bergetar hebat, seluruh tubuhnya gemetar tak beraturan, seakan-akan ia tak sanggup berdiri dan bisa roboh kapanpun juga. Wajahnya sembab. Air matanya mengalir deras, tidak terkontrol. Air matanya membasahi seluruh kelopak, pipi, dagu, hingga jenggot. Tanah tempat ia berdiri kini dipenuhi oleh bercak-bercak bekas air matanya yang jatuh ke bumi. Seperti tanah yang habis di siram rintik-rintik air hujan. Ia mencoba mengulang kalimat adzannya yang terputus. Salah satu kalimat dari dua kalimat syahadat. Kalimat persaksian bahwa Muhammad bin Abdullah adalah Rasul ALLAH. “Asy…ha..du. .annna…” Kali ini ia tak bisa meneruskan lebih jauh. Tubuhnya mulai limbung. Sahabat yang tanggap menghampirinya, memeluknya dan meneruskan adzan yang terpotong. Saat itu tak hanya Bilal yang menangis, tapi seluruh jamaah yang berkumpul di Masjid Nabawi, bahkan yang tidak berada di masjid ikut menangis. Mereka semua merasakan kepedihan ditinggal Kekasih ALLAH untuk selama-lamanya. Semua menangis, tapi tidak seperti Bilal. Tangis Bilal lebih deras dari semua penduduk Madinah. Tak ada yang tahu persis kenapa Bilal seperti itu, tapi Abu Bakar ash-Shiddiq radhiyallahu anhu tahu. Ia pun membebastugaskan Bilal dari tugas mengumandangkan adzan. Saat mengumandangkan adzan, tiba-tiba kenangannya bersama Rasulullah shalallahu alaihi wasallam berkelabat tanpa ia bisa membendungnya. Ia teringat bagaimana Rasulullah shalallahu alaihi wasallam memuliakannya di saat ia selalu terhina, hanya karena ia budak dari Afrika. Ia teringat bagaimana Rasulullah shalallahu alaihi wasallam menjodohkannya. Saat itu Rasulullah meyakinkan keluarga mempelai wanita dengan berkata, “Bilal adalah pasangan dari surga, nikahkanlah saudari perempuanmu dengannya”.  Pria legam itu terenyuh mendengar sanjungan Sang Nabi akan dirinya, seorang pria berkulit hitam, tidak tampan, dan mantan budak. Kenangan-kenangan akan sikap Rasul yang begitu lembut pada dirinya berkejar-kejaran saat ia mengumandangkan adzan. Ingatan akan sabda Rasul, “Bilal, istirahatkanlah kami dengan shalat.” lalu ia pun beranjak adzan, muncul begitu saja tanpa ia bisa dibendung. Kini tak ada lagi suara lembut yang meminta istirahat dengan shalat. Bilal pun teringat bahwa ia biasanya pergi menuju bilik Nabi yang berdampingan dengan Masjid Nabawi setiap mendekati waktu shalat. Di depan pintu bilik Rasul, Bilal berkata, “Saatnya untuk shalat, saatnya untuk meraih kemenangan. Wahai Rasulullah, saatnya untuk shalat.” Kini tak ada lagi pria mulia di balik bilik itu yang akan keluar dengan wajah yang ramah dan penuh rasa terima kasih karena sudah diingatkan akan waktu shalat. Bilal teringat, saat shalat ‘Ied dan shalat Istisqa’ ia selalu berjalan di depan. Rasulullah dengan tombak di tangan menuju tempat diselenggarakan shalat. Salah satu dari tiga tombak pemberian Raja Habasyah kepada Rasulullah shalallahu alaihi wasallam. Satu diberikan Rasul kepada Umar bin Khattab, satu untuk dirinya sendiri, dan satu ia berikan kepada Bilal. Kini hanya tombak itu saja yang masih ada, tanpa diiringi pria mulia yang memberikannya tombak tersebut. Hati Bilal makin perih. Seluruh kenangan itu bertumpuk-tumpuk, membuncah bercampur dengan rasa rindu dan cinta yang sangat pada diri Bilal. Bilal sudah tidak tahan lagi. Ia tidak sanggup lagi untuk mengumandangkan adzan. Abu Bakar tahu akan perasaan Bilal. Saat Bilal meminta izin untuk tidak mengumandankan adzan lagi, beliau mengizinkannya. Saat Bilal meminta izin untuk meninggalkan Madinah, Abu Bakar kembali mengizinkan. Bagi Bilal, setiap sudut kota Madinah akan selalu membangkitkan kenangan akan Rasul, dan itu akan semakin membuat dirinya merana karena rindu. Ia memutuskan meninggalkan kota itu. Ia pergi ke Damaskus bergabung dengan mujahidin di sana. Madinah semakin berduka. Setelah ditinggal al-Musthafa, kini mereka ditinggal pria legam mantan budak tetapi memiliki hati secemerlang cermin. Awalnya, ash-Shiddiq merasa ragu untuk mengabulkan permohonan Bilal sekaligus mengizinkannya keluar dari kota Madinah, namun Bilal mendesaknya seraya berkata, “Jika dulu engkau membeliku untuk kepentingan dirimu sendiri, maka engkau berhak menahanku, tapi jika engkau telah memerdekakanku karena Allah, maka biarkanlah aku bebas menuju kepada-Nya.” Abu Bakar menjawab, “Demi Allah, aku benar-benar membelimu untuk Allah, dan aku memerdekakanmu juga karena Allah.” Bilal menyahut, “Kalau begitu, aku tidak akan pernah mengumandangkan azan untuk siapa pun setelah Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam wafat.” Abu Bakar menjawab, “Baiklah, aku mengabulkannya.” Bilal pergi meninggalkan Madinah bersama pasukan pertama yang dikirim oleh Abu Bakar. Ia tinggal di daerah Darayya yang terletak tidak jauh dari kota Damaskus. Bilal benar-benar tidak mau mengumandangkan adzan hingga kedatangan Umar ibnul Khaththab ke wilayah Syam, yang kembali bertemu dengan Bilal Radhiallahu ‘anhu setelah terpisah cukup lama. Jazirah Arab kembali berduka. Kini sahabat terdekat Muhammad shalallahu alaihi wasallam, khalifah pertama, menyusulnya ke pangkuan Ilahi. Pria yang bergelar Al-Furqan menjadi penggantinya. Umat Muslim menaruh harapan yang besar kepadanya. Umar bin Khattab berangkat ke Damaskus, Syria. Tujuannya hanya satu, menemui Bilal dan membujuknya untuk mengumandangkan adzan kembali. Setelah dua tahun yang melelahkan; berperang melawan pembangkang zakat, berperang dengan mereka yang mengaku Nabi, dan berupaya menjaga keutuhan umat; Umar berupaya menyatukan umat dan menyemangati mereka yang mulai lelah akan pertikaian. Umar berupaya mengumpulkan semua muslim ke masjid untuk bersama-sama merengkuh kekuatan dari Yang Maha Kuat. Sekaligus kembali menguatkan cinta mereka kepada Rasul-Nya. Umar membujuk Bilal untuk kembali mengumandangkan adzan. Bilal menolak, tetapi bukan Umar namanya jika khalifah kedua tersebut mudah menyerah. Ia kembali membujuk dan membujuk. “Hanya sekali”, bujuk Umar. “Ini semua untuk umat. Umat yang dicintai Muhammad, umat yang dipanggil Muhammad saat sakaratul mautnya. Begitu besar cintamu kepada Muhammad, maka tidakkah engkau cinta pada umat yang dicintai Muhammad?” Bilal tersentuh. Ia menyetujui untuk kembali mengumandangkan adzan. Hanya sekali, saat waktu Subuh.. Hari saat Bilal akan mengumandangkan adzan pun tiba. Berita tersebut sudah tersiar ke seantero negeri. Ratusan hingga ribuan kaum muslimin memadati masjid demi mendengar kembali suara bening yang legendaris itu. “Allahu Akbar, Allahu Akbar…” “Asyhadu anla ilaha illallah, Asyhadu anla ilaha illallah…” “Asyhadu anna Muhammadarrasulullah…” … Sampai di sini Bilal berhasil menguatkan dirinya. Kumandang adzan kali itu beresonansi dengan kerinduan Bilal akan Sang Rasul, menghasilkan senandung yang indah lebih indah dari karya maestro komposer ternama masa modern mana pun jua. Kumandang adzan itu begitu menyentuh hati, merasuk ke dalam jiwa, dan membetot urat kerinduan akan Sang Rasul. Seluruh yang hadir dan mendengarnya menangis secara spontan. “Asyhadu anna Muhammadarrasulullah…”  Kini getaran resonansinya semakin kuat. Menghanyutkan Bilal dan para jamaah di kolam rindu yang tak berujung. Tangis rindu semakin menjadi-jadi. Bumi Arab kala itu kembali basah akan air mata. “Hayya ‘alash-shalah, hayya ‘alash-shalah…” Tak ada yang tak mendengar seruan itu kecuali ia berangkat menuju masjid. “Hayya `alal-falah, hayya `alal-falah…” Seruan akan kebangkitan dan harapan berkumandang. Optimisme dan harapan kaum muslimin meningkat dan membuncah. “Allahu Akbar, Allahu Akbar…” Allah-lah yang Maha Besar, Maha Perkasa dan Maha Berkehendak. Masihkah kau takut kepada selain-Nya? Masihkah kau berani menenetang perintah-Nya? “La ilaha illallah…” Tiada tuhan selain ALLAH. Jika engkau menuhankan Muhammad, ketahuilah bahwa ia telah wafat. ALLAH Maha Hidup dan tak akan pernah mati. … … … … Namanya adalah Bilal bin Rabah, Muadzin Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam, memiliki kisah menarik tentang sebuah perjuangan mempertahankan aqidah. Sebuah kisah yang tidak akan pernah membosankan, walaupun terus diulang-ulang sepanjang zaman. Kekuatan alurnya akan membuat setiap orang tetap penasaran untuk mendengarnya. Bilal lahir di daerah as-Sarah sekitar 43 tahun sebelum hijrah. Ayahnya bernama Rabah, sedangkan ibunya bernama Hamamah, seorang budak wanita berkulit hitam yang tinggal di Mekah. Karena ibunya itu, sebagian orang memanggil Bilal dengan sebutan ibnus-Sauda’ (putra wanita hitam). Bilal dibesarkan di kota Ummul Qura (Mekah) sebagai seorang budak milik keluarga bani Abduddar. Saat ayah mereka meninggal, Bilal diwariskan kepada Umayyah bin Khalaf, seorang tokoh penting kaum kafir. Ketika Mekah diterangi cahaya agama baru dan Rasul yang agung Shalallahu ‘alaihi wasallam mulai mengumandangkan seruan kalimat tauhid, Bilal adalah termasuk orang-orang pertama yang memeluk Islam. Saat Bilal masuk Islam, di bumi ini hanya ada beberapa orang yang telah mendahuluinya memeluk agama baru itu, seperti Ummul Mu’minin Khadijah binti Khuwailid, Abu Bakar ash-Shiddiq, Ali bin Abu Thalib, ‘Ammar bin Yasir bersama ibunya, Sumayyah, Shuhaib ar-Rumi, dan al-Miqdad bin al-Aswad. Bilal merasakan penganiayaan orang-orang musyrik yang lebih berat dari siapa pun. Berbagai macam kekerasan, siksaan, dan kekejaman mendera tubuhnya. Namun ia, sebagaimana kaum muslimin yang lemah lainnya, tetap sabar menghadapi ujian di jalan Allah itu dengan kesabaran yang jarang sanggup ditunjukkan oleh siapa pun. Orang-orang Islam seperti Abu Bakar dan Ali bin Abu Thalib masih memiliki keluarga dan suku yang membela mereka. Akan tetapi, orang-orang yang tertindas (mustadh’afun) dari kalangan hamba sahaya dan budak itu, tidak memiliki siapa pun, sehingga orang-orang Quraisy menyiksanya tanpa belas kasihan. Quraisy ingin menjadikan penyiksaan atas mereka sebagai contoh dan pelajaran bagi setiap orang yang ingin mengikuti ajaran Muhammad. Sementara itu, Bilal bin Rabah, terus disiksa oleh Quraisy tanpa henti. Biasanya, apabila matahari tepat di atas ubun-ubun dan padang pasir Mekah berubah menjadi perapian yang begitu menyengat, orang-orang Quraisy itu mulai membuka pakaian orang-orang Islam yang tertindas itu, lalu memakaikan baju besi pada mereka dan membiarkan mereka terbakar oleh sengatan matahari yang terasa semakin terik. Tidak cukup sampai di sana, orang-orang Quraisy itu mencambuk tubuh mereka sambil memaksa mereka mencaci maki Muhammad. Adakalanya, saat siksaan terasa begitu berat dan kekuatan tubuh orang-orang Islam yang tertindas itu semakin lemah untuk menahannya, mereka mengikuti kemauan orang-orang Quraisy yang menyiksa mereka secara lahir, sementara hatinya tetap pasrah kepada Allah dan Rasul-Nya, kecuali Bilal, semoga Allah meridhainya. Baginya, penderitaan itu masih terasa terlalu ringan jika dibandingkan dengan kecintaannya kepada Allah dan perjuangan di jalan-Nya. Orang Quraisy yang paling banyak menyiksa Bilal adalah Umayyah bin Khalaf bersama para algojonya. Mereka menghantam punggung telanjang Bilal dengan cambuk, namun Bilal hanya berkata, “Ahad, Ahad … (Allah Maha Esa).” Mereka menindih dada telanjang Bilal dengan batu besar yang panas, Bilal pun hanya berkata, “Ahad, Ahad ….“ Mereka semakin meningkatkan penyiksaannya, namun Bilal tetap mengatakan, “Ahad, Ahad….” Mereka memaksa Bilal agar memuji Latta dan ‘Uzza, tapi Bilal justru memuji nama Allah dan Rasul-Nya. Mereka terus memaksanya, “Ikutilah yang kami katakan!” Bilal menjawab, “Lidahku tidak bisa mengatakannya.” Jawaban ini membuat siksaan mereka semakin hebat dan keras. Apabila merasa lelah dan bosan menyiksa, sang tiran, Umayyah bin Khalaf, mengikat leher Bilal dengan tali yang kasar lalu menyerahkannya kepada sejumlah orang tak berbudi dan anak-anak agar menariknya di jalanan dan menyeretnya di sepanjang Abthah Mekah. Sementara itu, Bilal menikmati siksaan yang diterimanya karena membela ajaran Allah dan Rasul-Nya. Ia terus mengumandangkan pernyataan agungnya, “Ahad…, Ahad…, Ahad…, Ahad….” Ia terus mengulang-ulangnya tanpa merasa bosan dan lelah. Suatu ketika, Abu Bakar Rodhiallahu ‘anhu mengajukan penawaran kepada Umayyah bin Khalaf untuk membeli Bilal darinya. Umayyah menaikkan harga berlipat ganda. Ia mengira Abu Bakar tidak akan mau membayarnya. Tapi ternyata, Abu Bakar setuju, walaupun harus mengeluarkan sembilan uqiyah emas. Seusai transaksi, Umayyah berkata kepada Abu Bakar, “Sebenarnya, kalau engkau menawar sampai satu uqiyah-pun, maka aku tidak akan ragu untuk menjualnya.” Abu Bakar membalas, “Seandainya engkau memberi tawaran sampai seratus uqiyah-pun, maka aku tidak akan ragu untuk membelinya.” Ketika Abu Bakar memberi tahu Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam bahwa ia telah membeli sekaligus menyelamatkan Bilal dari cengkeraman para penyiksanya, Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam berkata kepada Abu Bakar, “Kalau begitu, biarkan aku bersekutu denganmu untuk membayarnya, wahai Abu Bakar.”  Ash-Shiddiq Rodhiallahu ‘anhu menjawab, “Aku telah memerdekakannya, wahai Rasulullah.” Setelah Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam mengizinkan sahabat-sahabatnya untuk hijrah ke Madinah, mereka segera berhijrah, termasuk Bilal Rodhiallahu ‘anhu. Setibanya di Madinah, Bilal tinggal satu rumah dengan Abu Bakar dan ‘Amir bin Fihr. Malangnya, mereka terkena penyakit demam. Apabila demamnya agak reda, Bilal melantunkan gurindam kerinduan dengan suaranya yang jernih : Duhai malangnya aku, akankah suatu malam nanti Aku bermalam di Fakh dikelilingi pohon idzkhir dan jalil Akankah suatu hari nanti aku minum air Mijannah Akankah aku melihat lagi pegunungan Syamah dan Thafil Tidak perlu heran, mengapa Bilal begitu mendambakan Mekah dan perkampungannya; merindukan lembah dan pegunungannya, karena di sanalah ia merasakan nikmatnya iman. Di sanalah ia menikmati segala bentuk siksaan untuk mendapatkan keridhaan Allah. Di sanalah ia berhasil melawan nafsu dan godaan setan. Bilal tinggal di Madinah dengan tenang dan jauh dari jangkauan orang-orang Quraisy yang kerap menyiksanya. Kini, ia mencurahkan segenap perhatiannya untuk menyertai Nabi sekaligus kekasihnya, Muhammad Shalallahu ‘alaihi wasallam. Bilal selalu mengikuti Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam ke mana pun beliau pergi. Selalu bersamanya saat shalat maupun ketika pergi untuk berjihad. Kebersamaannya dengan Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam ibarat bayangan yang tidak pernah lepas dari pemiliknya. Ketika Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam selesai membangun Masjid Nabawi di Madinah dan menetapkan azan, maka Bilal ditunjuk sebagai orang pertama yang mengumandangkan azan (muadzin) dalam sejarah Islam. Biasanya, setelah mengumandangkan adzan, Bilal berdiri di depan pintu rumah Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam seraya berseru, “Hayya ‘alash sholaati hayya ‘alal falaahi…(Mari melaksanakan shalat, mari meraih keuntungan….)” Lalu, ketika Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam keluar dari rumah dan Bilal melihat beliau, Bilal segera melantunkan iqamat. Suatu ketika, Najasyi, Raja Habasyah, menghadiahkan tiga tombak pendek yang termasuk barang-barang paling istimewa miliknya kepada Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam. Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam mengambil satu tombak, sementara sisanya diberikan kepada Ali bin Abu Thalib dan Umar ibnul Khaththab, tapi tidak lama kemudian, beliau memberikan tombak itu kepada Bilal. Sejak saat itu, selama Nabi hidup, Bilal selalu membawa tombak pendek itu ke mana-mana. Ia membawanya dalam kesempatan dua shalat ‘id (Idul Fitri dan Idul Adha), dan shalat istisqa’ (mohon turun hujan), dan menancapkannya di hadapan beliau saat melakukan shalat di luar masjid. Bilal menyertai Nabi Shalallahu ‘alaihi wasallam dalam Perang Badar. Ia menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri bagaimana Allah memenuhi janji-Nya dan menolong tentara-Nya. Ia juga melihat langsung tewasnya para pembesar Quraisy yang pernah menyiksanya dengan hebat. Ia melihat Abu Jahal dan Umayyah bin Khalaf tersungkur berkalang tanah ditembus pedang kaum muslimin dan darahnya mengalir deras karena tusukan tombak orang-orang yang mereka siksa dahulu. Ketika Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam menaklukkan kota Mekah, beliau berjalan di depan pasukan hijaunya bersama ’sang pengumandang panggilan langit’, Bilal bin Rabah. Saat masuk ke Ka’bah, beliau hanya ditemani oleh tiga orang, yaitu Utsman bin Thalhah, pembawa kunci Ka’bah, Usamah bin Zaid, yang dikenal sebagai kekasih Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam dan putra dari kekasihnya, dan Bilal bin Rabah, Muadzin Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam. Shalat Zhuhur tiba. Ribuan orang berkumpul di sekitar Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam, termasuk orang-orang Quraisy yang baru masuk Islam saat itu, baik dengan suka hati maupun terpaksa. Semuanya menyaksikan pemandangan yang agung itu. Pada saat-saat yang sangat bersejarah itu, Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam memanggil Bilal bin Rabah agar naik ke atap Ka’bah untuk mengumandangkan kalimat tauhid dari sana. Bilal melaksanakan perintah Rasul Shalallahu ‘alaihi wasallam dengan senang hati, lalu mengumandangkan azan dengan suaranya yang bersih dan jelas. Ribuan pasang mata memandang ke arahnya dan ribuan lidah mengikuti kalimat adzan yang dikumandangkannya. Tetapi di sisi lain, orang-orang yang tidak beriman dengan sepenuh hatinya, tak kuasa memendam hasad di dalam dada. Mereka merasa kedengkian telah merobek-robek hati mereka. Saat adzan yang dikumandangkan Bilal sampai pada kalimat, “Asyhadu anna muhammadan rasuulullaahi (Aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah)”. Juwairiyah binti Abu Jahal bergumam, “Sungguh, Allah telah mengangkat kedudukanmu. Memang, kami tetap akan shalat, tapi demi Allah, kami tidak menyukai orang yang telah membunuh orang-orang yang kami sayangi.” Maksudnya, adalah ayahnya yang tewas dalam Perang Badar. Khalid bin Usaid berkata, “Aku bersyukur kepada Allah yang telah memuliakan ayahku dengan tidak menyaksikan peristiwa hari ini.” Kebetulan ayahnya meninggal sehari sebelum Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam masuk ke kota Mekah.. Sementara al-Harits bin Hisyam berkata, “Sungguh malang nasibku, mengapa aku tidak mati saja sebelum melihat Bilal naik ke atas Ka’bah.” AI-Hakam bin Abu al-’Ash berkata, “Demi Allah, ini musibah yang sangat besar. Seorang budak bani Jumah bersuara di atas bangunan ini (Ka’bah).” Sementara Abu Sufyan yang berada dekat mereka hanya berkata, “Aku tidak mengatakan apa pun, karena kalau aku membuat pernyataan, walau hanya satu kalimat, maka pasti akan sampai kepada Muhammad bin Abdullah.” Bilal menjadi muadzin tetap selama Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam hidup. Selama itu pula, Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam sangat menyukai suara yang saat disiksa dengan siksaan yang begitu berat di masa lalu, ia melantunkan kata, “Ahad…, Ahad… (Allah Maha Esa).”

Tahun 20 Hijriah. Bilal terbaring lemah di tempat tidurnya. Usianya saat itu 70 tahun. Sang istri di sampingnya tak bisa menahan kesedihannya. Ia menangis, menangis dan menangis. Sadar bahwa sang suami tercinta akan segera menemui Rabbnya. “Jangan menangis,” katanya kepada istri. “Sebentar lagi aku akan menemui Rasulullah shalallahu alaihi wasallam dan sahabat-sahabatku yang lain. Jika ALLAH mengizinkan, aku akan bertemu kembali dengan mereka esok hari.” Esoknya ia benar-benar sudah dipanggil ke hadapan Rabbnya. Pria yang suara langkah terompahnya terdengar sampai surga saat ia masih hidup, berada dalam kebahagiaan yang sangat. Ia bisa kembali bertemu dengan sosok yang selama ini ia rindukan. Ia bisa kembali menemani Rasulullah, seperti sebelumnya saat masih di dunia.

PENCINTA RASULULLAH S.A.W.

AsSayyid Ahmad bin Tsabit al-Maghriby adalah salah satu ahli Tharekat dan gemar melakukan suluk yang pada akhirnya beliau memutuskan sebagai pengamal shalawat Nabi setelah merasakan kegembiraan luar biasa dan dan cahaya Rasul yang dilimpahkan Allah kedalam relung hatinya disebabkan cintanya pada Rasulullah saw. Didalam kitab al-Tafakkur wa al-I'tibar fi fadhli al-Shalat ala an-Nabiyy al-Mukhtar (180 halaman) Sayyid Ahmad bin Tsabit menceritakan perjalanan ruhani nya,  pada satu malam aku bermimpi menyaksikan dua orang laki-laki bertengkar hingga saling cekik. Kemudian salah satunya berkata: "ayo kita menghadap Rasulullah untuk mencari keputusan". Mereka pun berjalan dan aku membuntutinya dari belakang. Sampailah kami di sebuah tempat yang agak tinggi, lalu salah satunya berkata: "Wahai Rasulullah, sesungguhnya orang ini menuduhku membakar rumahnya". Maka Rasul saw bersabda: "Apakah kamu ingin melihat dirimu dibakar api neraka?" Lalu aku terbangun tanpa sempat berkata sepatah pun dalam mimpiku itu.
Aku kemudian berdoa pada Allah agar Ia memperlihatkan padaku kelanjutannya. Maka aku tertidur, tiba-tiba aku sudah berada di sebuah tanah lapang. Sayup-sayup terdengar suara: "Wahai orang-orang yang ingin melihat Rasulullah, ayolah ikut kami". Tiba-tiba ada rombongan orang yang mengikuti kami, mereka berpakaian serba putih, maka aku berkata kepada salah satu dari mereka: "Hai kamu, aku minta padamu dengan nama Allah Yang Maha Agung dan dengan kemuliaan NabiNya yang mulia, agar kamu beritahukan kepadaku dimanakah Rasulullah saw? " Ia menjawab bahwa Rasulullah berada di tempat seseorang. Maka aku berdo'a kepada Allah dengan kemuliaan shalawat kepada NabiNya agar Allah menyampaikan diriku di hadapan Rasulullah sebelum sampainya rombongan itu, agar aku dapat berduaan dengan beliau dan mengutarakan keperluanku. Tiba-tiba aku terangkat oleh sesuatu bagaikan kilat membawaku kehadapan Beliau, kudapati Beliau sedang menghadap kiblat sementara cahayanya memancar dari wajahnya. Aku pun mengucapkan salam.

"Ashshalatu wassalamu alaika ya Rasulallah (salam sejahtra kepadamu wahai Rasulullah)"

Lalu Beliau menjawab : "Selamat datang bagimu". 
Wajahku terlihat bimbang di dalam biliknya itu, lalu aku berkata "Wahai Rasulullah, aku ingin engkau berwasiat padaku dengan satu nasihat yang Allah berikan manfaat bagiku". 
Maka beliau berkata : "Tambahkan shalawatmu padaku". 
Kemudian aku berkata: "Wahai Rasulullah, berilah jaminan padaku agar aku menjadi wali Allah". 
"Sungguh aku menjaminmu mati dlm husnul khatimah". Jawab Nabi saw.

Aku berkata lagi :"Berilah jaminan agar aku menjadi wali Allah wahai Rasulullah". 
Beliau bersabda :"Aku menjamin dirimu pasti mati dalam husnul khatimah". 
Aku berkata lagi :"Wahai Rasulullah berilah garansi padaku agar menjadi salah satu wali Allah". 
Maka Beliau bersabda : "Tidakkah kau tahu bahwa sesungguhnya seluruh wali Allah memohon kepada Allah agar mati husnul khatimah, dan aku benar-benar menjamin dirimu akan mati dalam husnul khatimah".

Kemudian aku berkata :"saya terima wahai Rasulullah dari dirimu". Lalu muncullah dalam benakku agar Allah memperlihatkan padaku Nabi Khidir as, namun Rasulullah berkata sebelum aku meminta. "Perbanyaklah membaca shalawat kepadaku dan berkunjung kesebuah makam, maka apa yang kamu niatkan akan kami tunaikan bagimu". Muncullah di hatiku rasa malu kepada Rasulullah karena aku berjumpa dan melihat pemimpin penduduk langit dan bumi ini sementara aku belum cukup dengan dirinya. Maka aku berkata: "Wahai Raasulullah tidak satupun Nabi dan Rasul ataupun satu dari wali Allah dan juga Nabi Khidir as. Melainkan mereka terlahir dari cahayamu, dan dari samudramu mereka menimba, dan tatkala aku melihatmu maka seolah-olah aku melihat mereka semua. Alhamdulillah segala puji syukur bagi Allah". 
Kemudian datanglah rombongan yang dibelakangku mereka semua mengucapkan serentak dengan meriah : "Ashshalatu wassalamu alaika ya Rasulallah (salam sejahtera bagimu wahai Rasul Allah)". Merekapun masuk ke dalam ruangan, sementara aku tetap duduk disamping Rasul saw. Maka beliau menyambutnya dengan gembira, kecuali terhadap satu orang yang beliau usir dengan sabdanya : "Hai pergi jauhlah dariku, wahai tampang neraka". Aku melihatnya, yang ternyata orang itu posturnya tidak seperti rombongan itu, sepertinya ia syetan. Ketika perbincangan Beliau dengan rombongan tersebut telah selesai, maka beliau berkata: "Silahkan kembali semoga Allah memberkati kalian (barakallahu fikum), tinggalkan aku bersama kekasihku ini". Sambil beliau menunjuk diriku. . Maka aku bersyukur kepada Allah atas hal itu. Kemudian "Berilah kepadaku nasihat yang berguna bagiku di sisi Allah".
 
Beliau menjawab: "Tambahkan shalawatmu kepadaku serta bersikap zuhudlah di dalam dunia dan hindarilah permainan atau senda gurau".

Lalu aku terbangun dari tidur sembari berkata dalam diriku "Aduh permainan apakah gerangan yang harus kutinggalkan?". Kuhabiskan waktuku untuk memikirkan hal itu tapi permainan tersebut tidak tampak bagiku, maka kuserahkan semua pada Allah seraya berkata dalam diriku, "Jika senda gurau ini menimpaku, maka kuucapkan tiada upaya menolak keburukan tiada daya mendatangkan kebaikan melainkan atas izin Allah dan tidak ada yang terpelihara dari urusan Allah melainkan orang yang dikasihi Allah ".
 
Semoga Allah membuka celah bagi kita agar kita istiqamah lahir bathin dalam menyanjung hati Kekasih Allah tersebut, semoga pula Allah memberikan Ridho_Nya kepada segala sholawat kita kepada Nabi Muhammad saw. Aamiin

Ahad, Ogos 25

Nasehat Sufi


Pada suatu hari, ada seseorang menangkap burung. Burung itu berkata kepadanya, Aku tak berguna bagimu sebagai tawanan. Lepaskan saja aku. Nanti aku beri kau tiga nasihat.Si burung berjanji akan memberikan nasihat pertama ketika berada dalam genggaman orang itu. Yang kedua akan diberikannya kalau ia sudah berada di cabang pohon dan yang ketiga ketika ia sudah mencapai puncak bukit.

Orang itu setuju, lalu ia meminta nasihat pertama. Kata burung itu, Kalau kau kehilangan sesuatu, meskipun engkau menghargainya seperti hidupmu sendiri, jangan menyesal.

Orang itu pun melepaskannya dan burung itu segera melompat ke dahan. Disampaikannya nasihat yang kedua, Jangan percaya kepada segala yang bertentangan dengan akal, apabila tak ada bukti.

Kemudian burung itu terbang ke puncak gunung. Dari sana ia berkata, Wahai manusia malang! Dalam diriku terdapat dua permata besar, kalau saja tadi kau membunuhku, kau akan memperolehnya. Orang itu sangat menyesal memikirkan kehilangannya, namun katanya, setidaknya, katakan padaku nasihat yang ketiga itu!

Si burung menjawab, Alangkah tololnya kau meminta nasihat ketiga sedangkan yang kedua pun belum kau renungkan sama sekali. Sudah kukatakan padaku agar jangan kecewa kalau kehilangan dan jangan mempercayai hal yang bertentangan dengan akal. Kini kau malah melakukan keduanya. Kau percaya pada hal yang tak masuk akal dan menyesali kehilanganmu. Aku pun tidak cukup besar untuk menyimpan dua permata besar! Kau tolol! Oleh karenanya kau harus tetap berada dalam keterbatasan yang disediakan bagi manusia.

(Catatan: Dalam lingkungan darwis, kisah ini dianggap sangat penting untuk mengakalkan fikiran siswa sufi, menyiapkannya menghadapi pengalaman yang tidak boleh dicapai dengan cara-cara biasa. Di samping penggunaannya sehari-hari di kalangan sufi, kisah ini terdapat juga dalam karya klasik Rumi, Matsnawi. Kisah ini juga ditonjolkan dalam Kitab Ketuhanan karya Fariduddin Aththar, salah seorang guru Rumi. Kedua tokoh sufi itu hidup pada abad ketiga belas.)

Kisah Para Guru Sufi


kisah sufi (1)


Orang menghitung dengan tasbih banyaknya melafalkan asma Allah dengan puas diri, tetapi mereka tidak memakai tasbih untuk menghitung kata-kata kosong yang mereka ucapkan. Khalifah Umar berkata,”Hitunglah baik-baik kata dan perbuatanmu sebelum ditimbang di hari perhitungan.” [ Al Ghazzali ]


kisah sufi (2)

Seorang mengadu kepada sang guru, “Saya harus bagaimana? Saya terganggu karena orang-orang yang mengunjungi saya. Kedatangan dan kepergian mereka mengganggu waktu saya yang sangat berharga.” Sang guru menjawab,”Pinjamkan sesuatu yang kaupunya pada mereka semua yang miskin dan mintalah sesuatu dari mereka yang kaya. Dijamin mereka takkan mengunjungimu lagi.” [ Sa’di ]


kisah sufi (3)

Seorang bakhil menimbun seluruh kekayaannya dan tidak membelanjakan sepeser pun untuk keluarganya. Celakanya, suatu hari anaknya menemukan tempat penimbunan itu. Ia mengambil semua emas dan menggantinya dengan batu besar. Uangnya ia pakai foya-foya. Tak lama kemudian sang ayah menyadari kehilangannya dan jatuh sedih, tetapi anaknya malah berujar riang,”Emas itu untuk dibelanjakan, Yah. Kalau cuma untuk disembunyikan, batu juga tak kalah bagusnya dengan emas.” [ Sa’di ]


kisah sufi (4)

Seorang pria berkata kepada Junaid,”Sahabat sejati sungguh langka di jaman sekarang. Di manakah saya bisa menemukan seorang sahabat karena Allah?”

Junaid menjawab,”Jika kamu menghendaki seorang sahabat yang bersedia mengurusmu dan memikul bebanmu, memang jarang sekali. Tapi, kalau kamu menginginkan sahabat karena Allah yang hendak kau pikul bebannya, dan kau tanggung deritanya, banyak yang bisa kukenalkan padamu.” [ Al Ghazzali ]

Sabtu, Ogos 24

Kisah Para Guru Sufi

Ya,ini kisah yang tidak terjangkau oleh kita yang banyak dosa... semoga kita memperolehinya dan merasakan...apa yang Guru-guru Sufi ini alami dan rasakan InshaAllah Taala


Kisah sufi (1)

Suatu saat murid-murid Abu al Bistami mengadukan kejahatan Setan kepadanya. Mereka berkata,”Setan telah mengambil iman kami.” Sang syeikh lalu memanggil Setan dan menginterogasinya. Kata Setan,”Aku tak bisa memaksa siapapun untuk melakukan apapun. Sebenarnya, kebanyakan orang membuang iman mereka untuk alasan yang remeh. Aku cuma memungut iman yang mereka buang.” [ Syeikh Muzaffir ]



kisah sufi (2)

Rabi’ah ditanya,”Apakah engkau mencintai Allah?”
Ia menjawab, “Ya.”
“Apakah engkau membenci Iblis?”
Ia menjawab,”Tidak! Cintaku kepada Allah tidak menyisakan waktu bagiku untuk membenci Iblis.” [ Rabi’ah ]


kisah sufi (3)

Sang Guru berujar , ”Saat kau jauh dari ka’bah memang sudah seharusnya menghadapkan wajahmu ke sana, agar dirimu tidak terlempar jauh ke tempat gelap. Tetapi mereka yang ada di dalamnya, bisa menghadap ke mana pun mereka suka.” Sang murid lalu bertanya, ”Bagaimana mungkin kami bisa memasuki ka’bah yang dikelilingi jutaan manusia?”
Sang Guru menjawab, “Ka’bah itu ada di dalam hatimu!” [ Syaikh Abu Yazid Al Bustami ]

Ihya Ulumuddin ( rahasia bersuci )

Allah berfirman:
“Allah tiada menghendaki untuk menjadikan kesukaran ke atas kamu, akan tetapi Dia menghendaki untuk mensucikan kamu.”
(al-Maidah:7)
Allah berfirman lagi:
“Padanya ada orang-orang yang suka sekali bersuci dan Allah mencintai orang-orang yang bersuci itu.” (at-Taubah: 109)
Bersabda Rasulullah s.a.w.:
“Kunci sembahyang adalah bersuci.”
“Agama itu didirikan atas kebersihan.”
Orang-orang yang mempunyai pandangan yang jauh dapat mengambil kesimpulan dari keterangan-keterangan ini, bahawa perkara yang amat penting sekali ialah mensucikan kebatinan, kerana jauh sekali maksud dari Hadith berikut ini:
“ Kesucian itu adalah setengah dari iman.”
Iaitu hanya untuk mensucikan kelahiran saja, yakni dengan menyirami tubuh dengan air dan mengalirkannya ke seluruh anggota badan, sedangkan kebatinannya tetap rosak dan ditinggalkannya terisi dengan anasir-anasir yang jahat dan kotor-kotoran. Alangkah jauh sekali ia boleh bermaksud demikian.
Taharah atau bersuci itu ada empat tingkatnya, iaitu:
  1. Mensucikan anggota-anggota lahir dari hadas-hadas (najis-najis), anasir-anasir kotor dan yang tidak perlu.
  2. Mensucikan anggota-anggota badan dari perbuatan-perbuatan salah dan dosa.
  3. Mensucikan hati dari akhlak yang terkeji dan kelakuan-kelakuan yang dibenci dan terkutuk.
  4. Mensucikan kebatinan dari tertumpu kepada semua perkara selain Allah Subhanahu wa Ta’ala, dan ini adalah cara bersucinya para Nabi Salawatullahi-alaihim dan juga para Siddiqin.
Seseorang hamba tidak akan sampai ke tingkat yang tertinggi sekali, melainkan setelah melalui tingkat yang rendah terlebih dulu. Dia tidak akan sampai kepada tingkat mensucikan kebatinan dari sifat-sifat yang terkeji itu dan menggantikan tempatnya dengan sifat-sifat yang terpuji, selagi belum selesai membersihkan hati dari akhlak yang tercela dan menggantikan tempatnya dengan akhlak yang baik. Demikian pula ia tiada akan sampai ke tingkat ini, melainkan sesudah selesai dari mensucikan segala anggota-anggota badan dari larangan-larangan Allah dan menggantikan tempatnya dengan kerja-kerja ketaatan kepadaNya.
Oleh sebab itulah, apabila yang dituntut itu bernilai dan mulia, tentulah lebih sukar dan susah untuk mencapainya, lebih banyak pula halangan-halangannya. Maka janganlah anda menyangka bahawa tingkat itu akan didapati dengan hanya bercita-cita saja, atau akan dicapai dengan cara yang mudah.
Akan tetapi bila seseorang itu buta mata hatinya dengan perbedaan tingkat-tingkat ini. Tentulah dia tidak akan mengerti akan tingkat taharah atau rahsia bresuci ini, melainkan tingkat yang terendah sekali, yang diumpamakan seperti kulit atas yang boleh dilihat jika dibandingkan dengan isi atau sari yang dicari. Maka oleh kerana itu, dia sentiasa mementingkan perhatiannya kepada kulit semata-mata seraya menghabiskan semua waktunya pada membicarakan istinja’, membersihkan baju dan mensucikan anggota-anggota yang lahir saja, dan mengalirkan air yang banyak. Sebab dia menyangka, samada kerana waswasnya ataupun kerana khayalan fikirannya, bahawasanya kesucian yang dituntut atau yang betul itu mementingkan cara-cara ini.
Sebenarnya dia tiada mengetahui tentang perjalanan orang-orang yang terdahulu yang telah menumpukan segala perhatiannya dan fikirannya kepada perkara mensucikan hati tanpa mengendahkan perkara mensucikan yang lahir. Dia tiada mengetahui bahawa Saiyidina Umar r.a. dengan ketinggian kedudukannya itu pernah berwudhu’ dengan air yang tersimpan dalam kendi seorang Nasrani. Orang yang terdahulu itu juga sering bersembahyang di atas tanah dalam masjid. Ataupun memadai hanya dengan menggunakan batu sewaktu beristinja’.
Nyatalah kini bahawa segala yang diberatkan oleh mereka di masa itu ialah mensucikan kebatinan. Dan jarang-jarang sekali pernah timbul satu-satu pertanyaan dari mereka itu megenai hukum-hukum najis atau dari pertanyaan-pertanyaan yang titik-bengik.
Sekarang sudah sampailah giliran golongan manusia yang kononnya mengambil berat tentang kebersihan, maka dihabiskanlah semua masanya pada menghiaskan anggota-anggota lahir seperti sifatnya tukang andam yang menghiaskan pengantinnya, padahal kebatinannya busuk penuh dengan kotoran-kotoran, sifat-sifat sombong dan ujub (memuji diri), sifat-sifat kebodohan dan riya’ serta nifaq. Malangnya tiada seorang pun yang mengingkarkan atau memperhatikan perkara itu.
Akan tetapi kiranya seseorang itu hanya menggunakannya batu dalam istinja’nya, ataupun menunaikan sembahyangnya tanpa menggunakan sajadah (tikar sembahyang), ataupun mengambil wudhu’nya dari wadah yang dimiliki oleh orang kafir, maka akan tibalah kiamatnya. Orang-orang bodoh itu akan segera bertindak menyalahkan orang-orang itu dan memanggil mereka sebagai orang-orang yang kotor. Cubalah anda perhatikan bagaimana yang mungkar itu menjadi yang baik, dan yang baik pula menjadi mungkar. Dan lihat pula bagaimana orang ramai mempelajari dari agama itu hanya gambarnya saja, sepertimana mereka mempelajari hakikatnya dan ilmunya.
Kiranya anda telah maklum tentang muqaddimah ini, maka marilah kita berbicara kini tentang tingkat-tingkat taharah atau kesucian. Pertama sekali kita ambillah tingkatnya yang keempat, iaitu membersihkan anggota-anggota lahir. Kita katakan bahawa pensucian lahir itu ada tiga perkara:
  1. Membersihkan diri dari benda-benda najis.
  2. Membersihkan diri dari hadas
  3. Membersihkan diri dari yang tidak diperlukan pada badan, dan yang ini dapat dilakukan dengan memotong (seperti memotong kuku, cukur bulu ari-ari dan sebagainya) dan mandi, menggunakan bedak, berkhitan dan lain-lain lagi.
Mensucikan kotoran atau najis
Pembicaraan mengenai hal ini tergantung kepada tiga perkara, iaitu:
  1. Benda yang disucikan.
  2. Benda yang mensucikan.
  3. Cara mensucikan.
Yang disucikan iaitu benda yang najis
Mata benda itu ada tiga: iaitu benda yang padat atau cair, binatang dan bahagian-bahagian dari binatang. Kesemua benda-benda padat atau cecairan dihukumkan suci kecuali khamar (arak) dan segala cecairan yang memabukkan. Dan kesemua binatang pula dihukumkan suci, kecuali anjing dan babi.
Tetapi apabila binatang-binatang itu mati, maka hukumnya najis melainkan lima, iaitu:
  1. Manusia
  2. Ikan
  3. Belalang
  4. Ulat buah-buahan atau seumpamanya yang terjadi dari makanan.
  5. Semua binatang yang tiada darah yang mengalir seperti lalat, lipas atau sebagainya, maka tiadalah air itu menjadi najis bila binatang-binatang serupa itu jatuh kedalamnya.
Tentang bahagian-bahagian binatang ada dua macam:
  1. Anggota yang terpotong dari binatang itu, maka hukumnya adalah hukum bangkai kecuali bulunya. Bulu binatang tiada menjadi najis samada matinya dengan sebab disembelih ataupun tidak tetapi tulangnya adalah najis bila matinya tidak disembelih.
  2. Benda basah yang keluar dari dalam badan binatang itu, maka mana-mana yang tidak mempunyai tempat yang tetap, maka hukumnya suci seperti air mata, keringat, air liur, hingus: dan mana-mana yang tempatnya tetap, maka hukumnya najis, melainkan apa yang asalnya berpunca dari binatang itu sendiri, seperti air mani dan telur. Adapun nanah, darah, tahi dan kencing dari binatang kesemuanya najis.
Dan tiadalah dimaafkan najis-najis tersebut samada sedikit atau banyak, kecuali dalam lima perkara:
  1. Bekas tempat keluar najis (dubur) sesudah istinja’ yang menggunakan batu, dimaafkan kira najis yang keluar itu tiada melampaui tempat itu.
  2. Lumpur di jalanan ataupun debu dari kotoran tahi di tengah jalan, dimaafkan walaupun diyakini kenajisannya, yakni dengan syarat sukar untuk menjauhkan diri daripadanya, sehingga orang yang terkena lumpur atau debu itu tidak boleh dituduh cuai atau lalai.
  3. Najis-najis yang melekat di bawah khuf (sepatu yang ditentukan oleh syara’ boleh memakainya dalam sembahyang) yang biasanya semuanya jalanraya tidak sunyi daripadanya. Maka najisnya dapat dimaafkan sesudah dikikis semua najis-najis itu sewaktu hendak digunakan.
  4. Darah nyamuk, samada sedikit mahupun banyak, boleh dimaafkan kecuali jika ia melewati batas kebiasaannya, samada yang melekat di pakaian anda mahupun di pakaian orang lain yang anda memakainya.
  5. Darah kudis atau bisul atau apa-apa yang terpisah daripadanya seperti nanah, atau darah yang bercampur dengan nanah dimaafkan juga. Dalilnya, pernah Ibnu Umar r.a. menggosok bisul di mukanya, maka keluarlah daripadanya darah. Beliau terus bersembahyang tanpa membasuh darah itu terlebih dulu. Dalam pengertian yang lain ialah segala yang memancar dari kotoran-kotoran bisul yang biasanya keluar terus-menerus, begitu juga bekas-bekas luka dari bekam (atau pembedahan dan operasi) melainkan kalau yang terjadinya itu jarang-jarang sekali baik berupa luka atau lain-lainnya, maka hukumnya samalah seperti hukum darah istihadhah (darah yang keluar dari wanita yang menderita sakit), hukumnya tidak boleh dikira sama seperti darah yang keluar dari bisul, yang pada banyak hal manusia tiada berdaya untuk menahannya
Kelonggaran syara’ dalam memaafkan najis-najis yang lima macam itu menunjukkan bahawa perkara taharah atau bersuci itu diletakkan atas kemudahan dan keringanan, sehingga ia tiada meninggalkan tempat untuk berwaswas, yang mana waswas itu sebenarnya tiada berasal sama sekali.
Benda yang mensucikan
Benda yang mensucikan najis itu samada beku atau cair.
  1. Yang beku adalah batu yang digunakan untuk beristinja’ dan ia boleh mensucikan secara ringan saja, syaratnya mestilah benda itu keras, tahir (suci), boleh menghisap (tidak licin) dan bukan dari benda yang muhtaram.
  2. Yang cair pula, maka najis-najis itu tidak akan dapat disucikan melainkan dengan air saja. Dan airnya pula bukan sebarangan, melainkan air yang lahir (suci) yang tiada rosak percampurannya dengan sesuatu yang tiada diperlukan olehnya, dan air itu terkeluar dari takrif suci bila ia berubah rasanya atau warnanya atau baunya bila bercampur dengan benda najis. Tetapi kiranya ia tiada berubah rasanya atau warnanya atau baunya bila bercampur dengan benda najis, maka tiadalah dikirakan air itu sebagai najis,(* Menurut Mazhab Syafi’l air itu mestilah dari dua qulah, jika kurang, hukumnya najis, samada berubah atau tidak) berdasarkan sabda Rasulullah s.a.w.:
“Allah telah menjadikan air itu suci, tidak dapat dinajiskan oleh sesuatu benda pun, melainkan kalau berubah rasanya atau warnanya atau baunya.”
Cara mensucikannya
Najis itu samada dinamakan hukmiyah, iaitu bila tiada berjirim (tiada berbekas) yang boleh dirasa, maka hukumnya cukuplah dengan mengalirkan air di tempat yang dikatakan bernajis itu.
Ataupun dinamakan ‘ainiyah (kelihatan), maka wajibkan menghilangkan diri najis itu. Dan kalau ada juga bekas-bekas warna sesudah dikikis dan dibasuh, maka hukumnya dimaafkan. Juga dimaafkan baunya kalau sukar untuk menghilangkan. Dan memeras sesuatu barang itu berkali-kali samalah seperti mengikis dan membasuhnya, kalau sesudah itu warnanya tidak hilang juga, hukumnya dimaafkan.
Bagi orang yang tabiatnya suka berwas-was, hendaklah ia menyakinkan dirinya, bahawa kesemua benda-benda itu asalnya dijadikan tahir atau suci. Oleh itu, jika ia tiada melihat dengan matanya sendiri pada sesuatu benda itu ada najis, dan tiada mengetahui dengan yakin ada najisnya, maka hendaklah ia bersembahyang saja dengannya.
Mensucikan hadas
Termasuk perkara mensucikan hadas itu ialah wudhu’, mandi (wajib) dan tayammum, dan sebelum itu didahulukan istinja’. Kini kita akan sebutkan cara-caranya, satu demi satu, secara teratur beserta adab-adabnya dan sunnat-sunnatnya.
Kita mulakan dengan sebab-sebab berwudhu’ dan adab-adab orang yang melepaskan hajatnya (buang air kecil dan besar). Insha Allah Ta’ala.
Adab melepaskan hajat
Seseorang yang ingin melepaskan hajatnya, hendaklah memilih tempat yang jauh dari pandangan orang ramai, seperti di tempat yang lapang.
Hendaklah ia menutup (berlindung) dengan sesuatu benda kiranya boleh didapat. Dan jangan ia tergesa-gesa memuka auratnya, sebelum sampai ke tempat duduk untuk melepaskan hajat itu. Janganlah hendaknya ia menghadap kiblat atau membelakanginya ketika itu. Juga janganlah hendaknya ia melepaskan hajatnya ditempat-tempat biasanya orang ramai berkumpul kerana berbual-bual atau duduk-duduk berehat. Janganlah ia membuang air kecil pada air yang bertakung (tidak mengalir), atau di bawah pokok yang berbuah atau di lubang. Juga jangan di tempat yang keras, atau di tempat tiupan angin agar terpelihara dari percikan air kencing itu, dan hendaklah ia mengiring (dengan punggungnya bertenggong) kepada kaki kirinya.
Apabila ia ingin membuang air kecil di dalam bangunan (tandas), maka hendaklah ia mendahulukan kaki kiri ketika memasukinya dan kaki kanan ketika keluar. Jangan pula ia membawa bersamanya ketika itu sesuatu yang tertulis padanya Allah Ta’ala atau nama RasulNya s.a.w.
Ketika masuk ia membaca:
“Dengan nama Allah saya berlindung denganNya dari gangguan syaitan, lelaki dan perempuan.”
Ketika keluar ia membaca:
“Segala kepujian bagi Allah yang telah menghapuskan dariku apa-apa yang boleh membahayakan aku, dan mengekalkan bagiku apa-apa yang boleh memberi manfaat kepadaku.”
Sesudah selesai buang air sebaik-baiknya ia beristibra’ (mengetus) tiga kali, dan janganlah ia memikirkan terlalu banyak beristibra’ itu, agar ia tiada berwaswas sehingga perkara ini merumitkannya. Jika ia merasakan ada sedikit basah, hendaklah ia menganggap itu sisa dari air. Ketahuilah bahawa orang yang paling ringan istibranya dikira paling pandai dalam ilmu fiqhnya, sebab waswas itu menunjukkan ilmu fiqhnya cetek.
Antara perkara yang diringankan lagi, membolehkan seseorang itu membuang air kecil berdekatan dengan rakannya, tetapi mestilah ada tutup antaranya. Yang demikian itu pernah dilakukan oleh Rasulullah s.a.w. sendiri padahal baginda amat pemalu orang nya, tetapi itu adalah untuk mengajar orang ramai tentang kebolehan melakukannya.
Cara beristinja’
Sesudah membuang air atau melepaskan hajat itu dia pun beristinja’ dengan tiga butir batu. Selain batu boleh boleh juga digunakan segala benda yang kasar tetapi suci.
Selanjutnya dia beristinja’ pula dengan air; iaitu dengan menyiram air dengan tangan kanan di tempat keluarnya najis itu, sedang tangan kirinya mengosok tempat itu sehingga tiada lagi yang tinggal dari bekas najis di situ. Ini dapat dirasakan oleh tapak tangan kiri yang menggosok tempat keluarnya najis tadi.
Hendaklah ia tiada melampau pada mengorek atau meraba bahagian di dalam (dubur), kerana yang demikian itu akan menimbulkan waswas pada diri. Ketahuilah mana tempat yang tiada boleh sampai kepadanya air itu dikira bahagian dalam, sedangkan hukum najis itu tidak terlibat pada kotoran-kotoran di segala bahagian dalam, selama ianya tiada terlihat atau dihukumkan pada hukum lahir.
Dan hukum najis itu hanya terkena pada bahagian-bahagian yang lahir saja, dan batasan pensuciannya ialah dengan menyampaikan air kepadanya dan menghilangkan najis itu dari situ. Dengan itu maka tidak perlu untuk ditimbulkan waswas lagi.
Cara berwudhu’
Sesudah selesai istinja’ dan hendak memasuki sembahyang, maka hendaklah ia berwudhu’ terlebih dulu.
Mula-mula bersiwak (gosok gigi), kemudian dia duduk kerana berwudhu’ sedangkan keadaannya menghadap ke kiblat, lalu membaca Bismillaahirrahmaanir-rahiim. Sesudah itu, dia membasuh pula kedua tangannya dahulu sebelum memasukkanya ke dalam bekas. Kemudian dia mengambil air itu di dalam mulutnya, kecuali jika ia sedang berpuasa. Kemudian mengambil secedok lagi untuk dimasukkannya ke dalam hidung untuk beristinsyaq tiga kali juga. Air itu hendaklah disedut hingga sampai ke dalam lubang hidungnya serta dikocak-kocaknya.
Selesai itu barulah dia mencedok secedok air lagi untuk membasuh mukanya, dan hendaklah dia membasuhnya dari hujung dataran dahi hingga ke hujung bahagian dari dagu memanjang; dan dari satu telinga ke telinga yang lain melebar pula, dan air itu mestilah sampai kepada keempat-empat tempat tumbuhan rambut; iaitu dua bulu kening, misai (kumis), bulu yang tumbuh di bawah bibir dan bulu mata, dam rambut-rambut itu biasanya tipis saja.
Dan air itu mestilah sampai juga ke tempat tumbuhan janggut yang tipis. Kalau janggutnya lebat, maka memadailah air itu sampai ke bahagian lahirnya saja, tetapi sunnat disisirkannya dengan jari. Sunnat juga jari-jarinya dimasukkan di bulatan mata untuk membersihkannya dari tahi mata atau lebihan celak.
Sesudah itu barulah dia membasuh kedua tangannya hingga kedua sikunya tiga kali. Dimulakan dengan yang kanan dulu. Jika memakai cincin, digerak-gerakkan cincin itu supaya air sampai di bawahnya.
Sesudah itu diratakan kepalanya dengan menyapu dengan kedua tangannya, setelah dibasahkan terlehih dulu dengan air. Caranya dengan mempertemukan hujung-hujung jari kanannya dengan hujung-hujung jari kiri, dan diletakkan kedua tangannya itu di muka kepala, lalu melalukan keduanya itu hingga ke belakang kepala.
Sesudah itu, disapu pula kedua telinganya di bahagian-bahagian luar dan dalam dengan cedokan air yang baru, kemudian dia menyapu pula tengkuknya dengan air yang baru juga.
Seterusnya, dibasuh pula kedua kakinya hingga ke bukulali serta disela-selakan antara jari-jari kaki.
Selesai melakukan itu semua, dia pun mengangkat kepalanya menadah ke langit seraya membaca:
“Saya menyaksikan bahawa sesungguhnya tiada Tuhan melainkan Allah, dan menyaksikan sama bahawa sesungguhnya Muhammad itu hambaNya dan RasulNya. Wahai Tuhanku! Jadikanlah saya termasuk golongan orang yang bertaubat, dan jadikanlah saya termasuk golongan orang yang bersuci, dan jadikanlah saya termasuk golongan hambaMu yang sholeh.”
Yang makruh dalam berwudhu’
Di waktu berwudhu’ itu makruh melebihi dari tiga kali. Juga makruh berlebih-lebihan menggunakan air. Nabi s.a.w. ketika berwudhu’ hanya melakukan tiga-tiga kali saja, seraya bersabda:
“Siapa yang melebihi (yakni lebih dari tiga kali), maka ia telah membuat salah dan menganiaya.”
Sabdanya lagi:
“Akan datang suatu kaum dari ummat ini, suka melampaui batas (berlebih-lebihan) dalam perkara berdoa dan bersuci.”
Ada dikatakan, bahawa antara kelemahan seseorang dalam ilmu agamanya, gemarnya membuang-buang air ketika bersuci. Makruh juga merenjis-renjiskan tangan sehingga air terpercik daripadanya, ataupun menampar-nampar muka dengan air.
Maksud bersuci
Sesudah selesai dari berwudhu’ dan hendak memulakan sembahyang, hendaklah ia menyakinkan di dalam hatinya, bahawasanya ia telah bersuci segala anggota lahirnya; iaitu tempat pandangan orang ramai kepadanya.
Sepatutnya dia juga harus merasa malu kalau hendak bermunajat kepada Allah Ta’ala tanpa terlebih dulu membersihkan hatinya, iaitu tempat pandangan Allah s.w.t. Sayugialah hendaknya ia merasa yakin bahawa kesucian hatinya dengan bertaubat kepada Allah s.w.t. dan menjauhkan diri dari segala akhlak yang terkeji serta berkelakuan dengan akhlak yang terpuji itu, adalah lebih utama dari hanya mensucikan anggota yang lahir saja.
Perumpamaanya sama seperti seorang yang ingin mengundang seorang raja ke rumahnya, lalu dibiarkan dalam rumah itu penuh dengan kotoran, padahal pintu rumah itu dibersihkan dan dicat baik-baik. Bukankah yang demikian itu akan mendedahkan dirinya kepada kemurkaan raja, dan menyebabkan dia menerima balasan daripadanya.
Cara mandi wajib
Mula-mula ia membasuh kedua belah tangan tiga kali, kemudian beristinja’ dan menghilangkan segala macam kenajisan yang ada pada badan, kalau memang ada. Sesudah itu, barulah ia berwudhu’ kerana mahu bersembahyang, sebagaimana yang telah kita huraikan sebelum ini, kecuali membasuh kedua belah kaki, maka hendaklah ia menangguhkannya dahulu.
Kemudian mulalah ia menyirami badan dengan air, bermula dari kepala, kemudian bahagian kanan, kemudian bahagian kiri pula.
Selesai menyirami air, ia pun menggosok bahagian hadapan dari badan, kemudian bahagian belakang pula. Dan hendaklah ia menyela-nyela rambut yang di atas kepala, begitu juga dengan janggut, supaya air itu sampai ke pangkal tempat tumbuhnya rambut-rambut itu, samada rambut-rambut itu lebat mahupun tipis.
Seorang perempuan yang mandi wajib tidak perlu menghuraikan siputnya, kecuali kalau ia bimbang air tidak akan sampai ke celah-celah rambut, dan hendaklah ia memelihara pula lipatan badannya (agar air dapat meratai seluruh badannya).
Mandi itu menjadi wajib dengan empat perkara:-
  1. Kerana keluar air mani.
  2. Kerana persetubuhan.
  3. Kerana haidh.
  4. Kerana nifas.
Selain dari mandi-mandi tersebut di atas itu adalah sunnat hukumnya, seperti mandi kerana dua hariraya, kerana hadir sembahyang Jum’at, kerana berihram, kerana wuquf di Arafah, kerana masuk negeri Makkah dan bagi orang yang memandikan orang mati.
Cara bertayammum
Barangsiapa yang uzur tidak dapat menggunakan air kerana ketiadaannya; samada setelah berusaha mencarinya tetapi tidak dapat, ataupun kerana adanya halangan untuk sampai ke tempat air seperti binatang buas, ataupun ada orang yang menahannya untuk pergi ke tempat air, ataupun air itu ada tetapi hendak digunakan untuk minumannya sendiri atau minuman hambanya, ataupun air itu kepunyaan orang lain, sedangkan orang yang mempunyai air itu tiada ingin menjualnya melainkan dengan harga yang lebih mahal dari harga biasanya, ataupun pada anggotanya ada luka-luka atau ada semacam penyakit yang kalau digunakan air pada anggota itu nescaya akan bertambah penyakitnya atau rosak, maka hukumnya hendaklah ia menunggu sehingga masuknya waktu sembahyang.
Sesudah tiba waktu sembahyang, barulah dia mencari debu yang bersih dari tanah yang suci. Bertayammum ialah menepuk kedua belah tapak tangan dengan semua jari-jarinya rapat antara satu dengan yang lain, lalu menyapukan kedua belah tapak tangan yang berdebu itu keseluruh wajahnya sekali saja. Jangan dipaksakan sangat agar debu itu sampai ke dalam sela-sela rambut, sama ada rambutnya tebal atau nipis.
Kemudian hendaklah menanggalkan cincin (kalau bercincin) dan menepuk sekali lagi, sedangkan jari-jari tangan direnggangkan pula, dan menyapukan tangan kanan dengan tapak tangan kiri dan menyapukan pula tangan kiri dengan tapak tangan kanan.
Dengan satu tayammum, ia boleh bersembahyang satu sembahyang fardhu saja, manakala sembahyang sunnat boleh dilakukan sebanyak yang diperlukan. Kalau mahu melakukan sembahyang fardhu yang lain, hendaklah ia bertayammum sekali lagi.
Kebersihan dari kelebihan-kelebihan yang tahir
Ada dua jenis yang harus dibersihkan iaitu; Jenis-jenis kotoran di badan dan najis-najis kelebihannya.
Jenis-jenis kotoran di badan
Adapun jenis-jenis kotoran atau benda basah yang melekat di badan iaitu delapan:
  1. Apa-apa yang berkumpul dari kotoran-kotoran di rambut kepala seperti daki dan kutu. Membersihkan ini semua adalah digalakkan oleh syara’, iaitu dengan mandi dan menyisir kemudian memakai minyak rambut, sehingga hilang semua kotoran itu dan nampak bersih. Rasulullah s.a.w. sendiri sering meminyaki di rambutnya dan menyisirnya, dan demikianlah baginda mengajar ummatnya supaya melakukan itu.
  2. Apa-apa yang terkumpul dari kotoran di lubang telinga, hendaklah dibersihkan
  3. Apa-apa yang terkumpul dari kotoran-kotoran di dalam lubang hidung, yang boleh dibersihkan dengan menyedut air ke dalamnya dan mengocak-ngocakkannya.
  4. Apa-apa yang terkumpul dari kotoran-kotoran di gigi dan di hujung lidah, boleh membersihkannya dengan bersiwak atau menggosok gigi kemudian berkumur-kumur.
  5. Apa-apa yang terkumpul dari kotoran-kotoran di janggut, seperti debu-debu atau kutu, yang boleh dibersihkan dengan mandi dan menyisirnya dengan sisir (sikat). Adapun membiarkan janggut secara tidak teratur untuk menunjukkan zuhud, ataupun tidak mengambil berat tentang urusan diri adalah dilarang oleh syara’. Meninggalkan cara-cara serupa ini kepada perkara-perkara yang serupa ini adalah perkara-perkara kebatinan antara seorang hamba dengan Tuhannya Azzawajalla. Ketahuilah olehmu bahawa Allah s.w.t. mengetahui akan tujuan hati orang itu, dan mengelirukan keadaan tidak ada faedahnya sama sekali.
  6. Kotoran-kotoran yang terkumpul di celah-celah jari. Orang-orang Arab dahulukala tidak biasa membersihkannya, kerana mereka jarang sekali membasuh tangan selepas makan. Oleh itu, sering pulalah berkumpul bekas-bekas makanan itu dicelah-celah jari, maka Rasulullah s.a.w. memerintahkan supaya membasuh celah-celah jari itu.
  7. Membersihkan hujung-hujung jari dari kotoran-kotoran. Rasulullah s.a.w. pernah menyuruh ummatnya untuk membersihkan hujung-hujung jari dari kotoran-kotoran yang yang ada di dalam kuku, sebab terkadang-kadang bila dipotong kuku masih tertinggal sebahagian kotoran di situ, maka hendaklah dibersihkannya.
  8. Daki-daki yang terkumpul di merata badan, tersebab oleh peluh atau debu-debu yang melekat di situ. Membersihkannya ialah dengan mandi dan menggosoknya.
Tata-tertib dalam bilik mandi
Tidak salah bermandi di tempat-tempat mandi umum (kolam renang) asalkan menjaga tata-tertibnya. Sahabat-sahabat Rasulullah pernah bermandi di tempat-tempat mandi umum di negeri Syam.
Ada pepatah yang berkata: Sebaik-baik tempat ialah tempat mandi. Ia membersihkan badan dan mengingatkan tentang api neraka. Kata-kata ini diriwayatkan dari Abu Darda’ dan Abu Ayub al-Anshari r.a. Ada yang lain berkata pula: Seburuk-buruk tempat ialah tempat mandi di mana para pemandinya mendedahkan aurat dan orang ramai sudah kehilangan malu.
Perbedaan di antara dua tempat mandi ini, ialah yang pertama mendedahkan bagi kita faedahnya yang kedua pula mendedahkan bencananya. Tidak mengapalah kita mengambil faedah dari tempat mandi itu, dalam pada itu jangan sampai kita tercebur kepada bencananya pula.
Selain dari itu, atas orang yang menggunakan tempat mandi itu adalah pula tugas-tugasnya dari perkara-perkara yang disunnatkan dan yang diwajibkan. Ada dua kewajiban atas pengguna tempat mandi umum untuk memelihara auratnya dan dua kewajiban yang lain untuk memelihara aurat orang lain.
Dua kewajiban untuk memelihara auratnya ialah, menjaga agar auratnya jangan sampai ternampak oleh orang lain dan menjaganya juga dari disentuh oleh mereka. Jangan sampai dibiarkan diperlakukan sesuatu ke atasnya, atau dibersihkankan kotoran daripadanya melainkan dia yang melakukannya sendiri. Kalau ada orang yang membantu menggosok, maka jangan sampai dibenarkan menyentuh bahagian paha dan bahagaian diatasnya hingga ke pusat.
Dua kewajiban untuk melihara aurat orang lain, ialah menutup mata dari memandangnya seraya melarang orang itu dari mendedahkan auratnya, sebab melarang orang dari mendedahkan auratnya adalah wajib hukumnya. Ia wajib mengingatkan orang itu, tetapi bagi orang yang diingatkan itu tidak wajib menurut pula.
Adapun perkara sunnatnya, di antaranya ialah niat. Maka janganlah hendaknya ia masuk ke tempat mandi kerana sesuatu maksud dunia , atau untuk bermain-main atau suka-suka saja, akan tetapi hendaklah ia meniatkan bersuci yang dituntut oleh agama, kerana menyediakan untuk bersembahyang.
Hendaklah ia masuk dengan kaki kiri, dan janganlah ia tergesa-gesa masuk ke dalam tempat mandi yang panas, melainkan sesudah ia keluar peluh pada tempat mandi yang pertama. Jangan banyak membuang (membazir) air, malah wajib ia mengambil air sekadar hajat saja, sebab itulah yang diizinkan kepadanya kalau hendak diperhitungkan. Mengambil air lebih dari yang dihajati akan menyebabkan penjagaan tempat mandi itu tidak rela, kiranya ia mengetahui, terutama sekali dari air panas. Sebab perbelanjaannya tentulah besar dan menggunakan lebih dari yang diperlukan akan menyusahkan pemilik tempat mandi itu.
Dan hendaklah ia mengingat pula betapa panasnya api neraka itu kelak kalau dibandingkan dengan panasnya air tempat mandi itu. Dianggapnya pula dirinya seolah-olah sedang dalam penjara yang berhawa panas ketika itu, kemudian diperbandingkan juga dengan Neraka Jahannam yang kira-kira sama tempat itu dengan tempat di Jahannam, yakni api dari bawahnya dan gelap-gelita dari atasnya na’uzu billahi min zalik (kita berlindung kepada Allah dari keadaan itu).
Tidak menjadi salah untuk berjabat tangan dengan rakan yang baru masuk ke tempat itu atau berkata: Tuhan memberikan kepadamu afiat. Boleh dibiarkan badannya digosok oleh orang lain, begitu juga belakangnya dan tangan serta kakinya dipicit-picit oleh orang lain juga.
Sebaik-baik saja dia keluar dari tempat mandi itu, segeralah dia mengucap syukur kepada Allah s.w.t. atas nikmat yang baru dikecapnya tadi, sesudah itu jangan pula disiram kepalanya dengan air sejuk ketika hendak keluar atau meminum air sejuk, kerana yang demikian itu bertentangan dengan peraturan kesihatan.
Orang-orang perempuan, makruh pergi ke tempat-tempat mandi, melainkan kerana sesuatu dharurat, dan itu pun dengan menjaga tutup badan dengan rapi.
Jenis-jenis kelebihan di badan
Adapun jenis-jenis kelebihan atau yang tumbuh di badan itu ada delapan macam:
  1. Rambut kepala: Boleh dicukur botak bagi orang yang menginginkan kebersihan kepalanya dan boleh juga dipendekkan, tetapi dengan memakai minyak dan menyikatnya secara teratur.
  2. Misai: Disunnatkan memotong misai yang panjang melebihi bibir dan boleh membiarkan hujung-hujungnya melebar ke kanan atau ke kiri.
  3. Bulu ketiak: Disunnatkan membuangnya paling kurang setiap 40 hari sekali, atau lebih awal lagi dari itu.
  4. Bulu kemaluan: Disunnatkan membuangnya dengan dicukur, atau dengan kapur paling kurang setiap 40 hari sekali, ataupun lebih cepat lagi dari itu.
  5. Kuku: Memotongnya adalah sunnat disebabkan memang hodoh sekali kelihatannya bila terlalu panjang, tambahan pula akan banyak sekali kotoran yang terkumpul padanya. Dalam cara memotong kuku tidak ada riwayat yang sahih dari Nabi s.a.w.
  6. Kelebihan pada pusat: Tali pusat hendaklah dipotong ketika bayi dilahirkan.
  7. Kulit yang menutupi kemaluan: Membersihkannya adalah dengan berkhitan pada hari ketujuh dari hari lahirnya. Tetapi kalau dikuatiri akan berlaku bahaya, tidak mengapa jika ditunda.
  8. Janggut yang panjang: Diriwayatkan dari setengah para sahabat dan tabi’in, yang panjang itu adalah lebih dari cekakan tangan, maka hendaklah dipotong. Setengah yang lain berkata pula: Membiarkan janggut panjang lebih baik. Perkara ini terserahlah kepada diri orang itu sendiri, asalkan tidak terlalu panjang sekali sehingga menghodohkan rupa dan muka, kelak orang ramai akan memandang jijik kepadanya dan mencelanya. Oleh itu, hendaklah ia berjaga-jaga jangan sampai berlaku keadaan yang serupa itu.
Mengenai janggut, ada sepuluh perkara yang dimakruhkan dan sebahagian darinya lebih makhruh dari yang lain:
  1. Mewarnakannya hitam, atau
  2. Memutihkannya dengan kapur,
  3. Mencabutnya, atau
  4. Mencabut rambut-rambutnya yang putih,
  5. Mengurangi atau menambahnya,
  6. Menyikatnya dengan cara menunjuk-nunjuk kerana tujuan riya', atau
  7. Meninggalkannya bercelaru kononnya kerana kezuhudan,
  8. Terpengaruh dengan kehitamannya kerana menganggap diri masih muda, atau
  9. Terpengaruh dengan keputihannya kerana membesarkan diri, sebab sudah tua, dan
  10. Mewarnakannya merah tanpa sebab, hanya kerana berangan-angan hendak menjadi orang saleh.
Adapun mewarnakannya hitam, ada diriwayatkan larangan kerananya, sebab yang demikian itu akan menarik orang itu kepada kemegahan diri, ataupun pengeliruan orang ramai. Manakala mewarnakannya putih dengan kapur, mungkin kerana hendak menunjukkan kepada orang ramai bahawa umurnya telah meningkat tua untuk tujuan meninggikan diri atas orang-orang muda, ataupun untuk menunjuk-nunjuk dirinya banyak ilmu, kerana mungkin disangkakannya kelebihan umur itu akan menghasilkan kelebihan kedudukanya, alangkah batilnya pandangan serupa itu! Kerana kelebihan umur itu tidak akan menambahkan si jahil melainkan kejahilan juga. Hanya ilmu pengatahuan sajalah yang boleh menjadi buah dan akal fikiran, dan ia pula adalah suatu bakat yang dikurnakan oleh Tuhan, manakala umur tua itu tidak akan meninggalkan apa-apa kesan kepadanya. Orang yang sifatnya jahil atau kurang akal, maka sepanjang umurnya ia akan hidup menunjukkan kejahilannya atau kekurangan akalnya. Orang-orang tua dahulu kala sentiasa menonjolkan anak-anak muda kerana ilmu pengatahuannya.
Khalifah Umar Ibnul-Khattab r.a. pernah mengemukakan bnu Abbas dalam majlis para sahabat yang tua-tua, sedangkan Ibnu Abbas ketika itu masih muda lagi. Mereka pun bertanya kepada akan hal-ehwal agama mereka.
Berkata Ibnu Abbas r.a.: Allah Azzawajalla tiada mengurniakan seseorang hambaNya sesuatu ilmu, melainkan sewaktu masih mudanya dan kebaikan itu tetap ada pada usia muda, kemudian beliau membacakan firman Allah yang berbunyi:
“Mereka mengatakan bahawa kami mendengar ada seorang anak muda yang menyebut-nyebutkan mereka dan anak muda itu dipanggil Ibrahim.” (al-Anbia’:60)
Dan firman Allah lagi:
“Mereka itu adalah anak-anak muda yang beriman dengan Tuhan mereka, lalu Kami (Allah) pun menambahkan bagi mereka hidayat.” (al-Kahf: 13)
Dan firmanNya lagi:
“Dan Kami (Allah) memberikan kepadanya kebijaksanaan, ketika ia masih kecil." (Maryam: 12)
Berkata Ayub as-Sakhtiani:
Pernah aku terjumpa seorang tua yang berumur 80 tahun sedang mempelajari sesuatu dari seorang anak kecil.
Pernah Abu Amru Ibnul-Ala’ ditanya: Maniskah seorang yang sudah tua belajar dari seorang anak kecil? Abu Amru menjawab: Kiranya kejahilan itu akan menampakkan seseorang itu bodoh di muka ramai, maka pelajaran pula akan menampakkan ia elok di hadapan mereka.