Selasa, Mei 29

Penyakit Hati- Kesejahteraan Hati, Hâkim al-Tirmidzi (w. 320H)


Tentang Kesejahteraan Hati dan Obatnya, dan Kerusakan Hati dan Penyakitnya

Kesejahteraan hati terletak dalam kesedihan dan kecamasan, dan obatnya adalah mengingat Allah Swt. (zikir) terus menerus. Rusaknya hati akibat dari kesenangan duniawi dan rasa puas terhadap keadaan (ahwâl) ego, dan sakitnya hati adalah jauh dari mengingat Allah dan berpaling pada apa yang mengganggu dari mengingat-Nya.

Kesenangan duniawi adalah untuk ego sebagaimana halnya air untuk ikan. Kehidupan ikan adalah di dalam air dan apabila ia tinggal di daratan ia tidak akan hidup. Demikian juga apabila ego dijauhkan dari kesenangan dunia, ia akan layu dan lemah, kekuatannya akan menurun, aktifitasnya akan hilang dan lenyap—karena kesedihan membunuh kehidupannya—sampai sang hati membersih diri dari apa saja yang bersarang di dalamnya dan noda-noda yang mengikutinya.

Apabila hati mencapai Allah Swt., Dia akan memberinya kehidupan. Apabila Dia memberi kehidupan pada hati, sang ego akan mengalami kehidupan hati dengan cahaya penerang dari Allah Yang Mahatinggi. Sebelumnya, hati dimatikan dengan kesenangan-kesenangan ego; tatkala pemiliknya menjinakkan ego dan mengharamkan segala kesenangan ini, Tuhan berterimakasih padanya, karena ia telah berperang demi Allah dengan segala kekuatannya, dan karena itulah Allah menunjukkan jalan untuknya seperti yang Dia janjikan dalam firman-Nya: “Mereka yang berjuang di jalan-Ku, Sungguh akan Aku tunjukkan kepada mereka jalan-jalan-Ku” (Q.S. al-‘Ankabut [29]: 69).

Apabila pintu telah dibukakan kepadanya ia melanjutkan dengan hatinya di jalan Allah Yang Mahakuasa. Maka datanglah balasan yang mengganti biaya perjalanannya sampai ia mencapai Allah, Yang menghidupkannya kembali dengan cahaya-Nya dalam kedekatan dengan-Nya, dan jadilah ia salah seorang dari Mereka Yang Didekatkan (muqarrabîn). Pada titik inilah ia mendapatkan kesenangan dalam Allah setelah pernah mengalami kesenangan di dalam dunia dan dalam ego dan keadaan-keadaannya yang berbeda-beda. Ia telah memperoleh kemuliaan di hadapan Allah yang Mahatinggi dan Mahaagung.
Sedangkan bagi orang yang tidak meneruskan zikir (ingat) kepada Allah, hatinya akan mengeras, karena zikir merupakan rahmat dari Allah Swt., yang telah Dia janjikan kepada hamba-hamba-Nya dalam firman-Nya: “Ingatlah kepada-Ku dan Aku akan ingat kepadamu” (Q.S. al-Baqarah [2]: 152). Apabila rahmat datang, hati menjadi lembut dan halus, dan panasnya ego akan lenyap dan ia menjadi tertarik dengan rahmat yang muncul di dalam hati. Hati kehilangan kekerasan dan kekasarannya.
Sekarang hati dan ego jadi kawan seiring di dalam tubuh. Kekuatan hati terletak di dalam pengetahuan batin (makrifat), akal, pengetahuan lahir (ilmu), pemahaman, intelek (dhihn), inteligensia (fitrah), ingatan (hafz), dan kehidupan dalam Allah. Kebahagiaan dalam semua hal ini memotivasi hati, menguatkannya dan memberinya kehidupan.
Kekuatan ego datang dari kesenangan dan kebahagiaan materi, daya tarik seksual, kehormatan dan kekuasaan dan pangkat yang tinggi, serta pemenuhan setiap keinginan yang terus bertambah. Kebahagiaan dalam hal-hal semacam ini memotivasi ego dan menguatkannya. Semuanya merupakan balatentara dari nafsu yang rendah, karena nafsu rendahlah yang mengatur egonya. Sedangkan yang mengatur hati adalah pengetahuan batin, sedangkan hal-hal lain yang telah kami sebutkan merupakan tentara-tentaranya.
Tatkala ego tumbuh subur dan kesenangannya hidup berkembang, ego akan menguasai hati. Pada saat demikian kehidupan hati menjadi padam bersama dengan padamnya hal-hal yang membuat hati menjadi hidup. Kebahagiaannya menjadi duniawi. Akan tetapi tatkala ego dijauhkan dari segala kesenangan-kesenangan ini dan kepuasan seksual, maka ia akan layu dan lemah cengkeramannya, iapun melemah dan berkurang hingga lenyap, sementara kecemasan dan kesedihan akan bertumpuk dan terpusat di dalamnya. Karena kecemasan yang disebabkan oleh penolakan dan penjauhan atas duniawi itu, ego akan kehilangan kekuatannya, dan hati mendapatkan kekuatan melalui hal-hal yang telah kami sebutkan.
Kebahagiaan hati di dalam Allah menjadi tampak, dan oleh karena itulah mengapa Allah berfirman: “Katakanlah: dengan karunia dan rahmat Allah—maka hendaklah mereka bergembira: Hal itu lebih baik daripada apa yang mereka kumpulkan” (Q.S. Yunus [10]: 58).
Diriwayatkan juga bahwa Nabi saw. bersabda:
Ego manusia itu adalah api yang berkobar bahkan di ujung leher yang sudah tua, kecuali untuk mereka yang hatinya telah diuji oleh Allah dengan ketakwaan, dan mereka itu sungguh sedikit.91

Diceriterakan dari Anas ibn Malik, semoga Allah meridhainya, bahwa Nabi saw. bersabda:
Bahkan ketika manusia sudah menjadi tua dan beruban, dua hal yang tetap muda di dalam diri mereka: ketamakan pada uang dan nafsu pada kehidupan.

Nabi saw. oleh karena itu mendesak kita agar mengingat kematian, sebagaimana beliau bersabda: “Ingatlah pada penghancur kesenangan. Semakin sering diingat kekuatannya akan berkurang; semakin jarang diingat kekuatannya akan bertambah.

Diriwayatkan dengan sanad yang bersumber dari Abu Hurairah. Maknanya adalah bahwa apabila kamu mengingat kematian kamu akan sadar bahwa bagianmu adalah tidak memiliki apa pun, dan bahwa kamupun menghadapi kematian pada akhirnya. Apabila kamu ingat pada yang terakhir ini, kematian akan menjadi sesuatu yang mudah bagimu, dan apabila kamu ingat pada yang pertama, kamu akan sadar bahwa walau sedikit saja yang dimiliki oleh seseorang di dunia maka itupun terlalu banyak. Karena seseorang tidaklah tahu entah kapan, secara cepat, tiba-tiba maut datang menjemput. Karena itu, kematian adalah “penghancur kesenangan.” Dengan mengingat kehancurannya maka akan menyingkirkan kegembiraan palsu dan menggantinya dengan kemurungan dan kesedihan.
Kini menjadi jelaslah bahwa ada dua jenis kegembiraan: kegembiraan hati di dalam Allah, dalam kebaikan-Nya, dalam rahmat-Nya, dan kegembiraan ego dalam berbagai kesenangan. Siapapun yang sungguh-sungguh ingin mencapai Allah yang Mahatinggi mestilah hati-hati terhadap segala hal yang dinikmati oleh ego, baik dalam urusan keagamaan atau pun dalam urusan keduniaan. Kemudian ia harus mencegah egonya dari kegembiraan semacam itu, sehingga menjadi lemah dan mati karena duka cita.

Karena ketika seseorang mencegah egonya dari menikmati kesenangan duniawi dan, pada sisi lain, memperturutkannya dengan kesenangan melalui agama, seperti dalam bentuk amal baik dan wirid-wirid, ego akan tetap senang, karena itu akan tetap hidup dan baik. Alasannya adalah, nafsu rendah orang tersebut masih terus merupakan bagian dari setiap perbuatan baiknya. Dengan semua usahanya ini, ia masih tetap sebagai orang yang bingung dan berdosa. Apabila ia menghentikan usahanya, kotoran-kotorannya pasti akan tetap ada bersamanya, dan ia tidak akan pernah mencapai Allah yang Mahatinggi melalui kesalahan dan nafsu rendah. Itulah sebabnya mengapa Allah berfirman: “Berjuanglah kamu di jalan Allah dengan sepenuh kekuatanmu” (Q.S. al-Hâjj [22]: 78). “Sepenuh kekuatan” seseorang bermakna memberantas segala kenikmatan ego apakah dalam urusan agama atau duniawi. Karena seseorang dapat menemukan kebahagiaan dalam setiap perbuatan baiknya, dan karena nafsu masih merupakan bagian dari setiap hal, maka jelaslah bahwa tindakan semacam itu tidak murni karena Allah. Karena itu menjadi wajib untuk beralih ke suatu tindakan lain yang akan menyingkirkan kesenangan sang ego.

Apabila seseorang melakukan hal tersebut sampai sepenuh kekuatan kemampuannya, Allah Swt. akan berterima kasih kepadanya di dunia ini, dan orang yang diterimakasihi oleh Allah akan dibukakan hatinya oleh Allah untuk mendapatkan cahayanya. Apabila cahaya tersebut masuk ke dalam hatinya, maka egopun akan menemukan dalam augerah semacam ini apa yang tidak didapatkan sebelumnya, ketika ia masih diganggu oleh kebahagiaan dan kesenangan duniawi.

Maka muncullah kebutuhan untuk menjaga ego agar tidak mulai lagi mengambil dari karunia ini kenikmatan yang akan memerangkap dan membunuh pemilik ego. Karena apabila ego menemukan kenikmatan dalam karunia dari Allah ini, ia akan menjadi makmur dan bersuka ria setelah ia melayu dan merana, dan di sanalah terletak bahayanya yang paling besar. Yaitu tatkala mayoritas dari penempuh jalan menuju Allah jatuh menjadi mangsa penghianatan ego. Bab ini mencakup jawaban-jawaban secara ringkas atas seribu pertanyaan yang merupakan akibat wajar dan sub bagian dari persoalan ini

Tiada ulasan:

Catat Ulasan