Khamis, Februari 2

Mengenal Pengarang Mawlid Simtood Durror, Habib Ali Al Habsy



Maulid Habsyi - Simthud-Durar fi akhbar Mawlid Khairil Basyar min akhlaqi wa awshaafi wa siyar" atau singkatannya "Simthud-Durar" adalah karangan maulid junjungan nabi Muhammad SAW yang disusun oleh Habib Ali bin Muhammad bin Husain al-Habsyi (1259H - 1333H/1839M - 1913M).

Kelahiran:
Beliau, al-Habib ‘Ali bin Muhamamd al-Habsyi dilahirkan di Qasam pada hari Jum’at, 24 Syawwal 1259H. Namanya ‘Ali telah diberikan oleh al-‘Allamah Sayyid ‘Abdullah bin Hussin bin Thahir sempena mengambil berkat dari al-Habib ‘Ali Khali’ Qasam

Beliau dibesarkan di bawah asuhan dan pengawasan kedua orang tuanya; ayahandanya, Al-Imam Al-Arif Billah Muhammad bin Husin bin Abdullah Al-Habsyi dan ibundanya; As-Syarifah Alawiyyah binti Husain bin Ahmad Al-Hadi Al-Jufri, yang pada masa itu terkenal sebagai seorang wanita yang solihah yang amat bijaksana.
Pada usia yang amat muda, Habib Ali Al-Habsyi telah mempelajari dan mengkhatamkan Al-Quran dan berhasil menguasai ilmu-ilmu zahir dan batin sebelum mencapai usia yang biasanya diperlukan untuk itu. Oleh karenanya, sejak itu, beliau diizinkan oleh para guru dan pendidiknya untuk memberikan ceramah-ceramah dan pengajian-pengajian di hadapan khalayak ramai, sehingga dengan cepat sekali, dia menjadi pusat perhatian dan kekaguman serta memperoleh tempat terhormat di hati setiap orang.

Kepadanya diserahkan tampuk kepimpinan tiap majlis ilmu, lembaga pendidikan serta pertemuan-pertemuan besar yang diadakan pada masa itu.Selanjutnya, beliau melaksanakan tugas-tugas suci yang dipercayakan padanya dengan sebaik-baiknya. Menghidupkan ilmu pengetahuan agama yang sebelumnya banyak dilupakan. Mengumpulkan, mengarahkan dan mendidik para siswa agar menuntut ilmu, di samping membangkitkan semangat mereka dalam mengejar cita-cita yang tinggi dan mulia.Untuk menampung mereka, dibangunnya Masjid “Riyadh” di kota Seiwun (Hadhramaut), pondok-pondok dan asrama-asrama yang diperlengkapi dengan berbagai sarana untuk memenuhi keperluan mereka, termasuk soal makan-minum, sehingga mereka dapat belajar dengan tenang dan tenteram, bebas dari segala pikiran yang mengganggu, khususnya yang bersangkutan dengan keperluan hidup sehari-hari.

Nasab beliau:
Ali bin Muhammad bin Hussin bin ‘Abdullah bin Syaikh bin ‘Abdullah bin Muhammad bin Hussin bin Ahmad Shahib asy-Syi’b bin Muhammad Asghar bin ‘Alwi bin Abu Bakar al-Habsyi bin ‘Ali bin Ahmad bin Muhammad Asadullah bin Hasan at-Turabi bin ‘Ali bin al-Faqih al-Muqaddam Muhammad bin ‘Ali bin Muhammad Shahib Mirbath bin ‘Ali Khali’ Qasam bin ‘Alwi bin Muhammad bin’Alwi bin’Ubaidullah bin al-Muhajir Ahmad bin ‘Isa al-Rumi bin Muhammad al-Naqib bin ‘Ali al-Uraidhi bin Ja’far as-Shadiq bin Muhammad al-Baqir bin ‘Ali Zainal ‘Abidin bin Hussin al-Sibth putera kepada Sayyidina ‘Ali bin Abi Thalib dan Sayyidah Fathimah al-Zahra’ binti Rasulullah صلى الله عليه وآله وسلم.

Ayahandanya adalah merupakan Mufti Syafi’iyyah di Makkah sejak tahun 1270H menggantikan Syaikh Ahmad Dimyathi yang wafat. Setelah kewafatan Habib Muhammad bin Hussin al-Habsyi, tempatnya diganti oleh Sayyid Ahmad Zaini Dahlan. [Diantara ulama Melayu yang sempat berguru kepada Habib Muhammad bin Hussin al-Habsyi ialah Syaikh Arsyad Thawil Banten, Jawa Barat. Beliau juga berguru kepada al-Muhaddits Habib Hussin bin Muhammad bin Hussin al-Habsyi. Syaikh Mahfuz Termas juga belajar hadits kepada al-Muhaddits Habib Hussin bin Muhammad al-Habsyi, iaitu saudara kepada Habib ‘Ali al-Habsyi
IBunda beliau yang berasal dari Syibam adalah seorang sayyidah shalihah, ‘arifahbillah dan da’iyyah ilallah ‘Alawiyyah binti Hussin bin Ahmad al-Hadi al-Jufri.Saudara beliau: AbduLlah, Ahmad, Hussin, Syeikh dan Aminah

Pendidikan dan guru-guru beliau: Sejak beliau dididik oleh ayahanda beliau, Habib Muhammad bin Hussin al-Habsyi [- ayahanda beliau berangkat ke Mekah dan tinggal disana ketika usia Habib ‘Ali 7 tahun. Dan urusan pendidikan beliau seterusnya diambil oleh bonda beliau -] dan bonda beliau Hababah ‘Alawiyyah binti Hussin al-Hadi al-Jufri. Seterusnya beliau belajar kepada:
Habib Hasan bin Shaleh al-Bahr
Al-‘Allamah Habib Abdullah bin Hussin bin Thahir (syaikh fath dan tahkim kepada ayahanda beliau)
Habib Abu Bakar bin ‘Abdullah al-‘Athash (shaikh fath beliau)
Al-‘Allamah Habib Umar bin Hasan bin ‘Abdullah al-Haddad
Al-‘Allamah ‘Abdurrahman bin Muhammad al-Masyhur
Habib ‘Ali bin Idrus bin Syihabuddin
Habib Umar bin ‘Abdurrahman Bin Syahab
Habib Mohsin bin ‘Alwi al-Saggaf
Habib ‘Abdul Qadir bin Hasan bin Umar bin Saggaf
Habib Muhammad bin ‘Ali bin ‘Alwi al-Saggaf
Habib Ahmad bin Muhammad al-Muhdhar
Habib ‘Idrus bin Umar al-Habsyi
Sayyid ‘Abdullah bin Hussin bin Muhammad
Syaikh Muhammad bin Ibrahim

Habib Ali juga pernah menimba ilmu di Makkah ketika ayahnya pindah dan tingggal di sana.atas permintaan sang ayah, pada usia 17 tahun ia berangkat ke sana bersama rombongan haji dan belajar selama 2 tahun. Setelah itu ia kembali ke Seiwun dan mengambil ilmu dari tokoh-tokoh ulama di sana.
Pada usia yang amat muda, Habib Ali Al-Habsy telah mempelajari dan mengkhatamkan Al-Qur’an dan berhasil menguasai ilmu-ilmu zhahir dan bathin sebelum mencapai usia yang biasanya diperlukan untuk itu. Oleh karenanya, sejak itu, ia diizinkan oleh para guru dan pendidiknya untuk memberikan seramah-ceramah dan pengajian-pengajian di hadapan khalayak ramai. Sehingga, dengan cepat sekali ia menjadi pusat perhatian dan kekaguman serta memperoleh tempat terhormat di hati setiap orang. Kepadnya diserahkan tampuk kepemimpinan tiap majelis ilmu, lembaga pendidikan, serta pertemuan-pertemuan besar yang diadakan pada masa itu.
Selanjutnya, ia melaksanankan tugas-tugas suci yang dipercayakan kepadanya dengan sebaik-baiknya. Ia menghidupkan ilmu pengetahuan agama yang sebelumnya banyak dilupakan. Mengumpulkan, mengarahkan, dan mendidik para siswa agar menuntut ilmu, disamping membangkitkan semangat mereka.dalam mengejar cita-cita yang tinggi dan mulia.
Untuk menampung mereka, dibangunnya Masjid Riyadh di kota Seiwun (Hadhramaut), pondok-pondok dan asrama-asrama yang diperlengkapi dengan berbagai sarana untuk memenuhi keperluan mereka, termasuk soal makan dan minum. Sehingga mereka dapat belajar dengan tenang dan tenteram, bebas dari segala pikiran yang mengganggu, khususnya yang bersangkutan dengan keperluan hidup sehari-hari.
Bimbingan dan asuhan darinya yang seperti itu telah memberikan kepuasan yang tak terhingga baginya, hingga ia menyaksikan banyak sekali di antara murid-muridnya yang berhasil mencapai apa yang dicita-citakannya, kemudian meneruskan serta mensyiarkan ilmu yang telah mereka peroleh. Bukan saja di daerah Hadhramaut, tetapi juga tersebar luas ke beberapa negeri lainya, di Afrika dan Asia, termasuk di Indonesia.
Di tempat-tempat itu mereka mendirikan pusat-pusat dakwah dan syiar agama. Mereka sendiri menjadi perintis dan pejuang yang gigih, sehingga mendapat tempat terhormat dan disegani di kalangan masyarakat setempat. Pertemuan-pertemuan keagamaan diadakan pada berbagai kesempatan. Lembaga-lembaga pendidikan dan majelis-majelis ilmu didirikan di banyak tempat, sehingga manfaatnya benar-benar dapat dirasakan dalam ruang lingkup yang luas sekali.

Murid-murid Habib Ali antara lain adalah anak-anaknya sendiri, Abdullah, Muhammad, Ahmad, dan Alwi. Juga saudaranya, habib Syaikh bin Muhammad, dan kemenakannya, Habib Ahmad bin Syaikh. Kemudian Habib Ja’far bin Abdul Qadir bin Abdurrahaman bin Ali bin Umar bin Segaf Assegaf, Habib Muhammad bin Hadi bin Hasan Assegaf, Habib Muhsin bin Abdullah bin Muhsin Assegaf, Habib Salim bin Shafi bin Syekh Assegaf, Habib Ali bin Abdul Qadir bin Salim bin Alwi Al-Idrus, Habib Abdullah bin Alwi bin Zain Al-Habsy, dan banyak lagi yang lainnya.
Murid-muridnya yang mencapai derajat alim dalam ilmu fiqh dan lainnya, selain yang menetap di Ribath, antara lain Habib Thaha bin Abdul Qadir bin Umar Assegaf, Habib Umar bin Abdul Qadir bin Ahmad Assegaf, Habib Alwi bin Segaf bin Ahmad Assegaf, Syaikh Hasan, Syaikh Ahmad, dan Syaikh Muhammad bin Muhammad Baraja.
Selain murid-murid yang benar-benar belajar kepadanya, ada pula orang-orang yang selalu bersamanya dan seperti muridnya sendiri, yakni Habib Abdullah bin ahmad bin Thaha bin Alwi Assegaf, Habib Alwi bin Ahmad bin Alwi bin Segaf Assegaf, Syaikh Ahmad bin Ali Makarim, Syaikh Ahmad bin Umar Hassan, Syaikh Muhammad bin Abdullah bin Zain bin Hadi bin Ahmad Basalamah, dan Syaikh ‘Ubaid bin Awudh Ba Fali.

Wafatnya Habib Ali
Beliau meninggal dunia di kota Seiwun, Hadhramaut, pada hari Ahad 20 Rabi’ul Akhir 1333 H dan meninggalkan beberapa orang putera yang telah memperoleh pendidikan sebaik-baiknya dari beliau sendiri, yang meneruskan cita-cita beliau dalam berdakwah dan menyiarkan agama.
Allahumma sholli wa sallim asyrafas shoolati wat taslim‘ala Sayyidina wa Nabiyiina Muhammadi-nir Ra-ufir Rahim.Allahumma sholli wa sallim wa baarik ‘alaihi wa ‘ala aaalih.

Tiada ulasan:

Catat Ulasan