Selasa, September 24

Tawwasul melalui para wali


Kita pun akan mendapatkan banyak dalil tentang tawasul melalui para wali. Cukuplah dikatakan di sini bahwa Allah, dalam firman-Nya, dengan tegas memperingatkan semua kaum beriman untuk senantiasa menemani mereka, “Hai orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah kamu bersama orang yang benar.” (Q.S. al-Tawbah [9]: 119). Dan Dia menganjurkan kita untuk mengikuti orang yang kembali kepada-Nya dengan tobat yang benar dan sempurna (Q.S. Luqmân [31]: 15). Nabi saw. bersabda kepada al-Firasi, tentang meminta-minta, “Jika kau memang harus meminta-minta, mintalah kepada orang yang baik” (in kunta lâ budda sâ’ilâ fas’al al-shâlihîn). Dengan demikian, mendatangi orang saleh untuk bertawasul hukumnya sunat dalam Islam.


Sebagian orang mengira bahwa doa seorang wali hanya akan dikabulkan saat ia masih hidup, dan ia tak akan dapat menolongmu jika sudah mati. Mereka berpikiran seperti itu karena mengira bahwa orang suci, syekh, atau wali adalah sumber pertolongan. Padahal, hanya Allah yang menjadi sumber keberkahan, bukan manusia. Karena itu, meyakini bahwa Allah hanya akan memberi saat si wali itu masih hidup, dan tidak memberi jika ia sudah mati sama saja dengan mengatakan bahwa sumber tertinggi adalah manusia, bukan Allah. Sebenarnya, hanya Allah yang memberi pertolongan, baik ketika si wali masih hidup maupun sudah meninggal.


Sebagian kaum "Salafi" menolak ajaran tawasul kepada para wali setelah mereka wafat. Penolakan itu didasarkan atas keyakinan yang keliru bahwa pengaruh Allah melalui para wali hanya berlaku saat mereka masih hidup. Seperti telah dikatakan, karunia Allah kepada para wali tidak bergantung pada apakah mereka masih hidup atau sudah meninggal, karena dalam keadaan apa pun kekuasaan tetap berada di tangan Allah sedangkan para wali hanyalah alat yang tak punya kekuasaan apa-apa. Di samping itu, pendapat para ulama terdahulu dan terkemudian yang akan kami sebutkan di bawah ini semakin meneguhkan kelirunya penolakan kaum "Salafi" terhadap tawasul melalui para wali setelah mereka wafat.


Telah menjadi bagian keyakinan umat Islam bahwa abdâl, atau para wali pengganti—disebut begitu karena Nabi saw. bersabda, “Tak seorang pun dari mereka mati kecuali Allah menggantinya dengan yang lain,”—ada dan bahwa mereka termasuk pemimpin umat. Bahkan Ibn Taimiyah menulis pada bagian akhir karyanya Aqîdah Wâsithiyyah:

Penganut Islam yang sejati adalah kaum Sunni. Di antara mereka terdapat para wali yang benar (shiddîqîn), syuhada, dan orang saleh. Di antara mereka terdapat orang yang mendapat petunjuk dan cahaya, yang integritasnya kuat dan kebaikannya nyata. Para pengganti (abdâl) dan pemimpin agama terdapat di tengah-tengah mereka dan kaum muslim berada di bawah bimbingan mereka. Inilah kelompok yang beruntung yang mengenai mereka Nabi saw. bersabda, “Ada satu kelompok dalam umatku yang kukuh dalam kebenaran. Mereka tak akan dimudaratkan oleh orang yang menentang maupun yang mengabaikan mereka, sejak kini hingga hari kiamat.”


Dalam banyak hadis sahih, Nabi saw. menyebutkan keuntungan yang didapat semua makhluk berkat syafaat para wali Allah dan kedekatan mereka dengan-Nya. Al-Suyuthi memberikan banyak contoh tentang syafaat universal ini, di antaranya sebagai berikut:


Imam Ahmad meriwayatkan bahwa ketika orang-orang Syam (Damaskus) disebutkan di depan Ali ibn Abi Thalib yang tengah berada di Irak, para sahabatnya berkata, “Kutuklah mereka, wahai Amirul Mukminin.” Ia menjawab, “Tidak. Aku mendengar Rasulullah saw. bersabda, ‘Para pengganti (abdâl) berada di Syam dan mereka ada empat puluh orang, setiap kali mereka wafat, Allah menggantikannya dengan yang lain. Karena mereka Allah menurunkan hujan, memberi (kepada kaum muslim) kemenangan atas musuh mereka dan mencegah malapetaka atas orang-orang Syam.’”


Al-Haitami mengatakan bahwa perawi hadis itu sahih kecuali Syarih ibn Ubaid, dan ia layak dipercaya (tsiqah). Al-Sakhawi menyebutkan hadis ini dalam karyanya, Maqâshid, dan menyetujuinya. Tetapi ia berpendapat bahwa tampaknya itu bukan ucapan Nabi saw., melainkan ucapan Ali sendiri.

Cinta


Berkata Sariy as Saqathy r.a. Pada suatu malam aku tak dapat tidur sedikit pun juga, padahal aku baru saja memberati diriku dengan mengerjakan sembahyang tahajjud serta memperbanyak tafakkur.

Setelah selesai bersembahyang Subuh keluarlah aku dari rumah, tanpa maksud dan tujuan tertentu, seraya kataku dalam hati :
Alangkah baiknya aku menemui juru nasehat atau para pengajar, kalau-kalau hatiku bisa mendapat ketenangan dengan nasehat dan anjurannya. Akan tetapi setelah aku sampai kesana, tiadalah yang kudapatkan kecuali kegelisahan, keresahan dan kekerasan hati yang semakin bertambah. Kata hatiku sekali lagi : "Cobalah aku pergi kerumah
penjara untuk mengambil i'tibar dengan orang-orang
hukuman." Demi setelah aku sampai pula kesana, masih juga hatiku seperti biasa, tiada berobah sedikit juga.
Kemudian itu hatiku berkata lagi : "Lebih baik aku pergi kerumah sakit jiwa saja, karena disana aku dapat mengambil i'tibar dengan orang-orang yang sedang mengalami cobaan. Demi setelah aku sampai di rumah sakit itu, tiba-tiba hatiku menjadi sadar dan teruslah aku masuk kedalam. Setibanya didalam terlihatlah olehku seorang wanita Jariyah (Hamba sahaya) yang sedang duduk diatas sebuah ranjang. Wanita itu amatlah cantiknya, berpakaian indah dan daripadanya
aku mencium bau-bauan yang sangat harumnya. Dia
menundukkan kepalanya kebawah, sedang kedua kaki dan tangannya dibelenggu. Setelah ia melihat akan daku, bercucuranlah air matanya seraya ia bersyair katanya :

Aku berlindung dengan engkau
janganlah engkau belenggu
tangan kaki tak berdosa itu
engkau belenggu sampai leherku
padahal ia tak mencuri tak menghianat.

Di sekitar dadaku terasalah olehku panas api
yang membakar hatiku namun ...
walaupun itu kau jadikan sepotong-sepotong
demi hakmu tak kan kumundur sedikit jua.

Berkata Sariyus Saqthy rahimahullah : " Setelah
kudengar syair wanita itu, bertanyalah aku kepada
penjaga rumah sakit itu". Mengapa wanita ini dititipkan disini? Jawab penjaga : "Wanita ini gila. Oleh tuan pemiliknya dititipkan disini, agar ia sadar dan sembuh kembali".
Kata Sariy as Saqathy selanjutnya : Maksudku ingin
mendekati wanita itu tetapi sipenjaga menghalangiku, seraya katanya Jangalah tuan coba-coba mendekatinya karena penyakit wanita ini amatlah kuatnya. Mendengar kata-kata penjaga yang demikian itu, semakin deraslah air mata wanita itu mengalir, seraya bersyair:

Wahai manusia bukanlah aku gila
namun aku mabuk dengan hati sadar
aku mabuk karena mencintai kekasih
nan tak kuasa aku menjauhinya.

Kebaikan yang kupandang sebagai kebinasaan
itulah dia kebaikanku
tak kan berdosa orang mencintai
tuan dari segala yang dipertuan.

Setelah kudengar syair wanita itu sesak rasa dadaku sehingga aku menangis. Demi ia melihat aku menangis, berkatalah ia kepadaku: Tangisan itu hanya disebabkan mengingat sifatnya semata, betapa kalau sekiranya engkau kelak dapat mengenalnya?

Kemudian ia menangis lagi seraya bersyair :
Engkau pakaikan aku pakaian rindu
alangkah sedapnya pakaian itu
engkau adalah Tuhan dari sekalian manusia
dan Tuhan yang haq pada mulanya

Hatiku penuh aneka warna cita-cita
namun, setelah melihat Mu dengan nyata
bersatulah cinta dan cintaku padanya seorang

Orang yang kubenci kini menjelma
menjadi orang pendengkiku, namun
aku menjadi yang dipertuan
setelah engkau menjadi tuanku.

Kutinggalkan manusia dunia dan agama mereka
karena masygul oleh cintamu
wahai dunia dan agamaku, kerinduan dalam
hati dan jiwaku
Kesemuanya adalah dari padaku
sedang cinta dan kekasihku
telah menguasai seluruh diriku.

Berkata Sariy as Saqathy selanjutnya : Kemudian itu bertanyalah aku kepada wanita itu : Hai wanita". "Labbaik hai Sariy", Jawabnya.
Aku termangu keheranan karena ia mengenal akan daku (namaku). Lalu aku bertanya: "Darimana engkau mengenal aku, padahal tiada pernah aku
melihatmu?" Jawabnya Tuhan yang mengetahui segala yang gaib, itulah yang telah mengenalkan aku dengan engkau.

Sebab apakah engkau dipenjarakan disini, padahal
demikian tinggi ma'rifat dan keikhlasanmu dalam
mencintai Dia?, tanyaku. Jawabnya : Mereka mengira aku gila, padahal merekalah yang lebih layak disebut gila.

Kemudian itu ia menangis tersedu-sedu Siapa namamu? tanyaku. "Tuhfah" Jawabnya.
Lalu kataku kepada penjaga rumah sakit itu. Lepaskanlah belenggu itu dari tangan dan kakiknya. Maka dilepaskanlah. Kemudian itu
kami bercakap-cakap beberapa saat, datanglah tuan
pemilik jariyah itu. Setelah ia melihat akan kami, ia memberi salam penuh hormat akan daku, lalu aku berkata kepadanya.

Wanita itu lebih berhak mendapat kehormatan. Mengapa tuan berbuat begini dan apakah yang tiada menyenangkan tuan dari keadaan wanita ini? Ia menjawab "ia selalu menangis tiada putus putusnya siang malam, tiada mau tidur sama sekali dan kamipun tak dapat tidur pula karenanya. Demi Allah wanita ini adalah barang daganganku, yang kubeli dengan harga lima ratus dinar". Apa pekerjaannya ? tanyaku. 'Dia ahli gambus" jawabnya.
Aku bertanya lagi Bagaimana asal mulanya menjadi begini? Ia menjawab : Ketika ia menyanyi sambil memetik gambus dengan syairnya :

Penuh jiwa ragaku oleh kerinduan
betapa kan kudapat berkata
bercakap dan berjalan demi hakmu,
janji itu tak kan dilenyapkan zaman
wahai orang yang tiada Tuhan melainkan Dia
relakah engkau kiranya melihatku
sebagai seorang hamba bagi sesama manusia.

Tiba-tiba gambus itu dilemparkannya sehingga menjadi pecah dan hancur. Demikianlah asal mulanya ia menjadi gila, sebagaimana tuan saksikan sekaang ini.

Mendengar cerita tuannya yang demikian itu, Tuhfah
bersyair lagi katanya :
Bercakaplah Alhaq dengan daku dalam hati
menjadilah ia penganjurku dalam hati
Ia mendekatkan daku setelah menjauhkan,
dan menjadikan daku pilihanNya
Kuperkenankan panggilan memanggilku
Kusambut dengan taat dengan patuh.

Berkatalah Sariy as Saqathy kepada pemilik wanita jariyah itu : "Lepaskanlah dia itu dan besok akan saya beri kepada tuan lima ratus dinar insya Allah, sebagai ganti harganya."

Biarlah ia tetap tinggal disini dahulu, sehingga uang itu saya terima dari tuan jawabnya. Setelah itu aku pulang kembali kerumah dengan hati pilu. Setelah dipertengahan malam itu datnglah seorang mengetuk pintu rumahku, Tiba-tiba kudapatkan lima orang laki-laki maka segera kutanyakan pada mereka apakah maksud kedatangan saudara-saudara sekalian kemari ditengah malam ini?. Salah seorang diantara mereka menjawab Kawan-kawan dijalan Allah sama datang berkunjung kemari dengan izin Allah, sesuatu hal yang amat pentingnya, semoga sudilah tuan memberi izin kepada kami, masuk kedalam rumah tuan.
Setelah mereka mamsuk terlihat olehku, masing-masing ada membawa kantong yang berisikan dinar. Salah seorang diantara mereka bertanya kepadaku, katanya Adakah tuan mengenal akan saya? tidak kenal jawabku. Saya bernama Ahmad Ibnul Muthanna. Ketika saya sedang tidur, terdengarlah olehku suara gaib, katanya: Hai Ibnul Muthanna, maukah engkau berbuat sesuatu kebaikan untuk Allah? Alangkah gembira hati saya, bila Allah mengizinkan saya untuk itu, jawabku Bawalah lima ratus dinar kepada Sariyus Saqthy untuk menebus Thuhfah, karena dia telah kupilih sebagai waliku yang mendapat inayah pertolonganku. Dan ketahuilah bahwa tuan pemilik Thuhfah itu, akan dimudahkan Allah rezkinya dengan tak usah bersusah payah lagi.
Kata Ibnul Muthanna selanjutnya: Maka setelah saya bangun segeralah saya datng kemari untuk memenuhi apa yang telah diperintahkan kepada saya. Ini dia uang itu, ada saya bawa kepada tuan.
Berkata Sariyus Saqthy: Maka bersujudlah aku karena bersyukur kepada Allah atas karunia ni'matnya yang telah kuterima itu. Damikianlah setelah fajar menyingsing segera aku tegak bersembahyang subuh, kemudian aku keluar menuju rumah sakit itu, kulihat si penjaga sudah tegak berdiri setelah melihat aku datang, bertanyalah ia kepadaku, katanya: Tuan datang kemari untuk urusan Tuhfah bukan? Ya, jawabku dan seterusnya lalu kuceritakan kepadanya apa yang telah terjadi antara aku dengan Ibnul Muthanna semalam dan segera aku masuk kerumah sakit, bersama dengan penjaga itu. Demi setelah Thuhfah melihat aku datang, menangislah ia dengan air mata yang bercucuran seraya bersyair :
Telah cukup kusabarkan diriku
karena menciantai Mu tapi
kini kesabaran itupun rupanya
telah dekat masanya meninggalkan daku

Tak akan sembunyi bagimu
segala urusanku ini
wahai harapan
Dan tempat kupohon

Kuharapkan Engkau melepaskan
beban kebudakan dan
jadikanlah aku manusia Merdekayang terlepas dari tawanan.

Ketika kami sedang duduk datanglah tuan pemilik wanita jariyah itu dengan muka cemas serta bercucuran air matanya. Lalu aku berkata kepadanya: Tak usah tuan menangis, Allah telah memberi kelapangan, uang pun telah siap sedia, seperti yang tuan harapkan malahn kalau perlu boleh tuan meminta tambahnya. walaupun sampai lima ribu dinar.
Demi Allah, jawabnya Tidak akan saya terima uang tebusan itu, walaupun dengan emas dan perak sepenuh bumi. Hai tuan kataku, bukankah tuan telah berjanji dengan saya kemarin itu? Bukanlah begitu ya tuan, katanya tuan tiada tahu apa yang terjadi dari beberapa macam cercaan atas diriku dan suara "katuf" (gaib) yang telah saya dengar semalam. Ketahuilah bahwa wanita ini telah kumerdekanan karena Allah Taala. Bahkan segala milik dan kekayaanku telah kusedekahkan semuanya untuk Allah Taala.
Kata Sariyus Saqthy : Aku menoleh kebelakang tahu-tahu Ibnul Muthanna sedang menagis dibelakangku dengan sekuat-kuatnya, lalu aku bertanya kepadanya Apakah yang tuan tangiskan itu? Jawabnya : Kalau begini kejadiannya itulah suatu tanda bahwa Allah tiada ridha kepadaku. Bukanlah begitu kataku pahala telah dicatat karena niat tuan yang baik itu, sedang niat itu adalah lebih baik dari pada amalnya.
Kemudian berkatalah Ibnul Muthanna Hai Sariyus Saqthy, uang itu telah saya keluarkan untuk Allah Azza wa Jalla, maka tak boleh dikembalikan lagi. Jadi uang itu dan sisa uang saya yang ada, kesemuanya itu telah saya sedekahkan, begitu juga segala budak sahaya yang ada pada saya, telah saya merdekakan semuanya karena Allah Taala.
Kini saya kembali kepada Allah dan bertaubat dari dosa saya. Tiba-tiba Tuhfah tegak berdiri dan mengganti pakaiannya dengan pakaian yang terbuat dari bulu serta pergilah ia bersama-sama kami, seraya bersyair katanya :
Wahai kesenangan hati, Engkaulah
pujaan hati dan kesenangan ku,
Engkau adalah harapan dan tujuanku
Cahaya dari segala cahaya

Beberapa banyak kulihat pencinta
bersabar diri karena cinta dan
berapa lama cinta berdiam
bersinggasana dalam dada.

Kemudian itu ia menjerit dan mengeluh katanya : Wahai alangkah lamanya kesedihan ini. Setelah itu, berpisahlah kami dan Thuhfah pergi seraya syairnya :
Aku menangis karena Nya
dan aku lari daripada Nya kepada Nya
demi hak Nya harapan itu
tak'kan kutinggalkan selamanya
hingga tercapai olehku
cita-cita yang kupinta daripada Nya.

Berkata Sariyus Saqthy: Sejak itulah ia meninggalkan kami. Pada suatu tahun pergilah aku beserta tuannya (pemilik Thuhfah) menunaikan ibadah haji ke Mekkah, ketika kami sedang mengerjakan tawaf dengan beberapa jamaah, terdengarlah olehku suara duka dari seorang wanita yang memanggilku dengan suara yang sangat nyaring. Setelah wanita itu melihat kami, ia bersyair :
Bercinta Allah di alam dunia
senantiasa menderita dan ber sakit-sakit
ia tak putus-putus dengan penyakit
yang dari itu juga sakit sembuhnya
ia rindu karena cintanya
nan tak mengharapkan kasih lainnya
demikianlah tiap pencinta
mengeluh merintih hingga berjumpa.

Kemudian ia jatuh pingsan. Setelah siuman ia bersyair lagi katanya
Aku kan mati, namun cintaku
tetap tak kan berobah Jiwakupun tak kan merasa puas
selamanya oleh rasa cinta kepada Mu.
Wahai harapan dari segala harapan
hanya engkaulah harapanku
tempat kerinduan dan rahasiaku
bukanlah engkau penunjuk jalan
bagi yang sesat dalam perjalanan
penolong bagi mereka yang jatuh ke jurang.

Aku maju mendekati wanita itu, kata Sariyus Saqthy, kuketahui ia Thuhfah. Aku bertanya kepadanya : Apakah pepmberian Allah kepadamu, setelah engkau putuskan hubunganmu dengan makhluk?
Ia menjawab : Dia menjadikan aku didekatnya dan menghindarkan aku dari gangguan makhluk Nya.
Kemudian kataku lagi kepadanya :
Thuhfah, Achmad Ibnul Muthanna telah meninggal. Maka jawabnya L Semoga Allah mengasihani dan mengampuninya. kuharapkan dari pada Allah segala kebaikan dan kenikmatan untuknya dan semoga Allah membalasnya dari uang yang ia nafkahkan dijalan Allah itu dengan tujuh ratus kali lipat, bahkan lebih daripada itu.

Kemudian itu ia berdoa: Wahai Tuhan dan penghuluku, aku mohon kepadaMu dengan cahaya wajahMu yang telah menerangi segala kegelapan dan menjadi baik karenanya segala urusan dunia dan akherat,agar supaya engkau mencabut rohku kembali kepadaMu. Sampai bilakah aku mesti tinggal di dunia dengan penuh derita ini? Ilahi cukup lama aku merindui Mu, maka segerakanlah oleh Mu rohku Engkau panggil kembali, Wahai Tuhan yang lebih kasih dari segala pengasih, Tuhan yang memperkenankan doa orang yang sedang dalam kesempitan.

Kemudian itu ia menghadap kiblat dan membca dua kalimat syahadat lalu meninggallah ia menemui Tuhannya.
Maha suci Allah yang hidup yang tiada mati.

Kata mutiara Malana Syaikh nazim Adil al haqqani

  "Yang lebih penting daripada ilmu ialah pemindahan
ilmu tersebut dari hati ke hati "

"Kita tidak minta untuk dikenali dan menjadi sesuatu,
karena selagi kita menginginkannya, maka kita masih
belum lagi sempurna"

"KedaulatanNya adalah Melalui KekekalanNya"

"Perjumpaan dengan para awliya meringankan beban kita
dan kita akan merasa ringan dan gembira" , "Adalah
mustahil untuk kita memahami diri kita.
Sekurang-kurangnya kita perlu melihat cermin, karena
tiada siapapun yang dapat mengenali kepincangan di
dalam dirinya "

Saya tidak berkata, “Ikut saya,” karena saya tahu
siapa yang akan ikut bersama saya di Mahsyar kelak "

"Keikhlasan dan Politik tidaklah serasi sebagaimana
Iman dan Penipuan "

“Sudah menjadi suatu aturan yang disepakati di antara
Rijal-Allah, Para Kekasih Allah, bahwa keragaman jalan
ini adalah diperuntukkan bagi mereka yang belum
terhubungkan dan mereka yang belum mencapai akhir
perjalanan, dan belum mendapatkan ‘amanat’-nya,
sementara mereka yang telah mawsul (“sampai”) semua
berada pada satu jalan dan dalam satu lingkaran dan
mereka saling mengetahui dan mencintai satu sama
lain”.

“ Mereka akan berada di mimbar-mimbar cahaya di Hari
Kebangkitan. Karena itu, kita, para Murid dari
jalan-jalan Tariqah mestilah pula saling mengetahui,
mengenal dan mencintai satu sama lain demi keridhaan
Allah dan Nabi-Nya serta para Kekasih-Nya agar diri
kita mampu memasuki cahaya penuh barakah tersebut dan
masuk dalam lingkaran tertinggi dari suhbah
persahabatan dan jama’ah, jauh dari furqa (perpecahan)
dan keangkuhan”.

“Kita telah diperintahkan untuk mencintai orang-orang
suci. Mereka adalah para Nabi, dan setelah para Nabi,
adalah para pewaris mereka, Awliya’. Kita telah
diperintahkan untuk beriman pada para Nabi, dan iman
memberikan pada diri kita Cinta”.

“Cinta membuat manusia untuk mengikuti ia yang
dicintai. Ittiba’ bermakna untuk mencintai dan
mengikuti, sementara Ittaat’ bermakna [hanya] untuk
mengikuti”. “Seseorang yang taat mungkin saja mereka
taat karena paksaan atau karena cinta, tapi tidaklah
selalu karena cinta.”

“ Allah Ta’ala menginginkan hamba-hamba-Nya untuk
mencintai-Nya. Dan para hamba tidaklah mampu menggapai
secara langsung cinta atas Tuhan mereka. Karena
itulah, Allah Ta’ala mengutus, sebagai utusan dari
Diri-Nya, para Nabi yang mewakili-Nya di antara para
hamba-Nya. “Dan setiap orang yang mencintai Para
Nabi, melalui AwliyaNya maka mereka akan menggapai
cinta para Nabi. Dan melalui cinta para Nabi, kalian
akan menggapai cinta Allah Ta’ala.”

“Karena itu, tanpa cinta, seseorang tak mungkin dapat
menjadi orang yang dicintai dalam Hadirat Ilahi. Jika
kalian tak memberikan cinta kalian, bagaimana Allah
Ta’ala akan mencintai kalian?” “Namun manusia kini
sudah seperti kayu kering, mereka menyangkal cinta.
Mereka adalah orang-orang yang kering tak ada
kehidupan! Suatu pohon, dengan cinta, bersemi dan
berbunga di kala musim semi”.

“Tetapi kayu yang telah kering, bahkan seandainya
tujuh puluh kali musim semi mendatanginya, mereka tak
akan pernah berbunga. Cinta membuat alam ini terbuka
dan memberikan buah-buahannya, memberikan keindahannya
bagi manusia. Tanpa cinta, ia tak akan pernah terbuka,
tak akan pernah berbunga, tak akan pernah memberikan
buahnya.”

“Jadi Cinta adalah pilar utama paling penting dari
Iman. Tanpa Cinta, tak akan ada Iman. Saya dapat
berbicara tentang hal ini hingga tahun depan, tapi
kalian harus mengerti, dari setetes, sebuah samudera!”

Ahad, September 22

Hakikat Keikhlasan

Bismillahirrahmaanirrahiim

Kita semua sama-sama mafhum, bahwa ikhlas merupakan syarat diterimanya amal oleh Allah Ta'ala. Namun apakah sesungguhnya ikhlas dan bagaimana untuk dapat ikhlas, mungkin hal itu yang menjadi demikian penting untuk kita ketahui.

Ikhlas adalah segala sesuatu aktivitas yang diarahkan untuk pengabdian kepada Allah Ta'ala. Ikhlas bukanlah tanpa pamrih. Dibenarkan untuk berharap pamrih, namun pamrih yang berselarasan dengan apa yang Allah Ta'ala inginkan seperti rahmat Allah dan ampunan Allah. Pamrih yang tidak dibenarkan adalah pamrih yang mengarahkan berkembang biaknya kecintaan kita kepada diri (hawa nafsu) dan kecintaan kepada dunia (syahwat). Ketika seseorang melakukan sesuatu untuk mendapatkan balasan walaupun hanya sekedar 'ucapan terima kasih', maka sesungguhnya hal ini dapat merusak keikhlasannya.

Tidak jarang kita melakukan sesuatu mungkin bukan karena ingin dipuji orang, tetapi karena ingin mendapatkan dukungan, persetujuan dan sekedar ucapan terima kasih dari manusia. Dan hati kita akan demikian kecewa ketika ternyata dukungan, persetujuan dan ucapan terima kasih itu tidak didapatkan.

Ah, betapa sering kita kecewa ketika mengungkapkan gagasan dan ternyata orang-orang tidak mendukung gagasan kita? Betapa demikian seringnya kita marah ketika orang yang kita berbuat baik kepadanya melengos pergi tidak mengucapkan terima kasih, sehingga kita pun sering berkata: "Tidak tahu diri, mengucapkan terima kasih pun tidak!"
Syaikh Abu 'Ali ad-Daqqaq menyatakan, "Ikhlas adalah menjaga diri dari apapun pendapat manusia."

Keikhlasan adalah ibadah hati. Ia harus kita mulai usahakan muncul dalam diri kita dengan upaya terus menerus dan kesabaran atasnya. Tentu amat sangat penting ilmu yang benar menopangnya.

Dzun Nun al-Mishry berkomentar, "Keikhlasan hanya bisa dipandang penuh dengan cara menetapinya dengan sebenar-benarnya dan bersabar untuknya. Yang belakangan ini hanya bisa dipenuhi dengan cara berikhlas dan bertetap hati di dalamnya terus-menerus".

Keikhlasan akan terjadi manakala kita tidak lagi menyadari bahwa kita ikhlas. Ketika kita masih menyadari rasa ikhlas tersebut, sesungguhnya kita belum ikhlas.

Abu Bakr ad-Daqqaq menegaskan, "Cacat keikhlasan dari masing-masing orang yang dikatakan ikhlas adalah kesadarannya sendiri akan keikhlasannya itu. Abu Ya'qub as-Susi menyatakan, "Apabila mereka melihat keikhlasan di dalam keikhlasan mereka, maka keikhlasan mereka itu memerlukan keikhlasan".

Dalam al Qur'an ada 2 jenis keikhlasan. Yaitu ketika kita berupaya untuk ikhlas, ini dibahasakan dengan 'mukhlis', dan sebuah karunia dari Allah terhadap orang-orang yang mukhlis yaitu keikhlasan yang datang dari-Nya
yang dibahasakan dengan 'mukhlas'. al Qusyairy berkata: "Jika Allah menghendaki untuk memurnikan keikhlasannya, Dia akan menjadikannya tidak meyadari keikhlasannya sendiri dan jadilah dia ikhlas oleh Tuhan, (mukhlas), bukan ikhlas karena dirinya sendiri, (mukhlis)".

Orang-orang yang mukhlas inilah yang iblis tiada sanggup untuk menggodanya.Iblis menjawab:"Demi kekuasaan Engkau aku akan menyesatkan merreka semuanya, kecuali hamba-hamba-Mu yang mukhlas di antara mereka. (QS. 38:82-83)

Al-Junayd mengatakan, "Keikhlasan adalah rahasia antara Allah dengan si hamba. Bahkan malaikat pencatat tidak mengetahui sedikit pun mengenainya untuk bisa dituliskannya dalam catatan amal seseorang. Syaithan tidak mengetahuinya hingga dia tak merusaknya, nafsu pun tak menyadarinyasehingga ia tidak bisa mempengaruhinya".

Al-Fudhail menyatakan, "Menghentian amal-amal baik karena manusia adalah munafik, dan melaksanakannya karena manusia adalah musyrik. Ikhlas berarti Allah menyembuhkannya dari dua penyakit ini".

Perkataan ini benar-benar mengisyaratkan bahwa keikhlasan terjadi ketika Allah Ta'ala telah menyembuhkan hati kita dari menghiraukan apa-apa yang dikatakan oleh manusia. Yang terpenting adalah ketika kita telah mempertimbangkan sebuah amal akan tujuannya untuk Allah Ta'ala serta maslahatnya, maka lakukanlah hal itu, dan janganlah pedulikan cemoohan atau pujian manusia. Dan jangan sedikit pun terbesit dalam hati kita melakukannya untuk mendapatkan pujian manusia.

Sebagaimana pesan Luqman al Hakim kepada anaknya: "Hai anakku, lakukanlah apa yang menjadi kemaslahatan dirimu, baik mengenai agamamu maupun duniamu, dan laksanakanlah kepentinganmu itu hingga selesai, jangan peduli orang lain dan tak usah kamu dengar perkataan dan cemoohan mereka. Karena betapa pun takkan dapat kamu buat amereka semua lega, dan takkan dapat kamu persatukan hati mereka".

Dan sesudah itu Luqman menyuruh anaknya mengambil seekor keledai. "Anakku, bawalah kemari seekor keledai", katanya. "Lihatlah apa kata orang nanti, mereka selamanya takkan lega melihat orang lain".

Tak lama kemudian anak itu pun datang membawa keledai yang diminta. Luqman naik ke atas punggungnya, dan menyuruh anaknya berjalan menuntun binatang itu, sementara ia enak-enak duduk di atas punggungnya.

Dalam perjalanan, lewatlah mereka pada sekumpulan orang. Dan melihat pemandangan yang ganjil itu, orang-orang berkata : "Anak kecil disuruh berjalan, sedang yang sudah tua malah enak-enak naik kendaraan. Betapa kejam dan tak tahu malu orang tua itu".

"Apa kata orang-orang itu hai anakku?", tanya Luqman kepada anaknya. Dan setelah anak itu menerangkan apa yang mereka omongkan, ia pun turun dari atas punggung kendaraannya dan menyuruh anaknya naik. Dan sekarang giliran dia yang menuntun keledai.

Berikutnya ketika melewati kerumunan orang yang lain, terdengarlah kata-kata mereka : "Yang kecil naik, sedang orang yang sudah tua bangka begitu disuruh jalan kaki. Sungguh kejam anak itu dan tak tahu kesopanan".

"Apa kata mereka?", kata orang tua itu mengulangi pertanyaannya. Maka diterangkanlah oleh anak itu apa yang diperkatakan orang, dan kini kedua insan anak dan bapak itu bersama-sama menunggangi binatang naas itu. Sehingga pada suatu tempat, ketika mereka melewati kerumunan orang berikutnya, mereka pun berkata pula : "Dua orang berbonceng-boncengan di atas punggung seekor keledai, padahal sakit tidak, lemah pun tidak. Ah, tak kenal belas kasihan kedua orang itu terhadap binatang".

Kali ini Luqman bertanya pula kepada anaknya, "Apa kata orang-orang itu hai anakku?". Dan setelah anak itu menjawab, maka tak ada pilihan lain kecuali harus turun bersama-sama dari onggung keledai dan menuntunnya bersama-sama sambil jalan kaki.

"Subhanallah!" orang terheran-heran melihat keledai yang segar-bugar dan kuat itu berjalan tanpa muatan, sementara kedua pemiliknya malah berjalan kaki menuntunnya bersama-sama. "Kenapan salah seorang tak mau menaikinya?", kata merka.

Sekali lagi Luqman menanyai anaknya, "Apa kata mereka wahai anakku?". Dan setelah dijawab, ia pun melanjutkan perkataannya : "Anakku, bukankah telah aku katakan padamu, lakukanlah apa yang menjadi kemaslahatan dirimu, jangan pedulikan apa kata orang. Semua ini aku lakukan, tak lain hanyalah untuk memberi pelajaran kepadamu".

Ketika cemoohan dan pujian dari manusia telah dirasakan sama, maka inilah mulanya anugerah keikhlasan dari Allah Ta'ala tercurah kepada qalbu kita. Dzun Nun menjelaskan, "Ada tiga tanda keikhlasan: manakala orang yang bersangkutan memandang pujian dan celaan manusia sama saja; apabila mengerjakan amal kebaikan dia tidak menyadari, bahwa dia sedang mengerjakan amal kebaikan; dan jika dia lupa akan haknya untuk memperoleh pahala di akhirat karena amal baiknya".

Hal ini dapat hanya terjadi dengan mengarahkan semua arah dan tujuan amal hanya untuk Allah Ta'ala, paling tidak untuk mendapatkan rahmat (pertolongan) dan ampunan Allah sahaja.

Abu 'Utsman mengatakan, "Keikhlasan adalah melupakan opini makhluk melalui perhatian yang terus-menerus kepada anugerah Khalik yang melimpah".

Ma'rifatun Nafs

Bismillahirrahmaanirrahiim

Imam al Ghazaly dalam kitab Ihya Ulumuddin bab Sabar dan Syukur mengatakan bahwa manusia (insan) adalah makhluk yang khas. Berbeda dengan malaikat yang memang dicipta hanya untuk menjadi abdi Allah Ta'ala atau binatang yang memang dicipta hanya untuk mengikuti hawa nafsu dan syahwat, maka di dalam diri manusia ada aspek kemalaikatan dan aspek kebinatangan. Dan kesabaran itu sesungguhnya adalah sebuah keadaan dimana kita berusaha memenangkan aspek kemalaikatan itu dari tarikan aspek kebinatangan.

Aspek kemalaikatan tersebut dalam al Qur'an yang disebut sebagai wujud nafs mutmainnah. Yang apabila dominan dalam diri, maka akan jadilah seorang hamba yang ridlo kepada Allah dan Allah ridlo kepada-Nya.(raadliyatammardliyyah). Sedang aspek kebinatangan inilah yang dalam al qur'an disebut sebagai hawa nafsu dan syahwat.

Wahai nafs muthmainnah. Kembalilah kepada Rabbmu dengan hati yang ridla kepada Allah dan diridlai oleh Nya. Maka masuklah ke dalam jama'ah hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam surga-Ku. (QS. 89:27-30) Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai ilahnya dan Allah membiarkannya sesat berdasarkan ilmu-Nya dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat). Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran (QS.45:23) Sesungguhnya binatang yang seburuk-buruknya pada sisi Allah ialah orang-orang yang pekak dan tuli yang tidak mengerti apapun. (QS. 8:22)

Segala dosa yang dilakukan manusia pada dasarnya adalah segala sesuatu yang terjadi karena dilandasi oleh hawa nafsunya. Walaupun hal tersebut namapak 'baik' di mata manusia, namun sesungguhnya rusak di hadapan Allah Ta'ala.

Sebelum manusia lahir ke muka bumi, dikatakan dalam al Qur'an bahwa manusia telah bersaksi, bahwa Allah adalah Tuhannya. (QS 7:172) Namun pernahkah kita ingat perjanjian tersebut?

Mungkin kita semua tidak pernah ingat bahwa pernah berjanji kepada Allah.Hal ini terjadi karena yang berjanji itu adalah nafs muthmainnah, sedangkan sekarang ini yang dominan adalah hawa nafsu sedang nafs muthmainnah diperbudak olehnya. Artinya, apabila seseorang ingin tidak lalai dari perjanjiannya, yang harus dilakukan oleh kita semua adalah membebaskan nafs muthmainnah dari perbudakan hawa nafsu. Sebagaimana Musa as. membebaskan Bani Israil dari perbudakan Fir'aun, untuk menuju tanah yang dijanjikan Allah.

Nafs muthmainnah inilah sesungguhnya hakikat diri manusia. Dia yang berjanji kepada Allah Ta'ala, dan dia yang akan mempertanggungjawabkannya kepada Allah. Apabila ia menemui ajalnya dalam keadaan yang telah lepas dari perbudakan, maka ia akan selamat sentosa. Bebas dari siksa kubur dan bahkan di alam akhirat. Namun apabila maut menjemput ia masih terbelenggu oleh hawa nafsu dan syahwat, maka ia akan disiksa oleh Allah Ta'ala di alam kubur dan juga di akhirat kelak.

Hawa nafsu atau aspek kebinatangan diberikan oleh Allah kepada manusia, bukan tanpa alasan. Hal ini ditujukan sebagai ujian buat manusia, serta menjadi kendaraan untuk dapat hidup di dunia.

Imam al Ghazaly menggambarkan hubungan nafs muthmainnah, hawa nafsu syahwat dan jasad seperti kereta kuda. Hawa Nafsu dan syahwat sebagai kuda-kuda yang menarik kereta jasad, sedangkan nafs muthmainnah adalah sais.

Tanpa kuda-kuda hawa nafsu dan syahwat, maka kereta kuda tidak dapat berjalan. Jasad tidak dapat ditarik. Namun apabila sang sais sakit, maka kuda-kuda hawa nafsu dan syahwat akan membawa kereta jasad lari kesana kemari tak terkendali. Demikianlah yang banyak terjadi dikebanyakan manusia.

Untuk mendapatkan surga, seorang harus mengendalikan hawa nafsu dan syahwatnya ini. Kalau tidak dilakukan tentu dia akan menghadapi kehancuran yang amat besar.

Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Rabbnya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya. maka sesungguhnya surgalah tempat tinggal(nya). (QS. 79:40-41)