Berkata Sariy as Saqathy r.a. Pada suatu malam aku tak dapat tidur
sedikit pun juga, padahal aku baru saja memberati diriku dengan
mengerjakan sembahyang tahajjud serta memperbanyak tafakkur.
Setelah selesai bersembahyang Subuh keluarlah aku dari rumah, tanpa maksud dan tujuan tertentu, seraya kataku dalam hati :
Alangkah
baiknya aku menemui juru nasehat atau para pengajar, kalau-kalau hatiku
bisa mendapat ketenangan dengan nasehat dan anjurannya. Akan tetapi
setelah aku sampai kesana, tiadalah yang kudapatkan kecuali kegelisahan,
keresahan dan kekerasan hati yang semakin bertambah. Kata hatiku sekali
lagi : "Cobalah aku pergi kerumah
penjara untuk mengambil i'tibar dengan orang-orang
hukuman." Demi setelah aku sampai pula kesana, masih juga hatiku seperti biasa, tiada berobah sedikit juga.
Kemudian
itu hatiku berkata lagi : "Lebih baik aku pergi kerumah sakit jiwa
saja, karena disana aku dapat mengambil i'tibar dengan orang-orang yang
sedang mengalami cobaan. Demi setelah aku sampai di rumah sakit itu,
tiba-tiba hatiku menjadi sadar dan teruslah aku masuk kedalam. Setibanya
didalam terlihatlah olehku seorang wanita Jariyah (Hamba sahaya) yang
sedang duduk diatas sebuah ranjang. Wanita itu amatlah cantiknya,
berpakaian indah dan daripadanya
aku mencium bau-bauan yang sangat harumnya. Dia
menundukkan
kepalanya kebawah, sedang kedua kaki dan tangannya dibelenggu. Setelah
ia melihat akan daku, bercucuranlah air matanya seraya ia bersyair
katanya :
Aku berlindung dengan engkau
janganlah engkau belenggu
tangan kaki tak berdosa itu
engkau belenggu sampai leherku
padahal ia tak mencuri tak menghianat.
Di sekitar dadaku terasalah olehku panas api
yang membakar hatiku namun ...
walaupun itu kau jadikan sepotong-sepotong
demi hakmu tak kan kumundur sedikit jua.
Berkata Sariyus Saqthy rahimahullah : " Setelah
kudengar syair wanita itu, bertanyalah aku kepada
penjaga
rumah sakit itu". Mengapa wanita ini dititipkan disini? Jawab penjaga :
"Wanita ini gila. Oleh tuan pemiliknya dititipkan disini, agar ia sadar
dan sembuh kembali".
Kata Sariy as Saqathy selanjutnya : Maksudku ingin
mendekati
wanita itu tetapi sipenjaga menghalangiku, seraya katanya Jangalah tuan
coba-coba mendekatinya karena penyakit wanita ini amatlah kuatnya.
Mendengar kata-kata penjaga yang demikian itu, semakin deraslah air mata
wanita itu mengalir, seraya bersyair:
Wahai manusia bukanlah aku gila
namun aku mabuk dengan hati sadar
aku mabuk karena mencintai kekasih
nan tak kuasa aku menjauhinya.
Kebaikan yang kupandang sebagai kebinasaan
itulah dia kebaikanku
tak kan berdosa orang mencintai
tuan dari segala yang dipertuan.
Setelah
kudengar syair wanita itu sesak rasa dadaku sehingga aku menangis. Demi
ia melihat aku menangis, berkatalah ia kepadaku: Tangisan itu hanya
disebabkan mengingat sifatnya semata, betapa kalau sekiranya engkau
kelak dapat mengenalnya?
Kemudian ia menangis lagi seraya bersyair :
Engkau pakaikan aku pakaian rindu
alangkah sedapnya pakaian itu
engkau adalah Tuhan dari sekalian manusia
dan Tuhan yang haq pada mulanya
Hatiku penuh aneka warna cita-cita
namun, setelah melihat Mu dengan nyata
bersatulah cinta dan cintaku padanya seorang
Orang yang kubenci kini menjelma
menjadi orang pendengkiku, namun
aku menjadi yang dipertuan
setelah engkau menjadi tuanku.
Kutinggalkan manusia dunia dan agama mereka
karena masygul oleh cintamu
wahai dunia dan agamaku, kerinduan dalam
hati dan jiwaku
Kesemuanya adalah dari padaku
sedang cinta dan kekasihku
telah menguasai seluruh diriku.
Berkata
Sariy as Saqathy selanjutnya : Kemudian itu bertanyalah aku kepada
wanita itu : Hai wanita". "Labbaik hai Sariy", Jawabnya.
Aku termangu
keheranan karena ia mengenal akan daku (namaku). Lalu aku bertanya:
"Darimana engkau mengenal aku, padahal tiada pernah aku
melihatmu?" Jawabnya Tuhan yang mengetahui segala yang gaib, itulah yang telah mengenalkan aku dengan engkau.
Sebab apakah engkau dipenjarakan disini, padahal
demikian tinggi ma'rifat dan keikhlasanmu dalam
mencintai Dia?, tanyaku. Jawabnya : Mereka mengira aku gila, padahal merekalah yang lebih layak disebut gila.
Kemudian itu ia menangis tersedu-sedu Siapa namamu? tanyaku. "Tuhfah" Jawabnya.
Lalu kataku kepada penjaga rumah sakit itu. Lepaskanlah belenggu itu dari tangan dan kakiknya. Maka dilepaskanlah. Kemudian itu
kami bercakap-cakap beberapa saat, datanglah tuan
pemilik jariyah itu. Setelah ia melihat akan kami, ia memberi salam penuh hormat akan daku, lalu aku berkata kepadanya.
Wanita
itu lebih berhak mendapat kehormatan. Mengapa tuan berbuat begini dan
apakah yang tiada menyenangkan tuan dari keadaan wanita ini? Ia menjawab
"ia selalu menangis tiada putus putusnya siang malam, tiada mau tidur
sama sekali dan kamipun tak dapat tidur pula karenanya. Demi Allah
wanita ini adalah barang daganganku, yang kubeli dengan harga lima ratus
dinar". Apa pekerjaannya ? tanyaku. 'Dia ahli gambus" jawabnya.
Aku
bertanya lagi Bagaimana asal mulanya menjadi begini? Ia menjawab :
Ketika ia menyanyi sambil memetik gambus dengan syairnya :
Penuh jiwa ragaku oleh kerinduan
betapa kan kudapat berkata
bercakap dan berjalan demi hakmu,
janji itu tak kan dilenyapkan zaman
wahai orang yang tiada Tuhan melainkan Dia
relakah engkau kiranya melihatku
sebagai seorang hamba bagi sesama manusia.
Tiba-tiba
gambus itu dilemparkannya sehingga menjadi pecah dan hancur.
Demikianlah asal mulanya ia menjadi gila, sebagaimana tuan saksikan
sekaang ini.
Mendengar cerita tuannya yang demikian itu, Tuhfah
bersyair lagi katanya :
Bercakaplah Alhaq dengan daku dalam hati
menjadilah ia penganjurku dalam hati
Ia mendekatkan daku setelah menjauhkan,
dan menjadikan daku pilihanNya
Kuperkenankan panggilan memanggilku
Kusambut dengan taat dengan patuh.
Berkatalah
Sariy as Saqathy kepada pemilik wanita jariyah itu : "Lepaskanlah dia
itu dan besok akan saya beri kepada tuan lima ratus dinar insya Allah,
sebagai ganti harganya."
Biarlah ia tetap tinggal disini dahulu,
sehingga uang itu saya terima dari tuan jawabnya. Setelah itu aku pulang
kembali kerumah dengan hati pilu. Setelah dipertengahan malam itu
datnglah seorang mengetuk pintu rumahku, Tiba-tiba kudapatkan lima orang
laki-laki maka segera kutanyakan pada mereka apakah maksud kedatangan
saudara-saudara sekalian kemari ditengah malam ini?. Salah seorang
diantara mereka menjawab Kawan-kawan dijalan Allah sama datang
berkunjung kemari dengan izin Allah, sesuatu hal yang amat pentingnya,
semoga sudilah tuan memberi izin kepada kami, masuk kedalam rumah tuan.
Setelah
mereka mamsuk terlihat olehku, masing-masing ada membawa kantong yang
berisikan dinar. Salah seorang diantara mereka bertanya kepadaku,
katanya Adakah tuan mengenal akan saya? tidak kenal jawabku. Saya
bernama Ahmad Ibnul Muthanna. Ketika saya sedang tidur, terdengarlah
olehku suara gaib, katanya: Hai Ibnul Muthanna, maukah engkau berbuat
sesuatu kebaikan untuk Allah? Alangkah gembira hati saya, bila Allah
mengizinkan saya untuk itu, jawabku Bawalah lima ratus dinar kepada
Sariyus Saqthy untuk menebus Thuhfah, karena dia telah kupilih sebagai
waliku yang mendapat inayah pertolonganku. Dan ketahuilah bahwa tuan
pemilik Thuhfah itu, akan dimudahkan Allah rezkinya dengan tak usah
bersusah payah lagi.
Kata Ibnul Muthanna selanjutnya: Maka setelah
saya bangun segeralah saya datng kemari untuk memenuhi apa yang telah
diperintahkan kepada saya. Ini dia uang itu, ada saya bawa kepada tuan.
Berkata
Sariyus Saqthy: Maka bersujudlah aku karena bersyukur kepada Allah atas
karunia ni'matnya yang telah kuterima itu. Damikianlah setelah fajar
menyingsing segera aku tegak bersembahyang subuh, kemudian aku keluar
menuju rumah sakit itu, kulihat si penjaga sudah tegak berdiri setelah
melihat aku datang, bertanyalah ia kepadaku, katanya: Tuan datang kemari
untuk urusan Tuhfah bukan? Ya, jawabku dan seterusnya lalu kuceritakan
kepadanya apa yang telah terjadi antara aku dengan Ibnul Muthanna
semalam dan segera aku masuk kerumah sakit, bersama dengan penjaga itu.
Demi setelah Thuhfah melihat aku datang, menangislah ia dengan air mata
yang bercucuran seraya bersyair :
Telah cukup kusabarkan diriku
karena menciantai Mu tapi
kini kesabaran itupun rupanya
telah dekat masanya meninggalkan daku
Tak akan sembunyi bagimu
segala urusanku ini
wahai harapan
Dan tempat kupohon
Kuharapkan Engkau melepaskan
beban kebudakan dan
jadikanlah aku manusia Merdekayang terlepas dari tawanan.
Ketika
kami sedang duduk datanglah tuan pemilik wanita jariyah itu dengan muka
cemas serta bercucuran air matanya. Lalu aku berkata kepadanya: Tak
usah tuan menangis, Allah telah memberi kelapangan, uang pun telah siap
sedia, seperti yang tuan harapkan malahn kalau perlu boleh tuan meminta
tambahnya. walaupun sampai lima ribu dinar.
Demi Allah, jawabnya
Tidak akan saya terima uang tebusan itu, walaupun dengan emas dan perak
sepenuh bumi. Hai tuan kataku, bukankah tuan telah berjanji dengan saya
kemarin itu? Bukanlah begitu ya tuan, katanya tuan tiada tahu apa yang
terjadi dari beberapa macam cercaan atas diriku dan suara "katuf" (gaib)
yang telah saya dengar semalam. Ketahuilah bahwa wanita ini telah
kumerdekanan karena Allah Taala. Bahkan segala milik dan kekayaanku
telah kusedekahkan semuanya untuk Allah Taala.
Kata Sariyus Saqthy :
Aku menoleh kebelakang tahu-tahu Ibnul Muthanna sedang menagis
dibelakangku dengan sekuat-kuatnya, lalu aku bertanya kepadanya Apakah
yang tuan tangiskan itu? Jawabnya : Kalau begini kejadiannya itulah
suatu tanda bahwa Allah tiada ridha kepadaku. Bukanlah begitu kataku
pahala telah dicatat karena niat tuan yang baik itu, sedang niat itu
adalah lebih baik dari pada amalnya.
Kemudian berkatalah Ibnul
Muthanna Hai Sariyus Saqthy, uang itu telah saya keluarkan untuk Allah
Azza wa Jalla, maka tak boleh dikembalikan lagi. Jadi uang itu dan sisa
uang saya yang ada, kesemuanya itu telah saya sedekahkan, begitu juga
segala budak sahaya yang ada pada saya, telah saya merdekakan semuanya
karena Allah Taala.
Kini saya kembali kepada Allah dan bertaubat dari
dosa saya. Tiba-tiba Tuhfah tegak berdiri dan mengganti pakaiannya
dengan pakaian yang terbuat dari bulu serta pergilah ia bersama-sama
kami, seraya bersyair katanya :
Wahai kesenangan hati, Engkaulah
pujaan hati dan kesenangan ku,
Engkau adalah harapan dan tujuanku
Cahaya dari segala cahaya
Beberapa banyak kulihat pencinta
bersabar diri karena cinta dan
berapa lama cinta berdiam
bersinggasana dalam dada.
Kemudian
itu ia menjerit dan mengeluh katanya : Wahai alangkah lamanya kesedihan
ini. Setelah itu, berpisahlah kami dan Thuhfah pergi seraya syairnya :
Aku menangis karena Nya
dan aku lari daripada Nya kepada Nya
demi hak Nya harapan itu
tak'kan kutinggalkan selamanya
hingga tercapai olehku
cita-cita yang kupinta daripada Nya.
Berkata
Sariyus Saqthy: Sejak itulah ia meninggalkan kami. Pada suatu tahun
pergilah aku beserta tuannya (pemilik Thuhfah) menunaikan ibadah haji ke
Mekkah, ketika kami sedang mengerjakan tawaf dengan beberapa jamaah,
terdengarlah olehku suara duka dari seorang wanita yang memanggilku
dengan suara yang sangat nyaring. Setelah wanita itu melihat kami, ia
bersyair :
Bercinta Allah di alam dunia
senantiasa menderita dan ber sakit-sakit
ia tak putus-putus dengan penyakit
yang dari itu juga sakit sembuhnya
ia rindu karena cintanya
nan tak mengharapkan kasih lainnya
demikianlah tiap pencinta
mengeluh merintih hingga berjumpa.
Kemudian ia jatuh pingsan. Setelah siuman ia bersyair lagi katanya
Aku kan mati, namun cintaku
tetap tak kan berobah Jiwakupun tak kan merasa puas
selamanya oleh rasa cinta kepada Mu.
Wahai harapan dari segala harapan
hanya engkaulah harapanku
tempat kerinduan dan rahasiaku
bukanlah engkau penunjuk jalan
bagi yang sesat dalam perjalanan
penolong bagi mereka yang jatuh ke jurang.
Aku
maju mendekati wanita itu, kata Sariyus Saqthy, kuketahui ia Thuhfah.
Aku bertanya kepadanya : Apakah pepmberian Allah kepadamu, setelah
engkau putuskan hubunganmu dengan makhluk?
Ia menjawab : Dia menjadikan aku didekatnya dan menghindarkan aku dari gangguan makhluk Nya.
Kemudian kataku lagi kepadanya :
Thuhfah,
Achmad Ibnul Muthanna telah meninggal. Maka jawabnya L Semoga Allah
mengasihani dan mengampuninya. kuharapkan dari pada Allah segala
kebaikan dan kenikmatan untuknya dan semoga Allah membalasnya dari uang
yang ia nafkahkan dijalan Allah itu dengan tujuh ratus kali lipat,
bahkan lebih daripada itu.
Kemudian itu ia berdoa: Wahai Tuhan
dan penghuluku, aku mohon kepadaMu dengan cahaya wajahMu yang telah
menerangi segala kegelapan dan menjadi baik karenanya segala urusan
dunia dan akherat,agar supaya engkau mencabut rohku kembali kepadaMu.
Sampai bilakah aku mesti tinggal di dunia dengan penuh derita ini? Ilahi
cukup lama aku merindui Mu, maka segerakanlah oleh Mu rohku Engkau
panggil kembali, Wahai Tuhan yang lebih kasih dari segala pengasih,
Tuhan yang memperkenankan doa orang yang sedang dalam kesempitan.
Kemudian itu ia menghadap kiblat dan membca dua kalimat syahadat lalu meninggallah ia menemui Tuhannya.
Maha suci Allah yang hidup yang tiada mati.