Ahad, Jun 23

WASIAT INDAH IMAM ASY SYAZALI


Al-Qutub ar-Rabbani al-'Arif al-Wali al-Imam al-Muhaqqiq Sayyid Abul Hasan Ali asy-Syazuli al-Hasani (593H-656H) radhiyallahu 'anhu, pengasas Tariqat Syazuliyyah berkata:
1) Tasawuf itu ialah melatih jiwa di atas dasar perhambaan serta mengembalikannya (supaya tunduk) kepada hukum-hakam Ketuhanan.

2) Jika anda melihat seseorang meninggi diri dengan ilmunya, maka jangan merasa aman dengan kejahilannya.

3) Jika anda melihat seseorang mendakwa selain daripada apa yang diucapkan oleh Nabi sallallahu 'alaihi wa alihi wasallam, maka orang itu ialah pembuat bida'ah.

4) Jika seorang sufi itu tidak melazimi sembahyang lima waktu secara berjemaah, maka jangan pedulikan dia.
5) Ada satu perkara yang boleh menghapuskan amalan. Kebanyakan orang tidak menyedari perkara ini. Perkara itu ialah marah terhadap ketentuan Allah Ta'ala. Allah 'Azza wa Jalla berfirman, mafhumnya:

Itu adalah disebabkan mereka benci terhadap apa yang telah diturunkan oleh Allah, lantas Dia menghapuskan amalan mereka. [Surah Muhammad: 9]
 6) Ilmu itu tidak bermanfaat jika disertai empat perkara (iaitu):

- Cintakan dunia,

- Lupakan akhirat,

- Takutkan kefakiran,

- Takutkan manusia.
7) Jangan berterusan melakukan maksiat kerana orang yang melanggar batas-batas (yang telah ditetapkan oleh) Allah Ta'ala ialah orang yang zalim. Orang yang zalim tidak berhak menjadi pemimpin.

8) Siapa yang meninggalkan maksiat, bersabar dengan ujian Allah Ta'ala serta yakin dengan janji-janji Allah, maka dia adalah pemimpin yang sebenar walaupun pengikutnya sedikit.

9) Jangan anda bersahabat kecuali dengan orang yang memiliki empat sifat (iaitu):
- Pemurah ketika miskin,

- Memaafkan kezaliman orang lain (terhadap dirinya),

- Bersabar di atas bencana,

- Redha terhadap ketentuan Allah Ta'ala (baik atau buruk).
10) Jika anda ingin memperolehi khusyuk (dalam ibadah), maka tinggalkan pandangan yang berlebihan. Jika anda ingin mendapat hikmah, maka tinggalkan ucapan secara berlebih-lebihan.

11) Jika anda ingin mengecapi kemanisan ibadah, maka tinggalkan makan secara berlebih-lebihan. Anda mestilah berpuasa, berqiyamullail dan bertahajud. Jika anda ingin dipandang hebat, maka tinggalkan gurauan dan ketawa (secara berlebihan) kerana kedua-duanya menjatuhkan kehebatan anda (pada pandangan manusia). Jika anda ingin disayangi (oleh orang ramai), maka tinggalkan keinginan (yang melampau) terhadap dunia.

 12) Jika anda ingin memperbaiki keburukan diri sendiri, jangan mencari-cari keburukan orang lain kerana perbuatan ini adalah sebahagian daripada cabang nifaq sebagaimana berbaik sangka (terhadap orang lain itu) adalah sebahagian daripada cabang iman.

WASIAT INDAH IMAM JAAFAR ASH SHADIQ


Menyimak nasihat dari para kekasih Allah SWT kemudian merenungkan dan berusaha mengamalkannya adalah menjadi tekad kita semua dalam rangka mensucikan qalbu dan diri kita. Nah, dalam tulisan kali ini, kami sajikan ajaran Imam Ja’far Ash-Shadiq ra. seorang ulama akhlaq yang merupakan salah satu keturunan Rasulullah SAW yang terkenal berakhlak mulia, faqih dalam Al-Quran, Hadits dan wawasan keislaman di zamannya.

‘Ubudiyyah (penghambaan)adalah jauhar (esensi), sedangkan hakikat batiniyyahnya adalahRubbubiyyah (ketuhanan). Apa pun yang tidak terdapat dalam ‘ubudiyyah ada pada rubbubiyah, dan apa pun yang terselubung dari rubbubiyah  dapat dilihat dalam ‘ubudiyyah.

Sebagaimana Allah SWT berfirman:

“Akan Kami perlihatkan kepada mereka  tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segenap ufuk dan pada diri mereka sendiri, sehingga jelaslah bagi mereka bahwa Dia itu adalah Al-Haqq. Dan apakah Tuhanmu tidak cukup (bagi kamu) bahwa sesungguhnya Dia menyaksikan segala sesuatu?” (QS. Fushshilat [41]:53)

Hal itu berarti bahwa Dia itu ada, baik ketika kamu hadir maupun tidak.

‘Ubudiyyah (penghambaan) berarti membebaskan diri dari segala sesuatu (selain Allah), dan jalan untuk mencapai ini adalah dengan menjauhkan diri dari apa yang kita hasratkan dan menanggung apa tidak kita sukai. Kunci dari itu semua adalah mengurangi tidur (terjaga terutama pada sepertiga malam terakhir – pen), uzlah dan mengikuti jalan untuk mengenali kebutuhan terhadap Allah. Nabi saw bersabda: “Mengabdilah kepada Allah seolah-olah Nya kamu melihat-Nya. Bahkan jika kamu tidak melihat-Nya, maka Dia pasti menyaksikanmu.”

Huruf Hijaiyyah dari kata ‘hamba’ (‘abdu) ada tiga, yaitu ‘ayn, ba’ dan dal. ‘Ayn adalah ‘ilm (ilmu) seseorang mengenai Allah. Ba’ adalah bawn (jarak seseorang dari yang selain Dia). Dal adalahdunuw (kedekatan seseorang dengan-Nya tanpa ada hijab).

Sedang prinsip-prinsip  perilaku itu memiliki empat aspek, yaitu:
perilaku terhadap Allah SWT
  • perilaku terhadap diri sendiri
  • perilaku terhadap orang dan makhluk lain
  • perilaku terhadap dunia

KALAM NAN HIKMAH BAHAGIAN I (SATU)



Indahnya Wajah dan Bagusnya Akhlak

Al-Hasan al-Bashri rahimahullah berkata:"Hendaklah bagi para pemilik wajah yang rupawan untuk tidak memperburuknya dengan perilakunya yang buruk, dan hendaknya bagi yang memiliki wajah yang buruk untuk tidak menggabungkan dua keburukan dalam dirinya (keburukan rupa dan perilaku)." (Al-Adab asy-Syar'iyyah: 3/125)

Wasiat pembawa keselamatan

Hakim berkata kepada anaknya:Wahai anakku, aku akan berwasiat kepadamu dengan beberapa hal, jagalah wasiat-wasiat tersebut niscaya engkau selamat; jangan engkau bergabung dnegan pencemburu buta, jangan tingga dengan pendengki, jangan bertetangga dengan orang bodoh, jangan bersaudara dengan orang yang riya dan jangan bersahabat dengan orang yang pelit." (Nashaaih al-Imaniyah) 

Kesalahan dalam ijtihad

Imam adz-Dzahabi rahimahullah berkata:”Jika salah seorang imam keliru dalam berijitihad, maka tidak sepantasnya kita melupakan kebaikan-kebaikannya dan menutup ilmu pengetahuannya, akan tetapi ita memintakan ampun untuknya dan memaafkannya.” (Siyar A’laamin Nubala 18/157)

Tanda Berpalingnya Allah Ta’ala dari Hamba

Al-Hasan pernah berkata, “Diantara tanda berpalingnya Allah Ta’ala dari seorang hamba adalah Dia menjadikan kesibukan (hamba tersebut) dalam perkara-perkara yang tidak bermanfaat baginya.”
Jangan Mencela dan Mengajak Debat Kepada Temanmu

“Apabila engkau mencintai saudaramu (temanmu) karena Allah, maka janganlah engkau mencelanya, janganlah engkau mengajaknya debat, jangan pula engkau menanyakan tentangnya kepada seseorang karena bisa jadi dia akan mengkhabarkan kepadamu sesuatu yang tidak ada pada diri temanmu tersebut, maka akan ada penghalang antara dirimu dengan dirinya.” (Mu’adz bin Jabal radhiallahu ‘anhu)
Bahaya Menyia-Nyiakan Waktu

Ibnul Qoyyim rahimahullah berkata, “Menyia-nyiakan waktu adalah lebih berbahaya dari kematian, karena menyia-nyiakan waktu memutuskanmu dari Allah dan hari Akhirat, sedangkan kematian hanya memutuskanmu dari Dunia dan penghuninya.”

Bid’ah Pertama Setelah Wafatnya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam

‘Aisyah radhiallahu ‘anha berkata, “Bid’ah pertama yang terjadi setelah wafatnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah: bid’ah kenyang, sesungguhnya suatu kaum ketika perut-perut mereka telah kekenyangan maka hati-hati mereka menjadi tunduk dan condong kepada Dunia.”

Berbanggalah dengan Mendiamkan Lisan

Luqman berkata kepada anaknya, “Wahai anakku apabila manusia berbangga dengan ucapan-ucapan mereka, maka berbanggalah engkau dengan berdiam diri (membiarkan lisan tidak berbicara kecuali kebaikan), lisan berkata setiap pagi dan petang kepada anggota tubuh lainnya: Bagaimana keadaan kalian? Maka mereka menjawab, “kami senantiasa dalam kebaikan jika engkau meninggalkan kami”.

Hasad, tidak sabar dan buruknya akhlak

‘Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu berkata, “Tidak ada ketentraman bagi orang yang suka hasad (pendengki), tidak ada persahabatan bagi orang yang kurang penyabar (cepat bosan), dan tidaklah ada orang yang senang kepada orang yang buruk akhlaknya.”

Hasad adalah Dosa Pertama di Lagit dan Bumi

Sebagian Ulama Salaf rahiamhumullah berkata, “ Hasad adalah dosa pertama yang dengannya Allah Ta’ala dimaksiati di Langit, yaitu hasadnya Iblis kepada Nabi Adam ‘alaihis salam, dan hasad adalah juga dosa pertama yang dengannya Allah Ta’ala dimaksiati di Bumi, yaitu hasadnya anak Adam kepada saudaranya sehingga ia membunuhnya.”

Memuliakan Ulama dan Umara

Sahl bin 'Abdillah at-Tasturi rahimahullah Ta'ala berkata:"Manusia senantiasa dalam keadaan baik selama memuliakan pemimpin dan 'Ulama. Maka jika mereka memuliakan keduanya niscaya Allah akan memperbaiki dunia dan Akhirat mereka dan jika mereka meremehkan keduanya, maka mereka telah merusak dunia dan Akhirat mereka." (Tafsir al-Qurthubi)

Jauhilah Menunda-Nunda Amal Perbuatan

Al-Hasan rahimahullah berkata, “jauhilah oleh kalian menunda-nunda (amal perbuatan), karena sesungguhnya engkau adalah dengan harimu (hari dimana engkau menemuinya), dan bukan dengan hari besokmu; dan jika engkau berada pada hari esokmu maka jadikanlah hari itu sebagaimana hari dimana engkau berada, sehingga jika engkau tidak menemui hari esok engkau tidaklah menyesal dari apa yang lewatkan di hari itu.”

Ijtihad Pelaku Bid’ah

Ayyub As-Sakhtiyani rahimahullah berkata : “Tidaklah seorang pelaku bid’ah itu semakin menambah ijtihadnya atau kesungguhannya dalam (kebid’ahannya) melainkan hal itu akan semakin menjauhkan dirinya dari Allah ‘Azza wa Jalla”. [Talbis Iblis, karya Ibnul Jauzi rahimahullah, hal: 22]
Kalian Penghilang Kesedihanku

Syu'bah radhiyallahu 'anhu berkata:"Suatu hari Ibnu Mas'ud radhiyallahu 'anhu keluar menemui shahabat-shahabatnya, lalu berkata:'kalian adalah penghilang kesedihanku.'" (Al-Ikhwan, Ibnu Abi Dunya)

Bersalaman

Al-Hasan al-Bashri rahimahullah berkata:"Saling bersalaman (dengan seama jenis) menambahkan rasa cinta." (Al-Muntaqa min Kitabi Makarimil Akhlaq)

Mayat Hidup

Hudzaifah ibnul Yaman radhiallahu ‘anhu ketika ditanya tentang mayat yang hidup, beliau berkata, “Yaitu orang yang tidak mengingkari kemungkaran yang ada dihadapannya dengan tangannya, tidak pula dengan lisannya, dan tidak juga dengan hatinya.”

Rasa takut yang membawa kepada kebaikan

Fudhail bin Iyadh rahimahullah berkata, “Barang siapa yang takut kepada Allah Ta’ala niscaya rasa takut tersebut akan menuntunnya kepada setiap kebaikan.”

Wasiat Ibnu 'Abbas

'Utsman bin Hadir rahimahullah berkata:"Aku menemui Ibnu 'Abbas radhiyallahu 'anhuma, lalu kau berkata:"Berilah aku wasiat." Maka beliau berkata:"Ya, hendaklah engkau bertakwa kepada Allah dan beristiqomahlah. Ikutilah sunnah (Itiba') dan janganlah membuat bid'ah." (Riwayat Imam ad-Darimi rahimahullah) 

Berbicara adalah Ibarat Obat

‘Amr bin al-‘Ash radhiallahu ‘anhu berkata, “Berbicara adalah ibarat obat, jika engkau menyedikitkannya (menggunakan sesuai dosisnya) maka ia akan memberikan manfaat, dan jika engkau memperbanyak darinya (melebihi dosis) maka ia mematikan.”

Meraih Derajat Surga Tertinggi dengan Berakhlak Mulia

Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu berkata, “Sesungguhnya seorang hamba dapat mencapai derajat tertinggi di dalam surga dengan berakhlak mulia walaupun dia bukan seorang ahli ibadah, dan seorang hamba akan mendapatkan tempat terendah di neraka jahannam akibat akhlak buruknya walaupun dia seorang ahli ibadah.”

Perbedaan antara Yakin dan Tawakkal

Ditanyakan kepada sebagian ahli hikmah, ‘Apa perbedaan antara yakin dan tawakkal…?’ mereka menjawab, “Adapun yakin adalah engkau membenarkan Allah Ta’ala tentang perkara-perkara yang menyebabkan teraihnya Akhirat, sedangkan Tawakkal adalah engkau membenarkan Allah Ta’ala tentang perkara-perkara yang menyebabkan teraihnya dunia.”
Pentingnya Memiliki Akhlak Mulia

Fudhail Ibn ‘Iyadh rahimahullah berkata, “Sungguh seorang fajir (pelaku maksiat) yang berakhlak mulia menemaniku lebih aku sukai dari pada seorang ‘abid (pelaku ibadah) yang buruk akhlaknya menemaniku..”

Perbedaan antara Dermawan dan Bakhil

Sebagian Ulama Salaf berkata, “Orang yang dermawan itu dekat dengan Allah Ta’ala, dekat dengan manusia dan jauh dari neraka; dan orang yang bakhil itu jauh dari Allah Ta’ala, jauh dari manusia dan dekat dengan neraka”.

Bahaya Meninggalkan Amar Ma’ruf dan Nahi Mungkar

“Abu Darda’ radhiallahu ‘anhu berkata, “Menyerulah kalian kepada yang ma’ruf dan cegahlah oleh kalian perbuatan mungkar, atau Allah akan menjadikan pemimpin bagi kalian seorang pemimpin yang zhalim; tidak dimuliakan orang-orang tua diantara kalian dan tidak disayangi anak-anak kecil (yang lebih muda) diantara kalian; orang-orang baik (shalih) diantara kalian berdoa kepadaNya akan tetapi tidak diijabahi; kalian meminta pertolongan maka kalian tidak ditolong; dan kalian meminta ampunan maka tidaklah diampuni.”

Alqur’an Menunjuki kalian Penyakit dan Obatnya

Qotadah rahimahulah berkata, “Al-Qur’an menunjukkan kepada kalian atas penyakit kalian dan obatnya; adapun penyakit kalian adalah dosa-dosa sedangkan obatnya adalah istighfar”.

Buah ilmu dan Buah Kejahilan

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Seluruh apa-apa yang tersebut dalam al-Qur’an berupa pujian kepada seorang hamba hal itu adalah buah dari ilmu, dan seluruh apa-apa yang tersebut dalam al-Qur’an berupa celaan kepada seorang hamba itu adalah buah dari kejahilan (kebodohan)”.

Menghadap Allah dengan Menghadirkan Hati

Haram bin Hayyan rahimahullah berkata, “Tidaklah seorang hamba menghadap Allah Ta’ala dengan menghadirkan hatinya, kecuali Allah ‘Azza wa Jalla akan menghadapkan kepadanya hati kaum mukminin hingga Allah memberikan kecintaan mereka kepadanya”
Menasehati dengan cara tersembunyi

Dahulu para salaf apabila ingin menasehati seseorang maka mereka akan menasehatinya secara sembunyi-sembunyi, sampai sebagian mereka berkata: "Barangsiapa yang menasehati saudaranya antara dirinya dengan saudaranya (secara pribadi) maka dia telah memberi nasehat, dan barangsiapa yang menasehatiinya di hadapan orang banyak maka dia hanyalah ingin mencelanya."(Al-'Arba'uuna Haditsan fii al-Akhlaq hal 109)

Cinta Butuh Bukti
Rabi' bin Anas mengatakan sebuah ungkapan dari sebagian sahabatnya, “Tanda cinta kepada Allah adalah banyak berdzikir/mengingat kepada-Nya, karena sesungguhnya tidaklah kamu mencintai apa saja kecuali kamu pasti akan banyak-banyak menyebutnya.” (Jami' al-'Ulum wa al-Hikam, hal. 559).
Lidah

Fudhail rahimahullah berkata: "Tidak ada organ tubuh yang paling dicintai oleh Allah dibandingkan lidah apabila dia jujur, dan tidak ada organ yang paling dibenci oleh Allah dibandingkan lidah apabila dia pendusta."

Meluruskan Niat

Al-Hasan rahimahullah mengatakan, “Mudah-mudahan Allah Ta’ala merahmati seorang hamba berhenti dari keinginannya, jika keinginan tersebut dalam rangka untuk Allah maka ia melakukannya, dan jika hal tersebut dalam rangka untuk selain Allah maka ia menundanya (meninggalkannya)”.

Manusia Diciptakan Memiliki Aqal dan Syahwat

Sebagian Ulama salaf mengatakan, “Allah Ta’ala menciptakan malaikat dan memberinya akal tanpa syahwat, menciptakan hewan dan memberinya syahwat tanpa akal, dan Allah menciptakan anak Adam dan memberinya akal dan syahwat, maka barangsiapa sisi akal sehatnya mendominasi syahwatnya maka ia menyerupai malaikat, dan barang siapa yang syahwatnya lebih dominan dari pada sisi akal sehatnya maka ia menyerupai hewan.” 

Ghibah

Dikatakan kepada al-Hasan al-Bashri rahimahullah: "Sesungguhnya Fulan telah mengghibahmu (menggunjing)." Maka beliaupun memberikan hadiah kepada yang menggunjing beliau semangkuk ruthab (kurma segar), kemudian laki-laki itu datang dan berkata kepada beliau: 'Aku telah menggunjingmu, tapi engkau malah memberi hadiah kepadaku?' Maka al-Hasan berkata: 'Engkau telah menghadiahiku, maka aku ingin membalasnya.'"(Al-'Arba'uuna Haditsan fii al-Akhlaq hal 137-138)

27 NASIHAT DALAM KITAB TAURAT

Wahab Bin Munahib RA berkata : 


Di dalam kitab Taurat terdapat 27 nasehat:

1. "Barangsiapa mau memperbanyak bekal di dunia (untuk perjalanan menuju akhirat dengan ketaqwaan) maka kelak di hari qiamat ia akan menjadi kekasih Allah SWT."

2. "Barangsiapa mau menahan amarahnya maka ia akan di tempatkan disisi Allah SWT."
Sebagaimana sabda Rasulullah SAW :

"Barangsiapa mampu menahan amarahnya maka Allah SWT akan melindunginya dari siksaan."
3. "Barangsiapa tidak mencintai kesenangan hidup di dunia maka kelak di hari Qiamat akan selamat dari siksa Allah SWT."

4. "Barangsiapa meninggalkan sifat hasud maka kelak di hari Qiamat ia akan dipuji oleh para makhluk."

5. "Barangsiapa meninggalkan rasa cinta menjadi penguasa (mencintai kedudukan) maka kelak di hari Qiamat akan dimuliakan disisi Dzat yang merajai lagi Maha Perkasa."

6. "Barangsiapa meninggalkan kebiasaan berlebih-lebihan maka ia akan mendapat keluasan rizki bersama orang-orang yang baik."

7. "Barangsiapa meninggalkan sifat bakhil maka kelak ia akan disebut namanya didepan para malaikat."

8. "Barangsiapa di dunia meninggalkan bersantai=-santai maka kelak di hari Qiamat akan mendapatkan kebahagiaan di surga."

9. "Barangsiapa meniggalkan hal-hal yang diharamkan maka kelak di hari Qiamat dijadikan tetangga para Nabi AS."

10. "Barangsiapa di dunia meninggalkan penglihatan dalam hal-hal yang diharamkan maka kelak di hari Qiamat Allah SWT akan membahagiakanmatanya di surga."

11. "Barangsiapa di dunia meninggalkan hidup kaya dan memilih hidup faqir maka di hari Qiamat Allah SWT akan membangunkannya bersamaan dengan para Wali dan para Nabi."

12. "Barangsiapa di dunia mau membantu memenuhi kebutuhan manusia, niscaya Allah SWT akan mencukupi segala kebutuhannya di dunia dan di akhirat."

13. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW :
"Barangsiapa mau mencukupi kebutuhan saudaranya yang muslim maka ia mendapatkan pahala sebagaimana pahalanya orang yang baru haji dan umrah."

14. "Barangsiapa mau mencukupi kebutuhan saudaranya yang muslim maka ia mendapatkan
pahala sebagaimana pahalanya orang yang baru beribadah kepada Allah SWT seumur hidup."

15. "Barangsiapa mengharapkan ketenangan di alam kubur maka hendaknya ia bangun di waktu malam kemudian mengerjakan shalat sunnah meskipun kiranya satu rakaat."

16. "Barangsiapa mengharapkan tempat di bawah naungan Arsy-Nya Dzat yang Maha Penyayang maka berlakulah hidup zuhud (hatinya berpaling dari nikmat duniawi)."

17. "Barangsiapa mengharapkan hisabnya diperingan maka lebih baik ia mau menasehati dirinya dan saudaranya."

18 "Barangsiapa mengharapkan para malaikat mau menziarahinya maka lebih baik ia memiliki sifat wara'."

19. "Barangsiapa mengharapkan dirinya berada di tengah-tengah surga maka lebih baik berdzikir kepada Allah SWT di waktu malam dan siang hari."

20. "Barangsiapa mengharapkan masuk surga dengan tanpa hisab maka lebih baik bertaubatlah kepada Allah SWT dengan taubat yang sebenar-benarnya (nasuha)."

21. ""Barangsiapa mengharapkan kekayaan maka lebih baik ia ridla terhadap sesuatu yang telah diberikan oleh Allah SWT kepadanya dan orang lain baik berupa harta, jabatan dan lain sebagainya."

22. "Barangsiapa mengharapkan menjadi orang yang ahli ilmu fiqh (agama) maka lebih baik ia senantiasa bersikap khusu' dalam menghadapi masalah agama (orang yang mau mengikuti dan mau menerima kebenaran yang diucapkan oleh siapapun)."

23. "Barangsiapa mengharapkan menjadi orang ahli hikmah maka lebih baik ia terlebih dahulu menjadi orang yang berilmu."

"Barangsiapa mengharapkan keselamatan dari kejelekan orang lain maka janganlah menyebut salah satu dari mereka kecuali dengan kebaikan dan lebih baik berfikirlah tentang dirimu sendiri darimana dirimu dibuat dan untuk apa dirimu diciptakan."

24. "Barangsiapa mengharapkan derajat luhur di dunia dan akhirat maka lebih baik pilihlah urusan akhirat dengan meninggalkan urusan dunia (dengan gambaran keseluruhan waktu dipergunakan untuk menjalankan ibadah)."

"Barangsiapa mengharapkan surga Firdaus dan kenikmatannya yang tidak pernah rusak (abadi) maka janganlah kau sia-siakan umur dengan melakukan kemaksiatan."

25. "Barangsiapa mengharapkan surga dunia dan akhirat maka berbaik hatilah dengan suka memberi, sesungguhnya suka memberi dapat mendekatkan dirimu ke surga dan menjauhkanmu dari neraka."

26. "Barangsiapa mengharapkan hatinya tersinari oleh cahaya yang sempurna maka sebaiknya ia sering bertafakur dalam sifat keagungan Allah SWT dan mengambil hikmah dari kematian."

27. "Barangsiapa mengharapkan untuk memiliki badan yang sabar. lisan yang selalu berdzikir, dan hati yang khusu' maka sebaiknya ia memperbanyak memohon ampunan kepada Allah SWT untuk orang islam."
 

Sabtu, Mei 25

Andai Kelalaian Itu Melalaikan…




Andai Kelalaian Itu Melalaikan…

Keliru

Manusia sering keliru. Mereka hidup seolah-olah sedang mencari yang pasti dari selain Allah s.w.t.. Padahal, apa yang dicari itu, kalaupun memang sesuatu yang pasti, tetapi hanya pasti akan berpisah dengannya suatu hari nanti. Kehilangan itu bermula pada sebuah kehendak untuk mengekalkan apa yang tidak akan kekal sehingga mengabaikan yang Maha Kekal.

Ada orang merasa puas kerana sekurang-kurangnya dia tidak macam orang lain. Kalau dia ingin berpuas hati dengan tahap dirinya, maka memadai dia mencari orang yang berada di bawah tahapnya.

Sebab itulah, ada insan yang lalai masih boleh berkata: “Walaupun saya buat maksiat, tetapi saya juga solat. Ada orang langsung tak solat.” Agamanya adalah pada ukuran orang lain.

Ada juga orang yang terkeliru dengan apa yang dicari, kemudian menganggap sekelilingnya sebagai yang keliru ketika berinteraksi dengannya. Ada orang yang tidak sanggup untuk berubah, lalu mengharapkan orang lain pun tidak berubah sepertinya. Kalau ada orang yang berubah, dia akan mengatakan: “alah, semalam orang itu lebih buruk dari saya.” Adakah keburukan manusia semalam itu adalah cerminan hari ini-nya atau masa depannya, sedangkan yang lalai tidak pun mula melangkah menuju sebarang perubahan. Jutaan keburukan semalam bisa Allah s.w.t. langsaikan sekelip mata dengan keampunan, bagaimana itu tidak menjadi motivasi untuk kembali kepada Tuhan? Akhirnya, bukan hidup kita sebagai Tuhan untuk menilai agama orang lain, tetapi tidak melakukan apa-apa untuk agama sendiri.

Jangan jadikan kebaikan kita adalah pada kejahatan orang lain. Memang mudah melakukan kebaikan dengan mengukur keburukan orang lain sebagai definisi kebaikan. Seorang yang tidur walaupun tidak buat apa-apa kebaikan tetapi lebih baik daripada seorang yang mencuri. Tapi, takkan itu alasan untuk terus tidur tanpa melakukan tugas kehambaan?

Hidup Kita adalah Tentang Kita

Hidup kita adalah tentang kita. Bahkan, hubungan kita kepada orang lain dan dengan orang lain adalah tentang kita, iaitu tentang kita menjadi hamba Allah s.w.t melalui mereka semua. Bukan tugas kita memasukkan sesiapa ke neraka dan tidak pula kita layak memasukkan sesiapa ke dalam syurga. Tetapi, kita diamanahkan untuk menguruskan hidup kita sebagaimana yang Allah s.w.t. kehendaki.

Sekeliling kita adalah cara menyempurnakan diri kita, bukan sebab untuk merasa diri sempurna. Beza antara menyempurnakan diri kita (takmil) dengan merasa diri sempurna (kamal) adalah, asas menyempurnakan diri adalah kita merasa diri kita serba kekurangan dan perlu melakukan pembaikian diri dan terus menyempurnakan kekurangan diri dan tidak pernah berhenti menyempurnakannya. Ini kerana, tidak ada kesempurnaan yang tidak boleh disempurnakan lagi dalam diri seseorang insan.

Adapun orang yang menjadikan persekitaran sebagai sebab untuk merasa diri sempurna, maka dia akan membandingkan dengan mereka yang lebih buruk daripada dirinya, atau mencari kesalahan setiap manusia, lalu tidak melakukan apa-apa kerana merasakan dirinya sudah sempurna dan lebih banyak masa untuk menilai keburukan orang lain dan menghukum sekeliling. Memang semua orang ada kesalahan, sebagaimana semua orang ada kebaikan.

Mengapa buang masa dengan keburukan orang untuk tidak melakukan perubahan diri, sedangkan boleh menjadikan kebaikan orang sebagai contoh ikutan untuk memperbaiki diri? Katanya, hidup di dunia cuma sekali. Adakah sekadar untuk tidak melakukan apa-apa, merasa puas dengan diri sendiri, mengejar kepuasan diri dan menilai manusia di sekeliling, lalu akhirnya mati?

Pandangan dan Persepsi

Semua orang berhak memberi pandangan. Tetapi, bukan semua perkara akan mengikut persepsi yang kita inginkan. Hakikat itu wujud sebelum kita diciptakan. Hakikat kita adalah makhluk yang diadakan daripada tiada tidak akan berubah setelah kita ada. Hakikat kita adalah milik Tuhan yang menciptakan kita tidak pernah berubah sekalipun kita rasa memiliki segala-gala yang kita inginkan. Adakah kita yang tidak pernah menciptakan apa-apa dalam kehidupan kita, layak memiliki apa yang diberi oleh Tuhan dalam kehidupan kita, tetapi kita tidak merasakan kelayakan Allah s.w.t untuk memiliki kita, sedangkan kita ini diciptakan oleh-Nya?

Kita boleh memilih untuk tidak mahu melihat Allah s.w.t. dalam kehidupan. Tetapi, dengan tidak mahu melihat Allah s.w.t., tidak menyebabkan Allah s.w.t tidak melihat kita, dalam kehidupan kita. Kita sangka kita lakukan apa yang betul, tetapi apa yang betul tidak pernah mengikut apa yang kita sangka. Kalau kita yang lalai menyangka, bahawa kelalaian itu adalah kefahaman terhadap kehidupan, mengapa kelalaian itu akhirnya terhenti dengan kematian? Apa gunanya kita faham “kehidupan” tanpa memahami kematian? Kehidupan duniawi semakin menjauhi kita sedang kematianlah yang semakin menghampiri kita. Apabila orang kata: “kubur masing-masing”, maka jawapannya: “maka sebab itulah nasihat ini diberikan wahai teman”. Jangan kelalaian semalam menjadi sebab untuk kelalaian esok.

Pujian dan Celaan

Ketika Saidina Ali r.a. dipuji lalu beliau mengucapkan: “Segala puji hanya bagi Allah s.w.t. dalam kebaikan yang disebutkan oleh mereka dan semoga Allah s.w.t. mengampuni keburukanku yang mereka tidak ketahui.”

Ini adalah ungkapan seseorang yang hidupnya adalah kerana Allah s.w.t.. Selagimana yang sudi memandang adalah Allah s.w.t., itu sudah memadai bahkan itulah segala-galanya. Sebagaimana pujian manusia adalah pinjaman, begitu jugalah celaan, hanyalah ujian.

Suatu ketika, seorang lelaki menjerit memanggil Imam Hasan Al-Bashri r.a. dengan menyebut: “Wahai orang yang menunjuk-nunjuk…”. Hasan Al-Bashri r.a. terus datang kepadanya lalu mencium tangannya lalu mengucapkan: “Terima kasih kepada orang yang telah menunjukkan keaibanku lalu aku dapat membaikinya.

Jadi, hidup ini, lakukanlah perubahan kerana Allah s.w.t., kerana Dialah yang kita cari dalam kehidupan. Lakukan apa sahaja untuk diri kita, namun jika tanpa bantuan Allah s.w.t., tiada apa yang dapat diperolehi. Jika telah mendapat pandangan redha Allah s.w.t., apa sahaja yang dilakukan adalah kehampiran kepada-Nya.

Jangan takut melakukan kebaikan kerana celaan sebagaimana jangan melakukannya kerana pujian. Jika ada manusia yang memujimu, itu menunjukkan adanya juga manusia yang mencelamu. Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam sebagai manusia paling agung dan mulia, yang tiada ruang kelemahan dan kecelaan pun, tidak terlepas dari celaan manusia. Memadai bagi Baginda shollallahu ‘alaihi wasallam, Allah s.w.t. meredhai Baginda shollallahu ‘alaihi wasallam dan mencintai Baginda shollallahu ‘alaihi wasallam.

Sebagaimana seseorang tidak hidup dengan pujian manusia, dia juga tidak akan mati dengan cacian mereka, sebagaimana disebutkan oleh Yasin Sulaiman. Sebagaimana orang-orang yang memuji kita pun akan mati, begitu juga orang-orang yang mencela kita juga akan mati, bahkan kita juga sendiri akan mati. Akhirnya, masing-masing mempunyai perjalanan kehidupan akhirat yang tersendiri. Maka, fokus kepada satu pandangan, iaitulah pandangan Allah s.w.t., maka kita akan tahu apa yang perlu kita lakukan dalam kehidupan.

Hari Ini Bukan Semalam dan Bukan Esok

Kita hidup adalah untuk melakukan yang terbaik hari ini dan sekarang. Jutaan semalam telah berlalu. Jika ada kebaikan, maka ia adalah daripada Allah s.w.t. dan syukurilah. Jika ada keburukan, maka ia adalah untuk ditaubati. Tapi hari ini, dan sekarang, adalah apa yang kita perlu lakukan. Jangan tangguh apa yang boleh dan perlu kita lakukan sekarang, untuk hari esok, kerana ia belum pasti. Kita adalah makhluk baru setiap saat.

Segala perubahan, pemurnian dan taubat, perlu dilakukan sekarang. Jangan tambah semalam yang kelam untuk membinasakan masa depan yang diharapkan sebagai rumah kebahagiaan. Mati itu hadir bila-bila masa sahaja. Walaupun semalam, kematian tidak hadir kepada kita, tetapi ia hadir kepada orang lain. Itu membuktikan tiada yang terlepas daripada kematian. Pelajarilah apa yang perlu dalam kehidupan daripada pesekitaran untuk penyempurnaan diri. Carilah yang pasti dan jangan fantasikan realiti demi merealitikan fantasi. Sebab, di luar akal dan minda kita, yang wujud hanyalah hakiki dan realiti, biar seindah mana pun fantasi dan persepsi akal kita. Jangan kelalaian semalam menjadi sebab untuk kelalaian esok.

Kehambaan

Semua orang perlu ada sebab untuk berubah. Bahkan, memang semua orang ada sebab untuk berubah. Ia adalah tanggungjawab dalam kehidupan duniawi. Semua orang tahu dirinya diciptakan untuk disempurnakan. Allah s.w.t. menjadikan hubungan kita kepada-Nya sebagai hubungan kehambaan. Maka, pada hubungan kehambaan itulah, kita melaksanakan proses penyempurnaan. Iaitu, menyempurnakan sudut kehambaan dengan ketaatan.

Dosa memisahkan kita daripada Allah s.w.t.. Kita yang terus keliru dalam kehidupan, tanpa kembali kepada Allah s.w.t.. Orang yang hipokrit dalam menuju Allah s.w.t. pun merasa seronok dengan perjalanannya itu, kerana mendapat pujian atau sebagainya, bagaimana pula dengan orang yang jujur menuju Allah s.w.t.? Bahkan, sudah tentulah lebih bahagia dan itulah sebenar-benar bahagia, iaitu jujur dalam mencariNya. Orang yang mengaku sebagai wali Allah pun seronok dengan pendakwaannya, bagaimana pula kebahagiaan di hati para wali Allah s.w.t. yang hakiki, yang telah mendapat penerimaan daripada Allah s.w.t.?

DIALAH ALLAH

Jangan salah sangka. Bukan ibu bapamu yang memaksa kamu menjadi seorang insan yang soleh. Bukan ustaz yang mengajar di sekolahmu yang sebenarnya menyuruhmu melakukan ibadah dan menjadi hamba Allah s.w.t.. Bukan imam di masjid atau ustaz yang berceramah yang menyuruhmu menjadi hamba yang soleh lagi taat. Bukan penulis tulisan ini yang menyuruhmu dan dirinya sendiri, menjadi hamba Allah s.w.t. yang sebenar.

Tetapi, ALLAH... Allah s.w.t. yang menyuruh kita menjadi hamba yang diredhai-Nya dengan melaksanakan tugas-tugas kehambaan lalu Dialah yang akan membalasinya. Penulis tulisan ini, imam masjid, ustaz yang berceramah atau yang mengajar di sekolah, hatta ibu bapa sekalipun, siapa kami dan siapa mereka, untuk menyuruh kamu (dan diri penulis), menjadi hamba Allah s.w.t. yang baik dan taat? Tetapi, yang menyuruh kita menjadi hamba-Nya yang taat adalah ALLAH s.w.t., Tuhan yang menciptakan kita daripada tiada kepada ada, daripada tidak memiliki apa-apa kepada mendapat segenap nikmat kurnia, daripada air yang tiada nilai kepada insan yang mulia dan Dialah yang akhirnya Tuhan yang akan mengadili kita setelah kita kembali hanya kepada-Nya setelah mati nanti. Harap maklum.

Kalau kita diberi peluang untuk melawan Allah s.w.t. sekalipun, kita sudah tentu tidak mampu untuk melawan Allah s.w.t.. Apatah lagi, kita tidak beri peluang langsung untuk bertanya apa yang Dia telah dan akan lakukan kepada kita, sedangkan kitalah yang akan dipertanyakan. Adakah seseorang itu menyangka dia ialah seseorang (somebody) jika melakukan penderhakaan kepada Allah s.w.t. dan Allah s.w.t tercabar dengan kedegilan itu? Sejak bila Allah s.w.t. perlukan kita untuk ambil kisah dengan tindakan buruk kita dan sejak bila kerajaan Allah s.w.t. boleh berkurangan dengan penderhakaan kita andai kita sanggup menderhakai-Nya?

Kita tidak cerdik kalau memilih untuk melakukan apa yang kita percaya, hanya kerana itu yang kita percaya, tanpa mengambil kira samada ianya adalah suatu yang hakiki atau khayalan fantasi sendiri. Kalau kita bukan penasihat kepada diri kita sendiri, maka tiada yang boleh menasihati kita. Orang boleh ajak kita berfikir, tetapi orang tidak boleh berfikir untuk kita. Kita pun faham, kita tidak pernah mampu membahagiakan diri kita sendiri dengan apa yang kita cari. Akhirnya, kebahagiaan itu adalah daripada Allah s.w.t. dan dengan Allah s.w.t.. Hidup untuk diri sendiri tidak berbaloi kerana mati nanti akan menjadi pemisah terhadap semua yang kita kumpulkan untuk kepentingan sendiri dan diri sendiri pun tidak ada nilai melainkan apa yang di sisi Allah s.w.t... Hidup kerana Allah s.w.t. tidak pernah mengecewakan, kerana setiap saat kita berinteraksi dengan-Nya sebagai tujuan. Sebagaimana kita tidak pernah meninggalkan-Nya dalam setiap tindakan, kita juga tidak akan ditinggalkan-Nya dalam setiap ketentuan. Bahkan, kita sentiasa bersama dengan-Nya dan bersama dengan kebersamaan tersebut.

Kita masih ada masa, tetapi jangan buang masa. Kita masih ada peluang, tetapi jangan jadikan sebagai alasan. Jangan kelalaian semalam menjadi sebab untuk kelalaian esok. Salah itu bukan alasan untuk terus salah, tetapi adalah sebab untuk melakukan perubahan dan pembetulan ke arah penyempurnan kehambaan.

Ianya adalah tentang sekarang, untuk lakukan apa yang perlu, untuk memperbaiki hubungan kita dengan Allah s.w.t.. Allah s.w.t. Maha Penerima Taubat, bagi mereka yang jujur untuk kembali kepada-Nya. Namun ingatlah, Dia juga Maha berat siksaan-Nya, bagi mereka yang mempunyai rasa berani menderhakai-Nya dan berterusan dalam kelalaian kerana puas dengan penderhakaan tersebut. Taubat boleh membawa kepada menghilangkan dosa besar dengan keampunan Allah s.w.t. sedangkan berterusan melakukan dosa walaupun kecil, tanpa keampunan Allah s.w.t., ia akan menjadi masalah besar kepada si pelakunya di akhirat. Ia bukan tentang dosa seseorang, tetapi tentang kepada siapa dia melakukan dosa.

Kita adalah hamba samada kita akuinya mahupun tidak. Bahkan, kita adalah hamba, samada hamba kepada Allah s.w.t., yang merupakan suatu kemuliaan di sisi-Nya, atau hamba kepada nafsu sendiri, yang merupakan suatu kehinaan di hadapan-Nya. Allah s.w.t. adalah Allah s.w.t. jua, tanpa kita. Namun, siapalah kita, tanpa-Nya?

Disusun dengan bantuan Allah s.w.t. oleh

Al-Faqir ila Rabbihi Al-Jalil

Raja Ahmad Mukhlis bin Raja Jamaludin Al-Azhari

‘Amalahullahu bi Lutfihi Al-Khafiy