Khamis, Februari 14

ILMU TAUHID : PENGENALAN MUDAH

Petikan : Bermula Mu’alim yang bernama [Abdul Karim bin Muhammad Nur] menyusun sebuah kitab yang menjadi pegangan seluruh murid beliau yang ditulis menggunakan huruf jawi (Arab Melayu), mudah-mudahan Allah meredhai dan mengizinkan hamba mengutarakannya dalam forum ini tanpa melanggar adab.
Bismillahirrahmanirrahiim…
Adapun Mubadi ilmu tauhid itu sepuluh perkara:
1. Nama ilmu ini yaitu ilmu Tauhid, ilmu Kalam, ilmu Sifat, ilmu Ussuluddin, ilmu ‘Aqidul Iman
2. Tempat ambilannya : yaitu diterbitkan daripada Qur’an dan Hadits
3. Kandungannya yaitu mengandung pengetahuan dari hal membahas ketetapan pegangan kepercayaan kepada Tuhan dan kepada rasul-rasulNya, daripada beberapa simpulan atau ikatan kepercayaan dengan segala dalil-dalil supaya diperoleh I’tikad yang yakin (kepercayaan yang putus/Jazam sekira-kira menaikkan perasaan/Zauk untuk beramal menurut bagaimana kepercayaan itu.
4. Tempat bahasannya atau Maudu’nya kepada empat tempat:
a. Pada Zat Allah Ta’ala dari segi sifat-sifat yang wajib padanya, sifat-sifat yang mustahil padaNya dan sifat-sifat yang harus padaNya.
b. Pada zat rasul-rasul dari segi sifat-sifat yang wajib padanya, sifat-sifat yang mustahil padanya dan sifat-sifat yang harus padanya
c. Pada segala kejadian dari segi jirim dan jisim dan aradh sekira-kira keadaannya itu jadi petunjuknya dan dalil bagi wujud yang menjadikan dia
d. Pada segala pegangan dan kepercayaan dengan kenyataan yang didengar daripada perkhabaran rasul-rasul Allah seperti hal-hal surga dan neraka dan hari kiamat
5. Faedah ilmu ini yaitu dapat mengenal Tuhan dan percaya akan rasul dan mendapat kebahagian hidup didunia dan hidup di akhirat yang kekal.
6. Nisbah ilmu ini dengan lain-lain ilmu, yaitu ilmu ini ialah ilmu yang terbangsa kepada agama islam dan yang paling utama sekali dalam agama islam.
7. Orang yang menghantarkan ilmu ini atau mengeluarkannya yaitu, yang pertama mereka yang menghantarkan titisan ilmu tauhid dengan mendirikan dalilnya untuk menolak perkataan meraka yang menyalahi ialah dari pada ulama-ulama yang mashur yaitu Imam Abu Al hasan Al Asy’ari dan Imam Abu Mansur At Maturidi tetapi mereka pertama yang menerima ilmu tauhid daripada Allah Ta’ala ialah nabi Adam alaihissalam, dan yang akhir sekali Nabi Muhammad SAW.
8. Hukumnya, yaitu fardhu ‘ain bagi tiap-tiap orang yang mukallaf laki-laki atau perempuan mengetahui sifat-sifat yang wajib, yang mustahil dan yang harus pada Allah Ta’ala dengan jalan Ijmal atau ringkasan begitu juga bagi rasul-rasul Allah dan dengan jalan tafsil atau uraian
9. Kelebihannya yaitu semulia-mulia dan setinggi-tinggi ilmu daripada ilmu yang lain-lain, karena menurut haditsnya nabi: Inallahata’ala lam yafrid syai’an afdola minattauhid wasshalati walaukana syai’an afdola mintu laf tarodohu ‘ala malaikatihi minhum raakitu wa minhum sajidu, artinya, Tuhan tidak memfardukan sesuatu yang terlebih afdhol daripada mengEsakan Tuhan. Jika ada sesuatu terlebih afdhol daripadanya niscaya tetaplah telah difardhukan kepada malaikatnya padahal setengah daripada malaikatnya itu ada yang ruku’ selamanya dan setengah ada yang sujud selamanya dan juga ilmu tauhid ini jadi asal bagi segala ilmu yang lain yang wajib diketahui dan lagi karena mulia , yaitu Zat Tuhan dan rasul dan dari itu maka jadilah maudu’nya semulia-mulia ilmu dalam agama islam.
10. Kesudahan ilmu ini yaitu dapat membedakan antara I’tikad dan kepercayaan syah dengan yang batil dan dapat pula membedakan antara yang menjadikan dengan yang dijadikan atau antara yang Qadim dengan yang muhadasNya
Ilmu Tauhid
Adapun pendahuluan masuk pada menjalankan ilmu tauhid itu berhimpun atas tiga perkara:
1. Khawas yang lima yaitu, Pendengar, Penglihat, Pencium, Perasa lidah dan Penjabat
2. Khabar Mutawatir, yaitu khabar yang turun menurun. Adapun khabar mutawatir itu dua bahagi:
a. Khabar Mutawatir yang datang daripada lidah orang banyak
b. Khabar Mutawatir yang datang daripada lidah rasul-rasul
3. Kandungannya yaitu mengandung pengetahuan dari hal membahas ketetapan pegangan kepercayaan kepada Tuhan dan kepada rasul-rasulNya, daripada beberapa simpulan atau ikatan kepercayaan dengan segala dalil-dalil supaya diperoleh I’tikad yang yakin (kepercayaan yang putus/Jazam sekira-kira menaikkan perasaan/Zauk untuk beramal menurut bagaimana kepercayaan itu.
Aqal
Adapun ‘Aqal itu dua bahagi :
1. ‘Aqal Nazori, yaitu aqal yang berkehendak kepada fikir dan keterangan.
2. ‘Aqal Doruri, yaitu aqal yang tiada berkehendak kepada fikir dan keterangan.
Adapun Hukum ‘Aqal itu tiga bahagi:
1. Wajib ‘Aqal, yaitu barang yang tiada diterima oleh aqal akan tiadanya maka wajib adanya (Zat, Sifat dan Af’al Allah)
2. Mustahil ‘Aqal, yaitu barang yang tiada diterima oleh aqal akan adanya maka mustahil adanya (Segala kebalikan daripada sifat yang wajib, sekutu)
3. Harus ‘Aqal, yaitu barang yang diterima oleh akal akan adanya atau tiadanya (Alam dan segala isinya yang baharu/diciptakan)
Mumkinun (Baharu Alam)
Adapun yang wajib bagi ‘Alam mengandung empat perkara:
1. Jirim, yaitu barang yang beku bersamaan luar dan dalam seperti, batu, kayu, besi dan tembaga
2. Jisim, yaitu barang yang hidup memakai nyawa tiada bersamaan luar dalam seperti manusia dan binatang
3. Jauhar Farad, barang yang tiada boleh dibelah-belah atau dibagi-bagi seperti asap, abu dan kuman yang halus-halus
4. Jauhar Latief, yaitu Jisim yang halus seperti ruh, malaikat, jin, syaiton dan nur
Wajib bagi Jirim, Jisim, Jauhar Farad dan Jauhar Latief bersifat dengan empat sifat:
1. Tempat, maka wajib baginya memakai tempat seperti kiri atau kanan, atas atau bawah, hadapan atau belakang
2. Jihat, maka wajib baginya memakai jihat seperti utara atau selatan, barat atau timur, jauh atau dekat
3. Berhimpun atau bercerai
4. Memakai ‘arad, yaitu gerak atau diam, besar atau kecil, panjang atau pendek dan memakai rasa seperti manis atau masam, masam atau tawar dan memakai warna-warna seperti hitam atau putih, merah atau hijau dan memakai bau-bauan seperti harum atau busuk
Hukum Adat Thobi’at
Adapun yang wajib bagi hukum adat Thobi’at yang dilakukan didalam dunia ini sahaja, seperti makan, apabila makan maka wajib kenyang sekedar yang dimakan begitu juga api apabila bersentuh dengan kayu yang kering maka wajib terbakar, dan pada benda yang tajam yang apabila dipotongkan maka wajib putus atau luka.
Dan begitu juga pada air apabila diminum maka wajib hilang dahaga sekedar yang diminum. Adapun yang mustahil pada adat Thobi’at itu tiada sekali-kali seperti makan tiada kenyang, minum tiada hilang dahaga, dipotong dengan benda yang tajam tiada putus atau luka dan dimasukkan didalam api tiada terbakar. Akan tetapi yang mustahil pada adat itu sudah berlaku pada nabi Ibrahim as di dalam api tiada terbakar dan pada nabi Isma’il as dipotong dengan pisau yang tajam diada putus atau luka .
Adapun yang mustahil pada adat itu jika berlaku pada rasul-rasul dinamakan Mu’jizat, jika berlaku pada nabi-nabi dinamakan Irhas, jika pada wali-wali dinamakan Karamah, dan jika pada orang yang ta’at dinamakan Ma’unah dan jika berlaku pada orang kafir atau orang fasik yaitu ada empat macam:
1. dinamakan Istidraj pada Johirnya bagus dan hakikat menyalahi
2. dinamakan Kahanah yaitu pada tukang tenung
3. dinamakan Sa’uzah yaitu pada tukang sulap mata
4. dinamakan Sihir yaitu pada tukang sihir
Mohon ampunan dan RedhaMu yaa Allah,…
Itulah yang telah terdahulu banyak hamba ungkapkan (terlanjur) di topik-topik yang ada dalam BSC ini, untuk selanjutnya hamba, Insya Allah, akan memohon izin dahulu kepada Mu’alim hamba, sebab ada beberapa huraian penting yang hamba wajib meminta izin dahulu pada beliau, diantaranya: Hukum Syara’, Hakikat Makrifat beserta huraian dalil bagi Sifat-Sifat yang wajib bagi ‘aqal tentang keTuhanan:
-Sifat Nafsiyah
-Sifat Salbiyah
-Sifat Ma’ani
-Sifat Ma’nawiyah
lalu dibahagi menjadi dua bahagi:
-Sifat Istighna (28 Aqa’id)
-Sifat Iftikhor (22 Aqa’id)
yang menghasilkan faham hakikat nafi mengandung isbat, isbat mengandung nafi (50 Aqa’id), lalu berlanjut pada huraian Sifat-sifat bagi Rasul, ditambah empat perkara rukun iman (18 Aqa’id), menghasilkan penjelasan aqa’idul iman yang 5 (lima jenis), aqa’idul iman 50, aqa’idul iman 60, aqa’idul iman 64, aqa’idul iman 66 dan aqa’idul iman 68.
Baharulah disimpulkan menjadi 4 rukun Syahadat dan adab-adabnya, serta menjelaskan penjelasan zikir, serta makna asma ALLAH
InsyaAllah….
MA’RIFAT
Adapun hakikat Ma’rifat itu berhimpun atas tiga perkara:
1. ‘Itikad Jazam, yaitu ‘Itikad yang putus tiada syak, dzon dan waham
2. Muwafikulilhaq, yaitu Muafakat dengan yang sebenarnya mengikut Al Qur’an dan Hadits
3. Mu’addalil yaitu beserta dalil
Adapun Dalil itu dua bahagi:
1. Dalil naqal (naqli), yaitu Al Qur’an dan Hadits.
2. Dalil aqal (aqli), yaitu aqal kita
Adapun dalil wujud Allah Ta’ala pada orang awam yaitu Baharu alam seperti firman Allah Ta’ala dalam Al Qur’an : Allahu khaliqu kullu syai’in, artinya: Allah Ta’ala yang menjadikan tiap-tiap sesuatu
Adapun Hakikat Ma’rifat orang yang Khawas :
1. ‘Itikat jazam, tiada syak, dzon dan waham
2. Muwafakat ilmunya, aqalnya dan hatinya dengan jalan Ilham Ilahi
3. Dalil pada dirinya, seperti firman Allah Ta’ala dalam Al Qur’an: wa fii amfusikum afala tubsiruun, artinya: pada diri kamu tiadakah kamu lihat, dan juga Hadits Rasullullah, Man arofa nafsahu faqod arofa Robbahu, artinya barang siapa mengenal dirinya bahwasanya mengenal Tuhannya.
Adapun Hakikat Ma’rifat orang yang Khawasul khawas:
1. I’tikad jazam, tiada sak, dzon dan waham
2. Muwafakat Ilmunya, aqalnya dan hatinya dengan jalan kasaf Ilahi terkaya ia daripada dalil yakni tiada berkehendak lagi kepada dalil (Aqal dhoruri) terus ia ma’rifat kepada Allah Ta’ala.
Adapun Ma’rifat itu tiga martabat:
1. Ilmul yaqin, yaitu segala Ulama
2. ‘Ainul yaqin, yaitu segala Aulia
3. Haqqul yaqin, yaitu segala Anbiya

SAJAK 'ENGKAU DAN AKU"

Kalau engkau hendak menemui aku
Turutilah jalanku jangan jalanmu
Jalanmu jalan nyata
Jalanku jalan rasa

Berjalanlah engkau pada jalanmu
Dan aku akan berjalan pula pada jalanku
Usahakan kita sejalan, engkau dan aku
Supaya tercapai yang dituju

Kalau engkau mengatakan kita sejalan
Engkau harus dapat membuktikan
Bukti yang dimaksudkan
Ialah kedsanggupan untuk menurutkan

Engkau mempunyai keinginan
Aku mempunyai kesanggupan
Engkau di luar aku di dalam
Tempatmu di kiri aku di kanan

Berjalanlah engkau pada jalanmu
Untuk menjumpai aku lebih dahulu
Dalam perjalanan kita bertemu
Engkau dan aku

Aku yang engkau jumpai di perjalanan
Tidak akan engkau perdapat, kalau engkau tak tukar haluan
Kerana di saat itu aku ke luar engkau ke dalam
Dan untuk mendapat aku, jalanku yang akan diturutkan

Berjalan pada jalanku
Bererti engkau bersertaku
Dengan jalan itu engkau akan mengenal aku
Aku yang selama ini terahsia bagimu

TOKOH TAREKAT ZAMAN BERZAMAN

NAMA TAREKAT PENDIRI BERPUSAT DI

ADHAMIAH Ibrahim bin Adham Damskus, Syria

AHRARIYAH Khuwajah Ubaidullah Ahrar

AIDRUSIYAH Syed Abu Bakar Al Aidrus

AHMADIYAH
/IDRISIYAH Syekh Ahmad bin Idris Fez, Moroko

Cabang: Sanusiyah, Mirghaniyah,
Rasyidiyah, Dandrawiyah,
Jaafaraiyah
Ajarannya:Tahlil khusus
Selawat Azimiah
Istifar kabir

ALAWIYAH & Imam Ahmad Isa Al Muahajir Mostaganem, Aljzair

HADADIYAH Syed Abdullah Al Haddad
- Lebih ringan.
Menekankan pada amal,
akhlak dan bebrapa wirid
serta zikir ringan
- Ada 2 wirid utama: Wirid
Al Lathif dan Ratib
Al haddad
- Dikaitkan dengan kaum
Alawiyyin@ kaum syed

ALIYAH Syed Abd Ghalib Al Khujdawani

ALWANIYAH Syekh Alwan Jiddah, Arab saudi

AMMARIYAH Ammar bu senna Constantin, aljazair

ASYAQIYAH Hasanuddin Istanbul, turki

ASYRAFIYAH Asyraf Rumi Chin iznik, turki

BADAWIYAH Syed Ahmad Al Badawi
Cabangan: Anbabiyah,
Bandariyah,
Bailmiyah, Halabiyah, Hamidiyah,
Kanasiyah, Salamiyah, Syinawiyah,
Suthiyah, Zahidiyah

Amalannya:
-Selawat an Nur
-selawat al Qabdlah/ar Ra’isiyah
-Hizb ringkas
-amal pada waktu subuh dan isya’
Died: 675/

BAIRAMIYAH Hajji Bairam Velli

BAAHAIYAH Abdul Ghani Adrianopel ,Turki

BAHRAMIYAH Hajji Bahrami Ankara, Turki

BAKRIYAH Syed Abu bakar Wafai

BAKHRIYAH Abu Bakar Wafa’i Aleppo, Syria

BEKTASYI Haji Bektasyi Velli Kir sher, Turki

BISTAMIYAH Abu Yazid Al-Bistami Jabal bistam, Iran

BURHANIYAH/
BURHAMIYAH Shaikh Burhanuddin
Ibrahim al Dasuqi
Died: 687 H/1288M

CHISTIYAH Khawaja Muinuddin Hassan
Sanjari Chisti

DANDARAWIYAH Syekh Muhammad Dandarawi

DARQAWIYAH Maulai Al Arbi Al Darqawi Moroko

DASUKIYAHS Syekh Ibrahim Dasuki

GHAZALIYAH Imam Al Ghazali
- Menekan pada olah fizik

GULSYANIYAH Ibrahim Gulsyani Cairo, Mesir

HADDADIYAH Sayyid Abdullah bin alwi bin Hedzjaz, Arab saudi
Muhammad Al-haddad

IDRISIYAH Syekh Syed Aahmad bin Idris Asir, Arab saudi

IGHITBASIYAH SyamsuddinMagnesia, yunani

JAAFARIYAH Syekh Jaafar

JAHARIYAHS Syekh Hujjah Ahmad Syawi

JAIDARIYAH Syekh Syah Jaidar

JALALIYAH Syekh Syed Jalal an Hajjari

JISTIYAH Syekh Abu Ahmad Badaruddin

JALWATIYAH Pir Uftadi Bursa, Turki

JAMALIYAH Jamaluddin Istanbul, Turki

KHIDIRIYAHS Syekh Abd Aziz Ad Dabbagh
-Berguru secara langsung dgn
Nabi Khidir

KHALIDIYAH Syed Sulaiman Zuhdi Al khalidi

KHUWAJAHQIYAH Syed Khuwajah Abdul Khaliq
Ghujdwani

KUBRAWIYAH Syekh Najmuddin Kubra Khurasan, Iran


KHALWATIYAH Syekh Muhammad al-khalwati Kayseri, Turki

MADARAIYAH Syekh Madar

MAULAWIYAH Maulana Jalaluddin Ar-Rumi Konya, Anatoliya

MAZAHARIYAH Syed Mirza Mazhar Jan Janan

MIRGHANIYAH Syed Muhammad Usman Al Mirghani

MUJADIDIYAH Syekh Ahmad Faruq Sirhindi

MURADIYAH Murad Syami Istanbul, Turki

MURIDIYAH Ahmadu Bamba
Died: 1927

NAQSYABANDIYAH Syekh Bahauddin Al Uwais Bukhari Naqsayabandi.
Arifan, Turki

Ajaran Asasnya:
Ismu Zat (Allah),
Nafi Isbat
(La ilaha Illa Allah)

2 Baz Ghast – kembali kpd
Allah

3 Nigah Dasyat – menjaga,
mengawasi, memelihara , bersungguh-
sungguh

4 Yad Dasyat – mengingati Allah
secara bersungguh
- Zikir memelihara hati dalam
setiap nafas

5 Hosh Dar Dam – sedar dalan
nafas/berzikir secara sedar dalam nafas/empat
ruang nafas, 2 ruang nafas keluar masuk,
dua ruangan antara nafas keluar masuk/zikirnya
adalah ALLAH

6 Nazar Bam Qadar – Bila berjalan sentiasa
memandang ke arah kakinya, jangan melebihkan
pandang , duduk pandang ke hadapan, merendahkan
pandangan, jangan toleh kiri dan kanan

7 Safar dar watan – Bersiar-siar dalam kampung
dirinya/ meningkatkan dirinya kpd sifat malaikat:
- Taubat
- Inabat
- Sabar
- Syukur
- Qana’ah
- Wara’
- Taqwa
- Taslim
- Tawakkal
- Redha
Perjalanan ada dua jenis:
a) Perjalanan luar: dari satu tempat ke satu tempat
mencari pembimbing Rohani
b) Perjalanan dalam- tinggalkan segala tabiat buruk
kepada adab tertib yang baik dan mengeluarkan
segala isi hainya dari keduniaan
(Dalam hatinya akan muncul
segala apa yang diperlukan
olehnya dalam kehidupan ini
dan kehidupan mereka yang
berada di sampaingnya)

8 Khalwat dar Anjuman
Bersendirian dalam keramaian/
Khalawt kabir dan jalwat
(Apabila sudah mencapai
fana menerusi
zikir fikir dan semua
deria luaran difanakan,
pada waktu itu deria dalam
bebas meneroka
ke alam kebesaran dan
keagungan kerajaan
Allah SWT.)

9 Wukuf Qalbi – Tumpuan hati
dan hati pula tumpu pada Allah

10 Wuquf Abadi – memerhatikan
bilangan ganjil dalam zikir nafi
isbat

11 Wuquf zamani – Selepas solat
lakukan beberapa minit sentiasa
memerhatikan hati bertawajjuh
kepada Allah swt
- Selang beberapa jam/setiap
jam semak semula kedaan hati ,
mempastikan hati sentiasa ingat
kepada Allah

Cabang:
Yasawi - Kwajagan
Sidiqiyah - Saidina Abu Bakar
as Siddiq
Taifuriyah – Abu Yazid Bustami
Khawajahganiyah – Abdul Khaliq
Ghudjuwani
Naqsyabandiyah – Muhammad
Bahauddin
Ahrariyah – Ubaidullah Ahrar
Ragamatullah
Mujaddidiyah – Syekh Ahmad
Faruqi Sirhindi
Mazhariyah – Mirza Mashar
Jan janan Syahid
Aliyah – Shah Abdullah Ghulam
Ali Dehlawi
Khalidiyah – Syekh Ziauuddin
Muahammad Khalid Uthmani
Kurdi

NIYAZIAH Muhammad NiyazLemnos, yunani

NI’MATIYAH Syah Wali Ni’matillah Kirman,Iran

NURBAKHSIYAH Muhammad nurbakh Khurasan, Iran

NURUDDINIYAH NuruddinIstanbul, turki

QADIRIYAH Syekh Abdul Qadir Al-Jailani Baghdad, Irak

Cabang:
Banawa, Ghawtsiyah, Junaidiyah,
Kamaliyah, Miyan Khei,
Qumaishiyah,
hayat al mir (India)
Hindiyah, Khulusiyah, Nawshahi,
Rumiyah, Nabulsiyah,
Wasalatiyyah
(Turki)Ahdaliyah, Asadiyah,
Mushariyah,
Urabiyah, Yafi;iyah dan
Zaila’iyah (Yaman)
Ammariyah, Bakka’iyah,
Bu’aliyah,
Mansaliyah, Jilala (Afrika)

QALANDIYAH Syekh Syarifuddin Qalandar

RASYIDIYAH Syed Ibrahim Al Rasyid

RIFA’IYAH Syekh Ahmad Ar-Rifa’iBaghdad, irak

SIDIQIYAH Saidina Abu Bakar As Sidiq

SA’ADIYAH Syed Sadudin Jibawi

SADIYAH Sa’duddin jibawi Damaskus, Irak

SAFAWIYAH Saifuddin Ardebil, Iran

SAMMANIYAH Syekh Muhammad Samman

SANUSIYAH Sidi Muhammad bin Ali As-Sanusi Tripoli, Libanon

SYAQAFIYAH Syed Saqqaf bin Salam

SALAMIYAH Syekh Abdus Salamiyah

SAQATIYAH Sirri Saqti Baghdad, Irak

SIDDIQIYAH Kiyai.Mukhtar mukti Jawa timur

SINAN UMMIYAH Alim Sinan Ummi Alwali ,Turki

SUHRAWARDIYAH Syekh Syihabuddin Abu Hafs Umar Baghdad, Irak
bin Abdullah as-Syuhrawardiyah Died:

SUNBULIYAH Sunbul Yusuf Bulawi Istanbul, Turki

SYAHRURIYAH Syekh Syihabuddin

SYAMSIYAH Syamsuddin Madinah, Arab sudi

SYATTARIYAH Abdullah As-Syattar India

Cabangnya: Ghaustiyah
(Muhammad Ghaus)

7 macam zikir
- Zikir Thawaf: Zikir memutar
kepala
- Zikir nafi isbat: Laa ila
hailallah
- Zikir isbat faqat: Ilaallah
- Zikir ismu zat: Allah
- Zikir Taraqqi: Allah hu
- Zikir Tanazul: Hu Allah
- Zikir Isim ghaib: Hu,Hu

SYAZILIYAH Abul Hasan Ali Asy – Syadziliyah Mekkah, Arab saudi
- menekankan olahan hati
& batiniah
- Zikir: Hizb al bahar, Hizb
Nashor, Hizb Barr, Hizb al Hafidzah
Cabang Tarekat:
Qasimiyah, Madaniyah,
Idrisiyah, Salamiyah, Handusiyah,
Qauqajiyah, Faidiyah, Jauhariyah,
Wafaiyah,
Azmiyah, Hamidiyah, Faisiyah,
Hasyimiyah


THAIFURIYAH Syekh Abu Yazid Al Bustami

TIJANIYAH Syekh Ahmad At-Tijani1 Fes, Morocco
Mendapat talqin daripada Rasullulah SAW:
Istighfar 100 kali
Selawat 100 kali
Lai illahaillah 100 kali

UMM SUNANIYAH Syekh Umm Sunan Istanbul, Turki

YASAWIYAH Ahamad Yasawi Turkestan

ZAINIYAH Zainuddin Kufah, Irak

Pengenalan Kepada Sufi, Hakekat dan Makrifat


PENGENALAN ISTILAH

SUFI
Istilah sufi amat berkait rapat dengan "bersih" , "suci" , "saf (barisan hadapan)" , "bulu (pakain bulu)" , "suffah".
1. Ahli sufi digelar sufi kerana kebersihan (suffa) hati mereka dan kesucian amalan dan tindak tanduk mereka. Mereka digelar sufi kerana mereka menyerupai ahli suffah yang hidup di zaman Nabi SAW.

2. Orang Sufi adalah orang yang mempunyai hati yang ikhlas (suffa) terhadap Allah.

3. Mereka adalah orang-orang yang duduk di barisan hadapan (suffa) sekali di hadrat Allah, melalui kecintaan mereka kepada Allah, tetap berhadap hati mereka kepada Allah, dan tetap lubuk hati (sirr) mereka berhadap Allah".

4. Berkenaan dengan pakaian bulu itu hanya pakain zahir sahaja. "Mereka digelar sufi kerana tabiat mereka suka memakai pakaian daripada bulu (suff)." "Pakaian bulu adalah juga pakaian para anbia dan aulia". Hadis. "70 orang Nabi yang terdahulu yang lalu berhampiran dengan batu diRuhaasan. Mereka berkaki ayam dan berpakaian bulu dan menuju ke Kaabah". Hadis. "Nabi Musa alaihissalam memakai pakaian bulu, memakan buah-buahan, tidur pada malam hari di mana sahaja ia hendak tidur". al Hassan al Basri. "Nabi SAW berpakain bulu , menunggang keldai, dan menerima jemputan orang-orang daif untuk makan bersama". Abu MUsa al Ash'ari. "Saya mengetahui terdapat 70 orang yang terlibat dalam peperangan Badar memakai pakaian bulu". Al Hassan al Basri.

5. Kehidupan mereka ala kadar. Dunia dan keduniaan sudah tidak penting dan diutamakan oleh mereka. "Apabila Nur sudah masuk ke dalam hati maka ia akan membesar dan berkembang". Sahabat bertanya,"Apakah tandanya ya Rasul Allah?" "Meninggalkan negeri yang fana' dan berpaling kepada negeri yang baqa', dan bersedia untuk MATI sebelum mati (bercerai nyawa dengan badan)". "Bahkan kamu lebih menginginkan dunia, sedangkan akhirat jualah yang terlebih baik dan terlebih kekal". (AL A'Ala : 17 & 18.7.)

Cara hidup orang sufi ini telah bermula sejak zaman sebelum Nabi SAW, zaman Nabi SAW dan sesudahnya . Tidak timbul satu Firman atau Hadis yang menghukumkan , wajib disyariatkan atau diamalkan kerana , telah terang bagi orang yang beroleh petunjuk, bahawa INTISARI QURAN DAN HADIS itu sendiri telah tersemai kukuh, sebati dan selari dengan diri mereka. Hingga Nabi SAW sendiri sentiasa berserta mereka. Nabi SAW menyatakan bahawa apabila seseorang itu tidak dipengaruhi dunia, mesti ada bukti dan kenyataan. Nabi pernah bertanya kepada Sahabat Harithah. "Apakah hakikat Iman?" Beliau jawab. "Saya telah jauhkan hati saya daripada dunia, saya puasa di siang hari dan berjaga di malam hari, dan seolah-olah saya lihat 'Arasy Tuhanku datang, seolah-olah ahli syurga kunjung mengunjungi antara satu sama lain dan ahli neraka bermusuhan antara satu sama lain".(perhatikan berkenaan 'Arasy Allah dan syorga serta neraka yang dilihat oleh Sahabat Harithah. Perkara ini tidak dibantah oleh Nabi SAW).

Erti sufi yang dimaksudkan oleh saya dalam blog ini ialah
Orang-orang sufi senantiasa berusaha mensucikan dirinya dengan melalui latihan-latihan kerohanian tertentu. Dalam sejarah, istilah sufi baru dikenal setelah pertengahan abad kedua hijriah. Sebelum itu orang hanya kenal dengan perkataan Zuhud.


HAKEKAT

1. Akar kata haq dapat diertikan milik atau kepunyaan; benar atau kebenaran;

2. Kebenaran Illahi.

3. (Syath) Terbukanya kesadaran hamba atas kesungguhannya dalam menjalani lakuan atas perintah Gurunya yang hak dan sah bahwa hake-atnya Yang Boleh Yang Kuat, Yang Memiliki Segala Maujud, Yang Berbuat , Yang Bergerak , bahkan yang Ada dan Wujud hanyalah DiriNya Dzat Yang Al Ghaib Yang Allah AsmaNya.

4. (Syath) Hati nurani, roh dan rasa yang telah berfungsi untuk selalu mengingat-ingat dan menghayati DiriNya Dzat Al Ghaib dan Mutlak WujudNya.

HAKIKAT Dalam Tasawuf
Hakikat adalah imbangan kata syariat yang identik/terikat dengan aspek kerohanian dalam ajaran Islam. Untuk merintis jalan mencapai hakikat, seseorang harus dimulai dengan aspek akhlak yang diikuti dengan aspek ibadah. Bila kedua aspek ini diamalkan dengan penuh kesungguhan dan keikhlasan ia akan dapat meningkatkan keadaan mental seseorang dari tingkat rendah secara berperingkat ke tingkat yang lebih tinggi. Pada posisi tertinggi Tuhan akan menerangi hati sanubarinya dengan nur-Nya, sehingga ia betul-betul dapat dekat dengan Tuhan, mengenal Tuhan dan melihatNya dengan mata hatinya. Di kalangan Sufi orang yang telah mencapai tingkatan ini disebut ahli hakikat. Kalau dihubungkan dengan Tuhan, hakikat adalah sifat-sifat Allah SWT, sedangkan Zat Allah disebut al-Haqq.

Sufi yang dikenal dengan faham hakikat adalah Abu Yazid al-Bustami dan al-Hallaj yang pernah menyatakan “Ana al-Haqq”.


MAKRIFAT
1. Mengenal dan mengetahui berbagai ilmu secara ringkas dan mendalam;

2. Pengetahuan Illahi. Pengetahuan hakiki yang datang melalui “penyingkapan”, “penyaksian”, dan “cita rasa” (dzauq). Pengetahuan ini berasal dari Allah.

3. (Syath) Menyaksikan (melihat dengan jelas dan nyata) kepada Ada dan Wujud DiriNya Dzat yang di muka bumi Al Ghaib. Kejadiannya hanya terjadi di alam pati. Ditarik Allah membuktikan fana dzat. Karena itu sama sekali tidak bernafas dan rasa seyakinnya merasakan Wujud DiriNya.

Rabu, Januari 23

Doa Sayyidina al-Faqih al-Muqaddam Muhammad ibn `Ali Ba`alwi نفع الله تعالى به - beserta terjemahan





اَللَّهُمَّ انْـقُلْنَا وَالْمُسْلِمِيْنَ مِنَ الشَّقَاوَةِ اِلَى السَّعَادَةِ, وَمِنَ النَّارِ اِلَى الْجَـنَّةِ, وَمِنَ الْعَذَابِ اِلَى الرَّحْمَةِ وَمِنَ الذُّ نُوْبِ اِلَى الْمَغْفِرَةِ, وَمِنَ اْلاِسَاءَةِ اِلَى اْلاِ حْسَانِ, وَمِنَ الْخَوْفِ اِلَى اْلاَ مَانِ, وَمِنَ اْلفَقْرِ اِلَى اْلغِنَى وَ مِنَ الذُّلِّ اِلَى الْعِزِّ, وَمِنَ اْلاِ هَانَةِ اِلَى اْلكَرَا مَةِ, وَمِنَ الضِّيْقِ اِلَى السَّعَةِ
Wahai ALLAH, Pindahkanlah kami dan orang-orang Muslim dari kedukaan kepada kebahagiaan, dari neraka kepada Syurga, dari azab kepada Rahmat, dari dosa kepada Ampunan, dari berbuat keburukan kepada berbuat kebajikan, dari takut kepada rasa aman, dari faqir kepada kaya, dari kehinaan kepada kemuliaan, dari kesempitan kepada kelapangan...



وَمِنَ الشَّرِّ اِلَى الْخَيْرِ, وَمِنَ اْلعُسْرِ اِلَى اْليُسْرِ, وَمِنَ اْلاِدْبَارِ اِلَى اْلاِقْبَالِ
وَمِنَ السُّقْمِ اِلَى الصِّحَّةِ , وَمِنَ السُّخْطِ اِلَى الرِّضَا , وَمِنَ اْلغَفْلَةِ اِلَى اْلعِبَادَةِ
وَمِنَ اْلفَتْرَةِ اِلَى اْلاِجْتِهَادِ, وَمِنَ الْخِذْ لاَنِ اِلَى التَّوْفِيْقِ
وَمِنَ اْلبِدْعَةِ اِلَى السُّنَّةِ, وَمِنَ اْلجَوْرِ اِلَى اْلعَدْلِ
Dari kejahatan kepada kebaikan, dari kesulitan kepada kemudahan, dari berpaling kepada menghadap bersungguh-sungguh, dari penyakit kepada kesihatan, dari Kemurkaan kepada Keredhaan, dari kelalaian kepada `ibadah, dari keengganan kepada kesungguhan, dari terhalang kepada Tertolong, dari bid`ah kepada sunnah, dari ketidakadilan kepada keadilan...



اَللَّهُمَّ اَعِنَّا عَلَى دِيْنِنَا بِالدُّنْيَا, وَعَلَى الدُّنْيَا بِالتَّقْوَى, وَعَلَى التَّقْوَى بِالْعَمَلِ
وَعَلَى اْلعَمَلِ بِالتَّوْفِيْقِ وَعَلَى جَمِيْعِ ذَالِكَ بِلُطْفِكَ الْمُفْضِى اِلَى رِضَاكَ الْمُنْهِى اِلَى جَنَّتِكَ الْمَصْحُوْبِ ذَالِكَ بِالنَّظَرِ اِلَى وَجْهِكَ اْلَكَرِيْمِ
Wahai ALLAH, Tolonglah kami atas Agama kami dengan dunia, dan pada dunia kami dengan ketaqwaan, dan pada ketaqwaan kami dengan amal, dan pada amal kami dengan Pertolongan, dan pada semuanya itu dengan KelembutanMU yang mendatangkan KeredhaanMU, yang menghantarkan ke SyurgaMU, yang disertai dengan memandang DzatMU yang Mulia...



يَا اَللهُ يَا اَللهُ يَا اَللهُ, يَا رَبَّاهُ يَا رَبَّاهُ يَا رَبَّاهُ, يَا غَوْثَاهُ يَا غَوْثَاهُ يَا غَوْثَاهُ
يَا اَكْرَمَ اْلاَكْرَمِيْنَ يَا رَحْمَنُ يَا رَحِيْمُ يَا ذَالْجَلاَلِ وَاْلاِكْرَامِ يَا ذَالْمَوَاهِبِ اْلعِظَامِ
Wahai ALLAH, wahai ALLAH, wahai ALLAH, wahai Tuhanku, wahai Tuhanku, wahai Tuhanku, wahai Penolongku, wahai Penolongku, wahai Penolongku. Wahai Dzat yang Paling Mulia di antara yang mulia, wahai yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, wahai yang Maha Memiliki Keagungan dan Kemuliaan. Wahai yang Maha Memiliki segala Pemberian yang Agung...



اَسْتَغْفِرُ اللهَ اْلعَظِيْمَ اَلَّذِى لآاِلَهَ اِلاَّ هُوَ اْلحَيُّ اْلقَيُّوْمُ وَاَتُوْبُ اِلَيْهِ
Aku memohon Ampun kepada ALLAH yang Maha Agung, yang tiada Tuhan Selain DIA,
yang Maha Hidup dan Maha Berdiri Sendiri, dan aku bertaubat kepadaNYA...



اَللَّهُمَّ اِنِّى أَسْأَلُكَ التَّوْفِيْقَ لِمَحَابِّكَ مِنَ اْلأَعْمَالِ
وَصِدْقَ التَّوَكُّلِ عَلَيْك وَحُسْنَ الظَّنِّ بِكَ, وَالْغُنْيَةَ عَمَّنْ سِوَاك
Wahai ALLAH, aku memohon Taufiq kepadaMU untuk dapat melakukan perbuatan-perbuatan yang Engkau Cintai, tawakkal yang benar terhadapMU dan baik sangkaku kepadaMU dan tidak bergantung kepada selainMU...



اِلَهِى يَا لَطِيْفُ يَارَزَّاقُ يَا وَدُوْدُ يَاقَوِيُّ يَامَتِيْنُ, أَسْأَلُكَ تَأَهُّلاً بِكَ
وَاسْتِغْرَاقًا فِيْكَ, وَلُطْفًا شَامِلاً مِنْ لَدُنْكَ وَرِزْقًا وَاسِعًا هَِنيْئًا مَرِيْئًا
وَسِنًّا طَوِيْلاً وَعَمَلاً صَالِحًا, فِى اْلاِيْمَانِ وَاْليَقِيْنِ, وَمُلاَزَمَةً فِى الْحَقِّ
وَالدِّيْنِ وَعِزًّا وَشَرَفًا يَبْقَى وَيَتَأَبَّدُ, لاَيَشُوْ بُهُ تَكَبُّرٌ وَلاَعُتُوٌّ وَلاَ فَسَادٌ
إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ
Tuhanku, wahai Dzat yang Maha Lembut, wahai Dzat yang Maha Pemberi rezki, yang Maha Pengasih, yang Maha Kuat, yang Maha Kukuh, aku memohon kepadaMU penghambaan semata kepadaMU, tenggelam dalam `ibadahMU, Kelembutan yang sempurna dari SisiMU dan rezki yang luas, yang menyenangkan dan sejahtera, umur yang panjang dan amal perbuatan yang shalih dengan penuh keimanan dan keyakinan, senantiasa berpegang dengan kebenaran dan Agama, keagungan dan kemuliaan yang tiada batas dan tiada akhir, yang tidak dinodai oleh kesombongan, tidak pula keangkuhan dan tidak pula kerosakan. Sesungguhnya Engkau Maha Mendengar lagi Maha Dekat...