Sabtu, Disember 1

Adab Ketika Sedikit Dunia Terbuka Bagi Mereka

Syeikh Abu Nashr as-Sarraj

Abu Ya’qub an-Nahrajuri berkata: Saya mendengar Abu Ya’qub as-Susi berkata: Ada seorang fakir datang kepada kami, saat itu kami sedang berada di ar-Rajan. Sementara itu, Sahl bin Abdullah juga berada di sana. Lalu si fakir tersebut berkata pada

kami, “Kalian adalah orang-orang yang biasa memberi bantuan. Saat ini kami sedang ditimpa bencana.” Maka Sahl bin Abdullah berkata, “Dalam daftar bencana telah tercatat sejak Anda memperlihatkan masalah ini. Lalu apa bencana itu?” la menjawab, “Dibukakan pada kami pintu dunia, dan aku gunakan hanya untuk diri sendiri tanpa peduli pada keluarga dekatku. Hingga saya kehilangan iman dan kondisi spiritual.” Sahl berkata kepada Abu Ya’qub, “Bagaimana pendapat Anda tentang hal ini?” Abu Ya’qub menjawab, “Bencana dalam kondisi spiritualnya lebih berat dari pada bencana dalam imannya.” Lalu Sahl berkata, “Orang seperti Anda yang pantas mengatakan ini.”
Dikisahkan dari Khair an-Nassaj -rahimahullah -yang berkata: Aku pernah masuk di sebagian masjid. Ternyata di situ ada seorang fakir yang aku mengenalnya. Ketika melihatku la langsung merangkulku dan menangis sembari berkata, “Wahai syekh kasihanilah aku, karena cobaanku sangat berat!” Lalu aku bertanya, “Wahai fulan, apakah cobaan yang Anda maksudkan?” la tetap berkata, “Wahai syekh, kasihanilah aku, karena cobaanku sangat berat!” Aku pun mengulangi pertanyaan, “Wahai fulan, apakah cobaan yang Anda maksudkan itu?” la menjawab, “Aku telah kehilangan bencana, kemudian setelah itu dibarengi dengan kesehatan (afiat). Sementara engkau tahu, bahwa hal ini adalah cobaanan yang sangat berat.” Khair an-Nassaj berkata: Si fakir itu telah di bukakan sedikit kenikmatan dunia.
Abu Turab an-Nakhsyabi - rahimahullah - berkata, “Jika berbagai kenikmatan telah melimpah pada salah seorang di antara kalian maka hendaknya ia menangisi pada dirinya. Sebab la telah menempuh jalan yang tidak ditempuh orang-orang saleh.”

Saya mendengar al -Wajihi - rahimahullah - berkata: Bunan al-Hammal dibawakan uang sejumlah seribu dinar yang dituangkan di depannya. Kemudian Bunan berkata pada orang yang menuangkan uang tersebut, “Bawalah kembali dan ambillah uang itu. Demi Allah, andaikan di atas uang tidak ada tulisan nama Allah niscaya sudah aku kencingi. Kemilaunya telah banyak menipuku.”

Al Wajihi berkata: Suatu ketika Bunan al-Hammal diberi kenikmatan duniawi berupa uang empat ratus dinar. Saat itu ia sedang tidur. Mereka meletakkannya di atas kepalanya. Kemudian Bunan mimpi seakan-akan ada orang berkata, “Barang siapa mengambil dunia lebih dari kadar yang secukupnya maka Allah akan membutakan mata hatinya.” Kemudian la terbangun, dan hanya mengambil empat daniq, sementara sisanya ia tinggalkan.

Saya mendengar Ibnu `Ulwan -rahimahullah - berkata: Ada beberapa orang membawakan uang tiga ratus dinar untuk Abu al-husain an-Nuri. Mereka telah menjual barang-barangnya untuk mendapatkan uang tersebut. Setelah menerima uang itu an-Nuri duduk di atas jembatan Sarat sambil melemparkan dinar-dinar tersebut satu demi satu ke dalam air, dan berkata, “Wahai Tuanku, dengan dinar ini Engkau ingin menipuku jauh dari-Mu.”

Dikisahkan dari Ja’far al-Khuldi - rahimahullah - yang berkata: Ibnu Zairi, salah seorang sahabat al-Junaid telah dibukakan sedikit kenikmatan duniawi sehingga la terputus dengan kaum fakir. Suatu ketika la datang kepada kami, sementara di pakaiannya terdapat kantong berisikan dirham yang cukup banyak. Ketika melihat kami dari kejauhan ia, berkata, “Wahai sahabat-sahabat kami, jika kalian sangat bangga dengan kefakiran, sementara kami bangga dengan kekayaan lalu kapan kita bisa bertemu?” Akhirnya ia melemparkan seluruh uang di kantongnya kepada kami.
Abu Said al-A`rabi berkata: Ada seorang pemuda menemani Abu Abdillah Ahmad al-Qalanisi. Kemudian selama beberapa waktu la menghilang dari al-Qalanisi. la kembali dari pengembaraannya setelah terbukakan pintu dunia dan mendapatkan harta. Kemudian kami berkata kepada al-Qalanisi, “Apakah Anda mengizinkan kami untuk datang mengunjunginya?” la menjawab “Tidak, sebab la berteman dengan kita dalam kondisi fakir. Andaikan la tetap pada kondisi semula, seyogyanya kami akan pergi mengunjunginya. Tapi apabila la kembali dari pengembaraannya dalam kondisi seperti ini maka ia yang wajib mengunjungi kami”

Abu Abdillah al-Hushri - rahimahullah - mengisahkan bahwa Abu Hafsh al-Haddad - rahimahullah - tinggal di Ramalah. la membawa dua potong pakaian usang yang di tengah-tangahnya ada uang seribu dinar. la tinggal di sana selama dua, tiga atau empat hari, dimana la tidak mau makan dari uang tersebut. Uang tersebut la berikan pada para fakir sampai habis.

Al-Hushri - rahimahullah - berkata: Di saat-saat krisis pangan kami pernah keluar bersama asy-Syibli mencari sesuatu untuk anak-anaknya. Kemudian kami masuk ke rumah seseorang dan orang itu memberinya sejumlah dirham. Kemudiankami keluar dan di kantongku telah penuh dengan dirham. Setiap berjumpa orang-orang fakir kami berikan uang itu hingga hanya tersisa sedikit. Aku berkata kepada asy-Syibli, “Tuan, anak-anak di rumah sedang kelaparan!” la balik bertanya kepadaku, “Lalu apa yang mesti aku lakukan?” Setelah melalui perjalanan yang melelahkan, baru aku membeli sedikit makanan dengan sisa dirham tersebut dan kuberikan kepada anak-anaknya.

Dikisahkan dari Abu Ja’far ad-Darraj -rahimahullah- yang berkata: Suatu ketika guru aku keluar untuk bersuci. Sementara itu aku mengambil tempat yang la gunakan untuk menyimpan barang-barangnya dan kuperiksa. Ternyata kutemukan loggam perak kira-kira senilai empat dirham. Aku bingung dengan barang ini. Sementara itu dalam beberapa hari aku tidak makan apa-apa. Ketika la pulang aku berkata padanya, “Dalam tempat tuan menyimpan barang-barang, aku temukan logam perak. Sementara pada saat itu aku dalam kondisi kelaparan.” Lalu ia bertanya padaku, “Wah! Anda ambil barang itu? Tolong kembalikan!” kemudian setelah itu la berkata lagi padaku, “Silakan ambil uang itu, dan silakan Anda membelikannya sesuatu!” Kemudian aku bertanya, “Atas Nama Tuhan Yang engkau sembah, ada apakah dengan uang perak itu?” la menjawab, “Allah tidak pernah membe¬riku rezeki sedikit dari dunia, baik logam kuning maupun logam putih selain logam perak tersebut. Aku ingin berwasiat agar logam perak tersebut dikubur bersamaku saat aku mati. Sehingga ketika hari Kiamat tiba aku ingin mengembalikannya pada Allah swt. dan kukatakan, `Wahai Tuhanku, inilah sedikit dunia yang Engkau berikan padaku’.”

Wazir al-Mu’tadh pernah memberi uang kepada Abu al-Husain an-Nuri -rahimahullah- sehingga ia mau membagikannya kepada kaum Sufi. Kemudian an-Nuri menuangkan uang itu dalam sebuah rumah dan ia kumpulkan para Sufi di Baghdad. la berkata kepada mereka, “Siapa di antara kalian yang memerlukan sesuatu silakan masuk rumah ini dan ambil apa yang la inginkan.” Maka di antara mereka ada yang mengambil seratus dirham, ada yang mengambil lebih banyak, ada yang kurang dari seratus dan ada pula yang tidak mengambil apa-apa. Ketika dirham-dirham itu habis dan tidak tersisa sedikit pun maka an-Nuri berkata kepada mereka, “Jauhnya kalian dari Allah sesuai dengan kadar banyaknya kalian mengambil uang tersebut. Sedangkan dekatnya kalian dengan Allah sesuai dengan kadar kalian meninggalkan uang tersebut.”

www.sufinews.com

Nasehat Solihin mengenai Hati

"Hati dan jasad adalah seperti seorang tuna netra ( orang buta ) dan seorang lumpuh memasuki sebuah kebun. Si lumpuh berkata kepada sang tuna netra, "Aku bisa melihat buah-buahan yang ada di kebun ini tetapi tidak dapat memetiknya, karena aku lumpuh. Kau tidak dapat melihatnya, tetapi kau tidak lumpuh. Gendonglah aku." Sang tuna netra menggendong si lumpuh, dan memetik buah-buahan tersebut, kemudian mereka memakannya.
Ruh dan jasad bekerja sama untuk berbuat maksiat kepada Allah swt, maka keduanya layak mendapat siksa."
( Sayyidina Salman Al-Farisi )

 “Orang yang berhati hasud (dengki) tidak akan meraih kemuliaan dan orang yang suka dendam, akan mati merana. Sejelek-jeleknya saudara adalah yang selalu memperhatikan dirimu ketika kamu kaya dan ia menjauhi kamu, ketika kamu dalam keadaan melarat. Bersikap rela terhadap taqdir Allah swt yang tidak menyenangkan adalah merupakan martabat yang tinggi.” ( Sayyidina Ali Zainal Abidin Ra )

“Jika telah ada akar yang tertanam dalam kalbu, maka lidah akan berperan sebagai pemberi kabar cabangnya.”
( Imam Syafi’i )

"Doa' kalian tidak terkabul karena hati kalian telah mati, dan penyebab matinya hati kalian adalah sepuluh Hal : 1. Kalian mengenal Allah swt, tetapi tidak memenuhi hak-haknya.
2. Kalian mengaku cinta kepada Rasulullah saw, tetapi tidak mengikuti sunah-sunahnya.
3. Kalian membaca Al-Qur'an , tetapi tidak mengamalkan isinya.
4. Kalian menikmati berbagai karunia Allah swt, tetapi tidak bersyukur kepadanya.
5. Kalian nyatakan setan sebagai musuh, tetapi tidak menentangnya.
6. Kalian nyatakan surga itu benar-benar ada, tetapi tidak beramal untuk memperolehnya.
7. Kalian nyatakan neraka itu ada, tetapi tidak berusaha untuk menghindarinya.
8. Kalian nyatakan kematian itu pasti datang, tetapi tidak bersiap-siap untuk menyambutnya.
9. Sejak bangun tidur kalian sibuk meneliti dan memperbincangkan aib ( keburukan ) orang lain dan melupakan aib ( keburukan ) kalian sendiri.
10. Kalian kuburkan mereka yang meninggal di antara kalian, tetapi tidak pernah memetik pelajaran darinya.
( Syekh Ibrahim bin Adham )

“Sedikit amal dari hati menyamai amal seluruh manusia dan jin.”
( Sayyidina Syekh Abu Bakar bin Salim Ra )

“Hendaknya kalian senantiasa menghadirkan hati kalian kepada Allah SWT dan hendaknya kalian bertawakal kepadanya sepenuh hati, sebab Allah SWT mengetahui di manapun kalian berada.”
( Imam Qutbil Anfas Habib Umar bin Abdurrahman Al-Aththas )

"Orang yang menggunakan masa sehatnya untuk bermaksiat kepada Allah swt adalah seperti seorang anak yang mendapat warisan dari ayahnya sebesar seribu dinar, kemudian ia gunakan semua uang itu untuk membeli ular dan kalajengking yang sangat berbisa yang kemudian mengelilingi dan menggigitnya. Bukankah ular dan kalajengking tersebut akan membunuhnya?
Kamu gunakan masa sehatmu untuk bermaksiat kepada Allah swt, maka nilaimu adalah seperti burung pemakan bangkai yang terbang berkeliling mencari bangkai, dimana pun ia dapatkan, maka ia segera mendarat.
Jadilah seperti tawon, kecil tetapi memiliki cita-cita yang mulia. Ia hisap wewangian dan ia produksi madu yang enak.
Engkau sudah terlalu lama bergelimang kemaksiatan, kini terjunlah ke dalam hal-hal yang dicintai Allah 'Azza wa Jalla.
Telah kujelaskan hakikat permasahan ini kepadamu, tetapi orang yang lalai tidak akan sadar meskipun memperoleh berbagai rencana. Sebab wanita yang kurang waras akalnya ketika putranya mati, ia justru tertawa. Begitu pula dirimu, engkau tinggalkan shalat malam, puasa sunah dan berbagai amal shaleh lain yang dapat kau kerjakan dengan seluruh anggota tubuhmu, tetapi tidak sedikitpun engkau merasa sakit. Kelalaian telah membunuh hatimu. Orang hidup akan merasa sakit ketika tertusuk jarum, akan tetapi, sesosok mayat tidak akan merasa sakit meskipun tubuhnya di potong-potong dengan sebilah pedang. Saat ini hatimu sedang mati, karena itu duduklah di majelis yang penuh hikmah,sebab, di dalamnya terdapat hembusan karunia dari surga. Hembusan karunia itu dapat kamu temukan di rumahmu, di perjalananmu. Jangan tinggalkan majelis hikmah ( majelis ilmu ), andaikata dirimu masih melakukan banyak maksiat, jangan berkata : Apa manfaatnya aku datang ke majelis ilmu, sedangkan aku senantiasa bermaksiat dan tidak mampu meninggalkannya.
Akan tetapi, lepaskan busur panahmu selalu, jika hari ini tidak tepat sasaran, bisa jadi besok tepat sasaran."
( Ibnu 'Atha illah Askandari )

"Jika ingin membersihkan air maka akan kau singkirkan segala hal yang dapat mengotorinya. Anggota tubuhmu ini seperti selokan-selokan yang bermuara ke hati. Karena itu jangan kau alirkan kotoran ke dalam hatimu, seperti pergunjingan, pengadu dombaan, ucapan yang buruk, pandangan yang haram dan lain sebagainya. Hati akan bercahaya dengan memakan makanan halal, berdzikir, membaca Al-Qur'an dan menjaga mata dari pandangan yang tidak mendatangkan pahala, pandangan yang kurang disukai agama dan pandangan yang haram. Jangan biarkan matamu memandang sesuatu, kecuali jika pandangan itu menambah ilmu dan hikmahmu."
( Ibnu 'Atha illah Askandari )

“Jika seorang hamba memedulikan penyakit hati seperti penyakit badan, niscaya mereka akan mendapatkan tabib di hadapan mereka. Tetapi, sedikit sekali yang membahas masalah ini, karena mereka telah dikuasai nafsu dan akal.”
( Imam Qutb Al-Arif billah Habib Ali bin Muhammad Al-Habsyi )

“Hati yang bersih siap menerima karunia-karunia Allah swt. Sedang hati yang kotor tidak dapat menampung karunia Allah swt.”
( Imam Qutb Habib Ahmad bin Hasan Al-Aththas )

“Hati manusia seperti Baitul Ma’mur. Setiap hari ada 70.000 malaikat yang thawaf mengelilinginya hingga hari kiamat. Dalam 24 jam hati 70.000 bisikan dan setiap bisikan dipegang oleh seorang malaikat.”
( Imam Qutb Habib Ahmad bin Hasan Al-Aththas )

"Ketahuilah bahwa Allah swt akan memberikan kepada hambanya segala apa yang dipanjatkan sesuai dengan niatnya. Menurut saya Allah swt niscaya akan mendatangkan segala nikmat-Nya di muka dunia, dengan cara terlebih dahulu Dia titipkan di dalam hati hamba-Nya yang berhati bersih. Untuk itu kemudian dibagi-bagikan kepada hamba-Nya yang lain. Amal seorang hamba tidak akan naik dan diterima Allah swt kecuali dari hati yang bersih. Ketahuilah wahai saudaraku, seorang hamba belum dikatakan sebagai hamba Allah swt yang sejati jika belum membersihkan hatinya!“
( Imam Qutb Habib Abu Bakar bin Muhammad Assegaf )

"Ketahuilah wahai saudara-saudaraku, hati yang ada di dalam ini ( sambil menunjuk ke dada beliau ) seperti rumah, jika dihuni oleh orang yang pandai merawatnya dengan baik, maka akan nampak nyaman dan hidup; namun jika tidak dihuni atau dihuni oleh orang yang tidak dapat merawatnya, maka rumah itu akan rusak dan tak terawat. Dzikir dan ketaatan kepada Allah swt merupakan penghuni hati, sedangkan kelalaian dan maksiat adalah perusak hati.“
( Imam Qutb Habib Abu Bakar bin Muhammad Assegaf ) 

Lima Jenis Kegilaan

Oleh: Muhammad Raheem Bawa Muhaiyaddeen

Terdapat berbagai jenis kegilaan di dunia ini. Kita akan membahas lima jenis kegilaan yang paling umum.

* Gila yang berasal dari akal pikiran
* Gila akan wanita,
* Gila akan uang,
* Gila akan mabuk-mabukan,
* Gila akan kebijaksanaan.

Pada sebuah persimpangan jalan di dekat taman, berdiri sebuah pohon yang teduh. Lima orang dengan lima jenis kegilaan duduk bersama di bawah pohon tersebut. Mereka berbicara dengan diri mereka sendiri. Bagi orang yang berlalu-lalang, lima orang ini terlihat sama, tetapi terdapat alasan yang berbeda atas kegilaan mereka.

Manusia yang sakit jiwa mengambil semua serpihan kertas dan lembaran daun kering yang ada di tanah dan meletakkannya di sekitar tangannya sembari mengoceh, “Kau pergi ke sini, kau pergi ke sana.”

Dia yang terobsesi oleh wanita mengambil semua serpihan kertas dan mengira bahwa kertas itu adalah surat cinta. Dia berkomat-kamit, “Kekasihku menulis ini, kekasihku menulis itu. Kekasihku berkata, ‘Aku akan datang kepadamu!’”

Dia yang terobsesi oleh uang mengambil semua serpihan kertas, melihatnya, membolak-baliknya, dan mengomel kepada dirinya sendiri, “Bank ini, bank itu. Rekening ini, rekening itu. Simpananku.”

Dia yang gila karena mabuk berdiri dan berjalan sempoyongan di jalan, menabrak orang lain dan benda-benda yang ada di sekitarnya. Akhirnya, dia terjatuh tak sadarkan diri di jalan, dan maling merampok pakaiannya. Ketika dia sadar kembali dia begitu malu, sehingga dia kembali ke rumah, bertengkar dengan istrinya, dan menyalahkan keluarganya atas kesalahannya.

Tetapi dia yang terobsesi oleh kebijaksanaan mengambil sebuah daun kering yang telah mati dan tersenyum dengan sedih. “Sungguh indah ketika engkau masih bersatu dengan batangmu. Pada awalnya engkau adalah sebuah daun indah yang berwarna hijau yang menyejukkan orang lain. Kemudian engkau berubah menjadi kuning, dan saat ini warnamu menjadi sama dengan tanah. Engkau adalah daun kering yang akan kembali ke tanah sebagai pupuk. Setiap orang dan segala sesuatu akan mendapatkan takdir yang sama. Setiap orang dan segala sesuatu menjadi makanan bagi tanah.” Dia tertawa dan menangis, tetapi bukan dari dalam dirinya.

Manusia yang terobsesi dengan kebijaksanaan tertawa karena penjelasannya sendiri. Dia berkata, “Sungguh inilah kehidupan! Oh Tuhan, aku mencari-Mu dan menjadi gila. Engkaulah satu-satunya dokter yang dapat menyembuhkan kegilaanku. Jika Engkau tidak datang, aku akan mati seperti daun ini. Engkaulah Tuhan yang menciptakan, melindungi, dan merawatku. Engkaulah Tuhan yang memahami dan mengerti akan diriku. Berikanlah aku obat rahmat, cinta dan kebijaksanaan-Mu dan penuhilah kebutuhan-kebutuhanku. Aku adalah budak-Mu di dunia ini.” Hatinya terbuka, dan dia berserah diri kepada Tuhan.

Empat orang lainnya tidak menyadari hal ini. Mereka berbicara akan apa yang ada di dalam diri mereka. Tetapi bagi dunia, kelima orang ini terlihat gila.

Anakku, pahamilah keadaan ini. Jangan mengikuti apa yang dunia lakukan. Jika engkau melihat seseorang yang benar-benar mengerti akan dirinya, kehilangan dirinya dalam meraih kebijaksanaan, dan mati dalam Tuhan, engkau sebaiknya menghormatinya dan belajar kebijaksanaan dan kata-kata baik darinya. Hal itu akan menjadikan engkau mulia.

Muhammad Raheem Bawa Muhaiyaddeen

*********

Edisi Inggris “Five Common Types of Insanity” Oleh M. R. Bawa Muhaiyaddeen. Diterjemahkan oleh Dimas Tandayu.

Ahad, November 25

Risalatul Murid 11 - 13


FASAL {11}

Ketahuilah bahawa permulaan perjalanan itu adalah kesabaran dan akhirnya kesyukuran, mulanya kepenatan akhirnya keselesaan, mulanya kepayahan akhirnya pembukaan dan sampai ke medan yang diharapkan. Itulah makam pengenalan, di mana tercapainya hamba kepada makrifat serta terhibur dengannya. Sehinggalah bersimpuh di hadapan pintu Sang Pencipta yang Mulia bersama para Malaikat.

Barangsia
pa mengasaskan dirinya di setiap urusan dengan kesabaran maka ia akan mencapai kemuliaan dan dapat memilih segala yang dicita-citakan.

Barang diketahui sesungguhnya nafsu itu bermula dengan nafsu Ammarah (nafsu yang mengajak kepada keburukan). Tugasnya menyeru manusia berbuat jahat dan melarang berbuat baik. Sekiranya manusia berusaha (mujahadah) dan sabar dalam menentangnya maka nafsu akan bertukar kepada Lawwamah yang mencela. Sekiranya manusia berusaha (mujahadah) dan sabar dalam menentangnya maka nafsu akan bertukar kepada Mutma'innah yang tenang. Ia boleh berubah di antara dua keadaan. Jika ia berjaya nescaya ia akan berupaya menuju kepada ALLAH. Ketika itu ia akan memandunya ke sisi ALLAH - mendorong diri berbuat kebaikan dan kelazatannya; menjauhi dari melakukan kejahatan serta membencinya dan menjadi orang yang memiliki jiwa yang tenang.

Perkara yang menjadi kehairanan terhadap manusia ialah apabila mereka mencanggahi sebarang ketentuan dan ketaatan sedangkan di dalamnya ada kesenangan, ketenteraman dan aman. Demikian juga orang yang suka melakukan maksiat dan dosa, sedangkan keadaan di dalam maksiat itu keluh kesah, keasingan, pembohongan. Mereka menyangka melakukan sesuatu yang benar dalam kedua-dua perkara, seperti yang dirasai oleh jiwa yang tenang.

Kemudian dia kembali menyemak dirinya. Mengingati apa yang pernah dia rasai ketika mengikut dorongan syahwat dan kelazatannya. Dibandingkan pula dengan amalan ketaatan dan kejerihannya. Maka dia dapati tidak akan sampai kepada tahap ini, kecuali dengan mujahadah yang lama di samping mendapat inayah daripada ALLAH.

Maka perlu diketahui kesabaran dalam menghadapi maksiat dan syahwat serta sentiasa melakukan ketaatan, satu-satunya jalan kejayaan yang akan membawa kepada makam yang mulia serta murni. Sebagaimana yang ALLAH telah nyatakan dalam firman-Nya:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اصْبِرُوا وَصَابِرُوا وَرَابِطُوا وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

Ertinya: "Wahai orang-orang yang beriman, bersabarlah dan jadilah orang-orang yang sabar, berhubunglah dan bertaqwalah kepada ALLAH moga-moga kamu berjaya." [Ali Imran: 200]

Firman-Nya lagi:

وَتَمَّتْ كَلِمَتُ رَبِّكَ الْحُسْنَىٰ عَلَىٰ بَنِي إِسْرَائِيلَ بِمَا صَبَرُوا ۖ

Ertinya: "Sempurnalah kalimah ALLAH yang Mulia terhadap kaum Bani Israel di atas kesabaran mereka." [ Al-A'af: 137]

Firman-Nya lagi:

وَجَعَلْنَا مِنْهُمْ أَئِمَّةً يَهْدُونَ بِأَمْرِنَا لَمَّا صَبَرُوا ۖ وَكَانُوا بِآيَاتِنَا يُوقِنُونَ

Ertinya: "Kami juga telah jadikan mereka pemimpin membawa hidayah dalam urusan Kami kerana kesabaran dan keyakinan mereka dengan ayat-ayat Kami."
[As-Sajdah: 24]

Di dalam Hadith Qudsi disebutkan, mafhumnya:

" Yang paling sedikit apa yang Aku telah berikan kepada kamu ialah keyakinan dan keazaman sabar. Barangsiapa yang telah diberikan bahagiannya, maka janganlah dihiraukan barang yang luput dari bangun malam (Qiamul-laiL) dan puasa siang hari."
FASAL {12}

Barangsiap diuji dengan kesusahan dan kemiskinan seharusnya bersyukur kepada ALLAH dan merasakan ia adalah sebesar-besar ni'mat, kerana dunia itu adalah musuh orang-orang yang bertaqwa. Syukurlah kepada ALLAH kerana menyerupai sifat para nabi-nabi, wali-wali dan orang-orang yang salih.

Junjungan mulia, semulia-mulia hamba ALLAH di bumi ini Saiyyidina Muhammad sallallahu 'alaihi wasallam pernah mengikat perutnya dengan batu disebabkan lapar. Pernah juga sehingga lebih dua bulan dapur rumah Baginda s.a.w tidak pernah menyala apinya kerana tiada apa-apa yang hendak dimasak. Sekadar mengalas perut dengan air dan tamar. Ketika dikunjungi oleh tetamu, Rasulullah s.a.w mencari apa-apa yang boleh dijamu di rumah-rumah isteri Baginda s.a.w. Namun malangnya sedikit pun tidak didapati. Di hari kewafatan Baginda s.a.w, perisai Baginda s.a.w masih tergadai pada seorang Yahudi untuk mendapat beberapa cupak gandum. Sehinggalah tida seorang pun di rumah Baginda s.a.w dapat makan dengan gandum yang hanya sedikit.

Binalah niat dan kemahuan dalam perjalanan ini dengan bersih. Jadikan diri sekadar dan seadanya, dengan sehelai kain untuk menutup aurat. Sedikit makanan yang dapat menghilangkan rasa lapar. Hati-hatilah daripada racun yang boleh membunuh, iaitu telalu seronok dan gembira dengan ni'mat dunia. Ketahuilah setiap bentuk ni'mat yang diperolehi akan dipesoal. Sekiranya hamba itu mengetahui betapa kejerihan yang dialami, kesusahan yang dihadapi dan kebimbangan yang dikecapi oleh pencari dunia niscaya ia akan dapati dari pencariannya lebih dahsyat dari apa yang diperolehi.

Memadailah orang yang mengejar dunia mendapat celaan dari ALLAH seperti yang tertera dalam firman-nya:

وَلَوْلَا أَن يَكُونَ النَّاسُ أُمَّةً وَاحِدَةً لَّجَعَلْنَا لِمَن يَكْفُرُ بِالرَّحْمَٰنِ لِبُيُوتِهِمْ سُقُفًا مِّن فِضَّةٍ وَمَعَارِجَ عَلَيْهَا يَظْهَرُونَ. وَلِبُيُوتِهِمْ أَبْوَابًا وَسُرُرًا عَلَيْهَا يَتَّكِئُونَ. وَزُخْرُفًا ۚ وَإِن كُلُّ ذَٰلِكَ لَمَّا مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا ۚ وَالْآخِرَةُ عِندَ رَبِّكَ لِلْمُتَّقِينَ

Ertinya: "Kalaulah tidak kerana manusia ini ummah yang satu niscaya Aku kurniakan kepada orang-orang kafir itu istana yang beratapkan perak, bumbung-bumbungnya yang besar megah, rumah yang banyak biliknya, katil-katil yang terukir indah tempat mereka berehat dan itulah keseronokan dunia. Sebenarnya habuan (istimewa) di akhirat hanya untuk orang-orang yang bertaqwa."
[Az-Zukhruf: 33-35]

Sabda Rasulullah s.a.w, Ertinya: "Dunia itu penjara bagi orang mukmin, Syurga bagi orang kafir. Kalaulah berat dunia itu setimbang kepaknya lalat di sisi ALLAH, niscaya tidak akan dapat minum orang kafir walau seteguk air." Sesungguhnya ALLAH SWT tidak pernah memandangnya semenjak ia (dunia) dicipta.

Ketahuilah bahawa rezeki itu ada yang telah ditetapkan dan ada yang telah dicatukan. Ada hamba dimurahkan rezeki seluas-luasnya. Ada juga sebaliknya.  Itulah hikmah ALLAH. Andainya rezeki yang telah ditentukan itu sempit sebaiknya bersabar, redha dan bersikap sederhana atas apa yang telah dikurniakan. Andai pula rezeki yang dikurniakan itu agak luas dan mewah. Gunakanlah rezeki itu dengan sempurna dan secukupnya. Lebihannya hendaklah dibelanjakan ke arah kebaikan.

Apabila seseorang ingin menuju kepada ALLAH, bukanlah seorang itu dimestikan atau terpaksa meninggalkan hartanya. Tidak perlu ia meninggalkan profesionnya, perniagaannya dan minatnya. Bahkan apa yang menjadi kepastian wajiblah sentiasa dalam taqwa di setiap gerak gerinya. Tidak meninggalkan kewajipan dan amalan-amalan sunnah. Tidak juga melakukan kemungkaran dan perkara-pekara sia-sia.

Ilmu, hati dan agama seseorang tidak akan menjadi sempuna kecuali menjadikan dunia di belakangnya. Harta kemewahan atau sebarang sebab-sebab duniawi tidak dijadikan matlamat. Seandainya para ahli suluk memiliki keluarga, wajib baginya bertanggungjawab terhadap makan minum dan pakaian mereka. Kecuali orang-orang yang tidak berupaya.

Tiada siapa yang mampu untuk mempertahankan dirinya untuk kekal dalam ketaatan, meninggalkan segala macam maksiat dan meninggalkan dunia. Selain setiap individu itu hendaklah menyedari yang semuanya akan pergi ke alam yang kekal. Maka bersedialah untuk mati, kerana pemergian itu boleh berlaku pada bila-bila masa.

Tidak boleh kita panjangkan harapan. Inilah yang akan menjadi punca cintakan dunia, sehingga jadi malas dan senang melakukan maksiat.

FASAL {13}

Banyak perkara-perkara buruk yang menimpa ahli suluk, seperti pengkhianatan, pemulauan dan penghinaan. Walau apa pun, mereka perlulah sentiasa bersabar, tidak menyimpan dendam dan sentiasa bersih hati dari rasa dengki serta menyembunyikan rasa marah.

Jangan pula senang mendoakan orang-orang yang berlaku jahat dengan kejahatan. Tidak boleh juga mengharapkan kecelakaan menimpa mereka. Setelah bersabar, sebaiknya memaafkan segala kejahatannya. Doakan kebaikan untuknya. Demikianlah akhlak orang-orang yang Siddiqin.

Anggaplah segala perilaku orang lain sebagai satu ni'mat dari ALLAH. Tidak mustahil jika mereka sentiasa bersama-sama dengan para ahli suluk akan menyebabkan orang-orang menjadi sibuk. Seandainya berlaku pemujian dan mengagungkan seseorang maka ketika itu hati-hatilah dengan fitnah itu. Bersyukurlah kepada ALLAH atas segala-galanya.

Seandainya para ahli suluk merasa bimbang terhadap amalannya itu menjadi lakonan semata-mata, sebaiknya pada ketika itu ia menjauhkan diri (seketika) dari orang ramai yang mengenalinya ke tempat yang belum ada mengenalinya.

Pastikan diri sentiasa tersembunyi dari rasa megah. Jauhilah rasa ingin menjadi terkenal dan sebutan orang lain. Itulah sebenar-benar fitnah dan ujian. Para salaf berkata; "Demi ALLAH tidak menjadi ahli Siddiq kecuali hamba itu langsung tidak merasa apa-apa dengan kedudukannya."

"Orang yang dirinya paling senang menjadi terkenal di sisi manusia maka hilanglah agamanya."





Risalatul Murid 8 - 10


FASAL {8}

Hindarilah diri setiap ahli suluk dari meninggalkan ibadah Jum'at dan berjemaah. Perbuatan ini hanyalah perilaku orang-orang yang menganggur dan bodoh.

Peliharalah juga amalan-amalan sunnah Qabliah dan Ba'diah (sembahyang sunat
sebelum dan selepas). Lazimkan diri dengan solat Witir dan Dhuha. Mestikanlah menghidupkan antara Maghrib dan Isya'.

Imarahkan juga waktu selepas Subuh sehingga terbit matahari, waktu selepas Asar hingga Maghrib. Peliharalah kedua-dua waktu yang amat suci ini. ALLAH melimpahkan padanya dengan bermacam bentuk kurniaan kepada hamba yang mengimarahkan dan memperbanyakkan ibadah.

Menghidupkan waktu Subuh merupakan waktu yang boleh menarik segala himpunan rezeki jasmani. Selepas asar pula mampu menghimpunkan anugerah kerohaniaan.

Demikianlah apa yang telah dilakukan secara mujarrab oleh orang-orang yang Arifin. Di dalam aL-Hadith:

Ertinya: "Sesungguhnya orang yang duduk di tempat sembahyangnya mengingati ALLAH selepas subuhnya akan mempercepatkan mndapatkan rezeki berbanding orang yang musafir di segenap ufuk."
FASAL {9}

Perkara yang tidak kurang penting dalam jalan menuju kepada ALLAH selain menunaikan segala perintah dan meninggalkan segala larangan, ialah berzikir pada setiap masa dan tempat dengan hati dan lidah.

Zikir ini mestilah terhimpun padanya segala macam faedah zahir dan batin. Tiada lainnya iaitu kalimah "LAA ILAAHA ILLALLAH". Zikir ini yang menjadi permulaan pejalanannya. Dan zikir bagi a
hli yang sudah sampai ke kemuncak kebahagiaan.

Barangsiapa yang melakukannya nescaya pasti dia akan mengecapi rahsia perjalanannya dan terpancarlah sinaran hakikatnya.

Hendaklah sentiasa duduk iktikaf, berzikir pada ALLAH dengan jiwa yang hadir, adab yang sempurna, semangat yang membara dan dorongan yang kuat. Tidak akan terhimpun erti-erti dari makna ini pada setiap individu sehingga terbuka baginya rahsia di alam malakut yang indah. Akan terbuka baginya rohnya hakikat alam yang suci. Ia akan menyaksikan dengan mata hatinya keindahan dan kesucian yang Maha Agung.

Para ahli suluk juga mestilah banyak bertafakkur.

Tafakkur ini pula di atas tiga bahagian:

[1] Tafakkur tentang keajaiban kuasa dan keindahan Sang Penguasa yang Maha Agung sama ada di langit mahu pun di bumi.

[2] Tafakkur di atas ni'mat ALLAH yang tidak terhitung. Pengaruh yang terdapat di alam ni'mat itu sendiri, serta kecintaan kepada ALLAH.

[3] Tafakku dalam soal kehidupan dunia dan akhirat serta keadaan makhluk yang ada, sehinggalah terbina jiwa yang tidak tunduk kepada dunia bahkan sentiasa mencari kebahagiaan akhirat.

Hal ini telah kami perjelaskan secara teliti di dalam kitab "Risalah Al-Mu'awwanah". Bolehlah membacanya bagi sesiapa yang berminat.

FASAL {10}

Seandainya diri anda terasa malas dalam menunaikan ketaatan dan merasa berat untuk melaksanakan kebaikan, pulihkanlah dengan pengharapan yakni "al-Raja' ". Sentiasa mengingati ALLAH dan janji-Nya kepada orang-orang yang ta'at iaitu kejayaan yang agung, ni'mat yang kekal, kemenangan, keredhaan, kekal di dalam Syuga, ketinggian, kedudukan di sisi ALLAH dan hamba-Nya.

Seandainya pula dir
i anda disentuh oleh perilaku yang bercanggah dengan syara' dan cenderung kepada keburukan, maka dindingilah dengan benteng takut yakni "al-Khauf". Ia mampu menyedarkan dan memandu kita. Ingatlah amaran ALLAH tentangnya iaitu kehinaan, balasan buruk, kemurkaan, ketinggalan, pengharaman, kegersangan dan kerugian yang amat nyata.

Janganlah sampai tepengaruh dengan sebarang bicara kosong orang-orang yang mempermudahkan urusan Syurga dan Neraka.

Agungkanlah apa-apa yang yang telah dimuliakan ALLAH dan Rasul. Berbuatlah amal kerana ALLAH, Tuhan sekalian makhluk. Mohonlah Syurga-Nya dan minta dijauhkan dari Neraka-Nya dengan rahmat dan kurniaan-Nya.

Jika syaitan berkata: "Bahawa ALLAH itu Maha Kaya, Ia tidak perlu kepada amalan hamba yang tidak akan memberi sebarang manfaat atau mudharat kepada ALLAH, demikian juga dengan maksiat." Cukup dijawab kepada bicara itu "Benar kamu, tetapi aku adalah hamba yang sangat berhajat kepada kelebihan ALLAH dan amalan saleh. Berhajat kepada ketaatan yang memberi manfaat kepada hamba-Nya. Kami amat takut perkara maksiat yang akan memudharatkan kami." Hal ini telah disebut oleh ALLAH dalam Hadith Qudsi-Nya:

"Seandainya dibisikkan oleh syaitan kepada hamba, sedangkan hamba itu telah ditentukan sebagai orang-orang yang berbahagia, nescaya tanpa syak lagi ia akan menjadi ahli Syurga, walaupun hamba itu ahli yang taat atau maksiat. Seandainya hamba itu telah ditentukan sebagai orang yang durjana, maka sudah pasti ia akan menjadi penghuni Neraka, walaupun hamba itu seorang ahli ibadat yang taat."

Janganlah sesekali mendengar bicara itu. Urusan ini adalah ketentuan ALLAH semenjak azali. Tiada sesiapa yang mengetahui perkara ghaib kecuali ALLAH. Urusan ini juga tiada sesiapa pun yang boleh mencampurinya.

Ketaatan adalah perkara yang telah diputuskan dalam janji ALLAH dengan kebahagiaan. Tiada sebarang pendinding di antara orang-orang yang taat dan Syurga ALLAH, sekadar kematian dalam keluhuran.

Kemaksiatan telah diputuskan dalam janji-Nya dengan kecelakaan. Tiada sebarang pendinding di antara oang-orang yang maksiat dengan Neraka ALLAH sekada kematian dalam kemaksiatan.