Selasa, Oktober 30

Bismillah

Awali semuanya dengan Bismillah

Dengan “bismillah” kita bisa mulai. Tanpa “bismillah” tidak ada kekuatan Ilahi yang bisa membantu hamba-hamba-Nya. Grandsyaikh ‘Abdullah Fa’iz ad-Daghestani berbicara mengenai sebuah perilaku yang baik bagi setiap orang, beliau mengatakan bahwa kita adalah ummat manusia. Suatu ketika seorang yang terpandang datang berkunjung, dalam hatinya dia merasa bahwa dia adalah sesuatu. Kita harus menggunakan bahasa yang lain untuk berbicara kepadanya daripada berbicara kepada orang yang berkata, “Saya bukan apa-apa.” Grandsyaikh berkata kepadanya, “Bicaralah kepada kami, atau izinkan kami untuk berbicara.” Dia menjawab, “Anda boleh bicara, saya mendengarkan.”

Apakah kalian pikir menjadi seorang pendengar itu adalah sesuatu yang mudah? Benar atau salah. Setiap orang bisa berbicara, karena itu adalah suatu kesenangan bagi dirinya. Ego senang untuk berbicara dan menonjolkan dirinya, tetapi seorang pendengar harus bersifat rendah hati. Grandsyaikh membalas kepada orang itu, “Wahai saudaraku, orang yang mau mendengar adalah orang yang tidak sombong.” Seorang pendengar selalu mendapatkan sesuatu. Seorang pembicara terlebih dahulu harus menjadi pendengar, kalau tidak maka kata-katanya akan menjadi racun dan membawa penyakit bagi yang mendengarkan. Dalam setiap agama dan kepercayaan, hal pertama yang diberikan kepada para pengikutnya adalah, “dimohon untuk tenang dan diam.” Jika seseorang tidak bisa memandang orang lain lebih tinggi darinya, dia tidak bisa menjadi seorang pendengar dan dengan demikian dia tidak bersifat rendah hati. Allah bisa memberi hikmah kepada siapa saja, jika kalian mendengarkan, kita bisa mendapatkannya dari orang itu.

Menjadi seorang pendengar adalah karakteristik utama yang dimiliki seorang Rasul, karena mereka semua mendengarkan malaikat Jibril as. Pendengar adalah pembeli sedangkan pembicara adalah penjual. Pembeli adalah orang yang mendapat sesuatu. Sebuah perilaku yang baik bagi semua Rasul dan Awliya serta para ulama adalah memiliki paling sedikit satu orang yang bisa didengarkan. Jika seseorang tidak menerima bahwa orang lain lebih tinggi darinya, berarti dia mempunyai level yang sama dengan Setan, yang berkata, “Di alam semesta ini tidak ada yang lebih tinggi dariku.” Seorang anak kecil yang duduk di bangkunya di sekolah bersama seorang anak di depannya berpura-pura mengendarai kereta kuda yang membawa mereka pergi ke Aleppo. Anak yang di depan bertindak sebagai kuda yang dikekang, dan seperti inilah orang-orang yang tidak mau mendengar, mengalami kemajuan.

---Maulana Syaikh Muhammad Nazhim Adil al-Haqqani

Rabu, Oktober 24

Pengetahuan dan Hikmah

Sulthonul al-awliya Mawlana Syaikh Muhammad Nazim Adil al-Haqqani


Mintalah segala sesuatu kepada Yang bisa memberikannya kepadamu. Mintalah apa yang kalian mau kepada Tuhanmu, Dia memberikannya dengan cuma-cuma, dan kita adalah hamba-Nya.

Hal yang paling penting adalah untuk mengenal Allah dan percaya kepada-Nya. Semakin kalian mengenal-Nya, hati kalian akan tenang, tidak ada keraguan dalam diri kalian baik di kehidupan ini maupun di hari kemudian. Hal itu sudah dijamin oleh Allah .

Dia tidak pernah menolak permintaan hambanya, tetapi kadang-kadang mereka memintanya melalui ego mereka, dan bisa jadi hal itu tidak cocok untuk diberikan kepada mereka di sini. Maka Allah akan memberikannya untuk kehidupan di alam berikutnya. Setiap hamba dapat meminta apa saja, tetapi jika tidak cocok dengan Hikmah Ilahi, permintaan itu akan dikabulkan di hari kemudian.

Cobalah untuk meraih lebih banyak pengetahuan dan hikmah mengenai Tuhan. Hal itu akan membantu kalian mencapai stasiun surgawi. Pengetahuan saja tidak cukup, sebab itu hanya dirancang untuk kehidupan di dunia.

Untuk mencapai surga, kalian membutuhkan hikmah, dan kalian harus mencarinya. Seluruh Rasul dan Awliya telah diberi hikmah, dan mereka menggunakannya untuk mendekatkan diri kepada Tuhan. Jika kalian memintanya, kalian akan diberi.

Orang-orang Eropa sangat suka membaca pepatah tua yang mengandung hikmah, tetapi apa gunanya? Jika kalian tidak diberi secara pribadi, itu hanya seperti membuat fotocopy cek senilai satu juta dollar, kalian tidak bisa menggunakannya.

Tetapi kalian harus berusaha meraih posisi yang diridhai Allah , maka Dia akan memberimu hikmah. Jika Dia tidak ridha maka Dia tidak akan memberikannya kepadamu. Di sana terdapat Samudra Hikmah tanpa batas, Dia bisa memberikannya tanpa batas, sebanyak yang kalian bisa ambil.

Begitu banyak orang yang membaca dan membaca—tetapi itu saja tidak cukup. Kalian harus mengetahui bagaimana Rasul dan Awliya melakukan khutbahnya. Mereka membuat Tuhan ridha kepada mereka. Bagaimana? Jika kalian mengetahuinya, itu akan membuat Samudra Hikmah terbuka, bagaikan roket kalian harus bisa mencapai angkasa. Kalian membutuhkan latihan dan perawatan.

Latihan melawan ego membuat Tuhan senang kepadamu. Ego menuntut untuk menjadi raja, untuk mengendalikan kalian seperti yang dia inginkan, tidak seperti yang diinginkan oleh Tuhan. Jika kalian membuat ego tidak senang, Tuhan akan senang kepadamu.

Kita sangat berat dengan keinginan tubuh kita yang tidak dapat kita bawa dari bumi ke surga. Grandsyaikh Abdullah Fa’iz ad-Daghestani berkata, "Ego mempunyai 80.000 ikatan untuk mengikat dirimu kepadanya dan kepada dunia. Jika kalian tidak memotongnya satu per satu, kalian tidak akan bebas.

Sangat penting untuk dilatih oleh seorang yang ahli, yang akan mengarahkan kalian keluar dari hegemoni ego kalian. Kalian tidak bisa melakukannya sendiri. Hal itu adalah mustahil walaupun dengan membaca 1.000 buku.


Jika kalian tidak menemukan guru yang sejati, kalian tidak akan bisa memutuskan ikatannya. Begitu banyak ahli palsu yang banyak dikejar-kejar orang, padahal mereka tidak akan pernah mencapai kemajuan, karena mereka bukanlah guru yang sejati. Guru-guru palsu tersebut tidak bisa melakukan apa-apa. Orang-orang Eropa kebanyakan membuang-buang waktu mereka bersama guru-guru palsunya. Mereka berkata, "Tutup matamu, …sekarang kalian mencapai level pertama, kedua, ketiga dan seterusnya," tetapi ketika orang membuka matanya, mereka masih berada di bumi. Jika kalian tidak memotong hubungan fisikmu dengan bumi, mesin spiritualmu tidak akan mengangkatmu ke angkasa. Ini sangat penting.

Begitu banyak yang meniru Maulana Rumi, tetapi sekarang itu hanya pertunjukkan darwis yang berputar-putar sedangkan Maulana sungguh terangkat dengan 3 langkah.

Sangat sulit menemukan guru yang sejati, begitu pula untuk mengikutinya. Jika kalian kehilangan langkah, kalian tidak bisa bergerak. Mesin kereta api hanya satu, dan seluruh gerbong berada dalam rel yang sama. Jika salah satu keluar rel, dia tidak dapat melanjutkan perjalanannya. Rasulullah menuju Kehadirat Ilahi dan beliau mengundang kita untuk datang bersamanya. Beliau meninggalkan para penerusnya untuk mengikuti jejaknya.

Di masa lalu orang menggunakan keledai untuk mengambil air dari sumur. Mereka mengikatnya dan menutup matanya, membuatnya terus berjalan sejak pagi hingga sore. Jika dia dapat melihat bahwa gerakannya hanya berputar di tempat yang sama, dia tidak akan mau bergerak.

Begitu banyak guru palsu yang hanya membuat orang berputar-putar, tidak pernah naik. Harta karun jauh di angkasa. Oleh sebab itu hal yang paling penting adalah mencari guru yang sejati. Setiap guru sejati dari thariqat Naqshbandi akan membawamu ke surga.

Syaikh Abu Ahmad as-Sughuri mendatangi muridnya Muhammad al-Madani ketika sedang berkhalwat. Beliau berkata agar dia mengikutinya. Syaikh Abu Ahmad berjalan di depan dan beberapa detik kemudian beliau meluncur bagaikan pesawat jet. Muridnya mengikutinya, mereka berdua berjalan di angkasa seperti halnya di darat. Mereka mencapai sebuah stasiun dan Syaikh Abu Ahmad meletakkan dua buah tongkat dan menggelar sajadahnya lalu shalat 2 rakaat. Beliau juga mengajak muridnya untuk datang dan melakukan shalat 2 rakaat. Tetapi dia merasa takut, tidak pernah membayangkan sebelumnya bagaimana dia berdiri di angkasa dan berjalan di atasnya. Itu adalah stasiun di mana Rasulullah melakukan shalat 2 rakaat dan di mana setiap murid datang ketika hubungannya dengan dunia telah terputus.

Ketika Syaikh Abu Ahmad melihat muridnya ketakukan, beliau loncat dari sajadahnya untuk menunjukkan bahwa itu cukup kuat, kemudian beliau mengirimkan kembali muridnya ke dalam posisi khalwat, "Engkau harus kembali, karena Engkau belum siap."

Jika tidak menjaga metode yang digunakan oleh Grandsyaikh kita tidak akan mencapai stasiun surgawi dan Kehadirat Ilahi. Hikmah memberi kalian kekuatan untuk meraihnya. Ketika Allah ridha kepadamu, Dia akan membukanya. Dan selama egomu menangkapmu, membiarkan dirimu berada di bumi, kalian tidak akan bisa membuat-Nya ridha. Putuskanlah setiap hubungan dengan ego dan kenikmatan hidup fisik, maka kalian akan mendapat kekuatan yang cukup untuk dibawa kepada Kehadirat Ilahi.

DUA KEINGINAN

Di keheningan malam, Sang Maut turun dari hadirat Tuhan menuju ke bumi. Ia terbang melayang-layang di atas sebuah kota dan mengamati seluruh penghuni dengan tatapan matanya. Ia menyaksikan jiwa-jiwa yang melayang-layang dengan sayap-sayap mereka, dan orang-orang yang terlena di dalam kekuasaan sang lelap.

Ketika rembulan tersungkur kaki langit, dan kota itu berubah warna menjadi hitam legam, Sang Maut berjalan dengan langkah tenang di tengah pemukiman -- berhati-hati tidak menyentuh apapun -- sampai tiba di sebuah istana. Dia masuk dan tak seorang pun kuasa menghalangi. Dia tegak di sisi sebuah ranjang dan menyentuh pelupuk matanya, dan orang yang tidur itu bangun dengan ketakutan.

Melihat bayangan Sang Maut di hadapannya, dia menjerit dengan suara ketakutan, "Menyingkirlah kau dariku, mimpi yang mengerikan! Pergilah engkau makhluk jahat! Siapakah engkau ini? Dan bagaimana mungkin kau masuk istana ini? Apa yang kau inginkan? Minggatlah, karena akulah empunya rumah ini. Enyahlah kamu, kalau tidak, kupanggil para budak dan para pengawal untuk mencincangmu menjadi kepingan!"

Kemudian Maut berkata dengan suara lembut, tapi sangat menakutkan, "Akulah kematian, berdiri dan membungkuklah kepadaku."

Dan si kaya berkuasa itu bertanya, "Apa yang kau inginkan dariku sekarang, dan benda apa yang kau cari? Kenapa kau datang ketika pekerjaanku belum selesai? Apa yang kau inginkan dari orang kuat seperti aku? Pergilah sana, carilah orang-orang yang lemah, dan ambillah dia! Aku ngeri oleh taring-taringmu yang berdarah dan wajahmu yang bengis, dan mataku bergetar menatap sayap-sayapmu yang menjijikan dan tubuhmu yang memuakkan."

Setelah diam beberapa saat dan tersadar dari ketakutannya, ia menambahkan, "Tidak, tidak, Maut yang pengampun, jangan pedulikan apa yang telah kukatakan, karena rasa takut membuat diriku mengucapkan kata-kata yang sesungguhnya terlarang. Maka ambillah emasku seperlunya atau nyawa salah seorang dari budak, dan tinggalkanlah diriku... Aku masih memperhitungkan kehidupan yang masih belum terpenuhi dan kekayaan pada orang-orang yang belum terkuasai. Di atas laut aku memiliki kapal yang belum kembali ke pelabuhan, dan pada hasil bumi yang belum tersimpan. Ambillah olehmu barang yang kau inginkan dan tinggalkanlah daku. Aku punya selir, cantik bagai pagi hari, untuk kau pilih, Kematian. Dengarlah lagi : Aku punya seorang putra tunggal yang kusayangi, dialah biji mataku. Ambillah dia juga, tapi tinggalkan diriku sendirian."

Sang Maut itu menggeram, engkau tidak kaya tapi orang miskin yang tak tahu diri. Kemudian Maut mengambil tangan orang itu, mencabut kehidupannya, dan memberikannya kepada para malaikat di langit untuk memeriksanya.

Dan maut berjalan perlahan di antara orang-orang miskin hingga ia mencapai rumah paling kumuh yang ia temukan. Ia masuk dan mendekati ranjang di mana tidur seorang pemuda dengan kelelapan yang damai. Maut menyentuh matanya, anak muda itu pun terjaga. Dan ketika melihat Sang Maut berdiri di sampingnya, ia berkata dengan suara penuh cinta dan harapan, "Aku di sini, wahai Sang Maut yang cantik. Sambutlah ruhku, impianku yang mengejawantah dan hakikat harapanku. Peluklah diriku, kekasih jiwaku, karena kau sangat penyayang dan tak kan meninggalkan diriku di sini. Kaulah utusan Ilahi, kaulah tangan kanan kebenaran. Jangan tinggalkan daku."

"Aku telah memanggilmu berulang kali, namun kau tak mendengarkan. Tapi kini kau telah mendengarku, karena itu jangan kecewakan cintaku dengan peng-elakan diri. Peluklah ruhku, Sang Maut terkasih."

Kemudian Sang Maut meletakkan jari-jari lembutnya ke atas bibir yang bergetar itu, mencabut nyawanya, dan menaruhnya di bawah sayap-sayapnya.

Ketika ia naik kembali ke langit, Maut menoleh ke belakang -- ke dunia -- dan dalam bisikan ia berkata, "Hanya mereka yang di dunia mencari Keabadian-lah yang sampai ke Keabadian itu."

Dialog Abu Yazid dan Pendeta --- KISAH PENGGALI KUBUR

Dialog Abu Yazid dan Pendeta

Abu yazid adalah salah satu pemuka kaum sufi diBaghdad pada abad ke III hijriah yang merupakan abad kemunculan madhab al-hubb al-illahi, ia memiliki perjalanan hidup yang mengagumkan dan perilaku yang kadang sulit untuk diterima oleh akal. Demi cintanya kepada ilmu pengetahuan ia berkelana dalam waktu yang tidak sebentar untuk menemukan apa yang dicarinya sehingga ia mengenal seluruh ulama besar dizamannya.Dalam satu riwayat dikatakan bahwa ia pernah berguru kepada 113 orang alim sebelum akhirnya ia menemukan guru sejatinya yang akhirnya membimbingnya kejalan thareqat sufi yaitu seorang imam yang masyhur dari kalangan ahl-bait yaitu Imam ja'far Shodiq..Dalam suatu perjalanannya Abu Yazid bertemu dengan seorang pendeta dan terjadilah dialog diantara keduanya yang akhirnya membawa pendeta tersebut kepada Islam..

Abu Yazid : Wahai pendeta aku mengetahui suatu yang diajarkan Tuhan kepadaku.

Pendeta : Ceritakanlah kepadaku sesuatu yang berjumlah satu,dua,tiga,empat,lima,enam,tujuh,delapan,sembilan,sepuluh,sebelas, dan duabelas.

Abu Yazid : Satu adalah Allah, dua adalah siang dan malam tiga adalah hitungan talaq, empat adalah Taurat,Zabur,Injil,dan Alqur'an, lima adalah rukun syariah, enam adalah jumlah hari penciptaan langit dan bumi tujuh adalah jumlah langit dan bumi, delapan adalah Malaikat penjaga arsh pada hari qiyamah, sembilan adalah masa wanita mengandung, sepuluh adalah al-malaikat al-qiram al-bararah, sebelas adalah jumlah saudara yusuf, dan dua belas adalah jumlah bulan.

Pendeta : Tuan betul, sekarang ceritakan kepadaku tentang yang tercipta dari udara,yang dijaga udara,dan yang dirusak oleh udara???

Abu Yazid : Yang tercipta dari udara adalah Nabi Isa, yang dijaga udara yaitu Nabi Sulaiman, dan yang dirusak udara adalah qawm'Ad.

Abu yazid : Sekarang ijinkan saya untuk mengajukan satu pertanyaan saja. Dapatkah kau menceritakan kepadaku tentang kunci surga dan tulisan yang terdapat dipintu surga andaikan kau meyakini bahwa engkau dan kaummu itu pasti masuk surga.

Pendeta : Terdiam

Para pendeta : Apakah tuan kalah?

Pendeta : Tidak

Para Pendeta : Lalu mengapa engkau tidak menjawab?

Pendeta : Jika aku menjawabnya aku takut kalian bunuh

Para pendeta : Demi injil kami tidak akan membunuhmu

Pendeta : Baiklah aku akan menjawabnya., sesungguhnya kunci surga dan yang tertulis dipintu surga itu adalah LAA ILLAAHA ILLALLAH MUHAMMADURASULULLAH

Para pendeta : Mendengar jawaban itu mereka bersama sam lalu mengucapkan dua kalimah syahadat

Pendeta : Segala puji bagi Allah, kalian telah menjadi muslimin dan sebenarnya akupun sudah menjadi muslim sejak 60 tahun yang lalu, hanya saja aku menyembunyikannya karena takut pada kalian


Maka setelah terjadinya dialog tersebut lalu mereka bersama sama mengubah gereja tempat mereka berdialog itu menjadi sebuah bangunan Masjid dan Abu Yazid ditunjuk seagai gurunya.

KISAH PENGGALI KUBUR

Terdapat seorang pemuda yang kerjanya menggali kubur dan mencuri kain kafan untuk dijual. Pada suatu hari, pemuda tersebut berjumpa dengan seorang ahli ibadah untuk menyatakan kekesalannya dan keinginan untuk bertaubat kepada Allah s. w. t. Dia berkata, "Sepanjang aku menggali kubur untuk mencuri kain kafan, aku telah melihat 7 perkara ganjil yang menimpa mayat-mayat tersebut. Lantaran aku merasa sangat insaf ata perbuatanku yang sangat keji itu dan ingin sekali bertaubat."

1 " Yang pertama, aku lihat mayat yang pada siang harinya menghadap kiblat. Tetapi pabila aku menggali semula kuburnya pada waktu malam, aku lihat wajahnya telahpun membelakangkan kiblat. Mengapa terjadi begitu, wahai tuan guru?" tanya pemuda itu.
" Wahai anak muda, mereka itulah golongan yang telah mensyirikkan Allah s. w. t. sewaktu hidupnya. Lantaran Allah s. w. t. menghinakan mereka dengan memalingkan wajah mereka dari mengadap kiblat, bagi membezakan mereka daripada golongan muslim yang lain," jawab ahli ibadah tersebut.

2 Sambung pemuda itu lagi, " Golongan yang kedua, aku lihat wajah mereka sangat elok semasa mereka dimasukkan ke dalam liang lahad. Tatkala malam hari ketika aku menggali kubur mereka, ku lihat wajah mereka telahpun bertukar menjadi babi. Mengapa begitu halnya, wahai tuan guru?"
Jawab ahli ibadah tersebut, " Wahai anak muda, mereka itulah golongan yang meremehkan dan meninggalkan solat sewaktu hidupnya. Sesungguhnya solat merupakan amalan yang pertama sekali dihisab. Jika sempurna solat,maka sempurnalah amalan-amalan kita yang lain,"

3 Pemuda itu menyambung lagi, " Wahai tuan guru, golongan yang ketiga yang aku lihat, pada waktu siang mayatnya kelihatan seperti biasa sahaja. Pabila aku menggali kuburnya pada waktu malam, ku lihat perutnya terlalu gelembung, keluar pula ulat yang terlalu banyak daripada perutnya itu. "
Mereka itulah golongan yang gemar memakan harta yang haram,wahai anak muda," balas ahli ibadah itu lagi.

4 " Golongan keempat, ku lihat mayat yang jasadnya bertukar menjadi batu bulat yang hitam warnanya. Mengapa terjadi begitu, wahai tuan guru?"
Jawab ahli ibadah itu, " Wahai pemuda, itulah golongan manusia yang derhaka kepada kedua ibu bapanya sewaktu hayatnya.Sesungguhnya Allah s. w. t. sama sekali tidak redha kepada manusia yang menderhakai ibubapanya."

5 " Ku lihat ada pula mayat yang kukunya amat panjang, hingga membelit-belit seluruh tubuhnya dan keluar segala isi dari tubuh badannya," sambung pemuda itu.
" Anak muda, mereka itulah golongan yang gemar memutuskan silaturrahim. Semasa hidupnya mereka suka memulakan pertengkaran dan tidak bertegur sapa lebih daripada 3 hari. Bukankah Rasulullah s. a. w. pernah bersabda, bahawa sesiapa yang tidak bertegur sapa melebihi 3 hari bukanlah termasuk dalam golongan umat baginda," jelas ahli ibadah tersebut.

6 " Wahai guru, golongan yang keenam yang aku lihat, sewaktu siangnya lahadnya kering kontang. Tatkala malam ketika aku menggali semula kubur itu, ku lihat mayat tersebut terapung dan lahadnya dipenuhi air hitam yang amat busuk baunya,"
" Wahai pemuda, itulah golongan yang memakan harta riba sewaktu hayatnya," jawab ahli ibadah tadi.

7 " Wahai guru, golongan yang terakhir yang aku lihat, mayatnya sentiasa tersenyum dan berseri-seri pula wajahnya. Mengapa demikian halnya wahai tuan guru?" tanya pemuda itu lagi.

Jawab ahli ibadah tersebut. " Wahai pemuda, mereka itulah golongan manusia yang berilmu. Dan mereka beramal pula dengan ilmunya sewaktu hayat mereka. Inilah golongan yang beroleh keredhaan dan kemuliaan di sisi Allah s. w. t. baik sewaktu hayatnya mahupun sesudah matinya."Ingatlah, sesungguhnya daripada Allah s. w. t kita datang dan kepadaNya jualah kita akan kembali. Kita akan dipertanggungjawabkan atas setiap amal yang kita lakukan, hatta amalan sebesar zarah sekalipun..

Mursyid dalam thareqat


Mursyid adalah orang yang membimbing atau Pembimbing jalan ruhani
Ayat al-Qur’an berbunyi:

May yahdillaahu fahuwal muhtad; wa may yudhlil falan tajida lahuu waliy-yam mursyidaa.

Artinya: Barang siapa yang diberi petunjuk oleh Allah, dialah orang yang mendapat petunjuk dan siapa yang dibiarkan-Nya sesat, maka tidak ada seorang Pemimpin pun yang memberinya petunjuk. (surah al-Kahf ayat 17).

Mursyid sebagai pembimbing dalam ber-zikirullah pada HAKIKATNYA adalah SAHABAT (Rohani) yang sangat akrab sekali dengan (Rohani) kita, yang bersama-sama, tak bercerai-cerai, beriring-iringan, berimam-imam melaksanakan Zikirullah, menuju kehadirath Allah SWT guna memperoleh keridhaan Allah SWT.

1. Ayat Qur’an: Wamayyuthi’illaha warrasuula Fauulaaaika ma’alladziina an ‘amallahu ‘alaihim minannabiyyina wasshiddiqiina wassyuhadaa-I wasshaalihiina, wahasuna ulaaaika rafiiqan.

Artinya: Barang siapa menta’ati Allah dan Rasul, maka mereka itu bersama-sama dalam deretan orang-orang yang diberikan ALLAH kurnia kepada mereka yaitu Nabi-Nabi, orang-orang yang benar, orang-orang syahid dan orang-orang yang shaleh. Adalah sebaik-baiknya bersahabat dengan mereka. (surah an-Nisa ayat 69).

Komentar: Bersahabat dalam arti bukan saja semasa hidup didunia yaitu antara jasmani dengan jasmani, tetapi yang lebih penting, yang selalu dilupakan, adalah bersahabat antara rohani dengan rohani, yang merupakan persahabatan yang tidak akan bercerai-cerai dan akan tetap bersahabat, walaupun mungkin yang seorang telah mendahului berpulang kealam baka dan telah menjadi penghuni Syorga pada sisi Allah SWT. Karena mereka yang sederetan duduknya dengan para Nabi, Syuhada, Sholihin pastilah pada akhir katanya tak mungkin lupa menyebut/mengingat akan ALLAH, karena semasa hayatnya didunia zikirullah itu telah dilatihnya sedemikian rupa, sebanyak-banyaknya dan tak henti-hentinya/istiqamah, dengan methodik yang tepat, sehingga zikirullah itu telah meraga sukma dalam dirinya, tembus hingga kealam dibawah sadar dan alam diatas sadarnya!!
Sesuai Hadis Qudsi: Man kaana akhiru kalamihi laa ilaaha ilallah, dakhalal jannah.

Artinya: Barang siapa yang pada akhir katanya Laa ilaaha ilallah, masuklah ia kedalam syorga.

2. Ayat Qur’an: Wa’lamuu annallaaha ma’al muttaqiin.

Artinya: Dan ketahuilah bahwa sesungguhnya ALLAH bersama orang-orang yang taqwa. (surah at-Taubah ayat 36).

Kesimpulan:

1. Besertalah selalu dengan orang taqwa, karena ALLAH beserta dia.

2. Orang taqwa selalu dipelihara ALLAH dari segala bala dan bencana.

Kalau kita masih kalang kabut, tandanya kita belum taqwa, belum disertai ALLAH.

3. Hadis Nabi: Kun ma’allahi fain lam takun ma’allahi fakun ma’a man ma’allahi fainnahu yushiluka ilallahi. (Rawahu Abu Daud).

Artinya: Adakanlah! (jadikanlah!) dirimu itu beserta Allah, jika engkau (belum bisa) menjadikan dirimu beserta Allah, maka adakanlah (jadikanlah) beserta dengan orang-orang yang beserta Allah, maka sesungguhnya, (orang itulah) yang menghubungkan engkau kepada Allah (yaitu Rohaninya). (Hadis Riwayat Abu Daud).

4. Ayat Qur’an: May-yadhillaahu fahuwal muhtad; wa may yudhil falan tajida lahuu waliy-yam mursyiida. (surah al-Kahf ayat 17).

Artinya: Barang siapa yang diberi petunjuk oleh Allah, dialah orang yang mendapat petunjuk dan siapa yang dibiarkan-Nya sesat, maka tidak ada Seorang pemimpinpun yang memberinya petunjuk. (Siapa yang tak mempunyai Mursyid, berarti dia tidak akan dapat petunjuk/jalan pada Allah SWT).


SYARAT-SYARAT SEBAGAI MURSYID

Syarat-syarat atau kriteria bagi seorang Mursyid adalah amat berat sekali; kalau saya ditanya, apakah saya telah memenuhi syarat-syarat untuk Mursyid itu, maka jawabannya adalah amat berat sekali untuk mengatakan “ya”, atau kalau mau jawaban yang murah saja: “tidak tahu”, karena bukanlah saya yang harus menilai kwalitas saya sendiri; begitulah beratnya kriteria untuk Mursyid itu. Namun, saya melaksanakan tugas saya dengan sepenuh tenaga, dengan sepenuh jiwa raga, dengan hati yang sebulat-bulatnya, saya laksanakan suruh dari pada para Guru saya, yang juga merupakan suruh dari pada Allah dan Rasul, yaitu untuk menegakkan zikirullah, dalam diri pribadi saya dan dalam diri ummat; jadi, Beliau-Beliau yang diataslah yang menilai akan diri saya.

Nah, dibawah ini kita lukiskan syarat-syarat yang diperlukan untuk seorang Mursyid, agar supaya kita secara garis besar mempunyai pedoman ala kadarnya untuk itu, sebagai gambaran yang agak rieel, yaitu:

1. Pilih Guru kamu yang Mursyid, (dicerdikkan Allah SWT) bukan dicerdikkan oleh yang lain-lain dengan idzin dan ridha Allah, karena Allah.

2. Yang Kamil Mukamil (sempurna dan menyempurnakan), diberi kurnia oleh Allah, karena Allah.

3. Yang memberi bekas pengajarannya, (kalau ia mengajar atau mendo’a berbekas pada simurid, simurid berobah kearah kebaikan) berbekas pengajarannya itu, dengan izin dan ridha Allah, Biiznillah).

4. Yang masyhur kesana kemari, kawan dan lawan mengatakan, ia seorang Guru Besar.

5. Yang tidak dapat dicela oleh orang yang berakal akan pengajarannya, yaitu tidak dapat dicela oleh Hadis dan Qur’an dan oleh Ilmu Pengetahuan (tidak bersalah-salahan dengan Hadis, Qur’an dan akal).

6. Yang tidak kuat mengerjakan yang harus, umpamanya membuat hal-hal yang tidak murni halalnya.

7. Tidak setengah kasih kepada dunia, karena bulat hatinya, kasih kepada Allah. Ia ada giat bergelora dalam dunia, bekerja hebat dalam dunia, tetapi bukan karena kasih kepada dunia itu, tetapi karena prestasinya itu adalah sebagai abdinya pada Allah SWT dalam hidupnya.

8. Mengambil ilmu dari “Polan” yang tertentu; Gurunya harus mempunyai taliyang nyata kepada Allah dan Rasul dengan Silsilah yang nyata.


Inilah dia 8 (delapan) syarat yang sangat berat bagi seorang Mursyid. Kemudian dibawah ini, kita turunkan beberapa ayat dan hadis-hadis Rasulullah SAW, yang dapat juga dipakai sebagai gambaran atau petunjuk bagi kita mengenai kwalifikasi seorang Mursyid.

Yang sudah jelas, Ianya haruslah seorang Mukmin Sejati.

Dibawah ini kita lihat: Kalau seorang Mursyid itu telah memenuhi syarat-syaratnya, maka sudah jelaslah, segala janji-janji Allah terhadapnya pasti dipenuhi Allah SWT, umpamanya antara lain Hadis Nabi: Yasyfa’u yaumal qiyaamatil ambiya u thummal ‘Ulamaa u thummasy syuhadaa u.

Artinya: Yang memberi Syafa’at dihari qiamat ialah : AMBIYA, ULAMA dan para SYUHADA (Hadis yang dirawikan Ibnu Majah).

Juga ia telah menerima seperti difirmankan Allah didalam al-Qur’an:
Nuurun ‘alaa nuurin, yahdillahu linuurihii man yasyaau.

Artinya: .....Nur Illahi berdampingan Nur Muhammad, itulah diberikan-Nya kepada Manusia yang dikehendaki-Nya.....(surah an-Nur ayat 35).

Kemudian kita lihat lagi apa-apa yang tertulis dibawah ini untuk mengetahui kwalitas-kwalitas seorang Mukmin/Mursyid, sesuai dengan Ayat-ayat al-Qur’an dan Hadis Rasulullah:

1. Wanuriidu anamunna ‘aladziinas tudh’iffu fir ardhi wa naj’alahum ‘aimmatawwamanaj’alahumul waaritsin.

Artinya: Dan Kami kehendaki dengan nikmat Kami kepada hamba-hamba Kami, dimuka bumi lalu Kami jadikan mereka menjadi ikutan dan orang penerima warisan. (surah al-Qashash ayat 5 juz 20).

2.Fa’uulaaika ma’alladziina an ‘amallaahu ‘alaihim minannabiyyiina washshiddiiqiina, wasysyuhadaa-i washshaalihiin.

Artinya: Mereka itulah orang yang telah diberi nikmat oleh Allah seperti para Nabi-Nabi, Siddiqin (Ulama), Syuhada dan Syalihin (Ulama). (surah an-Nisa ayat 69 juz 5).

3. Waja’alnaa minhum ‘aimmatay yahduuna biamrina lamaa shabaruu: Wakaanuu biaayaatinaa yuuqinuun.

Artinya: Dan Kami jadikan mereka menjadi ikutan untuk menunjuki manusia dari perintah Kami dengan sabar serta yakin dengan keterangan Kami. (surah as-Sajadah ayat 24 juz 21).

4. Ulaaikal ladziina hadallaahufabihudaa humuq tadih.

Artinya: Mereka itulah orang yang telah diberi Allah petunjuk, maka ikutlah Dia dengan petunjuk itu. (surah an-Nam ayat 90 juz 7).

5. Ya qaumanaa ajiibuu daa’iyallaahi wa’aaminuu bihii yaghfirlakum min dzunubikum wayujirkum min adzaabin aliim.

Artinya: Wahai kaum Kami ikutlah (kata-katanya) orang yang menyeru kamu kepada Allah, dan percayalah kepada-Nya, niscaya Allah mengampuni dosamu dan melepaskan kamu dari pada azab yang pedih. (surah al-Ahqaf ayat 31 juz 26).

6. U laaika humul mukminuuna haqaa. Lahum darajaatun inda rabbihim wamaghfiratun warizqun kariim.

Artinya: Mereka itulah orang-orang yang sebenar-benarnya ber-Iman. Mereka mendapat derajat yang tinggi dari Tuhan-Nya, dan ampunan serta rezeki yang mulia. (surah al-Anfal ayat 4 juz 9).

7. Innaladziina yubaayi’uunaka inamma yubaayi’uunallaaha, yadullahi fauqa aidiihim.

Artinya: Barang siapa berjanji teguh dengan engkau (Dia) sebenarnya mereka berjanji teguh dengan Allah; Tangan Allahdiatas tangan mereka. (surah al-Fathu ayat 10 juz 26).

8. Ittabi’uu malla yasalukum ajran wahum muhtaduun.

Artinya: Ikutlah orang yang tiada meminta upah kepadamu itu, karena mereka mendapat pimpinan yang benar. (surah Yasin ayat 21 juz 23).

9. Wamay yatawallallaaha warasuulahu walladziina aamanuu fainna hizballaahihumul ghaalibuun.

Artinya: Barang siapa yang mengangkat Allah dan Rasul-Nya dan orang yang beriman menjadi pemimpinnya, maka ia masuk partai Allah itulah yang mendapat kemenangan. (surah al-Maidah ayat 56 juz 6).

10. Qaalallahu ta’aalaa: Lam yasa’nii ardhii walaa sammaaii wawassianii. Qalbu ‘abdiil Mukminuun layyinul waadi.

Artinya: Allah Ta’ala berfirman: Tak dapat memuat Zat-Ku, bumi dan langit-Ku; yang dapat memuat Zat-Ku, ialah hati hamba-Ku yang Mukmin, lunak dan tenang. (Hadis Qudsi).

11. Inna haadzihi tadzkiratun faman syaa’at takhadza ilaa rabbihi sabiilaa.
Artinya: Sesungguhnya ini menjadi peringatan. Barang siapa yang hendak mendapat pengajaran, niscaya diambilnya methode untuk menyampaikannya kepada Tuhan. (surah al-Muzamil ayat 19 juz 20).

12. Innallaha qaala: man ‘aadalii walyyan faqad aazantuhu bil harbi wamaa taqarraba ilayya abdii bisyai’in ahahbu ilayya mimmaf taradh tuhu ‘alaihi wamaa yazaalu ‘abdii ya taqorrobu ilayya binnawaafiili hatta uhibbahuu faizaa ahbabtuhuu. Kuntu sam’ahul lazii yasma’u bihii wabashara hulladzii yubshiru bihii wayadaahul latii yabthusyu bihaa warujlahullahtii yamsyii bihaa walain saalanii u’thiyannahuu walainnis ta’aadzanii lau’ii dzannahuu.

Artinya: Barang siapa yang memusuhi seorang penolong-Ku, maka Aku mengumumkan perang kepadanya, dan apabila hamba-hamba-Ku menghampirkan diri kepada-Ku dengan sesuatu amalan, tanda lebih kasih ia kepada-Ku, dari pada hanya sekedar mengamalkan apa-apa yang telah Ku-wajibkan atasnya.

Kemudian itu ia terus menerus mendekatkan dirinya kepada-Ku dengan amalan-amalan yang nawafil (yang baik), hingga Aku mencintainya. Maka apabila Aku telah mencintainya, adalah Aku pendengarannya bila ia mendengar, dan Aku-lah penglihatannya bila ia melihat, dan adalah Aku tangannya bila ia mengambil (melakukan sesuatu), dan adalah Aku kakinya bila ia berjalan; demi jika ia memohon niscaya Aku perkenankan permohonannya, demi jika ia meminta perlindungan pastilah Aku lindungi dia. (Hadis Qudsi, diriwayatkan Imam Buchari, dikutip dari al-Islam halaman 362).