Khamis, Mac 29

Rumi : Di Lembah Cinta

Divan-i Syamsi Tabriz Tengah malam, aku bertanya, siapa ini yang ada di dalam rumah qalb-ku? Dia menjawab, Inilah Aku, yang cemerlangnya membuat matahari dan rembulan jadi tertunduk malu. Dia bertanya, Mengapa rumah ini penuh dengan aneka macam lukisan? Aku menjawab, Ini semua adalah bayangan dari-Mu, wahai Engkau yang wajah-Mu membuat iri warga Chigil. [1] Dia bertanya, Dan apa ini: qalb yang berdarah-darah? Aku menjawab, Ini adalah gambaran diriku: hati terluka, dan kaki dalam lumpur. Kuikat leher dari jiwaku, dan menyeretnya kehadapan-Nya sebagai persembahan: Inilah dia yang telah berkali-kali memunggungi Cinta, kali ini jangalah Kau lepaskan. Dia serahkan satu ujung tali, ujung yang penuh kecurangan dan pengkhianatan, Peganglah ujung yang ini, Aku kan menghela dari ujung yang lain, mari berharap tali ini tidak putus. Kuraih tangan-Nya, Dia menepisku, seraya berkata, Lepaskan! Aku bertanya, Mengapa Engkau bersikap keras padaku? Dia menjawab, Ketahuilah, sikap keras-Ku demi tujuan yang baik bagimu, bukan karena niat-buruk atau jahat. Ini untuk memperingatkanmu, barangsiapa masuk kesini dan berkata, 'Inilah Aku!' maka Aku akan memukul dahinya; karena ini adalah Lembah Cinta, bukan kandang hewan. Salahuddiin, [2] sungguh keelokan wajah sejatimu indahnya bagaikan sosok Tamu di tengah malam itu; kawan-kawan gosok matamu, dan tataplah dia dengan pandangan qalb-mu, dengan bashirah-mu. Catatan: [1] Daerah Chigil di Turkesta terkenal dengan keelokan wajah warganya. [2] Salahuddiin Zarkub, salah satu sahabat Mawlana Rumi, belakangan berkembang menjadi sosok inspirasi ruhaniyah baginya; yaitu setelah Mawlana Rumi menerima bahwa Syamsuddin at-Tabriz yang menghilang dan lama dirindukannya, telah wafat. Menurut Sultan Valad, salah satu putra Rumi, tentang Salahuddin ini,Rumi menyatakan: Syamsuddin yang selalu kita bicarakan telah kembali pada kita! Mengapa kita masih tertidur? Bersalinlah kalian dengan baju baru, dia telah kembali menunjukkan dan memamerkan keindahannya. (Dari karya Franklin D. Lewis: Rumi, Past, Present, East and West, Oneworld Publications, 2000). Sumber: Rumi: Divan-i Syamsi Tabriz, ghazal 1335 Terjemahan ke Bahasa Inggris oleh A.J. Arberry dalam Mystical Poems of Rumi 1, The University of Chicagi Press, 1968.

Rumi : Mengkaji Mukhlish dan Mukhlash

Persepsi inderawi menarik seseorang ke arah dunia, Cahaya-Nya melambungkan dia ke langit. Karena benda-benda terinderai itu letaknya di alam bawah. Cahaya Tuhan itu bagaikan laut, sedangkan yang kita inderai itu bagai setitik uapnya. Apa yang mengendarai indera tidaklah nampak, yang kita tangkap hanyalah akibat dan kata-kata. Cahaya inderawi, yang kasar dan berat, tersembunyi pada hitamnya mata. Penglihatanmu tak dapat menangkap cahaya inderawi, bagaimana mungkin ia dapat melihat cahaya kewalian? Cahaya inderawi yang kasar saja sudah tersembunyi, apalagi apa yang ada dibaliknya, yang lebih murni dan halus? Alam-dunia ini bagaikan jerami, dalam genggaman angin--yakni alam tak-nampak; ia hanya dapat menyerahkan diri, tunduk sepenuhnya pada alam yang tak-nampak. Kadang ia dibuat merunduk, kadang menengadah; kadang bersuara, kadang utuh, kadang terpecah. Kadang ia digerakkan ke kiri, kadang ke kanan; kadang darinya tumbuh duri, kadang menyembul mawar. Perhatikanlah, dibalik pena yang menulis, tersembunyi Tangan; di atas kuda yang berderap, ada Pengendara tak-nampak. Jika anak-panah melayang, mestilah ada Busurnya, walau tak-nampak; jika tampak diri-diri kita, mestilah ada Diri yang tersembunyi. Jangan patahkan anak-panah, karena ia berasal dari Sang Raja; tidaklah ia dilepaskan tanpa suatu maksud, ia berasal dari genggaman jemari Sang Tunggal, yang paling mengenal sasaran. Dia bersabda, "... dan bukanlah engkau yang melempar, ketika engkau melempar ..": [1] tindakan-Nya mendahului tindakan-tindakan kita. Patahkanlah kemarahanmu, bukannya anak-panah itu: tatapanmu yang penuh amarah menganggap susu sebagai darah. Ciumlah anak-panah itu, dan persembahkan kepada Sang Raja; anak-panah berpercik darah, darahmu sendiri. Apa yang tampil di alam nampak, tak-berdaya, terpenjara dan rapuh; apa yang tak-nampak begitu perkasa dan agung. Kita lah hewan buruan, yang ditunggu jebakan sangat menakutkan; kita bagai bola dalam permainan polo, menunggu pukulan tongkat, dan dimanakah Sang Pemukul? Dia menyobek, Dia pula yang merajut: dimanakah Sang Penjahit? Dia meruntuhkan, Dia yang membakar, dimanakah Sang Pemadam api? Dalam sekejap Dia dapat mengubah seorang suci menjadi kufur; sekejap pula Dia dapat mengubah penyembah berhala menjadi seorang zahid. Seorang mukhlish setiap saat dalam bahaya terjatuh kedalam jebakan, sampai dirinya sepenuhnya termurnikan. Karena dia masih berjalan, dan penyamun tak terhingga jumlahnya; yang berhasil selamat hanya mereka yang dijaga-Nya. Jika belum mati seseorang dari dirinya sendiri--bagaikan cermin kemilau, dia tak-lebih dari seorang yang mukhlish: jika dia belum berhasil menangkap burung, maka dia masih berburu. Tapi ketika seorang mukhlish diubah menjadi mukhlash, [2] maka dia telah sampai: dia menang dan selamat. Cermin tak berubah kembali menjadi besi, roti tak berubah lagi menjadi biji gandum. Cairan anggur tak berubah lagi jadi buah; buah matang tak kembali jadi mentah lagi. Matanglah, dan menjauhlah dari kemungkinan berubah jadi kembali buruk: jadilah Cahaya, bagai Burhan-i Muhaqqiq. [3] Catatan: [1] QS Al Anfaal [8]: 17. [2] "(Iblis) berkata: 'Maka bersama dengan ke-Kuasaan Engkau, akan kusesatkan mereka semuanya, kecuali hamba-hamba Engkau yang al-Mukhlashiin." (QS Shaad [38]: 82 - 83). [3] Penerjemah belum berhasil mengindentifikasi siapa gerangan tokoh yang Rumi gelari dengan 'Burhan-i Muhaqqiq' ini. Sumber: Rumi: Matsnavi II 1294 - 1319. Terjemahan ke Bahasa Inggris oleh Nicholson.
Rumi: Mengkaji Cahaya di atas Cahaya
Rumi: Matsnavi II 1248 - 1293 Sang Mustapha bertutur tentang permohonan Neraka, ketika dengan berendah-hati dia bermohon kepada pemilik iman sejati: "berlalulah dengan cepat, wahai Sang Raja, karena cahayamu telah memadamkan apiku." Jadi, terang cahaya al-Mukmin berarti padamnya api, karena tanpa tanpa tampilnya yang berlawanan tak mungkin sesuatu sirna. Pada Hari Perhitungan, api akan menjadi lawan cahaya, karena api bersumber dari Murka-Nya, sementara cahaya dari Rahmat-Nya. Jika engkau ingin tanggalkan api kejahatan, tujukan air Rahmat Ilahiah ke jantung api. Mereka yang bertakwa dengan haqq memancarkan aliran air rahmat itu: inti jiwa mereka yang bertakwa adalah Air Kehidupan. Tidak heran engkau yang berjiwa duniawi lari menjauh dari orang seperti mereka, karena engkau tersusun dari api, sementara mereka dari aliran air. Api melarikan diri dari air, karena takut nyala dan asapnya dipadamkan oleh air. Pikiran dan perasaanmu terbentuk dari api; pikiran dan perasaan orang suci tersusun dari cahaya yang indah. Ketika percikan cahaya orang suci menetes di atas api, terdengar suara berdesis, dan lidah api menjilat dengan murka. Ketika datang saat seperti itu, katakanlah, “mati dan musnahlah engkau,” agar padam neraka itu, yaitu api hawa-nafsumu. Sehingga ia tak membakar taman mawarmu, sehingga ia tak membakar keadilan dan hasanah-mu. Setelah berhasil engkau padamkan, barulah bibit yang engkau tanam dapat menghasilkan aneka buah, atau memekarkan bermacam bunga. Wahai Guru tuturmu melantur, mengapa kau tak kembali ke pokok perbincangan? Kita sedang memperlihatkan melanturnya dirimu, wahai pemendam iri-dengki; tak kau sadari, keledaimu pincang, sedangkan kota cahaya sangatlah jauh, alangkah lambat jalanmu. Telah sekian tahun kita habiskan; sudah hampir lewat masa tanam; tak ada hasil panenmu, kecuali wajahmu yang menghitam, dan amalmu yang berbau busuk? Cacing telah bersarang, di akar pohon dirimu: galilah dan bakarlah. Kuperingatkan lagi, wahai pencari, waktu telah hampir habis, hari telah senja, matahari jelang tenggelam. Hanya tersisa satu dua hari lagi, ketika masih tersisa kekuatan pada dirimu, kepakkan sayapmu dengan bersemangat. Manfaatkanlah baik-baik sisa benihmu, agar dari bibit-waktu yang sedikit itu dapat tumbuh pohon abadi. Sementara lampu hidupmu belum padam, kecilkanlah sumbunya, dan jagalah minyaknya. Jangan lagi engkau berkata, besok, besok; sudah terlalu banyak besokmu yang terlewat. Jangan sampai tiada hari tanam tersisa. Dengarkanlah nasehatku, jasmanimu itu yang mengikatmu, tanggalkan jasmanimu rentamu, jika kau inginkan pembaruan. Tutup mulutmu, dan bukalah buah berisikan emas: tanggalkan keakuanmu, perlihatkan kemurahanmu. Kemurahan berarti meninggalkan syahwat dan hawa-nafsu; orang yang tenggelam dalam hawa-nafsunya, sulit mentas lagi. Kemurahan adalah salah satu cabang cemara di al-Jannah: malang lah orang yang tak berpegangan pada cabang semacam itu. Menanggalkan hasratmu adalah pegangan yang paling kuat: cabang itu menarik jiwamu ke Langit. Karena itu jadilah pemurah, wahai penganut ad-Diin, sehingga terangkat engkau ke sumber cabang itu. Jadikan Yusuf yang cantik sebagai teladan keindahan jiwamu, perlakukan alam-dunia ini sebagai sumur, gunakan kemurahan dan keberserahan kepada karsa Rabb sebagai tali untuk mentas ke atas. Wahai peneladan keindahan Yusuf, tali telah diturunkan, raihlah dengan ke dua belah tanganmu; jangan kau lepaskan, karena hari telah larut. Berpujilah kepada-Nya ketika tali telah terjulur; itu dari semesta yang sangat nyata, tapi tak nampak. Semesta fenomenal ini, sebenarnya hanya wujud yang mungkin, tapi telah menjadi sangat nyata bagimu, sementara semesta yang sejati, semakin tersembunyi. Seperti debu bertaburan dipermainkan angin, bagaikan fatamorgana yang menghijab. Yang tampak ramai ini sejatinya hampa dan dangkal, bagai bebauan; yang tersembunyi itulah inti dan sumbernya. Debu hanya tanda dari adanya angin: angin itulah yang bernilai, dan tinggi derajatnya. Mata yang tersusun dari tanah-liat, hanya akan menatap debu; untuk melihat angin itu diperlukan penglihatan yang berbeda. Seekor kuda mengenal kuda yang lain, karena mereka sejenis: hanya penunggang kuda dapat mengenali sesama penunggang. Yang dimaksud dengan kuda itu adalah mata syahwatiah, sedangkah sang penunggang adalah Cahaya Ilahiah; tanpa sang penunggang, kuda itu sendiri tak berguna. Karena itu latihlah kudamu, agar dia sembuh dari kebiasaan buruknya; jika tidak, dia akan tertolak dari majelis Sang Raja. Penglihatan si kuda mendapati jalan, bersumberkan pandangan Sang Raja; tanpa pandangan Sang Raja penglihatan si kuda kehilangan panduan. Penglihatan si kuda akan selalu menolak panduan, kecuali ke arah makanan dan padang rumput. Cahaya Ilahiah itu yang seyogyanya jadi penentu arah bagi penglihatan si kuda, barulah jiwa dapat merindu Rabb. Tidaklah mungkin kuda tanpa pengendara dapat membaca tanda-tanda jalan. Hanya penunggang bermartabat Raja dapat mengenali jalan Sang Raja. Tempuhlah arah selaras dengan rasa-jati yang dikendarai oleh Cahaya, Cahaya itu pengendara terpercaya. Cahaya Ilahiah mengendarai cahaya rasa-jati, ini salah satu makna dari Cahaya di atas cahaya. Sumber: Rumi: Matsnavi II 1248 - 1293 Terjemahan ke Bahasa Inggris oleh Nicholson, ngrumi.blogspot.com

Isnin, Februari 27

Selawat



Perkataan Selawat atau Salawat ( Bahasa Arab: الصلوات‎ ) diambil dari perkataan solat ( Bahasa Arab: الصلاة‎ ), beerti doa, pujian.
Menurut istilah Kamus Bahasa Melayu, selawat ditakrifkan sebagai; "doa kpd Tuhan supaya dilimpahkan rahmat atas Nabi Muhammad S.A.W.[1]"

Ibnu Kasir berkata dalam tafsirnya: Telah berkata Al-Bukhari: Telah berkata Abu `Aliyah:

Salawat Allah subhanahu wata`ala ialah pujian-Nya di sisi para Malaikat.
Dan Salawat Malaikat ialah doa.
Dan Salawat orang Mukmin ialah memohon rahmat daripada Allah ke atas Nabi Muhammad S.A.W[2]

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bersalawat (memberi segala penghormatan dan kebaikan) ke atas Nabi (Muhammad S.A.W). Wahai orang-orang yang beriman bersalawatlah kamu ke atasnya serta ucapkanlah salam dengan penghormatan. [Al-Ahzab: 56]

Lafaz Salawat
Bacaan Sebutan Makna Rujukan
اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَآلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ، اللَّهُمَّ بَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَآلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ Allahumma salli `ala muhammadin wa'ali muhammad, kama sallayta `ala ali ibrahim, innaka hamidun majid, Allahumma barik `ala muhammadin wa'ali muhammad, kama barakta `ala ali ibrahim, innaka hamidun majid - [An-Nasa'iy/ 1289, sahih]
اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ Allahumma salli `ala muhammadin wa`ala ali muhammad - [An-Nasa'iy/ 1292, sahih]
اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ، وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّد، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ، فِي الْعَالَمِينَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ Allahumma salli `ala muhammadin wa`ala ali muhammad, kama sallayta `ala ibrahim, wabarik `ala muhammadin wa`ala ali muhammad, kama barakta `ala ali ibrahim, fi l-`alamin, innaka hamidun majid - [Al-Muwatta'/ 459, sahih], [Ibnu Hibban/ 1958, sahih]
اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ، وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ Allahumma salli `ala muhammadin wa`ala ali muhammad, kama sallayta `ala ibrahim, innaka hamidun majid, wabarik `ala muhammadin wa`ala ali muhammad, kama barakta `ala ibrahim, innaka hamidun majid - [An-Nasa'iy/ 1291, sahih]
اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ، اللَّهُمَّ بَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ Allahumma salli `ala muhammadin wa`ala ali muhammad, kama sallayta `ala ibrahim, innaka hamidun majid, Allahumma barik `ala muhammadin wa`ala ali muhammad, kama barakta `ala ibrahim, innaka hamidun majid - [Al-Bukhariy/ 4519], [Ibnu Majah/ 904, sahih]
اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ، وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ، فِي الْعَالَمِينَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ Allahumma salli `ala muhammadin wa`ala ali muhammad, kama sallayta `ala ali ibrahim, wabarik `ala muhammadin wa`ala ali muhammad, kama barakta `ala ali ibrahim, fi l-`alamin, innaka hamidun majid - [Muslim/ 405], [Al-Muwatta'/ 459, sahih], [An-Nasa'iy/ 1285, sahih], [Ibnu Hibban/ 1965, sahih]
اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ، إِنَّك حَمِيدٌ مَجِيدٌ، وَبِارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ Allahumma salli `ala muhammadin wa`ala ali muhammad, kama sallayta `ala ali ibrahim, innaka hamidun majid, wabarik `ala muhammadin wa`ala ali muhammad, kama barakta `ala ali ibrahim, innaka hamidun majid - [Muslim/ 406]
اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ، إِنَّك حَمِيدٌ مَجِيدٌ، اللَّهُمَّ بِارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ Allahumma salli `ala muhammadin wa`ala ali muhammad, kama sallayta `ala ali ibrahim, innaka hamidun majid, Allahumma barik `ala muhammadin wa`ala ali muhammad, kama barakta `ala ali ibrahim, innaka hamidun majid - [Ibnu Hibban/ 1964, sahih], [Al-Bukhariy/ 5996], [Muslim/ 406], [An-Nasa'iy/ 1287, sahih]
اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَآلِ إِبْرَاهِيمَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ، وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَآلِ إِبْرَاهِيمَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ Allahumma salli `ala muhammadin wa`ala ali muhammad, kama sallayta `ala ibrahima wa'ali ibrahim, innaka hamidun majid, wabarik `ala muhammadin wa`ala ali muhammad, kama barakta `ala ibrahima wa'ali ibrahim, innaka hamidun majid - [An-Nasa'iy/ 1288, sahih], [An-Nasa'iy/ 1290, sahih], [Ibnu Hibban/ 1957, sahih]
اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ، اللَّهُمَّ بَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ Allahumma salli `ala muhammadin wa`ala ali muhammad, kama sallayta `ala ibrahima wa `ala ali ibrahim, innaka hamidun majid, Allahumma barik `ala muhammadin wa`ala ali muhammad, kama barakta `ala ibrahima wa`ala ali ibrahim, innaka hamidun majid - [Al-Bukhariy/ 3190]
اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ النَّبِيِّ الأُمِّيِّ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ، وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ النَّبِيِّ الأُمِّيِّ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ Allahumma salli `ala muhammadini n-nabiyyi l-ummiyyi wa`ala ali muhammad, kama sallayta `ala ibrahima wa `ala ali ibrahim, wabarik `ala muhammadini n-nabiyyi l-ummiyyi wa`ala ali muhammad, kama barakta `ala ibrahima wa`ala ali ibrahim, innaka hamidun majid - [Ibnu Hibban/ 1959, isnadnya sahih]
اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ عَبْدِكَ وَرَسُولِكَ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ، وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ Allahumma salli `ala muhammadin `abdika warasulik, kama sallayta `ala ibrahim, wabarik `ala muhammadin wa`ala ali muhammad, kama barakta `ala ibrahim - [Ibnu Majah/ 903, sahih]
اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ عَبْدِكَ وَرَسُولِكَ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ، وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَآلِ إِبْرَاهِيمَ Allahumma salli `ala muhammadin `abdika warasulik, kama sallayta `ala ibrahim, wabarik `ala muhammadin wa`ala ali muhammad, kama barakta `ala ibrahima wa'ali ibrahim - [Al-Bukhariy/ 5997]
اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ عَبْدِكَ وَرَسُولِكَ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ، وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَآلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ Allahumma salli `ala muhammadin `abdika warasulik, kama sallayta `ala ibrahim, wabarik `ala muhammadin wa'ali muhammad, kama barakta `ala ibrahim - [An-Nasa'iy/ 1293, sahih]
اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ عَبْدِكَ وَرَسُولِكَ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ، وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَآلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَآلِ إِبْرَاهِيمَ Allahumma salli `ala muhammadin `abdika warasulik, kama sallayta `ala ibrahim, wabarik `ala muhammadin wa'ali muhammad, kama barakta `ala ibrahima wa'ali ibrahim - [Al-Bukhariy/ 4520]
اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ عَبْدِكَ وَرَسُولِكَ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى آل إِبْرَاهِيمَ، وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ Allahumma salli `ala muhammadin `abdika warasulik, kama sallayta `ala ali ibrahim, wabarik `ala muhammadin wa`ala ali muhammad, kama barakta `ala ibrahima - [Al-Bukhariy/ 4520]
اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ عَبْدِكَ وَرَسُولِكَ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى آل إِبْرَاهِيمَ، وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ Allahumma salli `ala muhammadin `abdika warasulik, kama sallayta `ala ali ibrahim, wabarik `ala muhammadin wa`ala ali muhammad, kama barakta `ala ali ibrahim - [Al-Bukhariy/ 4520]
اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَأَزْوَاجِهِ وَذُرِّيَّتِهِ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ، وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَأَزْوَاجِهِ وَذُرِّيَّتِهِ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ Allahumma salli `ala muhammadin wa'azwajihi wazurriyyatih, kama sallayta `ala ibrahim, wabarik `ala muhammadin wa'azwajihi wazurriyyatih, kama barakta `ala ali ibrahim, innaka hamidun majid - [Al-Bukhariy/ 3189]
اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَأَزْوَاجِهِ وَذُرِّيَّتِهِ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ، وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَأَزْوَاجِهِ وَذُرِّيَّتِهِ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ، فِي الْعَالَمِينَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ Allahumma salli `ala muhammadin wa'azwajihi wazurriyyatih, kama sallayta `ala ibrahim, wabarik `ala muhammadin wa'azwajihi wazurriyyatih, kama barakta `ala ali ibrahim, fi l-`alamin, innaka hamidun majid - [Ibnu Majah/ 905, sahih]
اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَأَزْوَاجِهِ وَذُرِّيَّتِهِ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ، وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَأَزْوَاجِهِ وَذُرِّيَّتِهِ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ Allahumma salli `ala muhammadin wa'azwajihi wazurriyyatih, kama sallayta `ala ali ibrahim, wabarik `ala muhammadin wa'azwajihi wazurriyyatih, kama barakta `ala ali ibrahim, innaka hamidun majid - [An-Nasa'iy/ 1294, sahih], [Al-Bukhariy/ 5999], [Al-Muwatta'/ 458, sahih]
اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَزْوَاجِهِ وَذُرِّيَّتِهِ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ، وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَزْوَاجِهِ وَذُرِّيَّتِهِ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ Allahumma salli `ala muhammadin wa`ala azwajihi wazurriyyatih, kama sallayta `ala ali ibrahim, wabarik `ala muhammadin wa`ala azwajihi wazurriyyatih, kama barakta `ala ali ibrahim, innaka hamidun majid - [Muslim/ 407]
اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ، اللَّهُمَّ بَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ Allahumma salli `ala muhammad, kama sallayta `ala ali ibrahim, Allahumma barik `ala muhammad, kama barakta `ala ali ibrahim - [An-Nasa'iy/ 1286, isnadnya sahih]
اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَىى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ عَبْدِكَ وَرَسُولِكَ النَّبِيِّ الأُمِّيّ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلم Allahumma salli 'ala muhammadin 'abdika warasulika n-nabiyyi l-ummiyyi wa'ala aalihi wasahbihi wasallim -
[sunting] Tingkat-tingkat Selawat

1. Selawat daripada Allah kepada Nabi dan Rasul-Nya terutama Nabi Muhammad s.a.w.
Selawat ini bermakna Allah memberi rahmat kepada Rasulullah. Ini tidak pula bermakna bahawa Rasulullah itu lebih tinggi daripada Allah. Sebenarnya Allah memberi puji-pujian dan keutamaan kepada Rasulullah kerana baginda merupakan makhluk-Nya yang paling taat dan berakhlak mulia. Sepertilah seorang ibu memuji-muji dan terkenang-kenangkan anaknya yang begitu baik dan berbudi kepadanya. Di dalam ayat tadi, Allah memberitahu kita manusia bahawa Dia berselawat kepada Rasulullah supaya kita juga turut melakukannya. Allah juga ada memuji-muji nabi-nabi yang lain serta orang-orang yang soleh yang terdahulu daripada Nabi Muhammad di dalam [[ Al-quran]]. Allah sebenarnya mahu mengajar kita supaya memuja dan memuji orang-orang yang taat kepada-Nya, lebih daripada tokoh-tokoh negara atau personaliti-personaliti glamor yang banyak melanggar perintah-Nya.

2. Selawat daripada malaikat kepada para nabi dan rasul.
Para malaikat merupakan makhluk Allah yang sangat taat. Mereka selalu berselawat kepada para nabi dan rasul. Walaupun malaikat adalah makhluk yang suci yang diciptakan daripada cahaya, namun darjat para nabi dan rasul adalah lebih tinggi daripada mereka. Mengapa? Kerana malaikat sememangnya diciptakan tanpa nafsu (yang sering mengajak manusia melakukan kejahatan dan kemungkaran), oleh itu adalah mudah untuk mereka melakukan ketaatan yang sepenuhnya kepada Allah. Tetapi manusia diciptakan dengan nafsu. Bermakna, manusia yang boleh menundukkan nafsunya untuk melakukan taat kepada Allah adalah lebih hebat dari keseluruhan para malaikat.

3. Selawat manusia kepada Nabi Muhammad.
Selawat kita umat Muhammad kepada nabi kita merupakan permohonan kita kepada Allah supaya memberikan keutamaan dan kemuliaan kepada baginda. Dengan berselawat, kita juga mengakui kerasulannya dan mengakui kebenaran ajaran yang dibawa oleh baginda. Sebenarnya Nabi Muhammad tidak memerlukan selawat-selawat daripada kita yang memohon Allah memberi keutamaan dan kemuliaan kepada baginda. Beliau sudahpun disebut sebagai manusia dan rasul yang paling utama. Tetapi dengan berselawat, kitalah yang akan mendapat manfaatnya. Kita akan mendapat pahala dan keberkatan serta dapat mendekatkan hati kita kepada baginda.
[sunting] Kepentingan Selawat

Kita sangat digalakkan berselawat kepada Nabi kita s.a.w. Malah ia begitu penting sehingga doa kita tidak diterima oleh Allah jika kita tidak berselawat. Perkara ini merupakan satu hakikat kerana ia disampaikan sendiri oleh Nabi Muhammad :
Rujukan :

* Riwayat Ad-Dailami

"Setiap doa adalah terhalang, sehingga berselawat atas Nabi s.a.w. "

Begitu sekali Allah melihat kepentingan selawat. Ini ialah kerana kebanyakan kita melakukan banyak dosa dan kemungkaran setiap hari. Lebih-lebih lagi kita yang hidup jauh daripada zaman Nabi s.a.w. Begitu lemahnya iman dan amalan Islam kita sehingga iman kita diibaratkan senipis kulit bawang dan iman kita pula diibaratkan seperti iman orang yang munafik. Memang sepatutnya sekiranya Allah tidak terima permintaan daripada orang-orang yang banyak melakukan dosa seperti kita.

Tetapi, Allah itu bersifat Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Dia kasihankan kita, maka Dia bagi jalan keluar.

Dia suruh kita berselawat kepada Nabi s.a.w. dahulu. Apabila kita berselawat, barulah doa kita akan didengar-Nya. Barulah ada peluang untuk ia dikabulkan pula. Kalau awal-awal lagi sudah ditolak, sudah tentu tidak ada peluang untuk diterima sama sekali.

Berselawat kepada Nabi ibarat kita dapat "recommendation" daripada baginda. Tamsilannya begini. Katakanlah kita hendak memohon sesuatu pekerjaan di sebuah syarikat. Kita tahu ramai orang lain yang bersaing dengan kita untuk mendapatkan kerja tersebut. Tetapi apabila kita jumpa pengurus dan cakap pada dia, "Saya kenal baik Encik Rustam, pembantu kanan tuan." Pada masa yang sama pula, Encik Rustam tu "recommend" kita untuk mendapatkan pekerjaan tersebut. Maka, menjadi mudahlah untuk kita diterima untuk menjawat jawatan tersebut.

Begitulah tamsilan kita berselawat kepada Nabi s.a.w. Bila kita berselawat, nabi pun akan menjawab selawat kita. Selawat baginda kepada kita itulah doa untuk kita. Dan doa para nabi itu sangatlah makbul, lebih-lebih lagi Nabi Muhammad s.a.w. yang mendapat gelaran kekasih Allah. Ini yang dikatakan "recommendation" tadi.

Selain selawat ini penting untuk menyampaikan doa kita kepada Allah s.w.t, ia juga penting untuk pelbagai hal yang lain.
[sunting] Kelebihan berselawat

1. Mendapat syafaat Nabi Muhammad s.a.w.
Rujukan :

* Sabda Nabi Muhammad s.a.w. :

"Barangsiapa yang berselawat kepadaku pada waktu pagi sepuluh kali dan pada waktu petang sepuluh kali, dia akan memperolehi syafaatku pada hari kiamat. "

Nasib kita di akhirat memang tidak pasti. Kalau dilihat pada diri kita umat akhir zaman yang banyak cacat cela dan kekurangan ini, rasa-rasanya kita adalah lebih layak untuk masuk neraka daripada masuk ke syurga. Oleh itu kita sangat memerlukan syafaat Nabi Muhammad untuk menolong kita di akhirat nanti.
[sunting] Syafaat Nabi di akhirat nanti ada 5 jenis

i) Syafaat Nabi untuk membebaskan ummat manusia daripada kedahsyatan Padang Mahsyar.

ii) Syafaat Nabi untuk memasukkan suatu kaum ke dalam syurga tanpa hisab dan perhitungan apa pun.

iii) Syafaat kepada kaum setelah dihisab dan diputuskan untuk menerima hukumnya yang setimpal, agar dicabut hukuman itu.

iv) Syafaat mengeluarkan mereka yang berdosa, dari azab neraka.

v) Syafaat untuk menaikkan ke tingkat yang lebih tinggi di syurga.

2. Mendapat perlindungan dan pembelaan dari Nabi s.a.w. (dengan izin Allah jua)
Rujukan :

* Riwayat Al Baihaqi dan Al Khatib; Sabda Nabi Muhammad s.a.w. :

"Barangsiapa berselawat kepadaku di sisi kuburku maka aku mendengarnya, barangsiapa berselawat kepadaku dari jauh, maka selawat itu diserahkan oleh seorang malaikat yang menyampaikan kepadaku dan ia dicukupi urusan keduniaan dan keakhiratan dan aku sebagai saksi dan pembela baginya. "

3. Mendapat keampunan dosa dari Allah.
Rujukan :

* Riwayat Ahmad, Nasai dan Al Hakim; Sabda Nabi Muhammad s.a.w. :

"Barangsiapa yang berselawat kepadaku satu kali, maka Allah berselawat kepadanya sepuluh selawat dan Allah menghapus sepuluh kesalahan (dosa) dan mengangkat sepuluh darjat kepadanya. " Rujukan :

* Riwayat Ad-Dailami: Sabda Nabi Muhammad s.a.w. :

"Barangsiapa berselawat kepadaku pada hari Jumaat dua ratus selawat, maka diampuni baginya dosa dua ratus tahun. "

4. Diberi pahala dari Allah s.w.t.
Rujukan :

* Riwayat Ahmad, Nasai dan Al Hakim; Sabda Nabi Muhammad s.a.w. :

"Telah datang kepadaku utusan dari Tuhanku 'Azzawajalla maka dia (Jibril) berkata: Barangsiapa yang mengucapkan selawat kepadaku dari ummatmu, Allah s. w. t. mencatat baginya sepuluh kebaikan dan menghapuskan darinya sepuluh dosa dan mengangkat Allah baginya sepuluh darjat dan menolak Allah atasnya (membalas) yang seumpamanya."

5. Mendapat ketenangan jiwa
Rujukan :

* Sabda Nabi Muhammad s.a.w. :

"Berselawatlah kamu kepadaku, kerana selawat itu menjadi zakat (penghening jiwa dan penghapus dosa) bagimu."

6. Mendapat rahmat dari Allah
Rujukan :

* Riwayat Muslim; Sabda Nabi Muhammad s.a.w. :

"Barangsiapa berselawat kepadaku satu kali, maka Allah menurunkan rahmat kepadanya sepuluh kali. "

7. Mendapat hajat dunia dan akhirat.
Rujukan :

* Riwayat Ibnu Majar dari Jarir r.a. ; Sabda Nabi Muhammad s.a.w. :

"Barangsiapa berselawat kepadaku dalam sehari seratus kali, maka Allah mendatangkan baginya seratus hajat, tujuh puluh untuk akhirat dan tiga puluh untuk dunia. "

8. Digembirakan dengan syurga.
Rujukan :

* Riwayat Abus Syaikh dari Anas r.a: Sabda Nabi Muhammad s.a.w. :

"Barangsiapa berselawat kepadaku dalam sehari seribu kali, maka dia tidak akan matt sehingga dia digembirakan dengan syurga. "

9. Menjadi orang yang terdekat kepada Nabi s.a.w. di akhirat nanti.
Rujukan :

* Riwayat An-Nasai dan Ibnu Hibban; Sabda Nabi Muhammad s.a.w. :

"Sesungguhnya seutama-utama manusia (orang terdekat) dengan akupada hari kiamat adalah merekayang lebih banyak berselawat kepadaku"
[sunting] Kelebihan selawat mengikut para ulama

1) Memperolehi limpah rahmat dari Allah.

2) Ditulis sepuluh kebajikan.

3) Dihapuskan sepuluh kesalahan.

4) Diangkat sepuluh darjat.

5) Memperolehi kesempurnaan iman.

6) Menjauhi dari kerugian dan penyesalan.

7) Tergolong sebagai orang-orang yang soleh.

8) Mendekatkan diri kepada Allah s.w.t.

9) Memperoleh syafaat Nabi s.a.w.

10) Memperolehi hubungan yang rapat dengan Nabi s.a.w.

11) Menghilangkan kesusahan dan melapangkan rezeki.

12) Melapangkan dada dan mententeramkan jiwa.

13) Menghapuskan dosa dan menutupkan aib.

14) Terselamat dari kebingungan di hari kiamat.

15) Menjadi sedekah bagi yang tidak mampu (orang miskin pun boleh dapat pahala sedekah)

16) Terhindar dari kefakiran.

17) Dipandang sebagai orang yang mencintai Nabi Muhammad s.a.w.

18) Memperolehi keberkatan dalam hidup.

19) Terhindar dari orang-orang bakhil.

20) Menjadikan sebab doa diterima oleh Allah s.w.t.

21) Memudahkan jalan bagi memasuki syurga.

22) Menjadi zakat dan pembersih diri.

23) Memperolehi selawat dari Allah dan para malaikat.

24) Memperolehi pujian seluruh makhluk di bumi dan langit.

25) Memenuhi hak Nabi sebagai suatu tugas ibadah.

26) Memperolehi petunjuk dan menghidupkan hati.

27) Tergolong dalam orang-orang yang tidak melupai Nabi Muhammad s.a.w.

28) Menghilangkan rasa dahaga dan panas matahari di Padang Mahsyar.

29) Dapat meneguhkan telapak kaki ketika meniti Titian Siratul Mustaqim di akhirat.

30) Terkabul segala hajat dan cita-cita.
[sunting] Gelaran orang yang tidak berselawat

i) Gelaran penghinaan.
Rujukan :

* Sabda Nabi Muhammad s.a.w. :

"Hinalah hidung orang yang ketika disebutkan namaku tidak membaca selawat kepadaku. "

ii) Gelaran bakhil (kedekut)
Rujukan :

* Sabda Nabi Muhammad s.a.w. :

"Orang yang bakhil ialah yang disebut namaku kepadanya lalu ia tidak mahu berselawat kepadaku. "

1. ↑ http://sbmb.dbp.gov.my/prpm/Search.aspx?k=selawat
2. ↑ http://www.islamweb.net/ver2/Fatwa/ShowFatwa.php?lang=A&Id=1200&Option=FatwaId

* Mohammed Yusof Hj. Ismail, Fadhilat membaca Selawat Nabi S.A.W. Perniagaan Jahabersa, Edisi 2001, ISBN : 983-077-439. [5]
* Terjemahan Al-Quran Dalam Bahasa Melayu, Universiti Islam Antarabangsa.[6]

Teks Sholawat Badar




صَـلا َةُ اللهِ سَـلا َمُ اللهِ عَـلَى طـهَ رَسُـوْلِ اللهِ
صَـلا َةُ اللهِ سَـلا َمُ اللهِ عَـلَى يـس حَبِيْـبِ اللهِ
تَوَ سَـلْنَا بِـبِـسْـمِ اللّهِ وَبِالْـهَادِى رَسُـوْلِ اللهِ
وَ كُــلِّ مُجَـا هِـدِ لِلّهِ بِاَهْـلِ الْبَـدْ رِ يـَا اَللهُ
اِلهِـى سَـلِّـمِ اْلا ُمـَّة مِـنَ اْلافـَاتِ وَالنِّـقْـمَةَ
وَمِنْ هَـمٍ وَمِنْ غُـمَّـةٍ بِاَ هْـلِ الْبَـدْ رِ يـَا اَللهُ
اِلهِى نَجِّـنَا وَاكْـشِـفْ جَـمِيْعَ اَذِ يـَّةٍ وَا صْرِفْ
مَـكَائـدَ الْعِـدَا وَالْطُـفْ بِاَ هْـلِ الْبَـدْ رِ يـَا اَللهُ
اِلهِـى نَـفِّـسِ الْـكُـرَبَا مِنَ الْعَـاصِيْـنَ وَالْعَطْـبَا
وَ كُـلِّ بـَلِـيَّـةٍ وَوَبـَا بِا َهْـلِ الْبَـدْ رِ يـَا اَللهُ
فَكَــمْ مِنْ رَحْمَةٍ حَصَلَتْ وَكَــمْ مِنْ ذِلَّـةٍ فَصَلَتْ
وَكَـمْ مِنْ نِعْمـَةٍ وَصَلَـتْ بِا َهْـلِ الْبَـدْ رِ يـَا اَللهُ
وَ كَـمْ اَغْـنَيْتَ ذَالْعُـمْرِ وَكَـمْ اَوْلَيْـتَ ذَاالْفَـقْـرِ
وَكَـمْ عَافَـيـْتَ ذِاالْـوِذْرِ بِاَ هْـلِ الْبَـدْ رِ يـَا اَللهُ
لَـقَدْ ضَاقَتْ عَلَى الْقَـلْـبِ جَمِـيْعُ اْلاَرْضِ مَعْ رَحْبِ
فَانْـجِ مِنَ الْبَلاَ الصَّعْـبِ بِا َهْـلِ الْبَـدْ رِ يـَا اَللهُ
ا َتَيـْنَا طَـالِـبِى الرِّفْـقِ وَجُـلِّ الْخَـيْرِ وَالسَّـعْدِ
فَوَ سِّـعْ مِنْحَـةَ اْلاَيـْدِىْ بِاَ هْـلِ الْبَـدْ رِ يـَا اَللهُ
فَـلاَ تَرْدُدْ مَـعَ الْخَـيـْبَةْ بَلِ اجْعَلْـنَاعَلَى الطَّيْبـَةْ
اَيـَا ذَاالْعِـزِّ وَالْهَـيـْبَةْ بِاَ هْـلِ الْبَـدْ رِ يـَا اَللهُ
وَ اِنْ تَرْدُدْ فَـمَنْ نَأْتـِىْ بِـنَيـْلِ جَمِيـْعِ حَاجَا تِى
اَيـَا جَـالِى الْمُـلِـمـَّاتِ بِاَ هْـلِ الْبَـدْ رِ يـَا اَللهُ
اِلهِـى اغْفِـرِ وَاَ كْرِ مْنَـا بِـنَيـْلِ مـَطَا لِبٍ مِنَّا
وَ دَفْـعِ مَسَـاءَةٍ عَـنَّا بِاَ هْـلِ الْبَـدْ رِ يـَا اَللهُ
اِلهِـى اَنـْتَ ذُوْ لُطْـفٍ وَذُوْ فَـضْلٍ وَذُوْ عَطْـفٍ
وَكَـمْ مِنْ كُـرْبـَةٍ تَنـْفِىْ بِاَ هْـلِ الْبَـدْ رِ يـَا اَللهُ
وَصَلِّ عَـلَى النـَّبِىِّ الْبَـرِّ بـِلاَ عَـدٍّ وَلاَ حَـصْـرِ
وَالِ سَـادَةٍ غُــــرِّ بِاَ هْـلِ الْبَـدْ رِ يـَا اَللهُ

Asal Usul Sholawat Badar
Sholawat Badar adalah rangkaian sholawat berisikan tawassul dengan nama Allah, dengan Junjungan Nabi s.a.w. serta para mujahidin teristimewanya para pejuang Badar. Sholawat ini adalah hasil karyaKyai Ali Manshur, yang merupakan cucu KH. Muhammad Shiddiq, Jember. Oleh itu, Kyai ‘Ali Manshur adalah anak saudara atau keponakan KH. Ahmad Qusssyairi

( ulama besar dan pengarang kitab “”Tanwir al-Hija” yang telah disyarahkan dengan judul “Inarat ad-Duja“oleh ulama terkemuka Haramain, Sayyid ‘Alawi bin ‘Abbas bin ‘Abdul ‘Aziz al-Maliki al-Hasani.

Diceritakan bahawa karya ini ditulis oleh Kiyai ‘Ali Manshur sekitar tahun 1960, tatkala kegawatan umat Islam Indonesia menghadapi fitnah Partai Komunis Indonesia (PKI). Ketika itu, Kiyai ‘Ali adalah Kepala Kantor Departemen Agama Banyuwangi, juga menjadi Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama di situ. Keadaan politik yang bercelaru saat itu dan kebejatan PKI yang bermaharajalela membunuh massa, bahkan ramai kiyai yang menjadi mangsa mereka, menyebabkan terlintas di hati Kiyai ‘Ali, yang memang mahir membuat syair ‘Arab sejak nyantri di Pesantren Lirboyo Kediri lagi, untuk menulis satu karangan sebagai sarana bermunajat memohon bantuan Allah s.w.t. Dalam keadaan sedemikian, Kiyai ‘Ali tertidur dan dalam tidurnya beliau bermimpi didatangi manusia-manusia berjubah putih – hijau, dan malam yang sama juga, isteri beliau bermimpikan Kanjeng Nabi s.a.w.
Setelah siang, Kiyai ‘Ali langsung pergi berjumpa dengan Habib Hadi al-Haddar Banyuwangi

dan menceritakan kisah mimpinya tersebut. Habib Hadi menyatakan bahawa manusia-manusia berjubah tersebut adalah para ahli Badar. Mendengar penjelasan Habib yang mulia tersebut, Kyai ‘Ali semakin bertekad untuk mengarang sebuah syair yang ada kaitan dengan para pejuang Badar tersebut. Lalu malamnya, Kyai ‘Ali menjalankan penanya untuk menulis karya yang kemudiannya dikenali sebagai “Sholawat al-Badriyyah” atau “Sholawat Badar“.
Apa yang mengherankan ialah keesokan harinya, orang-orang kampung mendatangi rumah beliau dengan membawa beras dan bahan makanan lainnya. Mereka menceritakan bahwa pagi pagi sekali mereka telah didatangi orang berjubah putih menyuruh mereka pergi ke rumah Kyai ‘Ali untuk membantunya karena satu kenduri akan diadakan di rumahnya. Itulah sebabnya mereka datang dengan membawa bahan makanan tersebut menurut kemampuan masing-masing. Tambah pelik lagi apabila malamnya, hadir bersama untuk bekerja membuat persiapan kenduri orang-orang yang tidak dikenali siapa mereka.
Menjelang keesokan pagi, serombongan habaib yang diketuai oleh Habib ‘Ali bin ‘Abdur Rahman al-Habsyi Kwitang

tiba-tiba datang ke rumah Kiyai ‘Ali. Tidak tergambar kegembiraan Kiyai ‘Ali menerima tetamu istimewanya tersebut. Setelah memulakan perbicaraan bertanyakan khabar, tiba-tiba Habib ‘Ali Kwitang bertanya mengenai syair yang ditulis oleh Kiyai ‘Ali tersebut. Tentu sahaja Kiyai ‘Ali terkejut kerana hasil karyanya itu hanya diketahuinya dirinya seorang dan belum dimaklumkan kepada sesiapa pun. Tapi beliau mengetahui, ini adalah satu kekeramatan Habib ‘Ali yang terkenal sebagai waliyullah itu. Lalu tanpa lengah, Kiyai ‘Ali Manshur mengambil helaian kertas karangannya tersebut lalu membacanya di hadapan para hadirin dengan suaranya yang lantang dan merdu. Para hadirin dan habaib mendengarnya dengan khusyuk sambil menitiskan air mata kerana terharu. Setelah selesai dibacakan Sholawat Badar oleh Kiyai ‘Ali, Habib ‘Ali menyeru agar Sholawat Badar dijadikan sarana bermunajat dalam menghadapi fitnah PKI.
”Ya akhi , mari kita perangi genjer –genjer PKI itu dengan sahalawat Badar ! ”kata Habib Ali kwitang mantap . setelah itu Habib Ali kwitang memimpin doa , lalu rombongan itu memohon diri .Maka sejak saat itu masyhurlah karya Kiyai ‘Ali tersebut.
Selanjutnya, untuk mempopulerkan shalawat badar , Habib ‘Ali Kwitang telah mengundang para ulama dan habaib ke Kwitang untuk satu pertemuan, termasuk dijemput ialah Kyai ‘Ali Manshur bersama pamannya KH. Ahmad Qusyairi. Dalam pertemuan tersebut, Kyai ‘Ali sekali lagi diminta untuk mengumandangkan Sholawat al-Badriyyah gubahannya itu. Maka bertambah masyhur dan tersebar luas Sholawat Badar ini dalam masyarakat serta menjadi bacaan popular dalam majlis-majlis ta’lim dan pertemuan.
Semoga Allah swt memberikan sebaik-baik ganjaran dan balasan buat pengarang Sholawat Badar serta para habaib tersebut….. al-Fatihah.
Sumber : Ponpes Nurul Hidayah Kal-Tim