Kemurnian (atau kesucian, shafa’) adalah sifat yang dikagumi dalam setiap bahasa, dan lawannya, yakni kekotoran, adalah sifat yang sangat tercela.
Abu Huzaifah menuturkan, "Pada suatu hari Rasulullah saw keluar menemui kami dengan wajah pucat, lalu beliau berkata, “Kesucian dunia telah lenyap, hanya tinggal kekotoran belaka. Hari ini, kematian adalah rahmat bagi setiap Muslim.”
Sebutan "sufi" telah menjadi sebutan umum ini bagi kelompok ini. Jadi, seseorang dikatakan seorang sufi dan kelompoknya disebut "Sufiyah." Orang yang berusaha menjadi seperti salah seorang mereka disebut mutashawwif, dan kelompoknya disebut mutashawifah.
Tidak ada etimologi ataupun analogi dengan kata lain dalam bahasa Arab yang dapat diturunkan dari sebutan sufi. Penafsiran yang paling masuk akal adalah bahawa sufi banyak serupa dengan nama diri. Ada orang-orang yang mengatakan bahawa kata sufi diambil dari kata suf (bulu). Jadi, tashawwuf digunakan dengan erti "memakai kain bulu," sebagaimana kata taqammus digunakan dengan erti "memakai baju" (qamis). Itu hanya kemungkinan saja. Tapi sesungguhnya kaum Sufi tidaklah dibezakan kerana memakai pakaian dari bulu. Orang-orang lain mengatakan bahawa kaum sufi berhubungan dengan [orang-orang yang duduk] di serambi (shuffah) di luar masjid Rasulullah saw. Tetapi kata shuffah tidaklah diturunkan dari shufi. Kelompok lain mengatakan bahawa kata shufi, berasal dari kata shafa', yang bererti "kemurnian." Penurunan kata shufi dari shafa' tidaklah mungkin ditinjau dari sudut bahasa.
Sebahagian orang mengatakan bahawa kata shufi berasal dafi shaff yang bererti "jajaran" atau "darjat" kerana kaum Sufi berada di darjat yang paling tinggi disebabkan kebaikan hati mereka. Ini memang benar dari segi erti. Namun kata shufi. tidak dapat menjadi bentuk fa'il (pelaku) dari kata shaff. Kesimpulannya, kelompok ini [kaum Sufi] begitu terkenal sehingga tidaklah perlu mencari analogi atau istilah untuk sebutan bagi mereka.
Setiap orang yang berbicara tentang erti tasawwuf dan siapa yang disebut sufi, adalah berbicara menurut pengalamannya sendiri.
Ketika Muhammad Al-Jurairi ditanya tentang tasawwuf, dia menjelaskan, "Tasawwuf bererti menyandang setiap akhlak yang mulia dan meninggalkan setiap akhlak yang tercela." Al-Junaid rnengatakan, "Tasawwuf ertinya Allah menjadikan engkau mati terhadap dirimu sendiri dan memberimu hidup dalam Diri-Nya." Al-Husain bin Manshur, ketika ditanya tentang sufi, menjawab, "Dia adalah manusia yang berwatak menyendiri. Tidak seorang pun yang menerimanya, dan dia pun juga tidak menerima siapa pun."
Abu Hamzah Al-Baghdadi berkata, "Tanda seorang sufi sejati adalah dia menjadi miskin setelah kaya, mengalami kehinaan setelah dihormati, dan dia menjadi tidak terkenal setelah mengalami kemasyhuran. Tanda seorang Sufi palsu adalah dia menjadi kaya setelah miskin, diberi penghormatan tinggi setelah mengalami kehinaan, dan dia menjadi masyhur setelah tidak terkenal."
Amr bin Utsman Al-Makki ditanya tentang tasawwuf, dan dia menegaskan, "Tasawwuf adalah si hamba berbuat sesuai dengan apa yang paling sesuai pada saat itu." Muhammad bin AIi Al-Qassab menyatakan, 'Tasawwuf terdiri dari akhlak mulia yang diperlihatkan oleh seorang yang mulia di tengah-tengah kumpulan orang mulia." Ketika ditanya tentang tasawwuf, Samnun berkata, "Tasawwuf bererti bahawa engkau tidak memiliki apa pun, tidak pula dimiliki oleh apa pun." Ruwaim berkata tentang tasawwuf, "Tasawwuf ertinya menyerahkan diri kepada Allah dalam setiap keadaan apa pun yang dikehendaki-Nya." Al-Junaid ditanya tentang tasawwuf, dan dia menjelaskan, ''Tasawwuf adalah bahawa engkau berada semata-mata bersama Tuhan tanpa sebarang ikatan [kepada yang lain]."
Ruwaim bin Ahmad Al-Baghdadi berkata, ''Tasawwuf didasarkan pada tiga sifat: memeluk kemiskinan dan bergantung hanya pada Tuhan, mencapai sifat murah hati dan memberi dengan mendahulukan kepentingan orang lain atas kepentingan diri sendiri, dan meninggalkan sikap menentang dan memilih."
Ma'ruf Al-Karkhi menjelaskan, "Tasawwuf ertinya berpegang pada hakekat-hakekat yang tersembunyi dan memutuskan harapan dari semua yang ada di tangan manusia."
Hamdun Al-Qassar berkata, "Bertemanlah dengan para Sufi, kerana mereka melihat alasan-alasan untuk memaafkan perbuatan-perbuatan yang tidak baik, dan mereka tidak terjejas oleh perbuatan-perbuatan baik, sedemikian rupa sehingga mereka akan menganggapmu besar kerana mengerjakannya." Ketika ditanya tentang para penganut tasawwuf, Al-Kharraz menjawab, ''Mereka adalah kelompok manusia yang mengalami kelapangan, yang mencampakkan segala milik mereka sampai mereka kehilangan segala-galanya. Kemudian, mereka diseru oleh rahsia-rahsia yang mengeliling mereka, “Bangkitlah, menangislah kerana kami."
Al- Junaid berkata, "Tasawwuf adalah perang tanpa damai.” Dia juga mengatakan, "Para sufi adalah anggota dari satu keluarga yang tidak dapat dimasuki oleh orang-orang selain mereka." Dia juga menjelaskan lagi "Tasawwuf adalah menyeru Tuhan bersama dengan penumpuan batin, kerohanian yang disertai pendengaran yang penuh, dan tindakan yang digabung dengan mengikuti Sunnah."'
Al-Junaid menyatakan, "Kaum sufi adalah seperti bumi: selalu bersikap baik terhadap keburukan yang dicampakkan kepadanya, namun tidak menumbuhkan apa pun selain kebaikan." Dia juga mengatakan "Seorang sufi adalah bagaikan bumi: baik orang saleh mahupun durhaka berjalan di atasnya. Dia juga seperti awan: memberikan keredupan kepada semua makhluk. Dia seperti air hujan: mengairi segala sesuatu."
Dia juga mengatakan, "Jika engkau melihat seorang sufi menaruh perhatian kepada penampilan lahiriahnya, maka ketahuilah bahawa wujud batinnya rosak." Sahl bin Abdullah berpendapat, "Sufi adalah orang yang tidak akan keberatan jika darahnya ditumpahkan dan harta bendanya diambil."
An-Nuri berkata, "Tanda seorang sufi adalah dia merasa rela apabila tidak punya apa-apa, dan memberi dengan berlimpah tatkala punya banyak." Al-Kattani menegaskan, "Tasawwuf adalah akhlak yang baik. Barangsiapa yang melebihimu dalam akhlak yang baik, bererti ia melebihimu dalam tasawwuf."
Abu Ali Ar-Rudzbari mengatakan, "Tasawwuf adalah tinggal di pintu sang kekasih sekalipun engkau diusir." Dia juga mengatakan, "Tasawwuf adalah sucinya berdekatan [dengan Allah] setelah kotornya berjauhan [dari-Nya].” Dikatakan, "Tasawwuf adalah tangan yang kosong dan hati yang suci." Asy-Syibli mengatakan, "Tasawwuf adalah duduk bersama Tuhan, tanpa peduli [pada yang lain]." Abu Manshur berkata, "Sufi adalah orang yang petunjuknya datang dari Allah SWT kerana sesungguhnya manusia menampakkan sesuatu dari Allah." Asy-Syibli mengatakan, "Sufi terpisah dari manusia dan bersatu dengan Tuhan sebagaimana difirmankan Allah kepada Musa,
وَٱصۡطَنَعۡتُكَ لِنَفۡسِى
Dan Aku telah memilihmu untuk Dri-Ku. (Ta-Ha: 41)
Dan memisahkannya dari yang lain. Kemudian Dia berfirman kepadanya,
وَلَمَّا جَآءَ مُوسَىٰ لِمِيقَـٰتِنَا وَكَلَّمَهُ ۥ رَبُّهُ ۥ قَالَ رَبِّ أَرِنِىٓ أَنظُرۡ إِلَيۡكَۚ قَالَ لَن تَرَٮٰنِى وَلَـٰكِنِ ٱنظُرۡ إِلَى ٱلۡجَبَلِ فَإِنِ ٱسۡتَقَرَّ مَڪَانَهُ ۥ فَسَوۡفَ تَرَٮٰنِىۚ فَلَمَّا تَجَلَّىٰ رَبُّهُ ۥ لِلۡجَبَلِ جَعَلَهُ ۥ دَڪًّ۬ا وَخَرَّ مُوسَىٰ صَعِقً۬اۚ فَلَمَّآ أَفَاقَ قَالَ سُبۡحَـٰنَكَ تُبۡتُ إِلَيۡكَ وَأَنَا۟ أَوَّلُ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ
Dan ketika Nabi Musa datang pada waktu yang Kami telah tentukan itu dan Tuhannya berkata-kata dengannya, maka Nabi Musa (merayu dengan) berkata: Wahai Tuhanku! Perlihatkanlah kepadaku (ZatMu Yang Maha Suci) supaya aku dapat melihatMu. Allah berfirman: Engkau tidak sekali-kali akan sanggup melihatKu, tetapi pandanglah ke gunung itu, maka kalau dia tetap berada di tempatnya, nescaya engkau akan dapat melihatKu. Setelah Tuhannya "Tajalla" (menzahirkan kebesaranNya) kepada gunung itu, (maka) "TajalliNya" menjadikan gunung itu hancur lebur dan Nabi Musa pun jatuh pengsan. Setelah dia sedar semula, berkatalah dia: Maha Suci Engkau (wahai Tuhanku), aku bertaubat kepadaMu dan akulah orang yang awal pertama beriman (pada zamanku) (Al-A'raf: 143)
Asy-Syibli juga mengatakan, "Para Sufi adalah anak-anak di pangkuan Tuhan," -"Tasawwuf adalah kilasan kilat yang menyala," dan "Tasawwuf terlindung dari menaruh perhatian kepada makhluk." Ruwaim menyatakan, “ Para Sufi akan tetap penuh dengan kebaikan selama mereka bertengkar satu dengan yang lain. Tapi segera setelah mereka berdamai, maka tidak ada lagi kebaikan pada mereka."
Al-Jurairi mengatakan, "Tasawwuf bererti menyucikan kesedaran yang hidup atas keadaan-keadaan diri sendiri dan berpegang pada perilaku yang benar,'' Al-Muzayyim menegaskan, "Tasawwuf adalah penyerahan kepada Tuhan." Abu Turrab An-Nakhsyabi menyatakan, "Seorang sufi tidaklah dikotori oleh sesuatu pun, [tapi sebaliknya] segala sesuatu dijadikan suci olehnya."
Dikatakan, "Pencarian tidaklah meletihkan sang sufi, dan hal-hal duniawi tidaklah mengganggunya." Ketika Dzun Nun Al-Mishri ditanya tentang kaum Sufi, dia menjawab, "Mereka adalah kelompok manusia yang mengutamakan Allah SWT di atas segala-galanya dan yang diutamakan oleh Allah di atas segala makhluk." Al-Wasiti mengatakan, "Mula- mula para Sufi diberi petunjuk-petunjuk yang jelas kemudian petunjuk-petunjuk itu menjadi hanya sekadar gerakan-gerakan saja, dan sekarang tidak ada sesuatu pun yang tinggal selain kesedihan.”
An-Nuri ditanya tentang sufi, dan dia menjawab "Sufi adalah manusia yang mendengar pendengaran dan yang mengutamakan sebab-sebab [keselamatan] [yang direstui]." Abu Nasr As-Sarraj menuturkan, "Aku bertanya kepada Al-Husri, "Siapakah, menurutmu, yang disebut sufi?" Dia menjawab, "Bumi tidak membawanya, dan langit pun tidak menaunginya." Dengan ucapannya ini Al-Husri merujuk kepada terhapusnya sang sufi. Dikatakan, "Sufi adalah orang yang manakala disogok dua keadaan atau dua akhlak yang baik, dia akan memilih yang lebih baik di antaranya."
Asy-Syibli ditanya, "Mengapa para sufi itu disebut sufi?" Dia menjawab, "Hal itu kerana adanya bekas-bekas diri yang tertinggal pada mereka. Jika bukan demikian halnya, nescaya tidak akan ada nama yang dilekatkan pada mereka." Ibn Al-Jalla' ditanya, "Siapakah yang disebut sufi?" Dia menjawab, "Kita tidak mengenal mereka dengan keadaan yang ada dalam ilmu pengetahuan. Tapi kita tahu bahawa mereka adalah orangorang yang miskin, sama sekali tidak memiliki kebanggaan duniawi. Mereka bersama Tuhan tanpa terikat pada suatu tempat, tetapi Allah SWT tidak menghalangnya dari mengenal semua tempat. Itulah yang disebut Sufi."
Salah seorang Sufi menyatakan, "Tasawwuf bererti kehilangan kemuliaan dan darjat serta menghitamnya muka di dunia dan di akhirat." Abu Ya'qub Al Mazabili menjelaskan, "Tasawwuf adalah keadaan di mana semua penghargaan manusia pudar" Abul Hasan As-Sirwani mengatakan, "Sufi adalah dia yang perhatiannya hanya pada keadaan-keadaan yang diilhamkan, bukan dengan lafaz-lafaz dzikir dan bacaan-bacaan."
Syeikh Abu Ali Ad-Daqqaq berkata, "Perkara paling baik yang pernah dikatakan tentang masalah ini adalah, “Jalan [Sufi] ini hanya sesuai untuk orang-orang yang jiwanya telah digunakan Tuhan untuk menyapu kotoran binatang.” Kerana alasan ini Abu Ali pada suatu hari menyatakan, "Seandainya sang sufi tidak punya apa-apa lagi yang tersisa selain jiwanya, dan jiwanya itu ditawarkannya kepada anjing-anjing di pintu ini, nescaya tidak seekor pun yang akan menaruh perhatian kepadanya." Syeikh Abu Sahl As-Su'luki berkata, "Tasawwuf adalah berpaling dari keberatan-keberatan batin [terhadap apa yang ditetapkan Tuhan]."
Al-Husri berpendapat, "Sang sufi tidaklah ada setelah ketiadaannya, tidak pula dia tidak ada setelah keberadaannya." Ucapan ini tidak mudah difahami. Kata-kata "Dia tidaklah ada setelah ketiadaannya" bererti bahawa setelah cacat-cacatnya hilang, cacat-cacat itu tidaklah kembali lagi. Perkataan "Tidak pula dia tidak ada setelah keberadaannya" bererti bahawa dia sama sekali berhubung kepada Tuhan, dia tidak merosot kepada darjat ummat manusia pada umumnya, hingga kejadian-kejadian dunia tidaklah mempengaruhinya.
Dikatakan, "Sang sufi terhapus dalam kilasan yang diterimanya dari Allah." Dikatakan pula, "Sang sufi dibanjiri oleh limpahan Ilahi dan ditabiri oleh prilaku kehambaan." Juga dikatakan. “Sufi itu tidak berubah. Tapi seandainya dia berubah juga, dia tidak akan bersedih." Al-Kharraz menuturkan, "Aku sedang berada di masjid Qairuwan pada suatu hari Jumaat. Kulihat seorang laki-laki berjalan di antara saf-saf jamaah sambil berkata, “Berilah saya sedekah, kerana saya adalah seorang sufi, dan saya telah menjadi lemah.” Maka aku pun menawarkan sedikit sedekah kepadanya tapi dia lalu berkata kepadaku, “Tinggalkan saja aku; celaka engkau! Ini bukanlah yang kucari.” Dan dia tidak mahu menerima sedekah itu."
Jumaat, Disember 30
RISALAH AL QUSYAIRI BAB 38: KEFAKIRAN (FAQR)
لِلۡفُقَرَآءِ ٱلَّذِينَ أُحۡصِرُواْ فِى سَبِيلِ ٱللَّهِ لَا يَسۡتَطِيعُونَ ضَرۡبً۬ا فِى ٱلۡأَرۡضِ يَحۡسَبُهُمُ ٱلۡجَاهِلُ أَغۡنِيَآءَ مِنَ ٱلتَّعَفُّفِ تَعۡرِفُهُم بِسِيمَـٰهُمۡ لَا يَسۡـَٔلُونَ ٱلنَّاسَ إِلۡحَافً۬اۗ وَمَا تُنفِقُواْ مِنۡ خَيۡرٍ۬ فَإِنَّ ٱللَّهَ بِهِۦ عَلِيمٌ
Pemberian sedekah itu) ialah bagi orang-orang fakir miskin yang telah menentukan dirinya (dengan menjalankan khidmat atau berjuang) pada jalan Allah (membela Islam), yang tidak berupaya mengembara di muka bumi (untuk berniaga dan sebagainya); mereka itu disangka: Orang kaya oleh orang yang tidak mengetahui halnya, kerana mereka menahan diri daripada meminta-minta. Engkau kenal mereka dengan (melihat) sifat-sifat dan keadaan masing-masing, mereka tidak meminta kepada orang ramai dengan mendesak-desak dan (ketahuilah), apa jua yang kamu belanjakan dari harta yang halal maka sesungguhnya Allah sentiasa Mengetahuinya. (Al-Baqarah: 273)
Diriwayatkan oleh Abu Hurairah bahawa Nabi saw telah bersabda, "Orang-orang miskin akan memasuki syurga lima ratus tahun sebelum orang-orang kaya. Dalam perhitungan syurga, lima ratus tahun itu sama dengan setengah hari." Diriwayatkan oleh Abdullah bahawa Rasulullah saw telah mengatakan, "Orang miskin itu bukanlah mereka yang berkeliling ke sana kemari dengan harapan diberi orang segenggam dua genggam, sebutir atau dua butir kurma." Seseorang bertanya, "Kalau begitu, siapakah orang miskin itu?” Nabi saw menjawab, “Dia adalah orang yang tidak mampu memenuhi keperluan asasnya tapi malu meminta kepada orang, tidak pula orang lain mengetahui hal ehwal mereka hingga mereka dapat diberi sedekah." Ucapan Nabi "tapi malu meminta" ertinya adalah bahawa mereka malu kepada Allah untuk neminta-minta dari orang ramai, bukan malu kepada manusia.
Kefakiran adalah ciri yang membezakan para wali lari manusia lain, perhiasan orang-orang suci, dan sifat pilihan Tuhan bagi manusia-manusia pilihan-Nya, orang-orang saleh dan para nabi. Orang-orang fakir adalah manusia-manusia pilihan Allah SWT di antara hamba-hamba-Nya. Mereka adalah penyimpan rahsia-rahsia-Nya di antara para hamba-Nya, yang dengan mereka Dia menjaga para makhluk dan yang dengan keberkatan mereka rezeki disebarkan di kalangan manusia. Orang-orang miskin yang sabar akan menjadi sahabat-sahabat Allah SWT pada Hari Kebangkitan seperti dikatakan dalam hadith riwayat Umar bin Al-Khathab ra, yang mengatakan bahawa:
Rasulullah saw telah bersabda, "Bagi tiap-tiap sesuatu ada kuncinya, dan kunci syurga adalah mencintai orang-orang miskin. Kaum miskin yang sabar akan menjadi sahabat-sahabat Allah SWT pada Hari Kebangkitan."
Diceritakan bahawa seorang laki-laki membawakan wang sebanyak sepuluh ribu dirham kepada Ibrahim bin Adham, tetapi Ibrahim tidak menerimanya dan berkata "Engkau mahu menghapus namaku dari daftar orang-orang miskin dengan wang sepuluh ribu dirham! Aku tidak akan menerimanya!"
Muadz An-Nasafi menegaskan, "Allah tidak pernah membinasakan suatu kaum, apa pun [kejahatan] yang mereka lakukan, kecuali jika mereka merendahkan dan menghina kaum miskin."
Dikatakan bahawa seandainya kaum miskin tidak memiliki kebajikan lain dalam pandangan Allah selain keinginan mereka agar rezeki dilimpahkan dan dimurahkan di kalangan kaum Muslimin, nescaya itu sudah cukup bagi mereka, sebab mereka perlu membeli barang-barang dan orang-orang kaya perlu menjualnya. Begitulah halnya dengan kaum miskin yang awam, maka bagaimana pula halnya dengan kaum yang terpilih di kalangan mereka?
Ketika Yahya bin Muadz ditanya tentang kefakiran dia menjawab, "Hakikat kefakiran adalah bahawa si hamba tidak bergantung kepada siapa pun selain Allah, dan tanda kefakiran adalah tidak adanya harta benda.” Ibrahim Al-Qashar mengatakan, "Kefakiran adalah pakaian yang apabila telah dipakai akan mendatangkan keredhaan."
Seorang fakir datang kepada Syeikh Abu Ali Ad-Daqqaq pada tahun 394 atau 395 Hijriyah dari Zuzan. Dia memakai pakaian yang diperbuat dari kain yang sangat kasar dan serban dari kain yang sama. Salah seorang sahabat syeikh itu bertanya dengan nada bergurau, "Berapa harga pakaianmu ini?" Dia menjawab, "Aku membayarnya dengan dunia ini, dan akhirat ditawarkan kepadaku untuk ditukar dengannya. Tapi aku tidak akan menjualnya dengan harga tersebut."
Syeikh Abu Ali Ad-Daqqaq menuturkan, "Suatu ketika seorang miskin mendatangi sebuah pertemuan untuk meminta sedekah, dengan berkata, “Saya sudah tiga hari tidak makan.” Salah seorang syeikh yang hadir di situ berkata, "Engkau dusta! Kemiskinan adalah rahsia Tuhan. Dia tidak mempercayakan rahsia-Nya kepada orang yang menunjukkannya kepada siapa pun yang dikehendakinya!"' Hamdun Al-Qassar menyatakan, "Apabila Iblis dan tenteranya berkumpul, mereka tidak bergembira sebagaimana kegembiraan mereka menyaksikan seorang Muslim membunuh sesama Muslim, seseorang yang mati dalam keadaan fakir (hina), dan sebuah hati yang menyimpan ketakutan pada kemiskinan."
Al-Junaid berkata, "Wahai orang-orang miskin, kamu semua dijadikan terkenal oleh Allah dan dihormati kerana-Nya. Tetapi perhatikanlah bagaimana keadaanmu tatkala kamu berada bersendirian bersama-Nya."
Al-Junaid ditanya, “Keadaan manakah yang lebih baik miskin dan bergantung pada Tuhan, ataukah dijadikan kaya oleh-Nya?" Dia menjawab, "Jika kemiskinan seseorang adalah sahih, maka kekayaannya adalah sahih di sisi-Nya. Jika kekayaannya di sisi-Nya adalah sahih, maka kemiskinan dan bergantung kepada-Nya juga disempurnakan. Janganlah bertanya, 'Manakah yang lebih baik,' sebab keduanya adalah keadaan yang salah satunya tidak akan lengkap tanpa yang lain."
Ruwaim menyatakan, ketika ditanya tentang tanda seorang miskin, "Miskin bererti menyerahkan jiwa kepada ketentuan Tuhan.” Dikatakan bahawa ada tiga tanda seorang miskin: dia melindungi batinnya, dia melaksanakan kewajipan-kewajipan agamanya, dia menyembunyikan kemiskinannya.” Seseorang bertanya kepada Abu Sa'id Al-Kharraz, "Mengapa kemurahan hati orang kaya tidak sampai kepada orang miskin?” Dia menjawab, "Kerana tiga alasan: kekayaan mereka diperolehi dengan jalan yang tidak halal, mereka tidak dimampukan untuk memberi sedekah, dan penderitaan orang miskin itu memang dikehendaki."
Dikatakan bahawa Allah SWT mewahyukan kepada Musa as, "Jika engkau berjumpa dengan orang-orang miskin, tanyakanlah tentang mereka seperti yang engkau tanyakan kepada orang-orang kaya. Jika hal itu tidak engkau lakukan, maka campakkanlah ke tanah semua yang telah Ku-ajarkan kepadamu.”
Diriwayatkan bahawa Abu Darda' menegaskan, "Aku lebih suka jatuh dari tembok istana dan remuk daripada duduk bersama orang kaya, kerana aku mendengar Rasulullah saw berkata, “Waspadalah dari duduk-duduk bersama orang mati” Seseorang bertanya, “Siapa orang mati itu?” Beliau menjawab, “Orang kaya."
Seseorang berkata kepada Ar-Rabi' bin Khutsaim, "Harga-harga naik setinggi langit!" Dia menjawab, "Kita tidak berharga untuk dibuat lapar oleh Allah. Dia hanya melakukan hal itu pada wali-wali-Nya." Ibrahim bin Adham menyatakan, "Kami meminta kemiskinan tetapi diberi kekayaan; orang lain meminta kekayaan tapi kemiskinan datang kepada mereka."
Seorang laki-laki bertanya kepada Yahya bin Muadz, "Apakah kemiskinan itu?" Dia berkata, "Takut pada kemiskinan." Orang itu bertanya lagi, "Lantas, apakah kekayaan itu?" Dia menjawab, "Keamanan di sisi Allah SWT." Ibn Al-Karanbi berkata, "Orang miskin yang sejati menjauhi kekayaan agar kekayaan tidak mendatanginya dan merosakkan kemiskinannya, sebagaimana halnya orang kaya menjauhi kemiskinan, agar kemiskinan tidak mendatangrnya dan merosakkar kekayaannya."
Abu Hafs ditanya, "Dengan cara apa orang miskin mendekati Tuhannya SWT?" Dia menjawab, "Orang miskin tidak memiliki apa-apa selain kemiskinannya yang dengan kemiskinan itu dia mendekati Tuhannya."
Allah SWT mewahyukan kepada Musa as, "Mahu kah engkau memperolehi pahala amal kebajikan yang setara dengan pahala seluruh ummat manusia di Hari Kiamat nanti?" Musa menjawab, 'Ya." Allah berfirman "Kunjungilah orang sakit dan pastikanlah bahawa orang-orang miskin punya pakaian." Musa lalu menyisihkan tujuh hari setiap bulan untuk mengunjung orang-orang miskin dan memeriksa pakaian mereka serta mengunjungi orang sakit.
Sahl bin Abdullah menyatakan, "Ada lima contoh kemuliaan jiwa: seorang miskin yang berpura-pura bebas dari keperluan, seorang lapar yang berpura-pura kenyang, seorang yang bersedih yang pura-pura bahagia, seseorang yang punya musuh tapi memperlihatkan kecintaan terhadapnya, seseorang yang berpuasa di siang hari dan bangun di malam hari [untuk solat] tanpa memperlihatkan kelemahan."
Bisyr bin Al-Harits berkata, "Maqam (kedudukan) yang paling baik adalah maqam keyakinan yang mantap dalam kesabaran melalui kemiskinan sampai masuk liang lahad." Dzun Nun mengatakan, "Satu tanda kemurkaan Allah kepada seorang hamba adalah bahawa si hamba merasa takut kepada kemiskinan."
Asy-Syibli berpendapat, "Tanda kemiskinan yang paling kecil adalah jika seluruh kekayaan dunia ini diberikan kepada seseorang dan kemudian disedekahkannya sampai habis dalam waktu satu hari, tetapi kemudian terlintas dalam fikirannya bahawa dia mestilah menyimpan sedikit yang cukup untuk sehari makan. [Jika fikiran seperti itu masih terlintas dalam benaknya, maka dia tidak dapat dianggap benar dalam kemiskinannya.] "
Syeikh Abu Ali Ad-Daqqaq berkata, "Orang bertanya mana yang lebih baik: kemiskinan ataukah kekayaan. Menurut pendapatku, yang paling baik adalah bahawa seseorang diberi rezeki yang cukup untuk penghidupannya dan dia lalu.menjaga dirinya dalam batas tersebut."
Abu Muhammad Yasin menuturkan, "Aku bertanya kepada Ibn Al-Jalla'tentang kemiskinan. Dia diam saja; kemudian mengundurkan diri dan pergi. Sesaat kemudian dia kembali dan berkata, 'Aku punya empat keping mata wang dan aku merasa malu kepada Allah SWT untuk berbicara tentang kemiskinan sebelum aku menyingkirkan kepingan-kepingan wang itu.” Kemudian dia mulai berbicara tentang kemiskinan."
Ibrahim bin Al-Muwallad berkata, "Aku bertanya kepada Ibn Al-Jalla', 'Bilakah orang-orang miskin patut disebut miskin?” Dia menjawab, “Jika tidak ada lagi sesuatu pun darinya yang tersisa padanya.” Aku bertanya, “Bagaimana dapat begitu?” Dia menjawab, “Jika dia memiliki sebutan itu, bererti dia tidak memiliki kemiskinan. Tapi jika dia tidak lagi memiliki sebutan itu, bererti dia memiliki kemiskinan itu." Dikatakan bahawa keadaan miskin yang sahih adalah jika si miskin tidak merasa puas dengan bahagian mana pun dari kemiskinannya, selain dengan Dia yang diperlukannya.
Abdullah bin Al-Mubarak menyatakan, "Membuat diri sendiri tampak kaya sedangkan keadaan sebenarnya miskin, adalah lebih baik daripada kemiskinan."
Banan Al-Mishri menuturkan, "Suatu ketika aku sedang duduk-duduk di Makkah, dan seorang pemuda berada di depanku. Seorang laki-laki datang kepadanya dengan membawa sebuah bekas berisi wang dan meletakkannya di hadapan pemuda itu. Pemuda itu rerkata, “Aku tidak memerlukannya.” Orang itu berkata, “Kalau begitu, bahagi-bahagikanlah kepada orang-orang miskin.” Petang harinya kulihat pemuda itu ada di lembah, sedang mengemis. Aku berkata, “Alangkah baiknya jika engkau menyimpan sedikit dari wang tadi untuk dirimu sendiri.” Dia menjawab, “Siapa yang tahu kalau aku masih akan terus hidup sampai petang ini?"
Abu Hafs berkata, "Cara yang paling baik bagi reorang hamba untuk menemui Tuhannya adalah dengan terus-menerus memerlukan-Nya dalam setiap keadaan, mematuhi Sunnah dalam semua amal perbuatan, dan mencari rezeki dengan jalan yang halal.'' Al-Murta'isy berpendapat, “Yang paling baik adalah bahawa cita-cita orang miskin itu tidak melampaui langkah-langkahnya."
Abu Ali Ar-Rudzbari menuturkan, "Ada empat orang yang merupakan teladan [cara yang saleh dalam nenjalani kemiskinan] pada masa mereka. Yang pertama, iaitu Yusuf bin Asbat, tidak mahu menerima pemberian apa pun dari saudara-saudaranya (sesama Muslim) ataupun dari penguasa. Dia mewarisi wang sebanyak tujuh puluh ribu dirham dari saudara laki-lakinya tapi dia tidak mahu menerima satu sen pun darinya. Dia biasa menenun tikar daun kurma dengan tangannya sendiri. Yang kedua, Abu Ishaq Al-Fazari, mahu menerima pemberian dari saudara-saudaranya ataupun dari penguasa. Pemberian itu dihabiskannya untuk keperluan orang-orang miskin yang kemiskinannya tersembunyi dan yang tidak meminta-minta sedekah. Adapun pemberian dari penguasa, maka itu diberikannya kepada orang-orang yang patut menerimanya di kalangan warga Tarsus. Yang ketiga, Abdullah bin Mubarak, mahu menerima pemberian dari saudara-saudaranya, tetapi tidak dari penguasa. Pemberian dari saudara-saudaranya itu diterimanya lalu dibahagi-bahagikannya kepada orang-orang lain secara adil. Yang keempat, Mukhlad bin Al-Husain, mahu menerima pemberian dari penguasa, tapi tidak dari saudara-saudaranya. Dia mengatakan, "Penguasa tidak menganggap ada orang yang wajib untuk diberi, sedangkan saudara-saudaraku menganggap ada."
Syeikh Abu Ali Ad-Daqqaq berkata, "Ada sebuah hadith yang mengatakan, “Orang yang merendahkan diri di hadapan orang kaya dikeranakan kekayaannya, bererti dia telah kehilangan dua pertiga agamanya." Ini disebabkan kerana seorang manusia terdiri dari hati, lidah dan perilaku lahiriah. Jika dia merendahkan dirj dengan perilaku lahiriah dan lidahnya, maka diakehilangan dua pertiga agamanya. Tetapi jika dia merendahkan diri di hadapan orang kaya itu dengan hatinya juga, maka dia kehilangan seluruh agamanya.
Dikatakan, "Seorang miskin dalam menjalani kemiskinannya dituntut paling tidak agar dia memiliki empat hal: pengetahuan yang akan menjadi pembimbingnya, sikap zuhud yang akan mengendalikan dirinya, keyakinan yang akan menguatkan imannya dan dzikir yang akan membawakan keakraban [dengan Tuhan kepadanya]."
Dikatakan juga, "Orang yang menginginkan kemiskinan disebabkan kerana kemiskinan bererti dia tidak akan disibukkan dengan selain Allah, akan mati dalam keadaan kaya." Al-Muzayyin menyatakan, "Di masa dahulu terdapat lebih banyak jalan menuju kepada Allah daripada bintang di langit. Tetapi sekarang tidak satu pun di antaranya yang tersisa selain kemiskinan, dan kemiskinan adalah jalan yang terbaik di antara jalan-jalan itu."
An-Nuri menyatakan, "Tanda seorang miskin adalah sikap rela ketika dia tidak punya apa-apa dan sikap pemurah ketika dia punya banyak harta.” Ketika ditanya tentang hakekat kemiskinan, Asy Syibli menjawab, "Hakekat kemiskinan adalah bahawa si hamba tidak merasa puas dengan apa pun yang kurang dari Allah SWT."
Manshur bin Khalaf Al-Maghribi menuturkan, "Abu Sahl Al-Khasysyab Al-Kabir mengatakan kepadaku, 'Kemiskinan adalah kemiskinan dan kehinaan.' Aku menjawab,'Bukan, justru katakan, 'Kemiskinan adalah kemiskinan dan kemuliaan." Dia berkata,'Kemiskinan dan lumpur.' Aku membalas, “Bukan, justru katakan "Kemiskinan dan tahta Ilahi."
Syeikh Abu AIi Ad-Daqqaq berpendapat tentang hadith Nabi saw, "Hampir-hampir kefakiran itu menjadi kekufuran" dengan mengatakan, "Bahaya yang dapat timbul dari sesuatu adalah berbanding dengan manfaat lan kebajikan yang terkandung di dalamnya. Apa pun yang sangat bermanfaat dalam dirinya sendiri, mengandung bahaya yang paling besar pada sisi lainnya. Begitulah halnya dengan iman. Kerana ia adalah sifat yang paling baik, maka sebaliknya adalah kekafiran. Kerana bahaya yang terkandung dalam kemiskinan adalah bahawa ia dapat menjadi kufur kepada Allah, maka kita punya pendapat bahawa kemiskinan adalah sifat yang paling mulia."
Al-Murta'isy berkata, "Aku mendengar Al-Junaid mengajarkan, 'Jika engkau bertemu dengan seorang miskin, hadapilah dia dengan kebaikan budimu, bukan dengan ilmumu. Kebaikan budi akan mendekatkannya, sedang ilmu akan menjauhkannya.” Aku bertanya, “Wahai Abul Qasim, apakah ilmu benar-benar menjauhkan orang miskin?” Dia menjawab, “Ya. Jika si orang miskin bersikap benar dalam kemiskinannya, dan engkau mencurahkan ilmumu kepadanya, maka ilmumu itu akan meleleh seperti melelehnya timah kena api.”
Muzaffar Al-Qarmasini berkata, "Orang miskin adalah orang yang tidak memerlukan Tuhan." Ucapan ini mempunyai makna yang samar-samar jika difahami oleh orang yang tidak memahami tujuan sang Sufi. Ucapan ini semata-mata menunjukkan dihentikannya mengajukan tuntutan, berakhirnya pilihan (oleh si miskin), dan kerelaan terhadap apa pun yang dilakukan Allah SWT.
Ibn Khafif menyatakan, "Kemiskinan bererti tidak memiliki harta benda dan meninggalkan tuntutan akan sifat-sifat manusia." Abu Hafs berkata, "Kemiskinan tidaklah sempurna bagi siapa pun sampai dia lebih mengutamakan memberi daripada menerima. Kemurahan hati bukanlah orang yang punya memberi kepada yang tidak punya, melainkan orang yang tidak punya memberi kepada orang yang berpunya."
Ibn Al-Jalla' menyatakan, "Seandainya tidak kerana adanya tujuan lebih agung merendahkan diri di depan Allah, nescaya akan menjadi cara orang miskin untuk berjalan dengan sikap penuh kebanggaan."Yusuf bin Asbat berkata, "Selama empat puluh tahun aku hanya memiliki sehelai baju." Salah seorang Sufi menuturkan, "Aku bermimpi seolah-olah Hari Kiamat sudah tiba. Sebuah suara mengatakan, “Bawalah Malik bin Dinar dan Muhammad bin Wasi' ke dalam syurga.Maka aku lalu memerhatikan siapa di antara keduanya yang lebih dahulu masuk, dan ternyata orang itu adalah Muhammad bin Wasi'. Ketika aku bertanya mengapa dia didahulukan, dijelaskan kepadaku, 'Dia hanya memiliki sehelai baju, sedangkan Malik dua.'
Muhammad Al-Musuhi berkata, "Orang miskin adalah orang yang tidak memerlukan sesuatu pun dari harta benda duniawi." Sahl bin Abdullah ditanya, "Bilakah orang miskin dapat beristirehat?" Dia menjawab, "Jika dia tidak mengharapkan apa pun bagi dirinya sendiri selain dari saat kini."
Ketika muncul pembicaraan tentang kemiskinan dan kekayaan di hadapan Yahya bin Muadz, dia berkata, "Bukanlah kemiskinan atau kekayaan yang memiliki beratnya timbangan di Hari Perhitungan. Hanya kesabaran dan syukurlah yang akan ditimbang. Jadi kelak akan dikatakan, 'Orang ini bersyukur atau orang ini bersabar."
Diriwayatkan bahawa Allah SWT mewahyukan kepada salah seorang Nabi as, "Jika engkau ingin mengetahui apakah Aku redha denganmu, lihatlah apakah orang miskin rela denganmu." .
Abu Bakr Az-Zaqqaq berkata, "Orang yang tidak mempunyai rasa takut kepada Allah bersama dengan kemiskinannya bererti seluruh makanan yang dimakannya adalah makanan haram.” Dikatakan bahawa orang-orang miskin di pengajian-pengajian Sufyan Ats-Tsauri adalah laksana para bangsawan. Abu Bakr bin Thahir menyatakan, "Di antara ciri-ciri orang miskin adalah bahawa dia tidak punya keinginan terhadap benda-benda duniawi. Kalaupun dia berkeinginan juga, tidak syak lagi bahawa dia pasti akan berkeinginan, maka keinginannya itu tidak melampaui apa yang cukup baginya."
Salah seorang Sufi membacakan syair berikut:
Mereka berkata, "Besok hari raya. Apa yang akan kau pakai?"
Kukatakan, "Jubah hehormatan yang diberi-Nya yang mencurahkan cinta dengan penuh kemurahan hati."
Kemiskinan dan kesabaran, keduanya adalah pakaianku -
yang di dalamnya ada satu hati yang untuknya,
Sahabat
adalah selalu Hari Jumaat dan Hari Raya sekaligus.
Pakaian yang paling layak untuh menernui Kehasih
pada hari berkunjung adalah pakaian yang dicintai-Nya.
Setiap waktu adalah saat berkabung bagiku jika
Kau tidak ada, wahai Harapanku,
Hari Raya adalah hari hetika aku melihat dan mendengar
suara-Mu.
Dikatakan bahawa puisi ini dikarang oleh Abu Ali Ar-Rudzbari. Ketika ditanya tentang orang miskin sejati, Abu Bakr Al-Mishri menjawab, “Dia adalah orang yang tidak memiliki sesuatu dan tidak pula berkeinginan memiliki sesuatu." Dzun Nun Al-Mishri berkata, “ Aku lebih menyukai rasa memerlukan yang terus menerus terhadap Tuhan disertai dengan kekhuatiran daripada kesejahteraan yang mantap namun disertai kebanggaan.”
Abu AbduHah Al-Husri menuturkan, “Abu Jaafar Al-Haddad bekerja selama dua puluh tahun, dengan pendapatan satu dinar setiap hari. Wang itu dibelanjakannya untuk orang-orang miskin sementara dia sendiri berpuasa; setelah itu dia akan berkeliling mencari sedekah setelah solat Maghrib untuk berbuka puasa.”
An-Nuri menyatakan, “ Tanda seorang miskin adalah kerelaan manakala dia tidak punya apa-apa dan memberi dengan murah hati apabila dia mempunyai banyak rezeki.”
Muhammad bin AIi Al-Kattani berkata, "Ada seorang pemuda bersama kami di Makkah, yang memakai pakaian lusuh dan bertampal-tampal. Dia tidak pernah ikut serta dalam percakapan kami ataupun duduk bersama kami. Dalam hati aku sangat merasa sayang kepadanya. Suatu ketika aku diberi wang dua ratus dirham dari sumber yang halal. Wang itu kubawa kepadanya, kuletakkan di tepi tikar solatnya dan kukatakan kepadanya, “Wang ini telah datang kepadaku dari sumber yang halal. Belanjakanlah untuk keperluanmu.”
Seraya memandang kepadaku dengan sikap merendahkan, dia mengungkapkan apa yang selama itu tidak kuketahui, "Saya membeli kesempatan untuk dapat duduk bersama Allah SWT dalam pengabdian yang lapang ini dengan harga tujuh puluh ribu dinar dari harta benda dan kebun-kebun saya. Sekarang anda hendak menggelincirkan saya dari keadaan saya sekarang ini dengan wang yang anda tawarkan ini!” Kemudian dia berdiri dan menumpahkan wang itu ke tanah. Aku duduk dan mengumpulkan wang itu dari tanah. Belum pernah aku menyaksikan kegagahan seperti kegagahan pemuda itu ketika dia berjalan pergi ataupun kehinaan seperti kehinaanku ketika aku mengumpulkan wang itu."
Abu Abdullah bin Khafif menyatakan, "Aku belum pernah diwajibkan membayar zakat fitrah pada akhir bulan Ramadhan selama empat puluh tahun, sementara aku diterima dengan penuh penghormatan di kalangan kaum terpilih mahupun kaum awam." Abu Ahmad Ash-Shaghir berkata, "Aku bertanya kepada Abu Abdullah bin Khafif, 'Sebutan apa yang layak untuk seorang sufi, yang lapar selama tiga hari kemudian keluar untuk meminta sedekah sekadar cukup untuk memenuhi keperluannya?” Dia menjawab, “Seorang sufi. Pergi- makan- dan berdiam diri .Jika seorang sufi menggunakan cara ini, kamu semua akan terhina."
Ketika Ad-Duqqi ditanya tentang perilaku buruk di kalangan para sufi di hadapan Allah dalam urusan-urusan mereka, dia berkata, "Perilaku buruk itu adalah kemerosotan mereka dari kemampuan mencari hakekat menjadi upaya mencari ilmu keulamaan." Khair An-Nassaj menuturkan, "Aku memasuki sebuah masjid dan kulihat ada seorang sufi di situ. Ketika dia melihatku, dipegangnya bajuku sambil memohon, "Wahai Syeikh, kasihanilah aku, kerana penderitaanku sangat besar!" Aku bertanya, “Apa yang kau derita?” Dia menjawab, “Aku tidak lagi diberi cubaan, dan selalu dalam keadaan sihat walafiat!” Aku memandangnya, sedang dia diberi orang sedekah.
Abu Bakr Al-Warraq berkata, "Berbahagialah orang yang miskin di dunia dan di akhirat." Ketika ditanya apa maksud perkataannya itu, dia menjawab, "Penguasa di dunia ini tidak menuntut pajak darinya, dan Yang Maha Kuasa di akhirat tidak membuat perhitungan dengannya."
Pemberian sedekah itu) ialah bagi orang-orang fakir miskin yang telah menentukan dirinya (dengan menjalankan khidmat atau berjuang) pada jalan Allah (membela Islam), yang tidak berupaya mengembara di muka bumi (untuk berniaga dan sebagainya); mereka itu disangka: Orang kaya oleh orang yang tidak mengetahui halnya, kerana mereka menahan diri daripada meminta-minta. Engkau kenal mereka dengan (melihat) sifat-sifat dan keadaan masing-masing, mereka tidak meminta kepada orang ramai dengan mendesak-desak dan (ketahuilah), apa jua yang kamu belanjakan dari harta yang halal maka sesungguhnya Allah sentiasa Mengetahuinya. (Al-Baqarah: 273)
Diriwayatkan oleh Abu Hurairah bahawa Nabi saw telah bersabda, "Orang-orang miskin akan memasuki syurga lima ratus tahun sebelum orang-orang kaya. Dalam perhitungan syurga, lima ratus tahun itu sama dengan setengah hari." Diriwayatkan oleh Abdullah bahawa Rasulullah saw telah mengatakan, "Orang miskin itu bukanlah mereka yang berkeliling ke sana kemari dengan harapan diberi orang segenggam dua genggam, sebutir atau dua butir kurma." Seseorang bertanya, "Kalau begitu, siapakah orang miskin itu?” Nabi saw menjawab, “Dia adalah orang yang tidak mampu memenuhi keperluan asasnya tapi malu meminta kepada orang, tidak pula orang lain mengetahui hal ehwal mereka hingga mereka dapat diberi sedekah." Ucapan Nabi "tapi malu meminta" ertinya adalah bahawa mereka malu kepada Allah untuk neminta-minta dari orang ramai, bukan malu kepada manusia.
Kefakiran adalah ciri yang membezakan para wali lari manusia lain, perhiasan orang-orang suci, dan sifat pilihan Tuhan bagi manusia-manusia pilihan-Nya, orang-orang saleh dan para nabi. Orang-orang fakir adalah manusia-manusia pilihan Allah SWT di antara hamba-hamba-Nya. Mereka adalah penyimpan rahsia-rahsia-Nya di antara para hamba-Nya, yang dengan mereka Dia menjaga para makhluk dan yang dengan keberkatan mereka rezeki disebarkan di kalangan manusia. Orang-orang miskin yang sabar akan menjadi sahabat-sahabat Allah SWT pada Hari Kebangkitan seperti dikatakan dalam hadith riwayat Umar bin Al-Khathab ra, yang mengatakan bahawa:
Rasulullah saw telah bersabda, "Bagi tiap-tiap sesuatu ada kuncinya, dan kunci syurga adalah mencintai orang-orang miskin. Kaum miskin yang sabar akan menjadi sahabat-sahabat Allah SWT pada Hari Kebangkitan."
Diceritakan bahawa seorang laki-laki membawakan wang sebanyak sepuluh ribu dirham kepada Ibrahim bin Adham, tetapi Ibrahim tidak menerimanya dan berkata "Engkau mahu menghapus namaku dari daftar orang-orang miskin dengan wang sepuluh ribu dirham! Aku tidak akan menerimanya!"
Muadz An-Nasafi menegaskan, "Allah tidak pernah membinasakan suatu kaum, apa pun [kejahatan] yang mereka lakukan, kecuali jika mereka merendahkan dan menghina kaum miskin."
Dikatakan bahawa seandainya kaum miskin tidak memiliki kebajikan lain dalam pandangan Allah selain keinginan mereka agar rezeki dilimpahkan dan dimurahkan di kalangan kaum Muslimin, nescaya itu sudah cukup bagi mereka, sebab mereka perlu membeli barang-barang dan orang-orang kaya perlu menjualnya. Begitulah halnya dengan kaum miskin yang awam, maka bagaimana pula halnya dengan kaum yang terpilih di kalangan mereka?
Ketika Yahya bin Muadz ditanya tentang kefakiran dia menjawab, "Hakikat kefakiran adalah bahawa si hamba tidak bergantung kepada siapa pun selain Allah, dan tanda kefakiran adalah tidak adanya harta benda.” Ibrahim Al-Qashar mengatakan, "Kefakiran adalah pakaian yang apabila telah dipakai akan mendatangkan keredhaan."
Seorang fakir datang kepada Syeikh Abu Ali Ad-Daqqaq pada tahun 394 atau 395 Hijriyah dari Zuzan. Dia memakai pakaian yang diperbuat dari kain yang sangat kasar dan serban dari kain yang sama. Salah seorang sahabat syeikh itu bertanya dengan nada bergurau, "Berapa harga pakaianmu ini?" Dia menjawab, "Aku membayarnya dengan dunia ini, dan akhirat ditawarkan kepadaku untuk ditukar dengannya. Tapi aku tidak akan menjualnya dengan harga tersebut."
Syeikh Abu Ali Ad-Daqqaq menuturkan, "Suatu ketika seorang miskin mendatangi sebuah pertemuan untuk meminta sedekah, dengan berkata, “Saya sudah tiga hari tidak makan.” Salah seorang syeikh yang hadir di situ berkata, "Engkau dusta! Kemiskinan adalah rahsia Tuhan. Dia tidak mempercayakan rahsia-Nya kepada orang yang menunjukkannya kepada siapa pun yang dikehendakinya!"' Hamdun Al-Qassar menyatakan, "Apabila Iblis dan tenteranya berkumpul, mereka tidak bergembira sebagaimana kegembiraan mereka menyaksikan seorang Muslim membunuh sesama Muslim, seseorang yang mati dalam keadaan fakir (hina), dan sebuah hati yang menyimpan ketakutan pada kemiskinan."
Al-Junaid berkata, "Wahai orang-orang miskin, kamu semua dijadikan terkenal oleh Allah dan dihormati kerana-Nya. Tetapi perhatikanlah bagaimana keadaanmu tatkala kamu berada bersendirian bersama-Nya."
Al-Junaid ditanya, “Keadaan manakah yang lebih baik miskin dan bergantung pada Tuhan, ataukah dijadikan kaya oleh-Nya?" Dia menjawab, "Jika kemiskinan seseorang adalah sahih, maka kekayaannya adalah sahih di sisi-Nya. Jika kekayaannya di sisi-Nya adalah sahih, maka kemiskinan dan bergantung kepada-Nya juga disempurnakan. Janganlah bertanya, 'Manakah yang lebih baik,' sebab keduanya adalah keadaan yang salah satunya tidak akan lengkap tanpa yang lain."
Ruwaim menyatakan, ketika ditanya tentang tanda seorang miskin, "Miskin bererti menyerahkan jiwa kepada ketentuan Tuhan.” Dikatakan bahawa ada tiga tanda seorang miskin: dia melindungi batinnya, dia melaksanakan kewajipan-kewajipan agamanya, dia menyembunyikan kemiskinannya.” Seseorang bertanya kepada Abu Sa'id Al-Kharraz, "Mengapa kemurahan hati orang kaya tidak sampai kepada orang miskin?” Dia menjawab, "Kerana tiga alasan: kekayaan mereka diperolehi dengan jalan yang tidak halal, mereka tidak dimampukan untuk memberi sedekah, dan penderitaan orang miskin itu memang dikehendaki."
Dikatakan bahawa Allah SWT mewahyukan kepada Musa as, "Jika engkau berjumpa dengan orang-orang miskin, tanyakanlah tentang mereka seperti yang engkau tanyakan kepada orang-orang kaya. Jika hal itu tidak engkau lakukan, maka campakkanlah ke tanah semua yang telah Ku-ajarkan kepadamu.”
Diriwayatkan bahawa Abu Darda' menegaskan, "Aku lebih suka jatuh dari tembok istana dan remuk daripada duduk bersama orang kaya, kerana aku mendengar Rasulullah saw berkata, “Waspadalah dari duduk-duduk bersama orang mati” Seseorang bertanya, “Siapa orang mati itu?” Beliau menjawab, “Orang kaya."
Seseorang berkata kepada Ar-Rabi' bin Khutsaim, "Harga-harga naik setinggi langit!" Dia menjawab, "Kita tidak berharga untuk dibuat lapar oleh Allah. Dia hanya melakukan hal itu pada wali-wali-Nya." Ibrahim bin Adham menyatakan, "Kami meminta kemiskinan tetapi diberi kekayaan; orang lain meminta kekayaan tapi kemiskinan datang kepada mereka."
Seorang laki-laki bertanya kepada Yahya bin Muadz, "Apakah kemiskinan itu?" Dia berkata, "Takut pada kemiskinan." Orang itu bertanya lagi, "Lantas, apakah kekayaan itu?" Dia menjawab, "Keamanan di sisi Allah SWT." Ibn Al-Karanbi berkata, "Orang miskin yang sejati menjauhi kekayaan agar kekayaan tidak mendatanginya dan merosakkan kemiskinannya, sebagaimana halnya orang kaya menjauhi kemiskinan, agar kemiskinan tidak mendatangrnya dan merosakkar kekayaannya."
Abu Hafs ditanya, "Dengan cara apa orang miskin mendekati Tuhannya SWT?" Dia menjawab, "Orang miskin tidak memiliki apa-apa selain kemiskinannya yang dengan kemiskinan itu dia mendekati Tuhannya."
Allah SWT mewahyukan kepada Musa as, "Mahu kah engkau memperolehi pahala amal kebajikan yang setara dengan pahala seluruh ummat manusia di Hari Kiamat nanti?" Musa menjawab, 'Ya." Allah berfirman "Kunjungilah orang sakit dan pastikanlah bahawa orang-orang miskin punya pakaian." Musa lalu menyisihkan tujuh hari setiap bulan untuk mengunjung orang-orang miskin dan memeriksa pakaian mereka serta mengunjungi orang sakit.
Sahl bin Abdullah menyatakan, "Ada lima contoh kemuliaan jiwa: seorang miskin yang berpura-pura bebas dari keperluan, seorang lapar yang berpura-pura kenyang, seorang yang bersedih yang pura-pura bahagia, seseorang yang punya musuh tapi memperlihatkan kecintaan terhadapnya, seseorang yang berpuasa di siang hari dan bangun di malam hari [untuk solat] tanpa memperlihatkan kelemahan."
Bisyr bin Al-Harits berkata, "Maqam (kedudukan) yang paling baik adalah maqam keyakinan yang mantap dalam kesabaran melalui kemiskinan sampai masuk liang lahad." Dzun Nun mengatakan, "Satu tanda kemurkaan Allah kepada seorang hamba adalah bahawa si hamba merasa takut kepada kemiskinan."
Asy-Syibli berpendapat, "Tanda kemiskinan yang paling kecil adalah jika seluruh kekayaan dunia ini diberikan kepada seseorang dan kemudian disedekahkannya sampai habis dalam waktu satu hari, tetapi kemudian terlintas dalam fikirannya bahawa dia mestilah menyimpan sedikit yang cukup untuk sehari makan. [Jika fikiran seperti itu masih terlintas dalam benaknya, maka dia tidak dapat dianggap benar dalam kemiskinannya.] "
Syeikh Abu Ali Ad-Daqqaq berkata, "Orang bertanya mana yang lebih baik: kemiskinan ataukah kekayaan. Menurut pendapatku, yang paling baik adalah bahawa seseorang diberi rezeki yang cukup untuk penghidupannya dan dia lalu.menjaga dirinya dalam batas tersebut."
Abu Muhammad Yasin menuturkan, "Aku bertanya kepada Ibn Al-Jalla'tentang kemiskinan. Dia diam saja; kemudian mengundurkan diri dan pergi. Sesaat kemudian dia kembali dan berkata, 'Aku punya empat keping mata wang dan aku merasa malu kepada Allah SWT untuk berbicara tentang kemiskinan sebelum aku menyingkirkan kepingan-kepingan wang itu.” Kemudian dia mulai berbicara tentang kemiskinan."
Ibrahim bin Al-Muwallad berkata, "Aku bertanya kepada Ibn Al-Jalla', 'Bilakah orang-orang miskin patut disebut miskin?” Dia menjawab, “Jika tidak ada lagi sesuatu pun darinya yang tersisa padanya.” Aku bertanya, “Bagaimana dapat begitu?” Dia menjawab, “Jika dia memiliki sebutan itu, bererti dia tidak memiliki kemiskinan. Tapi jika dia tidak lagi memiliki sebutan itu, bererti dia memiliki kemiskinan itu." Dikatakan bahawa keadaan miskin yang sahih adalah jika si miskin tidak merasa puas dengan bahagian mana pun dari kemiskinannya, selain dengan Dia yang diperlukannya.
Abdullah bin Al-Mubarak menyatakan, "Membuat diri sendiri tampak kaya sedangkan keadaan sebenarnya miskin, adalah lebih baik daripada kemiskinan."
Banan Al-Mishri menuturkan, "Suatu ketika aku sedang duduk-duduk di Makkah, dan seorang pemuda berada di depanku. Seorang laki-laki datang kepadanya dengan membawa sebuah bekas berisi wang dan meletakkannya di hadapan pemuda itu. Pemuda itu rerkata, “Aku tidak memerlukannya.” Orang itu berkata, “Kalau begitu, bahagi-bahagikanlah kepada orang-orang miskin.” Petang harinya kulihat pemuda itu ada di lembah, sedang mengemis. Aku berkata, “Alangkah baiknya jika engkau menyimpan sedikit dari wang tadi untuk dirimu sendiri.” Dia menjawab, “Siapa yang tahu kalau aku masih akan terus hidup sampai petang ini?"
Abu Hafs berkata, "Cara yang paling baik bagi reorang hamba untuk menemui Tuhannya adalah dengan terus-menerus memerlukan-Nya dalam setiap keadaan, mematuhi Sunnah dalam semua amal perbuatan, dan mencari rezeki dengan jalan yang halal.'' Al-Murta'isy berpendapat, “Yang paling baik adalah bahawa cita-cita orang miskin itu tidak melampaui langkah-langkahnya."
Abu Ali Ar-Rudzbari menuturkan, "Ada empat orang yang merupakan teladan [cara yang saleh dalam nenjalani kemiskinan] pada masa mereka. Yang pertama, iaitu Yusuf bin Asbat, tidak mahu menerima pemberian apa pun dari saudara-saudaranya (sesama Muslim) ataupun dari penguasa. Dia mewarisi wang sebanyak tujuh puluh ribu dirham dari saudara laki-lakinya tapi dia tidak mahu menerima satu sen pun darinya. Dia biasa menenun tikar daun kurma dengan tangannya sendiri. Yang kedua, Abu Ishaq Al-Fazari, mahu menerima pemberian dari saudara-saudaranya ataupun dari penguasa. Pemberian itu dihabiskannya untuk keperluan orang-orang miskin yang kemiskinannya tersembunyi dan yang tidak meminta-minta sedekah. Adapun pemberian dari penguasa, maka itu diberikannya kepada orang-orang yang patut menerimanya di kalangan warga Tarsus. Yang ketiga, Abdullah bin Mubarak, mahu menerima pemberian dari saudara-saudaranya, tetapi tidak dari penguasa. Pemberian dari saudara-saudaranya itu diterimanya lalu dibahagi-bahagikannya kepada orang-orang lain secara adil. Yang keempat, Mukhlad bin Al-Husain, mahu menerima pemberian dari penguasa, tapi tidak dari saudara-saudaranya. Dia mengatakan, "Penguasa tidak menganggap ada orang yang wajib untuk diberi, sedangkan saudara-saudaraku menganggap ada."
Syeikh Abu Ali Ad-Daqqaq berkata, "Ada sebuah hadith yang mengatakan, “Orang yang merendahkan diri di hadapan orang kaya dikeranakan kekayaannya, bererti dia telah kehilangan dua pertiga agamanya." Ini disebabkan kerana seorang manusia terdiri dari hati, lidah dan perilaku lahiriah. Jika dia merendahkan dirj dengan perilaku lahiriah dan lidahnya, maka diakehilangan dua pertiga agamanya. Tetapi jika dia merendahkan diri di hadapan orang kaya itu dengan hatinya juga, maka dia kehilangan seluruh agamanya.
Dikatakan, "Seorang miskin dalam menjalani kemiskinannya dituntut paling tidak agar dia memiliki empat hal: pengetahuan yang akan menjadi pembimbingnya, sikap zuhud yang akan mengendalikan dirinya, keyakinan yang akan menguatkan imannya dan dzikir yang akan membawakan keakraban [dengan Tuhan kepadanya]."
Dikatakan juga, "Orang yang menginginkan kemiskinan disebabkan kerana kemiskinan bererti dia tidak akan disibukkan dengan selain Allah, akan mati dalam keadaan kaya." Al-Muzayyin menyatakan, "Di masa dahulu terdapat lebih banyak jalan menuju kepada Allah daripada bintang di langit. Tetapi sekarang tidak satu pun di antaranya yang tersisa selain kemiskinan, dan kemiskinan adalah jalan yang terbaik di antara jalan-jalan itu."
An-Nuri menyatakan, "Tanda seorang miskin adalah sikap rela ketika dia tidak punya apa-apa dan sikap pemurah ketika dia punya banyak harta.” Ketika ditanya tentang hakekat kemiskinan, Asy Syibli menjawab, "Hakekat kemiskinan adalah bahawa si hamba tidak merasa puas dengan apa pun yang kurang dari Allah SWT."
Manshur bin Khalaf Al-Maghribi menuturkan, "Abu Sahl Al-Khasysyab Al-Kabir mengatakan kepadaku, 'Kemiskinan adalah kemiskinan dan kehinaan.' Aku menjawab,'Bukan, justru katakan, 'Kemiskinan adalah kemiskinan dan kemuliaan." Dia berkata,'Kemiskinan dan lumpur.' Aku membalas, “Bukan, justru katakan "Kemiskinan dan tahta Ilahi."
Syeikh Abu AIi Ad-Daqqaq berpendapat tentang hadith Nabi saw, "Hampir-hampir kefakiran itu menjadi kekufuran" dengan mengatakan, "Bahaya yang dapat timbul dari sesuatu adalah berbanding dengan manfaat lan kebajikan yang terkandung di dalamnya. Apa pun yang sangat bermanfaat dalam dirinya sendiri, mengandung bahaya yang paling besar pada sisi lainnya. Begitulah halnya dengan iman. Kerana ia adalah sifat yang paling baik, maka sebaliknya adalah kekafiran. Kerana bahaya yang terkandung dalam kemiskinan adalah bahawa ia dapat menjadi kufur kepada Allah, maka kita punya pendapat bahawa kemiskinan adalah sifat yang paling mulia."
Al-Murta'isy berkata, "Aku mendengar Al-Junaid mengajarkan, 'Jika engkau bertemu dengan seorang miskin, hadapilah dia dengan kebaikan budimu, bukan dengan ilmumu. Kebaikan budi akan mendekatkannya, sedang ilmu akan menjauhkannya.” Aku bertanya, “Wahai Abul Qasim, apakah ilmu benar-benar menjauhkan orang miskin?” Dia menjawab, “Ya. Jika si orang miskin bersikap benar dalam kemiskinannya, dan engkau mencurahkan ilmumu kepadanya, maka ilmumu itu akan meleleh seperti melelehnya timah kena api.”
Muzaffar Al-Qarmasini berkata, "Orang miskin adalah orang yang tidak memerlukan Tuhan." Ucapan ini mempunyai makna yang samar-samar jika difahami oleh orang yang tidak memahami tujuan sang Sufi. Ucapan ini semata-mata menunjukkan dihentikannya mengajukan tuntutan, berakhirnya pilihan (oleh si miskin), dan kerelaan terhadap apa pun yang dilakukan Allah SWT.
Ibn Khafif menyatakan, "Kemiskinan bererti tidak memiliki harta benda dan meninggalkan tuntutan akan sifat-sifat manusia." Abu Hafs berkata, "Kemiskinan tidaklah sempurna bagi siapa pun sampai dia lebih mengutamakan memberi daripada menerima. Kemurahan hati bukanlah orang yang punya memberi kepada yang tidak punya, melainkan orang yang tidak punya memberi kepada orang yang berpunya."
Ibn Al-Jalla' menyatakan, "Seandainya tidak kerana adanya tujuan lebih agung merendahkan diri di depan Allah, nescaya akan menjadi cara orang miskin untuk berjalan dengan sikap penuh kebanggaan."Yusuf bin Asbat berkata, "Selama empat puluh tahun aku hanya memiliki sehelai baju." Salah seorang Sufi menuturkan, "Aku bermimpi seolah-olah Hari Kiamat sudah tiba. Sebuah suara mengatakan, “Bawalah Malik bin Dinar dan Muhammad bin Wasi' ke dalam syurga.Maka aku lalu memerhatikan siapa di antara keduanya yang lebih dahulu masuk, dan ternyata orang itu adalah Muhammad bin Wasi'. Ketika aku bertanya mengapa dia didahulukan, dijelaskan kepadaku, 'Dia hanya memiliki sehelai baju, sedangkan Malik dua.'
Muhammad Al-Musuhi berkata, "Orang miskin adalah orang yang tidak memerlukan sesuatu pun dari harta benda duniawi." Sahl bin Abdullah ditanya, "Bilakah orang miskin dapat beristirehat?" Dia menjawab, "Jika dia tidak mengharapkan apa pun bagi dirinya sendiri selain dari saat kini."
Ketika muncul pembicaraan tentang kemiskinan dan kekayaan di hadapan Yahya bin Muadz, dia berkata, "Bukanlah kemiskinan atau kekayaan yang memiliki beratnya timbangan di Hari Perhitungan. Hanya kesabaran dan syukurlah yang akan ditimbang. Jadi kelak akan dikatakan, 'Orang ini bersyukur atau orang ini bersabar."
Diriwayatkan bahawa Allah SWT mewahyukan kepada salah seorang Nabi as, "Jika engkau ingin mengetahui apakah Aku redha denganmu, lihatlah apakah orang miskin rela denganmu." .
Abu Bakr Az-Zaqqaq berkata, "Orang yang tidak mempunyai rasa takut kepada Allah bersama dengan kemiskinannya bererti seluruh makanan yang dimakannya adalah makanan haram.” Dikatakan bahawa orang-orang miskin di pengajian-pengajian Sufyan Ats-Tsauri adalah laksana para bangsawan. Abu Bakr bin Thahir menyatakan, "Di antara ciri-ciri orang miskin adalah bahawa dia tidak punya keinginan terhadap benda-benda duniawi. Kalaupun dia berkeinginan juga, tidak syak lagi bahawa dia pasti akan berkeinginan, maka keinginannya itu tidak melampaui apa yang cukup baginya."
Salah seorang Sufi membacakan syair berikut:
Mereka berkata, "Besok hari raya. Apa yang akan kau pakai?"
Kukatakan, "Jubah hehormatan yang diberi-Nya yang mencurahkan cinta dengan penuh kemurahan hati."
Kemiskinan dan kesabaran, keduanya adalah pakaianku -
yang di dalamnya ada satu hati yang untuknya,
Sahabat
adalah selalu Hari Jumaat dan Hari Raya sekaligus.
Pakaian yang paling layak untuh menernui Kehasih
pada hari berkunjung adalah pakaian yang dicintai-Nya.
Setiap waktu adalah saat berkabung bagiku jika
Kau tidak ada, wahai Harapanku,
Hari Raya adalah hari hetika aku melihat dan mendengar
suara-Mu.
Dikatakan bahawa puisi ini dikarang oleh Abu Ali Ar-Rudzbari. Ketika ditanya tentang orang miskin sejati, Abu Bakr Al-Mishri menjawab, “Dia adalah orang yang tidak memiliki sesuatu dan tidak pula berkeinginan memiliki sesuatu." Dzun Nun Al-Mishri berkata, “ Aku lebih menyukai rasa memerlukan yang terus menerus terhadap Tuhan disertai dengan kekhuatiran daripada kesejahteraan yang mantap namun disertai kebanggaan.”
Abu AbduHah Al-Husri menuturkan, “Abu Jaafar Al-Haddad bekerja selama dua puluh tahun, dengan pendapatan satu dinar setiap hari. Wang itu dibelanjakannya untuk orang-orang miskin sementara dia sendiri berpuasa; setelah itu dia akan berkeliling mencari sedekah setelah solat Maghrib untuk berbuka puasa.”
An-Nuri menyatakan, “ Tanda seorang miskin adalah kerelaan manakala dia tidak punya apa-apa dan memberi dengan murah hati apabila dia mempunyai banyak rezeki.”
Muhammad bin AIi Al-Kattani berkata, "Ada seorang pemuda bersama kami di Makkah, yang memakai pakaian lusuh dan bertampal-tampal. Dia tidak pernah ikut serta dalam percakapan kami ataupun duduk bersama kami. Dalam hati aku sangat merasa sayang kepadanya. Suatu ketika aku diberi wang dua ratus dirham dari sumber yang halal. Wang itu kubawa kepadanya, kuletakkan di tepi tikar solatnya dan kukatakan kepadanya, “Wang ini telah datang kepadaku dari sumber yang halal. Belanjakanlah untuk keperluanmu.”
Seraya memandang kepadaku dengan sikap merendahkan, dia mengungkapkan apa yang selama itu tidak kuketahui, "Saya membeli kesempatan untuk dapat duduk bersama Allah SWT dalam pengabdian yang lapang ini dengan harga tujuh puluh ribu dinar dari harta benda dan kebun-kebun saya. Sekarang anda hendak menggelincirkan saya dari keadaan saya sekarang ini dengan wang yang anda tawarkan ini!” Kemudian dia berdiri dan menumpahkan wang itu ke tanah. Aku duduk dan mengumpulkan wang itu dari tanah. Belum pernah aku menyaksikan kegagahan seperti kegagahan pemuda itu ketika dia berjalan pergi ataupun kehinaan seperti kehinaanku ketika aku mengumpulkan wang itu."
Abu Abdullah bin Khafif menyatakan, "Aku belum pernah diwajibkan membayar zakat fitrah pada akhir bulan Ramadhan selama empat puluh tahun, sementara aku diterima dengan penuh penghormatan di kalangan kaum terpilih mahupun kaum awam." Abu Ahmad Ash-Shaghir berkata, "Aku bertanya kepada Abu Abdullah bin Khafif, 'Sebutan apa yang layak untuk seorang sufi, yang lapar selama tiga hari kemudian keluar untuk meminta sedekah sekadar cukup untuk memenuhi keperluannya?” Dia menjawab, “Seorang sufi. Pergi- makan- dan berdiam diri .Jika seorang sufi menggunakan cara ini, kamu semua akan terhina."
Ketika Ad-Duqqi ditanya tentang perilaku buruk di kalangan para sufi di hadapan Allah dalam urusan-urusan mereka, dia berkata, "Perilaku buruk itu adalah kemerosotan mereka dari kemampuan mencari hakekat menjadi upaya mencari ilmu keulamaan." Khair An-Nassaj menuturkan, "Aku memasuki sebuah masjid dan kulihat ada seorang sufi di situ. Ketika dia melihatku, dipegangnya bajuku sambil memohon, "Wahai Syeikh, kasihanilah aku, kerana penderitaanku sangat besar!" Aku bertanya, “Apa yang kau derita?” Dia menjawab, “Aku tidak lagi diberi cubaan, dan selalu dalam keadaan sihat walafiat!” Aku memandangnya, sedang dia diberi orang sedekah.
Abu Bakr Al-Warraq berkata, "Berbahagialah orang yang miskin di dunia dan di akhirat." Ketika ditanya apa maksud perkataannya itu, dia menjawab, "Penguasa di dunia ini tidak menuntut pajak darinya, dan Yang Maha Kuasa di akhirat tidak membuat perhitungan dengannya."
RISALAH AL QUSYAIRI BAB 38: KEFAKIRAN (FAQR)
لِلۡفُقَرَآءِ ٱلَّذِينَ أُحۡصِرُواْ فِى سَبِيلِ ٱللَّهِ لَا يَسۡتَطِيعُونَ ضَرۡبً۬ا فِى ٱلۡأَرۡضِ يَحۡسَبُهُمُ ٱلۡجَاهِلُ أَغۡنِيَآءَ مِنَ ٱلتَّعَفُّفِ تَعۡرِفُهُم بِسِيمَـٰهُمۡ لَا يَسۡـَٔلُونَ ٱلنَّاسَ إِلۡحَافً۬اۗ وَمَا تُنفِقُواْ مِنۡ خَيۡرٍ۬ فَإِنَّ ٱللَّهَ بِهِۦ عَلِيمٌ
Pemberian sedekah itu) ialah bagi orang-orang fakir miskin yang telah menentukan dirinya (dengan menjalankan khidmat atau berjuang) pada jalan Allah (membela Islam), yang tidak berupaya mengembara di muka bumi (untuk berniaga dan sebagainya); mereka itu disangka: Orang kaya oleh orang yang tidak mengetahui halnya, kerana mereka menahan diri daripada meminta-minta. Engkau kenal mereka dengan (melihat) sifat-sifat dan keadaan masing-masing, mereka tidak meminta kepada orang ramai dengan mendesak-desak dan (ketahuilah), apa jua yang kamu belanjakan dari harta yang halal maka sesungguhnya Allah sentiasa Mengetahuinya. (Al-Baqarah: 273)
Diriwayatkan oleh Abu Hurairah bahawa Nabi saw telah bersabda, "Orang-orang miskin akan memasuki syurga lima ratus tahun sebelum orang-orang kaya. Dalam perhitungan syurga, lima ratus tahun itu sama dengan setengah hari." Diriwayatkan oleh Abdullah bahawa Rasulullah saw telah mengatakan, "Orang miskin itu bukanlah mereka yang berkeliling ke sana kemari dengan harapan diberi orang segenggam dua genggam, sebutir atau dua butir kurma." Seseorang bertanya, "Kalau begitu, siapakah orang miskin itu?” Nabi saw menjawab, “Dia adalah orang yang tidak mampu memenuhi keperluan asasnya tapi malu meminta kepada orang, tidak pula orang lain mengetahui hal ehwal mereka hingga mereka dapat diberi sedekah." Ucapan Nabi "tapi malu meminta" ertinya adalah bahawa mereka malu kepada Allah untuk neminta-minta dari orang ramai, bukan malu kepada manusia.
Kefakiran adalah ciri yang membezakan para wali lari manusia lain, perhiasan orang-orang suci, dan sifat pilihan Tuhan bagi manusia-manusia pilihan-Nya, orang-orang saleh dan para nabi. Orang-orang fakir adalah manusia-manusia pilihan Allah SWT di antara hamba-hamba-Nya. Mereka adalah penyimpan rahsia-rahsia-Nya di antara para hamba-Nya, yang dengan mereka Dia menjaga para makhluk dan yang dengan keberkatan mereka rezeki disebarkan di kalangan manusia. Orang-orang miskin yang sabar akan menjadi sahabat-sahabat Allah SWT pada Hari Kebangkitan seperti dikatakan dalam hadith riwayat Umar bin Al-Khathab ra, yang mengatakan bahawa:
Rasulullah saw telah bersabda, "Bagi tiap-tiap sesuatu ada kuncinya, dan kunci syurga adalah mencintai orang-orang miskin. Kaum miskin yang sabar akan menjadi sahabat-sahabat Allah SWT pada Hari Kebangkitan."
Diceritakan bahawa seorang laki-laki membawakan wang sebanyak sepuluh ribu dirham kepada Ibrahim bin Adham, tetapi Ibrahim tidak menerimanya dan berkata "Engkau mahu menghapus namaku dari daftar orang-orang miskin dengan wang sepuluh ribu dirham! Aku tidak akan menerimanya!"
Muadz An-Nasafi menegaskan, "Allah tidak pernah membinasakan suatu kaum, apa pun [kejahatan] yang mereka lakukan, kecuali jika mereka merendahkan dan menghina kaum miskin."
Dikatakan bahawa seandainya kaum miskin tidak memiliki kebajikan lain dalam pandangan Allah selain keinginan mereka agar rezeki dilimpahkan dan dimurahkan di kalangan kaum Muslimin, nescaya itu sudah cukup bagi mereka, sebab mereka perlu membeli barang-barang dan orang-orang kaya perlu menjualnya. Begitulah halnya dengan kaum miskin yang awam, maka bagaimana pula halnya dengan kaum yang terpilih di kalangan mereka?
Ketika Yahya bin Muadz ditanya tentang kefakiran dia menjawab, "Hakikat kefakiran adalah bahawa si hamba tidak bergantung kepada siapa pun selain Allah, dan tanda kefakiran adalah tidak adanya harta benda.” Ibrahim Al-Qashar mengatakan, "Kefakiran adalah pakaian yang apabila telah dipakai akan mendatangkan keredhaan."
Seorang fakir datang kepada Syeikh Abu Ali Ad-Daqqaq pada tahun 394 atau 395 Hijriyah dari Zuzan. Dia memakai pakaian yang diperbuat dari kain yang sangat kasar dan serban dari kain yang sama. Salah seorang sahabat syeikh itu bertanya dengan nada bergurau, "Berapa harga pakaianmu ini?" Dia menjawab, "Aku membayarnya dengan dunia ini, dan akhirat ditawarkan kepadaku untuk ditukar dengannya. Tapi aku tidak akan menjualnya dengan harga tersebut."
Syeikh Abu Ali Ad-Daqqaq menuturkan, "Suatu ketika seorang miskin mendatangi sebuah pertemuan untuk meminta sedekah, dengan berkata, “Saya sudah tiga hari tidak makan.” Salah seorang syeikh yang hadir di situ berkata, "Engkau dusta! Kemiskinan adalah rahsia Tuhan. Dia tidak mempercayakan rahsia-Nya kepada orang yang menunjukkannya kepada siapa pun yang dikehendakinya!"' Hamdun Al-Qassar menyatakan, "Apabila Iblis dan tenteranya berkumpul, mereka tidak bergembira sebagaimana kegembiraan mereka menyaksikan seorang Muslim membunuh sesama Muslim, seseorang yang mati dalam keadaan fakir (hina), dan sebuah hati yang menyimpan ketakutan pada kemiskinan."
Al-Junaid berkata, "Wahai orang-orang miskin, kamu semua dijadikan terkenal oleh Allah dan dihormati kerana-Nya. Tetapi perhatikanlah bagaimana keadaanmu tatkala kamu berada bersendirian bersama-Nya."
Al-Junaid ditanya, “Keadaan manakah yang lebih baik miskin dan bergantung pada Tuhan, ataukah dijadikan kaya oleh-Nya?" Dia menjawab, "Jika kemiskinan seseorang adalah sahih, maka kekayaannya adalah sahih di sisi-Nya. Jika kekayaannya di sisi-Nya adalah sahih, maka kemiskinan dan bergantung kepada-Nya juga disempurnakan. Janganlah bertanya, 'Manakah yang lebih baik,' sebab keduanya adalah keadaan yang salah satunya tidak akan lengkap tanpa yang lain."
Ruwaim menyatakan, ketika ditanya tentang tanda seorang miskin, "Miskin bererti menyerahkan jiwa kepada ketentuan Tuhan.” Dikatakan bahawa ada tiga tanda seorang miskin: dia melindungi batinnya, dia melaksanakan kewajipan-kewajipan agamanya, dia menyembunyikan kemiskinannya.” Seseorang bertanya kepada Abu Sa'id Al-Kharraz, "Mengapa kemurahan hati orang kaya tidak sampai kepada orang miskin?” Dia menjawab, "Kerana tiga alasan: kekayaan mereka diperolehi dengan jalan yang tidak halal, mereka tidak dimampukan untuk memberi sedekah, dan penderitaan orang miskin itu memang dikehendaki."
Dikatakan bahawa Allah SWT mewahyukan kepada Musa as, "Jika engkau berjumpa dengan orang-orang miskin, tanyakanlah tentang mereka seperti yang engkau tanyakan kepada orang-orang kaya. Jika hal itu tidak engkau lakukan, maka campakkanlah ke tanah semua yang telah Ku-ajarkan kepadamu.”
Diriwayatkan bahawa Abu Darda' menegaskan, "Aku lebih suka jatuh dari tembok istana dan remuk daripada duduk bersama orang kaya, kerana aku mendengar Rasulullah saw berkata, “Waspadalah dari duduk-duduk bersama orang mati” Seseorang bertanya, “Siapa orang mati itu?” Beliau menjawab, “Orang kaya."
Seseorang berkata kepada Ar-Rabi' bin Khutsaim, "Harga-harga naik setinggi langit!" Dia menjawab, "Kita tidak berharga untuk dibuat lapar oleh Allah. Dia hanya melakukan hal itu pada wali-wali-Nya." Ibrahim bin Adham menyatakan, "Kami meminta kemiskinan tetapi diberi kekayaan; orang lain meminta kekayaan tapi kemiskinan datang kepada mereka."
Seorang laki-laki bertanya kepada Yahya bin Muadz, "Apakah kemiskinan itu?" Dia berkata, "Takut pada kemiskinan." Orang itu bertanya lagi, "Lantas, apakah kekayaan itu?" Dia menjawab, "Keamanan di sisi Allah SWT." Ibn Al-Karanbi berkata, "Orang miskin yang sejati menjauhi kekayaan agar kekayaan tidak mendatanginya dan merosakkan kemiskinannya, sebagaimana halnya orang kaya menjauhi kemiskinan, agar kemiskinan tidak mendatangrnya dan merosakkar kekayaannya."
Abu Hafs ditanya, "Dengan cara apa orang miskin mendekati Tuhannya SWT?" Dia menjawab, "Orang miskin tidak memiliki apa-apa selain kemiskinannya yang dengan kemiskinan itu dia mendekati Tuhannya."
Allah SWT mewahyukan kepada Musa as, "Mahu kah engkau memperolehi pahala amal kebajikan yang setara dengan pahala seluruh ummat manusia di Hari Kiamat nanti?" Musa menjawab, 'Ya." Allah berfirman "Kunjungilah orang sakit dan pastikanlah bahawa orang-orang miskin punya pakaian." Musa lalu menyisihkan tujuh hari setiap bulan untuk mengunjung orang-orang miskin dan memeriksa pakaian mereka serta mengunjungi orang sakit.
Sahl bin Abdullah menyatakan, "Ada lima contoh kemuliaan jiwa: seorang miskin yang berpura-pura bebas dari keperluan, seorang lapar yang berpura-pura kenyang, seorang yang bersedih yang pura-pura bahagia, seseorang yang punya musuh tapi memperlihatkan kecintaan terhadapnya, seseorang yang berpuasa di siang hari dan bangun di malam hari [untuk solat] tanpa memperlihatkan kelemahan."
Bisyr bin Al-Harits berkata, "Maqam (kedudukan) yang paling baik adalah maqam keyakinan yang mantap dalam kesabaran melalui kemiskinan sampai masuk liang lahad." Dzun Nun mengatakan, "Satu tanda kemurkaan Allah kepada seorang hamba adalah bahawa si hamba merasa takut kepada kemiskinan."
Asy-Syibli berpendapat, "Tanda kemiskinan yang paling kecil adalah jika seluruh kekayaan dunia ini diberikan kepada seseorang dan kemudian disedekahkannya sampai habis dalam waktu satu hari, tetapi kemudian terlintas dalam fikirannya bahawa dia mestilah menyimpan sedikit yang cukup untuk sehari makan. [Jika fikiran seperti itu masih terlintas dalam benaknya, maka dia tidak dapat dianggap benar dalam kemiskinannya.] "
Syeikh Abu Ali Ad-Daqqaq berkata, "Orang bertanya mana yang lebih baik: kemiskinan ataukah kekayaan. Menurut pendapatku, yang paling baik adalah bahawa seseorang diberi rezeki yang cukup untuk penghidupannya dan dia lalu.menjaga dirinya dalam batas tersebut."
Abu Muhammad Yasin menuturkan, "Aku bertanya kepada Ibn Al-Jalla'tentang kemiskinan. Dia diam saja; kemudian mengundurkan diri dan pergi. Sesaat kemudian dia kembali dan berkata, 'Aku punya empat keping mata wang dan aku merasa malu kepada Allah SWT untuk berbicara tentang kemiskinan sebelum aku menyingkirkan kepingan-kepingan wang itu.” Kemudian dia mulai berbicara tentang kemiskinan."
Ibrahim bin Al-Muwallad berkata, "Aku bertanya kepada Ibn Al-Jalla', 'Bilakah orang-orang miskin patut disebut miskin?” Dia menjawab, “Jika tidak ada lagi sesuatu pun darinya yang tersisa padanya.” Aku bertanya, “Bagaimana dapat begitu?” Dia menjawab, “Jika dia memiliki sebutan itu, bererti dia tidak memiliki kemiskinan. Tapi jika dia tidak lagi memiliki sebutan itu, bererti dia memiliki kemiskinan itu." Dikatakan bahawa keadaan miskin yang sahih adalah jika si miskin tidak merasa puas dengan bahagian mana pun dari kemiskinannya, selain dengan Dia yang diperlukannya.
Abdullah bin Al-Mubarak menyatakan, "Membuat diri sendiri tampak kaya sedangkan keadaan sebenarnya miskin, adalah lebih baik daripada kemiskinan."
Banan Al-Mishri menuturkan, "Suatu ketika aku sedang duduk-duduk di Makkah, dan seorang pemuda berada di depanku. Seorang laki-laki datang kepadanya dengan membawa sebuah bekas berisi wang dan meletakkannya di hadapan pemuda itu. Pemuda itu rerkata, “Aku tidak memerlukannya.” Orang itu berkata, “Kalau begitu, bahagi-bahagikanlah kepada orang-orang miskin.” Petang harinya kulihat pemuda itu ada di lembah, sedang mengemis. Aku berkata, “Alangkah baiknya jika engkau menyimpan sedikit dari wang tadi untuk dirimu sendiri.” Dia menjawab, “Siapa yang tahu kalau aku masih akan terus hidup sampai petang ini?"
Abu Hafs berkata, "Cara yang paling baik bagi reorang hamba untuk menemui Tuhannya adalah dengan terus-menerus memerlukan-Nya dalam setiap keadaan, mematuhi Sunnah dalam semua amal perbuatan, dan mencari rezeki dengan jalan yang halal.'' Al-Murta'isy berpendapat, “Yang paling baik adalah bahawa cita-cita orang miskin itu tidak melampaui langkah-langkahnya."
Abu Ali Ar-Rudzbari menuturkan, "Ada empat orang yang merupakan teladan [cara yang saleh dalam nenjalani kemiskinan] pada masa mereka. Yang pertama, iaitu Yusuf bin Asbat, tidak mahu menerima pemberian apa pun dari saudara-saudaranya (sesama Muslim) ataupun dari penguasa. Dia mewarisi wang sebanyak tujuh puluh ribu dirham dari saudara laki-lakinya tapi dia tidak mahu menerima satu sen pun darinya. Dia biasa menenun tikar daun kurma dengan tangannya sendiri. Yang kedua, Abu Ishaq Al-Fazari, mahu menerima pemberian dari saudara-saudaranya ataupun dari penguasa. Pemberian itu dihabiskannya untuk keperluan orang-orang miskin yang kemiskinannya tersembunyi dan yang tidak meminta-minta sedekah. Adapun pemberian dari penguasa, maka itu diberikannya kepada orang-orang yang patut menerimanya di kalangan warga Tarsus. Yang ketiga, Abdullah bin Mubarak, mahu menerima pemberian dari saudara-saudaranya, tetapi tidak dari penguasa. Pemberian dari saudara-saudaranya itu diterimanya lalu dibahagi-bahagikannya kepada orang-orang lain secara adil. Yang keempat, Mukhlad bin Al-Husain, mahu menerima pemberian dari penguasa, tapi tidak dari saudara-saudaranya. Dia mengatakan, "Penguasa tidak menganggap ada orang yang wajib untuk diberi, sedangkan saudara-saudaraku menganggap ada."
Syeikh Abu Ali Ad-Daqqaq berkata, "Ada sebuah hadith yang mengatakan, “Orang yang merendahkan diri di hadapan orang kaya dikeranakan kekayaannya, bererti dia telah kehilangan dua pertiga agamanya." Ini disebabkan kerana seorang manusia terdiri dari hati, lidah dan perilaku lahiriah. Jika dia merendahkan dirj dengan perilaku lahiriah dan lidahnya, maka diakehilangan dua pertiga agamanya. Tetapi jika dia merendahkan diri di hadapan orang kaya itu dengan hatinya juga, maka dia kehilangan seluruh agamanya.
Dikatakan, "Seorang miskin dalam menjalani kemiskinannya dituntut paling tidak agar dia memiliki empat hal: pengetahuan yang akan menjadi pembimbingnya, sikap zuhud yang akan mengendalikan dirinya, keyakinan yang akan menguatkan imannya dan dzikir yang akan membawakan keakraban [dengan Tuhan kepadanya]."
Dikatakan juga, "Orang yang menginginkan kemiskinan disebabkan kerana kemiskinan bererti dia tidak akan disibukkan dengan selain Allah, akan mati dalam keadaan kaya." Al-Muzayyin menyatakan, "Di masa dahulu terdapat lebih banyak jalan menuju kepada Allah daripada bintang di langit. Tetapi sekarang tidak satu pun di antaranya yang tersisa selain kemiskinan, dan kemiskinan adalah jalan yang terbaik di antara jalan-jalan itu."
An-Nuri menyatakan, "Tanda seorang miskin adalah sikap rela ketika dia tidak punya apa-apa dan sikap pemurah ketika dia punya banyak harta.” Ketika ditanya tentang hakekat kemiskinan, Asy Syibli menjawab, "Hakekat kemiskinan adalah bahawa si hamba tidak merasa puas dengan apa pun yang kurang dari Allah SWT."
Manshur bin Khalaf Al-Maghribi menuturkan, "Abu Sahl Al-Khasysyab Al-Kabir mengatakan kepadaku, 'Kemiskinan adalah kemiskinan dan kehinaan.' Aku menjawab,'Bukan, justru katakan, 'Kemiskinan adalah kemiskinan dan kemuliaan." Dia berkata,'Kemiskinan dan lumpur.' Aku membalas, “Bukan, justru katakan "Kemiskinan dan tahta Ilahi."
Syeikh Abu AIi Ad-Daqqaq berpendapat tentang hadith Nabi saw, "Hampir-hampir kefakiran itu menjadi kekufuran" dengan mengatakan, "Bahaya yang dapat timbul dari sesuatu adalah berbanding dengan manfaat lan kebajikan yang terkandung di dalamnya. Apa pun yang sangat bermanfaat dalam dirinya sendiri, mengandung bahaya yang paling besar pada sisi lainnya. Begitulah halnya dengan iman. Kerana ia adalah sifat yang paling baik, maka sebaliknya adalah kekafiran. Kerana bahaya yang terkandung dalam kemiskinan adalah bahawa ia dapat menjadi kufur kepada Allah, maka kita punya pendapat bahawa kemiskinan adalah sifat yang paling mulia."
Al-Murta'isy berkata, "Aku mendengar Al-Junaid mengajarkan, 'Jika engkau bertemu dengan seorang miskin, hadapilah dia dengan kebaikan budimu, bukan dengan ilmumu. Kebaikan budi akan mendekatkannya, sedang ilmu akan menjauhkannya.” Aku bertanya, “Wahai Abul Qasim, apakah ilmu benar-benar menjauhkan orang miskin?” Dia menjawab, “Ya. Jika si orang miskin bersikap benar dalam kemiskinannya, dan engkau mencurahkan ilmumu kepadanya, maka ilmumu itu akan meleleh seperti melelehnya timah kena api.”
Muzaffar Al-Qarmasini berkata, "Orang miskin adalah orang yang tidak memerlukan Tuhan." Ucapan ini mempunyai makna yang samar-samar jika difahami oleh orang yang tidak memahami tujuan sang Sufi. Ucapan ini semata-mata menunjukkan dihentikannya mengajukan tuntutan, berakhirnya pilihan (oleh si miskin), dan kerelaan terhadap apa pun yang dilakukan Allah SWT.
Ibn Khafif menyatakan, "Kemiskinan bererti tidak memiliki harta benda dan meninggalkan tuntutan akan sifat-sifat manusia." Abu Hafs berkata, "Kemiskinan tidaklah sempurna bagi siapa pun sampai dia lebih mengutamakan memberi daripada menerima. Kemurahan hati bukanlah orang yang punya memberi kepada yang tidak punya, melainkan orang yang tidak punya memberi kepada orang yang berpunya."
Ibn Al-Jalla' menyatakan, "Seandainya tidak kerana adanya tujuan lebih agung merendahkan diri di depan Allah, nescaya akan menjadi cara orang miskin untuk berjalan dengan sikap penuh kebanggaan."Yusuf bin Asbat berkata, "Selama empat puluh tahun aku hanya memiliki sehelai baju." Salah seorang Sufi menuturkan, "Aku bermimpi seolah-olah Hari Kiamat sudah tiba. Sebuah suara mengatakan, “Bawalah Malik bin Dinar dan Muhammad bin Wasi' ke dalam syurga.Maka aku lalu memerhatikan siapa di antara keduanya yang lebih dahulu masuk, dan ternyata orang itu adalah Muhammad bin Wasi'. Ketika aku bertanya mengapa dia didahulukan, dijelaskan kepadaku, 'Dia hanya memiliki sehelai baju, sedangkan Malik dua.'
Muhammad Al-Musuhi berkata, "Orang miskin adalah orang yang tidak memerlukan sesuatu pun dari harta benda duniawi." Sahl bin Abdullah ditanya, "Bilakah orang miskin dapat beristirehat?" Dia menjawab, "Jika dia tidak mengharapkan apa pun bagi dirinya sendiri selain dari saat kini."
Ketika muncul pembicaraan tentang kemiskinan dan kekayaan di hadapan Yahya bin Muadz, dia berkata, "Bukanlah kemiskinan atau kekayaan yang memiliki beratnya timbangan di Hari Perhitungan. Hanya kesabaran dan syukurlah yang akan ditimbang. Jadi kelak akan dikatakan, 'Orang ini bersyukur atau orang ini bersabar."
Diriwayatkan bahawa Allah SWT mewahyukan kepada salah seorang Nabi as, "Jika engkau ingin mengetahui apakah Aku redha denganmu, lihatlah apakah orang miskin rela denganmu." .
Abu Bakr Az-Zaqqaq berkata, "Orang yang tidak mempunyai rasa takut kepada Allah bersama dengan kemiskinannya bererti seluruh makanan yang dimakannya adalah makanan haram.” Dikatakan bahawa orang-orang miskin di pengajian-pengajian Sufyan Ats-Tsauri adalah laksana para bangsawan. Abu Bakr bin Thahir menyatakan, "Di antara ciri-ciri orang miskin adalah bahawa dia tidak punya keinginan terhadap benda-benda duniawi. Kalaupun dia berkeinginan juga, tidak syak lagi bahawa dia pasti akan berkeinginan, maka keinginannya itu tidak melampaui apa yang cukup baginya."
Salah seorang Sufi membacakan syair berikut:
Mereka berkata, "Besok hari raya. Apa yang akan kau pakai?"
Kukatakan, "Jubah hehormatan yang diberi-Nya yang mencurahkan cinta dengan penuh kemurahan hati."
Kemiskinan dan kesabaran, keduanya adalah pakaianku -
yang di dalamnya ada satu hati yang untuknya,
Sahabat
adalah selalu Hari Jumaat dan Hari Raya sekaligus.
Pakaian yang paling layak untuh menernui Kehasih
pada hari berkunjung adalah pakaian yang dicintai-Nya.
Setiap waktu adalah saat berkabung bagiku jika
Kau tidak ada, wahai Harapanku,
Hari Raya adalah hari hetika aku melihat dan mendengar
suara-Mu.
Dikatakan bahawa puisi ini dikarang oleh Abu Ali Ar-Rudzbari. Ketika ditanya tentang orang miskin sejati, Abu Bakr Al-Mishri menjawab, “Dia adalah orang yang tidak memiliki sesuatu dan tidak pula berkeinginan memiliki sesuatu." Dzun Nun Al-Mishri berkata, “ Aku lebih menyukai rasa memerlukan yang terus menerus terhadap Tuhan disertai dengan kekhuatiran daripada kesejahteraan yang mantap namun disertai kebanggaan.”
Abu AbduHah Al-Husri menuturkan, “Abu Jaafar Al-Haddad bekerja selama dua puluh tahun, dengan pendapatan satu dinar setiap hari. Wang itu dibelanjakannya untuk orang-orang miskin sementara dia sendiri berpuasa; setelah itu dia akan berkeliling mencari sedekah setelah solat Maghrib untuk berbuka puasa.”
An-Nuri menyatakan, “ Tanda seorang miskin adalah kerelaan manakala dia tidak punya apa-apa dan memberi dengan murah hati apabila dia mempunyai banyak rezeki.”
Muhammad bin AIi Al-Kattani berkata, "Ada seorang pemuda bersama kami di Makkah, yang memakai pakaian lusuh dan bertampal-tampal. Dia tidak pernah ikut serta dalam percakapan kami ataupun duduk bersama kami. Dalam hati aku sangat merasa sayang kepadanya. Suatu ketika aku diberi wang dua ratus dirham dari sumber yang halal. Wang itu kubawa kepadanya, kuletakkan di tepi tikar solatnya dan kukatakan kepadanya, “Wang ini telah datang kepadaku dari sumber yang halal. Belanjakanlah untuk keperluanmu.”
Seraya memandang kepadaku dengan sikap merendahkan, dia mengungkapkan apa yang selama itu tidak kuketahui, "Saya membeli kesempatan untuk dapat duduk bersama Allah SWT dalam pengabdian yang lapang ini dengan harga tujuh puluh ribu dinar dari harta benda dan kebun-kebun saya. Sekarang anda hendak menggelincirkan saya dari keadaan saya sekarang ini dengan wang yang anda tawarkan ini!” Kemudian dia berdiri dan menumpahkan wang itu ke tanah. Aku duduk dan mengumpulkan wang itu dari tanah. Belum pernah aku menyaksikan kegagahan seperti kegagahan pemuda itu ketika dia berjalan pergi ataupun kehinaan seperti kehinaanku ketika aku mengumpulkan wang itu."
Abu Abdullah bin Khafif menyatakan, "Aku belum pernah diwajibkan membayar zakat fitrah pada akhir bulan Ramadhan selama empat puluh tahun, sementara aku diterima dengan penuh penghormatan di kalangan kaum terpilih mahupun kaum awam." Abu Ahmad Ash-Shaghir berkata, "Aku bertanya kepada Abu Abdullah bin Khafif, 'Sebutan apa yang layak untuk seorang sufi, yang lapar selama tiga hari kemudian keluar untuk meminta sedekah sekadar cukup untuk memenuhi keperluannya?” Dia menjawab, “Seorang sufi. Pergi- makan- dan berdiam diri .Jika seorang sufi menggunakan cara ini, kamu semua akan terhina."
Ketika Ad-Duqqi ditanya tentang perilaku buruk di kalangan para sufi di hadapan Allah dalam urusan-urusan mereka, dia berkata, "Perilaku buruk itu adalah kemerosotan mereka dari kemampuan mencari hakekat menjadi upaya mencari ilmu keulamaan." Khair An-Nassaj menuturkan, "Aku memasuki sebuah masjid dan kulihat ada seorang sufi di situ. Ketika dia melihatku, dipegangnya bajuku sambil memohon, "Wahai Syeikh, kasihanilah aku, kerana penderitaanku sangat besar!" Aku bertanya, “Apa yang kau derita?” Dia menjawab, “Aku tidak lagi diberi cubaan, dan selalu dalam keadaan sihat walafiat!” Aku memandangnya, sedang dia diberi orang sedekah.
Abu Bakr Al-Warraq berkata, "Berbahagialah orang yang miskin di dunia dan di akhirat." Ketika ditanya apa maksud perkataannya itu, dia menjawab, "Penguasa di dunia ini tidak menuntut pajak darinya, dan Yang Maha Kuasa di akhirat tidak membuat perhitungan dengannya."
Pemberian sedekah itu) ialah bagi orang-orang fakir miskin yang telah menentukan dirinya (dengan menjalankan khidmat atau berjuang) pada jalan Allah (membela Islam), yang tidak berupaya mengembara di muka bumi (untuk berniaga dan sebagainya); mereka itu disangka: Orang kaya oleh orang yang tidak mengetahui halnya, kerana mereka menahan diri daripada meminta-minta. Engkau kenal mereka dengan (melihat) sifat-sifat dan keadaan masing-masing, mereka tidak meminta kepada orang ramai dengan mendesak-desak dan (ketahuilah), apa jua yang kamu belanjakan dari harta yang halal maka sesungguhnya Allah sentiasa Mengetahuinya. (Al-Baqarah: 273)
Diriwayatkan oleh Abu Hurairah bahawa Nabi saw telah bersabda, "Orang-orang miskin akan memasuki syurga lima ratus tahun sebelum orang-orang kaya. Dalam perhitungan syurga, lima ratus tahun itu sama dengan setengah hari." Diriwayatkan oleh Abdullah bahawa Rasulullah saw telah mengatakan, "Orang miskin itu bukanlah mereka yang berkeliling ke sana kemari dengan harapan diberi orang segenggam dua genggam, sebutir atau dua butir kurma." Seseorang bertanya, "Kalau begitu, siapakah orang miskin itu?” Nabi saw menjawab, “Dia adalah orang yang tidak mampu memenuhi keperluan asasnya tapi malu meminta kepada orang, tidak pula orang lain mengetahui hal ehwal mereka hingga mereka dapat diberi sedekah." Ucapan Nabi "tapi malu meminta" ertinya adalah bahawa mereka malu kepada Allah untuk neminta-minta dari orang ramai, bukan malu kepada manusia.
Kefakiran adalah ciri yang membezakan para wali lari manusia lain, perhiasan orang-orang suci, dan sifat pilihan Tuhan bagi manusia-manusia pilihan-Nya, orang-orang saleh dan para nabi. Orang-orang fakir adalah manusia-manusia pilihan Allah SWT di antara hamba-hamba-Nya. Mereka adalah penyimpan rahsia-rahsia-Nya di antara para hamba-Nya, yang dengan mereka Dia menjaga para makhluk dan yang dengan keberkatan mereka rezeki disebarkan di kalangan manusia. Orang-orang miskin yang sabar akan menjadi sahabat-sahabat Allah SWT pada Hari Kebangkitan seperti dikatakan dalam hadith riwayat Umar bin Al-Khathab ra, yang mengatakan bahawa:
Rasulullah saw telah bersabda, "Bagi tiap-tiap sesuatu ada kuncinya, dan kunci syurga adalah mencintai orang-orang miskin. Kaum miskin yang sabar akan menjadi sahabat-sahabat Allah SWT pada Hari Kebangkitan."
Diceritakan bahawa seorang laki-laki membawakan wang sebanyak sepuluh ribu dirham kepada Ibrahim bin Adham, tetapi Ibrahim tidak menerimanya dan berkata "Engkau mahu menghapus namaku dari daftar orang-orang miskin dengan wang sepuluh ribu dirham! Aku tidak akan menerimanya!"
Muadz An-Nasafi menegaskan, "Allah tidak pernah membinasakan suatu kaum, apa pun [kejahatan] yang mereka lakukan, kecuali jika mereka merendahkan dan menghina kaum miskin."
Dikatakan bahawa seandainya kaum miskin tidak memiliki kebajikan lain dalam pandangan Allah selain keinginan mereka agar rezeki dilimpahkan dan dimurahkan di kalangan kaum Muslimin, nescaya itu sudah cukup bagi mereka, sebab mereka perlu membeli barang-barang dan orang-orang kaya perlu menjualnya. Begitulah halnya dengan kaum miskin yang awam, maka bagaimana pula halnya dengan kaum yang terpilih di kalangan mereka?
Ketika Yahya bin Muadz ditanya tentang kefakiran dia menjawab, "Hakikat kefakiran adalah bahawa si hamba tidak bergantung kepada siapa pun selain Allah, dan tanda kefakiran adalah tidak adanya harta benda.” Ibrahim Al-Qashar mengatakan, "Kefakiran adalah pakaian yang apabila telah dipakai akan mendatangkan keredhaan."
Seorang fakir datang kepada Syeikh Abu Ali Ad-Daqqaq pada tahun 394 atau 395 Hijriyah dari Zuzan. Dia memakai pakaian yang diperbuat dari kain yang sangat kasar dan serban dari kain yang sama. Salah seorang sahabat syeikh itu bertanya dengan nada bergurau, "Berapa harga pakaianmu ini?" Dia menjawab, "Aku membayarnya dengan dunia ini, dan akhirat ditawarkan kepadaku untuk ditukar dengannya. Tapi aku tidak akan menjualnya dengan harga tersebut."
Syeikh Abu Ali Ad-Daqqaq menuturkan, "Suatu ketika seorang miskin mendatangi sebuah pertemuan untuk meminta sedekah, dengan berkata, “Saya sudah tiga hari tidak makan.” Salah seorang syeikh yang hadir di situ berkata, "Engkau dusta! Kemiskinan adalah rahsia Tuhan. Dia tidak mempercayakan rahsia-Nya kepada orang yang menunjukkannya kepada siapa pun yang dikehendakinya!"' Hamdun Al-Qassar menyatakan, "Apabila Iblis dan tenteranya berkumpul, mereka tidak bergembira sebagaimana kegembiraan mereka menyaksikan seorang Muslim membunuh sesama Muslim, seseorang yang mati dalam keadaan fakir (hina), dan sebuah hati yang menyimpan ketakutan pada kemiskinan."
Al-Junaid berkata, "Wahai orang-orang miskin, kamu semua dijadikan terkenal oleh Allah dan dihormati kerana-Nya. Tetapi perhatikanlah bagaimana keadaanmu tatkala kamu berada bersendirian bersama-Nya."
Al-Junaid ditanya, “Keadaan manakah yang lebih baik miskin dan bergantung pada Tuhan, ataukah dijadikan kaya oleh-Nya?" Dia menjawab, "Jika kemiskinan seseorang adalah sahih, maka kekayaannya adalah sahih di sisi-Nya. Jika kekayaannya di sisi-Nya adalah sahih, maka kemiskinan dan bergantung kepada-Nya juga disempurnakan. Janganlah bertanya, 'Manakah yang lebih baik,' sebab keduanya adalah keadaan yang salah satunya tidak akan lengkap tanpa yang lain."
Ruwaim menyatakan, ketika ditanya tentang tanda seorang miskin, "Miskin bererti menyerahkan jiwa kepada ketentuan Tuhan.” Dikatakan bahawa ada tiga tanda seorang miskin: dia melindungi batinnya, dia melaksanakan kewajipan-kewajipan agamanya, dia menyembunyikan kemiskinannya.” Seseorang bertanya kepada Abu Sa'id Al-Kharraz, "Mengapa kemurahan hati orang kaya tidak sampai kepada orang miskin?” Dia menjawab, "Kerana tiga alasan: kekayaan mereka diperolehi dengan jalan yang tidak halal, mereka tidak dimampukan untuk memberi sedekah, dan penderitaan orang miskin itu memang dikehendaki."
Dikatakan bahawa Allah SWT mewahyukan kepada Musa as, "Jika engkau berjumpa dengan orang-orang miskin, tanyakanlah tentang mereka seperti yang engkau tanyakan kepada orang-orang kaya. Jika hal itu tidak engkau lakukan, maka campakkanlah ke tanah semua yang telah Ku-ajarkan kepadamu.”
Diriwayatkan bahawa Abu Darda' menegaskan, "Aku lebih suka jatuh dari tembok istana dan remuk daripada duduk bersama orang kaya, kerana aku mendengar Rasulullah saw berkata, “Waspadalah dari duduk-duduk bersama orang mati” Seseorang bertanya, “Siapa orang mati itu?” Beliau menjawab, “Orang kaya."
Seseorang berkata kepada Ar-Rabi' bin Khutsaim, "Harga-harga naik setinggi langit!" Dia menjawab, "Kita tidak berharga untuk dibuat lapar oleh Allah. Dia hanya melakukan hal itu pada wali-wali-Nya." Ibrahim bin Adham menyatakan, "Kami meminta kemiskinan tetapi diberi kekayaan; orang lain meminta kekayaan tapi kemiskinan datang kepada mereka."
Seorang laki-laki bertanya kepada Yahya bin Muadz, "Apakah kemiskinan itu?" Dia berkata, "Takut pada kemiskinan." Orang itu bertanya lagi, "Lantas, apakah kekayaan itu?" Dia menjawab, "Keamanan di sisi Allah SWT." Ibn Al-Karanbi berkata, "Orang miskin yang sejati menjauhi kekayaan agar kekayaan tidak mendatanginya dan merosakkan kemiskinannya, sebagaimana halnya orang kaya menjauhi kemiskinan, agar kemiskinan tidak mendatangrnya dan merosakkar kekayaannya."
Abu Hafs ditanya, "Dengan cara apa orang miskin mendekati Tuhannya SWT?" Dia menjawab, "Orang miskin tidak memiliki apa-apa selain kemiskinannya yang dengan kemiskinan itu dia mendekati Tuhannya."
Allah SWT mewahyukan kepada Musa as, "Mahu kah engkau memperolehi pahala amal kebajikan yang setara dengan pahala seluruh ummat manusia di Hari Kiamat nanti?" Musa menjawab, 'Ya." Allah berfirman "Kunjungilah orang sakit dan pastikanlah bahawa orang-orang miskin punya pakaian." Musa lalu menyisihkan tujuh hari setiap bulan untuk mengunjung orang-orang miskin dan memeriksa pakaian mereka serta mengunjungi orang sakit.
Sahl bin Abdullah menyatakan, "Ada lima contoh kemuliaan jiwa: seorang miskin yang berpura-pura bebas dari keperluan, seorang lapar yang berpura-pura kenyang, seorang yang bersedih yang pura-pura bahagia, seseorang yang punya musuh tapi memperlihatkan kecintaan terhadapnya, seseorang yang berpuasa di siang hari dan bangun di malam hari [untuk solat] tanpa memperlihatkan kelemahan."
Bisyr bin Al-Harits berkata, "Maqam (kedudukan) yang paling baik adalah maqam keyakinan yang mantap dalam kesabaran melalui kemiskinan sampai masuk liang lahad." Dzun Nun mengatakan, "Satu tanda kemurkaan Allah kepada seorang hamba adalah bahawa si hamba merasa takut kepada kemiskinan."
Asy-Syibli berpendapat, "Tanda kemiskinan yang paling kecil adalah jika seluruh kekayaan dunia ini diberikan kepada seseorang dan kemudian disedekahkannya sampai habis dalam waktu satu hari, tetapi kemudian terlintas dalam fikirannya bahawa dia mestilah menyimpan sedikit yang cukup untuk sehari makan. [Jika fikiran seperti itu masih terlintas dalam benaknya, maka dia tidak dapat dianggap benar dalam kemiskinannya.] "
Syeikh Abu Ali Ad-Daqqaq berkata, "Orang bertanya mana yang lebih baik: kemiskinan ataukah kekayaan. Menurut pendapatku, yang paling baik adalah bahawa seseorang diberi rezeki yang cukup untuk penghidupannya dan dia lalu.menjaga dirinya dalam batas tersebut."
Abu Muhammad Yasin menuturkan, "Aku bertanya kepada Ibn Al-Jalla'tentang kemiskinan. Dia diam saja; kemudian mengundurkan diri dan pergi. Sesaat kemudian dia kembali dan berkata, 'Aku punya empat keping mata wang dan aku merasa malu kepada Allah SWT untuk berbicara tentang kemiskinan sebelum aku menyingkirkan kepingan-kepingan wang itu.” Kemudian dia mulai berbicara tentang kemiskinan."
Ibrahim bin Al-Muwallad berkata, "Aku bertanya kepada Ibn Al-Jalla', 'Bilakah orang-orang miskin patut disebut miskin?” Dia menjawab, “Jika tidak ada lagi sesuatu pun darinya yang tersisa padanya.” Aku bertanya, “Bagaimana dapat begitu?” Dia menjawab, “Jika dia memiliki sebutan itu, bererti dia tidak memiliki kemiskinan. Tapi jika dia tidak lagi memiliki sebutan itu, bererti dia memiliki kemiskinan itu." Dikatakan bahawa keadaan miskin yang sahih adalah jika si miskin tidak merasa puas dengan bahagian mana pun dari kemiskinannya, selain dengan Dia yang diperlukannya.
Abdullah bin Al-Mubarak menyatakan, "Membuat diri sendiri tampak kaya sedangkan keadaan sebenarnya miskin, adalah lebih baik daripada kemiskinan."
Banan Al-Mishri menuturkan, "Suatu ketika aku sedang duduk-duduk di Makkah, dan seorang pemuda berada di depanku. Seorang laki-laki datang kepadanya dengan membawa sebuah bekas berisi wang dan meletakkannya di hadapan pemuda itu. Pemuda itu rerkata, “Aku tidak memerlukannya.” Orang itu berkata, “Kalau begitu, bahagi-bahagikanlah kepada orang-orang miskin.” Petang harinya kulihat pemuda itu ada di lembah, sedang mengemis. Aku berkata, “Alangkah baiknya jika engkau menyimpan sedikit dari wang tadi untuk dirimu sendiri.” Dia menjawab, “Siapa yang tahu kalau aku masih akan terus hidup sampai petang ini?"
Abu Hafs berkata, "Cara yang paling baik bagi reorang hamba untuk menemui Tuhannya adalah dengan terus-menerus memerlukan-Nya dalam setiap keadaan, mematuhi Sunnah dalam semua amal perbuatan, dan mencari rezeki dengan jalan yang halal.'' Al-Murta'isy berpendapat, “Yang paling baik adalah bahawa cita-cita orang miskin itu tidak melampaui langkah-langkahnya."
Abu Ali Ar-Rudzbari menuturkan, "Ada empat orang yang merupakan teladan [cara yang saleh dalam nenjalani kemiskinan] pada masa mereka. Yang pertama, iaitu Yusuf bin Asbat, tidak mahu menerima pemberian apa pun dari saudara-saudaranya (sesama Muslim) ataupun dari penguasa. Dia mewarisi wang sebanyak tujuh puluh ribu dirham dari saudara laki-lakinya tapi dia tidak mahu menerima satu sen pun darinya. Dia biasa menenun tikar daun kurma dengan tangannya sendiri. Yang kedua, Abu Ishaq Al-Fazari, mahu menerima pemberian dari saudara-saudaranya ataupun dari penguasa. Pemberian itu dihabiskannya untuk keperluan orang-orang miskin yang kemiskinannya tersembunyi dan yang tidak meminta-minta sedekah. Adapun pemberian dari penguasa, maka itu diberikannya kepada orang-orang yang patut menerimanya di kalangan warga Tarsus. Yang ketiga, Abdullah bin Mubarak, mahu menerima pemberian dari saudara-saudaranya, tetapi tidak dari penguasa. Pemberian dari saudara-saudaranya itu diterimanya lalu dibahagi-bahagikannya kepada orang-orang lain secara adil. Yang keempat, Mukhlad bin Al-Husain, mahu menerima pemberian dari penguasa, tapi tidak dari saudara-saudaranya. Dia mengatakan, "Penguasa tidak menganggap ada orang yang wajib untuk diberi, sedangkan saudara-saudaraku menganggap ada."
Syeikh Abu Ali Ad-Daqqaq berkata, "Ada sebuah hadith yang mengatakan, “Orang yang merendahkan diri di hadapan orang kaya dikeranakan kekayaannya, bererti dia telah kehilangan dua pertiga agamanya." Ini disebabkan kerana seorang manusia terdiri dari hati, lidah dan perilaku lahiriah. Jika dia merendahkan dirj dengan perilaku lahiriah dan lidahnya, maka diakehilangan dua pertiga agamanya. Tetapi jika dia merendahkan diri di hadapan orang kaya itu dengan hatinya juga, maka dia kehilangan seluruh agamanya.
Dikatakan, "Seorang miskin dalam menjalani kemiskinannya dituntut paling tidak agar dia memiliki empat hal: pengetahuan yang akan menjadi pembimbingnya, sikap zuhud yang akan mengendalikan dirinya, keyakinan yang akan menguatkan imannya dan dzikir yang akan membawakan keakraban [dengan Tuhan kepadanya]."
Dikatakan juga, "Orang yang menginginkan kemiskinan disebabkan kerana kemiskinan bererti dia tidak akan disibukkan dengan selain Allah, akan mati dalam keadaan kaya." Al-Muzayyin menyatakan, "Di masa dahulu terdapat lebih banyak jalan menuju kepada Allah daripada bintang di langit. Tetapi sekarang tidak satu pun di antaranya yang tersisa selain kemiskinan, dan kemiskinan adalah jalan yang terbaik di antara jalan-jalan itu."
An-Nuri menyatakan, "Tanda seorang miskin adalah sikap rela ketika dia tidak punya apa-apa dan sikap pemurah ketika dia punya banyak harta.” Ketika ditanya tentang hakekat kemiskinan, Asy Syibli menjawab, "Hakekat kemiskinan adalah bahawa si hamba tidak merasa puas dengan apa pun yang kurang dari Allah SWT."
Manshur bin Khalaf Al-Maghribi menuturkan, "Abu Sahl Al-Khasysyab Al-Kabir mengatakan kepadaku, 'Kemiskinan adalah kemiskinan dan kehinaan.' Aku menjawab,'Bukan, justru katakan, 'Kemiskinan adalah kemiskinan dan kemuliaan." Dia berkata,'Kemiskinan dan lumpur.' Aku membalas, “Bukan, justru katakan "Kemiskinan dan tahta Ilahi."
Syeikh Abu AIi Ad-Daqqaq berpendapat tentang hadith Nabi saw, "Hampir-hampir kefakiran itu menjadi kekufuran" dengan mengatakan, "Bahaya yang dapat timbul dari sesuatu adalah berbanding dengan manfaat lan kebajikan yang terkandung di dalamnya. Apa pun yang sangat bermanfaat dalam dirinya sendiri, mengandung bahaya yang paling besar pada sisi lainnya. Begitulah halnya dengan iman. Kerana ia adalah sifat yang paling baik, maka sebaliknya adalah kekafiran. Kerana bahaya yang terkandung dalam kemiskinan adalah bahawa ia dapat menjadi kufur kepada Allah, maka kita punya pendapat bahawa kemiskinan adalah sifat yang paling mulia."
Al-Murta'isy berkata, "Aku mendengar Al-Junaid mengajarkan, 'Jika engkau bertemu dengan seorang miskin, hadapilah dia dengan kebaikan budimu, bukan dengan ilmumu. Kebaikan budi akan mendekatkannya, sedang ilmu akan menjauhkannya.” Aku bertanya, “Wahai Abul Qasim, apakah ilmu benar-benar menjauhkan orang miskin?” Dia menjawab, “Ya. Jika si orang miskin bersikap benar dalam kemiskinannya, dan engkau mencurahkan ilmumu kepadanya, maka ilmumu itu akan meleleh seperti melelehnya timah kena api.”
Muzaffar Al-Qarmasini berkata, "Orang miskin adalah orang yang tidak memerlukan Tuhan." Ucapan ini mempunyai makna yang samar-samar jika difahami oleh orang yang tidak memahami tujuan sang Sufi. Ucapan ini semata-mata menunjukkan dihentikannya mengajukan tuntutan, berakhirnya pilihan (oleh si miskin), dan kerelaan terhadap apa pun yang dilakukan Allah SWT.
Ibn Khafif menyatakan, "Kemiskinan bererti tidak memiliki harta benda dan meninggalkan tuntutan akan sifat-sifat manusia." Abu Hafs berkata, "Kemiskinan tidaklah sempurna bagi siapa pun sampai dia lebih mengutamakan memberi daripada menerima. Kemurahan hati bukanlah orang yang punya memberi kepada yang tidak punya, melainkan orang yang tidak punya memberi kepada orang yang berpunya."
Ibn Al-Jalla' menyatakan, "Seandainya tidak kerana adanya tujuan lebih agung merendahkan diri di depan Allah, nescaya akan menjadi cara orang miskin untuk berjalan dengan sikap penuh kebanggaan."Yusuf bin Asbat berkata, "Selama empat puluh tahun aku hanya memiliki sehelai baju." Salah seorang Sufi menuturkan, "Aku bermimpi seolah-olah Hari Kiamat sudah tiba. Sebuah suara mengatakan, “Bawalah Malik bin Dinar dan Muhammad bin Wasi' ke dalam syurga.Maka aku lalu memerhatikan siapa di antara keduanya yang lebih dahulu masuk, dan ternyata orang itu adalah Muhammad bin Wasi'. Ketika aku bertanya mengapa dia didahulukan, dijelaskan kepadaku, 'Dia hanya memiliki sehelai baju, sedangkan Malik dua.'
Muhammad Al-Musuhi berkata, "Orang miskin adalah orang yang tidak memerlukan sesuatu pun dari harta benda duniawi." Sahl bin Abdullah ditanya, "Bilakah orang miskin dapat beristirehat?" Dia menjawab, "Jika dia tidak mengharapkan apa pun bagi dirinya sendiri selain dari saat kini."
Ketika muncul pembicaraan tentang kemiskinan dan kekayaan di hadapan Yahya bin Muadz, dia berkata, "Bukanlah kemiskinan atau kekayaan yang memiliki beratnya timbangan di Hari Perhitungan. Hanya kesabaran dan syukurlah yang akan ditimbang. Jadi kelak akan dikatakan, 'Orang ini bersyukur atau orang ini bersabar."
Diriwayatkan bahawa Allah SWT mewahyukan kepada salah seorang Nabi as, "Jika engkau ingin mengetahui apakah Aku redha denganmu, lihatlah apakah orang miskin rela denganmu." .
Abu Bakr Az-Zaqqaq berkata, "Orang yang tidak mempunyai rasa takut kepada Allah bersama dengan kemiskinannya bererti seluruh makanan yang dimakannya adalah makanan haram.” Dikatakan bahawa orang-orang miskin di pengajian-pengajian Sufyan Ats-Tsauri adalah laksana para bangsawan. Abu Bakr bin Thahir menyatakan, "Di antara ciri-ciri orang miskin adalah bahawa dia tidak punya keinginan terhadap benda-benda duniawi. Kalaupun dia berkeinginan juga, tidak syak lagi bahawa dia pasti akan berkeinginan, maka keinginannya itu tidak melampaui apa yang cukup baginya."
Salah seorang Sufi membacakan syair berikut:
Mereka berkata, "Besok hari raya. Apa yang akan kau pakai?"
Kukatakan, "Jubah hehormatan yang diberi-Nya yang mencurahkan cinta dengan penuh kemurahan hati."
Kemiskinan dan kesabaran, keduanya adalah pakaianku -
yang di dalamnya ada satu hati yang untuknya,
Sahabat
adalah selalu Hari Jumaat dan Hari Raya sekaligus.
Pakaian yang paling layak untuh menernui Kehasih
pada hari berkunjung adalah pakaian yang dicintai-Nya.
Setiap waktu adalah saat berkabung bagiku jika
Kau tidak ada, wahai Harapanku,
Hari Raya adalah hari hetika aku melihat dan mendengar
suara-Mu.
Dikatakan bahawa puisi ini dikarang oleh Abu Ali Ar-Rudzbari. Ketika ditanya tentang orang miskin sejati, Abu Bakr Al-Mishri menjawab, “Dia adalah orang yang tidak memiliki sesuatu dan tidak pula berkeinginan memiliki sesuatu." Dzun Nun Al-Mishri berkata, “ Aku lebih menyukai rasa memerlukan yang terus menerus terhadap Tuhan disertai dengan kekhuatiran daripada kesejahteraan yang mantap namun disertai kebanggaan.”
Abu AbduHah Al-Husri menuturkan, “Abu Jaafar Al-Haddad bekerja selama dua puluh tahun, dengan pendapatan satu dinar setiap hari. Wang itu dibelanjakannya untuk orang-orang miskin sementara dia sendiri berpuasa; setelah itu dia akan berkeliling mencari sedekah setelah solat Maghrib untuk berbuka puasa.”
An-Nuri menyatakan, “ Tanda seorang miskin adalah kerelaan manakala dia tidak punya apa-apa dan memberi dengan murah hati apabila dia mempunyai banyak rezeki.”
Muhammad bin AIi Al-Kattani berkata, "Ada seorang pemuda bersama kami di Makkah, yang memakai pakaian lusuh dan bertampal-tampal. Dia tidak pernah ikut serta dalam percakapan kami ataupun duduk bersama kami. Dalam hati aku sangat merasa sayang kepadanya. Suatu ketika aku diberi wang dua ratus dirham dari sumber yang halal. Wang itu kubawa kepadanya, kuletakkan di tepi tikar solatnya dan kukatakan kepadanya, “Wang ini telah datang kepadaku dari sumber yang halal. Belanjakanlah untuk keperluanmu.”
Seraya memandang kepadaku dengan sikap merendahkan, dia mengungkapkan apa yang selama itu tidak kuketahui, "Saya membeli kesempatan untuk dapat duduk bersama Allah SWT dalam pengabdian yang lapang ini dengan harga tujuh puluh ribu dinar dari harta benda dan kebun-kebun saya. Sekarang anda hendak menggelincirkan saya dari keadaan saya sekarang ini dengan wang yang anda tawarkan ini!” Kemudian dia berdiri dan menumpahkan wang itu ke tanah. Aku duduk dan mengumpulkan wang itu dari tanah. Belum pernah aku menyaksikan kegagahan seperti kegagahan pemuda itu ketika dia berjalan pergi ataupun kehinaan seperti kehinaanku ketika aku mengumpulkan wang itu."
Abu Abdullah bin Khafif menyatakan, "Aku belum pernah diwajibkan membayar zakat fitrah pada akhir bulan Ramadhan selama empat puluh tahun, sementara aku diterima dengan penuh penghormatan di kalangan kaum terpilih mahupun kaum awam." Abu Ahmad Ash-Shaghir berkata, "Aku bertanya kepada Abu Abdullah bin Khafif, 'Sebutan apa yang layak untuk seorang sufi, yang lapar selama tiga hari kemudian keluar untuk meminta sedekah sekadar cukup untuk memenuhi keperluannya?” Dia menjawab, “Seorang sufi. Pergi- makan- dan berdiam diri .Jika seorang sufi menggunakan cara ini, kamu semua akan terhina."
Ketika Ad-Duqqi ditanya tentang perilaku buruk di kalangan para sufi di hadapan Allah dalam urusan-urusan mereka, dia berkata, "Perilaku buruk itu adalah kemerosotan mereka dari kemampuan mencari hakekat menjadi upaya mencari ilmu keulamaan." Khair An-Nassaj menuturkan, "Aku memasuki sebuah masjid dan kulihat ada seorang sufi di situ. Ketika dia melihatku, dipegangnya bajuku sambil memohon, "Wahai Syeikh, kasihanilah aku, kerana penderitaanku sangat besar!" Aku bertanya, “Apa yang kau derita?” Dia menjawab, “Aku tidak lagi diberi cubaan, dan selalu dalam keadaan sihat walafiat!” Aku memandangnya, sedang dia diberi orang sedekah.
Abu Bakr Al-Warraq berkata, "Berbahagialah orang yang miskin di dunia dan di akhirat." Ketika ditanya apa maksud perkataannya itu, dia menjawab, "Penguasa di dunia ini tidak menuntut pajak darinya, dan Yang Maha Kuasa di akhirat tidak membuat perhitungan dengannya."
RISALAH AL QUSYAIRI BAB 37: DOA
Diriwayatkan oleh Anas bin Malik ra bahawa Rasulullah saw telah bersabda, “ Doa itu sendiri adalah ibadah."
Doa adalah jawapan bagi setiap keperluan. Doa adalah tempat beristirehat bagi mereka yang miskin, tempat berteduh bagi yang gundah, kelegaan bagi yang terbakar api hasrat. Allah SWT menghina orang yang meninggalkan doa, dengan firman-Nya,
ٱلۡمُنَـٰفِقُونَ وَٱلۡمُنَـٰفِقَـٰتُ بَعۡضُهُم مِّنۢ بَعۡضٍ۬ۚ يَأۡمُرُونَ بِٱلۡمُنڪَرِ وَيَنۡہَوۡنَ عَنِ ٱلۡمَعۡرُوفِ وَيَقۡبِضُونَ أَيۡدِيَہُمۡۚ نَسُواْ ٱللَّهَ فَنَسِيَہُمۡۗ إِنَّ ٱلۡمُنَـٰفِقِينَ هُمُ ٱلۡفَـٰسِقُونَ
Orang-orang munafik lelaki dan perempuan, setengahnya adalah sama dengan setengahnya yang lain; mereka masing-masing menyuruh dengan perbuatan yang jahat dan melarang dari perbuatan yang baik dan mereka pula menggenggam tangannya (bakhil kedekut). Mereka telah melupakan (tidak menghiraukan perintah) Allah dan Allah juga melupakan (tidak menghiraukan) mereka. Sesungguhnya orang-orang munafik itu, merekalah orang-orang yang fasik. (At-Tawbah: 67)
Dikatakan bahawa ayat ini bermakna, "Mereka tidak mengangkat tangan mereka dengan terbuka untuk berdoa kepada Kami."
Sahl bin Abdullah menuturkan, "Allah SWT menciptakan makhluk dan berfirman,'Percayakanlah rahsia-rahsiamu kepada-Ku. Kalau tidak, maka melihatlah kepada-Ku. Kalau tidak, maka dengarkanlah Aku. Kalau tidak, maka tunggulah di depan pintu-Ku. Jika tidak satu pun dari ini semua yang engkau lakukan, setidaknya katakanlah kepada-Ku apa keperluan-Mu."'
Sahl juga berkata, Doa yang sungguh-sungguh akan dikabulkan dan doa yang penuh tekanan, yang maksudnya adalah doa yang terpaksa dipanjatkan oleh seseorang kerana keperluannya yang mendesak terhadap apa yang didoakan-nya.
Abu Abdullah Al-Makanisi berkata, "Aku sedang bersama Al-Junaid ketika seorang wanita datang dan meminta kepadanya, 'Berdoalah untukku agar Allah mengembalikan anakku kepadaku, kerana dia telah hilang.'
Al-Junairl mengatakan kepadanya, “Pergilah, dan bersabarlah.” Maka wanita itu pun pergi. Kemudian dia kembali lagi dan meminta Al-Junaid agar berdoa lagi. Al-Junaid menjawab, 'Pergilah dan bersabarlah.'Hal ini berlangsung berkali-kali, dan setiap kali Al-Junaitl mengatakan agar wanita itu bersabar. Akhirnya wanitu itu berkata, "Kesabaranku telah habis. Aku tidak menahannya lagi. Berdoalah untukku!”
Al-Junaid menjawab, 'Jika demikian halnya, pulanglah sekarang, sebab anakmu telah kembali.'Wanita itu pun pulang, dan menemukan anaknya. Dia kembali kepada Al-Junaid untuk mengucapkan terima kasih. Seseorang bertanya kepada Al-Junaid, 'Bagaimana engkau dapat tahu [bahawa anaknya telah kembali]?'
Dia menjawab, 'Allah SWT telah berfirman,
أَمَّن يُجِيبُ ٱلۡمُضۡطَرَّ إِذَا دَعَاهُ وَيَكۡشِفُ ٱلسُّوٓءَ وَيَجۡعَلُڪُمۡ خُلَفَآءَ ٱلۡأَرۡضِۗ أَءِلَـٰهٌ۬ مَّعَ ٱللَّهِۚ قَلِيلاً۬ مَّا تَذَڪَّرُونَ
Atau siapakah yang memperkenankan doa orang yang menderita apabila dia berdoa kepadaNya dan yang menghapuskan kesusahan, serta menjadikan kamu pengganti (umat-umat yang telah lalu) mendiami dan menguasai bumi? Adakah sebarang tuhan yang lain bersama-sama Allah? Amat sedikit di antara kamu yang mengingati (nikmat Allah itu). (An- Naml: 62)
Orang berbeza pendapat mengenai mana yang lebih baik berdoa ataukah berdiam diri dan bersikap rela. Di antara mereka ada sebahagian yang berkata, "Doa itu sendiri adalah ibadah”, sebab Nabi saw telah menyatakan, 'Doa adalah inti ibadah.' Adalah lebih baik melaksanakan apa pun yang merupakan amal ibadah daripada melewatkannya. Di samping itu, berdoa adalah hak Tuhan atas manusia. Kalaupun Dia tidak mengabulkan doa si hamba dan si hamba tidak memperoleh manfaat dengan doanya, namun lsetidaknya] dia telah melaksanakan hak Tuhannya, sebab doa adalah ungkapan lahiriah keperluan penghambaan.
Abu Hazim Al-A’raj berkata, 'Tidak dapat berdoa adalah lebih menyedihkan hatiku daripada berdoa tapi tidak dikabulkan.
Ada orang-orang lain yang menegaskan, "Diam dan tidak berbuat apa-apa dalam mengalami ketetapan Tuhan adalah lebih baik daripada berdoa. Bersikap rela atas apa pun yang dipilih Allah untuk kita adalah lebih layak daripada berdoa agar Dia mengubah pilihan Nya". Sehubungan dengan alasan ini, Al-Wasiti mengatakan, "Memilih apa yang telah ditetapkan bagimu dalam zaman asal (azali) adalah lebih baik bagimu daripada menentang keadaan yang ada sekarang."
Nabi saw menyatakan, "Allah SWT berfirrnan 'Aku memberi kepada orang yang terlalu sibuk mengingatKu hingga tidak sempat berdoa, lebih banyak daripada yang Kuberikan kepada mereka yang berdoa.'
Ada kelompok ketiga yang berkata, "Si hamba harus berdoa dengan lidahnya, sementara pada masa yang sama dia juga bersikap rela, dan dengan demikian menggabungkan kedua kemungkinan tu.
Pendapat yang lebih sesuai untuk diambil dalam hal ini adalah mengatakan bahawa hal itu bergantung pada waktu dan situasi serta keadaan. Dalam keadaan tertentu, doa adalah lebih baik dan merupakan tindakan yang paling benar; dalam keadaan lain berdiam diri adalah lebih baik. Ini hanya dapal diketahui pada masa yang tertentu sahaja, kerana pengetahuan mengenai suatu masa hanya dapal diperoleh pada masa itu sahaja. Jika seseorang mendapati hatinya condong untuk berdoa, maka berdoa adalah paling baik. Jika dia mendapati hatinya condong kepada berdiam diri, maka berdiam diri lebih baik.
Benar juga bila dikatakan bahawa tidaklah patut bagi si hamba untuk mengabaikan penyaksian terhadap Tuhannya ketika dia berada dalam keadaan berdoa. Dia juga harus memberikan perhatian cermat kepada keadaan dirinya. Jika dia mengalami kelapangan yang meningkat dalam keadaan berdoanya, maka berdoa adalah paling baik baginya. Jika dia mengalami semacam gangguan dan hatinya merasa sempit ketika berdoa, maka yang paling baik baginya adalah meninggalkan berdoa pada saat itu. Jika dia tidak mengalami yang mana pun dari kedua hal ini, maka terus berdoa ataupun meninggalkannya adalah sama sahaja baiknya. Jika perhatiannya yang utama adalahpada keadaan makrifat dan berdiam diri, maka menghindari berdoa adalah lebih baik baginya.
Dalam soal-soal yang berkaitan dengan nasib kaum Muslimin atau yang berkaitan dengan kewajipan seseorang terhadap Allah, maka berdoa adalah lebih baik daripada tidak, tetapi dalam perkara-perkara yang bersangkutan dengan keperluan diri sendiri, maka berdiam diri adalah lebih baik.
Sebuah hadith mengatakan, "Apabila seorang hamba yang dicintai Allah berdoa, maka Allah mengatakan, "Wahai Jibril, tundalah memenuhi keperluan hamba-Ku itu, kerana Aku senang mendengarkan suaranya." [Sebaliknya], apabila seseorang yang tidak disukai Allah berdoa, Dia berkata, "Wahai Jibril, penuhilah keperluan hamba-Ku itu, kerana Aku tidak suka mendengar suaranya."
Diceritakan bahawa Yahya bin Sa'id Al-Qathan bermimpi melihat Allah dan ia berkata, 'Wahai Tuhanku, betapa banyak aku telah berdoa kepadamu, tapi Engkau tidak mengabulkan doaku!" Dia menjawab, “Wahai Yahya, itu kerana Aku senang mendengarkan suaramu.”
Nabi saw menjelaskan, “Demi Dia yang jiwaku berada di tangan-Nya, apabila seseorang yang dimurkai Allah berdoa, Dia akan menolaknya. Lalu orang itu berdoa lagi, dan Dia akan menolaknya lagi. Kemudian orang itu berdoa lagi dan Dia kembali menolaknya. Akhirnya Atlah SWT berfirman kepada para malaikat-Nya, 'Hamba-Ku menolak untuk berdoa kepada selain Aku, maka Aku-pun mengabulkan doanya."'
Anas bin Malik ra menuturkan, "Pada masa Nabi saw, ada seorang laki-laki yang berdagang antara Syam dan Madinah. Dia biasa pergi sendiri, tanpa bergabung dengan kafilah-kafilah, kerana tawakkal kepada Allah SWT. Sekali waktu, ketika dia bepergian dari Syam ke Madinah, seorang penyamun menahannya dan berkata kepadanya, 'Berhenti!'Pedagang itu pun berhenti dan berkata kepada si penyamun, 'Ambillah barang-barangku tapi janganlah kau rintangi jalanku!'
Si penyamun menjawab,'Urusan mengambil barang-barangmu itu mudah; yang kukehendaki adalah dirimu.' Si pedagang bertanya, Apa yang kau kehendaki dariku? Ambillah barang-barang itu dan nyahlah!' Si penyamun mengulangr apa yang telah dikatakannya. Si pedagang berkata,'Tunggulah sampai aku berwudhuk dan berdoa kepada Tuhanku.'
Si penyamun berkata, 'Lakukanlah apa yang mesti kau lakukan.' Maka si pedagang pun bangkit, berwudhuk, lalu solat empat rakaat. Setelah itu dia mengangkat tangannya ke langit dan berdoa,
“Wahai Yang Maha Penyayang, wahai Yang Maha Penyayang, wahai Pemilik Arasy yang Agung, wahai Dia yang dari-Nya segala sesuatu berasal dan kepada-Nya segala sesuatu kembali, wahai Dia yang Maha melakukan apa yang dikehendaki-Nya, aku memohon kepada-Mu dengan cahaya Wajah-Mu yang memenuhi segenap penjuru Arasy-Mu, aku memohon kepada-Mu dengan kekuasaan yang dengannya Engkau memerintah makhluk-Mu, dan dengan kasih-sayang-Mu, tidak ada Tuhan selain Engkau, wahai Maha Penolong, tolonglah diriku!”
Diucapkannya doa itu tiga kali. Ketika dia selesai terdoa, tiba-tiba muncullah seorang penunggang kuda yang bewarna kelabu dan berpakaian hijau dengan memegang tombak yang terbuat dari cahaya. Ketika si penyamun melihat penunggang kuda itu, ditinggalkannya si pedagang dan diekorinya si penunggang kuda itu. Ketika sudah dekat, si penunggang kuda itu menyerang si penyamun sehingga si penyamun terlempar dari atas kudanya. Kemudian dia mendatangi si pedagang dan memerintahkan, 'Bangkit dan bunuhlah dia!' Si pedagang menjawab, 'Siapa engkau? Aku belum pernah membunuh orang dan tidak akan bersenang hati jika membunuhnya.'
Si penunggang kuda itu pun kembali kepada si penyamun dan membunuhnya, ia kembali lagi kepada si pedagang dan berkata, 'Aku adalah seorang malaikat dari langit ketiga. Ketika engkau berdoa untuk pertama kalinya, kami mendengar bunyi gaduh di pintu gerbang langit. Kami berkata “Sebuah kejahatan telah terjadi." Ketika engkau berdoa untuk kedua kalinya, pintu langit terbuka dan terlihat seberkas nyala api. Ketika engkau berdoa untuk ketiga kalinya, Jibril as turun ke langit kami dan berteriak 'Siapakah yang mahu menolong orang yang tertekan ini?" Aku memohon kepada Allah agar diizinkan membunuh penyamun itu.
Ketahuilah, wahai hamba Allah, bahawa Allah akan memberikan kelapangan dan pertolongan kepada siapa saja yang berdoa dengan doamu tadi pada saat-saat yang penuh tekanan malapetaka dan berputus-asa.' Setelah itu si pedagang melanjutkan perjalanannya dengan aman sampai ke Madinah dan pergi menemui Nabi saw serta nenceritakan kisahnya kepada beliau, juga tentang doa yang diucapkannya. Nabi saw berkata kepadanya, “Allah telah mengilhamkanmu dengan nama-nama-Nya yang paling indah, yang jika disebutkan dalam doa, nescaya Dia akan mengabulkannya. Jika Dia dimohon dengan nama-nama itu, Dia akan menganugerahkannya."
Salah satu syarat perilaku yang benar dalam berdoa adalah adanya kekhusyukan hati. Berdoa tidak boleh dilakukan dengan hati yang lalai. Diriwayatkan bahawa Nabi saw telah bersabda, "Allah SWT tidak akan menjawab doa seorang hamba yang hatinya lalai.” Syarat lain bagi perilaku yang benar dalam berdoa adalah bahawa makanan si hamba haruslah diperoleh secara halal.
Nabi saw menegaskan, "Jika penghidupanmu kau diperolehi melalui jalan yang halal, maka doamu akan dikabulkan."
Telah dikatakan, "Doa adalah kunci bagi keperluan seseorang, dan anak kunci tersebut adalah makanan yang halal." Yahya bin Muadz dahulu mengatakan, "Wahai Tuhanku, aku seorang berdosa besar; bagaimana aku dapat berdoa kepada-Mu? Engkau begitu pemurah bagaimana aku tidak akan berdoa kepada-Mu?"
Diceritakan bahawa Musa as berjalan melewat seorang laki-laki yang sedang berdoa dengan rendah hati kepada Allah. Musa berkata, “Ya Allah, seandainya keperluannya ada dalam tanganku, nescaya akan kupenuhi doanya." Allah SWT mewahyukan kepada Musa, "Aku lebih pengasih kepadanya daripadamu. Dia memang berdoa kepada-Ku, tapi hatinya terpaut pada domba-dombanya. Aku tidak akan mengabulkan doa seorang hamba-Ku yang hatinya terpaut pada selain Aku." Ketika Musa mengatakan kepada orang itu apa yang diwahyukan Allah kepadanya itu, dia segera memalingkan hatinya dengan penuh perhatian kepada Allah SWT, dan urusannya pun segera selesai.
Seseorang bertanya kepada Jaafar Ash-Shadiq, "Apa sebabnya, kita berdoa tetapi tidak pernah dikabulkan?” Beliau menjawab, "Itu kerana engkau berdoa kepada Tuhan yang engkau tiada pengetahuan tentang-Nya. "
Saya mendengar Syeikh Abu Ali Ad-Daqqaq menuturkan, 'Ya'qub bin Laits ditimpa penyakit yang membuat para doktor tidak berdaya. Mereka lalu berkata kepadanya, 'Di negeri Tuan ada seorang laki-laki saleh bernama Sahl bin Abdullah. Jika dia berdoa untuk Tuan, nescaya Allah SWT akan mengabulkan doanya.'
Ya'qub pun lalu mengundang Sahl dan memerintahkan,'Berdoalah kepada Allah untukku.' Sah berkata, 'Bagaimana doaku untukmu akan dikabulkan sedangkan engkau berlaku zalim kepada ramai orang di dalam penjaramu?' Maka Ya'qub lalu melepaskan semua orang yang ada dalam penjaranya. Sahl lalu berdoa: 'Ya Allah, sebagaimana Engkau telah memperlihatkan kepadanya hinanya ketidakpatuhan kepada-Mu, maka perlihatkanlah kepadanya mulianya kepatuhan kepadamu dengan menyembuhkan penyakitnya.'
Ya'qub bin Laits lalu sembuh. Dia cuba memberi Sahl harta kekayaan, tetapi Sahl menolak. Seseorang berkata kepada Sahl, “Jika engkau mahu menerimanya engkau dapat memberikannya kepada orang-orang miskin.” Beberapa waktu kemudian, Sahl sedang memandang kerikil-kerikil di padang pasir, maka kerikil-kerikil itu tiba-tiba berubah menjadi batu-batu permata. Dia bertanya kepada para sahabatnya, “Apal perlunya bagi orang yang telah dianugerahi anugerah seperti ini, menerima harta kekayaan dari Ya'qub bin Al-Laits?"
Diceritakan bahawa Salih Al-Murri sering menegaskan, "Barangsiapa yang gigih mengetuk pintu beerti sudah dekat saat terbukanya pintu itu baginya.” Rabiah bertanya kepadanya, "Sampai bila engkau akan mengatakan begitu? Bilakah pintu itu tertutup hingga orang terpaksa memintanya agar dibuka?” Salih menjawab , “Seorang laki-laki yang sudah tua tidak tahu akan kebenaran, dan seorang wanita mengetahuinya!"
As-Sari menuturkan, "Suatu ketika aku menghadiri pengajian Ma'ruf Al-Karkhi. Seorang laki-laki datang kepadanya dan meminta, 'Wahai Abu Mahfuzh, berdoalah kepada Allah untukku, agar Dia mengembalikan dompetku. Dompet itu dicuri orang; isinya wang seribu dinar.” Ma'ruf diam sahaja. Orang itu mengulangi permintaannya, dan Ma'ruf tetap diam. Untuk ketiga kalinya orang itu mengulangi permintaannya. Kemudian Ma'ruf menjawab, "Apa yang harus kukatakan? [Haruskah aku memohon], “Kembalikanlah kepadanya apa yang tidak Kau berikan kepada nabi-nabi dan wali-wali-Mu yang suci?” Tapi orang itu tetap mendesak, “Berdoalah kepada Allah untukku.” Ma'ruf pun berdoa, “Ya Allah, pilihkanlah apa yang paling baik baginya."
Diriwayatkan bahawa Al-Laits berkata, "Suatu ketika aku melihat 'Uqbah bin Nafi' dan dia dalam keadaan buta. Kemudian aku bertemu dengan dia lagi, sedang matanya dapat melihat. Aku bertanya kepadanya, “'Bagaimana penglihatanmu dapat pulih kembali? Dia menjawab, “[Sebuah suara] berseru kepadaku dalam mimpiku, "Katakanlah, ‘Wahai Yang Maha Dekat, wahai Yang Maha Mengabulkan, wahai Yang mendengarkan doaku, Wahai Yang Maha Baik dalam kehendak-Nya. Kembalikanlah penglihatanku.’ Kuulangi doa ini dan Allah SWT lalu mengembalikan penglihatanku."
Syeikh Abu Ali Ad-Daqqaq mengabarkan, "Aku menderita sakit yang parah di mataku ketika aku untuk pertama kalinya kembali dari Merv ke Nisyapur. Sudah agak lama aku tidak dapat tidur. Suatu pagi aku tertidur lelap dan kudengar seseorang bertanya kepadaku,
أَلَيۡسَ ٱللَّهُ بِكَافٍ عَبۡدَهُ ۥۖ وَيُخَوِّفُونَكَ بِٱلَّذِينَ مِن دُونِهِۦۚ وَمَن يُضۡلِلِ ٱللَّهُ فَمَا لَهُ ۥ مِنۡ هَادٍ۬
Bukankah Allah cukup untuk mengawal dan melindungi hambaNya (yang bertakwa)? Dan mereka menakutkanmu (wahai Muhammad) dengan yang mereka sembah yang lain dari Allah dan (ingatlah) sesiapa yang disesatkan oleh Allah (dengan pilihannya yang salah), maka tidak ada sesiapapun yang dapat memberi hidayat petunjuk kepadanya. (Az-Zumar: 36)
Aku terbangun dan kudapati penyakitku telah hilang dari mataku dan rasa sakitnya pun telah hilang Sesudah itu aku tidak pernah lagi menderita sakit mata."
Diceritakan bahawa Muhammad bin Khuzaimat berkata, "Aku sedang berada di Iskandariyah ketika Ahmad bin Hanbal meninggal dunia. Aku betul-betul merasa sedih. Setelah itu aku bermimpi bertemu dengar Ahmad bin Hanbal. Kulihat dia sedang berlenggang-lenggang. Aku bertanya, “Wahai Abu Abduilah, gerakan apa ini?” Dia menjawab, “Ini adalah cara bergerak hamba-hamba di Rumah Kedamaian.” Aku bertanya, “ Apa yang telah diperbuat Allah kepadamu?” Dia menjawab, “Dia telah mengampuniku, menempatkan sebuah mahkota di atas kepalaku, dan memberiku sepasang sandal emas untuk kupakai. Allah berkata kepadaku, “Wahai Ahmad, semua ini kerana engkau telah menjaga Al-Qur'an sebagai firman-Ku."
Kemudian Dia berkata, "Wahai Ahmad, berdoalah kepada-Ku dengan kata-kata yang engkau terima dari Sufyan Ats-Tsauri, yang dulu engkau ucapkan waktu engkau masih hidup." Maka aku pun berdoa, '"W'ahai Tuhan semesta, dengan kekuasaan-Mu atas segala sesuatu ampunilah segala-dosaku dan janganlah Engkau tanyai aku tentang sesuatu pun." Kemudian Allah memaklumkan, "Wahai Ahmad, inilah syurga. Masuklah!” Dan aku pun masuk.”
Suatu hari, ada seorang pemuda yang memegang kain penutup Kaabah dan berkata, “Wahai Tuhan, tidak ada seorang pun yang mesti didekati selain Engkau, tidak pula ada seorang perantara yang dapat disuap [untuk mendekati-Mu]. Jika aku mematuhi-Mu, itu adalah kerana limpahan rahmat-Mu, dan segala puji adalah bagi-Mu. Jika aku menentang-Mu, itu adalah kerana kejahilan dan kesombonganku. Engkau memiliki kekuasaan yang tidak terbantah oleh diriku melalui bukti-Mu terhadap diriku dan melalui ketiadaan daya upayaku terhadap-Mu, kecuali jika Engkau mengampuniku." Kemudian dia mendengar sebuah suara yang berseru, "Anak muda ini telah dibebaskan dari neraka."
Dikatakan, "Manfaat doa adalah menjadikan keperluan diketahui oleh Allah. Jika doa tidak dilakukan, Allah akan melakukan apa yang dikehendaki-Nya."
Dikatakan juga, "Doa orang awam dilakukan dengan kata-kata mereka, doa kaum zahid dilakukan dengan tindakan mereka, dan doa kaum Arifin dilakukan dengan haal-haal (keadaan-keadaan) mereka." Juga dikatakan, "Doa yang paling baik adalah doa yang penuh dengan kesedihan."
Salah seorang Sufi menyatakan, "Jika engkau berdoa kepada Allah SWT agar dianugerahkan sesuatu dan doamu dikabulkan, maka lanjutkanlah dengan meminta syurga kepada-Nya. Mungkin hari di mana engkau berdoa itu adalah hari yang dikabulkannya doamu."
Dikatakan, "Lidah kaum pemula lancar dalam berdoa, namun lidah mereka yang telah mencapai hakekat terbelenggu dalam kebisuan."
Ketika Al-Wasiti diminta berdoa, dia menjawab, "Aku takut bahawa jika aku berdoa, Allah akan berkata kepadaku, 'Jika engkau memohon kepada-Ku sesuatu yang telah ditetapkan untukmu, bererti engkau meragukan Aku. Jika engkau memohon kepada-Ku sesuatu yang tidak ditetapkan bagimu. bererti engkau tidak memuji-Ku sebagaimana seharusnya. Namun jika engkau bersikap rela, maka pada waktunya Aku akan membawakan kepadamu segala yang telah Ku-tetapkan bagimu.”
Diriwayatkan bahawa Abdullah bin Munazil mengabarkan, "Sudah lima puluh tahun aku tidak berdoa, dan tidak menginginkan orang lain berdoa untukku." Dikatakan, "Doa adalah tangga bagi orang-orang yang berdosa." Dikatakan juga, "Doa adalah pertukaran pesan. Selama kedua pihak tetap menjaga hubungan, maka semuanya akan baik." Dikatakan, ''Orang-orang yang berdosa mengucapkan doa mereke dengan air mata."
Syeikh Abu Ali Ad-Daqqaq menyatakan, "Jika seorang berdosa menangis, bererti dia telah membuka pintu komunikasi dengan Allah SWT." Tentang hal ini, para Sufi membacakan syair berikut:
Air mata si pemuda mengungkapkan apa yang disembunyikannya;
Nafasnya menjelaskan rahsia yang tersembunyi dalam hatinya.
Salah seorang Sufi menyatakan, "Berdoa bererti meninggalkan dosa-dosa." Dikatakan, "Doa adalah cara reorang pencinta mengungkapkan kerinduannya."
Dikatakan, "Diberitahukannya kemampuan berdoa kepada seorang hamba adalah lebih baik baginya laripada dikabulkannya doanya." Al-Kattani menyatakan, "Allah SWT telah menganugerahi kaum beriman kemampuan untuk memohon ampun hanya agar supaya Dia dapat membuka pintu ampunan."
Dikatakan juga, “Berdoa menyebabkan engkau hadir di hadirat Allah,sedang dikabulkannya doamu menjadikan engkau berpaling menjauh. [Kerana itu], berdiri saja di pintu adalah lebih baik daripada pergi dengan membawa pemberian.”
Dikatakan, "Doa bererti menghadap Allah secara langsung [dan berbicara] dengan lidah rasa malu." Dikatakan, "Satu prasyarat doa adalah bahawa orang harus menerima apa pun hasil doanya dengan penuh kerelaan." Dikatakan pula, "Bagaimana engkau akan menunggu jawapan bagi doamu jika engkau menghalangi jalannya dengan melakukan dosa-dosa?"
Seseorang meminta kepada salah seorang Sufi agar didoakan: "Jarak mana lagi yang lebih besar yang dapat kau ciptakan antaramu dengan Tuhanmu daripada yang kau ciptakan dengan cara menempatkan seorang perantara antaramu dengan Dia?"
Abdurrahman bin Ahmad berkata, "Aku mendengar ayahku menceritakan bahawa seorang wanita datang kepada Taqi bin Mukhlad dan mengatakan kepadanya, ' Orang-orang Byzantium telah menawan anakku. Aku tidak punya apa-apa lagi di rumahku selain anakku itu. Aku juga tidak dapat menjual rumahku. Jika dapat Tuan bawalah saya kepada seseorang yang dapat menebusnya, sebab saya sudah tidak tahu lagi mana siang mana malam. Saya tidak dapat tidur ataupun beristirehat.' Taqi berkata kepadanya, “'Baiklah, pergilah sampai aku siasat perkara ini, Insya Allah."
Kemudian syeikh itu menundukkan kepalanya dan menggerak-gerakkan bibirnya. Kami menunggu beberapa hari lamanya. Kemudian wanita itu datang lagi bersama anaknya dan berseru kepada syeikh tersebut, “Anakku telah kembali dengan selamat, dan dia mempunyai cerita untuk Tuan.” Anaknya itu lalu mengisahkan, “Saya sedang berada dalam pengawasan seorang bangsawan Byzantium bersama dengan sekelompok tawanan. Bangsawan itu menugaskan seseorang untuk menyuruh kami bekerja setiap hari. Orang itu membawa kami ke padang pasir untuk bekerja dan kemudian membawa kami kembali dalam keadaan dirantai. Suatu ketika kami sedang kembali dari bekerja setelah matahari terbenam dengan dikawal oleh orang itu. Tiba-tiba rantai yang mengikat saya terputus dan jatuh dari kaki saya.” Anak muda itu menyebutkan hari dan saat di mana peristiwa itu terjadi, dan saat itu bertepatan dengan masa ketika wanita itu berjumpa Syeikh Taqi dan beliau berdoa itu.
Si pemuda melanjutkan ceritanya: “Pengawal memukul saya dan berteriak, "Engkau telah memutuskan rantai ini!" Saya berkata, "Tidak, ia jatuh sendiri dari kaki saya!" Orang itu kebingungan dan tidak tahu apa yang harus dilakukannya. Dia memanggil teman-temannya, yang lalu memanggil seorang pandai besi. Mereka lalu merantai saya lagi. Tapi sebaik saya berjalan beberapa langkah, rantai itu terlepas lagi dari kaki saya. Mereka tercengang dan kemudian memanggil para pendeta mereka. Para pendeta itu bertanya kepada saya, “Apakah engkau punya ibu?" Saya katakan, “Ya." Maka mereka lalu berkata, "Doa ibumu telah dikabulkan. Tuhan telah membebaskanmu. Kami tidak dapat lagi merantaimu." Kemudian mereka memberi saya makanan dan bekal lalu menyuruh seorang pengawal menghantarkan saya sampai ke daerah kaum Muslimin."
Doa adalah jawapan bagi setiap keperluan. Doa adalah tempat beristirehat bagi mereka yang miskin, tempat berteduh bagi yang gundah, kelegaan bagi yang terbakar api hasrat. Allah SWT menghina orang yang meninggalkan doa, dengan firman-Nya,
ٱلۡمُنَـٰفِقُونَ وَٱلۡمُنَـٰفِقَـٰتُ بَعۡضُهُم مِّنۢ بَعۡضٍ۬ۚ يَأۡمُرُونَ بِٱلۡمُنڪَرِ وَيَنۡہَوۡنَ عَنِ ٱلۡمَعۡرُوفِ وَيَقۡبِضُونَ أَيۡدِيَہُمۡۚ نَسُواْ ٱللَّهَ فَنَسِيَہُمۡۗ إِنَّ ٱلۡمُنَـٰفِقِينَ هُمُ ٱلۡفَـٰسِقُونَ
Orang-orang munafik lelaki dan perempuan, setengahnya adalah sama dengan setengahnya yang lain; mereka masing-masing menyuruh dengan perbuatan yang jahat dan melarang dari perbuatan yang baik dan mereka pula menggenggam tangannya (bakhil kedekut). Mereka telah melupakan (tidak menghiraukan perintah) Allah dan Allah juga melupakan (tidak menghiraukan) mereka. Sesungguhnya orang-orang munafik itu, merekalah orang-orang yang fasik. (At-Tawbah: 67)
Dikatakan bahawa ayat ini bermakna, "Mereka tidak mengangkat tangan mereka dengan terbuka untuk berdoa kepada Kami."
Sahl bin Abdullah menuturkan, "Allah SWT menciptakan makhluk dan berfirman,'Percayakanlah rahsia-rahsiamu kepada-Ku. Kalau tidak, maka melihatlah kepada-Ku. Kalau tidak, maka dengarkanlah Aku. Kalau tidak, maka tunggulah di depan pintu-Ku. Jika tidak satu pun dari ini semua yang engkau lakukan, setidaknya katakanlah kepada-Ku apa keperluan-Mu."'
Sahl juga berkata, Doa yang sungguh-sungguh akan dikabulkan dan doa yang penuh tekanan, yang maksudnya adalah doa yang terpaksa dipanjatkan oleh seseorang kerana keperluannya yang mendesak terhadap apa yang didoakan-nya.
Abu Abdullah Al-Makanisi berkata, "Aku sedang bersama Al-Junaid ketika seorang wanita datang dan meminta kepadanya, 'Berdoalah untukku agar Allah mengembalikan anakku kepadaku, kerana dia telah hilang.'
Al-Junairl mengatakan kepadanya, “Pergilah, dan bersabarlah.” Maka wanita itu pun pergi. Kemudian dia kembali lagi dan meminta Al-Junaid agar berdoa lagi. Al-Junaid menjawab, 'Pergilah dan bersabarlah.'Hal ini berlangsung berkali-kali, dan setiap kali Al-Junaitl mengatakan agar wanita itu bersabar. Akhirnya wanitu itu berkata, "Kesabaranku telah habis. Aku tidak menahannya lagi. Berdoalah untukku!”
Al-Junaid menjawab, 'Jika demikian halnya, pulanglah sekarang, sebab anakmu telah kembali.'Wanita itu pun pulang, dan menemukan anaknya. Dia kembali kepada Al-Junaid untuk mengucapkan terima kasih. Seseorang bertanya kepada Al-Junaid, 'Bagaimana engkau dapat tahu [bahawa anaknya telah kembali]?'
Dia menjawab, 'Allah SWT telah berfirman,
أَمَّن يُجِيبُ ٱلۡمُضۡطَرَّ إِذَا دَعَاهُ وَيَكۡشِفُ ٱلسُّوٓءَ وَيَجۡعَلُڪُمۡ خُلَفَآءَ ٱلۡأَرۡضِۗ أَءِلَـٰهٌ۬ مَّعَ ٱللَّهِۚ قَلِيلاً۬ مَّا تَذَڪَّرُونَ
Atau siapakah yang memperkenankan doa orang yang menderita apabila dia berdoa kepadaNya dan yang menghapuskan kesusahan, serta menjadikan kamu pengganti (umat-umat yang telah lalu) mendiami dan menguasai bumi? Adakah sebarang tuhan yang lain bersama-sama Allah? Amat sedikit di antara kamu yang mengingati (nikmat Allah itu). (An- Naml: 62)
Orang berbeza pendapat mengenai mana yang lebih baik berdoa ataukah berdiam diri dan bersikap rela. Di antara mereka ada sebahagian yang berkata, "Doa itu sendiri adalah ibadah”, sebab Nabi saw telah menyatakan, 'Doa adalah inti ibadah.' Adalah lebih baik melaksanakan apa pun yang merupakan amal ibadah daripada melewatkannya. Di samping itu, berdoa adalah hak Tuhan atas manusia. Kalaupun Dia tidak mengabulkan doa si hamba dan si hamba tidak memperoleh manfaat dengan doanya, namun lsetidaknya] dia telah melaksanakan hak Tuhannya, sebab doa adalah ungkapan lahiriah keperluan penghambaan.
Abu Hazim Al-A’raj berkata, 'Tidak dapat berdoa adalah lebih menyedihkan hatiku daripada berdoa tapi tidak dikabulkan.
Ada orang-orang lain yang menegaskan, "Diam dan tidak berbuat apa-apa dalam mengalami ketetapan Tuhan adalah lebih baik daripada berdoa. Bersikap rela atas apa pun yang dipilih Allah untuk kita adalah lebih layak daripada berdoa agar Dia mengubah pilihan Nya". Sehubungan dengan alasan ini, Al-Wasiti mengatakan, "Memilih apa yang telah ditetapkan bagimu dalam zaman asal (azali) adalah lebih baik bagimu daripada menentang keadaan yang ada sekarang."
Nabi saw menyatakan, "Allah SWT berfirrnan 'Aku memberi kepada orang yang terlalu sibuk mengingatKu hingga tidak sempat berdoa, lebih banyak daripada yang Kuberikan kepada mereka yang berdoa.'
Ada kelompok ketiga yang berkata, "Si hamba harus berdoa dengan lidahnya, sementara pada masa yang sama dia juga bersikap rela, dan dengan demikian menggabungkan kedua kemungkinan tu.
Pendapat yang lebih sesuai untuk diambil dalam hal ini adalah mengatakan bahawa hal itu bergantung pada waktu dan situasi serta keadaan. Dalam keadaan tertentu, doa adalah lebih baik dan merupakan tindakan yang paling benar; dalam keadaan lain berdiam diri adalah lebih baik. Ini hanya dapal diketahui pada masa yang tertentu sahaja, kerana pengetahuan mengenai suatu masa hanya dapal diperoleh pada masa itu sahaja. Jika seseorang mendapati hatinya condong untuk berdoa, maka berdoa adalah paling baik. Jika dia mendapati hatinya condong kepada berdiam diri, maka berdiam diri lebih baik.
Benar juga bila dikatakan bahawa tidaklah patut bagi si hamba untuk mengabaikan penyaksian terhadap Tuhannya ketika dia berada dalam keadaan berdoa. Dia juga harus memberikan perhatian cermat kepada keadaan dirinya. Jika dia mengalami kelapangan yang meningkat dalam keadaan berdoanya, maka berdoa adalah paling baik baginya. Jika dia mengalami semacam gangguan dan hatinya merasa sempit ketika berdoa, maka yang paling baik baginya adalah meninggalkan berdoa pada saat itu. Jika dia tidak mengalami yang mana pun dari kedua hal ini, maka terus berdoa ataupun meninggalkannya adalah sama sahaja baiknya. Jika perhatiannya yang utama adalahpada keadaan makrifat dan berdiam diri, maka menghindari berdoa adalah lebih baik baginya.
Dalam soal-soal yang berkaitan dengan nasib kaum Muslimin atau yang berkaitan dengan kewajipan seseorang terhadap Allah, maka berdoa adalah lebih baik daripada tidak, tetapi dalam perkara-perkara yang bersangkutan dengan keperluan diri sendiri, maka berdiam diri adalah lebih baik.
Sebuah hadith mengatakan, "Apabila seorang hamba yang dicintai Allah berdoa, maka Allah mengatakan, "Wahai Jibril, tundalah memenuhi keperluan hamba-Ku itu, kerana Aku senang mendengarkan suaranya." [Sebaliknya], apabila seseorang yang tidak disukai Allah berdoa, Dia berkata, "Wahai Jibril, penuhilah keperluan hamba-Ku itu, kerana Aku tidak suka mendengar suaranya."
Diceritakan bahawa Yahya bin Sa'id Al-Qathan bermimpi melihat Allah dan ia berkata, 'Wahai Tuhanku, betapa banyak aku telah berdoa kepadamu, tapi Engkau tidak mengabulkan doaku!" Dia menjawab, “Wahai Yahya, itu kerana Aku senang mendengarkan suaramu.”
Nabi saw menjelaskan, “Demi Dia yang jiwaku berada di tangan-Nya, apabila seseorang yang dimurkai Allah berdoa, Dia akan menolaknya. Lalu orang itu berdoa lagi, dan Dia akan menolaknya lagi. Kemudian orang itu berdoa lagi dan Dia kembali menolaknya. Akhirnya Atlah SWT berfirman kepada para malaikat-Nya, 'Hamba-Ku menolak untuk berdoa kepada selain Aku, maka Aku-pun mengabulkan doanya."'
Anas bin Malik ra menuturkan, "Pada masa Nabi saw, ada seorang laki-laki yang berdagang antara Syam dan Madinah. Dia biasa pergi sendiri, tanpa bergabung dengan kafilah-kafilah, kerana tawakkal kepada Allah SWT. Sekali waktu, ketika dia bepergian dari Syam ke Madinah, seorang penyamun menahannya dan berkata kepadanya, 'Berhenti!'Pedagang itu pun berhenti dan berkata kepada si penyamun, 'Ambillah barang-barangku tapi janganlah kau rintangi jalanku!'
Si penyamun menjawab,'Urusan mengambil barang-barangmu itu mudah; yang kukehendaki adalah dirimu.' Si pedagang bertanya, Apa yang kau kehendaki dariku? Ambillah barang-barang itu dan nyahlah!' Si penyamun mengulangr apa yang telah dikatakannya. Si pedagang berkata,'Tunggulah sampai aku berwudhuk dan berdoa kepada Tuhanku.'
Si penyamun berkata, 'Lakukanlah apa yang mesti kau lakukan.' Maka si pedagang pun bangkit, berwudhuk, lalu solat empat rakaat. Setelah itu dia mengangkat tangannya ke langit dan berdoa,
“Wahai Yang Maha Penyayang, wahai Yang Maha Penyayang, wahai Pemilik Arasy yang Agung, wahai Dia yang dari-Nya segala sesuatu berasal dan kepada-Nya segala sesuatu kembali, wahai Dia yang Maha melakukan apa yang dikehendaki-Nya, aku memohon kepada-Mu dengan cahaya Wajah-Mu yang memenuhi segenap penjuru Arasy-Mu, aku memohon kepada-Mu dengan kekuasaan yang dengannya Engkau memerintah makhluk-Mu, dan dengan kasih-sayang-Mu, tidak ada Tuhan selain Engkau, wahai Maha Penolong, tolonglah diriku!”
Diucapkannya doa itu tiga kali. Ketika dia selesai terdoa, tiba-tiba muncullah seorang penunggang kuda yang bewarna kelabu dan berpakaian hijau dengan memegang tombak yang terbuat dari cahaya. Ketika si penyamun melihat penunggang kuda itu, ditinggalkannya si pedagang dan diekorinya si penunggang kuda itu. Ketika sudah dekat, si penunggang kuda itu menyerang si penyamun sehingga si penyamun terlempar dari atas kudanya. Kemudian dia mendatangi si pedagang dan memerintahkan, 'Bangkit dan bunuhlah dia!' Si pedagang menjawab, 'Siapa engkau? Aku belum pernah membunuh orang dan tidak akan bersenang hati jika membunuhnya.'
Si penunggang kuda itu pun kembali kepada si penyamun dan membunuhnya, ia kembali lagi kepada si pedagang dan berkata, 'Aku adalah seorang malaikat dari langit ketiga. Ketika engkau berdoa untuk pertama kalinya, kami mendengar bunyi gaduh di pintu gerbang langit. Kami berkata “Sebuah kejahatan telah terjadi." Ketika engkau berdoa untuk kedua kalinya, pintu langit terbuka dan terlihat seberkas nyala api. Ketika engkau berdoa untuk ketiga kalinya, Jibril as turun ke langit kami dan berteriak 'Siapakah yang mahu menolong orang yang tertekan ini?" Aku memohon kepada Allah agar diizinkan membunuh penyamun itu.
Ketahuilah, wahai hamba Allah, bahawa Allah akan memberikan kelapangan dan pertolongan kepada siapa saja yang berdoa dengan doamu tadi pada saat-saat yang penuh tekanan malapetaka dan berputus-asa.' Setelah itu si pedagang melanjutkan perjalanannya dengan aman sampai ke Madinah dan pergi menemui Nabi saw serta nenceritakan kisahnya kepada beliau, juga tentang doa yang diucapkannya. Nabi saw berkata kepadanya, “Allah telah mengilhamkanmu dengan nama-nama-Nya yang paling indah, yang jika disebutkan dalam doa, nescaya Dia akan mengabulkannya. Jika Dia dimohon dengan nama-nama itu, Dia akan menganugerahkannya."
Salah satu syarat perilaku yang benar dalam berdoa adalah adanya kekhusyukan hati. Berdoa tidak boleh dilakukan dengan hati yang lalai. Diriwayatkan bahawa Nabi saw telah bersabda, "Allah SWT tidak akan menjawab doa seorang hamba yang hatinya lalai.” Syarat lain bagi perilaku yang benar dalam berdoa adalah bahawa makanan si hamba haruslah diperoleh secara halal.
Nabi saw menegaskan, "Jika penghidupanmu kau diperolehi melalui jalan yang halal, maka doamu akan dikabulkan."
Telah dikatakan, "Doa adalah kunci bagi keperluan seseorang, dan anak kunci tersebut adalah makanan yang halal." Yahya bin Muadz dahulu mengatakan, "Wahai Tuhanku, aku seorang berdosa besar; bagaimana aku dapat berdoa kepada-Mu? Engkau begitu pemurah bagaimana aku tidak akan berdoa kepada-Mu?"
Diceritakan bahawa Musa as berjalan melewat seorang laki-laki yang sedang berdoa dengan rendah hati kepada Allah. Musa berkata, “Ya Allah, seandainya keperluannya ada dalam tanganku, nescaya akan kupenuhi doanya." Allah SWT mewahyukan kepada Musa, "Aku lebih pengasih kepadanya daripadamu. Dia memang berdoa kepada-Ku, tapi hatinya terpaut pada domba-dombanya. Aku tidak akan mengabulkan doa seorang hamba-Ku yang hatinya terpaut pada selain Aku." Ketika Musa mengatakan kepada orang itu apa yang diwahyukan Allah kepadanya itu, dia segera memalingkan hatinya dengan penuh perhatian kepada Allah SWT, dan urusannya pun segera selesai.
Seseorang bertanya kepada Jaafar Ash-Shadiq, "Apa sebabnya, kita berdoa tetapi tidak pernah dikabulkan?” Beliau menjawab, "Itu kerana engkau berdoa kepada Tuhan yang engkau tiada pengetahuan tentang-Nya. "
Saya mendengar Syeikh Abu Ali Ad-Daqqaq menuturkan, 'Ya'qub bin Laits ditimpa penyakit yang membuat para doktor tidak berdaya. Mereka lalu berkata kepadanya, 'Di negeri Tuan ada seorang laki-laki saleh bernama Sahl bin Abdullah. Jika dia berdoa untuk Tuan, nescaya Allah SWT akan mengabulkan doanya.'
Ya'qub pun lalu mengundang Sahl dan memerintahkan,'Berdoalah kepada Allah untukku.' Sah berkata, 'Bagaimana doaku untukmu akan dikabulkan sedangkan engkau berlaku zalim kepada ramai orang di dalam penjaramu?' Maka Ya'qub lalu melepaskan semua orang yang ada dalam penjaranya. Sahl lalu berdoa: 'Ya Allah, sebagaimana Engkau telah memperlihatkan kepadanya hinanya ketidakpatuhan kepada-Mu, maka perlihatkanlah kepadanya mulianya kepatuhan kepadamu dengan menyembuhkan penyakitnya.'
Ya'qub bin Laits lalu sembuh. Dia cuba memberi Sahl harta kekayaan, tetapi Sahl menolak. Seseorang berkata kepada Sahl, “Jika engkau mahu menerimanya engkau dapat memberikannya kepada orang-orang miskin.” Beberapa waktu kemudian, Sahl sedang memandang kerikil-kerikil di padang pasir, maka kerikil-kerikil itu tiba-tiba berubah menjadi batu-batu permata. Dia bertanya kepada para sahabatnya, “Apal perlunya bagi orang yang telah dianugerahi anugerah seperti ini, menerima harta kekayaan dari Ya'qub bin Al-Laits?"
Diceritakan bahawa Salih Al-Murri sering menegaskan, "Barangsiapa yang gigih mengetuk pintu beerti sudah dekat saat terbukanya pintu itu baginya.” Rabiah bertanya kepadanya, "Sampai bila engkau akan mengatakan begitu? Bilakah pintu itu tertutup hingga orang terpaksa memintanya agar dibuka?” Salih menjawab , “Seorang laki-laki yang sudah tua tidak tahu akan kebenaran, dan seorang wanita mengetahuinya!"
As-Sari menuturkan, "Suatu ketika aku menghadiri pengajian Ma'ruf Al-Karkhi. Seorang laki-laki datang kepadanya dan meminta, 'Wahai Abu Mahfuzh, berdoalah kepada Allah untukku, agar Dia mengembalikan dompetku. Dompet itu dicuri orang; isinya wang seribu dinar.” Ma'ruf diam sahaja. Orang itu mengulangi permintaannya, dan Ma'ruf tetap diam. Untuk ketiga kalinya orang itu mengulangi permintaannya. Kemudian Ma'ruf menjawab, "Apa yang harus kukatakan? [Haruskah aku memohon], “Kembalikanlah kepadanya apa yang tidak Kau berikan kepada nabi-nabi dan wali-wali-Mu yang suci?” Tapi orang itu tetap mendesak, “Berdoalah kepada Allah untukku.” Ma'ruf pun berdoa, “Ya Allah, pilihkanlah apa yang paling baik baginya."
Diriwayatkan bahawa Al-Laits berkata, "Suatu ketika aku melihat 'Uqbah bin Nafi' dan dia dalam keadaan buta. Kemudian aku bertemu dengan dia lagi, sedang matanya dapat melihat. Aku bertanya kepadanya, “'Bagaimana penglihatanmu dapat pulih kembali? Dia menjawab, “[Sebuah suara] berseru kepadaku dalam mimpiku, "Katakanlah, ‘Wahai Yang Maha Dekat, wahai Yang Maha Mengabulkan, wahai Yang mendengarkan doaku, Wahai Yang Maha Baik dalam kehendak-Nya. Kembalikanlah penglihatanku.’ Kuulangi doa ini dan Allah SWT lalu mengembalikan penglihatanku."
Syeikh Abu Ali Ad-Daqqaq mengabarkan, "Aku menderita sakit yang parah di mataku ketika aku untuk pertama kalinya kembali dari Merv ke Nisyapur. Sudah agak lama aku tidak dapat tidur. Suatu pagi aku tertidur lelap dan kudengar seseorang bertanya kepadaku,
أَلَيۡسَ ٱللَّهُ بِكَافٍ عَبۡدَهُ ۥۖ وَيُخَوِّفُونَكَ بِٱلَّذِينَ مِن دُونِهِۦۚ وَمَن يُضۡلِلِ ٱللَّهُ فَمَا لَهُ ۥ مِنۡ هَادٍ۬
Bukankah Allah cukup untuk mengawal dan melindungi hambaNya (yang bertakwa)? Dan mereka menakutkanmu (wahai Muhammad) dengan yang mereka sembah yang lain dari Allah dan (ingatlah) sesiapa yang disesatkan oleh Allah (dengan pilihannya yang salah), maka tidak ada sesiapapun yang dapat memberi hidayat petunjuk kepadanya. (Az-Zumar: 36)
Aku terbangun dan kudapati penyakitku telah hilang dari mataku dan rasa sakitnya pun telah hilang Sesudah itu aku tidak pernah lagi menderita sakit mata."
Diceritakan bahawa Muhammad bin Khuzaimat berkata, "Aku sedang berada di Iskandariyah ketika Ahmad bin Hanbal meninggal dunia. Aku betul-betul merasa sedih. Setelah itu aku bermimpi bertemu dengar Ahmad bin Hanbal. Kulihat dia sedang berlenggang-lenggang. Aku bertanya, “Wahai Abu Abduilah, gerakan apa ini?” Dia menjawab, “Ini adalah cara bergerak hamba-hamba di Rumah Kedamaian.” Aku bertanya, “ Apa yang telah diperbuat Allah kepadamu?” Dia menjawab, “Dia telah mengampuniku, menempatkan sebuah mahkota di atas kepalaku, dan memberiku sepasang sandal emas untuk kupakai. Allah berkata kepadaku, “Wahai Ahmad, semua ini kerana engkau telah menjaga Al-Qur'an sebagai firman-Ku."
Kemudian Dia berkata, "Wahai Ahmad, berdoalah kepada-Ku dengan kata-kata yang engkau terima dari Sufyan Ats-Tsauri, yang dulu engkau ucapkan waktu engkau masih hidup." Maka aku pun berdoa, '"W'ahai Tuhan semesta, dengan kekuasaan-Mu atas segala sesuatu ampunilah segala-dosaku dan janganlah Engkau tanyai aku tentang sesuatu pun." Kemudian Allah memaklumkan, "Wahai Ahmad, inilah syurga. Masuklah!” Dan aku pun masuk.”
Suatu hari, ada seorang pemuda yang memegang kain penutup Kaabah dan berkata, “Wahai Tuhan, tidak ada seorang pun yang mesti didekati selain Engkau, tidak pula ada seorang perantara yang dapat disuap [untuk mendekati-Mu]. Jika aku mematuhi-Mu, itu adalah kerana limpahan rahmat-Mu, dan segala puji adalah bagi-Mu. Jika aku menentang-Mu, itu adalah kerana kejahilan dan kesombonganku. Engkau memiliki kekuasaan yang tidak terbantah oleh diriku melalui bukti-Mu terhadap diriku dan melalui ketiadaan daya upayaku terhadap-Mu, kecuali jika Engkau mengampuniku." Kemudian dia mendengar sebuah suara yang berseru, "Anak muda ini telah dibebaskan dari neraka."
Dikatakan, "Manfaat doa adalah menjadikan keperluan diketahui oleh Allah. Jika doa tidak dilakukan, Allah akan melakukan apa yang dikehendaki-Nya."
Dikatakan juga, "Doa orang awam dilakukan dengan kata-kata mereka, doa kaum zahid dilakukan dengan tindakan mereka, dan doa kaum Arifin dilakukan dengan haal-haal (keadaan-keadaan) mereka." Juga dikatakan, "Doa yang paling baik adalah doa yang penuh dengan kesedihan."
Salah seorang Sufi menyatakan, "Jika engkau berdoa kepada Allah SWT agar dianugerahkan sesuatu dan doamu dikabulkan, maka lanjutkanlah dengan meminta syurga kepada-Nya. Mungkin hari di mana engkau berdoa itu adalah hari yang dikabulkannya doamu."
Dikatakan, "Lidah kaum pemula lancar dalam berdoa, namun lidah mereka yang telah mencapai hakekat terbelenggu dalam kebisuan."
Ketika Al-Wasiti diminta berdoa, dia menjawab, "Aku takut bahawa jika aku berdoa, Allah akan berkata kepadaku, 'Jika engkau memohon kepada-Ku sesuatu yang telah ditetapkan untukmu, bererti engkau meragukan Aku. Jika engkau memohon kepada-Ku sesuatu yang tidak ditetapkan bagimu. bererti engkau tidak memuji-Ku sebagaimana seharusnya. Namun jika engkau bersikap rela, maka pada waktunya Aku akan membawakan kepadamu segala yang telah Ku-tetapkan bagimu.”
Diriwayatkan bahawa Abdullah bin Munazil mengabarkan, "Sudah lima puluh tahun aku tidak berdoa, dan tidak menginginkan orang lain berdoa untukku." Dikatakan, "Doa adalah tangga bagi orang-orang yang berdosa." Dikatakan juga, "Doa adalah pertukaran pesan. Selama kedua pihak tetap menjaga hubungan, maka semuanya akan baik." Dikatakan, ''Orang-orang yang berdosa mengucapkan doa mereke dengan air mata."
Syeikh Abu Ali Ad-Daqqaq menyatakan, "Jika seorang berdosa menangis, bererti dia telah membuka pintu komunikasi dengan Allah SWT." Tentang hal ini, para Sufi membacakan syair berikut:
Air mata si pemuda mengungkapkan apa yang disembunyikannya;
Nafasnya menjelaskan rahsia yang tersembunyi dalam hatinya.
Salah seorang Sufi menyatakan, "Berdoa bererti meninggalkan dosa-dosa." Dikatakan, "Doa adalah cara reorang pencinta mengungkapkan kerinduannya."
Dikatakan, "Diberitahukannya kemampuan berdoa kepada seorang hamba adalah lebih baik baginya laripada dikabulkannya doanya." Al-Kattani menyatakan, "Allah SWT telah menganugerahi kaum beriman kemampuan untuk memohon ampun hanya agar supaya Dia dapat membuka pintu ampunan."
Dikatakan juga, “Berdoa menyebabkan engkau hadir di hadirat Allah,sedang dikabulkannya doamu menjadikan engkau berpaling menjauh. [Kerana itu], berdiri saja di pintu adalah lebih baik daripada pergi dengan membawa pemberian.”
Dikatakan, "Doa bererti menghadap Allah secara langsung [dan berbicara] dengan lidah rasa malu." Dikatakan, "Satu prasyarat doa adalah bahawa orang harus menerima apa pun hasil doanya dengan penuh kerelaan." Dikatakan pula, "Bagaimana engkau akan menunggu jawapan bagi doamu jika engkau menghalangi jalannya dengan melakukan dosa-dosa?"
Seseorang meminta kepada salah seorang Sufi agar didoakan: "Jarak mana lagi yang lebih besar yang dapat kau ciptakan antaramu dengan Tuhanmu daripada yang kau ciptakan dengan cara menempatkan seorang perantara antaramu dengan Dia?"
Abdurrahman bin Ahmad berkata, "Aku mendengar ayahku menceritakan bahawa seorang wanita datang kepada Taqi bin Mukhlad dan mengatakan kepadanya, ' Orang-orang Byzantium telah menawan anakku. Aku tidak punya apa-apa lagi di rumahku selain anakku itu. Aku juga tidak dapat menjual rumahku. Jika dapat Tuan bawalah saya kepada seseorang yang dapat menebusnya, sebab saya sudah tidak tahu lagi mana siang mana malam. Saya tidak dapat tidur ataupun beristirehat.' Taqi berkata kepadanya, “'Baiklah, pergilah sampai aku siasat perkara ini, Insya Allah."
Kemudian syeikh itu menundukkan kepalanya dan menggerak-gerakkan bibirnya. Kami menunggu beberapa hari lamanya. Kemudian wanita itu datang lagi bersama anaknya dan berseru kepada syeikh tersebut, “Anakku telah kembali dengan selamat, dan dia mempunyai cerita untuk Tuan.” Anaknya itu lalu mengisahkan, “Saya sedang berada dalam pengawasan seorang bangsawan Byzantium bersama dengan sekelompok tawanan. Bangsawan itu menugaskan seseorang untuk menyuruh kami bekerja setiap hari. Orang itu membawa kami ke padang pasir untuk bekerja dan kemudian membawa kami kembali dalam keadaan dirantai. Suatu ketika kami sedang kembali dari bekerja setelah matahari terbenam dengan dikawal oleh orang itu. Tiba-tiba rantai yang mengikat saya terputus dan jatuh dari kaki saya.” Anak muda itu menyebutkan hari dan saat di mana peristiwa itu terjadi, dan saat itu bertepatan dengan masa ketika wanita itu berjumpa Syeikh Taqi dan beliau berdoa itu.
Si pemuda melanjutkan ceritanya: “Pengawal memukul saya dan berteriak, "Engkau telah memutuskan rantai ini!" Saya berkata, "Tidak, ia jatuh sendiri dari kaki saya!" Orang itu kebingungan dan tidak tahu apa yang harus dilakukannya. Dia memanggil teman-temannya, yang lalu memanggil seorang pandai besi. Mereka lalu merantai saya lagi. Tapi sebaik saya berjalan beberapa langkah, rantai itu terlepas lagi dari kaki saya. Mereka tercengang dan kemudian memanggil para pendeta mereka. Para pendeta itu bertanya kepada saya, “Apakah engkau punya ibu?" Saya katakan, “Ya." Maka mereka lalu berkata, "Doa ibumu telah dikabulkan. Tuhan telah membebaskanmu. Kami tidak dapat lagi merantaimu." Kemudian mereka memberi saya makanan dan bekal lalu menyuruh seorang pengawal menghantarkan saya sampai ke daerah kaum Muslimin."
RISALAH AL QUSYAIRI BAB 37: DOA
Diriwayatkan oleh Anas bin Malik ra bahawa Rasulullah saw telah bersabda, “ Doa itu sendiri adalah ibadah."
Doa adalah jawapan bagi setiap keperluan. Doa adalah tempat beristirehat bagi mereka yang miskin, tempat berteduh bagi yang gundah, kelegaan bagi yang terbakar api hasrat. Allah SWT menghina orang yang meninggalkan doa, dengan firman-Nya,
ٱلۡمُنَـٰفِقُونَ وَٱلۡمُنَـٰفِقَـٰتُ بَعۡضُهُم مِّنۢ بَعۡضٍ۬ۚ يَأۡمُرُونَ بِٱلۡمُنڪَرِ وَيَنۡہَوۡنَ عَنِ ٱلۡمَعۡرُوفِ وَيَقۡبِضُونَ أَيۡدِيَہُمۡۚ نَسُواْ ٱللَّهَ فَنَسِيَہُمۡۗ إِنَّ ٱلۡمُنَـٰفِقِينَ هُمُ ٱلۡفَـٰسِقُونَ
Orang-orang munafik lelaki dan perempuan, setengahnya adalah sama dengan setengahnya yang lain; mereka masing-masing menyuruh dengan perbuatan yang jahat dan melarang dari perbuatan yang baik dan mereka pula menggenggam tangannya (bakhil kedekut). Mereka telah melupakan (tidak menghiraukan perintah) Allah dan Allah juga melupakan (tidak menghiraukan) mereka. Sesungguhnya orang-orang munafik itu, merekalah orang-orang yang fasik. (At-Tawbah: 67)
Dikatakan bahawa ayat ini bermakna, "Mereka tidak mengangkat tangan mereka dengan terbuka untuk berdoa kepada Kami."
Sahl bin Abdullah menuturkan, "Allah SWT menciptakan makhluk dan berfirman,'Percayakanlah rahsia-rahsiamu kepada-Ku. Kalau tidak, maka melihatlah kepada-Ku. Kalau tidak, maka dengarkanlah Aku. Kalau tidak, maka tunggulah di depan pintu-Ku. Jika tidak satu pun dari ini semua yang engkau lakukan, setidaknya katakanlah kepada-Ku apa keperluan-Mu."'
Sahl juga berkata, Doa yang sungguh-sungguh akan dikabulkan dan doa yang penuh tekanan, yang maksudnya adalah doa yang terpaksa dipanjatkan oleh seseorang kerana keperluannya yang mendesak terhadap apa yang didoakan-nya.
Abu Abdullah Al-Makanisi berkata, "Aku sedang bersama Al-Junaid ketika seorang wanita datang dan meminta kepadanya, 'Berdoalah untukku agar Allah mengembalikan anakku kepadaku, kerana dia telah hilang.'
Al-Junairl mengatakan kepadanya, “Pergilah, dan bersabarlah.” Maka wanita itu pun pergi. Kemudian dia kembali lagi dan meminta Al-Junaid agar berdoa lagi. Al-Junaid menjawab, 'Pergilah dan bersabarlah.'Hal ini berlangsung berkali-kali, dan setiap kali Al-Junaitl mengatakan agar wanita itu bersabar. Akhirnya wanitu itu berkata, "Kesabaranku telah habis. Aku tidak menahannya lagi. Berdoalah untukku!”
Al-Junaid menjawab, 'Jika demikian halnya, pulanglah sekarang, sebab anakmu telah kembali.'Wanita itu pun pulang, dan menemukan anaknya. Dia kembali kepada Al-Junaid untuk mengucapkan terima kasih. Seseorang bertanya kepada Al-Junaid, 'Bagaimana engkau dapat tahu [bahawa anaknya telah kembali]?'
Dia menjawab, 'Allah SWT telah berfirman,
أَمَّن يُجِيبُ ٱلۡمُضۡطَرَّ إِذَا دَعَاهُ وَيَكۡشِفُ ٱلسُّوٓءَ وَيَجۡعَلُڪُمۡ خُلَفَآءَ ٱلۡأَرۡضِۗ أَءِلَـٰهٌ۬ مَّعَ ٱللَّهِۚ قَلِيلاً۬ مَّا تَذَڪَّرُونَ
Atau siapakah yang memperkenankan doa orang yang menderita apabila dia berdoa kepadaNya dan yang menghapuskan kesusahan, serta menjadikan kamu pengganti (umat-umat yang telah lalu) mendiami dan menguasai bumi? Adakah sebarang tuhan yang lain bersama-sama Allah? Amat sedikit di antara kamu yang mengingati (nikmat Allah itu). (An- Naml: 62)
Orang berbeza pendapat mengenai mana yang lebih baik berdoa ataukah berdiam diri dan bersikap rela. Di antara mereka ada sebahagian yang berkata, "Doa itu sendiri adalah ibadah”, sebab Nabi saw telah menyatakan, 'Doa adalah inti ibadah.' Adalah lebih baik melaksanakan apa pun yang merupakan amal ibadah daripada melewatkannya. Di samping itu, berdoa adalah hak Tuhan atas manusia. Kalaupun Dia tidak mengabulkan doa si hamba dan si hamba tidak memperoleh manfaat dengan doanya, namun lsetidaknya] dia telah melaksanakan hak Tuhannya, sebab doa adalah ungkapan lahiriah keperluan penghambaan.
Abu Hazim Al-A’raj berkata, 'Tidak dapat berdoa adalah lebih menyedihkan hatiku daripada berdoa tapi tidak dikabulkan.
Ada orang-orang lain yang menegaskan, "Diam dan tidak berbuat apa-apa dalam mengalami ketetapan Tuhan adalah lebih baik daripada berdoa. Bersikap rela atas apa pun yang dipilih Allah untuk kita adalah lebih layak daripada berdoa agar Dia mengubah pilihan Nya". Sehubungan dengan alasan ini, Al-Wasiti mengatakan, "Memilih apa yang telah ditetapkan bagimu dalam zaman asal (azali) adalah lebih baik bagimu daripada menentang keadaan yang ada sekarang."
Nabi saw menyatakan, "Allah SWT berfirrnan 'Aku memberi kepada orang yang terlalu sibuk mengingatKu hingga tidak sempat berdoa, lebih banyak daripada yang Kuberikan kepada mereka yang berdoa.'
Ada kelompok ketiga yang berkata, "Si hamba harus berdoa dengan lidahnya, sementara pada masa yang sama dia juga bersikap rela, dan dengan demikian menggabungkan kedua kemungkinan tu.
Pendapat yang lebih sesuai untuk diambil dalam hal ini adalah mengatakan bahawa hal itu bergantung pada waktu dan situasi serta keadaan. Dalam keadaan tertentu, doa adalah lebih baik dan merupakan tindakan yang paling benar; dalam keadaan lain berdiam diri adalah lebih baik. Ini hanya dapal diketahui pada masa yang tertentu sahaja, kerana pengetahuan mengenai suatu masa hanya dapal diperoleh pada masa itu sahaja. Jika seseorang mendapati hatinya condong untuk berdoa, maka berdoa adalah paling baik. Jika dia mendapati hatinya condong kepada berdiam diri, maka berdiam diri lebih baik.
Benar juga bila dikatakan bahawa tidaklah patut bagi si hamba untuk mengabaikan penyaksian terhadap Tuhannya ketika dia berada dalam keadaan berdoa. Dia juga harus memberikan perhatian cermat kepada keadaan dirinya. Jika dia mengalami kelapangan yang meningkat dalam keadaan berdoanya, maka berdoa adalah paling baik baginya. Jika dia mengalami semacam gangguan dan hatinya merasa sempit ketika berdoa, maka yang paling baik baginya adalah meninggalkan berdoa pada saat itu. Jika dia tidak mengalami yang mana pun dari kedua hal ini, maka terus berdoa ataupun meninggalkannya adalah sama sahaja baiknya. Jika perhatiannya yang utama adalahpada keadaan makrifat dan berdiam diri, maka menghindari berdoa adalah lebih baik baginya.
Dalam soal-soal yang berkaitan dengan nasib kaum Muslimin atau yang berkaitan dengan kewajipan seseorang terhadap Allah, maka berdoa adalah lebih baik daripada tidak, tetapi dalam perkara-perkara yang bersangkutan dengan keperluan diri sendiri, maka berdiam diri adalah lebih baik.
Sebuah hadith mengatakan, "Apabila seorang hamba yang dicintai Allah berdoa, maka Allah mengatakan, "Wahai Jibril, tundalah memenuhi keperluan hamba-Ku itu, kerana Aku senang mendengarkan suaranya." [Sebaliknya], apabila seseorang yang tidak disukai Allah berdoa, Dia berkata, "Wahai Jibril, penuhilah keperluan hamba-Ku itu, kerana Aku tidak suka mendengar suaranya."
Diceritakan bahawa Yahya bin Sa'id Al-Qathan bermimpi melihat Allah dan ia berkata, 'Wahai Tuhanku, betapa banyak aku telah berdoa kepadamu, tapi Engkau tidak mengabulkan doaku!" Dia menjawab, “Wahai Yahya, itu kerana Aku senang mendengarkan suaramu.”
Nabi saw menjelaskan, “Demi Dia yang jiwaku berada di tangan-Nya, apabila seseorang yang dimurkai Allah berdoa, Dia akan menolaknya. Lalu orang itu berdoa lagi, dan Dia akan menolaknya lagi. Kemudian orang itu berdoa lagi dan Dia kembali menolaknya. Akhirnya Atlah SWT berfirman kepada para malaikat-Nya, 'Hamba-Ku menolak untuk berdoa kepada selain Aku, maka Aku-pun mengabulkan doanya."'
Anas bin Malik ra menuturkan, "Pada masa Nabi saw, ada seorang laki-laki yang berdagang antara Syam dan Madinah. Dia biasa pergi sendiri, tanpa bergabung dengan kafilah-kafilah, kerana tawakkal kepada Allah SWT. Sekali waktu, ketika dia bepergian dari Syam ke Madinah, seorang penyamun menahannya dan berkata kepadanya, 'Berhenti!'Pedagang itu pun berhenti dan berkata kepada si penyamun, 'Ambillah barang-barangku tapi janganlah kau rintangi jalanku!'
Si penyamun menjawab,'Urusan mengambil barang-barangmu itu mudah; yang kukehendaki adalah dirimu.' Si pedagang bertanya, Apa yang kau kehendaki dariku? Ambillah barang-barang itu dan nyahlah!' Si penyamun mengulangr apa yang telah dikatakannya. Si pedagang berkata,'Tunggulah sampai aku berwudhuk dan berdoa kepada Tuhanku.'
Si penyamun berkata, 'Lakukanlah apa yang mesti kau lakukan.' Maka si pedagang pun bangkit, berwudhuk, lalu solat empat rakaat. Setelah itu dia mengangkat tangannya ke langit dan berdoa,
“Wahai Yang Maha Penyayang, wahai Yang Maha Penyayang, wahai Pemilik Arasy yang Agung, wahai Dia yang dari-Nya segala sesuatu berasal dan kepada-Nya segala sesuatu kembali, wahai Dia yang Maha melakukan apa yang dikehendaki-Nya, aku memohon kepada-Mu dengan cahaya Wajah-Mu yang memenuhi segenap penjuru Arasy-Mu, aku memohon kepada-Mu dengan kekuasaan yang dengannya Engkau memerintah makhluk-Mu, dan dengan kasih-sayang-Mu, tidak ada Tuhan selain Engkau, wahai Maha Penolong, tolonglah diriku!”
Diucapkannya doa itu tiga kali. Ketika dia selesai terdoa, tiba-tiba muncullah seorang penunggang kuda yang bewarna kelabu dan berpakaian hijau dengan memegang tombak yang terbuat dari cahaya. Ketika si penyamun melihat penunggang kuda itu, ditinggalkannya si pedagang dan diekorinya si penunggang kuda itu. Ketika sudah dekat, si penunggang kuda itu menyerang si penyamun sehingga si penyamun terlempar dari atas kudanya. Kemudian dia mendatangi si pedagang dan memerintahkan, 'Bangkit dan bunuhlah dia!' Si pedagang menjawab, 'Siapa engkau? Aku belum pernah membunuh orang dan tidak akan bersenang hati jika membunuhnya.'
Si penunggang kuda itu pun kembali kepada si penyamun dan membunuhnya, ia kembali lagi kepada si pedagang dan berkata, 'Aku adalah seorang malaikat dari langit ketiga. Ketika engkau berdoa untuk pertama kalinya, kami mendengar bunyi gaduh di pintu gerbang langit. Kami berkata “Sebuah kejahatan telah terjadi." Ketika engkau berdoa untuk kedua kalinya, pintu langit terbuka dan terlihat seberkas nyala api. Ketika engkau berdoa untuk ketiga kalinya, Jibril as turun ke langit kami dan berteriak 'Siapakah yang mahu menolong orang yang tertekan ini?" Aku memohon kepada Allah agar diizinkan membunuh penyamun itu.
Ketahuilah, wahai hamba Allah, bahawa Allah akan memberikan kelapangan dan pertolongan kepada siapa saja yang berdoa dengan doamu tadi pada saat-saat yang penuh tekanan malapetaka dan berputus-asa.' Setelah itu si pedagang melanjutkan perjalanannya dengan aman sampai ke Madinah dan pergi menemui Nabi saw serta nenceritakan kisahnya kepada beliau, juga tentang doa yang diucapkannya. Nabi saw berkata kepadanya, “Allah telah mengilhamkanmu dengan nama-nama-Nya yang paling indah, yang jika disebutkan dalam doa, nescaya Dia akan mengabulkannya. Jika Dia dimohon dengan nama-nama itu, Dia akan menganugerahkannya."
Salah satu syarat perilaku yang benar dalam berdoa adalah adanya kekhusyukan hati. Berdoa tidak boleh dilakukan dengan hati yang lalai. Diriwayatkan bahawa Nabi saw telah bersabda, "Allah SWT tidak akan menjawab doa seorang hamba yang hatinya lalai.” Syarat lain bagi perilaku yang benar dalam berdoa adalah bahawa makanan si hamba haruslah diperoleh secara halal.
Nabi saw menegaskan, "Jika penghidupanmu kau diperolehi melalui jalan yang halal, maka doamu akan dikabulkan."
Telah dikatakan, "Doa adalah kunci bagi keperluan seseorang, dan anak kunci tersebut adalah makanan yang halal." Yahya bin Muadz dahulu mengatakan, "Wahai Tuhanku, aku seorang berdosa besar; bagaimana aku dapat berdoa kepada-Mu? Engkau begitu pemurah bagaimana aku tidak akan berdoa kepada-Mu?"
Diceritakan bahawa Musa as berjalan melewat seorang laki-laki yang sedang berdoa dengan rendah hati kepada Allah. Musa berkata, “Ya Allah, seandainya keperluannya ada dalam tanganku, nescaya akan kupenuhi doanya." Allah SWT mewahyukan kepada Musa, "Aku lebih pengasih kepadanya daripadamu. Dia memang berdoa kepada-Ku, tapi hatinya terpaut pada domba-dombanya. Aku tidak akan mengabulkan doa seorang hamba-Ku yang hatinya terpaut pada selain Aku." Ketika Musa mengatakan kepada orang itu apa yang diwahyukan Allah kepadanya itu, dia segera memalingkan hatinya dengan penuh perhatian kepada Allah SWT, dan urusannya pun segera selesai.
Seseorang bertanya kepada Jaafar Ash-Shadiq, "Apa sebabnya, kita berdoa tetapi tidak pernah dikabulkan?” Beliau menjawab, "Itu kerana engkau berdoa kepada Tuhan yang engkau tiada pengetahuan tentang-Nya. "
Saya mendengar Syeikh Abu Ali Ad-Daqqaq menuturkan, 'Ya'qub bin Laits ditimpa penyakit yang membuat para doktor tidak berdaya. Mereka lalu berkata kepadanya, 'Di negeri Tuan ada seorang laki-laki saleh bernama Sahl bin Abdullah. Jika dia berdoa untuk Tuan, nescaya Allah SWT akan mengabulkan doanya.'
Ya'qub pun lalu mengundang Sahl dan memerintahkan,'Berdoalah kepada Allah untukku.' Sah berkata, 'Bagaimana doaku untukmu akan dikabulkan sedangkan engkau berlaku zalim kepada ramai orang di dalam penjaramu?' Maka Ya'qub lalu melepaskan semua orang yang ada dalam penjaranya. Sahl lalu berdoa: 'Ya Allah, sebagaimana Engkau telah memperlihatkan kepadanya hinanya ketidakpatuhan kepada-Mu, maka perlihatkanlah kepadanya mulianya kepatuhan kepadamu dengan menyembuhkan penyakitnya.'
Ya'qub bin Laits lalu sembuh. Dia cuba memberi Sahl harta kekayaan, tetapi Sahl menolak. Seseorang berkata kepada Sahl, “Jika engkau mahu menerimanya engkau dapat memberikannya kepada orang-orang miskin.” Beberapa waktu kemudian, Sahl sedang memandang kerikil-kerikil di padang pasir, maka kerikil-kerikil itu tiba-tiba berubah menjadi batu-batu permata. Dia bertanya kepada para sahabatnya, “Apal perlunya bagi orang yang telah dianugerahi anugerah seperti ini, menerima harta kekayaan dari Ya'qub bin Al-Laits?"
Diceritakan bahawa Salih Al-Murri sering menegaskan, "Barangsiapa yang gigih mengetuk pintu beerti sudah dekat saat terbukanya pintu itu baginya.” Rabiah bertanya kepadanya, "Sampai bila engkau akan mengatakan begitu? Bilakah pintu itu tertutup hingga orang terpaksa memintanya agar dibuka?” Salih menjawab , “Seorang laki-laki yang sudah tua tidak tahu akan kebenaran, dan seorang wanita mengetahuinya!"
As-Sari menuturkan, "Suatu ketika aku menghadiri pengajian Ma'ruf Al-Karkhi. Seorang laki-laki datang kepadanya dan meminta, 'Wahai Abu Mahfuzh, berdoalah kepada Allah untukku, agar Dia mengembalikan dompetku. Dompet itu dicuri orang; isinya wang seribu dinar.” Ma'ruf diam sahaja. Orang itu mengulangi permintaannya, dan Ma'ruf tetap diam. Untuk ketiga kalinya orang itu mengulangi permintaannya. Kemudian Ma'ruf menjawab, "Apa yang harus kukatakan? [Haruskah aku memohon], “Kembalikanlah kepadanya apa yang tidak Kau berikan kepada nabi-nabi dan wali-wali-Mu yang suci?” Tapi orang itu tetap mendesak, “Berdoalah kepada Allah untukku.” Ma'ruf pun berdoa, “Ya Allah, pilihkanlah apa yang paling baik baginya."
Diriwayatkan bahawa Al-Laits berkata, "Suatu ketika aku melihat 'Uqbah bin Nafi' dan dia dalam keadaan buta. Kemudian aku bertemu dengan dia lagi, sedang matanya dapat melihat. Aku bertanya kepadanya, “'Bagaimana penglihatanmu dapat pulih kembali? Dia menjawab, “[Sebuah suara] berseru kepadaku dalam mimpiku, "Katakanlah, ‘Wahai Yang Maha Dekat, wahai Yang Maha Mengabulkan, wahai Yang mendengarkan doaku, Wahai Yang Maha Baik dalam kehendak-Nya. Kembalikanlah penglihatanku.’ Kuulangi doa ini dan Allah SWT lalu mengembalikan penglihatanku."
Syeikh Abu Ali Ad-Daqqaq mengabarkan, "Aku menderita sakit yang parah di mataku ketika aku untuk pertama kalinya kembali dari Merv ke Nisyapur. Sudah agak lama aku tidak dapat tidur. Suatu pagi aku tertidur lelap dan kudengar seseorang bertanya kepadaku,
أَلَيۡسَ ٱللَّهُ بِكَافٍ عَبۡدَهُ ۥۖ وَيُخَوِّفُونَكَ بِٱلَّذِينَ مِن دُونِهِۦۚ وَمَن يُضۡلِلِ ٱللَّهُ فَمَا لَهُ ۥ مِنۡ هَادٍ۬
Bukankah Allah cukup untuk mengawal dan melindungi hambaNya (yang bertakwa)? Dan mereka menakutkanmu (wahai Muhammad) dengan yang mereka sembah yang lain dari Allah dan (ingatlah) sesiapa yang disesatkan oleh Allah (dengan pilihannya yang salah), maka tidak ada sesiapapun yang dapat memberi hidayat petunjuk kepadanya. (Az-Zumar: 36)
Aku terbangun dan kudapati penyakitku telah hilang dari mataku dan rasa sakitnya pun telah hilang Sesudah itu aku tidak pernah lagi menderita sakit mata."
Diceritakan bahawa Muhammad bin Khuzaimat berkata, "Aku sedang berada di Iskandariyah ketika Ahmad bin Hanbal meninggal dunia. Aku betul-betul merasa sedih. Setelah itu aku bermimpi bertemu dengar Ahmad bin Hanbal. Kulihat dia sedang berlenggang-lenggang. Aku bertanya, “Wahai Abu Abduilah, gerakan apa ini?” Dia menjawab, “Ini adalah cara bergerak hamba-hamba di Rumah Kedamaian.” Aku bertanya, “ Apa yang telah diperbuat Allah kepadamu?” Dia menjawab, “Dia telah mengampuniku, menempatkan sebuah mahkota di atas kepalaku, dan memberiku sepasang sandal emas untuk kupakai. Allah berkata kepadaku, “Wahai Ahmad, semua ini kerana engkau telah menjaga Al-Qur'an sebagai firman-Ku."
Kemudian Dia berkata, "Wahai Ahmad, berdoalah kepada-Ku dengan kata-kata yang engkau terima dari Sufyan Ats-Tsauri, yang dulu engkau ucapkan waktu engkau masih hidup." Maka aku pun berdoa, '"W'ahai Tuhan semesta, dengan kekuasaan-Mu atas segala sesuatu ampunilah segala-dosaku dan janganlah Engkau tanyai aku tentang sesuatu pun." Kemudian Allah memaklumkan, "Wahai Ahmad, inilah syurga. Masuklah!” Dan aku pun masuk.”
Suatu hari, ada seorang pemuda yang memegang kain penutup Kaabah dan berkata, “Wahai Tuhan, tidak ada seorang pun yang mesti didekati selain Engkau, tidak pula ada seorang perantara yang dapat disuap [untuk mendekati-Mu]. Jika aku mematuhi-Mu, itu adalah kerana limpahan rahmat-Mu, dan segala puji adalah bagi-Mu. Jika aku menentang-Mu, itu adalah kerana kejahilan dan kesombonganku. Engkau memiliki kekuasaan yang tidak terbantah oleh diriku melalui bukti-Mu terhadap diriku dan melalui ketiadaan daya upayaku terhadap-Mu, kecuali jika Engkau mengampuniku." Kemudian dia mendengar sebuah suara yang berseru, "Anak muda ini telah dibebaskan dari neraka."
Dikatakan, "Manfaat doa adalah menjadikan keperluan diketahui oleh Allah. Jika doa tidak dilakukan, Allah akan melakukan apa yang dikehendaki-Nya."
Dikatakan juga, "Doa orang awam dilakukan dengan kata-kata mereka, doa kaum zahid dilakukan dengan tindakan mereka, dan doa kaum Arifin dilakukan dengan haal-haal (keadaan-keadaan) mereka." Juga dikatakan, "Doa yang paling baik adalah doa yang penuh dengan kesedihan."
Salah seorang Sufi menyatakan, "Jika engkau berdoa kepada Allah SWT agar dianugerahkan sesuatu dan doamu dikabulkan, maka lanjutkanlah dengan meminta syurga kepada-Nya. Mungkin hari di mana engkau berdoa itu adalah hari yang dikabulkannya doamu."
Dikatakan, "Lidah kaum pemula lancar dalam berdoa, namun lidah mereka yang telah mencapai hakekat terbelenggu dalam kebisuan."
Ketika Al-Wasiti diminta berdoa, dia menjawab, "Aku takut bahawa jika aku berdoa, Allah akan berkata kepadaku, 'Jika engkau memohon kepada-Ku sesuatu yang telah ditetapkan untukmu, bererti engkau meragukan Aku. Jika engkau memohon kepada-Ku sesuatu yang tidak ditetapkan bagimu. bererti engkau tidak memuji-Ku sebagaimana seharusnya. Namun jika engkau bersikap rela, maka pada waktunya Aku akan membawakan kepadamu segala yang telah Ku-tetapkan bagimu.”
Diriwayatkan bahawa Abdullah bin Munazil mengabarkan, "Sudah lima puluh tahun aku tidak berdoa, dan tidak menginginkan orang lain berdoa untukku." Dikatakan, "Doa adalah tangga bagi orang-orang yang berdosa." Dikatakan juga, "Doa adalah pertukaran pesan. Selama kedua pihak tetap menjaga hubungan, maka semuanya akan baik." Dikatakan, ''Orang-orang yang berdosa mengucapkan doa mereke dengan air mata."
Syeikh Abu Ali Ad-Daqqaq menyatakan, "Jika seorang berdosa menangis, bererti dia telah membuka pintu komunikasi dengan Allah SWT." Tentang hal ini, para Sufi membacakan syair berikut:
Air mata si pemuda mengungkapkan apa yang disembunyikannya;
Nafasnya menjelaskan rahsia yang tersembunyi dalam hatinya.
Salah seorang Sufi menyatakan, "Berdoa bererti meninggalkan dosa-dosa." Dikatakan, "Doa adalah cara reorang pencinta mengungkapkan kerinduannya."
Dikatakan, "Diberitahukannya kemampuan berdoa kepada seorang hamba adalah lebih baik baginya laripada dikabulkannya doanya." Al-Kattani menyatakan, "Allah SWT telah menganugerahi kaum beriman kemampuan untuk memohon ampun hanya agar supaya Dia dapat membuka pintu ampunan."
Dikatakan juga, “Berdoa menyebabkan engkau hadir di hadirat Allah,sedang dikabulkannya doamu menjadikan engkau berpaling menjauh. [Kerana itu], berdiri saja di pintu adalah lebih baik daripada pergi dengan membawa pemberian.”
Dikatakan, "Doa bererti menghadap Allah secara langsung [dan berbicara] dengan lidah rasa malu." Dikatakan, "Satu prasyarat doa adalah bahawa orang harus menerima apa pun hasil doanya dengan penuh kerelaan." Dikatakan pula, "Bagaimana engkau akan menunggu jawapan bagi doamu jika engkau menghalangi jalannya dengan melakukan dosa-dosa?"
Seseorang meminta kepada salah seorang Sufi agar didoakan: "Jarak mana lagi yang lebih besar yang dapat kau ciptakan antaramu dengan Tuhanmu daripada yang kau ciptakan dengan cara menempatkan seorang perantara antaramu dengan Dia?"
Abdurrahman bin Ahmad berkata, "Aku mendengar ayahku menceritakan bahawa seorang wanita datang kepada Taqi bin Mukhlad dan mengatakan kepadanya, ' Orang-orang Byzantium telah menawan anakku. Aku tidak punya apa-apa lagi di rumahku selain anakku itu. Aku juga tidak dapat menjual rumahku. Jika dapat Tuan bawalah saya kepada seseorang yang dapat menebusnya, sebab saya sudah tidak tahu lagi mana siang mana malam. Saya tidak dapat tidur ataupun beristirehat.' Taqi berkata kepadanya, “'Baiklah, pergilah sampai aku siasat perkara ini, Insya Allah."
Kemudian syeikh itu menundukkan kepalanya dan menggerak-gerakkan bibirnya. Kami menunggu beberapa hari lamanya. Kemudian wanita itu datang lagi bersama anaknya dan berseru kepada syeikh tersebut, “Anakku telah kembali dengan selamat, dan dia mempunyai cerita untuk Tuan.” Anaknya itu lalu mengisahkan, “Saya sedang berada dalam pengawasan seorang bangsawan Byzantium bersama dengan sekelompok tawanan. Bangsawan itu menugaskan seseorang untuk menyuruh kami bekerja setiap hari. Orang itu membawa kami ke padang pasir untuk bekerja dan kemudian membawa kami kembali dalam keadaan dirantai. Suatu ketika kami sedang kembali dari bekerja setelah matahari terbenam dengan dikawal oleh orang itu. Tiba-tiba rantai yang mengikat saya terputus dan jatuh dari kaki saya.” Anak muda itu menyebutkan hari dan saat di mana peristiwa itu terjadi, dan saat itu bertepatan dengan masa ketika wanita itu berjumpa Syeikh Taqi dan beliau berdoa itu.
Si pemuda melanjutkan ceritanya: “Pengawal memukul saya dan berteriak, "Engkau telah memutuskan rantai ini!" Saya berkata, "Tidak, ia jatuh sendiri dari kaki saya!" Orang itu kebingungan dan tidak tahu apa yang harus dilakukannya. Dia memanggil teman-temannya, yang lalu memanggil seorang pandai besi. Mereka lalu merantai saya lagi. Tapi sebaik saya berjalan beberapa langkah, rantai itu terlepas lagi dari kaki saya. Mereka tercengang dan kemudian memanggil para pendeta mereka. Para pendeta itu bertanya kepada saya, “Apakah engkau punya ibu?" Saya katakan, “Ya." Maka mereka lalu berkata, "Doa ibumu telah dikabulkan. Tuhan telah membebaskanmu. Kami tidak dapat lagi merantaimu." Kemudian mereka memberi saya makanan dan bekal lalu menyuruh seorang pengawal menghantarkan saya sampai ke daerah kaum Muslimin."
Doa adalah jawapan bagi setiap keperluan. Doa adalah tempat beristirehat bagi mereka yang miskin, tempat berteduh bagi yang gundah, kelegaan bagi yang terbakar api hasrat. Allah SWT menghina orang yang meninggalkan doa, dengan firman-Nya,
ٱلۡمُنَـٰفِقُونَ وَٱلۡمُنَـٰفِقَـٰتُ بَعۡضُهُم مِّنۢ بَعۡضٍ۬ۚ يَأۡمُرُونَ بِٱلۡمُنڪَرِ وَيَنۡہَوۡنَ عَنِ ٱلۡمَعۡرُوفِ وَيَقۡبِضُونَ أَيۡدِيَہُمۡۚ نَسُواْ ٱللَّهَ فَنَسِيَہُمۡۗ إِنَّ ٱلۡمُنَـٰفِقِينَ هُمُ ٱلۡفَـٰسِقُونَ
Orang-orang munafik lelaki dan perempuan, setengahnya adalah sama dengan setengahnya yang lain; mereka masing-masing menyuruh dengan perbuatan yang jahat dan melarang dari perbuatan yang baik dan mereka pula menggenggam tangannya (bakhil kedekut). Mereka telah melupakan (tidak menghiraukan perintah) Allah dan Allah juga melupakan (tidak menghiraukan) mereka. Sesungguhnya orang-orang munafik itu, merekalah orang-orang yang fasik. (At-Tawbah: 67)
Dikatakan bahawa ayat ini bermakna, "Mereka tidak mengangkat tangan mereka dengan terbuka untuk berdoa kepada Kami."
Sahl bin Abdullah menuturkan, "Allah SWT menciptakan makhluk dan berfirman,'Percayakanlah rahsia-rahsiamu kepada-Ku. Kalau tidak, maka melihatlah kepada-Ku. Kalau tidak, maka dengarkanlah Aku. Kalau tidak, maka tunggulah di depan pintu-Ku. Jika tidak satu pun dari ini semua yang engkau lakukan, setidaknya katakanlah kepada-Ku apa keperluan-Mu."'
Sahl juga berkata, Doa yang sungguh-sungguh akan dikabulkan dan doa yang penuh tekanan, yang maksudnya adalah doa yang terpaksa dipanjatkan oleh seseorang kerana keperluannya yang mendesak terhadap apa yang didoakan-nya.
Abu Abdullah Al-Makanisi berkata, "Aku sedang bersama Al-Junaid ketika seorang wanita datang dan meminta kepadanya, 'Berdoalah untukku agar Allah mengembalikan anakku kepadaku, kerana dia telah hilang.'
Al-Junairl mengatakan kepadanya, “Pergilah, dan bersabarlah.” Maka wanita itu pun pergi. Kemudian dia kembali lagi dan meminta Al-Junaid agar berdoa lagi. Al-Junaid menjawab, 'Pergilah dan bersabarlah.'Hal ini berlangsung berkali-kali, dan setiap kali Al-Junaitl mengatakan agar wanita itu bersabar. Akhirnya wanitu itu berkata, "Kesabaranku telah habis. Aku tidak menahannya lagi. Berdoalah untukku!”
Al-Junaid menjawab, 'Jika demikian halnya, pulanglah sekarang, sebab anakmu telah kembali.'Wanita itu pun pulang, dan menemukan anaknya. Dia kembali kepada Al-Junaid untuk mengucapkan terima kasih. Seseorang bertanya kepada Al-Junaid, 'Bagaimana engkau dapat tahu [bahawa anaknya telah kembali]?'
Dia menjawab, 'Allah SWT telah berfirman,
أَمَّن يُجِيبُ ٱلۡمُضۡطَرَّ إِذَا دَعَاهُ وَيَكۡشِفُ ٱلسُّوٓءَ وَيَجۡعَلُڪُمۡ خُلَفَآءَ ٱلۡأَرۡضِۗ أَءِلَـٰهٌ۬ مَّعَ ٱللَّهِۚ قَلِيلاً۬ مَّا تَذَڪَّرُونَ
Atau siapakah yang memperkenankan doa orang yang menderita apabila dia berdoa kepadaNya dan yang menghapuskan kesusahan, serta menjadikan kamu pengganti (umat-umat yang telah lalu) mendiami dan menguasai bumi? Adakah sebarang tuhan yang lain bersama-sama Allah? Amat sedikit di antara kamu yang mengingati (nikmat Allah itu). (An- Naml: 62)
Orang berbeza pendapat mengenai mana yang lebih baik berdoa ataukah berdiam diri dan bersikap rela. Di antara mereka ada sebahagian yang berkata, "Doa itu sendiri adalah ibadah”, sebab Nabi saw telah menyatakan, 'Doa adalah inti ibadah.' Adalah lebih baik melaksanakan apa pun yang merupakan amal ibadah daripada melewatkannya. Di samping itu, berdoa adalah hak Tuhan atas manusia. Kalaupun Dia tidak mengabulkan doa si hamba dan si hamba tidak memperoleh manfaat dengan doanya, namun lsetidaknya] dia telah melaksanakan hak Tuhannya, sebab doa adalah ungkapan lahiriah keperluan penghambaan.
Abu Hazim Al-A’raj berkata, 'Tidak dapat berdoa adalah lebih menyedihkan hatiku daripada berdoa tapi tidak dikabulkan.
Ada orang-orang lain yang menegaskan, "Diam dan tidak berbuat apa-apa dalam mengalami ketetapan Tuhan adalah lebih baik daripada berdoa. Bersikap rela atas apa pun yang dipilih Allah untuk kita adalah lebih layak daripada berdoa agar Dia mengubah pilihan Nya". Sehubungan dengan alasan ini, Al-Wasiti mengatakan, "Memilih apa yang telah ditetapkan bagimu dalam zaman asal (azali) adalah lebih baik bagimu daripada menentang keadaan yang ada sekarang."
Nabi saw menyatakan, "Allah SWT berfirrnan 'Aku memberi kepada orang yang terlalu sibuk mengingatKu hingga tidak sempat berdoa, lebih banyak daripada yang Kuberikan kepada mereka yang berdoa.'
Ada kelompok ketiga yang berkata, "Si hamba harus berdoa dengan lidahnya, sementara pada masa yang sama dia juga bersikap rela, dan dengan demikian menggabungkan kedua kemungkinan tu.
Pendapat yang lebih sesuai untuk diambil dalam hal ini adalah mengatakan bahawa hal itu bergantung pada waktu dan situasi serta keadaan. Dalam keadaan tertentu, doa adalah lebih baik dan merupakan tindakan yang paling benar; dalam keadaan lain berdiam diri adalah lebih baik. Ini hanya dapal diketahui pada masa yang tertentu sahaja, kerana pengetahuan mengenai suatu masa hanya dapal diperoleh pada masa itu sahaja. Jika seseorang mendapati hatinya condong untuk berdoa, maka berdoa adalah paling baik. Jika dia mendapati hatinya condong kepada berdiam diri, maka berdiam diri lebih baik.
Benar juga bila dikatakan bahawa tidaklah patut bagi si hamba untuk mengabaikan penyaksian terhadap Tuhannya ketika dia berada dalam keadaan berdoa. Dia juga harus memberikan perhatian cermat kepada keadaan dirinya. Jika dia mengalami kelapangan yang meningkat dalam keadaan berdoanya, maka berdoa adalah paling baik baginya. Jika dia mengalami semacam gangguan dan hatinya merasa sempit ketika berdoa, maka yang paling baik baginya adalah meninggalkan berdoa pada saat itu. Jika dia tidak mengalami yang mana pun dari kedua hal ini, maka terus berdoa ataupun meninggalkannya adalah sama sahaja baiknya. Jika perhatiannya yang utama adalahpada keadaan makrifat dan berdiam diri, maka menghindari berdoa adalah lebih baik baginya.
Dalam soal-soal yang berkaitan dengan nasib kaum Muslimin atau yang berkaitan dengan kewajipan seseorang terhadap Allah, maka berdoa adalah lebih baik daripada tidak, tetapi dalam perkara-perkara yang bersangkutan dengan keperluan diri sendiri, maka berdiam diri adalah lebih baik.
Sebuah hadith mengatakan, "Apabila seorang hamba yang dicintai Allah berdoa, maka Allah mengatakan, "Wahai Jibril, tundalah memenuhi keperluan hamba-Ku itu, kerana Aku senang mendengarkan suaranya." [Sebaliknya], apabila seseorang yang tidak disukai Allah berdoa, Dia berkata, "Wahai Jibril, penuhilah keperluan hamba-Ku itu, kerana Aku tidak suka mendengar suaranya."
Diceritakan bahawa Yahya bin Sa'id Al-Qathan bermimpi melihat Allah dan ia berkata, 'Wahai Tuhanku, betapa banyak aku telah berdoa kepadamu, tapi Engkau tidak mengabulkan doaku!" Dia menjawab, “Wahai Yahya, itu kerana Aku senang mendengarkan suaramu.”
Nabi saw menjelaskan, “Demi Dia yang jiwaku berada di tangan-Nya, apabila seseorang yang dimurkai Allah berdoa, Dia akan menolaknya. Lalu orang itu berdoa lagi, dan Dia akan menolaknya lagi. Kemudian orang itu berdoa lagi dan Dia kembali menolaknya. Akhirnya Atlah SWT berfirman kepada para malaikat-Nya, 'Hamba-Ku menolak untuk berdoa kepada selain Aku, maka Aku-pun mengabulkan doanya."'
Anas bin Malik ra menuturkan, "Pada masa Nabi saw, ada seorang laki-laki yang berdagang antara Syam dan Madinah. Dia biasa pergi sendiri, tanpa bergabung dengan kafilah-kafilah, kerana tawakkal kepada Allah SWT. Sekali waktu, ketika dia bepergian dari Syam ke Madinah, seorang penyamun menahannya dan berkata kepadanya, 'Berhenti!'Pedagang itu pun berhenti dan berkata kepada si penyamun, 'Ambillah barang-barangku tapi janganlah kau rintangi jalanku!'
Si penyamun menjawab,'Urusan mengambil barang-barangmu itu mudah; yang kukehendaki adalah dirimu.' Si pedagang bertanya, Apa yang kau kehendaki dariku? Ambillah barang-barang itu dan nyahlah!' Si penyamun mengulangr apa yang telah dikatakannya. Si pedagang berkata,'Tunggulah sampai aku berwudhuk dan berdoa kepada Tuhanku.'
Si penyamun berkata, 'Lakukanlah apa yang mesti kau lakukan.' Maka si pedagang pun bangkit, berwudhuk, lalu solat empat rakaat. Setelah itu dia mengangkat tangannya ke langit dan berdoa,
“Wahai Yang Maha Penyayang, wahai Yang Maha Penyayang, wahai Pemilik Arasy yang Agung, wahai Dia yang dari-Nya segala sesuatu berasal dan kepada-Nya segala sesuatu kembali, wahai Dia yang Maha melakukan apa yang dikehendaki-Nya, aku memohon kepada-Mu dengan cahaya Wajah-Mu yang memenuhi segenap penjuru Arasy-Mu, aku memohon kepada-Mu dengan kekuasaan yang dengannya Engkau memerintah makhluk-Mu, dan dengan kasih-sayang-Mu, tidak ada Tuhan selain Engkau, wahai Maha Penolong, tolonglah diriku!”
Diucapkannya doa itu tiga kali. Ketika dia selesai terdoa, tiba-tiba muncullah seorang penunggang kuda yang bewarna kelabu dan berpakaian hijau dengan memegang tombak yang terbuat dari cahaya. Ketika si penyamun melihat penunggang kuda itu, ditinggalkannya si pedagang dan diekorinya si penunggang kuda itu. Ketika sudah dekat, si penunggang kuda itu menyerang si penyamun sehingga si penyamun terlempar dari atas kudanya. Kemudian dia mendatangi si pedagang dan memerintahkan, 'Bangkit dan bunuhlah dia!' Si pedagang menjawab, 'Siapa engkau? Aku belum pernah membunuh orang dan tidak akan bersenang hati jika membunuhnya.'
Si penunggang kuda itu pun kembali kepada si penyamun dan membunuhnya, ia kembali lagi kepada si pedagang dan berkata, 'Aku adalah seorang malaikat dari langit ketiga. Ketika engkau berdoa untuk pertama kalinya, kami mendengar bunyi gaduh di pintu gerbang langit. Kami berkata “Sebuah kejahatan telah terjadi." Ketika engkau berdoa untuk kedua kalinya, pintu langit terbuka dan terlihat seberkas nyala api. Ketika engkau berdoa untuk ketiga kalinya, Jibril as turun ke langit kami dan berteriak 'Siapakah yang mahu menolong orang yang tertekan ini?" Aku memohon kepada Allah agar diizinkan membunuh penyamun itu.
Ketahuilah, wahai hamba Allah, bahawa Allah akan memberikan kelapangan dan pertolongan kepada siapa saja yang berdoa dengan doamu tadi pada saat-saat yang penuh tekanan malapetaka dan berputus-asa.' Setelah itu si pedagang melanjutkan perjalanannya dengan aman sampai ke Madinah dan pergi menemui Nabi saw serta nenceritakan kisahnya kepada beliau, juga tentang doa yang diucapkannya. Nabi saw berkata kepadanya, “Allah telah mengilhamkanmu dengan nama-nama-Nya yang paling indah, yang jika disebutkan dalam doa, nescaya Dia akan mengabulkannya. Jika Dia dimohon dengan nama-nama itu, Dia akan menganugerahkannya."
Salah satu syarat perilaku yang benar dalam berdoa adalah adanya kekhusyukan hati. Berdoa tidak boleh dilakukan dengan hati yang lalai. Diriwayatkan bahawa Nabi saw telah bersabda, "Allah SWT tidak akan menjawab doa seorang hamba yang hatinya lalai.” Syarat lain bagi perilaku yang benar dalam berdoa adalah bahawa makanan si hamba haruslah diperoleh secara halal.
Nabi saw menegaskan, "Jika penghidupanmu kau diperolehi melalui jalan yang halal, maka doamu akan dikabulkan."
Telah dikatakan, "Doa adalah kunci bagi keperluan seseorang, dan anak kunci tersebut adalah makanan yang halal." Yahya bin Muadz dahulu mengatakan, "Wahai Tuhanku, aku seorang berdosa besar; bagaimana aku dapat berdoa kepada-Mu? Engkau begitu pemurah bagaimana aku tidak akan berdoa kepada-Mu?"
Diceritakan bahawa Musa as berjalan melewat seorang laki-laki yang sedang berdoa dengan rendah hati kepada Allah. Musa berkata, “Ya Allah, seandainya keperluannya ada dalam tanganku, nescaya akan kupenuhi doanya." Allah SWT mewahyukan kepada Musa, "Aku lebih pengasih kepadanya daripadamu. Dia memang berdoa kepada-Ku, tapi hatinya terpaut pada domba-dombanya. Aku tidak akan mengabulkan doa seorang hamba-Ku yang hatinya terpaut pada selain Aku." Ketika Musa mengatakan kepada orang itu apa yang diwahyukan Allah kepadanya itu, dia segera memalingkan hatinya dengan penuh perhatian kepada Allah SWT, dan urusannya pun segera selesai.
Seseorang bertanya kepada Jaafar Ash-Shadiq, "Apa sebabnya, kita berdoa tetapi tidak pernah dikabulkan?” Beliau menjawab, "Itu kerana engkau berdoa kepada Tuhan yang engkau tiada pengetahuan tentang-Nya. "
Saya mendengar Syeikh Abu Ali Ad-Daqqaq menuturkan, 'Ya'qub bin Laits ditimpa penyakit yang membuat para doktor tidak berdaya. Mereka lalu berkata kepadanya, 'Di negeri Tuan ada seorang laki-laki saleh bernama Sahl bin Abdullah. Jika dia berdoa untuk Tuan, nescaya Allah SWT akan mengabulkan doanya.'
Ya'qub pun lalu mengundang Sahl dan memerintahkan,'Berdoalah kepada Allah untukku.' Sah berkata, 'Bagaimana doaku untukmu akan dikabulkan sedangkan engkau berlaku zalim kepada ramai orang di dalam penjaramu?' Maka Ya'qub lalu melepaskan semua orang yang ada dalam penjaranya. Sahl lalu berdoa: 'Ya Allah, sebagaimana Engkau telah memperlihatkan kepadanya hinanya ketidakpatuhan kepada-Mu, maka perlihatkanlah kepadanya mulianya kepatuhan kepadamu dengan menyembuhkan penyakitnya.'
Ya'qub bin Laits lalu sembuh. Dia cuba memberi Sahl harta kekayaan, tetapi Sahl menolak. Seseorang berkata kepada Sahl, “Jika engkau mahu menerimanya engkau dapat memberikannya kepada orang-orang miskin.” Beberapa waktu kemudian, Sahl sedang memandang kerikil-kerikil di padang pasir, maka kerikil-kerikil itu tiba-tiba berubah menjadi batu-batu permata. Dia bertanya kepada para sahabatnya, “Apal perlunya bagi orang yang telah dianugerahi anugerah seperti ini, menerima harta kekayaan dari Ya'qub bin Al-Laits?"
Diceritakan bahawa Salih Al-Murri sering menegaskan, "Barangsiapa yang gigih mengetuk pintu beerti sudah dekat saat terbukanya pintu itu baginya.” Rabiah bertanya kepadanya, "Sampai bila engkau akan mengatakan begitu? Bilakah pintu itu tertutup hingga orang terpaksa memintanya agar dibuka?” Salih menjawab , “Seorang laki-laki yang sudah tua tidak tahu akan kebenaran, dan seorang wanita mengetahuinya!"
As-Sari menuturkan, "Suatu ketika aku menghadiri pengajian Ma'ruf Al-Karkhi. Seorang laki-laki datang kepadanya dan meminta, 'Wahai Abu Mahfuzh, berdoalah kepada Allah untukku, agar Dia mengembalikan dompetku. Dompet itu dicuri orang; isinya wang seribu dinar.” Ma'ruf diam sahaja. Orang itu mengulangi permintaannya, dan Ma'ruf tetap diam. Untuk ketiga kalinya orang itu mengulangi permintaannya. Kemudian Ma'ruf menjawab, "Apa yang harus kukatakan? [Haruskah aku memohon], “Kembalikanlah kepadanya apa yang tidak Kau berikan kepada nabi-nabi dan wali-wali-Mu yang suci?” Tapi orang itu tetap mendesak, “Berdoalah kepada Allah untukku.” Ma'ruf pun berdoa, “Ya Allah, pilihkanlah apa yang paling baik baginya."
Diriwayatkan bahawa Al-Laits berkata, "Suatu ketika aku melihat 'Uqbah bin Nafi' dan dia dalam keadaan buta. Kemudian aku bertemu dengan dia lagi, sedang matanya dapat melihat. Aku bertanya kepadanya, “'Bagaimana penglihatanmu dapat pulih kembali? Dia menjawab, “[Sebuah suara] berseru kepadaku dalam mimpiku, "Katakanlah, ‘Wahai Yang Maha Dekat, wahai Yang Maha Mengabulkan, wahai Yang mendengarkan doaku, Wahai Yang Maha Baik dalam kehendak-Nya. Kembalikanlah penglihatanku.’ Kuulangi doa ini dan Allah SWT lalu mengembalikan penglihatanku."
Syeikh Abu Ali Ad-Daqqaq mengabarkan, "Aku menderita sakit yang parah di mataku ketika aku untuk pertama kalinya kembali dari Merv ke Nisyapur. Sudah agak lama aku tidak dapat tidur. Suatu pagi aku tertidur lelap dan kudengar seseorang bertanya kepadaku,
أَلَيۡسَ ٱللَّهُ بِكَافٍ عَبۡدَهُ ۥۖ وَيُخَوِّفُونَكَ بِٱلَّذِينَ مِن دُونِهِۦۚ وَمَن يُضۡلِلِ ٱللَّهُ فَمَا لَهُ ۥ مِنۡ هَادٍ۬
Bukankah Allah cukup untuk mengawal dan melindungi hambaNya (yang bertakwa)? Dan mereka menakutkanmu (wahai Muhammad) dengan yang mereka sembah yang lain dari Allah dan (ingatlah) sesiapa yang disesatkan oleh Allah (dengan pilihannya yang salah), maka tidak ada sesiapapun yang dapat memberi hidayat petunjuk kepadanya. (Az-Zumar: 36)
Aku terbangun dan kudapati penyakitku telah hilang dari mataku dan rasa sakitnya pun telah hilang Sesudah itu aku tidak pernah lagi menderita sakit mata."
Diceritakan bahawa Muhammad bin Khuzaimat berkata, "Aku sedang berada di Iskandariyah ketika Ahmad bin Hanbal meninggal dunia. Aku betul-betul merasa sedih. Setelah itu aku bermimpi bertemu dengar Ahmad bin Hanbal. Kulihat dia sedang berlenggang-lenggang. Aku bertanya, “Wahai Abu Abduilah, gerakan apa ini?” Dia menjawab, “Ini adalah cara bergerak hamba-hamba di Rumah Kedamaian.” Aku bertanya, “ Apa yang telah diperbuat Allah kepadamu?” Dia menjawab, “Dia telah mengampuniku, menempatkan sebuah mahkota di atas kepalaku, dan memberiku sepasang sandal emas untuk kupakai. Allah berkata kepadaku, “Wahai Ahmad, semua ini kerana engkau telah menjaga Al-Qur'an sebagai firman-Ku."
Kemudian Dia berkata, "Wahai Ahmad, berdoalah kepada-Ku dengan kata-kata yang engkau terima dari Sufyan Ats-Tsauri, yang dulu engkau ucapkan waktu engkau masih hidup." Maka aku pun berdoa, '"W'ahai Tuhan semesta, dengan kekuasaan-Mu atas segala sesuatu ampunilah segala-dosaku dan janganlah Engkau tanyai aku tentang sesuatu pun." Kemudian Allah memaklumkan, "Wahai Ahmad, inilah syurga. Masuklah!” Dan aku pun masuk.”
Suatu hari, ada seorang pemuda yang memegang kain penutup Kaabah dan berkata, “Wahai Tuhan, tidak ada seorang pun yang mesti didekati selain Engkau, tidak pula ada seorang perantara yang dapat disuap [untuk mendekati-Mu]. Jika aku mematuhi-Mu, itu adalah kerana limpahan rahmat-Mu, dan segala puji adalah bagi-Mu. Jika aku menentang-Mu, itu adalah kerana kejahilan dan kesombonganku. Engkau memiliki kekuasaan yang tidak terbantah oleh diriku melalui bukti-Mu terhadap diriku dan melalui ketiadaan daya upayaku terhadap-Mu, kecuali jika Engkau mengampuniku." Kemudian dia mendengar sebuah suara yang berseru, "Anak muda ini telah dibebaskan dari neraka."
Dikatakan, "Manfaat doa adalah menjadikan keperluan diketahui oleh Allah. Jika doa tidak dilakukan, Allah akan melakukan apa yang dikehendaki-Nya."
Dikatakan juga, "Doa orang awam dilakukan dengan kata-kata mereka, doa kaum zahid dilakukan dengan tindakan mereka, dan doa kaum Arifin dilakukan dengan haal-haal (keadaan-keadaan) mereka." Juga dikatakan, "Doa yang paling baik adalah doa yang penuh dengan kesedihan."
Salah seorang Sufi menyatakan, "Jika engkau berdoa kepada Allah SWT agar dianugerahkan sesuatu dan doamu dikabulkan, maka lanjutkanlah dengan meminta syurga kepada-Nya. Mungkin hari di mana engkau berdoa itu adalah hari yang dikabulkannya doamu."
Dikatakan, "Lidah kaum pemula lancar dalam berdoa, namun lidah mereka yang telah mencapai hakekat terbelenggu dalam kebisuan."
Ketika Al-Wasiti diminta berdoa, dia menjawab, "Aku takut bahawa jika aku berdoa, Allah akan berkata kepadaku, 'Jika engkau memohon kepada-Ku sesuatu yang telah ditetapkan untukmu, bererti engkau meragukan Aku. Jika engkau memohon kepada-Ku sesuatu yang tidak ditetapkan bagimu. bererti engkau tidak memuji-Ku sebagaimana seharusnya. Namun jika engkau bersikap rela, maka pada waktunya Aku akan membawakan kepadamu segala yang telah Ku-tetapkan bagimu.”
Diriwayatkan bahawa Abdullah bin Munazil mengabarkan, "Sudah lima puluh tahun aku tidak berdoa, dan tidak menginginkan orang lain berdoa untukku." Dikatakan, "Doa adalah tangga bagi orang-orang yang berdosa." Dikatakan juga, "Doa adalah pertukaran pesan. Selama kedua pihak tetap menjaga hubungan, maka semuanya akan baik." Dikatakan, ''Orang-orang yang berdosa mengucapkan doa mereke dengan air mata."
Syeikh Abu Ali Ad-Daqqaq menyatakan, "Jika seorang berdosa menangis, bererti dia telah membuka pintu komunikasi dengan Allah SWT." Tentang hal ini, para Sufi membacakan syair berikut:
Air mata si pemuda mengungkapkan apa yang disembunyikannya;
Nafasnya menjelaskan rahsia yang tersembunyi dalam hatinya.
Salah seorang Sufi menyatakan, "Berdoa bererti meninggalkan dosa-dosa." Dikatakan, "Doa adalah cara reorang pencinta mengungkapkan kerinduannya."
Dikatakan, "Diberitahukannya kemampuan berdoa kepada seorang hamba adalah lebih baik baginya laripada dikabulkannya doanya." Al-Kattani menyatakan, "Allah SWT telah menganugerahi kaum beriman kemampuan untuk memohon ampun hanya agar supaya Dia dapat membuka pintu ampunan."
Dikatakan juga, “Berdoa menyebabkan engkau hadir di hadirat Allah,sedang dikabulkannya doamu menjadikan engkau berpaling menjauh. [Kerana itu], berdiri saja di pintu adalah lebih baik daripada pergi dengan membawa pemberian.”
Dikatakan, "Doa bererti menghadap Allah secara langsung [dan berbicara] dengan lidah rasa malu." Dikatakan, "Satu prasyarat doa adalah bahawa orang harus menerima apa pun hasil doanya dengan penuh kerelaan." Dikatakan pula, "Bagaimana engkau akan menunggu jawapan bagi doamu jika engkau menghalangi jalannya dengan melakukan dosa-dosa?"
Seseorang meminta kepada salah seorang Sufi agar didoakan: "Jarak mana lagi yang lebih besar yang dapat kau ciptakan antaramu dengan Tuhanmu daripada yang kau ciptakan dengan cara menempatkan seorang perantara antaramu dengan Dia?"
Abdurrahman bin Ahmad berkata, "Aku mendengar ayahku menceritakan bahawa seorang wanita datang kepada Taqi bin Mukhlad dan mengatakan kepadanya, ' Orang-orang Byzantium telah menawan anakku. Aku tidak punya apa-apa lagi di rumahku selain anakku itu. Aku juga tidak dapat menjual rumahku. Jika dapat Tuan bawalah saya kepada seseorang yang dapat menebusnya, sebab saya sudah tidak tahu lagi mana siang mana malam. Saya tidak dapat tidur ataupun beristirehat.' Taqi berkata kepadanya, “'Baiklah, pergilah sampai aku siasat perkara ini, Insya Allah."
Kemudian syeikh itu menundukkan kepalanya dan menggerak-gerakkan bibirnya. Kami menunggu beberapa hari lamanya. Kemudian wanita itu datang lagi bersama anaknya dan berseru kepada syeikh tersebut, “Anakku telah kembali dengan selamat, dan dia mempunyai cerita untuk Tuan.” Anaknya itu lalu mengisahkan, “Saya sedang berada dalam pengawasan seorang bangsawan Byzantium bersama dengan sekelompok tawanan. Bangsawan itu menugaskan seseorang untuk menyuruh kami bekerja setiap hari. Orang itu membawa kami ke padang pasir untuk bekerja dan kemudian membawa kami kembali dalam keadaan dirantai. Suatu ketika kami sedang kembali dari bekerja setelah matahari terbenam dengan dikawal oleh orang itu. Tiba-tiba rantai yang mengikat saya terputus dan jatuh dari kaki saya.” Anak muda itu menyebutkan hari dan saat di mana peristiwa itu terjadi, dan saat itu bertepatan dengan masa ketika wanita itu berjumpa Syeikh Taqi dan beliau berdoa itu.
Si pemuda melanjutkan ceritanya: “Pengawal memukul saya dan berteriak, "Engkau telah memutuskan rantai ini!" Saya berkata, "Tidak, ia jatuh sendiri dari kaki saya!" Orang itu kebingungan dan tidak tahu apa yang harus dilakukannya. Dia memanggil teman-temannya, yang lalu memanggil seorang pandai besi. Mereka lalu merantai saya lagi. Tapi sebaik saya berjalan beberapa langkah, rantai itu terlepas lagi dari kaki saya. Mereka tercengang dan kemudian memanggil para pendeta mereka. Para pendeta itu bertanya kepada saya, “Apakah engkau punya ibu?" Saya katakan, “Ya." Maka mereka lalu berkata, "Doa ibumu telah dikabulkan. Tuhan telah membebaskanmu. Kami tidak dapat lagi merantaimu." Kemudian mereka memberi saya makanan dan bekal lalu menyuruh seorang pengawal menghantarkan saya sampai ke daerah kaum Muslimin."
Langgan:
Catatan (Atom)