Isnin, Disember 16

Dua Langkah Saja ! Anda Sampai

Syekh Abdul Qodir Jailani
10 Ramadhan, tahun 545 H. di Madrasahnya
“Hai orang yang mendustai agama! Anda bermain-main dan merusak? Tidak! Tidak ada kemuliaan bagi dirimu hai para perusak, anda telah membiarkan nafsumu untuk bicara pada manusia tanpa keahlian dalam dirimu”

DUA langkah, anda telah sampai (wushul). Satu langkah meninggalkan dunia dan satu langkah meninggal kan akhirat. Satu langkah meninggalkan nafsumu dan satu langkah meninggalkan makhluk. Tinggalkan nuansa lahiriyah, anda akan sampai di wilayah bathiniyah. Permulaan, kemudian akhir. Kokohkan dirimu dan sempurnakan di hadapan Allah Azza wa-Jalla. Darimulah permulaan, dari Allahlah akhir tujuan. Raihlah kepahitan dan kepayahan, duduklah pada pintu amal hingga apa yang anda cari sangat dekat dengan yang diamalkan.
Jangan hanya duduk-duduk di atas tempat tidurmu, dengan selimutmu, dan dibalik pintumu yang tertutup, lalu anda mencari amal dan yang anda amalkan? Perhatikan hatimu dengan dzikir, dan mengingatNya di hari ketika dibangkitkan. Tafakkurlah untuk merenungi pelajaran di balik alam kubur. Renungkanlah bagaimana Allah azza wa-Jalla menggelar semua makhlukNya dan membangkitkan mereka di hadapanNya.
Bila anda terus merenungi itu, akan sirna kekerasan hatimu, bersih dari kotorannya. Bila sebuah bangunan ditegakkan di atas  fondasi, akan kokoh dan kuat. Bila tidak ada fondasinya akan cepat runtuhnya. Bila anda teguh di atas aturan hukum yang pasti dan jelas, tak satu pun makhluk akan menggerogotinya. Namun jika tidak ditegakkan di atas fondasi itu, kondisinya akan tidak kokoh, dan anda tidak akan meraih maqom ruhani, hingga qalbu para auliya’ shiddiqun marah pada anda, dan  tidak ingin memandang anda.
Hai orang yang mendustai agama! Anda bermain-main dan merusak? Tidak! Tidak ada kemuliaan bagi dirimu hai para perusak, anda telah membiarkan nafsumu untuk bicara pada manusia tanpa keahlian dalam dirimu. Padahal bicara itu hanya diperkenankan pada beberapa individu makhluk kaum sholihin, jika tidak mereka hanya membisu, hanya berisyarat, bukan bicara.
Diantara mereka ada yang diperintahkan untuk bicara pada sesama makhluk dengan tegas, dan setelah bicara, informasi menjadi jelas dan terang pada hatimu dan menjernihkan batinmu.
Itulah sebabnya Amirul Mu’minin Sayyidina Ali Karromallahu Wajhah ra,  mengatakan, ”Jika saja tirai dibuka, rasa yakinku pun tidak akan bertambah.” Bahkan beliau juga berucap,
”Aku tidak akan menyembah Tuhan yang tidak aku lihat.”
”Hatiku memperlihatkan padaku akan Tuhanku.”
Wahai orang-orang yang bodoh, bergaullah dengan para Ulama’, berbaktilah pada mereka danbelajarlah dari mereka. Karena ilmu itu diraih dari lisan para tokoh Ulama. Karena itu bermajlislah dengan mereka dengan adab yang bagus, tidak kontra dengan pandangannya, meraih manfaat dari mereka, agar kalian meraih ilmu pengetahuan, meraih barokah dan sariguna dapat kalian cerap.
Bermajlislah dengan para ’arifin dengan diam.  Bermajlislah dengan ahli zuhud dengan penuh cinta. Para ‘arif setiap saat lebih dekat dengan Allah Azza wa-Jalla, dibanding saat-saat sebelumnya, dengan terus menerus memperbaharui khusyu’nya  dan rasa hinanya di hadapan Tuhannya Azza wa-Jalla. Ia khusyu’ dengan penuh hadirnya qalbu bukan dengan ghaibnya qalbu di hadapanNya.
Tambahnya khusyu’ menurut kadar kedekatannya dengan Allah Azza wa-Jalla. Dan semakin kuat membisunya ketika musyahadah kepadaNya Azza wa-Jalla, karena siapa yang ma’rifat kepadaNya, lisan, watak, nafsu, hawa nafsu dan kebiasaannya serta wujudnya terbungkam. Sedangkan lisan qalbunya, rahasia batinnya, kondisi ruhani dan maqomnya serta anugerah yang diterimanya, senantiasa bicara karena nikmat-nikmat yang melimpah dariNya.
Karena itu mereka bermajlis dengan diam, agar meraih manfaat dari para ‘arifun, dan meraih minuman jiwa yang memancar dari hati para ‘arifun. Siapa yang banyak bermajlis dengan para ‘arifin billah, dirinya akan hina dina di hadapan Tuhannya Azza wa-Jalla. Lalu dikatakan, ”Siapa yang mengenal dirinya ia mengenal Tuhannya.” Karena diri adalah hijab antara dirinya dengan Tuhannya.
Siapa yang mengenal dirinya akan rendah hati di hadapan Allah Azza wa-Jalla di hadapan makhlukNya. Bila ia mengenal dirinya ia akan terus waspada, dan sibuk  dengan syukur kepada Allah Azza wa-Jalla atas pengenal terhadap dirinya itu. Dan ia pun tahu bahwa tidak akan mengenal dirinya kecuali Allah Azza wa-Jalla hendak memberikan kebaikan dunia akhirat.
Lahiriyahnya bersyukur kepada Allah Azza wa-Jalla, batinnya selalu memujiNya. Lahiriyahnya berpisah denganNya, batinnya berpadu denganNya. Kegembiraannya ada pada batinnya, sedangkan kesedihannya hanya pada lahiriyahnya belaka, demi menutupi kegembiraan kondisi ruhaninya.
Orang yang ‘arif Billah berbeda dengan umumnya orang beriman. Susah yang dalam hatinya, wajahnya berseri. Ia tahu, dan terus berada di hadapan pintuNya, namun tidak tahu apakah ia diterima atau ditolak. Apakah pintu akan dibuka baginya atau ditutup selamanya.
Orang yang mengenal dirinya akan berbeda pula dengan orang beriman biasa dalam berbagai situasi.  Orang beriman biasa adalah sang pemilik kondisi yang terus berubah, sedangkan sang arif adalah pemangku maqom yang tetap kokoh. Orang beriman umumnya, sangat takut jika kondisi ruhaninya berubah dan imannya hilang. Gelisahnya akan terus ada selamanya. Kegembiraannya terus memancar di wajahnya disertai rasa gelisahnya. Bicaranya riang gembira di hadapanmu, hatinya terasa putus oleh kegelisahannya.
Sedangkan sang arif kegelisahannya ada di wajahnya, karena ia harus bertemu dengan sesama untuk memberi peringatan, memberikan ketegasan dan perintah, melarang yang dilarang, sebagai pengganti Rasul Saw. Kaum Sufi itu mengamalkan apa yang didengar, lalu amalnya mendekatkan kepada Allah Azza wa-Jalla, beramal hanya bagi Allah Azza wa-Jalla yang mereka dengar dari nasehatNya secara langsung tanpa perantara melalui hati mereka. Itupun ketika mereka sedang tidak lelap dan tidur menurut makhluk, namun senantiasa terjaga dengan Sang Khaliq.
Bila hatimu benar, engkau  selamanya sirna dari makhluk, dan tidur dari pandangan mereka, namun terus hadir dan terjaga dengan Sang Khaliq. Hendaknya anda dal;am keramaian senantiasa sunyi denganNya, sehingga limpahan anugerah Allah Azza wa-Jalla terus mengalir, hikmahnya terus melimpah. Hendaknya anda menjaga rahasia batin, karena rahasia batin akan mendekte hatimu, lalu hatimu mendekte nafsu yang muthmainnah, dan nafsu itu tadi mendekte lisan. Lisan mendekte sesama makhluk.
Siapa yang berbicara pada publik, hendaknya  dengan kondisi seperti itu. Jika tidak, janganlah bicara. Kegilaan kaum sufi adalah meninggalkan watak kebiasaan manusiawinya, dan tindakan-tindakan hawa nafsunya, memejamkan diri dari kesenangan-kesenangan dan kenikmatan. Mereka bukan gila seperti umumnya orang gila yang tidak waras akalnya.
Hasan al-Bashry ra, mengatakan, ”Bila kalian melihat mereka, kalian pasti berkata, ”Hai orang-orang gila!”. Namun bila mereka melihatmu, mereka balik mengatakan, ”Orang-orang ini tidak pada beriman kepada Allah Azza wa-Jalla sekejap pun.”
Khalwatmu tidak benar, karena khalwat adalah gambaran dari pengosongan qalbu dari segalanya. Batinmu kosong, sendiri tanpa dunia, tanpa akhirat dan tanpa apa pun selain Allah azza wa-Jalla secara total.
Itulah keseriusan para pendahulu seperti para Nabi dan Rasul, para Auliya’ dan kaum sholihin. Amar ma’ruf nahi mungkar lebih aku sukai ketimbang seribu ahli ibadah yang berdiam di kamar sunyinya, namun masih melihat nafsunya.
Karena itu pejamkan nafsu, tekan dan lem, sampai pandangannya tidak menjadi penyebab kehancurannya, kecuali ia sabar mengikuti perintah hatinya dan rahasia batinnya. Diantara bagian dari mengikuti jejak batin dan hatinya, adalah tidak keluar dari konsisten hati dan batin, sehingga dirinya benar-benar menyatu dengan hatinya, sampai perintah keduanya (hati dan sirr), menghindari larangan keduanya, dan pilihannya.
Disinilah anda baru meraih nafsu yang muthmainnah, lalu berserasi untuk satu tujuan dan satu pencarian. Bila nafsu sampai disitu, maka meraih kemudahan dalam memerangi nafsunya.
Karena itu jangan membantah Allah Azza wa-Jalla atas apa pun yang ditakdirkan padamu, dan apa yang ditakdirkan pada orang lain. Lihatlah firman Allah azza wa-Jalla:
”Allah tidak ditanya apa yang Dia lakukan, tetapi merekalah yang ditanya (dimintai pertanggungjawaban) apa yang dilakukan.” (Al-Anbiya’: 23)
Mana bukti anda mengikuti perintah Allah azza wa-Jalla, bila adabmu tidak baik? Bisa-bisa anda keluar dari dunia ini dalam keadaan hina. Perbaikilah adabmu dan berselaraslah dengan adab itu, maka anda akan duduk mulia.
Sang pecinta Allah Azza wa-Jalla adalah tamunya Allah azza wa-Jalla. Si tamu tidak punya pilihan terhadap sang pemilik rumah dalam hal makanan dan minuman, serta pakaian, dan seluruh tingkah lakunya. Sebagai tamu haruslah bersesuai dengan pemilik rumah, sabar dan ridho. Tidak mengapa jika harus dikatakan, ”Bergembiralah atas apa yang kau lihat dan engkau temui.” Siapa yang mengenal mengenal Allah Azza wa-Jalla, dunia dan akhirat sirna, dan apa pun selain Allah Azza wa-Jalla sirna dari hatinya.
Sudah seharusnya ucapanmu hanya bagi Allah azza wa-Jalla, jika tidak bisu lebih baik bagimu. Hendaknya hidupmu untuk patuh kepada Allah Azza wa-Jalla. Jika tidak? Lebih baik kamu mati saja.
Ya Allah hidupkanlah kami dalam kepatuhan padaMu dan hamparkan kami bersama hamba-hambaMu yang taat. Amiin.(bersambung....)

Hijrah Dari Ke-AKU-an

Pengajian 10 Ramadhan, tahun 545 H. di Madrasahnya
Orang beriman adalah orang yang hijrah dari dirinya, belajar kepada seorang guru yang mendidik dan mengajarinya mulai dari kecil hingga mati. Sang qari’ adalah orang yang menghafal Al-Qur’an, dan pada pertengahannya ia mengenal pengetahuan tentang tradisi atau Sunnah Rasulullah Saw, maka saat itulah ia pasti dapat pertolongan. Ia mengamalkan ilmunya dan kokoh dengan amaliahnya hanya bagi Allah Azza wa-Jalla. Setiap ia mengamalkan ilmunya, Allah Azza wa-Jalla mewariskan pengetahuan yang tidak pernah ia ketahui sebelumnya.
Jangan hanya duduk-duduk di atas tempat tidurmu, dengan selimutmu, dan dibalik pintumu yang tertutup, lalu anda mencari amal dan yang anda amalkan? Perhatikan hatimu dengan dzikir, dan mengingatNya di hari ketika dibangkitkan. Tafakkurlah untuk merenungi pelajaran di balik alam kubur. Renungkanlah bagaimana Allah Azza wa-Jalla menggelar semua makhlukNya dan membangkitkan mereka di hadapanNya.
Hatinya teguh pada pijakannya, keikhlasannya mendekatkan langkahnya menuju Allah Azza wa-Jalla. Bila anda mengamalkan ilmu itu, sementara anda tidak melihat hatimu mendekat kepada Allah Azza wa-Jalla, anda pun tidak merasakan indahnya ibadah, kebahagiaan dibalik ibadah, ketahuilah bahwa anda sebenarnya belum beramal ibadah. Anda terhalang karena adanya celah dibalik amal anda. Apakah celah itu? Adalah riya’, kemunafikan dan takjub pada diri sendiri.
Wahai orang yang beramal, ikhlaslah. Jika tidak, anda jangan bersusah payah. Hendaknya anda melakukan muroqobah pada Allah Azza wa-Jalla baik dalam sunyi maupun ramai. Muroqobah dalam keramaian saja itu bagi orang munafik. Namun bagi orang yang ikhlas, muroqobah baik dalam sunyi maupun ramai sama saja.
Hati-hati, jika anda melihat orang yang bersolek, lelaki maupun wanita, maka pejamkan matamu, pejamkan mata nafsumu, watak dirimu, ingatlah pandangan Allah Azza wa-Jalla kepadamu, dan bacalah: ”Kamu tidak berada dalam suatu keadaan...” (QS Yunus: 61)
Waspadalah pada Allah azza wa-Jalla, dan pejamkan matamu untuk memandang hal yang diharamnkan, ingatlah pada Dzat Yang transparan pandanganNya dan pengetahuanNya. Bila anda tidak mewaspadai pandanganNya Azza wa-Jalla dan tidak kontra padaNya, maka sempurnalah ubudiyahmu padaNya, dan kelak anda tergolong hamba yang benar, masuk dalam kelompok yang difirmankanNya:”Sesungguhnya hamba-hambaKu, tak ada bagimu (Iblis) kemampuan menguasai mereka.” (QS Al-Hijr: 42)
Bila syukurmu benar hanya bagi Allah Azza wa-Jalla, maka Dia mengilhami hati para makhluk dan lisannya untuk terimakasih padamu, cinta padamu. Maka disinilah syetan dan pasukannya tidak punya jalan masuk padamu. Hendaknya  anda meninggalkan doa sebagai prinsip, kalau toh sibuk berdoa itu hanyalah toleransi saja untukmu. Doa itu bagi orang yang sedang tenggelam dan yang terpenjara, tertahan, sampai ia dapat jalan keluar dan masuk ke hadapan raja.
Jadilah dirimu orang yang berakal sehat, apa yang baik bagimu dan apa yang tidak baik, ketika anda meninggalkan doa. Tak satu pun kecuali butuh niat yang benar, akal yang sehat dan  mengikuti jejak yang mengerti.
Kalian tidak menggunakan akal sehat apa yang ada disisi Allah Azza wa-Jalla dan apa yang ada di sisi hambaNya yang shaleh. Itulah yang menyebabkan kalian su’udzon (buruk sangka) pada mereka. Jangan sampai anda khawatir terhadap pangkal agamamu dan kondisimu  bersama  mereka. Jangan sampai kalian menentang aktivitas mereka sepanjang tidak bertentangan dengan syariat, jangan kontra dengan mereka karena mereka ada di hadapanNya Azza wa-Jalla, lahir dan batin.
Di hatinya tidak pernah tenang dari rasa takut hingga ketenangan dan jaminan keselamatan ada padanya.
Kemarilah wahai hamba Allah Azza wa-Jalla di muka bumi, kemarilah wahai kaum zuhud, belajarlah, anda akan mengerti pengetahuan yang baik dariNya. Masuklah dalam kitabku sampai aku memberi pelajaran padamu yang tidak pernah kalian dapatkan.
Hati kita punya kitab, dan rahasia batin juga ada kitabnya. Nafsu juga ada kitabnya, anggota badan juga ada kitabnya. Semua ada derajat-derajat, maqom-maqom, pijakan-pijakan yang beragam.
Syeikh Abdul Qadir Al-Jilany

Lembah Cinta Sang Wali 1 - Ibnu Ajibah Al-Hasany


“Segala puji bagi Allah yang telah meluapi lembah kalbu para wali-Nya dengan luapan Cinta kepada-Nya. Dia yang membangunkan istana khusus agar luapan arwah para kekasih-Nya itu, senantiasa menyaksikan keagungan-Nya. Dia pula yang menghamparkan padang ma’rifatullah melalui rahasia-rahasia jiwanya. Lalu kalbunya berada di sebuah taman surga. Taman itu penuh dengan lukisan-lukisan ma’rifatullah yang tiada tara. Sedangkan arwah-arwah mereka berada di Taman Malakut, tak sejenak pun arwah itu melainkan berada dalam keabadian penyucian pada-Nya. Duh, rahasia arwahnya, mendendangkan tasbih dalam tarian Lautan Jabarut-Nya
Aku Adalah Dia - Al-HallajHari-hari ini, betapa sempitnya dada orang, ketika rasa syukur saja telah hilang dari lembah jiwanya. Apalagi mengembangkan senyum bunga di hatinya. Mereka lebih senang memuja egonya daripada memuja Allah atas nikmat-nikmatNya. Padahal Allah dengan segala CintaNya tak henti-hentinya memanggil, “Ingatlah kepadaKu, niscaya Aku ingat kepadamu…..Bersyukurlah kepadaKu dan janganlah mengingkari diriKu….”
Aku adalah Dia yang kucintai dan Dia yang kucintai adalah akuKami adalah dua jiwa yang bertempat dalam satu tubuh. Jika engkau lihat aku, engkau lihat Dia, Dan jika engkau lihat Dia, engkau lihat aku.
Tarian Semesta - Muhammad Luqman HakimSungguh, kedahsyatan Cinta itu, telah membawa tarian semesta ini, seperti gerak rancak yang gemulai dalam senandung musik Ilahiyah yang Sempurna. Bagaimana tidak, ketika kita sebut KekasihNya, Muhammad Rasul SAW yang tercinta, tiba-tiba segalanya mekar bagai bunga, lalu membentuk jadi Kauniyah, lahiriyah dan batiniyah kita semua. Bagaimana tidak, sehari semalam kita selalu senandungkan ungkapan Cinta kasih dan kedamaian abadi lewat getaran-getaran milyaran bibir yang menyanyikan sholawat dan salam kepada kekasihNya itu.
Sholawat Cinta - Muhammad Luqman HakimSholawat dan salam yang kita ungkapkan lewat bibir-bibir mungil para bayi yang tersenyum dengan mata telanjang bening berbinar, lebih dari kejujuran hati kita masing-masing. Sampai Nabi Saw, menyebutkan, “Tak seorang pun akan menggapai kesempurnaan imannya, sampai Allah dan RasulNya lebih dicintainya, ketimbang keluarga, harta dan sesama manusia.”
Tiba-tiba setelah itu, segala yang muncul dari nafas para hamba, dari gerak gerik hati para pecintaNya, dari detak jantung para perinduNya, dalam sauh rasa yang mencekam, karena menahan keharuan indahnya Cinta, adalah kebajikan-kebajikan sejati yang maujud dalam gerak dan ucapan, kebajikan hidup ini, dan kebajikan kehidupan di akhir nanti. Sebuah Peradaban Cinta yang luhur dan agung, sampai diperjuangkan dengan darah dari bekaman airmata, atau pun dari airmata yang tersaring dari beningnya darah perjuangan kita semua. Sebab setelah itu, keringat yang menetes dari peluh tubuh kita, adalah mutiara-mutiara bening dari getaran jantung kecintaan, dari sungai yang mengalir menuju Lautan Cinta Sang Kekasih, dari gairah yang tak henti-hentinya, dari mata air di puncak bukit kemakhlukan, pada titik air kehambaan.
Gelora Cinta Allah - Hadits Qudsi“Wahai Jibril!”. Tiba-tiba suara Allah bergelora memenuhi langit bumi seisinya. “Aku telah mencintai seseorang, maka cintailah dia!.” Lalu Jibril pun mencintai orang itu, bahkan Jibril menggelorakan cintanya melalui ungkapannya yang agung di seluruh langit, “Wahai….Sesungguhnya Allah ta’ala telah mencintai seorang hamba, maka, cintailah wahai kalian semua pada hamba ini.” Lalu gemuruh cinta bertaburan dari penghuni langit melimpahi  sang hamba itu, dan penghuni bumi pun menerima sepenuhnya.” Tapi jika Allah Azza wa Jalla membenci seorang hamba, hanya  Dia katakan, “Entahlah, Aku tak peduli padanya…”.
Sedikit dan Banyak - Abu Yazid al-Bisthamy“Cinta adalah menganggap kecil dan sedikit apa saja yang kau anggap banyak dalam dirimu, lalu menganggap banyak apa saja yang sedikit dari Sang Kekasih.”
Lukisan Cinta - Muhammad Luqman HakimPara Sufi lalu membuat lukisan Cinta itu, dengan ungkapan-ungkapan surrealis yang indah.  Mereka katakan, CintaNya kepada hamba merupakan salah satu dari manifestasi Af’alNya, yaitu kebajikan spesial yang bertemu antara Dia dengan hambaNya, sekaligus juga kondisi anugerah ruhani yang yang membubung pada cinta itu. Cinta adalah dendam kebimbangan hati yang abadi.
Cinta adalah segalanya bagi yang dicintai, melamapaui apa saja yang dekat dengannya. Cinta adalah keselarasan demi keselarasan jiwa, baik di alam nyata maupun alam ghaib. Cinta adalah terhangusnya pecinta karena Sifat-sifatNya, dan kemandirian Yang Dicinta dengan DzatNya.  Cinta adalah langkah-langkah jalan Qalbu bagi hasrat Rabgbnya. Cinta adalah ketakutan-ketakutan untuk kehilangan kehormatan cinta dengan segala bakti sepenuhnya.
Jendela Cinta - Muhammad Luqman HakimKarena itu, bukalah jendela-jendela hatimu. Bukalah pintu-pintu jiwamu. Bukalah gerbang-gerbang akal dan fikiranmu. Bukalah lambang-lambang pengetahuanmu, agar Cahaya yang memendar abadi dari Kecintaan Ilahi, memasuki relung-relungmu, memenuhi seluruh dinding hatimu, mengembangkan bibir mungil dari bayi suci fitrahmu. Pintalah CintaNya dan Ma’rifatNya, agar memenuhi jiwamu. Namun, agar Jalan Cinta di depanmu begitu lempang ke Istana CintaNya, raihlah tangan-tangan Suci yang telah dilimpahi Cinta dan Ma’rifatNya, agar bisa membimbingmu ke Jalan Cinta yang sesungguhnya. Tangan-tangan para KekasihNya.
Selingkuh Kita - Muhammad Luqman HakimDalam pergumulan jiwa kita sehari-hari, -- diakui atau tidak -- seringkali terjadi perselingkuhan spiritual. Yang paling sederhana dari perselingkuhan itu ketika kita sedang menutupi jiwa kita dari pandangan Allah, kemudian kita bersembunyi dari Allah, berakhir dengan tindakan kita: melanggar aturan Allah.
Begitu kita langgar “janji cinta” antara kita dengan Allah, Kemahacemburuan Allah telah mengoyak jiwa kita, tanpa kita sadari sudah begitu lama kita berpaling dari Allah. Bahkan Allah hanya kita jadikan alibi sehari-hari, kita jadikan alasan-alasan kegagalan, kalau perlu Nama Allah kita jualbelikan dalam pasar kebudayaan dan politik, atau kepentingan nafsu lainnya.
Lalu, Allah kita bikin tarik ulur dalam qalbu kita. Terkadang Allah begitu jauh, terkadang begitu dekat, terkadang hadir, terkadang hilang, terkadang pula kita hempaskan ke hamparan hawa nafsu kita. Seakan-akan kita ini memiliki kekuasaan untuk mengatur segalanya, bahkan termasuk mengatur Allah dalam gerak gerik jiwa kita, khayalan dan persepsi kita. Bahkan Nama Allah sering kita sebut hanya untuk diketahui public bahwa kita akrab dengan Allah, kita ahli dzikir, kita sering munajat pada Allah. Padahal hanya kebusukan jiwa kita yang mendorong demikian. Seperti seseorang yang berteriak, “Saya lakukan ini Lillahi Ta’ala,….! Saya ikhlas, lho…ini demi Allah!”, sadar atau tidak ia menikmati riya’ jiwanya, agar disebut sebagai orang yang ikhlas. Dan inilah yang memang dimaui oleh masyarakat syetan. Perselingkuhan hebat.
Cinta Kepada Allah - Imam Syafi’iEngkau durhaka kepada Allah dan sekaligus menaruh cinta kepada-Nya. Ini adalah suatu kemustahilan. Apabila benar engkau mencintai-Nya, pastilah engkau taati semua perintah-Nya. Sesungguhnya orang menaruh cinta tentulah bersedia menaati perintah orang yang dicintainya. Dia telah kirimkan nikmat-Nya kepadamu setiap saat dan tak ada rasa syukur yang engkau panjatkan kepada-Nya
Mencintai Wanita - Imam Syafi’iSemua orang menyenangi wanita, tetapi mereka berkata, “Mencintai wanita adalah awal sebuah derita.” Bukan wanita yang membuat derita, tetapi mencintai wanita yang tidak mencintaimulah yang akan menciptakan derita bagimu
Senda Gurau - Imam Syafi’iYaqut al-Hamawi meriwayatkan dari Ibnu Umar al-Syafi’i, dia mengatakan bahwa Abu Abdillah al-Syafi’i pernah menikahi seorang wanita Quraisy di Mekkah. Kemudian al-Syafi’I pernah mencandai istrinya itu dengan mengatakan:
Di antara malapetaka yang sangat dahsyat adalah jika kamu mencintai wanita atau laki-laki yang tidak mencintai kamu. Ia akan selalu berpaling darimu. Meskipun kamu menungguinya dengan penuh kesabaran, ia tak akan menggrubismu
Membalas Kebaikan dengan Kejahatan - Imam Syafi’iMalapetaka paling besar adalah bila engkau mencintai seseorang yang sedang mencintai orang lain. Atau jika engkau mengharap kebaikan seseorang, akan tetapi justru orang itu berharap agar kita celaka atau binasa.
Mencintai Orang-orang Saleh - Imam Syafi’iAku mencintai orang-orang saleh, meskipun aku belum termasuk golongan mereka. Aku tetap berharap semoga aku mendapatkan syafaat dari mereka.Aku membenci orang-orang durhaka meskipun sebenarnya, mungkin, aku pun termasuk golongan mereka.
Kewajiban Mencintai Keluarga Rasulullah - Imam Syafi’iWahai keluarga Rasul! Mencintai kalian wajib hukumnya menurut al-Qur’an. Kami bangga dengan kalian. Orang yang tidak membaca shalawat untuk kalian, tidak akan mendapat rahmat.
Cinta Allah pada Manusia - Hadis Qudsi
Rasulullah Saw. bersabda, Allah Swt. berfirman:
Hamba-Ku yang beriman masih terus mendekatkan diri kepada-Ku sampai Aku mencitainya. Maka bila Aku mencintainya, jadilah Aku pendengarnya, penglihatannya…
Cinta Orang Kafir dan Beriman - QS. al-Baqarah: 165Dan di antara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah, mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman dengan sangat mencintai Allah.
Zuhud DuniaRasulullah Saw bersabda:Zuhudlah engkau pada dunia, pasti Allah akan mencintaimu. Zuhudlah pada apa yang ada pada manusia, pasti manusia mencintaimu.
Cinta bagaikan Bara ApiCinta adalah penyembuh bagi kebanggaan dan kesombongan, dan pengobat bagi seluruh kekurangan diri. Cinta adalah bara api yang siap membakar dan menyala, selain yang dicinta. Tauhid adalah pedang, yang jika diayunkan oleh pemiliknya akan dapat membakar semuanya, selain Allah Swt.
Ibadah dengan Cinta - Khalid Muhammad KhalidDi taman cinta yang indah mempesona, ibadah itu berubah menjadi keindahan dalam kehidupan yang membawa kesenangan, keriangan, dan kebahagiaan. Di bawah keteduhan naungan cinta, perintah ibadah tidak lagi menjadi beban yang harus dipikul, tetapi ia adalah sesuatu yang patut diterima dengan senang dan gembira.
Ingin Berjumpa dengan Allah - Khalid Muhammad KhalidCinta kepada Allah itu menarik-narik dari Ahlullah berbagai  penjuru, maka sebagian dari mereka ada yang menghendaki hidup seribu tahun agar kelezatan ibadah itu dapat dirasakan terus menerus dalam kerinduan. Sebagian lagi ada yang menghendaki secepatnya meninggalkan dunia fana ini, bahkan mereka sanggup membayarnya dengan harga yang mahal, agar mereka dapat segera merasakan manisnya perjumpaan dengan Allah Swt.
Cinta Membersihkan Hati - Muhammad Mahdi al-ShifiCinta kepada Allah dapat membersihkan hati dari kenistaan dan ketergantungan terhadap dunia. Cinta kepada Allah adalah faktor yang terkuat pengaruhnya dalam hati manusia. Ia adalah api dan cahaya. Ia membersihkan hati, menerangi dan memberinya keteguhan.
Menangis Bukan Karena Cinta Dunia - Muhammad Mahdi al-ShifiAmru bin Geis berkata sambil menangis di waktu menderita sakit yang menghantarkannya pada sang sakaratul maut:
“Saya bukan menangis karena dunia yang kalian cintai, tetapi yang kutangisi adalah terpisahnya tenggorokanku dari kehausan di musim panas dan terpisahnya diriku dari bangun malam di musim dingin.”
Rindu pada Allah - Muhammad Mahdi al-ShifiAbdullah bin Zakaria berkata: “Sekiranya aku disuruh memilih umur sampai seratus tahun dan kugunakan untuk beribadah kepada Allah dengan nyawaku diambil hari ini juga, niscaya kupilih nyawaku dicabut sekarang juga, karena rinduku kepada Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang saleh dari hamba-hamba-Nya.
Sakit CintaSuatu ketika, Jalaluddin Rumi ditanya gurunya, Syamsuddin Tabriz, “Apakah Anda tidak mengetahui, bahwa semua orang sakit mendambakan kesembuhan, kecuali para penderita sakit cinta, mereka merindukan sakitnya bertambah dan berhasrat agar sakitnya itu berlipat ganda. Cinta adalah penyakit, tetap ia akan membebaskan penderitaannya dari segala penyakit lain. Apabila penyakit cinta menimpa seseorang, maka dia tidak akan ditimpa penyakit lain. Ruhaninya menjadi sehat, bahwa nyawanya adalah kesehatan, yang semua orang ingin membelinya.

.:: Kalam Hikmah ::.

Saya melihat tiadalah keutamaan dalam membincangkan tentang karamah, kasyaf, ilham, firasat, mimpi, wali-wali ghaib, syeikh-syeikh yang hebat, perubatan, persoalan imam Mahdi dan dunia mistik yang lain. Sebaliknya agenda membangunkan ummah, keimanan, kasih sayang, kefahaman, amal, mujahadah, dakwah, jihad adalah lebih besar dan utama untuk dibincangkan.

Pada saya yang dhaif ini, ukuran natijah kerohanian dalam pengalaman Tariqat Tasawuf bukannya dilihat dari segi apa yang ia dapat dari alam ghaib seperti bisikan, mimpi yang hebat, karamah, firasat yang hebat, kelebihan perubatan atau persilatan. Tetapi, ukuran kehebatan kerohaniannya yang sebenar ialah keimanan, ketakwaan, tercabutnya mazmumah, ubudiyyah, pelaksanaan syariah, akhlak, ibadah, cinta ALLAH, Rasul, akhirat, warak, khusyuk dalam ibadah, ketenangan menghadapi musibah, mencintai dakwah dan jihad.

al-faqir ilaLlah Ibrahim Mohamad

Bab 8 .:: Kejayaan Dakwah Ulama Silam - Suatu Renungan ::.

Tanah Melayu telah menerima Islam kira-kira 700 tahun dahulu hasil usaha para pendakwah yang tidak mengenal penat dan lelah mnyampaikan agama ALLAH kepada kita. Mereka meninggalkan tanah air dan merantau ke serata pelusuk dunia bagi menyebarkan ajaran Tauhid.

Apa yang perlu kita lihat di sini ialah kejayaan para ulama ini dalam menyampaikan dakwahnya sehingga seluruh Alam Melayu atau Nusantara dapat di-Islamkan. Dakwah yang mereka bawa bukannya dengan pedang tetapi dengan kebijaksanaan. Mereka begitu dihormati sehingga orang Melayu yang kuat berpegang kepada agama Hindu dan Buddha telah berjaya di-Islamkan. Bukan sekadar rakyat jelata tetapi juga di kalangan raja-raja.

Hasil dari dakwah mereka, maka lahirlah ulama-ulama yang berwibawa sehingga orang Melayu amat cinta kepada Islam dan menjadi bangsa yang dihormati. Ulama-ulama seperti Syeikh Daud al-Fathani, Syeikh Ahmad al-Fathani, Syeikh Abdul Malek (Tokku Pulau Manis), Tokku Paloh, Tok Kenali, Syeikh Muhammad Said al-Linggi dan sebagainya telah berjaya menyuburkan ruh Islam dalam masyarakat Melayu. Amalan kerohanian dan keagamaan bukan sahaja hidup di kalangan rakyat, malah pemerintah dan ulama bergandingan memerintah negeri. Contohnya Tokku Paloh yang menjadi regu kepada Sultan Zainal Abidin III di Terengganu. Para ulama di zaman itu amat dihormati pemerintah dan dikasihi rakyat.

Apa yang mahu difokuskan di sini ialah kita sering lupa bahawa Tanah Melayu sudah mempunyai model-model dakwah yang perlu kita ikuti. Hal ini terjadi kerana kita kadang-kadang terlalu terpengaruh dengan idea dan pendekatan tokoh-tokoh Islam dari luar seperti Maulana Illias, Imam Hassan al-Banna, al-Maududi, Syed Quthub dan sebagainya, sehingga terlupa kepada ulama-ulama dan tokoh pendakwah yang telah berjaya membina Tamadun Islam di Tanah Melayu ini. Idea dan pendekatan dakwah yang kita ambil dari luar, walaupun mempunyai kebenaran dan terbukti berjaya di tempat mereka, tapi tidak semuanya sesuai dengan jiwa orang Melayu.

Sehingga hari ini, tokoh-tokoh pembaharuan Islam dalam masyarakat yang hebat dakwahnya di kalangan (jamaah) mereka masih tidak boleh menandingi kasih sayang dan ingatan masyarakat terhadap ulama-ulama dahulu. Ini dapat dilihat di mana sehingga kini kitab-kitab, ilmu dan sejarah mereka masih menjadi sebutan di bibir masyarakat. Maqam mereka masih dikunjungi, ilmu dan nasihat mereka masih memberi kesan pada jiwa anak Melayu.

Kalau ditanya pada orang Kelantan, nasihat siapakah yang mereka akan dengar sama ada Tok Kenali atau ulama/pendakwah zaman ini, nescaya mereka akan memilih Tok Kenali, walaupun mereka tidak pernah melihatnya. Ini kerana pendekatan ulama tersebut memberi kesan kepada orang Melayu sehingga kehebatannya menjadi buah mulut dari satu generasi ke satu generasi. Oleh itu, kenapa kita perlu mengambil model yang jauh, sedangkan belum tentu ideanya akan berjaya di sini.

Apa yang diperhatikan, banyak gerakan Islam menjadi hancur pada kemuncaknya. Ada yang menjadi beku dan buntu dengan tidak tahu ke arah mana mereka mahu tuju. Programnya, sama ada program dalaman atau luaran stereotaip sahaja, malah makin perlahan
. Malah masyarakat semakin rosak walaupun pelbagai usaha yang mereka lakukan.

Idea menubuhkan parti sebagai wasilah untuk berdakwah dan menegakkan Islam juga semakin memperlihatkan banyak kelemahan. Ia bukan menjadi semakin kuat tetapi semakin lemah. Memang tidak dinafikan ia juga banyak memberi manfaat kepada Islam, dapat menghimpunkan masyarakat dan ulama supaya menerima idea-idea yang dilontarkan. Tapi, pada pandangan saya, adalah tidak praktikal menghimpunkan semua anggota masyarakat dalam parti kerana politik kepartian hanyalah salah satu dari ribuan wasilah dakwah yang boleh dilakukan, sebagaimana istilah "bil hikmah - bijaksana" dalam al-Quran.

Apa yang dibimbangkan, apabila masing-masing asyik menumpukan kepada soal perebutan kuasa sesama sendiri, sibuk membida'ahkan sesama sendiri, sibuk menyalahkan sesama sendiri, sibuk untuk mendapat nama dan pengiktirafan - akhirnya penumpuan kepada agenda pembinaan manusia diabaikan tanpa kita sedari. Masyarakat semakin rosak, iman makin luntur dari jiwa mereka. Lebih malang lagi, kerosakan ini turut berlaku ke atas anak-anak para pendukung jamaah Islam sendiri.

Dalam satu kajian yang dilakukan oleh pakar motivasi Dato' Dr. Fadhilah Kamsah, didapati 80% umat Islam hari ini tidak menyempurnakan dengan cukup sembahyang fardhu lima kali sehari. Semua orang tahu bahawa sembahyang merupakan tiang agama. Jika tiangnya sudah tiada, apa lagi kekuatan kekuatan yang ada pada bangsa Melayu Islam ini. Ingatlah kata-kata Sayyidina Umar al-Khattab (r.a) bahawa, "Bangsa Arab menjadi mulia bukan kerana ia Arab, tetapi Arab mulia kerana ia memilih Islam. Jika ia meninggalkan Islam, nescaya ia kembali menjadi hina."

Hal yang sama boleh berlaku kepada bangsa Melayu. Islam juga telah membawa kemuliaan pada bangsa ini, dari bangsa yang menyembah dewa-dewa, pohon kayu dan perkara tahyul, Islam telah membawa mereka kepada Tuhan Semesta Alam. Umat Melayu diberi penekanan ilmu sehingga lahirnya dari Nusantara ini ulama-ulama dan pemerintah yang dihormati. Islam telah membina jatidiri bangsa ini, Islam telah juga memberi kekuatan pada bangsa ini, namun bangsa ini akan hilang jatidirinya bila mereka meninggalkan Islam. Mereka akan menjadi bangsa yang lemah, ideologi dan budaya Barat dijadikan pegangan, dan menuju kehancuran. Apa yang dibimbangkan lagi, ALLAH akan menghina bangsa ini dan ALLAH memilih bangsa lain untuk menegakkan agamaNya.

Gerakan yang mendakwa mahu kembali kepada al-Quran dan Sunnah sehingga membida'ahkan beberapa amalan yang sudah hidup subur dalam masyarakat Islam, melarang bermazhab, menolak pengajian kitab tua dan sebagainya tidak akan berjaya walaupun pelbagai usaha dilakukan. Ini disebabkan idea tersebut bertentangan dengan pegangan para ulama-ulama tradisional yang amat dihormati masyarakat. Idea tersebut mungkin diterima di kalangan orang Melayu kelas menengah tetapi akan ditolak oleh orang Melayu 'bawahan'. Golongan pertengahan pun belum tentu semuanya menerima idea itu kerana mereka juga tidak boleh menerima jika ada golongan yang mahu memperlekehkan atau menolak ulama-ulama dahulu. Apakah kelayakan golongan itu pada kacamata mereka untuk membida'ahkan ulama-ulama dahulu ?


Begitu juga dengan golongan yang merendahkan para sahabat Nabi SAW. Mereka juga tidak boleh bertapak jauh walaupun tidak dinafikan ada segelintir orang yang terpengaruh dengan idea-idea tersebut. Kebanyakan mereka tidak mempunyai pengajian yang mendalam terhadap kitab-kitab para ulama dahulu. Justeru itu sebaiknya kita cuba menoleh kepada ulama-ulama dahulu dengan melakukan kajian yang mendalam sehingga kita makrifat (mengenal dengan sebenar-benarnya) pada mereka. Kita juga perlu mendalami dan mempelajari kehebatan ilmu, ibadah, akhlak, dakwah, politik dan kepimpinan mereka untuk dijadikan model dalam aspek pembinaan masyarakat Islam di Malaysia. Dalam konteks negara kita, mereka merupakan role model yang terbaik untuk kita ikuti.

Cuba kita lihat kejayaan para ulama dahulu dalam menyebarkan dakwah Islam. Contohnya Syarif Muhammad al-Bahgdadi yang memulakan dakwah di Kuala Berang, Terengganu 700 tahun yang lampau, Wali Sembilan di Indonesia dan PengIslaman Kerajaan Pattani. Mereka telah berjaya mengembangkan Islam dengan meluas hasil kebijaksanaan dakwah mereka. Islam tidak sukar diterima sehingga dapat menukar budaya dan cara hidup Hindu/ Buddha kepada cara hidup Islam secara beransur-ansur. Kebijaksanaan seperti inilah digunakan penjajah Inggeris dalam menyebarkan budaya mereka sehingga orang Melayu boleh menerimanya dan ramai yang tidak menentangnya, walaupun budaya penjajah bertentangan dengan budaya Melayu dan Islam.

Pada hari ini keruntuhan orang Melayu dari segi agama dan budaya berlaku satu demi satu. Jika tidak bangkit gerakan penyelamat, mungkin Islam dan Melayu hanya tinggal nama sahaja sebagaimana kebanyakan Masyarakat Melayu dan Islam.

Pada hari ini keruntuhan orang Melayu dari segi Agama dan budaya berlaku satu demi satu. Jika tidak bangkit gerakan penyelamat, mungkin Islam dan Melayu hanya tinggal nama sahaja sebagaimana kebanyakan masyarakat Islam di Selatan Thailand dahulu. Mereka hanya tahu bahawa Islam mengharamkan makan babi sahaja, sedangkan budaya dan amalan agama mereka telah hilang. Mereka 100% mengikut cara hidup orang Siam walaupun mereka bukan penganut Buddha.

Apakah erti Islam kepada penganutnya jika amalan Islam sendiri tidak diketahui. Dari pengamatan yang dibuat sebenarnya kita juga telah mengalami buta agama dan budaya di kalangan generasi muda hari ini. Mereka langsung tidak memahami agama melainkan dalam perkara tertentu sahaja seperti wajib sembahyang , puasa, zakat dan haji. Itupun seperti yang didakwa oleh Dato' Dr Fadhilah Kamsah, hanya 20% sahaja yang menunaikan sembahyang cukup 5 kali sehari. Yang kita takut ialah budaya Barat yang membawa mesej untuk menyesatkan umat Islam itu diterima dengan rasa megah dan akhirnya meruntuhkan amalan Islam di Malaysia dan bangkitnya budaya Barat, walaupun pemerintah dan rakyatnya ramai di kalangan orang Islam. Akhirnya kita tersungkur jatuh akibat rancangan Yahudi dan Nasrani tanpa setitik darah syuhada. Kesimpulan yang boleh dibuat ialah orang Melayu adalah bangsa yang begitu mudah mengikut apa jua yang dibentangkan jika kena caranya.

Jika difikirkan, pihak penjajah sepatutnya lebih sukar menundukkan orang Melayu kerana mereka membawa suatu budaya yang bertentangan dengan agama dan budaya orang Melayu seperti pergaulan bebas lelaki dan perempuan, budaya minum arak dalam majlis pembesar, wanita tidak malu membuka aurat. Namun kerana kebijaksanaan mereka membaca kelemahan orang Melayu, rancangan mereka berjaya walaupun menghadapi kesukaran.

Sehingga kini budaya mereka menjadi amalan kelompok masyarakat besar terutamanya di Pantai Barat. Amalan Islam semakin terpinggir malah menjadi dagang (asing). Yang membimbangkan, bila runtuhnya satu demi satu amalan Islam dan budaya Melayu, akhirnya tertanggal pula akidah islam, maka hancurlah bangsa ini dan menjadi hina di sisi ALLAH. Walaupun kita mohon ALLAH jauhkan hal ini berlaku di negara kita yang tercinta ini, tapi tiada mustahil ALLAH menurunkan balanya seperti yang ditimpakan ke atas Palestin, Bosnia dan Iraq.

Tiada masa lagi sebenarnya untuk kita leka. Semangat cintakan agama, bangsa dan negara akan membangkitkan kekuatan untuk kita bangkit sebagai penyelamat ummah. Saya melihat tiada sebab orang Melayu tidak boleh menerima Islam dan kembali berpegang teguh dengan ajarannya jika para pendakwah pandai mengolahkannya. Ini kerana mereka adalah bangsa yang lembut jiwa dan mudah dibentuk jika kena cara mendekatinya.

Dengan kehebatan ilmu, fikrah dan gerak kerja ulama, para pendakwah dan para pemikir moden di seluruh dunia yang kita ambil untuk membangunkan dakwah di sini, alangkah baiknya juga kita menoleh kepada kehebatan ulama-ulama silam dan kejayaan mereka merubah dan membentuk jatidiri orang Melayu dari golongan istana sehingga golongan bawahan. Sehingga kini tiada dapat kita nafikan mereka lebih dekat dengan orang Melayu berbanding ulama zaman ini. Nama dan kitab mereka terus menjadi rujukan utama orang Melayu, diajar di surau dan masjid. Kenapa pula kita terlalu melihat kepada pendakwah di luar negara sehingga melupakan para pendakwah di sini. Kita perlu mengkaji kembali ilmu, amalan, akhlak, pemikiran, dakwah, politik dan budaya yang mereka bawa sehingga runtuhnya kerajaan Hindu di Tanah Melayu dan Indonesia. Jika kita dapat adunkan kehebatan pendakwah silam dan masa kini, insya ALLAH kita boleh berjaya dalam usaha kita.

Tiga asas penting yang telah dibina oleh ulama dahulu di Nusantara ini ialah akidah Ahli Sunnah wal Jamaah yang berasaskan pegangan Imam Abu Hasan al-Asya'ari dan Imam Abu Mansur al-Maturidi, fekah mazhab Imam Syafie dan tarekah tasawuf aliran Imam al-Ghazali. Ini dapat kita lihat pada kitab-kitab mereka yang ada di tangan kita hari ini. Tiga asas ini adalah pegangan majoriti umat Islam Nusantara. Jika gerakan dakwah tidak menghormati asas-asas ini, mereka bagaikan menentang arus yang besar. Dakwah mereka akan terpinggir walaupun mereka dikatakan golongan muda yang ingin membawa perubahan dalam amal-amal Islam.

Pegangan ini sudah sebati dengan jiwa orang Melayu. Walaupun kita memiliki gelaran Phd. sekalipun, kita tak mampu merombak kasih sayang dan kepecayaan orang Melayu terhadap keilmuan dan kehebatan ulama tradisional Melayu. Cerita Tok Kenali dapat menjawab persoalan-persoalan yang membingungkan ulama-ulama Arab di zamannya, sehingga keilmuan beliau dikagumi di Mesir dan ini amat membanggakan orang Melayu.

Begitu juga dengan Syeikh Ahmad al-Fathani, guru kepada Tok kenali. Beliau adalah ulama yang diiktiraf sebagai guru di Masjidil Haram, Makkah, yang mana ia menjadi pusat pengajian Islam bagi umat Islam di seluruh pelusuk dunia ketika itu. Syeikh Ahmad juga dipanggil menjadi orang tengah untuk menyelesaikan beberapa permasalahan ilmu yang timbul. Ketinggian ilmu Syeikh Ahmad al-Fathani dapat dilihat pada kitab-kitabnya yang menjadi rujukan ulama di seluruh dunia dan dijadikan pengajian di madrasah-madrasah ilmu Alam Melayu dan Nusantara. Sehingga kini tiada lagi ulama moden di negara kita yang mana kitabnya menjadi rujukan di serata dunia atau pengajian kepada seluruh Nusantara.