Ahad, September 15

Kisah sufi ( rindu rasul )


Suatu saat, ada orang yang ingin sekali bertemu dengan Nabi saw di mimpinya, tetapi keinginannya itu tak pernah terkabul; meskipun ia telah berusaha amat kuat dan keras. Ia meminta nasihat kepada seorang sufi. Sufi itu menjawab, ?Anakku, pada Jumat malam nanti, banyak-banyaklah kau makan ikan asin, tunaikan salatmu, dan langsunglah engkau pergi tidur tanpa minum air setetes pun. Keinginanmu akan terpenuhi.

Orang itu pun melaksanakan anjuran sang sufi. Setelah itu, ia langsung tidur. Sepanjang malam ia bermimpi terus menerus minum air dari puluhan mata air. Ketika pagi menjelang, ia bergegas menemui sufi itu, ?Wahai Maulana, aku tak melihat Nabi dalam mimpiku. Aku begitu kehausan sehingga yang aku impikan hanyalah minum air dari puluhan mata air. Sekarang pun aku masih tersiksa dengan rasa dahaga.

Sang sufi berkata padanya, ?Makan ikan asin telah memberimu dahaga yang begitu menyiksa sehingga sepanjang malam engkau hanya bermimpi tentang air minum. Sekarang kau harus merasakan dahaga yang sama akan Rasul-Nya, barulah engkau boleh memeluk anugerah terindahnya!

Pedagang ( Rahasia kebenaran)


Seorang guru mistik, setelah ia mencapai pengetahuan yang serba rahasia mengenai kebenaran sejati, yaitu pengetahuan yang hanya dapat dicapai oleh segelintir manusia, ia bermukim di Basrah.

Di sana ia memulai sebuah usaha dan dalam beberapa tahun saja telah memperoleh kemajuan.

Pada suatu hari seorang guru sufi yang telah mengenalnya beberapa tahun yang lalu, namun masih berada di atas jalan yang ditempuh oleh para pencari kebenaran, singgah di tempat kediamannya.

“Betapa gundah hatiku menyaksikan engkau yang telah meninggalkan pencarian dan jalan kaum mistik,” berkata sang guru sufi. Pedagang yang arif bijaksana itu hanya tersenyum dan tidak memberi komentar apa-apa.

Sang guru sufi kemudian meneruskan perjalanan dan didalam wejangan-wejangannya dikemudian hari ia sering kisahkan, betapa seseorang bekas sufi yang kemudian beralih kepada cita-cita yang rendah dalam dunia perdagangan karena ia tampaknya tak memiliki tekad yang perlu untuk menyelesaikan perjalanan.

Tetapi sang guru sufi pengelana ini akhirnya bertemu dengan Khaidir, sang penunjuk jalan rahasia. Si guru sufi memohon kepada Khaidir untuk mengantarkannya kepada guru arif bijaksana pada zaman itu, yang akan memberkahi terang ke dalam hatinya.

Khaidir berkata:

“Jumpailah seseorang pedagang anu, duduklah di kakinya, dan laksanakanlah kerja kasar yang disuruhnya”.

Sang guru sufi tidak habis pikir, iapun berkata dengan tergagap:

“Tetapi betapa mungkin bahwa pedagang itu adalah salah seorang dari manusia-manusia terpilih, apalagi sebagai guru agung zaman kini?”

Khaidir menjawab:

“Karena ketika ia mendapatkan terang ia pun telah berhasil memperoleh pengetahuan duniawi. Untuk pertama kali ia rnenyadari bahwa sikap manusia suci menarik orang-orang tamak yang berpura-pura mencari pengetahuan spirituil dan menolak orang-orang tulus yang tidak takjub kepada penampilan lahiriah. Aku telah menunjukkan kepadanya betapa guru-guru yang saleh dapat ditenggelamkan oleh pengikut-pengikutnya. Maka ia memberi pengajaran dengan diam-diam dan bagi orang-orang yang dangkal penglihatan ia hanyalah seorang pedagang biasa.”

Rahasia hati


Hati laksana sebuah wadah. Jika kalian gunakan wadah itu, lalu memenuhinya dengan air maka kalian tidak bisa memasukkan susu di wadah yang sama.
Jika penuh dengan susu, kalian tak mampu mengisinya lagi dengan minyak.Jika kalian penuhi dengan minyak, maka teh tak dapat dimasukkan. Wadah itu hanya bisa terisi dengan salah satunya saja.

Salah satu dari sifat buruk dari tubuh fisik materi adalah melekatny cinta pada dunia dan segala hal diatas bumi ini. Kebanyakan manusia terpikat, mengejar, dan memenuhi hatinya dengan cinta akan dunia ini sehingga tidak ada tempat lagi akan cinta pada Tuhan. Walaupun mereka mengatakan : “Tuhan adalah cinta”, mereka semua pembohong. Tuhan bukanlah cinta dan cinta bukanlah Tuhan, namun ada cinta untuk Tuhan yang mampu membuat kalian mendekati Hadirat-Nya.

Jika kalian bersihkan hati dari cinta dunia yang sementara ini, maka cinta abadi itu akan memasuki hati kalian. Cinta abadi itu akan meningkatkankan kekuatan spiritual dan memudahkan kalian mencapai hadirat-Nya. Jika kalian mampu melakukannya, kalian akan menemukan manfaat yang hakiki dan abadi.

Rahasia Para Awliya


Sayyidina Abdul Qadir Jailani kala itu sedang berada di Baqhdad. Beliau dengan murid terbaiknya mendaki bukit yang sangat tinggi. Beliau ingin mengujinya. Didorongnya murid itu agar jatuh ke sungai. Murid itu menyerah, tunduk pada syaikhnya. Dia adalah bayangan syaikhnya. “Bayangan” berarti kalian menyerah, namun tidak secara total. Masih ada keraguan di dalam hati . Apakah yang dimaksud sebagai ‘menyerah secara total’ ?

Para syaikh mengatakan : “ Kami tidak ingin seseorang datang pada kami seperti mayat, karena meskipun sudah jadi mayat, mereka masih menyimpan keinginan.”

Ketika kalian meninggal, kalian masih mempunyai keinginan dan belum menyerah secara total. Nabi ( kedamaian tercurah pada beliau ) bersabda bahwa ketika seseorang meninggal dan kalian memandikannya dengan air dingin, maka jasad itu akan mengatakan : “ Ini terlalu dingin. Buatlah hangat sedikit.” Jika terlalu panas, jasad itupun mengatakan : “ Buatlah agak dingin sedikit.” Dan jika kalian menggosok mayat itu dengan kasar, diapun bisa merasakan sakit. Itulah mengapa Nabi mengatakan , ” Sayangilah jasad orang mati, karena meskipun tidak bisa bicara, dia bisa merasakan.”
Itulah mengapa dalam Islam tidak diizinkan memotong jasad atau melakukan otopsi apalagi membakarnya. Mereka merasakan apapun tanpa kalian sadari. Walaupun dalam keadaan seperti ini, mayat itu masih belum ada penyerahan total. Penyerahan diri yang benar adalah ibarat selembar daun. Jika mengering, diapun jatuh dan daun itu pergi kemanapun angin membawanya, ke utara atau selatan atau barat. Bahkan jika angin itu terseret ke dalam api, daun itu tidak mengatakan apapun. Menyerah total seperti inilah yang kami inginkan dari para murid. Tidak ada keinginan lagi. Ketika sayyidina Abdul Qadir mendorong muridnya, maka yang terjadi adalah dia memang menyerah, namun masih ada tanda tanya di dalam hatinya, “ Atas alasan apa syaikh mendorongku terjun ke sungai ?” Murid itu menerima apapun, jika syaikhnya menginginkan dia mati, diapun rela mati demi syaikhnya. Tapi dia masih bertanya : atas alasan apa ? apakah kearifan dibalik ini ?

Kearifannya, hai kalian murid-murid yang idiot ! adalah untuk memberikan rahasia kalian. Segera setelah murid sampai ke air, tangan syaikh berada di bawahnya. Syaikh mampu mendeteksi apa yang ada didalam hati muridnya. Itulah mengapa kami mengatakan bahwa duduk didekat syaikh seperti duduk di dekat api. Satu kesalahan saja mampu membakar kalian. Dan itulah sebabnya murid sayyidina ‘Ubaydu-l-Lah al-Ahrar selalu memilih duduk didekat deretan sepatu-sepatu daripada di dekat syaikhnya. Mereka sadar akan maqamnya, biarkan yang lain ingin mengambil apa yang ingin diambil, aku tidak tertarik. Batasku masih sampai sepatu, aku tidak lebih baik dari sepatu. Itulah maqamku di hadapan syaikhku, yaitu membersihkan sepatu.

Maqam seperti itulah yang dibutuhkan. Bukannya duduk dengan sombong agar dikira seorang alim besar. Kalian belum sampai tingkatan itu. Jika waktunya sampai, syaikh akan memberikan kekuatan itu. Jika belum siap, syaikhpun tidak akan memberikannya. Kalian masih harus berjalan terus sampai meraih pemahaman yang benar tentang syaikh. Bay’at sebenarnya bukanlah sesuatu yang mudah untuk diberikan. Di abad ini, sebagaimana saya katakan, para awliya bertanya pada Nabi : Ya Rasulullah, apa yang bisa kami lakukan ? ini sungguh sulit.

Para awliya ada di seluruh penjuru dunia. Sedikitnya sekali dalam seminggu, setiap manusia, walaupun dia sedang duduk di puncak gunung manapun pasti bertemu dengan seorang wali yang datang mengucapkan salam padanya. Kadang hanya melihatnya dan pergi. Kalian bahkan tidak sadar bahwa dia adalah seorang wali. Beliau mendatangi kalian dengan berbagai macam samaran. Beliau memandang kalian, mengambil dosa-dosa kalian dan pergi. Itulah tugas seluruh awliya dan mereka ada dimana-mana.

Ketika para awliya ini melihat segala macam kegelapan dan ketidak pedulian menutupi dunia ini, mereka meminta dan memohon pada Nabi dan Nabi memohonkannya pada Allah SWT agar diberi izin lebih dan kekuatan lebih bagi para wali untuk menanggung berbagai tanggung jawab murid-muridnya.

Wa min Allah at-Tawfiq bi hurmat al-Fatiha

Nasehat Abdullah bin mas'ud


Seorang laki-laki berada di sisi beliau dan berkata, “Aku tidak ingin menjadi golongan kanan, aku ingin termasuk golongan muqarrabun saja.” Abdullah berkata, “Bahkan disini ada orang yang apabila meninggal nanti tidak ingin dibangkitakan. ” (yakni beliau)


* Suatu saat beliau keluar dan diikuti oleh beberapa orang. Beliau bertanya kepada mereka, “Adakah kalian memiliki kepentingan sehingga mengikutiku? ” Mereka menjawab,”Tidak ada, kami hanya ingin berjalan bersama anda.” Abdullah berkata, “Kembalilah kalian, sesungguhnya yang demikian ini menyebabkan hina bagi yang mengikuti dan fitnah bagi yang diikuti.”


* Abdullah berkata, “Seandainya kalian mengetahui apa yang ada pada diriku sebagaimana yang aku ketahui tentang diriku, niscaya akan kalian taburkan tanah di kepalaku.”


* Abdullah berkata, “Barangsiapa mengerjakan kebaikan, niscaya Allah akan memberi kebaikan kepadanya dan barangsiapa menjaga dari kejahatan, niscaya Allah akan menjaganya.”


* Orang-orang yang bertakwa adalah pemuka, para ahli fiqih adalah pemimpin, bergaul dengan mereka akan menambah kebaikan.”


* Sebaik-baik perkara yang dibenci adalah kematian dan kefakiran. Demi Allah tidak ada lain kecuali kaya atau miskin. Aku tidak peduli, dengan yang mana aku diuji. Aku hanya berharap kepada Allah dalam keadaan kaya atau miskin. Bila kaya, semoga Allah memberiku kedermawanan. Apabila fakir, semoga Allah memberiku kesabaran.


* Selagi engkau dalam shalat, berarti engkau sedang mengetuk pintu Raja. Barangsiapa mengetuk pintu Raja, niscaya akan dibukakan baginya.


* Seringkali syahwat mengakibatkan sedih berkepanjangan.


* Bila zina dan riba telah dilakukan dengan terang-terangan di suatu desa, pertanda akan datang kehancurannya.


* Carilah hatimu di tiga tempat, saat mendengar Al-Qur’an, di tempat majelis dzikir dan saat-saat menyendiri. Bila engkau tidak mendapatinya, maka mohonlah kepada Allah agar Dia menganugerahkan hati (yang baru) kepadamu, karena sesungguhnya engkau sudah tidak lagi memiliki hati.


* Tiada sesuatupun di muka bumi yang lebih perlu untuk lama dipenjara daripada lisan.


* Ilmu bukanlah karena banyaknya menghafal riwayat, akan tetapi ilmu adalah rasa takut.


* Setiap pandangan yang haram adalah santapan bagi syetan


* Sudah sepantasnya bagi pembawa Al-Qur’an menghidupkan malamnya di saat manusia tidur, shaum di siang hari di saat manusia berbuka, menunjukkan kesedihannya saat manusia bersenang-senang, menangis di saat manusia tertawa, diam saat manusia banyak bicara, khusyu’ saat manusia sombong. Hendaknya seorang pembawa Al-Qur’an senantiasa menangis, sedih, bijaksana, lemah lembut dan tenang. Dan tidak sepantasnya seorang pembawa Al-Qur’an itu keras hati, lalai, banyak bicara dan kasar.


* Bersama kegembiraan pasti ada kesedihan. Tiada rumah yang mendapatkan kenikmatan, melainkan mendapatkan pula pelajaran. Masing-masing kalian adalah tamu, sedangkan hartanya adalah pinjaman. Setiap tamu akan segera pulang, sedangkan pinjaman dikembalikan kepada pemiliknya.


Diambil dari: Menjadi Kekasih Allah,karya Ibnu Qoyyim Al-Jauziyah