Sabtu, Februari 16

KEINDAHAN CINTA


Manusia dalam dirinya dianugerahi rasa cinta. Cinta inilah yang memberikan manusia daya hidup dan perjuangan. Dengan cinta manusia membangun keharmonisan hidup bersama manusia lainnya. Dengan cinta manusia membina hubungan rumah tangga. Bisa dibayangkan membangun keluarga tanpa cinta, maka yang timbul adalah kegundahan dan kegelisahan. Dengan cinta pula manusia mengabdi kepada Tuhannya.

Manusia yang hidup tanpa memiliki rasa cinta, maka hidupnya dipenuhi benci dan dendam. Manusia tanpa rasa cinta, maka yang muncul adalah keegoan. Dengan cinta, manusia dapat melangsungkan hidup dengan kegembiraan dan kepuasan. Cinta lah yang memberikan energi pada manusia untuk melaksanakan tujuan hidupnya. Cinta pula yang memberikan gairah dan semangat hidup pada manusia.

Namun dengan cinta pula manusia dapat terjerumus dalam lembah kenistaan, yaitu ketika manusia cinta dunia dan kekuasaan. Cinta dunia inilah yang membawa manusia pada titik nadir kemanusiaan, manusia kehilangan spritualitas karena cinta pada materi. Manusia kehilangan ruh kemanusiaannya menjadi seperti hewan , karena manusia telah teramat cinta pada kebutuhan jasmani semata, maka manusia seperti ini bagai binatang. Ia hanya mengumbar syahwat jasmani saja, inilah yang terdapat pada hewan. Cinta pada kekuasaan membawa manusia pada tirani bagi manusia lain. Tidak tertebar lagi rasa cinta lagi pada manusia, yang ada adalah nafsu berkuasa.

Sesungguhnya cinta manusia dapat dibagi menjadi dua : “cinta sejati” (‘isyq haqiqi), atau cinta pada Tuhan; dan “cinta imitasi” (‘isyq majazi), atau cinta terhadap segala lain-Nya. Tapi, dalam pengujian yang lebih dekat, orang melihat semua cinta sesungguhnya adalah cinta pada Tuhan, karena segala sesuatu adalah pantulan dan bayang-bayang-Nya. Sedangkan adanya perbedaan antara dua jenis cinta tersebut dikarenakan orang memahami yang ada hanyalah Tuhan dan cinta untuk-Nya semata. Sedangkan cinta pada yang lainnya, karena meyakini adanya keterlepasan eksistensi dari-Nya atas segala objek keinginan yang dicintai, dan tidak mengarahkan pada hubungan cinta terhadap-Nya.

Padahal cinta kepada yang selain-Nya tapi berasal dari-Nya, akan membawa orang kepada-Nya. Setiap objek keinginan dari orang perorang akan menunjukkan kepalsuannya, dan orang akan mengalihkan cintanya. Namun, bagaimanapun juga setiap hasrat (cinta) tidak akan menemukan Kekasih Sejati kecuali setelah kematian, manakala ia sudah terlambat untuk menutup jurang keterpisahan. Pada saat itu, sesal kemudian tidak berguna, karena dalam hidupnya manusia seperti ini telah memberikan cintanya pada selain Tuhan. Bagi seorang Sufi, hanya ada satu Yang Tercinta; dia melihat bahwa semua cinta “palsu” beku dan tidak nyata selain kepada Tuhan.

Dalam konteks ini, Rûmî menerangkan hakikat keindahan cinta sejati secara ringkas dan jelas: Keindahan adalah setetes air yang berasal dari Lautan yang tak berwatas, atau sebuah cahaya yang memantul pada dinding. Semua keindahan berasal dari dunia lain, yang ada disini hanyalah kesementaraan dan pinjaman. Keindahan yang sesungguhnya hanya ada pada Tuhan.

Seperti juga yang diungkapan Rûmî :

Keindahan uang palsu itu adalah sesuatu yang terpinjam, di balik kecantikannya tersimpan kepalsuannya.

Dari perkataan Rûmî bahwa cinta pada kecantikan dunia merupakan cinta palsu. Cinta seperti ini hanya menghasilkan tujuan semu bagi manusia. Jika manusia mengejar dunia, manusia seperti mengejar fatamorgana, yang jika dikejar maka ia tidak akan pernah terpegang. Karena akan menghilang begitu kita sampai di dekatnya. Begitu juga dengan cinta manusia pada dunia, manusia tidak akan pernah puas untuk terus memperbanyak harta dunia.

Sebuah syair yang diungkapkan oleh Rûmî yang menggambarkan tentang cinta dunia berbunyi:

Manusia merasakan cinta, derita, rasa sakit, dan segala hasrat yang seandainya sekalipun seratus dunia telah menjadi miliknya, ia tetap terus mencari, tidak pernah istirah atau menenukan ketenangan. Orang-orang seperti ini menyibukkan diri sepenuhnya dengan segala kemampuan, keahlian, dan kedudukan; mereka mempelajari astronomi, obat-obatan, dan lain sebagainya, tapi mereka tidak pernah memperoleh rasa tenteram, sebab tujuan mereka belum tercapai. Adapun Yang Tercinta, bagaimanapun juga, adalah “ketenteraman hati,” karena hati mencapai tujuan melalui-Nya. Maka, bagaimana mungkin ia menemukan ketenteraman dan kedamaian melalui yang lain ?

Inilah keindahan yang menimbulkan cinta palsu adalah dunia ini. Pada kecantikannya terdapat kepalsuannya. Jadi jika manusia ingin mendapatkan cinta sejati ialah cinta pada Tuhan, yang telah memberikan cinta dan keindahan itu. Manusia tidak terpesona oleh keindahan pantulan-Nya yaitu keindahan dunia ini. Dalam sebuah syairnya Rûmî juga berujar :

Cinta adalah Sifat Tuhan, yang tidak membutuhkan apapun, cinta pada selain-Nya adalah palsu.

Tuhan adalah mata air cinta, sebagaimana Dia adalah sumber segala yang ada. Tapi apa makna “Tuhan adalah Cinta “? Kenyataan bahwa begitu banyak ayat al-Quran menyatakan Cinta adalah Sifat Tuhan. Karenanya, sering disebut-sebut dalam Kitab Suci itu, Tuhan “mencintai” sesuatu. Para Sufi biasa mengutip ayat berikut ini, yang berbicara tentang hubungan hirarkis antara Cinta Tuhan kepada manusia kepada-Nya, yang terakhir bermuara dari yang pertama:

“Tuhan akan mendatangkan suatu kaum yang Dia mencintai mereka dan mereka mencintai-Nya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang Mukmin, dan keras terhadap orang-orang kafir , yang berjihad di jalan-Nya dan tidak risau oleh celaan orang-orang yang suka mencela” (Qs.5:54)

Kecintaan manusia pada Tuhannya merupakan cinta sejati. Sedangkan kecintaan manusia pada dunia merupakan cinta imitasi. Jika manusia lebih mencintai dunia, maka ia sebenarnya telah mendekatkan dirinya pada jurang kehancuran. Manusia telah membuang percuma waktu di dunia untuk mencinta yang palsu dan tidak hakiki.

Menurut Husain Mazhahiri ada lima ciri orang cinta pada dunia. Pertama, keadaan mewah. Hal ini menunjukkan tenggelamnya seseorang dalam kecintaan kepada dunia. Keadaan ini jika sampai menguasai manusia, maka ia akan mendorongnya untuk bersikap lalim dan angkuh, dan kemudian manusia itu akan mendapatkan kecelakaan dan kehancuran.

Keadaan mewah menyebabkan yang bersangkutan tenggelam dalam syahwat dan kenikmatan-kenikmatan duniawi, yang pada akhirnya mengiringnya menuju sikap lalim dan mendustakan para Nabi. Allah SWT berfirman :

“Sesungguhnya manusia benar-benar malampaui batas, karena dia melihat dirinya seba cukup.” (QS. al-‘Alaq:6).

Ciri kedua ialah sikap berlebih-lebihan dan mubazir. Mereka yang berlebih-lebihan dan bergaya hidup mewah, ialah orang-orang yang tenggelam dalam kecintaan kepada dunia. Al-Quran al-Karim mencela mereka dengan keras dan menyifati mereka sebagai saudara-saudara setan. “Sesungguhnya orang-orang yang mengerjakan hal-hal yang berlebihan (mubazir), mereka adalah saudara-saudara setan.” (QS.al-Isra:27)

Sedangkan yang ketiga adalah ketergantuingan hati kepada hal-hal duniawi yang bersifat mubah. Yakni manusia tergantung kepada harta, makan, kenyamanan, seks, dan sebagainya. Salah satu contoh ketergantungan kepada dunia ialah merokok. Merokok berbahaya bagi kesehatan badan dan ekonomi negara, begitu juga bagi kesehatan rohani dan keselamatan masyarakat. Dengan melepaskan ketergantungan dari hal-hal duniawi yang bersfat mubah, maka ia telah menjadi orang yang mampu mengendalikan dirinya. Pengendalian diri merupakan penyangga dari keterpelesetan pada dosa.

Dengan mengendalikan diri dari kecintaan terhadap dunia akan membawa manusia pada nilai-nilai kecintaan sejati. Sebuah cinta sejati pada Tuhan. Sedangkan kecintaan manusia pada dunia ini merupakan cinta palsu, cinta yang tidak abadi. Jika manusia sepanjang hidupnya hanya memikirkan kecintaan pada dunia sesungguhnya hidup manusia adalah sia-sia belaka. Karena apa yang dikejarnya merupakan fatamorgana.

Manusia yang ingin mendapat keindahan cinta, kebahagian hakiki, dan keselamatan abadi. Maka manusia harus memberikan cintanya pada yang Maha Indah, Maha Hakiki dan Maha Abadi yaitu Allah SWT. Dengan kecintaan pada Tuhan ini manusia akan mendapatkan kebahagiaan dan keselamatan hidup yang hakiki, karena manusia telah mencintai yang memang patut dicintai.

KESOMBONGAN MEMADAMKAN API CINTA

Sudahkah Anda membaca atau menonton kisah cinta Romeo dan Juliet? Atau kisah percintaan "menggelikan" antara Laila dan Majenun? Ya, kedua kisah itu menunjukkan pada kita, betapa besar kekuatan dari apa yang disebut "cinta". Kekuatan itu ternyata bisa menjadikan seseorang rela menjemput maut (pada kisah Romeo-Juliet). Atau begitu tak acuh dengan lingkungan sosialnya yang seringkali mencemooh dirinya (kisah kedua, di mana Majenun mencintai Laila, seorang gadis yang dalam pandangan umum waktu itu tergolong tidak rupawan). Begitu dahsyat dan mengagumkankah bobot energi cinta, sampai-sampai ia sanggup membutakan mata, melipatgandakan nyali, dan membungkam akal sehat?

Cinta merupakan kekuatan fitrah yang mengendap dalam ruang kesadaran manusia. Ia adalah anugerah Ilahi yang sekaligus menjadi santapan bergizi bagi jiwa manusia. Sebagaimana orang yang gemar makan makanan yang bergizi agar tubuhnya sehat, jiwa yang begitu lahap mengunyah dan menelan benih-benih cinta, akan menjelma menjadi jiwa yang penuh kekuatan dan semangat. Dan kekuatan itu akan terus tumbuh tanpa batas, seiring dengan terus dipupuknya cinta. Semakin berkobar api cinta dalam jiwa seseorang, makin besar pula daya tahan dan semangat hidupnya. Bagi para pecinta, kehidupan ini tampak begitu indah dan penuh kemilau. Sebaliknya, ketika jiwa manusia tersumbat sehingga tak mampu lagi mengendus aroma cinta, maka ia akan kehilangan gairah, mati rasa, dan kehidupan ini melulu terlihat suram dan terasa hambar.

Sudah menjadi watak dasar manusia untuk selalu berinteraksi dengan orang lain. Cinta merupakan jembatan ruhani yang menghubungkan jiwa seseorang dengan jiwa seseorang lainnya. Tak ada cinta berarti tak ada tali hubungan antarindividu masyarakat. Kalaupun terjadi, maka hubungan sosial minus kecintaan tersebut hanyalah bersifat semu semata. Dan kecintaan kita pada orang lain, minimal, sederajat dengan bobot kecintaan pada diri sendiri. "Cintailah saudaramu sebagaimana engkau mencintai dirimu sendiri," tegas sebuah hadis dari Rasul saww. Menunjukkan kasih sayang pada orang lain sangatlah berguna. Sebab, jika perasaan mulia ini diberikan pada orang lain, maka sebaliknya ia akan merasakan hal yang sama. Orang yang betul-betul berharap bisa menemukan jalan menuju permata yang sangat indah ini, harus mengisi hatinya dengan sinar ketentraman dan kejujuran, serta menghapus segala kebencian.

Sifat Sombong Mengundang Kebencian

Kecintaan seseorang pada dirinya sendiri pada dasarnya bersifat naluriah. Ia merupakan faktor yang sangat penting bagi seseorang dalam menempuh kehidupan ini. Hal ini mengingat hubungan antara manusia dengan alam semesta muncul darinya. Namun, jika kecintaan pada diri sendiri menjadi serba berlebihan (ifrad), diumbar sedemikian rupa, dan dibiarkan liar, jelas semua itu bakal menjerumuskan manusia dalam kubangan dosa dan berbagai tindakan amoral. Ancaman pertamanya adalah rusaknya akhlak manusia. Parahnya, dalam diri orang yang terlalu mencintai diri sendiri tak ada lagi tempat untuk mencintai orang lain! Rasa cinta kepada sesama telah lenyap dari dalam hatinya. Darinya, akan rusaklah hubungan si sombong tadi dengan sesamanya. Luqman as, sebagaimana dinyatakan dalam al-Quran surat ke-31 ayat 18, berpesan pada putranya, "Janganlah engkau palingkan wajahmu dari manusia dengan sombong, dan jangan pula berjalan di muka bumi dengan angkuh, sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang menyombongkan diri."

Bahaya paling fatal, sekaligus musuh terburuk manusia, adalah sifat sombong dan percaya diri yang melampaui batas. Pada dasarnya, manusia yang sadar diri pasti akan membenci sifat atau perbuatan jahat. Tak terkecuali sifat sombong. Kita tentu tahu, sifat sombong akan menyebabkan tali cinta dan keharmonisan di antara individu menjadi terputus. Nah, dengan begitu sifat sombong sekaligus menjadi bibit unggul dari tumbuhnya permusuhan. Saudaraku, dampak dari sifat sombong itu sungguh merusak dan sangat berbahaya. Yang jadi sasaran bidik utamanya adalah alam bawah sadar manusia. Bisa kita bayangkan, apa jadinya kalau sifat kotor semacam itu sampai diderita orang-orang yang punya penyakit rendah diri (inferior). Sudah barang tentu yang terjadi adalah kekacauan, yang kemudian akan menggiring seseorang yang lemah tadi untuk nekat berbuat kejahatan. Inilah antara lain yang menyebabkan orang sombong menderita kesengsaraan.

Tingkah laku orang sombong bahkan bisa menjadi sangat keterlaluan. Coba saja tengok sejarah! Orang yang senantiasa menghalangi dan paling keras menolak seruan para nabi, rasul, dan orang-orang yang haq adalah mereka yang punya sifat sombong. Selain itu, berbagai pembantaian biadab yang terjadi sepanjang sejarah manusia, diakibatkan oleh perilaku kesombongan dan keangkuhan yang merasuk dalam diri manusia. Sifat sombong tersebut muncul dalam diri seseorang lebih disebabkan ia merasa tak dihargai secara layak oleh masyarakat. Padahal, ambisi penghargaan itu hanyalah bersifat khayali. Namun, bagi orang sombong, hal itu tetap harus mereka raih dengan menghalalkan berbagai cara. Yang penting, mereka bisa mencapai kedudukan mulia dan terpandang di tengah-tengah masyarakat.

Dalam al-Quran, Allah Swt menggambarkan perilaku kesombongan layaknya perbuatan Iblis yang menentang perintah Allah agar ia ‘tunduk’ kepada Adam as. Karena dalam khayalannya, Iblis merasa punya martabat dan derajat yang lebih tinggi ketimbang Adam as, ia pun menolak perintah Allah tersebut. Akibatnya, ia lantas tergelincir jauh ke dalam kesesatan dan kegelapan. Seseorang yang punya kepribadian agung, bermatabat, dan terhormat tentu tak akan mau mencari dan membutuhkan penghormatan yang berlebihan. Ia sadar bahwa dirinya kelak akan mudah terjebak dalam kesombongan dan keangkuhan. Nabi Suci saww bersabda; "Tidak akan pernah mencium dan merasakan baunya surga bagi orang yang di dalam dirinya hinggap kesombongan walaupun sebesar biji zarra."

Untuk menghindari keadaan mengerikan semacam itu, para psikolog memberi sejumlah wanti-wanti yang sangat berharga. Mereka mengatakan, batasilah berbagai harapan dan dambaan anda, kurangilah hasrat dan penantian anda, bebaskanlah diri anda dari kesombongan dan keangkuhan, dan hindarilah khayalan-khayalan untuk menjamin diri anda untuk selalu berada dalam kedamaian. Wejangan itu sesungguhnya bisa disederhanakan dalam satu model perilaku yang pada dasarnya mengandung moralitas tertinggi, sekaligus menjadi simbol cinta, yakni kerendahan hati. Imam Ali kw, berkata; "Jika Allah Swt mengizinkan kesombongan bagi para penyembah-Nya, Dia akan mengizinkannya kepada para Nabi dan auliya-Nya yang paling dekat dengan-Nya. Tetapi Dia menjadikan mereka benci terhadap kesombongan dan menerima kerendahan hati. Oleh karena itu, mereka menundukkan dahi mereka ke bumi, merobohkan wajah mereka ke debu ( dalam bersujud ), dan berendah hati terhadap orang-orang yang beriman."

Orang-orang yang dihinggapi penyakit sombong biasanya punya anggapan yang serba terbalik tentang apa yang ada dalam dirinya. Mereka memandang kelemahan-kelemahannya sebagai kekuatan, kejahatan sebagai kebajikan, kebodohan sebagai kebijakan, dan kekurangan sebagai kelebihan. Misalnya, ketika mereka tiba-tiba marah terhadap orang lain, mereka menganggap itu sebagai bukti kepribadian yang kuat. Juga tentang kelemahannya yang mereka anggap sebagai perwujudan rohani yang agung dan sensitif. Sampai-sampai, mereka memandang berat badannya sebagai bukti kesehatannya.

Imam Ali kw berkata; "Jauhilah kesombongan atau jumlah orang-orang yang akan membencimu akan bertambah." Dalam situasi yang lain, beliau berkata; "Kerendahan hati adalah puncak dari akal dan kesombongan adalah puncak kejahilan." Beliau juga menyatakan: "Orang yang pikirannya melemah, kebanggaan dirinya menguat."

Ketika suatu waktu merasa kecewa atau frustasi terhadap sesuatu hal yang sangat diharapkan namun tidak tercapai, kita tentu akan berupaya menarik perhatian orang lain. Dan lazimnya yang kita lakukan adalah memuja dan meninggikan diri sendiri. Sembari itu, kita membayangkan pula bahwa apa yang diharapkan itu seolah-olah telah tercapai, dengan mengobral bualan mengenai saat-saat dimana kita pernah mengecap keberhasilan di masa lalu. Atau dengan membesar-besarkannya kepada orang lain. Orang-orang yang tertipu oleh bualannya sendiri, biasanya sulit berubah. Mereka sudah tak mampu lagi menyadari bahwa dalam dirinya terkandung berbagai kekurangan yang sangat berbahaya.

Dalam al Quran surat 95 ayat 6-7, Allah Swt berfirman: "Sesungguhnya manusia suka melampaui batas. Karena mereka memandang dirinya serba lebih." Berdasarkan ungkapan yang begitu indah dari ayat tersebut, kita bisa menyimpulkan bahwa sifat sombong bermula ketika seseorang merasa punya kelebihan ketimbang manusia lainnya. Semakin sering kelebihan-kelebihan tersebut ditunjukan pada orang lain, makin bertambah pula tingkat keangkuhan yang bersarang dalam diri kita. Akibatnya, kita akan makin kurang menghargai, bahkan menganggap remeh, setiap kelebihan yang dimiliki orang lain.

Imam Ali kw berkata; "Orang-orang yang merasa puas dengan dirinya, berbagai kelemahannya tersembunyi darinya, dan jika ia mengakui keutamaan orang lain, akan mencukupi berbagai kekurangan dan kelalaiannya. Dan carilah perlindungan kepada Allah dari sifat mabuk kekayaan, karena sesungguhnya ia memiliki suatu kekhidmatan yang jauh."

Islam merupakan agama yang senantiasa menyerukan agar manusia hidup dengan akhlak dan adab yang tinggi. Semua itu tak lain agar manusia sanggup meraih kehidupan yang mulia. Islam jelas tidak menghalalkan segala macam perbedaan yang tidak wajar. Namun, Islam tentu saja sangat menghargai manusia yang memiliki sifat-sifat suci dan luhur, dan sebaliknya, amat mengutuk seseorang yang menderita sifat-sifat buruk. Suatu hari, seorang yang kaya datang mengunjungi Rasulullah saww. Ketika orang kaya tersebut berada bersama rasulullah saww, datanglah seorang miskin dan duduk di dekatnya. Melihat itu, si kaya tadi langsung mengangkat pakaiannya dan menjauhi orang miskin tersebut. Nabi melihat kejadian ini dan bersabda; "Betapa! Apakah kamu takut kalau kemiskinannya akan menular kepadamu."

Alhasil, jika orang-orang sombong ingin merubah dirinya demi mencari kebahagiaan yang hakiki, mereka mau tak mau harus membersihkan dirinya dari sifat yang selama ini telah menyesatkannya. Jika tidak, mereka niscaya akan menghadapi rentetan kekecewaan, kehampaan, dan kemunduran rohani, mental, dan fisik yang tak terelakkan. Naudzubillah

Sungguh Sakitnya Dicuci

M. Rahim Bawa Muhaiyaddeen

SALAM sayangku padamu, cucu-cucuku, saudara-saudaraku dan anak-anakku.
Lihatlah pakaianmu. Lihatlah betapa kotor pakaianmu. Pakaian-pakaianmu telah sangat berubah sejak engkau membelinya pertama kali! Warna-warnanya telah pudar, dan penuh dengan keringat. Ciumlah, pakaian-pakaian itu berbau busuk!

Sekarang, ciumlah bau badanmu! Bau segala sesuatu yang engkau makan, ada dalam keringatmu. Jika engkau makan daging sapi, maka bisa berbau seperti sapi. Jika engkau makan daging kambing, maka bisa berbau seperti kambing. Jika engkau makan ikan, maka bisa berbau seperti ikan, dan jika engkau makan ayam, maka engkau akan berbau seperti ayam. Bahkan jika kamu minum obat, maka akan berbau seperti obat ketika engkau sendawa. Dari mana semua bau badan ini berasal? Dari dalam tubuhmu. Bau badan tersebut berasal dari makanan yang telah engkau makan dan masuk ke dalam tubuhmu. Itulah mengapa engkau berbau dan mengapa pakaianmu berbau, yang berasal dari keringat, dari semua makanan yang telah engkau tumpuk dalam tubuhmu.
Bau busuk dan kotoran yang terkumpul pada pakaianmu bisa dicuci, tapi apa yang bisa dilakukan untuk bau yang ada di dalam tubuh? Salam sayangku padamu, cucu-cucuku, cobalah untuk merenungkannya!
Engkau mencuci pakaianmu, bukan? Engkau berpendapat, “Aku pasti kelihatan menarik. Aku harus tampak menjadi orang penting,” dan dengan demikian, engkau menjaga kerapian serta kebersihan pakaianmu. Di zaman kuno, orang-orang harus menghempas-hempaskan pakaiannya ke batu di pinggir sungai untuk membersihkannya, tapi sekarang, ilmu pengetahuan telah memberi kita mesin cuci dan kita cukup menambahkan sedikit sabun. Tapi pakaian itu benar-benar menderita dalam mesin cuci tadi. Suatu hari nanti, perhatikan bagaimana sebuah mesin cuci bekerja dan engkau akan melihat bagaimana pakaian-pakaian itu menderita. Pakaian-pakaian tersebut dicampuradukkan, dikucek, digosok-gosok, dan dilempar. Bahkan jika kau mencucinya dengan tangan harus menyabunnya dan membilasnya. Itu satu-satunya cara bagaimana kotoran bisa dihilangkan. Pakaian begitu penting, untuk menatamu agar kelihatan menarik, seperti seorang pengantin laki-laki atau perempuan.
Anak-anakku, dengan cara yang sama, engkau harus melenyapkan
bau yang berasal dari setiap pori kulitmu. Penyakit berbau dan karma ini, ilusi, kesombongan, iri hati, keraguan, kebencian, kemarahan, bakhil, kerakusan, fanatik, kecemburuan, perbedaan antara dirimu dan aku, milikku dan milikmu, kepunyaanku dan kepunyaanmu, agamaku dan agamamu, bahasaku dan bahasamu, anakku dan anakmu ini - betapa semua ini busuk! Semuanya mengeluarkan bau busuk setiap detik dari setiap pori tubuhmu.
Sangatlah sukar untuk melenyapkan bau busuk yang berasal dari barang-barang yang telah engkau cari dan yang telah menumpuk dalam dirimu. Dan karena begitu sulit, maka ini mungkin sedikit sakit ketika engkau mencoba untuk mencuci bau busuk ini. Jika engkau menderita penyakit yang mengan dung infeksi dan dokter mengangkat penyakit itu dengan pisau bedahnya, maka engkau mungkin menangis karena sakitnya.
Jika engkau menginjak duri dan dokter mencabutnya, maka engkau makin merasa sakit sehingga engkau mencoba memukul atau menggigit dokter itu. Cukup sulit bagi dokter untuk menjalankan pekerjaan ini tanpa engkau memarahinya dan menganggapnya sebagai orang brengsek.
Engkau mungkin bereaksi dengan cara yang sama ketika datang kepada seseorang yang memiliki kearifan dan sifat-sifat yang baik dan dia mencoba menolong dirimu dari penyakit karma. Ini benar-benar sangat berat. Engkau akan menderita ketika seseorang yang tahu, mengatakan penyakitmu itu. Pikiran dan keinginanmu, rasa lapar, penyakit, usia tua, dan kematianmu, akan menderita. Empat ratus triliun sepuluh ribu penyakit yang menumpuk dalam dirimu akan mengalami penderitaan.
Jika seseorang memberitahumu untuk membuang hal-hal yang telah engkau pelihara dengan begitu hati-hati, maka ini akan membuatmu sedih. Engkau akan berteriak kepadanya dan penuh keraguan, kemarahan, iri hati, dan kemudian engkau akan kabur.
Jadi akan lebih mudah untuk mengunjungi seseorang yang memiliki sifat-sifat sama seperti dirimu, yaitu seseorang yang hanya akan berkata, “Oh, tidak ada yang menyimpang. Tidak ada masalah. Engkau berbau harum, pakai saja sedikit obat pengharum badan. Aku menyukaimu. Makanlah apa saja yang engkau inginkan dan ucapkan mantra apa saja yang engkau pilih. Kemudian, engkau akan gembira.” Engkau akan menyukainya. Engkau akan berkata bahwa dialah dokter yang baik, guru yang baik, dan syekh yang baik.
Tapi coba pikirkan! Karena dia berbau persis sepertimu, maka dia tidak akan keberatan dengan baumu. Bau busuknya dan bau busukmu akan membaur dengan baik, tapi bahkan binatang-binatang akan berlari kabur menjauhi bau busuk itu, dan bau busuk itu begitu menusuk. Pikirkan tentang sigung.
Orang menganggap seekor sigung kerbau mengerikan, kecuali sigung yang lain. Jadi, ketika dua sigung bertemu, mereka bahagia. Tapi umat manusia akan melakukan apa saja untuk membuang bau busuk itu.
Cucu-cucuku, sebagaimana seekor sigung tidak tahu bahwa sigung yang lain juga berbau, maka karma tidak mengenal bau karma. Tapi seorang manusia bijak akan tahu. Dia akan mencoba untuk membuang bau busuk itu. Seorang guru palsu hanya akan menikmati bau karma. Dia tidak akan membantumu untuk membuang sifat busukmu, dan dengan demikian, sifat busuk tersebut akan terus tumbuh dalam dirimu. Dia akan minta uang dan berkata, “Lakukan ini, lakukan itu. Berilah aku 200 dolar, dan segala sesuatunya akan berubah menjadi baik!”
Seorang guru palsu minta uang, tapi seseorang bijak sejati berkata, “Aku tidak menginginkan apa pun. Sudah, cukup jika engkau menjadi baik.”
Seorang tabib sejati yang mencoba untuk menyembuhkan penyakitmu, mungkin menyebabkan rasa sakit pada dirimu. Sungguh berat untuk membasuh keadaan buruk itu karena penyakit merupakan bagian dari daging, darah, dan pikiranmu.
Penyakit melekat pada dirimu seperti cat. Mencoba untuk mengikis atau menghapus penyakit secara menyeluruh, sangatlah sukar. Penyakit harus diatasi dengan [sikap] sabar dan syukur, dengan berpuas diri dan kesabaran hati. Cucu-cucuku, engkau membutuhkan iman, kemantapan hati, dan kepastian. Engkau membutuhkan semua sifat Allah. Maka cat itu bisa dihapus dengan kearifan dan cinta, dan engkau bisa bersih.
Salam sayangku padamu. Sungguh sulit untuk membuang karma bawaan. Sungguh sulit untuk mencuci dan menghapus kecongkakan, karma dan ilusi, tarahan, singhan dan suran, tiga anak ilusi. Sangatlah sukar untuk membuang kebencian, kerakusan, fanatisme, dan kecemburuan. Sangatlah sukar untuk menghapus keadaan mabuk, pencurian, pembunuhan, kebohongan, kemarahan, kegugupan, ketidaksabaran, egois, kesombongan, keraguan, kecurigaan, dan perpecahan yang diciptakan pikiran antara agama dan warna. Hanya jika engkau memiliki kesabaran, rasa senang, iman, kemantapan hati, dan semua sifat Allah, maka orang bijak akan mampu membuatmu seindah dan sebersih dirinya. Dia selalu mencoba melaksanakan tugasnya. Dia idak mencari apa-apa darimu.
Salam sayangku padamu, cucu-cucuku. Berpikirlah tentang hal ini dan perkuatlah imanmu! Kita harus membuang karma ini, bau busuk ini. Bau busuk ini menghancurkan kehidupan dan kebebasan jiwa. Bau busuk ini bisa memotong seluruh kehidupan kita dan menghancurkan hubungan kita dengan Allah. Bau seekor sigung ada dalam kulitnya, tapi bau manusia ada dalam pikirannya. Cukup mudah untuk mengupas kulit sigung, tapi membuang bau pikiran sangatlah sukar. Renungkanlah ini secara mendalam. Buanglah kecongkakanmu, kesombonganmu, dan amarahmu. Milikilah rendah hati, kedamaian, dan ketenteraman. Engkau harus memiliki sifat-sifat ini, yang akan baik untukmu.
Salam sayangku padamu, cucu-cucuku. Semoga karma ini hilang dan wewangian itu menjadi milik kita. Semoga kita tetap beriman kepada Tuhan, dan semoga kita memiliki iman yang mutlak, kemantapan hati, dan kepastian. Hargailah sifat-sifat itu. Bersabarlah. Maka, dokter yang baik itu bisa memakai kearifannya demi kalian. Semoga Allah menolong kalian semua. Amin.

Bagaimana Cara Seorang Murid Memilih Guru ?

Syeikh Abdul Wahab Asy-Sya’rani
 
DAN diantara perilaku seorang murid dalam berguru, hendaknya tidak berguru kecuali kepada seorang guru yang ilmu-ilmu syariatnya benar-benar kuat dan mendalam. Hal ini dimaksudkan agar dengan sang guru yang ilmu syariatnya mendalam ini sang murid merasa cukup dan tidak butuh berguru lagi kepada orang lain. Tuan Guru Syekh Muhammad asy-Syanawi pernah memberitahuku, bahwa suatu ketika ia pernah berkata kepada gurunya, Syekh Muhammad as-Surawi, “Guru, aku ingin mengunjungi si guru (syekh) fulan.” Rupanya Tuan Guru tidak ingin muridnya mencari guru lain, dan berkata dengan menampakkan kecemberutan di wajahnya, ‘Wahai Muhammad, bila engkau belum merasa cukup denganku, lalu bagaimana engkau menjadikan aku sebagai gurumu?” Maka sejak saat itu, aku tidak pernah lagi mengunjungi guru lain sampai beliau wafat.
Maka bisa diketahui bahwa orang yang sudah ditakdirkan untuk masuk ke dalam tarekat dan diambil sumpahnya oleh seorang guru yang ilmu-ilmu syariatnya kurang mendalam maka tidak ada salahnya ia berkunjung dan berkumpul dengan guru lain, sebagaimana kondisi yang terjadi pada sebagian besar para guru di zaman ini. Maka ungkapan Syekh Abu al-Qasim al-Qusyairi, “Dianggap kurang baik seorang murid mengikuti madzhab lain yang bukan madzhab gurunya. Akan tetapi ia hanya diperkenankan mengikuti pada gurunya saja.” Ini jelas ditujukan untuk murid yang mendapatkan guru yang benar-benar mendalami ilmu syariat secara sempurna. Maka tidak ada jeleknya seorang murid mencari dan menisbatkan dirinya ke madzhab lain yang bukan gurunya, bila gurunya tidak benar-benar mendalami ilmu syariat, bahkan hal itu wajib ia lakukan.


Seorang Sufi Juga Seorang Yang Fakih 

IMAM Ahmad bin Hanbal dengan kebesaran dan keagungannya ketika ia tidak mampu menyelesaikan masalah, ia akan bertanya kepada sang sufi, Abu Hamzah al-Baghdadi, “Bagaimana pendapat anda dalam masalah ini wahai sang sufi?” Maka apa yang dikatakan Abu Hamzah akan dijadikan pegangan. Hal ini cukup menjadi catatan sejarah bagi para guru sufi. Demikian pula dengan kisah al-Qadhi Ahmad bin Syuraih yang juga mengakui kelebihan Abu al-Qasim al-Junaid, dimana ia juga mengikuti majelis halaqah al-Junaid, dan ketika ditanya tentang ungkapan-ungkapan al-Junaid ia tidak banyak berkomentar dan hanya mengatakan, “Aku tidak paham sedikit pun apa yang ia katakan, akan tetapi serangan-serangan ungkapannya bukan ucapan yang tidak berarti.”

Syekh Abu al-Qasim al-Junaid —rahimahullah— berkata:
“Andaikan aku tahu bahwa di bawah kolong langit ini Allah memiliki ilmu yang lebih mulia daripada ilmu kaum sufi ini tentu aku akan berangkat ke sana.” Ia juga pernah berkata: “Tidak pernah ada ilmu yang turun dari langit dan Allah memberi jalan kepada makhluk untuk pergi ke sana kecuali Allah juga memberiku bagian pada ilmu tersebut.”

Syekh Abu al-Qasim al-Qusyairi —rahimahullah— berkata:
“Seluruh guru tarekat sufi telah membuat aturan, bahwa salah seorang dan mereka tidak akan memimpin suatu tarekat sama sekali kecuali ia mendalami ilmu syariat secara sempurna dan telah sampai pada tingkatan kasyaf (tersingkap seluruh hijab). Dimana tingkatan ini sudah tidak butuh lagi mencari dalil (argumentasi). Dan apa yang dilakukan oleh murid untuk menisbatkan diri kepada orang lain (yang bukan kaum sufi) dan membaca ilmu-ilmu lain yang bukan ilmu kaum sufi hanyalah karena ketidaktahuan si murid terhadap tingkatan spiritual mereka. Sebab argumentasi kaum sufi lebih kuat dan valid daripada argumentasi kelompok lain. Ini karena argumentasi mereka didukung dengan metode kasyaf. Dan setiap ada seorang dari kaum sufi yang hidup di suatu kurun mesti para ulama di kurun tersebut akan hormat dan tunduk pada si sufi tersebut dan melakukan isyarat-isyaratnya. Mereka meminta kepada Si sufi untuk membantu menghilangkan kesulitan yang sedang mereka hadapi. Andaikan bukan kesaksian para ulama sufi akan masalah-masalah yang menyuarakan ketinggian kedudukan mereka, tentu masalahnya akan sebaliknya, dan tidak seperti itu.” Kami telah membicarakan masalah ini dengan panjang lebar dalam Kitab al-Qawa ‘Id ash-Shuftyyah al-Kubra. — Dan hanya Allah Yang Mahatahu

.
Bolehkah Murid Menjadikan Lebih Dari Seorang Guru ?

DIANTARA perilaku yang harus dilakukan seorang murid hendaknya hanya mengambil dan menjadikan seorang guru. Maka ia tidak diperkenankan sama sekali menjadikan dua orang guru. Sebab tarekat kaum sufi dibangun atas dasar tauhid murni. Syekh Muhyiddin Ibnu al-’Arabi dalam al-Futuhat al-Makkiyyah bab keseratus delapan puluh satu, menuturkan sebagai berikut: “Perlu anda ketahui, bahwa seorang murid hanya diperkenankan menjadikan seorang guru. Sebab hal itu lebih bisa menolongnya dalam menempuh tarekat. Kami tidak pernah melihat seorang murid pun yang sukses dalam menempuh tarekat di bawah bimbingan dua orang guru (tarekat). Sebagaimana di alam ini tidak ada dua Tuhan, tidak ada seorang mukalaf yang hidup diantara dua rasul, dan tidak ada seorang perempuan yang menjadi istri dari dua orang suami, maka demikian pula seorang murid tidak boleh mengambil dua orang guru.” Ini berlaku untuk murid yang mengikat dirinya dengan seorang guru (tarekat) dengan tujuan suluk menuju Allah. Adapun orang yang tidak mengikat dirinya dengan seorang guru, tapi ia sekadar mencari berkah dari guru, maka orang seperti yang terakhir ini tidak dilarang untuk berkumpul dengan guru siapa pun.
Tuan Guru Syekh Ali al-Murshifi —rahimahullah— mengatakan: “Barangsiapa diuji untuk bersahabat dengan dua orang guru atau lebih, maka hendaknya menjadikan gurunya yang hakiki selalu berada di belahan hatinya, disamping ia mencintai Rasulullah Saw. Sebab dia sebagai pengganti Rasulullah Saw. dalam memberi nasihat kepada umatnya dan menunjukkan mereka kejalan yang benar.”

Abu Yazid al-Bisthami pernah berkata: “Barang siapa tidak memiliki seorang guru maka ia menyekutukan dalam tarekat, sedangkan orang yang menyekutukan dalam tarekat gurunya adalah setan.”

Abu Ali ad-Daqqaq —rahimahullah— mengatakan: “Seseorang tidak akan mampu suluk di tarekat kaum sufi tanpa seorang guru. Sebab perjalanan ini menempuh kegaiban atau gaibnya kegaiban. Ibarat sebatang pohon apabila tumbuh dengan sendirinya tanpa ada orang yang menanamnya maka tidak ada seorang pun yang bakal memanfaatkan buahnya sekalipun tumbuh bersemi dan daunnya rindang, bahkan bisa jadi tidak akan berbuah untuk selamanya. Coba anda perhatikan wahai saudaraku, Tuan dari para rasul, Muhammad Saw., bagaimana dengan jibril yang menjadi perantara antara beliau dengan Tuhannya dalam menyampaikan wahyu. Dengan demikian anda tahu, bahwa menjadikan seorang guru adalah suatu keharusan bagi murid yang tidak bisa ditinggalkan.”
Abu Yazid al-Bisthami mengatakan: “Sungguh aku telah mengambil tarekatku ini dari guruku, antar orang ke orang.” Kemudian cukup jelas, bahwa para salaf saleh dari generasi sahabat, tabi’in, dan tabi’t-tabi’in tidak mengikatkan diri dengan seorang guru tertentu, tapi bisa jadi salah seorang dari mereka menjadikan lebih dari seratus orang guru. Ini karena mereka adalah orang-orang yang bersih dari kotoran dan ketololan nafsu, maka masing-masing orang dianggap orang yang sempurna yang tidak butuh kepada orang yang membimbing perjalanannya. Tapi ketika “wabah penyakit” ini semakin banyak dan mereka butuh disembuhkan, maka para guru tarekat memerintah para murid untuk mengikatkan diri dengan seorang guru, agar kondisi spiritual murid tidak kacau dan perjalanan yang ditempuhnya tidak terlalu panjang. Maka pahamilah!
Diantara perilaku seorang murid hendaknya membuang seluruh keterkaitan duniawi, dan hal ini hendaknya dijadikan modal utamanya. Sebab orang yang memiliki keterkaitan duniawi akan sedikit sekali bisa berhasil, karena keterkaitan tersebut akan menyeretnya mundur ke belakang. Oleh karenanya mereka mengatakan: “Diantara syarat orang yang bertobat adalah menjauhi teman-teman jahat, dimana mereka akan menjadi temannya dalam melakukan maksiat sebelum ia bertobat. Sebab mendekat kepada mereka barangkali bisa menyeretnya mundur ke belakang dengan melakukan perbuatan yang sebelumnya ia sudah bertobat darinya.”
Imam al-Qusyairi —rahimahullah— berkata: “Seorang murid wajib melakukan kegiatan yang selalu mengosongkan hatinya dari segala kesibukan. Dan diantara kesibukan-kesibukan yang sangat berat adalah berusaha keluar dari harta yang ia miliki. Sebab dengan harta yang ada di tangannya itu akan bisa berpaling dari jalan yang lurus (istiqamah), karena lemahnya si murid. Sebenarnya tidak boleh ia menyimpan harta kecuali setelah ia benar-benar sempurna dalam perjalanan tarekatnya.” Ia juga mengatakan: “Para guru merasa berat dan tidak mampu menggandeng perjalanan seorang murid yang memiliki keterkaitan dengan duniawi. Maka perjalanan mereka dengan menggandeng murid ini sangat lemah dan lamban. Barangkali umurnya telah habis sementara mereka belum bisa sampai pada tingkat kesempurnaan yang ia inginkan.”

Khamis, Februari 14

JALAN KE HADRAT ILLAHI

JALAN KE HADRAT ILLAHI

Terdapat tiga` jalan ke Hadrat Ilahi iaitu:
1 Jalan Adabul Syari’at
2 Jalan Adabul Hidmat
3 Jalan Adabul Haq
Jalan Adabus Syari’at ialah mematuhi segala 10 hukum-hukum Tuhan . 5 hukum syarak iaitu wajib, sunat, haram , makruh dan harus. 5 hukum wad’e iaitu syarat, sebab, mani’, sah dan batal. Sebagaimana Firman Allah Taala bermaksud:
Barangsiapa membuat membuat kejahatan walau sebesar zarrah sekalipun Allah terima, dan barangsiapa membuat kebajikan sebesar zarrah sekalipun Allah terima juga.
Jalan Adabul hidmat ialah membersihkan hati selain daripada Allah SWT , samada atas pekerjaan keduniaan atau akhirat tanpa meminta balasan.Firman Allah Taala bermaksud:
Dan Allah Taala yang menjadikan kamu dan perbuatan kamu.
Jalan Adabul haq ialah kita melihat` dengan mata zahir dan mata hati serta mata sir menerusi wujud Allah. Firman Allah Taala bermaksud:
Barang di mana kamu hadap, di sana ada wujud Allah.
Cara-cara mencapai jalan ini
Hendaklah kita menuntut 3 jenis ilmu iaitu :
1 Ilmu Fekah
2 Ilmu Usuluddin
3 Ilmu Tasawwuf
Mengapa kita perlu menutut ketiga-tiga jenis ilmu ini. Sebab manusia ini hidup kerana ada 3 syarat iaitu ada jasad, ada hati dan ada roh. Jadi untuk mendapat keselamatan di dunia dan akhirat wajib kita mengetahui ilmu tersebut.
Ilmu Fekah ialah tertakluk kepada tubuh atau jasad manusia jadi hukumnya berkaitan dengan syarak, ilmu usuluddin berkaitan dengan hati hukumnya berkaitan dengan akal, manakala ilmu tasawwuf berkaiatan dengan roh hukumnya berkaitan dengan adat.
Walaubagaimanapun, sebelum memasuki gerbang ketiga-tiga ilmu ini kita wajib mengetahui dan mempelajari ilmu yang paling utama dulu iaitu ilmu awaluddin. Sebagaimana firman Allah Taala bermaksud:
Awal agama mengenal Allah. Allah Taala berfirman lagi yang bermaksud:
Tiada sah sembahyang seseorang itu, melainkan ia mengenal dulu yang disembah.
Sedangkan Allah Taala itu Ghuyub dan maha ghaib. Untuk mengenal Allah wajib kita mengenal diri . Sebagaimana Sbada Rasululllah saw:
Barangsiapa mengenal diirnya, sesungguhnya mengenal Tuhannya, barangsiapa mengenal akan Tuhannya, binasalah dirinya.
Diri ini terdiri dari Diri terusal, Diri terperi, Diri yang terdiri dan Diri terjali
Terdapat 2 jenis agama di dunia iaitu agama Islam dan agama bukan Islam. Kedua-kedua agama ini ialah juga agama Allah. Tetapi agama Islam telah diakui oleh Allah. Firma Allah Taala berbunyi:
Sesungguhnya agama disisi Allah adalah agama Islam,
Agama Islam ini bersih dari syrik jail, syrik khafi dan syrik khafi yul khafi. Sedangkan agama bukan Islam atau kafir mensyrikkkan Tuhan iaitu Allah.
Syrik Jali ialah menyembah selain dari Tuhan yang bernama Allah. Syrik Khafi ialahmenyekutukan pada hati samaada pada wujudNya, sifatNya dan perbuataNya. Manakala syirik Kahafi yul khafi ialah tidak tahu membezakan antara Tuhan dan Hamba atau Qadim dan Muhaddas.
Agama Islam ialah terdiri dari himpunan 5 hukum syarak dan 5 hukum wad’e. Agama itu ialah sebagai iktikad atau pakaian kita inilah yang dikatakan iman.
Agama Islam ini terhimpun ke dalam 4 perkara iaitu Iman, Islam,Tauhid dan Makrifat.
Sumbangan agama kepada kita ialah suatu tali penarik untuk semua manusia yang berpegang kepadanya dan pegangan kita ialah ialah himpunan 4 perkara tersebut iaitu Iman, Islam, tauhid dan Makrifat. Jadi jalan ini ialah jalan membawa kepada kebahagiaan iaitu Syurga. Firma Allah Taala bermaksud:
Berpegang kamu dengan tali Allah dan jangan bercerai berai.
Orang yang berpegang teguh dengan tali Allah dinamakan orang mukmin dan muslimin.
Iman, Islam, Tauhid dan makrifat
Iman atau iktikad terdiri dari 3 derejat iaitu Iman Syari’at, Iman Tareqat, Iman Hakikat.Iman syari’at ialah kita percaya kepada rukun iman yang dua iaitu iman mujamal dan iman munfasal. Iman tareqat ialah kita memandang bahawa hukum Allah tidak berubah. Iman hakikat ialah kita yakin sepenuhnya hukum Tuhan tidak akan berubah. Sebagaiaman Firman Allah Taala berbunyi :
Berbuat Allah Taala dengan sekehendaknya.
Islam terdiri dari 3 derejat iaitu: Islam Syari’at, Islam Tereqat dan Islam Hakikat.Islam syari’at ialah hendaklah kita taat segala hukum perintah dan laranganNya. Islam Tareqat ialah hendaklah ita membersihkan hati kita dari ujub, ria, sama’ah, takbur, hawa, nafsu, dunia, syaitan, hasad, khianat dan dendam. Islam Hakikat ialah menyerahkan diri di dalam segalam hukum iaitu takdir
Tauhid terdiri dari 3 derejat iaitu: Tauhid Syari’at, tauhid tareqat dan tauhid hakikat. Tauhid syari’at ialah menafikan sifat Tuhan yang lain daripada Allah SWT. Tauhid tereqat ialah mengesakan sama ada sifat atau perbuatan bagi Allah. Tauhid hakikat ialah menafikan wujud yang lain
Makrifat pula terdiri dari 3 derejat iaitu makrifat syari’at, makrifat tareqat dan makrifat hakikat. Makrifat syari’at ialah hendaklah kita mengenal segala hukum feqah, hukum akal dengan bersih , Dapat kita mengenal mana yang baik dan mana yang jahat, mana yang haq bagi Tuhan serta dapat mengenal mana yang baik dikerjakan dan mana yang jahat ditinggalkan. Makrifat tareqat ialah hendaklah kita mengenal segala warid yang dating di dalam hati kita. Makrifat hakikat ialah tiada beza antara Allah dengan hamba, sama ada pandang secara zahir atau secara batin.
Untuk mencapai syari’at, tareqat dan makrifat ialah dengan ilmu. Ilmu syari’at ialah ilmu feqah. Ilmu taredat ialah ilmu usuluddin dan ilmu hakikat ialah ilmu tasawwuf. Jika kita tidak faham ketiga-tiga ilmu ini maka tidak sempurna amal kita. Had batasan ilmu feqah ialah bago orang awam iaitu wajib mengetahui hukum syarak yang 5 dan hukum wad’e yang lima. Had batasan ilmu usuluddin ialah sekurang-kurangnya kya mengetahu 68 akaidul iman, Had batasan ilmu tasawwuf ualah kita mengetahui amal kita diterima atau tidak. Firma Allah Taala bernaksud:
Orang yang ulama adalah kekasih Allah walaupun ia fasik, dan bermula orang yang jahil seteru Allah walaupu ia soleh.