Selasa, November 20

Jangan Biarkan Mata Hatimu Buta



Ketahuilah wahai para salikin! Giat usaha dan ikhtiar seiring ambisi tuk meraih rezeki yang telah dijanjikan-Nya adalah tanda orang yang bersifat tamak dan serakah. Mengabaikan usaha dan ikhtiar disegala sektor adalah kesombongan yang meliputi makhluk terlaknat. Ragam amal ibadah yang dijadikan untuk merayu Allah agar disegerakan permohonan dan keinginannya ialah ciri hamba yang kurang percaya pada ketetapan dan janji Allah. Berpaling dari munajat, doa dan amal ibadah serta usaha dan ikhtiar adalah sifat hamba yang frustrasi serta buta mata hati alias tak mampu melihat kehendak-Nya (irodatullah).

“Kerajinanmu tuk mencapai suatu yang telah dijamin pasti akan sampai kepadamu, di samping keteledoranmu terhadap kewajiban-kewajiban yang telah diamanatkan kepadamu, membuktikan buta mata hati-mu”.

Pada kajian terdahulu telah dibahas bahwa rezeki itu telah ditetapkan oleh Allah. Setiap manusia pasti akan mendapatkan rezekinya. Maka tak perlu ada kekhawatiran tak tercukupi rezekinya, seperti mereka yang bersungguh-sungguh mencari rezeki untuk mencukupi kebutuhan hidupnya dengan mengabaikan perintah-perintah Allah dan Rasul-Nya.

Semangat tuk meningkatkan kualitas hidup jasmaniah adalah suatu himmah yang terpuji. Tetapi lebih terpuji lagi jika kualitas hidup ruhaniahnya sudah teruji.

“Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi”. (QS. Al Qashash ayat 77)

Berkaitan dengan masalah ini, kami menganjurkan kepada para salikin untuk istiqomah pada pijakan yang telah Allah tetapkan untukmu, juga bersabar dengan sesuatu yang telah dijanjikan-Nya. Sebab berpaling dari sesuatu yang dikehendaki Allah, akan memadamkan cahaya hati dan sekaligus dapat membutakan bashirotul qolbi.

Allah menganugerahkan rezeki lahiriah, yang menjadi piranti perjalanan hidup hamba di muka bumi. Ini adalah rezeki yang telah disediakan Allah untuk para hamba-Nya. Sampai rezeki di pangkuan seorang hamba, tentunya melalui alur sebab-musabab usaha dan ikhtiar. Maka itu, tak satupun makhluk yang tidak menerima rezeki dari Allah. Bahkan banyak binatang yang tidak dapat membawa dan mengurus rezekinya sendiri. Dalam hal ini, Allah tidak menuntut imbalan dari semua makhluk-Nya, melainkan bagi seorang hamba harus berpijak pada titian kewajiban yang menjadi tanggungannya. Karena yang dituntut dari seorang hamba, ialah amal ibadah yang sempurna untuk mencapai kebahagiaan akhirat. Perwujudan ibadah yang sempurna bagi seorang hamba, harus bersandar pada hati yang diliputi tauhid mukasyafah (orang yang terbuka). Hal ini tak akan terjadi, kecuali dengan hidayah Allah. Maka itu, hidayah adalah anugerah Allah yang dipancarkan ke lubuk hati hamba-Nya.

Oleh karena itu, harus mengetahui keadaanmu sebagai seorang hamba yang menerima ketetapan-Nya (sunatullah) atau beban hukum dari Allah (taklif), juga harus berusaha dan berikhtiar yang sesuai dengan kehendak Allah. Dalam kaitan ini, harus bersikap dan bersifat tawakkal, sabar dan tetap di shirothol mustaqim (jalan yang benar) yang telah digariskan Allah serta dicontohkan oleh Rasul-Nya.

Yang menuntut dan protes kepada Tuhannya, adalah orang yang keluar dari kodrat kehambaannya. Sebab tak tahu telah dicukupkan segala kebutuhan hidupnya. Inilah orang yang buta mata hatinya!

Allah meletakkan mata hati (bashirotul qolbi) di dalam hati hamba-hamba-Nya sebagai nur (pelita) untuk mengetahui kehendak-Nya. Dengan mengetahui irodatullah, seorang hamba dapat menentukan sikap berpijak yang bijak melukis titian akhlak bersifat qona’ah dan tawakkal. Ihwal ini membias dari lubuk hati hamba yang telah membasuh wajah hati dengan air “pemantau” (muroqobah), juga telah dibersihkan dari aghyar (kecemburuan). Sebab jika karatan aghyar tetap melekat di hati, akan menjalar berinfeksi kebimbangan hati (isytighol) pada selain Allah (dunia).

Maka itu, hendaknya bersungguh-sungguh menuju kehadirat-Nya serta melazimkan muroqobah seiring dengan riyadhoh dan mujahadah, pun tak luput harus bermunajat yang sesuai dengan kehendak-Nya tuk mendapat anugerah (minnah) Allah.

Jangan Pernah Ragu Dengan Janji ALLAH



Sebagai hamba yang lemah janganlah menodai keyakinannya kepada janji Allah bila belum mendapat kenyataan janji-Nya. Manusia mengira bahwa tanda-tanda yang terjadi sebagai bukti akan turun janji Allah. Tetapi yang sesungguhnya tidak harus demikian adanya, sebab perhitungan Allah tidak sama dengan perhitungan hamba-hamba-Nya. Sebagaimana yang terjadi dalam Suhul-Hudaibiyah

“Jangan sampai meragukan kamu, terhadap janji Allah, karena tidak terlaksananya apa yang telah dijanjikan itu meskipun telah tertentu (tiba) masanya, supaya tidak menyalahi pandangan mata hatimu, atau memadamkan nur cahaya hatimu (sirmu)”.

Sebelum terjadi “Perdamaian Hudaibaiyah”, Rasulullah saw. sempat bermimpi bahwa beliau bersama para sahabatnya memasuki kota Mekah dan Masjidil Haram dalam keadaan sebahagian mereka bercukur rambut dan sebahagian lagi bergunting. Nabi mengatakan bahwa mimpi beliau itu akan terjadi nanti. “Sesungguhnya Allah akan membuktikan kepada Rasul-Nya tentang kebenaran mimpinya dengan sebenarnya (yaitu) bahwa sesungguhnya kamu pasti akan memasuki Masjidil Haram, insya Allah dalam keadaan aman, dengan mencukur rambut kepala dan mengguntingnya, sedang kamu tidak merasa takut. Maka Allah mengetahui apa yang tiada kamu ketahui dan Dia memberikan sebelum itu kemenangan yang dekat[1][1]”. Ini yang menyatakan bahwa mimpi Nabi itu pasti akan menjadi kenyataan di tahun yang akan datang. Pada saat kaum muslimin ditolak memasuki kota Mekah dan Umroh oleh kaum Quraisy maka terjadi penandatanganan surat perjanjian yang dikenal dengan “Suhul Hudaibiyah” (Perdamaian Hudaibiyah).

Andaikata pada tahun terjadinya Perdamaian Hudaibiyah itu kaum muslim memasuki kota Mekah, maka keselamatan orang-orang yang menyembunyikan imannya yang berada di kota Mekah waktu itu dikhawatirkan. Ini sebagai bukti kasih sayang Allah terhadap hamba-hamba–Nya dalam menunaikan janji-Nya walau ditunda sekalipun.

Setelah memperhatikan serangkaian peristiwa “Perdamaian Hudaibiyah“ walau sekilas dapatlah ditarik garis lurus bahwa perhitungan Allah memang tidak sama dengan perhitungan hamba-hamba-Nya.

Oleh karena itu, barang siapa dijanjikan Tuhannya pada waktu dan masa yang telah ditentukan, kemudian pada masa yang dijanjikan tidak turun apa yang diharapkannya maka janganlah berkelakuan seperti orang-orang munafik di zaman Rasulullah saw. Sebab hal semacam itu akan menodai keyakinan serta mengotori keimanannya kepada janji Allah.

Karena syak (ragu) terhadap kebenaran janji Allah adalah kufur dan musyrik hukumnya. Juga membutakan matahati tuk memandang kebenaran janji Allah. Maka sudah selayaknya bagi seorang hamba itu mengenal Qadar-Nya dan beradab pada Tuhannya seraya sukun (tetap hati) memandang baik kepada-Nya pada barang yang dijanjikan–Nya. Seperti pandangan mereka, para ‘Arifin Billah, yang tak pernah berubah I’tiqod-nya.

Maka jadikan dirimu dalam penyerahan kepada Allah secara total dengan diiringi rasa syukur kepada-Nya atas karunia yang ada padamu dalam menjalankan “Amar ma’ruf nahi munkar”. Juga apa-apa yang datang kepadamu adalah karunia dari-Nya sebagai bukti kasih sayang-Nya. Adapun sesuatu yang belum engkau dapatkan walau engkau menginginkannya, maka hal itu sebagai tanda penjagaan-Nya kepadamu. Sebab keinginanmu masih pada tahap warna nafsu yang akan mencelakakanmu.

Nafsu itu yang selalu meluncurkan anak panah syahwat ke matahati, bila matahati terkena anak panah syahwat, jadilah hati itu buta.Yang dimaksud buta ialah buta dari kehendak Allah terhadap hamba-hamba-Nya. Resikonya, cahaya yang memancar di lubuk hati, juga disebut nurul asror akan menjadi padam dan tak dapat menerangi akal tuk membedakan antara Atsar dengan Hukum.

Perlu saya pertegas disini, bahwa matahati itu ialah “Nur” yang diletakkan Allah dengan wasithoh kuat iman. Nur juga dapat diperoleh dari petunjuk akal yang suci, hingga meningkat menjadi Asror Rububiyah. Itulah yang disebut “Nurul Hidayah” yang menjadi tonggak perjalanan bagi orang-orang yang menuju kepada Allah dengan taburan Rohmaniyah-Nya. Maka sucilah hatinya dari syirik khofi yang mengotori hati dan menghambat perjalanan. Juga terlepas dari syak terhadap janji Allah hingga terbuka matahati dengan memperoleh petunjuk dan mahabah serta tak berkehendak kepada amal dan sebab.

CINTA



Penciptaan Allah yang paling sempurna di muka bumi adalah manusia. Di antara anugerah kelengkapan yang diberikan kepada manusia, adalah sebuah perasaan ajaib yang bernama CINTA. Cinta tidak mengenal batas usia, dan bisa datang kapan saja tanpa permisi dan tanpa kompromi. Cinta tidak bisa direkayasa, namun juga tidak tertolak, karena ia tumbuh begitu saja, dari lubuk hati yang paling dalam. Biasanya cinta muncul setelah melalui proses waktu dan proses saling berinteraksi. Meski ada juga orang yang jatuh cinta pada pandangan pertama.
Di dalam cinta, ada sebuah perasaan yang mengiringi, yaitu benci. Dua perasaan tersebut (baca: cinta dan benci) ibarat dua sisi dalam sekeping mata uang. Kedua-duanya merupakan sumber motivasi untuk melakukan hal-hal yang bersifat positif dan negatif. Dengan perasaan cinta yang membara, orang bisa melakukan hal-hal positif yang luar biasa, namun sebaliknya dengan perasaan benci yang memuncak, orang juga bisa melakukan hal-hal negatif yang luar biasa.
Meski cinta merupakan kelengkapan kodrati yang diberikan Allah, namun sesungguhnya di dalam cinta sarat muatan ujian yang dapat menggelincirkan pandangan hati kita dari-Nya. Karena itu dibutuhkan kemampuan berpikir jernih disertai keimanan yang kuat agar ketika cinta datang melanda, pikiran kita tidak tersumbat, kemudian terhanyut ke dalam pusaran yang akhirnya menenggelamkan kita ke dalam lautan kesesatan. Karena sebagaimana dinyatakan dalam hadis: “Siapa yang ingin mengetahui kedudukannya di sisi Allah hendaklah dia mengamati bagaimana kedudukan Allah dalam dirinya. Sesungguhnya Allah menempatkan hamba-Nya dalam kedudukan sebagaimana dia menempatkan kedudukan Allah pada dirinya.” (HR. Al Hakim).
Berarti cinta yang diridlai Allah adalah cinta yang proporsional secara kemanusiaan sekaligus proporsional secara spiritual. Barangkali kita bisa belajar dari Penyair sufi terkenal, Jalaluddin Rumi, yang mengatakan, untuk memahami kehidupan dan asal usul wujud dirinya, manusia mesti menggunakan jalan cinta. Masih menurut Rumi, cinta juga dikatakan sebagai suatu dorongan luhur yang membawa seseorang mencapai hakikat kehidupan yang baqa’. Bila demikian, berarti cinta merupakan jalan indah yang ditawarkan Allah, agar kita mengenal diri dengan baik sehingga pada gilirannya membuat kita semakin mengenal-Nya dan semakin mencintai-Nya.

Samudera Ilahiyah

Kubangkitkan ruhmu di alam arwah, maka ruhmu mengembara dialam arwah selama waktu yang Kuinginkan, lalu Kukumpulkan semua makhluk Ku di hadapan Ku, Kutanyakan kepada langit, bumi dan gunung gunung, maukah mereka mengemban kepemimpinan di muka bumi, mereka bungkam, tak satupun makhluk Ku sanggup mengemban kepemimpinan di bumi Ku, lalu kalian menyanggupi tugas itu, maka kuangkatlah kalian sebagai khalifah di muka bumi, kubiarkan ruh mu bertebaran dialam Ku, lalu kupilih kalian satu persatu untuk bertugas, Ku pilih ruh kalian satu sama lain untuk bergantian memimpin di bumi Ku, yang terdahulu merupakan ayah bagi yang datang kemudian. Kutebarkan bibit-bibit seluruh manusia di sulbi Adam, tidaklah ada manusia yang menginjak bumi, terkecuali telah kusiapkan bibit tubuhnya di sulbi adam.

Wahai Hambaku, ketika waktu yang Kukehendaki telah tiba untuk memunculkanmu di muka bumi, Kutebarkan 1 milyar sel dari sulbi ayahmu ke tubuh ibumu, dan dirimu ada diantara 1 milyar sel itu, maka tak ada yang berhasil hidup selamat dan mencapai alam rahim kecuali satu sel saja, itulah dirimu.., maka Kupelihara kejadianmu 40 hari pertama masih berupa sel, 40 hari kedua engkau berubah menjadi segumpal darah, lalu dengan kasih sayang Ku yang menyelubungimu 40 hari ketiga engkau berubah menjadi daging, Lalu dengan Kelembutan Ku 40 hari kemudian Kuciptakan untukmu mata, telinga, mulut, tangan kaki, kujadikan tulang tulang penguat untukmu, dengan kadar kekuatan yang kutentukan, lalu kubungkus daging, dan diatasnya sebagai lapisan terluar adalah kulit yang padanya beribu fungsi, dengan kebutuhan dan manfaatnya yang telah kutentukan pula, lalu kujadikan darah terus mengalir kesekujur tubuhmu, jantung yang memompanya, paru-paru yang memompa udara keseluruh tubuhmu, lambung yang menyaring makanan di tubuhmu, kujadikan pula sepasang mata agar engkau melihat, telinga agar engkau mendengar, lidah agar engkau berkata-kata, lalu setelah sempurna tubuhmu untuk memangku ruhmu, Kuhembuskan ruhmu ke tubuhmu, maka ruhmu melayang meninggalkan alam ruh, menuju alam rahim, maka bergeraklah dan berfungsilah tubuhmu dialam rahim,

Setelah tubuhmu siap untuk menerima kehidupan bumi, maka kutentukan rasa sakit yang luar biasa pada ibumu, agar menjadi bukti yang mengikatmu untuk selalu patuh kepadanya kelak, Maka lahirlah engkau ke bumiku, Kutitipkan kasih sayang Ku dan Pemeliharaanmu kepada ayah dan ibumu untuk mewakili kasih sayangku, yang akan mengayomimu hingga engkau dapat berdikari, mereka akan membimbingmu mengenal benda-benda, menuntunmu berjalan, berbicara, dan mengenalkan kepadamu baik dan buruk, kupenuhi sanubari ibumu dengan kasih sayang, agar ia rela mengorbankan segalanya demi kelembutannya padamu, lantas kusiapkan pula kelembutan dan kasih sayang pada sanubari orang-orang lain yang akan mengayomimu kelak, lalu engkau menjadi manusia dewasa yang bertebaran dibumiku, engkaupun melihat, mendengar, bernafas, makan dan minum dibumiku, yang tak satupun perbuatan kalian terkecuali Kusaksikan.., Kulihat.., Kudengar..,

Kuutus pula untukmu semulia-mulia Rasul dari bangsamu, yang sangat berat memikirkan penderitaan yang menimpamu, selalu berusaha menjagamu dari bencana, dan sangat berlemah lembut pada hamba-hamba Ku yang mu'min, Ia membawa semua Rahmat Ku yang sudah kuperbolehkan untuk engkau dapatkan, maka setelah kutunjukkan kepadamu jalan yang semestinya kau tempuh, maka kulihat apakah yang kau perbuat, bersyukur atau kufur (kufur dalam bahasa arab adalah berpaling, sedangkan kafir adalah orang yang berpaling, bisa termasuk orang yang diluar islam, bisa juga pada keislaman seseorang, lain dengan kafir yang difahami di Indonesia, yang berarti keluar dari islam),

Setelah segala kemuliaan dan keluhuran kuizinkan untukmu, namun engkaupun berbuat kehinaan yang tak Ku kehendaki engkau melakukannya dimuka bumi Ku, setelah engkau tenggelam dalam kehinaan, dan melampaui batas dalam berbuat kesalahan, sehingga engkau semakin jauh dari Ku, maka engkau kupanggil untuk kembali kepada Ku, agar engkau jangan berputus asa dari kasih sayang Ku, sangat mudah bagi Ku mengampuni seluruh dosamu, asalkan kau kembali bersama Ku, Aku bersamamu ketika engkau mengingat Ku, apabila engkau menyebut nama Ku, maka Akupun menyebut namammu, apabila engkau mendekat kepada Ku dengan merangkak, maka Aku akan mendekat kepada dengan lebih cepat.

Sampailah waktu kehidupanmu di bumiku selesai, maka engkau harus meninggalkan kehidupan bumi, dengan lebih dulu merasakan kepedihan yang jauh lebih besar dari kepedihan yang dirasakan ibumu saat engkau memasuki bumiku, Maka kau berpindah dengan Kehendak Ku ke alam Barzakh, Ruhmu tercabut dari tubuhmu, Kau berpisah dengan semua yang kau lihat, berpisah dengan semua yang kau dengar, berpisah dengan semua yang kau kenal, berpisah dengan semua hartamu, berpisah dengan semua saudaramu, berpisah dengan semua orang yang kau cintai, berpisah dengan semua orang yang mencintaimu, berpisah dengan semua orang yang kau benci, berpisah dengan semua orang yang membencimu, berpisah dengan segala galanya selain Ku..

Engkau akan dimandikan oleh saudara saudaramu yang masih kuizinkan hidup, mereka menanggalkan seluruh pakaianmu, dan menggantikan kain putih dan beberapa pengikat kafan untuk hartamu yang terakhir, mereka mengantarmu ke dalam lobang kuburmu, sebuah lobang di perut bumi yang gelap dan lembab itulah rumahmu selanjutnya sebagai ganti rumahmu yang kini kau masih tinggali, mereka meletakkanmu sendirian, membuka kain yang menutup wajahmu, lalu memiringkan tubuhmu agar wajahmu mencium tanah, lalu sedikit demi sedikit kau ditimbun, mereka menangisimu.., lalu mereka meninggalkanmu sendiri.., tak satupun dari kekasihmu yang perduli keadaanmu selanjutnya, mereka tak akan mau menemanimu disitu, Saat itu Engkau kembali pada Ku, Hanya bersama Ku.., Hanya bersama Ku.., Hanya bersama Ku..,
INNAA LILLAAH WA INNAA ILAIHI RAAJI'UUN (SUNGGUH KAMI ADALAH MILIK ALLAH, DAN KAMI AKAN KEMBALI KEPADA NYA)

Wahai Dunia....



Wahai Dunia, Wahai dambaan disetiap zaman, telah berjuang memperebutkanmu sedemikian banyak pembesar dan Raja Raja, mereka menikmati keberhasilan dengan kegembiraan. Dan telah berjatuhan sedemikian banyak para fakir miskin yang menetes air liurnya melihat kenikmatan para raja dunia. Telah datang pula golongan hamba yang shalih yang tak mau memperebutkanmu, mereka melupakanmu dan mencari ridho Allah.

Wahai Dunia, tidaklah para raja, atau fakir miskin, atau bahkan orang-orang shalih itu meninggalkanmu kecuali kau bekali 1 X 2 meter saja dari milikmu untuk lubang kuburnya, hanya itulah yang kau berikan pada mereka, itulah kebaikanmu pada para pecintamu atau mereka yang meninggalkanmu, sama saja, padahal para pecintamu melupakan segala-galanya hanya untuk mendapatkanmu, namun tak satupun dari mereka meninggalkanmu, selain hanya mendapatkan kuburnya saja, maka para pecintamu meninggalkan harta untuk menjadi bahan perebutan dan percekcokan antara ahli warisnya kelak, dan ia meninggalkanmu dibebani dosa, dan para hamba Shalih mendapat tumpukan pahala.
Firman Allah: "Dan Kehidupan Dunia hanyalah panggung sandiwara dan fatamorgana belaka"

Oh Saudara.., sadarlah.. aku dan engkau hanyalah satu sel dari 1 Milyar sel yang terkumpul dalam beberapa tetes cairan kental yang mengalir dari dahsyatnya birahi manusia sebelumku dan sebelummu. 1 Milyar sel itu bertebaran di vagina, berjuang mencapai kehidupan alam rahim, maka 1 Milyar sel itu gagal kesemuanya, mereka semua mati dan terbuang, hanya satu sel yang berhasil selamat ke alam rahim, ITULAH AKU DAN ENGKAU, satu-satunya yang berhasil selamat dari 1 Milyar saudaraku dan saudaramu yang musnah..

Aku dan engkaupun hidup bertebaran memenuhi bumi, lalu mati dan dibenamkan dikubur, kubur kita yang harus dalam, agar bau busuk yang dahsyat kelak, tak terbaui dan mengganggu manusia lain yang masih belum jadi bangkai seperti kita, aku dan engkau akan sendiri, tak ada teman terdekat sekalipun yang mau menemani di kubur kita, tak satupun dari mereka mau perduli terhadap hewan tanah yg menggerogoti kita, lalu hewan tanah akan menggerogoti tubuh ini sedikit demi sedikit, berkeliaran di paru-paru kita, dan mungkin menjadikan otak kepala ini sebagai tempat bertelur. Lalu kita akan habis menjadi tulang, lalu habis lebur menjadi tanah.., musnah.., tak lagi terlihat bentuk ini, tak lagi ada suara ini, wujud ini, semua habislah sudah begitu saja.

Wahai aku dan kalian, ingatlah bahwa maut membayangiku dan kalian lebih dekat dari bayangan kita sendiri, dan ingatlah bahwa satu nafas kita adalah selangkah menuju ajal.