Dalam sebuah hadits Rasulullah saw. bersabda :
).
Hadits di atas menunjukkan betapa pentingnya peranan hati dalam kehidupan manusia.
berarti segumpal daging yang berbentuk bulat panjang dan terletak di
dada sebelah kiri, yang didalamnya ada rongga-rongga yang mengandung
darah hitam sebagai sumber roh.
berarti yang halus bersifat ketuhanan dan rohaniah yang ada hubungannya dengan hati jasmani tadi.
.
Tamba ati iku lima warnane
Ingkang dingin nderes Qur’an sakmanane
Kaping pindo wongkang sholeh kumpulana
Kaping telu shalat wengi lakonana
Kaping papat weteng iro ingkang luwe
Kaping limo dzikir wengi ingkang suwe
Salah sawijine sapa wongkang gelem nglakoni
Insya Allah gusti Allah ngijabahi.
Terjemahan bebasnya kira-kira sebagai berikut :
Obat hati itu lima macam
Yang pertama membaca Qur’an berikut maknanya
Yang kedua bergaul dengan orang shaleh
Yang ketiga melaksanakan shalat malam
Yang keempat melaparkan perut/berpuasa
Yang kelima dzikir malam yang panjang
Siapa yang dapat melakukan salah satu diantaranya Insya Allah, Tuhan akan mengabulkan
Sumber
dari syi’ir di atas kemungkinan besar adalah dari kitab Nashoihul
‘Ibad, di mana di dalamnya disebutkan bahwa Abdullah Al Anthakiy
Rahimahullah berkata : Lima macam obat hati yaitu : Bergaul dengan
orang-orang shalih, membaca Al-Qur’an, melaparkan perut, shalat di malam
hari, dan bersembah sujud di waktu menjelang shubuh. (Imam Nawawi,
1983).
Uraian berikut mencoba untuk memberikan bahasan yang bersifat penjelasan terhadap lima macam obat hati di atas.
B. Pembahasan Lima Jalan Penyembuh Hati
1. DzikirDzikir
adalah bacaan, puji-pujian dan lain-lain sebutan yang tidak mengandung
permintaan (Ibnu Hajar Al Asqolani, 1976). Sedang menurut Hasbi
Ashshiddieqy dzikir (1983:36) adalah menyebut Allah dengan membaca
tasbieh (subhanallahi) membaca tahliel (la-ilaha illallahu) membaca
tahmied (alhamdulillahi) membaca taqdies (quddusun), membaca takbir
(Allahu Akbar), membaca hauqalah (lahaula wala quwwata illa billahi),
membaca hasbalah (hasbiyallahu), membaca basmalah, membaca Al-Qur’anul
Majied dan membaca do’a-do’a ma’tsur, yaitu do’a-do’a yang diterima dari
Nabi saw. Dzikir adalah mengingat Allah dalam hati dan menyebut
nama-Nya pada lisan berdasarkan perintah Allah dalam Al Qur’an dan
contoh-contoh dari Nabi saw.
Terdapat banyak perintah untuk
melaksanakan dzikir baik dalam Al Qur’an maupun hadits, diantaranya
adalah dalam surat Al Ahzab ayat 41: “Sebutlah olehmu akan Allah dengan
sebutan yang banyak”, surat Al Anfal ayat 45 : “Dan sebutlah olehmu akan
Allah dengan sebutan yang banyak, supaya kamu mendapat kemenangan”,
juga dalam Surat Ad Dahr ayat 25-26: “Dan sebutlah akan nama Tuhanmu di
waktu pagi dan petang dan disebagian malam. Dan bersujudlah kepadaNya
seraya bertasbih pada malam yang panjang”.
Nabi
Muhammad saw juga menganjurkan untuk dizikir yaitu dengan sabdanya:
“Barang siapa tiada banyak menyebut Allah, maka sungguh terlepas dia
dari iman”, juga sabda beliau: “orang yang menyebut Tuhannya dengan
orang yang tiada menyebut Tuhannya, adalah seumpama orang yang masih
hidup dibanding dengan orang yang mati” (HR. Bukhori) Ash Shiddiqy,
1983).
Dzikir sebagai amalan ibadah yang sangat dianjurkan sangat
berpengaruh positif terhadap hati manusia, diantaranya adalah sebagai
berikut :
1. Membuat hati bersih dan bening, tenteram dan tenang sebagaimana disebutkan dalam Qur’an Surat Ar-Ra’du ayat 28 :
(yaitu)
orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan
mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi
tenteram. (QS. Ar-Ra’du: 28).
2. Hati merasa Ridla
Maka
sabarlah kamu atas apa yang mereka katakan, bertasbihlah dengan memuji
Tuhanmu, sebelum terbit matahari dan sebelum terbenamnya dan
bertasbihlah pulalah pada waktu-waktu di malam hari dan pada waktu-waktu
di siang hari, supaya hatimu merasa ridla. (QS. Thaha: 130).
3. Diingat Allah dan dipenuhi rahmat dan ketenteraman, sebagaimana disabdakan oleh Rasulullah Saw.
Tidak
ada majlis suatu kaum yang di dalamnya ada mengingat Allah, kecuali
akan diliputi oleh para malaikat dan dipenuhi dengan rahmat, dan Allah
akan mengingat mereka di sisi-Nya (HR. Muslim) (Ibnu Hajar Al-Asqolani,
1976).
4. Menimbulkan rasa dekat, dalam
perlindungan dan pertolongan Allah, sebagaimana firman-Nya: Karena itu,
ingatlah kamu kepada-Ku, niscaya Aku ingat (pula) kepadamu… (QS.
Al-Baqoroh: 152).
Rasulullah Saw bersabda :
Allah Ta’ala berfirman
: Aku beserta hambaku selama ia sebut-Ku dan bergerak dua bibirnya pada
menyebut-Ku (Ibnu Majah) (Ibnu Hajar As-Qolani: 1976).
5.
Terapi bagi kegelisahan ketika manusia merasa lemah, sebagai penyangga
dan penolong menghadapi berbagai tekanan dan permasalahan kehidupan.
Firman Allah :
Dan barang siapa berpaling dari mengingat-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit (QS. Thaha: 124).
6. Dibersihkan (hati) dari dosa
Bersabda Rasulullah Saw. :
Barang
siapa yang berkata (yang artinya): Mahasuci Allah dan dengan memuji-Nya
(aku berbakti) sebanyak seratus kali, niscaya digugurkan dari padanya
dosa-dosanya, walaupun sebanyak buih laut (Mutattaq ‘alaihi) (Ibnu Hajar
As-Asqolani, 1976).
7. Disembuhkan dari Penyakit (hati)
Bersabda
Rasulullah saw. : Menyebut-nyebut Allah adalah suatu penyembuhan dan
menyebut-nyebut tentang manusia adalah penyakit (HR. Al Baihaqi)
(Muhammad Faiz Almath, 1993).
Selanjutnya menurut Fat-hiy Yakan
(1984:150) dzikir merupakan biduk penyelemat dari tenggelam di lautan
keraguan, was-was resah gelisah dan semua penyakit jiwa. Dzikir kepada
Allah menumbuhkan ketegaran dan kelapangan hati, yang mana pada
gilirannya menumbuhkan kekuatan dan kemampuan pada dirinya untuk mampu
menghadapi segala tantangan dan melewati segala rintangan hidup dengan
penuh kepercayaan dan ketenangan.
2. Membaca Al Qur’an
Membaca
Al Qur’an selain merupakan ibadah juga merupakan cara untuk penyembuhan
hati sebagaimana disebutkan dalam Al Qur’an surat Yunus ayat 57: “Hai
manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan
penyembuh bagi penyakit (yang ada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat
bagi orang-orang yang beriman”. Juga dalam surat Al-Isra ayat 82” “Dan
Kami turunkan dari Al Qur’an itu, apa yang menjadi obat dan rahmat bagi
mereka yang beriman.
Jalaluddin As Suyuti (1995) mengemukakan bahwa
diantara keistimewaan Al Qur’an adalah dapat mengobati kekerasan hati,
menghilangkan duka dan memasukkan kegembiraan dalam hati, menghilangkan
kesusahan, bahkan untuk penyembuhan penyakit-penyakit fisik.
Selanjutnya Hasbi Ash Shiddiqy (1983) menyebutkan bahwa faedah tilawat atau membaca Al Qur’an adalah sebagai berikut :
a. Pembaca Al Qur’an ditempatkan di dalam shaf orang-orang besar yang utama dan tinggi.
b.
Pembaca Al Qur’an memperoleh beberapa kebajikan dari tiap-tiap huruf
yang dibacanya dan bertambah-tambah derajatnya di sisi Allah sebanyak
kebajikan yang diperolehnya itu.
c. Pembaca Al Qur’an akan dinaungi rahmat dikelilingi para malaikat dan Allah menurunkan kepadanya ketenangan dan kewaspadaan.
d. Pembaca Al Qur’an digemilangkan hatinya oleh Allah dan dihindarkan dari kegelapan.
e. Pembaca Al Qur’an disegani dan dicintai oleh orang-orang shaleh.
f. Pembaca Al Qur’an tidak akan gundah hatinya di hari kiamat, karena ia senantiasa dalam pemeliharaan dan penjagaan Allah.
g. Pembaca Al Qur’an memperoleh kemuliaan dan diberikan rahmat kepada ibu bapaknya.
h. Pembaca Al Qur’an memperoleh kedudukan yang tinggi dalam syurga.
i. Pembaca Al Qur’an memperoleh pula derajat seperti yang diingini oleh orang-orang shaleh
j.
Pembaca Al Qur’an ditemani dan dikelilingi oleh para malaikat, semuanya
mendo’akan dan memohonkan ampunan dan derajat yang tinggi baginya.
k. Pembaca Al Qur’an terlepas dari kesusahan-kesusahan akherat
l.
Pembaca Al Qur’an termasuk orang yang dekat kepada Allah, berada dalam
rombongan orang-orang yang mengiringi Allah di hari syurga.
3. Melaparkan Perut/Puasa
Menurut
Imam Nawawy (1983) dimaksudkan dalam melaparkan perut ialah tidak
banyak makan, dan berhati-hati agar yang dimakannya benar-benar halal.
Makanan halal itu pmenjadi pangkal segala kebajikan, sebab barang halal
itu dapat menyinari hati sehingga matahati menjadi bersih cemerlang dan
ibarat cermin akan kembali mengkilap mampu memantulkan bayangan dan
membiaskan sinar. Dalam hadits dinyatakan: “Tiga hal berikut dapat
membuat pengerasan dihati yaitu gemar makan, gemar tidur dan gemar
menganggur”.
Bentuk lain dari melaparkan
perut adalah puasa. Dalam sebuah hadits Rasulullah saw bersabda :
“Berpuasalah kamu maka kamu akan sehat”. Dalam hadits lain Nabi
menganjurkan puasa bagi para pemuda untuk menahan hawa nafsunya jika
mereka belum mampu untuk menikah. Dari hadits Nabi tersebut nampak bahwa
puasa merupakan sarana auntuk mencapai kesehatan baik lahir maupun
batin dan juga merupakan jalan untuk mengekang hawa nafsu yang merupakan
sumber dari penyakit hati.
Menurut Fat-hiy Yakan (1984: 119-124)
puasa merupakan pembersih jiwa yang paling kuat terutama untuk melawan
hawa nafsu yang menjadi pangkal dari kotornya hati. Selain itu dengan
puasa perasaan menjadi halus dan peka, pikiran jernih dan nafsu melemah.
4. Shalat Malam
Dalam
Al Qur’an terdapat ayat-ayat yang menjadi dasar bagi pelaksanaan shalat
malam, yaitu surat Al-Isra ayat 79: “Sebagian waktu malam itu hendaknya
engkau gunakan untuk salat tahajud, sebagai salat sunat untuk dirimu,
mudah-mudahan Tuhan akan membangkitkan engkau dengan kedudukan yang
baik”. Surat Al Muzammil ayat 6: “Sesungguhnya bangun di waktu malam
untuk shalat adalah lebih tepat dan bacaan di waktu itu lebih terkesan”.
Dan juga Surat Ad Dahr ayat 26: “Dan di sebagian dari pada malam
sujudlah kepadaNya dan berbaktilah kepadaNya di malam yang panjang”.
Dalam sebuah hadis Rasulullah saw bersabda: “Kerjakanlah
shalat malam karena shalat itu merupakan kebiasaan orang-orang saleh
sebelum kamu. Ia mendekatkan kamu kepada Tuhan, menghapus dosa-dosa,
mencegah perbuatan dosa dan menolak penyakit dari tubuh”. (HR. At
Thabrany dan A Turmudziy).Berdasarkan kepada Al Qur’an dan
Hadits Nabi tersebut Fat-hiy Yakan berpendapat bahwa shalat malam
mempersiapkan manusia menjadi insane rabbani yang bergayut dengan Allah,
berjiwa cemerlang, hatinya bercahaya, sadar dan berpikiran jernih.
Dengan kondisi yang demikian tentu saja akan mampu menghadapi persoalan
hidup dengan tenang dan tidak mudah merasa bingung apalagi stress.
Dengan
demikian menjalankan shalat malam yang didukung oleh suasana yang
tenang, hening dan sunyi secara psikologis akan mendatangkan ketenangan
dan ketentraman hati (Thohari Moh. Said, 1993: 70).
5. Bergaul Dengan Orang Shaleh
Menurut
Imam Nawawi (1983) bergaul dengan orang shaleh artinya hadir di majlis
mereka dan memegangi petuah mereka, dan sebaliknya bersikap diam dan
menyingkir dari mereka yang gemar berbuat bathil.
Dalam Al Qur’an
surat Al Maidah ayat 55-56 Allah berfirman: “Sesungguhnya penolong kamu
hanyalah Allah, RasulNya, dan orang-orang yang beriman, mendirikan
shalat dan menunaikan zakat, seraya mereka tunduk (kepada Allah); Dan
barang siapa mengambil Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman
menjadi penolongnya, maka sesungguhnya pengikut (agama) Allah itulah
yang pasti menang”.
Selanjutnya dalam sebuah hadits Rasulullah saw bersabda: “Hendaklah
kalian bersahabat dengan kawan yang tulus hati, karena mereka menjadi
hiasan di kala bahagia dan menjadi perisai di saat terjadi bencana”. (Imam Nawawi, 1983: 227).
Berdasarkan
kepada firman Allah dan hadits Rasul tersebut maka dapat dikatakan
bahwa bergaul atau bersahabat dengan orang shaleh dan menjadikannya
sebagai penolong, merupakan jalan yang tepat untuk mengatasi kesusahan
termasuk di sini adalah kesusahan hati.
C. Penutup
Dari
pembahasan sebelumnya dapat disimpulkan bahwa hati merupakan hakekat
manusia yang bersifat ketuhanan dan rohaniah yang dapat menangkap segala
pengertian, berpengetahuan dan arif, yang menjadi sasaran dari segala
perintah dan larangan Tuhan. Karena itu taat kepada Allah dengan tidak
menurutkan hawa nafsu dapat menjernihkan hati, sebaliknya berdosa kepada
Allah akan menghitamkannya dan membuat hati menjadi sakit.
Pengaruh
dosa dalam hati akan menyebabkan hati menjadi sakit dan untuk
mengobatinya adalah dengan obat-obatan yang berupa amal ibadah. Diantara
amal ibadah yang dapat mengobati hati yang sakit adalah membaca Al
Qur’an, berdzikir, melaparkan perut atau puasa, shalat malam dan bergaul
dengan orang shaleh.
DAFTAR PUSTAKA
Aboe Bakar Atjeh, Pengantar Ilmu Tarekat, Solo, Ramadhani, 1985.
Al Qur’an dan Terjemahnya, Depag. RI. Semarang, Toha Putra, 1989.
Fat-hiy Yakan, Kunci Sukses Petugas Dakwah, Terjemah oleh Hasan Baidaie, Yogyakarta, Bina Usaha, 1984.
Hasbi As Shiddiqi, Pedoman Dzikir dan Do’a, Jakarta, Bulan Bintang, 1983.
Hamzah Ya’kub, Tingkat Ketenangan dan Kebahagiaan Mukmin (Tasawwuf dan Taqarrub), Jakarta, CV. Atisa, 1992.
Ibnu Hajar Al-Asqolani, Bulughul Maram, Tarjamah A. Hasan, Bandung, Diponegoro, 1976.
Imam Ghozali, Keajaiban Hati, Alih bahasa oleh Nurchikmah, Jakarta, Tintamas, 1984.
Imam
Nawawi Al-Banteniy, Nashoihul ‘Ibad, Diterjemahkan menjadi Nasehat
Penghuni Dunia, oleh Aliy As’ad, Kudus, Menara Kudus, 1983.
Jazim Hamidi dan Asyhari Abta, Syiiran Kiai-Kiai, Yogyakarta, Kodama/Pustaka Pelajar, 1993.
Jalaluddin As Suyuti, Al Qur’an Sebagai Penyembuh, Terjemah Achmad Sunarto, Semarang, Surya Angkasa, 1995.
Muhammad Ibrahim Salim, Berobat dengan Ayat-Ayat Qur’an, alih bahasa oleh Sofyan Awari, Bandung, Trigenda Karya, 1995.
Muhammad Faiz Almath, 1100 Hadits Terpilih, Terjemah oleh A. Aziz Salim Basyarahil, Jakarta, Gema Insani Press, 1993.
Thohari Moh. Said, Shalat Malam Sebagai Pengobat Jiwa, Surabaya, Bina Ilmu, 1993.
Muhammad Naser