Ahad, November 6

Risalah Al Muawwanah Fasal 14

Dan penting bagimu untuk berlama-lama dan memperbanyak duduk di dalam masjid dengan niat i’tikaf. Karena sesungguhnya masjid adalah rumah Allah dan sebaik-baik tempat yang dicintai Allah. Telah bersabda RasuluLlah SAW, “Masjid adalah rumah bagi setiap orang yang bertaqwa”. Dan telah bersabda RasuluLlah SAW, “Jika engkau melihat seseorang memakmurkan masjid, maka saksikanlah bahwa ia adalah orang beriman”. Dan telah berfirman Allah SAW, “Sesungguhnya yang memakmurkan masjid adalah orang – orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir”. RasuluLlah SAW telah menjanjikan tujuh golongan yang Allah akan memberikan naungan dari ‘ary-Nya kelak di hari dimana tidak ada naungan kecuali naungan Allah maka salah satu diantara mereka adalah seseorang yang hatinya bergantung kepada masjid. Akan tetapi wajib bagimu ketika engkau duduk-duduk di dalam masjid maka jagalah etika dan tatakrama dan cegahlah diri dari memperbanyak pembicaraan (fudhuulil kalaam), terlebih lagi pembicaraan hal haram.
Dan apabila engkau jumpai di dalam masjid suatu pembicaraan tentang urusan dunia, maka suruhlah keluar dari masjid. Dan janganlah engkau sibukkan dirimu di dalam masjid kecuali dalam urusan ibadah semata. Karena sesungguhnya masjid tidak didirikan kecuali hanya untuk ibadah kepada Allah di dalamnya. Dan apabila engkau memasuki masjid maka dahulukanlah kakimu yang sebelah kanan dan ucapkanlah BismiLlah washalaatu ‘ala RasuliLlah. Allahummagh firly dzunuuby waftahly abwaaba rahmatiKa. Dan janganlah sekali-kali engkau duduk sehingga engkau telah melakukan shalat dua reka’at. Jika tidak memungkinkan melaksanakan shalat, maka ucapkanlah do’a SubhanaLlahi wal hamdu liLlah wa laa ilaaha illaLlah waLlahu Akbar 4 (empat) kali. Dan apabila engkau keluar dari masjid, maka dahulukanlah kakimu yang kiri dan ucapkanlah do’a seperti ketika memasuki masjid akan tetapi pada kalimat abwaaba rahmatiKa diganti dengan abwaaba fadhliKa. Dan tambahlah kalimat A’udzu bilLahi minasyaithanirrajiim wa junuudihi.
Dan apabila engkau mendengar suara mu’adzin maka tirukanlah seperti apa yang di ucapkan mu’adzin kecuali pada dua buah kalimat hayya maka jawablah dengan kalimat la haula walaa quwwata illa bilLah. Dan jawablah pada kalimat ashalaatu khairun minannaum pada adzan subuh dengan jawaban shadaqta wa bararta. Dan apabila engkau selesai menjawab panggilan adzan, maka lanjutkanlah dengan membaca shalawat kepada Nabi SAW kemudian ucapkanlah kalimat Allahumma Rabby hadzihidda’watittaammah washalaatil qaaimah aati Muhammadal washiilah wal fadhiilah wab’atshu maqaamam mahmuuda’lladzii wa’adTaH. Dan perbanyaklah berdo’a antara adzan dan iqamah sebagaimana sabda Nabi SAW ”Do’a diantara dua adzanadalah tidak ditolak . dan termasuk do’a yang dibaca pada saat yang demikian adalah Allahumma inny as alukal ‘afiyah fiddunya wal aakhirah. Dan sungguhntelah datang penjelasan di dalam sunnah tentang do’a tersebut pada waktu-yang lain. Maka penting bagimu dengan do’a ini karena sesungguhnya do’a tersebut termasuk kumpulan / intisari do’a dan lebih utama.

Risalah Al Muawwanah Fasal 13

Dan telah datang penjelasan bahwasanya Malaikat tidak akan pernah memasuki suatu rumah yang di dalamnya terdapat orang yang berjunub. Apabila malaikat telah pergi, maka akan datanglah syaithan dari segala penjuru. Oleh karena itu takutlah kamu jika engkau makan atau tidur dalam keadaan junub sehingga engkau akan mengalami bahaya disebabkan hal yang demikian itu. Apabila engkau tidak mampu untuk melakukan mandi jinabat seketika, maka berusahalah agar engkau dapat mencuci farji dan berwudhu’. Dan wajib bagi kamu untuk selalu memperbaharui wudhu’ pada setiap mengerjakan shalat fardhu, dan berusahalah agar engkau selalu dalam kondisi bersuci (menanggung wudhu) dan bersegeralah perbaharui wudhu apabila engkau berhadats karena sesungguhnya wudhu’ adalah senjata orang Mukmin. Dan manakalah senjata selalu berada di tangan, maka musuh pastilah akan selalu menjauh darimu. Dan sungguh telah datang seseorang menghadap kepada Syaikh Abi Al-Hasan Asy-Syadzily RA untuk mengajarinya ilmu kimia, maka Syaikh memerintahnya untuk mendampingi beliau selama satu tahun dengan syarat selalu memperbaharui wudhu apabila berhadats, kemudian mengerjakan shalat dua reka’at. Maka Syaikh akan mengajarinya ilmu kimia setelah itu. Maka setelah sempurna satu tahun, pergilah lelaki tersebut ke sebuah sumur dengan maksud hendak mengambil air minum dari sumur itu, dan secara tiba-tiba dipenuhilah timba itu dengan emas dan perak. Maka dibuanglah kembali emas dan perak itu ke dalam sumur karena zuhudnya daripada emas dan perak tadi. Maka kembalilah lelaki tersebut menghadap Syaikh Abi Al-Hasan Asy-Syadzily RA dan menceritakan apa yang telah terjadi. Maka berkatalah Syaikh kepada orang itu, “Sekarang engkau telah menjadi seorang ahli kimia. Dan Syaikh memerintahkannya ntuk menyeru manusia ke jalan Allah.
Dan wajib bagi kamu untuk mengerjakan shalat dua rekaat setelah berwudhu’ dan jika engkau tidak mampu untuk melanggengkan bersuci maka berusahalah engkau tidak meninggalkan wudhu ketika engkau duduk di dalam masjid, dan ketika membaca Al-Qur’an, dan ketika mengkaji ilmu agama, dan ketika duduk untuk berdzikir dan lain sebagainya dari beberapa amalan ibadah. Dan apabila engkau mengerjakan wudhu atau mandi jinabat maka takutlah engkau dengan hanya mengerjakan fardhunya sahaja, akan tetapi sebaiknya engkau juga harus menjaga sunah-sunahnya pula.
Dan sebaiknya bagi kamu untuk mandi pada sebagian waktu dengan niat membersihkan diri meskipun engkau tidak dalam keadaan jinabat. Dan telah pula datang penjelasan tentang mandi teesebut seperti mandi pada hari Jum’ah maka menjadi suatu keharusan bagi kamu untuk melaksanakannya. Demikian pula pada waktu-waktu yang lain . dan apabila telah selesai melaksanakan wudhu’ demikian pula mandi, maka ucapkanlah “Asy hadu An-Laa Ilaaha IllaLlaah wahdaHu Laa Syariika laHu, wa Asyhadu Anna Muhammadan ‘AbduHu wa RasuuluH.
Dan wajib pula bagi kamu untuk selalu menjaga tatakrama sebagaimana yang termaktub di dalam As-Sunnah baik secara lahir maupun bathin demikian pula dalam kebiasaan sehari-hari maupun ketika melaksanakan ibadah, dengandemikian maka akan sempurnalah Mutaba’ah dan sempurna pula bagimu dalam mengikuti jejak RasuluLlah SAW yaitu Rasul Yang penuh rahmah dan Nabi yang membawa petunjuk ke jalan yang lurus. Jika engkau menginginkan termasuk menjadi golongan Ash-Shiddiqiin, maka janganlah engkau melakukan sesuatu baik itu merupakan amal kebiasaan sehari-hari terlebih lagi suatu amalan ibadah kecuali engkau mengetahui dan melihat adakah RasuluLlah SAW, juga para sahabat RA sama ada melakukan hal yang demikian atau tidak. Apabila engkau tidak mendapati Mereka melakukan hal yang demikian, maka tahanlah dirimu untuk tidak mengerjakannya meskipun perbuatan tersebut termasuk sesuatu yang mubah karena sesungguhnya mereka tidak memasuki amalan tersebut melainkan telah datang khabar / ilmu kepada mereka dalam hal meninggalkan amalan tersebut. Dan apabila engkau mengetahui bahwa mereka mengerjakan / memasuki sebuah amal perbuatan, maka yang pertama ketahuilah bagaimana tata cara mereka mengerjakan amalan tersebut
Dan ketehuilah barang siapa yang menjaga kebiasaan sehari-hari dengan adab / tata krama yang diajarkan Nabi SAW, maka Allah akan menjaga dirinya daik secara lahir maupun bathinnya dihindarkan dari tabi’at dan akhlak yang tercela, dan ia akan mendapatkan kebaikan dan manfaat baik dalam hal agama maupun perkara duniawiyahnya. Dan bagi seseorang yang menginginkan kesempurnaan dan kemerdekaan diri serta kesucian diri dari kotoran, maka hendaklah menjadikan semua gerak dan diamnya baik secara zahir maupun bathinnya selalu dalam kerangka undang-undang syari’ah, mengikuti isyarah syar’i dan akal.

Risalah Al Muawwanah Fasal 12

dan wajib bagi kamu untuk selalu menjaga kesucian lahir dan bathinmu karena barang siapa yang sempurna kesuciannya maka ruh nya dan sirrinya akan menyerupai malaikat secara ruhaniyah meskipun jasadnya adalah seorang manusia. Telah bersabda RasuluLlas SAW, “Buniyaddiijn ‘ala nadhaafah” yang artinya, “Sesungguhnya agama ditegakkan di atas kebersihan”. Dan juga telah bersabda SAW, “InnaLlaaha nadhiif yuhibbunnadhaafat” yang artinya, “sesungguhnya Allah itu suci dan cinta kepada kesucian”.
Dan kesucian bathin dapat dihasilkan dengan membersihkan hati dari akhlak yang tercela seperti takabur, riya’ hasud, cinta dunia, kemudian menghiasinya dengan akhlak yang mulia seperti tawadhu’, malu, ikhlash, dan pemurah dan lain sebagainya.
Adapun hakikat dari akhlak yang demikian, dan jalan untuk melepaskan diri dari akhlak tercela, dan jalan untuk mendapatkan keutamaan akhlak tersebut semua itu telah dikumpulkan oleh Imam Al-Ghazali RA pada bagian ke dua dari kitab Ihya’Ulumuddin oleh karena itu wajib bagi kamu untuk mempelajarinya.
Sedangkann kesucian perbuatan zahir akan dapat diperoleh dengan meninggalkan apa yang dilarang oleh agama dan melaksanakan apa yang diharuskan. Oleh karena itu barang siapa yang menghiasi dirinya dengan selalu melakukan amal shalih, dan memenuhi bathinnya dengan akhlak yang terpuji niscaya sempurnalah kesuciannya
Dan termasuk bagian dari membersihkan zahir adalah apa yang telah ditunjukkan oleh syara’ seperti menghilangkan kotoran di badan, memotong bagian tubuh yang berkebih seperti merapikan kumis, memotong kuku dimulai dari jari telunjuk kanan terus berurutan sampai ujung jari paling kiri, kemudian dilanjutkan tangan kiri dimulai dari jari paling kiri berurutan sampai ibujari kiri, kemudian diakhiri dengan ibu jari tangan sebelah kanan. Dan mensucikan diri dari hadats dan najis,
Adapun memotong kuku pada kaki maka disunahkan dimulai dari jari paling kanan pada kaki sebelah kanan, terus berurutan kekiri hingga berakhir pada jari paling kiri pada kaki sebelah kiri sebagaimana kalau menyela jari ketika berwudhu. Dan dimakruhkan mengulur waktu di dalam membersihkan anggota badan yang berlebih tersebut lebih dari 40 hari. Termasuk juga membersihkan daki yang ada di badan dengan menggosok hingga bersih kemudian disiram dengan air, demikian juga tertmasuk membersihkan kotoran yang terdapa pada ujung mata, dan termasuk juga membersihkan sisa-sisa makanan di sela-sela gigi.
Dan wajib bagi kamu membersihkan mulutmu dengan siwak menggunakan kayu araq lebih utama, dan lebih ditekankan ketika hendak melaksanakan ibadah seperti shalat atau membaca Al-Qur’an dan lain sebagainya, dan mencuci bajumu dengan air apabila ia kotor. Dan termasuk juga dalam menyempurnakan kebersihan adalah menggunakan minyak untuk rambut dan jenggot, dan memakai celak mata dari itsmid pada tiap-tiap mata tiga kali usapan. Sesungguhnya RasuluLlah SAW bercelak pada tiap-tiap malam. Demikian pula memakai wewangian karena wewangian dapat menyebabkan udara menjadi harum yang dapat menyenangkan orang yang menghirupnya dan ditekankan pada saat menghadiri shalat jum’at dan beberapa pertemuan yang dihadiri umat islam. Sesungguhnya RasuluLlah SAW menyukai wewangian dan memperbanyakkannya bahkan sesungguhnya RasuluLlah SAW sendiri tubuh beliau telah wangi dengan sendirinya meski tanpa menggunakan wewangian hingga sebagian para sahabat mengumpulkan tetesan keringat beliau dan menggunakannya sebagai wewangian. Dan disunahkan bagi orang laki-laki menggunakan minyak wangi yang tajam baunya akan tetapi samar warnanya. Sebaliknya bagi orang perempuan disunahkan menggunakan minyak wangi yang samar bahunya dan jelas warnanya.
Dan wajib bagi kamu menjaga diri dari najis secara keseluruhan. Apabila ada najis mengenai dirimu maka segera bersihkan karena najis itu dapat menghalangimu dari Allah SWT, bukankan Allah telah melarang mengenakan pakaian yang terkena najis untuk emngerjakan shalat maupun membaca Al-Qur’an.

Risalah Al Muawwanah Fasal 11



Dan wajib bagi kamu untuk melaksanakan fardhu/ kewajiban serta menjauhi perbuatan yang haram dan wajib pula memperbanyak amalan sunah. Maka sesungguhnya engkau jika dapat melaksanakan hal yang demikian secara ikhlas liwajhiLlah, karena Allah Yang Maha Mulia maka engkau akan berhasil mencapai kedekatan yang sesungguhnya dengan Allah Ta’ala. Dan Allah pun akan memberikan kepada engkau pakaian mahabbah / cinta kepadaNya yang melingkupi dan mempengaruhi dari mahabbah tersebut akan segala tingkah laku gerak dan diammu semata-mata karena Allah dan dengan Allah (liLlah dan BiLlah). dan itulah mahkota kewalian dan mahkota kekhalifahan yang di isyaratkan oleh junjungan kita baginda RasuluLlah SAW dengan sabda beliau yang meriwayatkan dari Allah SubhanaHu wata’ala, “sesungguhnya Allah Ta’ala berifrman, Tiada sekali-kali hambaKu mendekatkan diri kepadaKu yang lebih Aku cintai daripada mereka yang mengerjakan apa yang Aku fardhukan kepada mereka. Dan tidak henti-hentinya hambaKu mendekatkan diri kepadaKu dengan mengerjakan amalan sunah sehingga Aku mencintainya. Apabila Aku telah mencintainya maka Aku menjadi pendengarannya ketika ia mendengar, dan menjadi penglihatannya ketika ia melihat, dan menjadi tangannya ketika ia memegang, dan menjadi kakinya ketika ia berjalan. Jika ia meminta kepadaKu niscaya Aku beri, jika ia meminta perlindungan kepadaKu niscaya Aku beri perlindungan…..
Oleh karena itu lihatlah…semoga Allah merahmatimu, akan beberapa rahasia / asrar dan beberapa pengetahuan yang tertuang dalam hadits Qudsi di atas, dan perhatikanlah dengan sungguh-sungguh secara mendetail apa yang termaktub di dalamnya tentang apa saja yang dapat menghantarkan seorang hamba untuk sampai kepada derajad yang sedemikian tinggi yaitu menjadi kekasih ALlah. Sehingga apa yang ia cintai adalah sesuatu yang dicintai Allah demikian pula apa yang ia benci adalah apa yang Allah benci, dan semua itu tidak tercapai kecuali dengan melaksanakan apa yang diperintahkan Allah dan memperbanyak amalan sunah yang dicintaiNya dengan mengharapkan kebahagiaan di sisiNya. Oleh karena itu bersegeralah jika memang engkau memiliki cita-cita untuk dapat sampai kepada derajat kesempurnaan dan jika pula engkau menginginkan sampai pada derajad rijal dimana telah jelas dan teranglah jalan untuk menuju kesana.
Dan ketahuilah sesungguhnya Allah Ta’ala dengan kemurahanNya dan ke baikanNya telah menjadikan amal sunnah sebagai penambal kekurangan dari amalan fardhu yang sesuai dengan yang sejenisnya, semisal Shalat fardhu dengan shalat sunah , puasa fardhu dengan puasa sunah. Dan Fardhu adalah pokok / dasar sedangkan sunah adalah cabang atau yang mengikuti amal fardhu. Dan orang-orang yang mengerjakan kewajiban fardhu, dan menjauhi perbuatan haram namun tidak melakukan ibadah sunah adalah lebih baik daripada orang yang bersungguh-sungguh melakukan ibadah sunah akan tetapi melalaikan ibadah fardhu.
Dan takutlah kamu untuk meninggalkan ibadah fardhu dan lebih mengutamakan ibadah sunah maka engkau akan berdosa dengan meninggalkan keutamaan ibadah fardhu dan Allah tidak akan menerima ibadah sunahmu. Hal yang demikian dapat terjadi seperti orang yang menyibukkan diri dengan ilmu tentang amalan sunah dan meninggalkan mempelajari ilmu tentang fardhu baik dalam dhahir maupun bathinnya.
Dan ketahuilah sesungguhnya engkau tidak akan sampai kepada melaksanakan kewajiban yang diperintahkan Allah kepadamu dari perbuatan ta’at, demikian pula menjauhi dalam hal enjauhi apa yang dilarangNya untukmu dari beberapa ma’siyat dan pula dari beberapa cara mengerjakan amalan sunah yang dapat mendekatkan dirimu kepadaNya kecuali dengan ilmu. Maka wajib bagimu mencari ilmu tersebut, dan telah bersabda RasuluLlah SAW ,”Mencari ilmu adalah wajib bagi setiap orang islam . Dan dengan ilmu engkau akan mengetahui hal yang wajib adalah wajib dan yang haram adalah haram, demikian pula yang sunah adalah sunah. dan pula engkau mengetahui bagaimana cara mengerjakan yang wajib dan sunah dan meninggalkan yang haram. oleh karena itu tidak boleh tidak engkau memiliki ilmu yang demikian. dan tidak ada alasan bagimu untuk tidak membutuhkan ilmu ini, dan mengamalkannya dan selalu mempelajarinya dimana dengan mengamalkannya maka engkau akan memperoleh kebahagiaan di dunia dan di akhirat.
Dan ketahuilah bahwasanya orang yang beribadah kepada Allah tanpa didasari ilmu yang benar, maka bahaya yang ditimibulkan akan kembali kepadanya

Risalah Al Muawwanah Fasal 10



Dan wajib bagi kamu untuk selalu memperbaiki i’tiqadmu dan memperkokohnya atas golongan yang selamat yaitu yang dikenal diantara beberapa golongan Islamiyah seagai i’tiqad Ahlussunah wl Jama’ah. Dan mereka selalu berpegang teguh dengan apa yang datang dari RasuluLlah SAW dan para sahabat. Dan engkau apabila melihat mereka dengan sungguh-sungguh, dengan sepenuh hati didalam memperhatikan hukum-hukum Al Qur’anul Kariim, dan sunah Rasul yang mengandung ilmu-ilmu keimanan, dan golongan yang berjalan pada jalan ulama salaf dari para sahabat, tabi’in, maka engkau akan membenarkan bahwa kebenaran yang nyata adalah yang sebagaimana di sampaikan oleh golongan Asy’ariyah yang dinisbatkan kepada Syaikh Aby Hasan Al Asy’ary RA yang telah menyusun akidah ahlul haq/ ahli kebenaran yaitu aqidah yang telah disepakati oleh para sahabat dan orang-orang sesudah mereka dari golongan tabi’in. Akidah ini (ahlussunah wal jama’ah) adalah akidah ahli kebenaran dari setiap zaman dan tempat dan iala akidah yang dipakai oleh para ahli tasawwuf sebagaimana yang disampaikan oleh Syaikh Abul Qasim AL Qusyairy RA dalam permulaan risalahnya , “…Aqidah kami adalah akidah saudara kami dari orang-orang yang mulia yang terkenal dengan Al-Husiainiyyain, yang dikenal pula dengan Aly Aby Alawy dan juga akidah pendahulu kami, mulai dari RasuluLlah SAW hingga saai ini. Dan Imam AL Muhajir Sayyid Ahmad bi ‘Isa bin Muhammad bin Aly bin Al Imam Ja’far As-hadiq RA, ketika melihat timbulnya bid’ah dan banyaknya perseteruan dan ikhtilaf di Irak. Maka beliau hijrahlah beliau dari sana, dan berpindah-pindah tempat hingga sampailah di Hadramaut maka menetaplah beliau disana hingga wafatnya. Maka Allah telah memberikan berkah kepada beliau dan pengikut-pengikut beliau sesudahnya yang kemudian membentuk suatu komunitas yang sangat terkenal bagi perkembangan ilmu pengetahuan agama dan juga daalam hal ibadah dan kewalian dan ma’rifah. Dan dengan berkah beliau Al imam Ahmad bin Isa maka senantiasalah tegak akidah islam yang benar dari para Ahli bait Nabi yang senantiasa mereka menentang bid’ah. Semoga Allah memberikan pahala yang besar kepada beliau Sang Imam dan kemudian pula kepada kita semua. Demikian pula semoga Allah mengangkat derajat beliau beserta para pendahulu beliau yang teramat mulia ke tempat yang tinggi di sisiNya dan semoga Allah mempertemukan kita kepada mereka kelak di ahirat sesungguhnya Allah adalah Dzat yang Maha Pengasih lagi Penyayang. Dan golongan Maturidiyah seperti juga golongan Asy’ariyah/ahlusunnah wal jama’ah.
Dan seharusnya dilakukan oleh setiap orang mukmin untuk selalu memperbaiki i’tiqadnya dengan menjaga aqidah dari para imam yang telah disepakati kebesarannya dan kedalaman ilmunya, sebagaimana aqidah yang suci diuraikan oleh Imam Al-Ghazali RA, yang jauh dari kekeruhan yang telah disusun pada fashal pertama dari kitab qawaa’idul Aqaa’id dari kitab Ihya’ Ulumuddin. Maka wajib bagi kamu menelaah kitab tersebut. Jika kamu ingin yang lebih dari itu maka dapat mempelajari kitab Risalah Al-Qudsiyah yang disusun pada fashal ke tiga dari kitab tersebut. Dan janganlah engkau menyibukkan dirimu dengan ilmu kalam dan memperbanyak pembahasannya dengan harapan akan mencapai ma’rifah karena sesungguhnya engkau tidak akan mendapatkan hakikat ma’rifat melalui ilmu kalam tersebut. Akan tetapi jika engkau benar-benar menginginkan hakikat ma’rifah, maka wajiblah bagi kamu menempuh jalan (suluukuththariiq) yaitu melanggengkan taqwa secara lahir maupun bathin dan selalau berpegangan kepada ayat Al-Qur’an maupun sunah Nabi SAW. Dan lihatlah pada alam semesta di langit dan bumi dengan tujuan mengambil pelajaran dan memperbaiki akhlak diri sendiri dengan membaguskan riyadhah dan menjernihkan cermin hati dengan selalu berzikir dan tafakur dan berpaling dari segala sesuatu yang menyibukkan diri dari berkonsentrasi akan hal yang demikian. maka jalan yang demikianlah yang apabila ditempuh niscaya akan mendapatkan hasil yang baik dari apa yang diinginkan dan akan membuahkan kedekatan kepada Allah Insya Allah. dan golongan Shufi telah melakukan usaha yang kerasa / mujahadah bagi diri mereka sendiri dan juga riyadhah serta menghentikan kebiasaan kehidupan mereka sehari-hari karena mereka mengetahui hanya dengan jalan inilah mereka memperoleh ma’rifat yang sempurna. dan dengan kesempurnaan ma’rifah maka akan sempurna pula dalam menetapi amaqam ‘ubudiyah /penghambaan diri kepada Allah Ta’ala.