Syekh Muhammad Bahauddin An Naqsabandiy Ra. Adalah seorang Wali Qutub yang masyhur hidup pada tahun 717-791 H di desa Qoshrul ‘Arifan, Bukhara, Rusia. Beliau adalah pendiri Thoriqoh Naqsyabandiyah sebuah thoriqoh yang sangat terkenal dengan pengikut sampai jutaan jama’ah dan tersebar sampai ke Indonesia hingga saat ini.
Nama lengkap beliau adalah Syaikh Bahauddin Muhammad bin Muhammad bin Muhammad Asy Syarif Al Husaini Al Hasani Al Uwaisi Al Bukhari QS (Syech Naqsyabandy) Dilahirkan di Qashrul ‘Arifan, Bukhara, Uzbekistan tanggal 15 Muharram tahun tahun 717 H atau tahun 1317 M. Syekh Naqsyabandi lahir dari lingkungan keluarga sosial yang baik dan kelahirannya disertai oleh kejadian yang aneh. Menurut satu riwayat, jauh sebelum tiba waktu kelahirannya sudah ada tanda- tanda aneh yaitu bau harum semerbak di desa kelahirannya itu. Bau harum itu tercium ketika rombongan Syekh Muhammad Baba As Samasi q.s. (silsilah ke- 13), seorang wali besar dari Sammas (sekitar 4 km dari Bukharah), bersama pengikutnya melewati desa tersebut. Ketika itu As Samasi berkata, “Bau harum yang kita cium sekarang ini datang dari seorang laki- laki yang akan lahir di desa ini”. Sekitar tiga hari sebelum Naqsyabandi lahir, wali besar ini kembali menegaskan bahwa bau harum itu semakin semerbak.
Dari awal, ia memiliki kaitan erat dengan Khwajagan, yaitu para guru dalam mata rantai Tariqat Naqsyabandi. Sejak masih bayi, ia diadopsi sebagai anak spiritual oleh salah seorang dari mereka, yaitu Baba Muhammad Sammasi. Sammasi merupakan pemandu pertamanya dalam jalur ini, dan yang lebih penting lagi adalah hubungannya dengan penerus (khalifah) Sammasi, yaitu Amir Kulal, yang merupakan rantai terakhir dalam silsilah sebelum Baha-ud-Din. Baha-ud-Din mendapat latihan dasar dalam jalur ini dari Amir Kulal, yang juga merupakan sahabat dekatnya selama bertahun-tahun.
Pada suatu saat, Baha-ud-Din mendapat instruksi secara "ruhani" oleh Abdul Khaliq Gajadwani (yang telah meninggal secara jasmani) untuk melakukan dzikir secara hening (tanpa suara). Meskipun Amir Kulal adalah keturunan spiritual dari Abdul Khaliq, Amir Kulal mempraktekkan dzikir yang dilakukan dengan bersuara. Setelah mendapat petunjuk mengenai dzikir diam tersebut, Baha-ud-Din lantas absen dari kelompok ketika mereka mengadakan dzikir bersuara.
Setelah Naqsyabandi lahir, dia segera dibawa oleh ayahnya kepada Syekh Muhammad Baba As Samasi yang menerimanya dengan gembira. As Samasi berkata, “Ini adalah anakku, dan menjadi saksilah kamu bahwa aku menerimanya”. Naqsyabandi rajin menuntut ilmu dan dengan senang hati menekuni tasawuf. Dia belajar tasawuf kepada Muhammad Baba as Samasi ketika beliau berusia 18 tahun. Untuk itu beliau bermukim di Sammas dan belajar di situ sampai gurunya (Syekh As Samasi) wafat. Sebelum Syekh As Samasi wafat, beliau mengangkat Naqsyabandi sebagai khalifahnya. Setelah gurunya wafat, dia pergi ke Samarkand, kemudian pulang ke Bukhara, setelah itu pulang ke desa tempat kelahirannya. Setelah belajar dengan Syekh Baba As Samasi (silsilah ke 13), Naqsyabandi belajar ilmu tarikat kepada seorang wali quthub di Nasyaf, yaitu Syekh As Sayyid Amir Kulal q.s. (silsilah ke- 14).
Syekh Naqsyabandi pernah bertemu secara rohani dengan Syekh Abdul Khaliq Fadjuani dan di ajarkan zikir khafi serta suluk, Sejak masa Syaikh Arif Ar Riwikari sampai Syekh Amir Kulal zikir/tawajuh bersama dilakukan secara zahar akan tetapi kalau zikir sendiri secara khafi, Syekh Naqsyabandi tidak pernah ikut ertawajuh dengan Syekh Amir Kullal yang zikir bersama secara zahar, hal ini menimbulkan prasangka buruk pada murid murid gurunya yang tidak mengerti duduk persoalan. Akan tetapi Syekh Amir Kullal justru bertambah sayang dan cinta kepada Syekh Naqsyabandi. Suatu hari Syekh Bahauddin di panggil oleh Gurunya dan berkata, “ Duuh putraku Bahauddin, kebetulan sekali pada waktu ini saudara saudara kita terutama para Khalifahku sedang berkumpul, aku akan berkata kepadamu, supaya disaksikan oleh para hadirin: Bahauddin! Supaya engkau tahu, bersamaan hidmahmu disini, Alhamdulillah aku telah melaksanakan wasiat guruku alhmarhum Syekh Muhammad Baba (lalu Syekh Amir Kullal memberi isyarat pada susunya), dan berkata kepadanya: Engkau telah meneteki susu pendidikanku ini sampai kering, tetapi wadahmu terlalu besar dan persiapanmu sangat kuat, maka itu aku telah mengizinkan kepadamu supaya meninggalkan tempat ini untuk mencari beberapa guru supaya kamu menambah beberapa faedah yang perlu dari mereka dan faidan nur (Keluberan Nur Ilahi) yang selaras dengan cita citamu yang agung itu. Aku hanya bisa memberi ancar ancar carilah guru dari tanah Tajik dan dari tanah Turki”.
Setelah meminta izin dari Syekh Amir Kulal selanjutnya Syekh Naqsyabandi berguru kepada Syekh ‘Arifuddin Karoni selama tujuh tahun, kemudian berguru kepada Maulana Qatsam selama dua tahun terkahir kepada Syekh Darwisy Khalil dari Turki selama dua belas tahun. Syekh Naqsyabandi telah melaksanakan titah gurunya (Syekh Amir Khulal) demikian juga fatwa-fatwa dari Syekh Abdul Khaliq Fadjuani untuk memperdalam ilmu-ilmu syariat secara mendalam sehingga sempurnalah ilmu yang Beliau peroleh. Syekh Bahauddin pernah menyanjung ilmu tarekatnya dengan ucapan “Permulaan pelajaran Tarikatku akhir dari pelajaran semua tarekat”. Pisahnya Baha-ud-Din dari kelompok Amir Kulal ini mungkin bisa dianggap sebagai penanda terwujudnya tariqat Naqsyabandi, yang ajarannya didapat dari Abdul Khaliq, yang ujungnya berasal dari Khalifah Abu Bakar diperoleh dari Nabi Muhammad.
Al Qutub, Auliya Allah, Penasehat Utama Sultan Khalil di Samarqan, fatwa-fatwanya menjadi rujukan Hakim-Hakim Agung dalam memutuskan perkara. Karena kebesaran namanya, Tarekat yang di pimpinnya tersebar dengan cepat dan termashur serta memiliki pengikut yang sangat banyak dan tersebar ke seluruh dunia.
Beliau meletakkan dasar-dasar zikir qalbi yang sirri, zikir batin qalbi yang tidak berbunyi dan tidak bergerak, dan beliau meletakkan kemurnian ibadat semata-mata lillahi ta’ala, tergambar dalam do’a beliau yang diajarkan kepada murid-muridnya “Ilahi anta makshuudi waridlaaka mathluubi”. secara murni meneruskan ibadat Tratiwatus Sirriyah zaman Rasulullah, Thariqatul Ubudiyyah zaman Abu Bakar Siddiq dan Thariqatus Siddiqiyah zaman Salman al-Farisi. Beliau amat masyhur dengan keramat-keramatnya dan makmur dengan kekayaannya, lagi terkenal sebagai wali akbar dan wali quthub yang afdal, yang amat tinggi hakikat dan marifatnya. Dari murid-muridnya dahulu sampai dengan sekarang, banyak melahirkan wali-wali besar di Timur maupun di Barat, sehingga ajarannya meluas ke seluruh pelosok dunia. Beliau pulalah yang mengatur pelaksanaan iktikaf atau suluk dari 40 (empat puluh) hari menjadi 10 (sepuluh) hari, yang dilaksanakan secara efisien dan efektif, dengan disiplin dan ada suluk yang teguh. Syekh Naqsyabandy wafat pada malam Senin Tanggal 3 Rabi’ul Awal tahun 791 H dalam usia 74 tahun.
Syekh Naqsyabandi meninggalkan banyak penerus, yang paling terhormat di antara mereka adalah Syekh Muhammad bin Muhammad Alauddin al-Khwarazmi al-Bukhari al-Attar q.s dan Syaikh Muhammad bin Muhammad bin Mahmoud al-Hafizi q.s, yang dikenal sebagai Muhammad Parsa, penulis Risalah Qudsiyyah. Kepada yang pertamalah Syekh Naqsyabdi meneruskan Ilmunya dan menjadi Ahli Silsilah ke-16
Syekh Muhammmad Baba as Samasiy adalah guru pertama kali dari Syekh Muhammad Bahauddin Ra. yang telah mengetahui sebelumnya tentang akan lahirnya seseorang yang akan menjadi orang besar, yang mulia dan agung baik disisi Allah Swt. maupun dihadapan sesama manusia di desa Qoshrul Arifan yang tidak lain adalah Syekh Bahauddin.
Di dalam asuhan, didikan dan gemblengan dari Syekh Muhammad Baba inilah Syekh Muhammad Bahauddin mencapai keberhasilan di dalam mendekatkan diri kepada Allah Swt. sampai Syekh Muhammad Baba menganugerahinya sebuah “kopiah wasiat al Azizan” yang membuat cita-citanya untuk lebih dekat dan wusul kepada Allah Swt. semakin meningkat dan bertambah kuat. Hingga pada suatu saat, Syekh Muhammad Bahauddin Ra. melaksanakan sholat lail di Masjid. Dalam salah satu sujudnya hati beliau bergetar dengan getaran yang sangat menyejukkan sampai terasa hadir dihadapan Allah (tadhoru’). Saat itu beliau berdo’a, “Ya Allah berilah aku kekuatan untuk menerima bala’ dan cobaanya mahabbbah (cinta kepada Allah)”.
Setelah subuh, Syekh Muhammad Baba yang memang seorang waliyullah yang kasyaf (mengetahui yang ghoib dan yang akan terjadi) berkata kepada Syekh Bahauddin, “Sebaiknya kamu dalam berdo’a begini, “Ya Allah berilah aku apa saja yang Engkau ridloi”. Karena Allah tidak ridlo jika hamba-Nya terkena bala’ dan kalau memberi cobaan, maka juga memberi kekuatan dan memberikan kepahaman terhadap hikmahnya”. Sejak saat itu Syekh Bahauddin seringkali berdo’a sesuai dengan apa yang diperintahkan oleh Syekh Muhammad baba.
Untuk lebih berhasil dalam pendekatan diri kepada Sang Kholiq, Syekh Bahauddin seringkali berkholwat menyepikan hatinya dari keramaian dan kesibukan dunia. Ketika beliau berkholwat dengan beberapa sahabatnya, waktu itu ada keinginan yang cukup kuat dalam diri Syekh Bahauddin untuk bercakap-cakap. Saat itulah secara tiba-tiba ada suara yang tertuju pada beliau, “He, sekarang kamu sudah waktunya untuk berpaling dari sesuatu selain Aku (Allah)”. Setelah mendengar suara tersebut, hati Syekh Bahauddin langsung bergetar dengan kencangnya, tubuhnya menggigil, perasaannya tidak menentu hingga beliau berjalan kesana kemari seperti orang bingung. Setelah merasa cukup tenang, Syekh Bahauddin menyiram tubuhnya lalu wudlu dan mengerjakan sholat sunah dua rokaat. Dalam sholat inilah beliau merasakan kekhusukan yang luar biasa, seolah-olah beliau berkomunikasi langsung dengan Allah Swt.
Saat Syekh Bahauddin mengalami jadzab1 yang pertama kali beliau mendengar suara, “Mengapa kamu menjalankan thoriq yang seperti itu ? “Biar tercapai tujuanku’, jawab Syekh Muhammad Bahauddin. Terdengar lagi suara, “Jika demikian maka semua perintah-Ku harus dijalankan. Syekh Muhammad Bahauddin berkata “Ya Allah, aku akan melaksanakan semampuku dan ternyata sampai 15 hari lamanya beliau masih merasa keberatan. Terus terdengar lagi suara, “Ya sudah, sekarang apa yang ingin kamu tuju ? Syekh Bahauddin menjawab, “Aku ingin thoriqoh yang setiap orang bisa menjalankan dan bisa mudah wushul ilallah”.
Hingga pada suatu malam saat berziarah di makam Syekh Muhammad Wasi’, beliau melihat lampunya kurang terang padahal minyaknya masih banyak dan sumbunya juga masih panjang. Tak lama kemudian ada isyarat untuk pindah berziarah ke makam Syekh Ahmad al Ahfar Buli, tetapi disini lampunya juga seperti tadi. Terus Syekh Bahauddin diajak oleh dua orang ke makam Syekh Muzdakhin, disini lampunya juga sama seperti tadi, sampai tak terasa hati Syekh Bahauddin berkata, “Isyarat apakah ini ?”
Kemudian Syekh Bahauddin, duduk menghadap kiblat sambil bertawajuh dan tanpa sadar beliau melihat pagar tembok terkuak secara perlahan-lahan, mulailah terlihat sebuah kursi yang cukup tinggi sedang diduduki oleh seseorang yang sangat berwibawa dimana wajahnya terpancar nur yang berkilau. Disamping kanan dan kirinya terdapat beberapa jamaah termasuk guru beliau yang telah wafat, Syekh Muhammad Baba.
Salah satu dari mereka berkata, “Orang mulia ini adalah Syekh Muhammad Abdul Kholiq al Ghojdawaniy dan yang lain adalah kholifahnya. Lalu ada yang menunjuk, ini Syekh Ahmad Shodiq, Syekh Auliya’ Kabir, ini Syekh Mahmud al Anjir dan ini Syekh Muhammad Baba yang ketika kamu hidup telah menjadi gurumu. Kemudian Syekh Muhammad Abdul Kholiq al Ghojdawaniy memberikan penjelasan mengenai hal-hal yang dialami Syekh Muhammad Bahauddin, “Sesunguhnya lampu yang kamu lihat tadi merupakan perlambang bahwa keadaanmu itu sebetulnya terlihat kuat untuk menerima thoriqoh ini, akan tetapi masih membutuhkan dan harus menambah kesungguhan sehingga betul-betul siap. Untuk itu kamu harus betul-betul menjalankan 3 perkara :
1. Istiqomah mengukuhkan syariat.
2. Beramar Ma’ruf Nahi mungkar.
3. Menetapi azimah (kesungguhan) dengan arti menjalankan agama dengan mantap tanpa memilih yang ringan-ringan apalagi yang bid’ah dan berpedoman pada perilaku Rasulullah Saw. dan para sahabat Ra.
Kemudian untuk membuktikan kebenaran pertemuan kasyaf ini, besok pagi berangkatlah kamu untuk sowan ke Syekh Maulana Syamsudin al An-Yakutiy, di sana nanti haturkanlah kejadian pertemuan ini. Kemudian besoknya lagi, berangkatlah lagi ke Sayyid Amir Kilal di desa Nasaf dan bawalah kopiah wasiat al Azizan dan letakkanlah dihadapan beliau dan kamu tidak perlu berkata apa-apa, nanti beliau sudah tahu sendiri”.
Syekh Bahauddin setelah bertemu dengan Sayyid Amir Kilal segera meletakkan “kopiah wasiat al Azizan” pemberian dari gurunya. Saat melihat kopiah wasiat al Azizan, Sayyid Amir Kilal mengetahui bahwa orang yang ada didepannya adalah syekh Bahauddin yang telah diwasiatkan oleh Syekh Muhammad Baba sebelum wafat untuk meneruskan mendidiknya.
Syekh Bahauddiin di didik pertama kali oleh Sayyid Amir Kilal dengan kholwat selama sepuluh hari, selanjutnya dzikir nafi itsbat dengan sirri. Setelah semua dijalankan dengan kesungguhan dan berhasil, kemudian beliau disuruh memantapkannnya lagi dengan tambahan pelajaran beberapa ilmu seperti, ilmu syariat, hadist-hadist dan akhlaqnya Rasulullah Saw. dan para sahabat. Setelah semua perintah dari Syekh Abdul Kholiq di dalam alam kasyaf itu benar–benar dijalankan dengan kesungguhan oleh Syekh Bahauddin mulai jelas itu adalah hal yang nyata dan semua sukses bahkan beliau mengalami kemajuan yang sangat pesat.
Jadi toriqoh An Naqsyabandiy itu jalur ke atas dari Syekh Muhammad Abdul Kholiq al Ghojdawaniy ke atasnya lagi dari Syekh Yusuf al Hamadaniy seorang Wali Qutub masyhur sebelum Syekh Abdul Qodir al Jailaniy. Syekh Yusuf al Hamadaniy ini kalau berkata mati kepada seseorang maka mati seketika, berkata hidup ya langsung hidup kembali, lalu naiknya lagi melalui Syekh Abu Yazid al Busthomi naik sampai sahabat Abu Bakar Shiddiq Ra. Adapun dzikir sirri itu asalnya dari Syekh Muhammad Abdul Kholiq al ghojdawaniy yang mengaji tafsir di hadapan Syekh Sodruddin. Pada saat sampai ayat, “Berdo’alah kepada Tuhanmu dengan cara tadhorru’ dan menyamarkan diri”…
Lalu beliau berkata bagaimana haqiqatnya dzikir khofiy /dzikir sirri dan kaifiyahnya itu ? jawab sang guru : o, itu ilmu laduni dan insya Allah kamu akan diajari dzikir khofiy. Akhirnya yang memberi pelajaran langsung adalah nabi Khidhir as.
Pada suatu hari Syekh Muhammad Bahauddin Ra. bersama salah seorang sahabat karib yang bernama Muhammad Zahid pergi ke Padang pasir dengan membawa cangkul. Kemudian ada hal yang mengharuskannya untuk membuang cangkul tersebut. Lalu berbicara tentang ma’rifat sampai datang dalam pembicaraan tentang ubudiyah “Lha kalau sekarang pembicaraan kita sampai begini kan berarti sudah sampai derajat yang kalau mengatakan kepada teman, matilah, maka akan mati seketika”. Lalu tanpa sengaja Syekh Muhammad Bahauddin berkata kepada Muhammad Zahid, “matilah kamu!, Seketika itu Muhammad Zahid mati dari pagi sampai waktu dhuhur.
Melihat hal tersebut Syekh Muhammad Bahauddin Ra. menjadi kebingungan, apalagi melihat mayat temannya yang telah berubah terkena panasnya matahari. Tiba-tiba ada ilham “He, Muhammad, berkatalah ahyi (hiduplah kamu). Kemudian Syekh Muhammad Bahauddin Ra. berkata ahyi sebanyak 3 kali, saat itulah terlihat mayat Muhammad Zahid mulai bergerak sedikit demi sedikit hingga kembali seperti semula. Ini adalah pengalaman pertama kali Syekh Muhammad Bahauddin Ra. dan yang menunjukkan bahwa beliau adalah seorang Wali yang sangat mustajab do’anya.
Syekh Tajuddin salah satu santri Syekh Muhammad Bahauddin Ra berkata, “Ketika aku disuruh guruku, dari Qoshrul ‘Arifan menuju Bukhara yang jaraknya hanya satu pos aku jalankan dengan sangat cepat, karena aku berjalan sambil terbang di udara. Suatu ketika saat aku terbang ke Bukhara, dalam perjalanan terbang tersebut aku bertemu dengan guruku. Semenjak itu kekuatanku untuk terbang di cabut oleh Syekh Muhammad Bahauddin Ra, dan seketika itu aku tidak bisa terbang sampai saat ini”.
Berkata Afif ad Dikaroniy, “Pada suatu hari aku berziarah ke Syekh Muhammad Bahauddin Ra. Lalu ada orang yang menjelek-jelekkan beliau. Aku peringatkan, kamu jangan berkata jelek terhadap Syekh Muhammad Bahauddin Ra. dan jangan kurang tata kramanya kepada kekasih Allah. Dia tidak mau tunduk dengan peringatanku, lalu seketika itu ada serangga datang dan menyengat dia terus menerus. Dia meratap kesakitan lalu bertaubat, kemudian sembuh dengan seketika.
SYECH MUHAMMAD BAHAU’UDDIN NAQSYABANDI DENGAN TAREKATNYA
Peletak dasar Thoriqoh Naqsyabandiyah ini adalah Al-Arif Billah Asy Syaikh Muhammad bin Muhammad Bahauddin Syah Naqsyabandi Al-Uwaisi Al- Bukhori radliyallahu anhu (717-865 H) .
Dijelaskan oleh Syaikh Abdul Majid bin Muhammad Al Khaniy dalam bukunya Al-Hada’iq Al-Wardiyyah , bahwa thoriqoh Naqsabandiyyah ini adalah thoriqohnya para sahabat yang mulia radlallahu anhum sesuai aslinya, tidak menambah dan tidak mengurangi. Ini merupakan untaian ungkapan dari langgengnya (terus menerus) ibadah lahir bathin dengan kesempurnaan mengikuti sunnah yang utama dan ‘azimah yang agung serta kesempurnaan dalam menjauhi bid’ah dan rukhshah dalam segala keadaan gerak dan diam, serta langgengnya rasa khudlur bersama Allah Subhanahu wa ta'ala, mengikuti Nabi Muhammad Shollallahu 'alaihi wa sallam dengan segala yang beliau sabdakan dan memperbanyak dzikir qalbi .
Dzikirnya para guru Naqsyabandiyah adalah qalbiyah (menggunakan Hati), dengan membaca lafadz “Alloh..Alloh” pada 7 tempat lathaif. Dengan itu mereka bertujuan hanya kepada Allah Subhanahu wa ta'ala semata dengan tanpa riya’ , dan mereka tidak mengatakan suatu perkataan dan tidak membaca suatu wirid kecuali dengan dalil atau sanad dari kitab Allah Subhanahu wa ta'ala atau sunnah Nabi Muhammad Shollallahu 'alaihi wa sallam. Adapun 7 macam lathaif tersebut adalah :
Lathifah al-qalb ada di bawah dada kiri, dua jari di bawah payudara … warnanya adalah kuning, dan dia adalah tempat kekuasaan Nabi Adam as, dan asalnya adalah air, udara dan tanah.
Lathifah al-ruh bertempat di sisi bawah susu kanan, berjarak sekitar dua jari, warnanya adalah merah, dan merupakan tempat kewenangan Nabi Ibrahhim dan Nuh, dan asalnya adalah api.
Lathifah al-sirr bertempat di atas susu kiri berjarak sekitar dua jari, warnanya adalah putih, tempat kekuasaan Nabi Musa dan asalnya adalah air.
Lathifah al-khafi bertempat di atas susu kanan, berjarak sekitar dua jari, warnanya adalah hitam, tempat kekuasaan Nabi Isa, dan asalnya adalah udara.
Lathifah al-akhfa bertempat di tengah dada, warnanya hijau, tempat kekuasaan Nabi Muhammad saw., asalnya adalah tanah.
Lathifatul al-Nafsi bertempat di anatara kedua mata kepala
Lathifatul Qolab (Jasad) bertempat di seluruh dan sekujur anggota badan, mulai rambut kepala sampai kaki
Dalam tarekat Naqsyabandi ini telah di ajarkan 11 asas dasar ajaran, yakni :
1). “Huwasy Dardam” , yaitu pemeliharaan keluar masuknya nafas, supaya hati tidak lupa kepada Allah SWT atau tetap hadirnya Allah SWT pada waktu masuk dan keluarnya nafas. Setiap murid atau salik menarikkan dan menghembuskan nafasnya, hendaklah selalu ingat atau hadir bersama Allah di dalam hati sanubarinya. Ingat kepada Allah setiap keluar masuknya nafas, berarti memudahkan jalan untuk dekat kepada Allah SWT, dan sebaliknya lalai atau lupa mengingat Allah, berarti menghambat jalan menuju kepada- Nya.
2). “Nazhar Bar qadlam” yaitu setiap murid atau salik dalam iktikaf/suluk bila berjalan harus menundukkan kepala, melihat ke arah kaki dan apabila dia duduk dia melihat pada kedua tangannya. Dia tidak boleh memperluas pandangannya ke kiri atau ke kanan, karena dikhawatirkan dapat membuat hatinya bimbang atau terhambat untuk berzikir atau mengingat Allah SWT. Nazhar Barqadlam ini lebih ditekankan lagi bagi pengamal tarikat yang baru suluk, karena yang bersangkutan belum mampu memelihara hatinya.
3). “Safar Dar wathan” yaitu perpindahan dari sifat kemanusiaan yang kotor dan rendah, kepada sifat-sifat kemalaikatan yang bersih dan suci lagi utama. Karena itu wajiblah bagi si murid atau salik mengontrol hatinya, agar dalam hatinya tidak ada rasa cinta kepada makhluk.
4). “Khalwat Dar jaman” yaitu setiap murid atau salik harus selalu menghadirkan hati kepada Allah SWT dalam segala keadaan, baik waktu sunyi maupun di tempat orang banyak. Dalam Tarikat Naqsyabandiyah ada dua bentuk khalwat :
a. Berkhalwat lahir , yaitu orang yang melaksanakan suluk dengan mengasingkan diri di tempat yang sunyi dari masyarakat ramai.
b. Khalwat batin , yaitu hati sanubari si murid atau salik senantiasa musyahadah, menyaksikan rahasia- rahasia kebesaran Allah walaupun berada di tengah- tengah orang ramai.
5). “Ya Dakrad” yaitu selalu berkekalan zikir kepada Allah SWT, baik zikir ismus zat (menyebut Allah, Allah,.), zikir nafi isbat (menyebut la ilaha ilallah), sampai yang disebut dalam zikir itu hadir.
6). “Bar Kasyat” yaitu orang yang berzikir nafi isbat setelah melepaskan nafasnya, kembali munajat kepada Allah dengan mengucapkan kalimat yang mullia
“Wahai Tuhan Allah, Engkaulah yang aku maksud (dalam perjalanan rohaniku ini) dan keridlaan-Mulah yang aku tuntut” . Sehingga terasa dalam kalbunya rahasia tauhid yang hakiki, dan semua makhluk ini lenyap dari pemandangannya.
7).“Nakah Dasyat” yaitu setiap murid atau salik harus memelihara hatinya dari kemasukan sesuatu yang dapat menggoda dan mengganggunya, walaupun hanya sebentar. Karena godaan yang mengganggu itu adalah masalah yang besar, yang tidak boleh terjadi dalam ajaran dasar tarikat ini.
Syekh Abu Bakar Al Kattani berkata, “Saya menjaga pintu hatiku selama 40 (empat puluh) tahun, aku tiada membukakannya selain kepada Allah SWT, sehingga menjadilah hatiku itu tidak mengenal seseorang pun selain daripada Allah SWT.”
Sebagian ulama tasawuf berkata “Aku menjaga hatiku 10 (sepuluh) malam, maka dengan itu hatiku menjaga aku selama 20 (duapuluh) tahun.”
8).“Bad Dasyat” yaitu tawajuh atau pemusatan perhatian sepenuhnya pada musyahadah, menyaksikan keindahan, kebesaran, dan kemuliaan Allah SWT terhadap Nur Zat Ahadiyah (Cahaya Yang Maha Esa) tanpa disertai dengan kata- kata. Keadaan “Bad Dasyat” ini baru dapat dicapai oleh seorang murid atau salik, setelah dia mengalami fana dan baka yang sempurna. Adapun tiga ajaran dasar yang berasal dari Bahauddin Naqsyabandi adalah,
9).“Wuquf Zamani” yaitu kontrol yang dilakukan oleh seorang murid atau salik tentang ingat atau tidaknya ia kepada Allah SWT setiap dua atau tiga jam. Jika ternyata dia berada dalam keadaan ingat kepada Allah SWT pada waktu tersebut, ia harus bersyukur dan jika ternyata tidak, ia harus meminta ampun kepada Allah SWT dan kembali mengingat- Nya.
10).“Wuquf ‘Adadi” yaitu memelihara bilangan ganjil dalam menyelesaikan zikir nafi isbat, sehingga setiap zikir nafi isbat tidak diakhiri dengan bilangan genap. Bilangan ganjil itu, dapat saja 3 (tiga) atau 5 (lima) sampai dengan 21 (duapuluh satu), dan seterusnya.
11).“Wuquf Qalbi” yaitu sebagaimana yang dikatakan oleh Syekh Ubaidullah Al- Ahrar, “Keadaan hati seorang murid atau salik yang selalu hadir bersama Allah SWT”. Pikiran yang ada terlebih dahulu dihilangkan dari segala perasaan, kemudian dikumpulkan segenap tenaga dan panca indera untuk melakukan tawajuh dengan mata hati yang hakiki, untuk menyelami makrifat Tuhannya, sehingga tidak ada peluang sedikitpun dalam hati yang ditujukan kepada selain Allah SWT, dan terlepas dari pengertian zikir.
Selain itu, dalam tarekat ini juga dikenalkan akan tehnik muroqobah, sebanyak 20 macam muroqobah
Demikian kisah keramatnya Syekh Muhammad Bahauddin Ra dan ajaran-ajarannya. Rodiyallah ‘anhu wa a’aada a‘lainaa min barokaatihi wa anwaarihi wa asroorihii wa ‘uluumihii wa akhlaaqihi allahuma amiin.
Rabu, Julai 13
Syeikh Junaid Al-Baghdadi
Junaid bin Muhammad Abu Al-Qasim Al-Khazzaz al-Baghdadi (830-910 M) adalah salah satu awal besar bagi Persia, beliau adalah mistikus Muslim, atau ulama sufi beragama Islam dan merupakan pusat tokoh dalam rantai emas banyak sufi.
Dia ditemani paman dari pihak ibu Sari al-Saqati dan panduan lainnya termasuk al-Harits al-Muhasibi , dan lain-lain. Ia lahir di Baghdad dari Persia tua dan menurut Dehkhoda, nenek moyangnya dari mana Nahavand.
Awal pendidikan Al-Junaid dimulai dengan belajar ilmu pengetahuan agama pada pamannya sendiri, Sari Al-Saqati, yang juga dikenal sebagai seorang sufi yang sangat luas ilmu pengetahuannya. Ketika usianya 20 tahun, Al-Junaid mulai belajar hadits dan fiqh pada Abu Thawr, sorang faqih kondang di Baghdad. Setelah mempelajari hadits dan fiqh, Al-Junaid beralih menekuni tasawuf, sekalipun sebenarnya dia sudah mulai mengenal ajaran tasawuf sejak berumur 7 tahun di bawah bimbingan Sari Al-Saqati. Selain itu Junaid kecil juga belajar sufisme dari siapa saja sehingga pengetahuan sufismenya semakin hari bertambah luas. Ketika dewasa bisa dibilang ilmu Al-Junaid dalam sufisme telah cukup matang.
Al-Junaid adalah seorang sufi yang cerdas, memiliki pikiran cemerlang dan selalu cepat tanggap dalam menghadapi segala situasi dan kondisi. Analisisnya terhadap berbagai masalah yang diajukan kepadanya sangatlah tajam, sehingga sering membuat para pendengarnya terkagum-kagum. Padahal sifat dan kemampuannya ini sudah tampak sejak masa kanak-kanak. Kedudukannya di antara para sufi sangatlah terhormat, bahkan Sari Al-Saqati sendiri sempat mengakuinya. Dalam riwayat dinyatakan, ketika seseorang bertanya pada Sari Al-Saqati, "Apakah seorang murid dapat mencapai tingkat yang lebih tinggi dari gurunya dalam tasawuf?" Sari Al-Saqati menjawab, "Tentu saja dapat, lantaran ada banyak bukti yang menunjukkan hal tersebut. Ketahuilah bahwa tingkat tasawuf Al-Junaid itu sesungguhnya lebih tinggi dari tingkat yang pernah kucapai."
Pengalaman Syech Junaid
Shaykh Junayd Baghdadi pergi untuk jalan-jalan keluar Baghdad. Murid-murid mengikutinya.
Shaykh bertanya bagaimana kabar bahlul yang gila ?
Mereka menjawab, “Dia adalah orang gila, apa yang anda perlukan dari dia?”
“bawalah aku ke dia, karena aku ada perlu dengan nya.”
Para murid mencari Bahlul dan menemukannya di padang pasir. Mereke membawa Shaykh Junayd kepadanya , ketika Shaykh Junayd pergi mendekati Bahlul, Beliau melihat Bahlul dalam keadaan gelisah dengan batu bata ada dibawah kepalanya (posisi kepala dibawah ?)
Shaykh mengucapkan salam
Bahlul menjawab dan bertanya, “Siapakah Anda? ”
” Saya Junayd Baghdadi.”
Bahlul bertanya, “Apakah Anda Abul Qasim?”
“Ya, betul !” jawab Shaykh
Bahlul bertanya lagi ” Apakah Anda Shaykh Baghdadi yang memberikan orang-orang Petunjuk spiritual? ”
“Ya!” kemudian Bahlul bertanya ” Tahukah Anda bagaimana cara makan?”
“Ya!” Saya mengucapkan Bismillah (Dengan mengucap nama Allah SWT). Saya makan yang paling dekat dengan saya, Saya mengambil gigitan kecil, meletakkannya di sisi kanan dari mulut saya, dan mengunyah pelan-pelan. Saya tidak nampak ke gigitan yang lain. Saya mengingat Allah SWT saat makan. Untuk sebutir apapun yang saya makan, Saya mengucap Alhamdulillah (Segala puji bagi Allah SWT). Saya mencuci tangan sebelum dan sesudah makan.”
Bahlul berdiri, meggerakkan pakaiannya pada Shaykh, dan berkata, ” Anda ingin menjadi pemimpin spiritual dunia tapi Anda tidak pun mengetahui bagaimana cara makan.” setelah mengucapkannya, dia langsung pergi.
Para Murid Shaykh berkata, “O Shaykh! Dia orang yang gila. ”
Shaykh menjawab, Dia adalah orang gila yang sangat pandai dalam berucap. dengarkan pernyataan yang benar dari nya.
Setelah mengucapkan Beliau pergi dibelakang Bahlul, dan berkata, ” Saya ada perlu dengan Bahlul.”
Ketika Bahlul mencapai bangunan yang berdebu, dia duduk. Junayd mendekatinya.
Bahlul bertanya, “Siapakah Anda?”
” Shaykh Baghdadi yang tidak mengetahui bagaimana cara makan.”
” Anda tidak mengetahui bagaimana makan, tapi apakah Anda tahu bagaimana berbicara?”
“Ya”
” Bagaimana anda berbicara ?”
” Saya berbicara secara umum dan langsung pada pokok masalah. Saya tidak berbicara terlalu tinggi atau terlalu banyak. Saya berbicara sehingga para pendengar dapat mengerti. Saya memanggil semua orang di dunia untuk kembali ke Allah dan RasulNya. Saya tidak berbicara terlalu banyak sehingga semua orang akan bosan. Saya memperhatikan kedalaman pengetahuan spiritual dan yang umum.
kemudian dia menggambarkan apapun yang berhubungan dengan Adab dan etika
Bahlul berkata, “Lupakan soal makan, Anda pun tidak mengetahui bagaimana berbicara.”
Bahlul berdiri, menggerakkan pakaiannya pada Shaykh dan pergi
Para murid berkata, “O Shaykh! Anda lihatkan, dia orang yang gila. Apa yang Anda harapkan dari orang yang gila!”
Shaykh berkata, ” Saya ada perlu dengan dia. Kalian tidak tahu.”
Sekali lagi Beliau pergi setelah Bahlul sampai Beliau menjumpainya.
Bahlul bertanya, “Apa yang Anda inginkan dari saya? Anda yang tidak mengetahui Adab makan dan bicara, apakah Anda mengetahui bagaimana cara untuk tidur?”
” Ya, saya tahu.”
” Bagaimana cara tidur?” Bahlul bertanya
” Ketika saya selesai sholat Isya’ dan membacakan permohonan, saya pakai baju tidur saya.”
Kemudian beliau menggambarkan adab-adab tidur yang sudah diterima oleh beliau dari Orang-orang yang telah belajar agama.
Bahlul kemudian berkata : ” Saya mengerti bahwa Anda pun tidak mengetahui juga bagaimana untuk tidur.”
Dia ingin berdiri, tapi Junayd menangkap memegang pakaian nya dan berkata, O Bahlul! Saya tidak mengethuinya; Demi kecintaan kepada Allah SWT ajari saya.
Bahlul berkata ” Anda mengklaim pengetahuan dan berkata bahwa anda tahu sehingga Saya mencegah Anda. sekarang Anda mengakui ketiadaan pengetahuan Anda, Saya akan mengajari Anda.”
“Tahu apapun yang Anda utarakan itu adalah tidak penting.”
” Kebenaran dibalik memakan makanan yang Anda makan menurut hukum adalah sepotong demi sepotong. Jika Anda makan makanan yang dilarang juga, dengan seratus adab, hal itu tidak akan menguntungkan Anda, tapi bisa menjadi alasan untuk menghitamkan hati.”
” Semoga Allah memberkati Anda pahala yang sangat besar.” ucap Shaykh.
Bahlul melanjutkan, Hati haruslah bersih, dan memiliki niat yang baik sebelum Anda mulai bicara. dan pembicaraan Anda haruslah menyenangkan Allah SWT. Jika itu untuk segala urusan dunya atau pekerjaan yang sia-sia, maka apapun yang Anda ekspresikan, akan menjadi bencana bagi Anda. Itulah sebabnya diam dan tenang adalah yang terbaik.”
“Apapun yang Anda ucapkan tentang tidur juga tidak penting. Kebenarannya adalah bahwa hati Anda seharusnya bebas dari permusuhan, cemburu, dan kebencian. Hati Anda seharusnya TIDAK rakus untuk dunia ini atau kekayaanya, dan ingatlah Allah SWT ketika akan tidur.
Shaykh Junayd kemudian mencium tangan Bahlul dan berdoa untuk nya.
Para murid yang menyaksikan kejadian ini, dan yang telah berfikir bahwa Bahlul gila, melupakan tindakannya dan memulai hidup baru.
Imam Abul Qusim Aljunaid r.a. bercerita :
Sekali peristiwa ketika aku pergi naik haji ke Baitullah Al-Haram, dan juga untuk menziarahi maqam Nabi alaihis-shalatuwasalam, sedang aku dalam perjalanan menuju kesana ,tiba tiba terdengar oleh telinga ku suatu suara rintihan yang melas serta sangat menyayat hati, yang pada anggapan ku tentulah suara itu datangnya dari hati seorang yang remuk remdam.
Aku pun mencari cari dari mana datangnya sumber suara itu, dan ternyata bahwa rintihan itu keluar dari mulut seorang pemuda yang sangat kurus, lemah, namun wajahnya bercahaya terang seperti bulan. Saya mendekatinya, ia membuka matanya dan langsung mengucapkan ..Assalamualaikum, ya Abul Qasim!!..
Waalaikumussalam! Jawab ku penuh kehairanan….Nak, siapakah yang memberitahukan nama ku pada mu, sedangkan kita belum pernah mengenal satu sama lain ? Aku bertanya kepadanya..
Wahai Abul Qasim ! Saya telah mengenali bapak sejak dialam Roh. Dan Allah lah yang memberikan nama bapak kepada ku. Demi Allah , wahai Abul Qasim, kalau aku sudah mati, maka mandikan dan bungkuslah aku dengan baju yang aku pakai ini, dan naiklah kebukit itu, lalu panggillah orang orang untuk menyalati ku, lalu tanamlah aku ditempat ini pula ! Hanya Allah lah yang akan membalas segala kebaikan bapak.
Berkata Abul Qasim Aljunaid lagi menyambung ceritanya :
Kemudian aku lihat anak muda tadi penuh berkeringat dahinya sehingga membasahi seluruh wajahnya, suaranya semakin menekan, barang kali , kerana kesakitan….Dalam pada itu ia sempat berpesan lagi, katanya:
Wahai ABUL Qasim ! Setelah anda selesai menunaikan haji mu, dan sudah mau kembali kenegeri mu, hendaklah anda menuju dulu ke Bagdad, dan tanyakan lah orang orang disana tentang kampung Darb Za’faran. Setelah tiba dikampung itu, tanyakan pula tentang ibu ku dan putra ku serta sampaikanlah salam kepada mereka!…. Baiklah, jawab ku.
Anak muda itu kemudian merintih makin lama makin lemah, dan tak lama sesudah itu pulanglah ia ke rahmatullah dengan tenangnya, sedang kan wajahnya tampak semakin bercahaya. Saya pun memandikannya, kemudian mengafankanya dengan bajunya. Sesudah itu saya naik keatas bukit dan berseru dengan suara keras sekali:: wahai orang orang sekalian ! marilah kita bersama sama menyalati mayat asing ini!.
Tiba tiba datanglah beribu ribu orang dari segenap penjuru, seperti ulat layaknya, sedang wajah wajah mereka bagaikan terangnya cahaya bulan purnama. Kami pun menuruti bersama menyalati mayat itu, kemudian menguburkannya. Setelah selesai penguburan mayat itu, maka dengan serta merta pula, hilanglah ribuan orang orang tadi secara mendadak dan tampa ada bekasnya. Saya benar benar kehairanan atas kejadian itu, juga atas kemuliaan mayat yang tidak saya kenal sebelumnya.
Setelah selesai ibadat haji, saya segera pergi ke Bagdad, dan terus menuju kekampung Darb Za’faran . setelah menemukanya tampak dilorong lorong kecil kampung itu ada anak anak sedang bermain main. Tiba tiba seorsng dari antara mereka memandang tajam kepada ku, seraya mendekati ku dan berkata:
Assalamualaikum, ya Abul Qasim! Mungkin kedatangan tuan untuk untuk memberitahu tentang kematian ayah ku, agaknya ?
Hati ku terkejut mendengar pertanyaan anak kecil itu. Ah, alangkah tepatnya apa yang dikatakan, padahal ia masih demikian kecil. Ia kemudian menuntun ku kesebuah rumah, lalu mengetuk pintunya. Seorang wanita tua membuka pintu, dan alangkah terangnya wajah wanita tua itu, dan alang kah salihan ia tampaknya. Saya mengucapkan salam kepadanya . Ia pun segera membalasnya, lalu menangis terisak isak . kemudian ia bertanya: Wahai Abul Qasim ! Dimanakah tempat kematian anak ku, dan cahaya mata ku.
Moga moga ia mati da Arafah ? Jawab ku , tidak!…..
apakah di Mina?……jawab ku , tidak ! ….
di Muzdalifah? ….jawab ku tidak…..
Habis dimana? Tanya ibu itu, Dipadang pasir, dibawah pohon ghailan?,jawab : Ya,,
Mendengar berita itu ia menjerit keras seraya berkata:; oh anak ku! Oh anak ku! Suaranya bercampur tangisan yang sungguh menyayat hati semua orang yang disitu. Oh! Anak ku ! Oh anak ku! Mengapa tidak disampaikannya ke rumah Nya (Baitullah) ,atau dibiarkanNya saja ia dengan kami? Ibu itu terus sesak dadanya, dan ketika itulah ia menghembuskan nyawanya meninggalkan dunia yang fana ini, kembali ke rahmatullah, moga moga Allah mencucuri rahmat ke atas rohnya.
Berkata Aljuniad seterusnya :
Melihat neneknya telah meninggal dunia, anak kecil itu pun mendekati manyatnya sambil menangis terisak isak. Kemudian menengadah kearah langit seraya berdoa :;
Ya Allah, ya Tuhan ku Mengapa Engkau tidak ambil aku bersama sama nenek ku ! Ya Allah , lebih baik Engkau ambil aku untuk pergi bersama sama mereka berdua!… Dengan tiba tiba saja sesaklah dada anak kecil itu, dan ia pun menghembuskan nafasnya yang terakhir, moga moga Allah merahmati mereka sekalian.
Saya benar benar tercengang menyaksikan segala peristiwa yang baru berlaku tadi itu, dan saya kira alangkah bahagianya keluarga itu. Saya merawati jenazah itu bersama dengan tetangga mayat itu dangan sempurna dan baik .
Setelah kami menguburkan jenazah jenazah itu, maka dangan hati yang penuh sedih dan hiba, saya meninggalkan kubur kubur mereka!
Syech Junaid al-Baghdadi adalah peletak dasar bagi mistisisme sadar dalam kontras dengan yang mabuk-Sufi Allah seperti al-Hallaj , Abu yazid Bustami dan Abu sa’id Abu al-khair . Dalam proses persidangan al-Hallaj , mantan murid, Khalifah waktu itu yang diminta fatwa dan ia mengeluarkan ini fatwa : "Dari penampilan luar dia mati dan kita menilai sesuai dengan penampilan luar dan Tuhan yang tahu" lebih baik. Dia disebut oleh para Sufi sebagai Taifa ut-Sayyid yaitu pemimpin kelompok.
Imam Junaid juga seorang ahli perniagaan yang berjaya. Beliau memiliki sebuah gedung perniagaan di kota Baghdad yang ramai pelanggannya. Sebagai seorang guru sufi, beliau tidaklah disibukkan dengan menguruskan perniagaannya sebagaimana sesetengah peniaga lain yang kaya raya di Baghdad.
Waktu perniagaannya sering disingkatkan seketika kerana lebih mengutamakan pengajian anak-anak muridnya yang dahagakan ilmu pengetahuan. Apa yang mengkagumkan ialah Imam Junaid akan menutup kedainya setelah selesai mengajar murid-muridnya. Kemudian beliau balik ke rumah untuk beribadat seperti solat, membaca al-Quran dan berzikir.
Setiap malam beliau berada di masjid besar Baghdad untuk menyampaikan kuliahnya. Ramai penduduk Baghdad datang masjid untuk mendengar kuliahnya sehingga penuh sesak.
Imam Junaid hidup dalam keadaan zuhud. Beliau redha dan bersyukur kepada Allah SWT dengan segala nikmat yang dikurniakan kepadanya. Beliau tidak pernah berangan-angan untuk mencari kekayaan duniawi dari sumber pekerjaannya sebagai peniaga.
Beliau akan membahagi-bahagikan sebahagian dari keuntungan perniagaannya kepada golongan fakir miskin, peminta dan orang-orang tua yang lemah.
Bertasauf Ikut Sunnah Rasulullah saw
Imam Junaid seorang yang berpegang kuat kepada al-Quran dan as-Sunnah. Beliau sentiasa merujuk kepada al-Quran dan sunnah Rasulullah saw dalam setiap pengajiannya.
Beliau pernah berkata:
“Setiap jalan tertutup, kecuali bagi mereka yang sentiasa mengikuti perjalanan Rasulullah saw. Sesiapa yang tidak menghafal al-Quran, tidak menulis hadis-hadis, tidak boleh dijadikan ikutan dalam bidang tasauf ini.”
Memiliki Beberapa Kelebihan dan Karamah
Imam Junaid mempunyai beberapa kelebihan dan karamah. Antaranya ialah berpengaruh kuat setiap kali menyampaikan kuliahnya. Kehadiran murid-muridnya di masjid, bukan saja terdiri daripada orang-orang biasa malah semua golongan meminatinya.
Masjid-masjid sering dipenuhi oleh ahli-ahli falsafah, ahli kalam, ahli fiqih, ahli tasawuf, ahli politik dan sebagainya. Namun begitu, beliau tidak pernah angkuh dan bangga diri dengan kelebihan tersebut.
Diuji Dengan Seorang Wanita Cantik
Setiap insan yang ingin mencapai keredhaan Allah selalunya menerima ujian dan cabaran. Imam Junaid menerima ujian daripada beberapa orang musuhnya setelah pengaruhnya meluas. Mereka telah membuat fitnah untuk menjatuhkan imej Imam Junaid.
Musuh-musuhnya telah bekerja keras menghasut khalifah di masa itu agar membenci Imam Junaid. Namun usaha mereka untuk menjatuhkan kemasyhuran Imam Junaid tidak berhasil.
Musuh-musuhnya berusaha berbuat sesuatu yang boleh memalukan Imam Junaid. Pada suatu hari, mereka menyuruh seorang wanita cantik untuk memikat Imam Junaid. Wanita itu pun mendekati Imam Junaid yang sedang tekun beribadat. Ia mengajak Imam Junaid agar melakukan perbuatan terkutuk.
Namun wanita cantik itu hanya dikecewakan oleh Imam Junaid yang sedikitpun tidak mengangkat kepalanya. Imam Junaid meminta pertolongan dari Allah agar terhindar daripada godaan wanita itu. Beliau tidak suka ibadahnya diganggu oleh sesiapa. Beliau melepaskan satu hembusan nafasnya ke wajah wanita itu sambil membaca kalimah Lailahailallah. Dengan takdir Tuhan, wanita cantik itu rebah ke bumi dan mati.
Khalifah yang mendapat tahu kematian wanita itu telah memarahi Imam Junaid kerana menganggapnya sebagai suatu perbuatan jenayah.
Lalu khalifah memanggil Imam Junaid untuk memberikan penjelasan di atas perbuatannya. “Mengapa engkau telah membunuh wanita ini?” tanya khalifah.
“Saya bukan pembunuhnya. Bagaimana pula dengan keadaan tuan yang diamanahkan sebagai pemimpin untuk melindungi kami, tetapi tuan berusaha untuk meruntuhkan amalan yang telah kami lakukan selama 40 tahun,” jawab Imam Junaid.
Syech Junaid dengan Muridnya
Junaid Al-Baghdadi, seorang tokoh sufi, mempunyai anak didik yang amat ia senangi. Santri-santri Junaid yang lain menjadi iri hati. Mereka tak dapat mengerti mengapa Syeikh memberi perhatian khusus kepada anak itu.
Suatu saat, Junaid menyuruh semua santrinya untuk membeli ayam di pasar untuk kemudian menyembelihnya. Namun Junaid memberi syarat bahwa mereka harus menyembelih ayam itu di tempat di mana tak ada yang dapat melihat mereka. Sebelum matahari terbenam, mereka harus dapat menyelesaikan tugas itu.
Satu demi satu santri kembali ke hadapan Junaid, semua membawa ayam yang telah tersembelih. Akhirnya ketika matahari tenggelam, murid muda itu baru datang, dengan ayam yang masih hidup. Santri-santri yang lain menertawakannya dan mengatakan bahwa santri itu tak boleh melaksanakan perintah Syeikh yang begitu mudah.
Junaid lalu meminta setiap santri untuk menceritakan bagaimana mereka melaksanakan tugasnya. Santri pertama berkata bahwa ia telah pergi membeli ayam, membawanya ke rumah, lalu mengunci pintu, menutup semua jendela, dan membunuh ayam itu. Santri kedua bercerita bahwa ia membawa pulang seekor ayam, mengunci rumah, menutup jendela, membawa ayam itu ke kamar mandi yang gelap, dan menyembelihnya di sana. Santri ketiga berkata bahwa ia pun membawa ayam itu ke kamar gelap tapi ia juga menutup matanya sendiri. Dengan itu, ia fikir, tak ada yang dapat melihat penyembelihan ayam itu. Santri yang lain pergi ke hutan yang lebat dan terpencil, lalu memotong ayamnya. Santri yang lain lagi mencari gua yang amat gelap dan membunuh ayam di sana.
Tibalah giliran santri muda yang tak berhasil memotong ayam. Ia menundukkan kepalanya, malu karena tak dapat menjalankan perintah guru, “Aku membawa ayam ke rumahku. Tapi di rumahku tak ada tempat di mana Dia (Allah) tak melihatku. Aku pergi ke hutan lebat, tapi Dia (Allah) masih bersamaku. Bahkan di tengah gua yang teramat gelap, Dia (Allah) masih menemaniku. Aku tak boleh pergi ke tempat di mana tak ada yang melihatku, aku merasa dimanapun dan kapanpun aku berada disitu selalu ada Dia (Allah). Demikian jawaban dari santri muda tersebut.
Abu Bakr ibnu Dulaf ibnu Jahdar (‘asy-Syibli’), dan Abul Qasim al-Junaid, si ‘Merak Kaum Terpelajar’, adalah dua guru Sufi awal. Mereka berdua hidup dan mengajar lebih dari seribu tahun yang lalu. Kisah tentang masa belajar asy-Syibli di bawah al-Junaid, diberikan di sini, diambil dari The Revelation of the Veiled, salah satu dari buku-buku penting dalam bidangnya. al-Junaid sendiri memperoleh spiritualitasnya melalui pengaruh Ibrahim ibnu Adham (‘Ibnu Adhem’ dalam puisi Leigh Hunt), ia sebagaimana Budha, adalah seorang pangeran yang turun tahta mengikuti tarekat (Jalan), dan meninggal pada abad kedelapan.
Asy-Syibli, anggota istana yang angkuh, pergi ke al-Junaid, mencari pengetahuan sejati. Katanya, “Aku dengar bahwa engkau mempunyai karunia pengetahuan. Berikan, atau juallah padaku.”
Al-Junaid berkata, “Aku tidak dapat menjualnya padamu, karena engkau tidak mempunyai harganya. Aku tidak memberikan padamu, karena yang akan kau miliki terlalu murah. Engkau harus membenamkan diri ke dalam air, seperti aku, supaya memperoleh mutiara.”
“Apa yang harus kulakukan?” tanya asy-Syibli.
“Pergilah dan jadilah penjual belerang.”
Setahun berlalu, al-Junaid berkata padanya, “Engkau maju sebagai pedagang. Sekarang menjadi darwis, jangan jadi apa pun selain mengemis.”
Asy-Syibli menghabiskan satu tahun mengemis di jalanan Baghdad, tanpa keberhasilan. Ia kembali ke al-Junaid, dan sang Guru berkata kepadanya:
“Bagi ummat manusia, kau sekarang ini bukan apa-apa. Biarkan mereka bukan apa-apa bagimu. Dulu engkau adalah gubernur. Kembalilah sekarang ke propinsi itu dan cari setiap orang yang dulu kau tindas. Mintalah maaf pada mereka.” Ia pergi, menemukan mereka semua kecuali seorang, dan mendapatkan pengampunan mereka.
Sekembalinya asy-Syibli, al-Junaid berkata bahwa ia masih merasa dirinya penting. Ia menjalani tahun berikutnya dengan mengemis. Uang yang diperoleh, setiap senja dibawa ke Guru, dan diberikan kepada orang miskin. Asy-Syibli sendiri tidak mendapat makanan sampai pagi berikutnya.
Ia diterima sebagai murid. Setahun sudah berlalu, menjalani sebagai pelayan bagi murid lain, ia merasa menjadi orang paling rendah dari seluruh makhluk.
Ia menggunakan ilustrasi perbedaan antara kaum Sufi dan orang yang tidak dapat diperbaiki lagi, dengan mengatakan hal-hal yang tidak dapat dipahami masyarakat luas.
Suatu hari, karena bicaranya tidak jelas, ia telah diolok-olok sebagai orang gila di masyarakat, oleh para pengumpat. Dia berkata:
Bagi pikiranmu, aku gila.
Bagi pikiranku, engkau semua bijak.
Maka aku berdoa untuk meningkatkan kegilaanku
Dan meningkatkan kebijakanmu
‘Kegilaanku’ dari kekuatan Cinta;
Kebijakanmu dari kekuatan ketidaksadaran
Tasawuf Syech Junaid al-Baghdadi
Al-Junaid barkata, "Tasawuf adalah bersama dengan Tuhan tanpa pertalian dengan apapun." Melalui definisi ini, sebenarnya Al-Junaid ingin menyatakan bahwa sufisme merupakan cara atau sarana menuju Tuhan dan bersatu dengan kehendak-Nya. Sedangkan pengertian yang demikian ini, dihasilkan dari kesadaran akan adanya suatu jurang yang sangat lebar memisahkan manusia dari Tuhan. Sehingga sufisme, dimaksudkannya untuk menjembatani jurang tersebut.
Dengan perantaraan sufisme, manusia dapat mendekati-Nya, bahkan dapat bersatu di dalam-Nya. Agar dapat mencapai persatuan tersebut, manusia harus mampu memisahkan ruhnya dari semua sifat kemakhlukan yang melekat pada dirinya. Jika hal ini dapat dilaksanakan, niscaya tujuan untuk mendekati Tuhan dan bersatu di dalam-Nya akan tercapai.
Namun demikian, Al-Junaid juga menyatakan bahwa, "Sufisme adalah suatu keadaan yang di dalamnya terdapat kehidupan manusia." Dan ketika ditanya apakah sifat itu sifat manusia atau sifat Tuhan? Al-Junaid menjawab, "Esensinya memang merupakan sifat Tuhan, namun gambaran lahiriahnya adalah sifat manusia." Melalui definisi ini, Al-Junaid ingin menggambarkan bahwa sesungguhnya dalam diri manusia telah dihiasi dengan sifat Tuhan, sehingga kondisi tertinggi dari pengalaman sufistik yang dicapai seorang sufi berupa persatuannya dengan Tuhan, juga dapat dilukiskan. Pada tingkat ini, seorang sufi akan kehilangan kesadarannya, tidak lagi merasa memiliki hubungan dengan lingkungannya. Bahkan semua yang ada di sekitarnya tidak lagi menjadi obyek pemikirannya, lantaran seluruh perhatiannya hanya tertuju kepada Tuhan. Sementara dengan hilangnya semua perhatian dan kesadarannya itu, maka dia otomatis sedang berada di tangan Tuhan.
Lebih jauh Al-Junaid menegaskan, bagaimanapun tingginya tingkatan yang telah dicapai, seorang sufi harus tetap meyakini Keesaan Tuhan dan menjalankan perintah-Nya serta menjauhi larangan-Nya sesuai dengan Al-Qur'an dan Sunnah Rasul.
Dalam ajaran Sufi, delapan sifat harus dilatih. Kaum Sufi memiliki:
1. Kemurahan hati seperti Ibrahim a.s.;
2. Penerimaan yang tak bersisa sedikit pun dari Ismail a.s.;
3. Kesabaran, sebagaimana dimiliki Ya’kub a.s.;
4. Kemampuan berkomunikasi dengan simbolisme, seperti halnya Zakaria a.s.;
5. Pemisahan dari para pendukungnya sendiri, sebagaimana halnya Yahya a.s.;
6. Jubah wool seperti mantel gembala Musa a.s.;
7. Pengembaraan, seperti perjalanan Isa a.s.;
8. Kerendah-hatian, seperti jiwa dari kerendahan hati Muhammad saw.
1. Ajaran Zuhud
Zuhud merupakan dasar dari segala ajaran yang terkandung dalam ajaran sufisme yang diyakini oleh para sufi. Yang merupakan langkah awal dari mereka yang menekuni tasawuf dalam usahanya untuk berada sedekat mungkin dengan Tuhan. Sehingga siapa saja yang tidak berhasil melalui tahap ini, maka niscaya tidak akan pernah berhasil mencapai hal dan maqam sesudahnya.
Menurut Al-Junaid, "Zuhud adalah kosongnya tangan dari kepemilikan dan hati dari hal yang mengikutinya (ketamakan)." Dengan kata lain, zuhud bagi Al-Junaid lebih merupakan sikap seorang sufi yang tidak begitu terikat dengan duniawi. Namun bukan berarti zuhud itu menjauhi dunia. Bahkan lebih jauh, pengertian zuhud ini melahirkan sikap kedermawanan dan suka bersedekah pada orang yang membutuhkan.
Al-Junaid juga bertutur, "Seorang sufi tidak seharusnya berdiam diri di masjid dan berdzikir saja tanpa bekerja untuk nafkahnya. Sehingga untuk menunjang kehidupannya, orang tersebut menggantungkan dirinya hanya pada pemberian orang lain." Bagi Al-Junaid, sifat dan sikap seperti itu sengatlah tercela, lantaran sekalipun sufi, orang tersebut harus tetap bekerja keras untuk menopang kehidupannya sehari-hari. Jika sudah mendapat nafkah diharapkan mau menggunakannya di jalan Allah, yaitu dengan mendermakan sebagian hartanya kepada siapa saja yang membutuhkan.
2. Ajaran Tawakal
Menurut Al-Junaid, "Hakikat tawakal adalah menjadi milik Tuhan seperti sebelum terjadi." Pengertian ini berarti bahwa seorang yang bertawakal menjadi seperti ketika belum diciptakan, yaitu sebagai milik Tuhan. Dan lantaran dia kepunyaan-Nya, maka apapun yang akan diperbuat Tuhan terhadapnya, dia akan menerimanya. Junaid juga bertutur, "Bahwasannya kamu harus puas dengan Tuhan daam segala keadaan, dan kamu tidak mengharapkan sesuatu yang lain kecuali Tuhan."
3. Ajaran Mahabbah
Junaid bertutur tentang mahabbah, "Mahabbah adalah masuknya sifat-sifat yang Dicintai ke dalam diri yang mencintai, sebagai ganti dari sifat-sifat yang mencintai." Maksudnya adalah jika seorang sufi telah benar-benar jatuh cinta kepada Tuhan, maka perhatiannya hanya akan tertuju pada-Nya. Tiada lagi perasaan yang tertuju kepada hal-hal lain yang masih tertinggal pada dirinya. Pada saat yang sama, dia akan menjadikan tempat di segala sudut dalam hatinya, hanya untuk Tuhan.
Namun demikian, semua ini hanya akan terjadi apabila diawali dengan menghilangkan sifat-sifat yang ada pada dirinya sebagai makhluk, dengan meyakini esensi Tuhan yang kekal. Lantaran ketika sifat-sifat kemanusiaannya hilang, pada saat itulah dia akan terhiasi oleh sifat-sifat Tuhan yang dicintai-Nya. Jika sufi tersebut masih merasakan sifat-sifat kemakhlukan pada dirinya, niscaya dia tidak akan dapat menghayati keindahan Tuhan yang dicintainya. Tetapi jika dia tahu bahwa keindahan Tuhan hanya dapat dicapai dengan usaha yang tekun dan pertolongan-Nya, maka ia pasti akan berusaha untuk meraihnya, sekalipun untuk itu, dia harus menghilangkan sifat-sifat dirinya. Sehingga dengan demikian, mahabbah yang sejati pada Tuhan akan terwujud.
4. Ajaran Mushahadah
Mushahadah berarti menyaksikan atau lebih jelasnya, "Melihat Tuhan dengan mata hati, tanpa keraguan sedikitpun, bagaikan melihat-Nya dengan mata kepala." Hal ini berarti bahwa dalam ajaran sufisme, seorang sufi dalam keadaan tertentu akan dapat melihat Tuhan dengan mata hatinya. Sehingga boleh jadi, hanya bagi mereka, Tuhan itu dapat dilihat. Menurut Al-Junaid, Tuhan hanya dapat dilihat melalui mata hati, bukan dengan mata kepala. Sehingga seandainya Tuhan dapat dilihat dengan mata kepala di akhirat nanti, maka Al-Junaid pun tidak ingin melakukannya.
Al-Junaid bertutur, "Apabila Tuhan berkata kepadaku: Lihatlah Aku, aku akan menjawab: Aku tidak dapat melihat Engkau ya Allah. Lantaran dalam cinta, mata adalah sesuatu yang lain selain Tuhan dan makhluk. Kecemburuan pada yang lain akan menjagaku dari melihat-Nya. Selain itu, ketika di dunia aku telah biasa melihat-Nya tanpa perantaraan mata kepala, maka bagaimana aku harus menggunakan perantaraan seperti itu di akhirat nanti."
5. Ajaran Mithaq
Menurut Al-Junaid, yang dimaksud dengan mithaq adalah perjanjian yang terjadi antara Tuhan dengan ruh, sebelum dia masuk ke dalam tubuh manusia. Dimana akad ini terjadi ketika ruh tersebut diciptakan-Nya pada masa azali.
6. Ajaran Tentang Fana dan Baqa
Junayd kontribusi terhadap tasawuf banyak. Nya ide dasar berurusan dengan kemajuan yang menyebabkan orang untuk "memusnahkan" diri (fana) sehingga berada dalam serikat lebih dekat dengan Ilahi. Orang perlu "melepaskan keinginan alam, untuk menghapus atribut manusia, untuk membuang motif egois, untuk menumbuhkan kualitas spiritual, untuk mengabdikan diri kepada pengetahuan yang benar, untuk melakukan apa yang terbaik dalam konteks keabadian, keinginan baik untuk seluruh masyarakat, harus benar-benar beriman kepada Allah, dan mengikuti Nabi dalam hal syariat ". Ini dimulai dengan praktek penolakan (zuhd) dan berlanjut dengan penarikan dari masyarakat, konsentrasi intensif pada pengabdian (Ibadat) & mengingati (zikir) Allah, ketulusan (Ikhlas), dan kontemplasi (muraqaba) masing-masing; kontemplasi menghasilkan fana. Jenis "perjuangan semantik" recreates pengalaman persidangan (bala) yang penting dalam tulisan-tulisan Junayd. Hal ini memungkinkan orang untuk masuk ke dalam keadaan fana. Junayd membagi atas keadaan fana menjadi tiga bagian: "1) yang meninggal dari atribut seseorang melalui upaya terus-menerus menentang ego-diri sendiri (nafs); 2) berlalu dari perasaan seseorang tentang prestasi, yaitu berlalu dari "kita berbagi salah satu padang pasir manis dan kenikmatan ketaatan '; dan 3) lewat jauh dari visi tentang realitas" dari ekstasi Anda sebagai tanda nyata mengalahkan Anda' ". Semua tahapan ini membantu seseorang untuk mencapai fana. Sekali yang telah dicapai, seseorang di negara bagian yang tersisa, atau baqa. Ini adalah melalui tahap baqa yang satu dapat menemukan Tuhan - atau lebih tepatnya, memiliki Allah menemukan dirinya. Menjangkau baqa bukanlah hal yang mudah dilakukan meskipun; mendapatkan melalui tiga tahap membutuhkan disiplin yang ketat dan kesabaran. Bahkan ada perdebatan antara ulama, apakah atau tidak tahap ketiga bahkan dimungkinkan untuk dicapai. Junayd membantu mendirikan "sadar" sekolah pemikiran sufi, yang berarti bahwa dia sangat logis dan ilmiah tentang definisi tentang berbagai kebajikan, Tauhid, dll Sober tasawuf dicirikan oleh orang-orang yang "Pengalaman [fana dan] tidak hidup dalam keadaan penyerapan tanpa pamrih pada Tuhan tetapi menemukan diri mereka kembali ke indera mereka oleh Allah. kembali tersebut dari pengalaman demikian dilarutkan mementingkan diri sebagai diri baru, "seperti orang mabuk serius sampai. Sebagai contoh, Junayd dikutip mengatakan, "Air mengambil warna dari cawan itu." Meskipun ini mungkin tampak agak membingungkan pada awalnya, 'Abd al-Hakeem Carney menjelaskan lebih baik: "Ketika air dipahami di sini untuk lihat Terang pengungkapan Ilahi diri, kita dituntun menuju konsep penting dari 'kapasitas,' dimana penampakan Ilahi diterima oleh hati setiap orang menurut orang itu tertentu menerima kapasitas dan akan 'berwarna' oleh alam seseorang ". Seperti yang dapat dilihat, seperti ungkapan yang sederhana memiliki arti yang mendalam seperti; ia membawa pembaca kembali ke pemahaman yang lebih dalam Tuhan melalui metafora yang lebih bijaksana.
Fana dan baqa ini merupakan sesuatu yang kembar dan datang bersamaan, sehingga jika seseorang mengalami fana (kesadaran diri hilang dan lenyap), maka bersamaan dengan itu muncul baqa (munculnya kesadaran akan kehadirannya di sisi Tuhan). Diri pribadi dengan segala sifatnya yang menyukai kesenangan dan keinginan duniawi, merupakan tabir penghalang bagi seorang sufi untuk mencapai persatuan dengan Tuhan. Sehingga semua penghambat tersebut, harus terlebih dahulu dihapuskan agar dapat mencapai puncak tertinggi dari sufisme. Atau dengan kata lain, untuk mencapai persatuan dalam Tuhan, maka semua sifat kemakhlukan yang ada pada diri manusia dan semua perasaan terhadap selain Tuhan, harus dihilangkan terlebih dahulu. Sehingga ketika hati benar-benar telah bersih dan siap ditempati Tuhan, maka inilah yang dimaksud dengan fana, yakni hilangnya kesadaran atas diri pribadi.
7. Ajaran Tauhid
Menurut Al-Junaid, tauhid adalah, "Pengesaan yang qidam (kekal) dari yang hadath (baru atau diciptakan)." Dengan pengertian ini, Al-Junaid ingin menegaskan bahwa tauhid merupakan pengesaan Tuhan yang kekal (qidam) dari makhluk ciptaan-Nya yang baru (hadith). Pengesaan ini berarti pemisahan Tuhan dari segala makhluk-Nya, termasuk di dalamnya pemisahan dari manusia.
8. Ajaran Makrifat
Menurut Al-Junaid, marifat adalah kesadaran akan adanya ketidaktahuan (kebodohan) ketika pengetahuan tentang Tuhan datang. Melalui definisi ini, dia ingin menyatakan bahwa pada hakikatnya manusia itu berada pada ketidaktahuan tentang hakikat Tuhan. Dimana keadaan yang demikian ini, baru disadarinya ketika datang makrifat kepadanya. Pada saat itu, dia akan mendapatkan pengetahuan tentang hal-hal yang berkenaan dengan Tuhan yang sebelumnya tidak pernah diketahuinya.
Makrifat atau pengetahuan tentang Tuhan, akan dapat dicapai oleh seorang sufi, dalam keadaan fana tertinggi. Dimana pada saat itu, segala sifat kemanusiaan yang ada dalam dirinya hilang seketika. Semua keinginannya pada benda-benda duniawi terhapus. Kesadaran akan dirinya lenyap, digantikan oleh kesadaran akan kedekatannya pada Tuhan. Sedangkan yang masih tinggal pada dirinya hanyalah perasaan akan bersatunya ruh dirinya dalam Tuhan. Dan pada titik itulah sesungguhnya makrifat ini muncul menguasai dirinya. Di mana Tuhan dengan segala rahmat-Nya telah berkenan menganugerahkan makrifat itu kepadanya.
Makrifat menurut Al-Junaid merupakan milik Tuhan, yang hanya didapatkan melalui Dia dan akan ada bersama dengan-Nya sendiri.
9. Sahw (Kembali Pada Kesadaran)
Dalam sufisme, istilah sahw adalah kembalinya seorang arif (sufi) pada kesadarannya, setelah sebelumnya mengalami ghaybah (fana) dan kehilangan kesadarannya. Al-Junaid menjelaskan masalah sahw ini sebagai berikut, "Tuhan mengembalikan sufi kepada keadaannya semula, adalah agar dia dapat menjelaskan bukti-bukti dari rahmat Tuhan kepadanya. Sehingga cahaya anugerah-Nya akan tampak gemerlap melalui pengembalian pada sifat-sifatnya sebagai manusia. Dengan demikian hal ini menjadikan masyarakat menghargai dan tertarik kepadanya."
Sahw ini merupakan tahap terakhir setelah seorang sufi mengalami fana dan baqa. Pada kondisi inilah ujian sebenarnya bahwa seorang sufi harus mampu kembali kepada kesadarannya dengan hati yang telah disucikan oleh Allah. Para sufi ini harus mampu menyucikan hatinya secara terus-menerus dalam kesadaran manusia sehingga dia benar-benar menjadi yang mencintai dan dicintai Allah
Ada beberapa masalah lain ketika menghadapi teks Junayd's. Junayd percaya bahwa Sufisme adalah jalan bagi elit untuk mencapai Allah, bukan orang biasa. "Tasawwuf," katanya, "adalah untuk membersihkan jantung dari setiap ingin mengikuti jalan orang-orang umum" . Hal ini lebih lanjut menguraikan tentang mengapa menulis begitu fasih Junayd. Juga, menurut Menjual, "... Junayd tampaknya mengandaikan bahwa pendengar-nya atau pembaca telah memiliki pengalaman tentang apa yang dia berbicara - atau, bahkan lebih radikal, bahwa pendengar atau pembaca dapat masukkan bahwa pengalaman, atau penciptaan kembali itu - pada saat pertemuan dengan kata-kata Junayd " . Pernyataan ini membuatnya tampak seperti Junayd sedang menulis untuk sebuah sekte tertentu dari elit bahwa ia telah dijelaskan sebelumnya. Elit bahwa ia merujuk kepada adalah memilih, atau "kelompok erat-merajut dari 'saudara' yang menunjuk Junayd oleh ungkapan-ungkapan seperti 'pilihan beriman' atau 'yang murni." Mereka memainkan peran penting dalam komunitas beriman ... " . Seperti disebutkan, Junayd selalu sulit untuk dibaca bagi para sarjana karena sebagian besar tulisan-tulisannya telah hilang ke waktu. Junayd terus-menerus menggunakan kata-kata yang tepat & bahasa yang spesifik untuk mencoba menggambarkan Allah, kerinduan bagi-Nya, dan kondisi manusia. bahasa berbunga-Nya segera mati kebanyakan orang, tetapi Junayd punya alasan untuk menulis begitu misterius. Menurut Ensiklopedi Islam, Junayd menemukan bahwa sebuah surat yang ditulis oleh orang asing dibuka sebelum itu sampai ke tujuannya: "tak diragukan lagi oleh beberapa orang fanatik berkeinginan untuk menemukan penyebab impugning ortodoksi Nya, dan bahaya ini selalu hadir harus sebagian disebabkan yang disengaja preciosity yang menandai semua tulisan-tulisan mistik dari itu periode Junayd " . Konstan ini khawatir tentang orang lain mendapatkan suatu pegangan dari ide-idenya menyebabkan Junayd menjadi sangat protektif terhadap tulisan-tulisannya.
Meninggal Dunia
Akhirnya kekasih Allah itu telah menyahut panggilan Ilahi pada 297 Hijrah. Imam Junaid telah wafat di sisi Abu Bakar As-Syibli, seorang daripada muridnya.
Ketika sahabat-sahabatnya hendak mengajar kalimat tauhid, tiba-tiba Imam Junaid membuka matanya dan berkata, "Demi Allah, aku tidak pernah melupakan kalimat itu sejak lidahku pandai berkata-kata."
Dia ditemani paman dari pihak ibu Sari al-Saqati dan panduan lainnya termasuk al-Harits al-Muhasibi , dan lain-lain. Ia lahir di Baghdad dari Persia tua dan menurut Dehkhoda, nenek moyangnya dari mana Nahavand.
Awal pendidikan Al-Junaid dimulai dengan belajar ilmu pengetahuan agama pada pamannya sendiri, Sari Al-Saqati, yang juga dikenal sebagai seorang sufi yang sangat luas ilmu pengetahuannya. Ketika usianya 20 tahun, Al-Junaid mulai belajar hadits dan fiqh pada Abu Thawr, sorang faqih kondang di Baghdad. Setelah mempelajari hadits dan fiqh, Al-Junaid beralih menekuni tasawuf, sekalipun sebenarnya dia sudah mulai mengenal ajaran tasawuf sejak berumur 7 tahun di bawah bimbingan Sari Al-Saqati. Selain itu Junaid kecil juga belajar sufisme dari siapa saja sehingga pengetahuan sufismenya semakin hari bertambah luas. Ketika dewasa bisa dibilang ilmu Al-Junaid dalam sufisme telah cukup matang.
Al-Junaid adalah seorang sufi yang cerdas, memiliki pikiran cemerlang dan selalu cepat tanggap dalam menghadapi segala situasi dan kondisi. Analisisnya terhadap berbagai masalah yang diajukan kepadanya sangatlah tajam, sehingga sering membuat para pendengarnya terkagum-kagum. Padahal sifat dan kemampuannya ini sudah tampak sejak masa kanak-kanak. Kedudukannya di antara para sufi sangatlah terhormat, bahkan Sari Al-Saqati sendiri sempat mengakuinya. Dalam riwayat dinyatakan, ketika seseorang bertanya pada Sari Al-Saqati, "Apakah seorang murid dapat mencapai tingkat yang lebih tinggi dari gurunya dalam tasawuf?" Sari Al-Saqati menjawab, "Tentu saja dapat, lantaran ada banyak bukti yang menunjukkan hal tersebut. Ketahuilah bahwa tingkat tasawuf Al-Junaid itu sesungguhnya lebih tinggi dari tingkat yang pernah kucapai."
Pengalaman Syech Junaid
Shaykh Junayd Baghdadi pergi untuk jalan-jalan keluar Baghdad. Murid-murid mengikutinya.
Shaykh bertanya bagaimana kabar bahlul yang gila ?
Mereka menjawab, “Dia adalah orang gila, apa yang anda perlukan dari dia?”
“bawalah aku ke dia, karena aku ada perlu dengan nya.”
Para murid mencari Bahlul dan menemukannya di padang pasir. Mereke membawa Shaykh Junayd kepadanya , ketika Shaykh Junayd pergi mendekati Bahlul, Beliau melihat Bahlul dalam keadaan gelisah dengan batu bata ada dibawah kepalanya (posisi kepala dibawah ?)
Shaykh mengucapkan salam
Bahlul menjawab dan bertanya, “Siapakah Anda? ”
” Saya Junayd Baghdadi.”
Bahlul bertanya, “Apakah Anda Abul Qasim?”
“Ya, betul !” jawab Shaykh
Bahlul bertanya lagi ” Apakah Anda Shaykh Baghdadi yang memberikan orang-orang Petunjuk spiritual? ”
“Ya!” kemudian Bahlul bertanya ” Tahukah Anda bagaimana cara makan?”
“Ya!” Saya mengucapkan Bismillah (Dengan mengucap nama Allah SWT). Saya makan yang paling dekat dengan saya, Saya mengambil gigitan kecil, meletakkannya di sisi kanan dari mulut saya, dan mengunyah pelan-pelan. Saya tidak nampak ke gigitan yang lain. Saya mengingat Allah SWT saat makan. Untuk sebutir apapun yang saya makan, Saya mengucap Alhamdulillah (Segala puji bagi Allah SWT). Saya mencuci tangan sebelum dan sesudah makan.”
Bahlul berdiri, meggerakkan pakaiannya pada Shaykh, dan berkata, ” Anda ingin menjadi pemimpin spiritual dunia tapi Anda tidak pun mengetahui bagaimana cara makan.” setelah mengucapkannya, dia langsung pergi.
Para Murid Shaykh berkata, “O Shaykh! Dia orang yang gila. ”
Shaykh menjawab, Dia adalah orang gila yang sangat pandai dalam berucap. dengarkan pernyataan yang benar dari nya.
Setelah mengucapkan Beliau pergi dibelakang Bahlul, dan berkata, ” Saya ada perlu dengan Bahlul.”
Ketika Bahlul mencapai bangunan yang berdebu, dia duduk. Junayd mendekatinya.
Bahlul bertanya, “Siapakah Anda?”
” Shaykh Baghdadi yang tidak mengetahui bagaimana cara makan.”
” Anda tidak mengetahui bagaimana makan, tapi apakah Anda tahu bagaimana berbicara?”
“Ya”
” Bagaimana anda berbicara ?”
” Saya berbicara secara umum dan langsung pada pokok masalah. Saya tidak berbicara terlalu tinggi atau terlalu banyak. Saya berbicara sehingga para pendengar dapat mengerti. Saya memanggil semua orang di dunia untuk kembali ke Allah dan RasulNya. Saya tidak berbicara terlalu banyak sehingga semua orang akan bosan. Saya memperhatikan kedalaman pengetahuan spiritual dan yang umum.
kemudian dia menggambarkan apapun yang berhubungan dengan Adab dan etika
Bahlul berkata, “Lupakan soal makan, Anda pun tidak mengetahui bagaimana berbicara.”
Bahlul berdiri, menggerakkan pakaiannya pada Shaykh dan pergi
Para murid berkata, “O Shaykh! Anda lihatkan, dia orang yang gila. Apa yang Anda harapkan dari orang yang gila!”
Shaykh berkata, ” Saya ada perlu dengan dia. Kalian tidak tahu.”
Sekali lagi Beliau pergi setelah Bahlul sampai Beliau menjumpainya.
Bahlul bertanya, “Apa yang Anda inginkan dari saya? Anda yang tidak mengetahui Adab makan dan bicara, apakah Anda mengetahui bagaimana cara untuk tidur?”
” Ya, saya tahu.”
” Bagaimana cara tidur?” Bahlul bertanya
” Ketika saya selesai sholat Isya’ dan membacakan permohonan, saya pakai baju tidur saya.”
Kemudian beliau menggambarkan adab-adab tidur yang sudah diterima oleh beliau dari Orang-orang yang telah belajar agama.
Bahlul kemudian berkata : ” Saya mengerti bahwa Anda pun tidak mengetahui juga bagaimana untuk tidur.”
Dia ingin berdiri, tapi Junayd menangkap memegang pakaian nya dan berkata, O Bahlul! Saya tidak mengethuinya; Demi kecintaan kepada Allah SWT ajari saya.
Bahlul berkata ” Anda mengklaim pengetahuan dan berkata bahwa anda tahu sehingga Saya mencegah Anda. sekarang Anda mengakui ketiadaan pengetahuan Anda, Saya akan mengajari Anda.”
“Tahu apapun yang Anda utarakan itu adalah tidak penting.”
” Kebenaran dibalik memakan makanan yang Anda makan menurut hukum adalah sepotong demi sepotong. Jika Anda makan makanan yang dilarang juga, dengan seratus adab, hal itu tidak akan menguntungkan Anda, tapi bisa menjadi alasan untuk menghitamkan hati.”
” Semoga Allah memberkati Anda pahala yang sangat besar.” ucap Shaykh.
Bahlul melanjutkan, Hati haruslah bersih, dan memiliki niat yang baik sebelum Anda mulai bicara. dan pembicaraan Anda haruslah menyenangkan Allah SWT. Jika itu untuk segala urusan dunya atau pekerjaan yang sia-sia, maka apapun yang Anda ekspresikan, akan menjadi bencana bagi Anda. Itulah sebabnya diam dan tenang adalah yang terbaik.”
“Apapun yang Anda ucapkan tentang tidur juga tidak penting. Kebenarannya adalah bahwa hati Anda seharusnya bebas dari permusuhan, cemburu, dan kebencian. Hati Anda seharusnya TIDAK rakus untuk dunia ini atau kekayaanya, dan ingatlah Allah SWT ketika akan tidur.
Shaykh Junayd kemudian mencium tangan Bahlul dan berdoa untuk nya.
Para murid yang menyaksikan kejadian ini, dan yang telah berfikir bahwa Bahlul gila, melupakan tindakannya dan memulai hidup baru.
Imam Abul Qusim Aljunaid r.a. bercerita :
Sekali peristiwa ketika aku pergi naik haji ke Baitullah Al-Haram, dan juga untuk menziarahi maqam Nabi alaihis-shalatuwasalam, sedang aku dalam perjalanan menuju kesana ,tiba tiba terdengar oleh telinga ku suatu suara rintihan yang melas serta sangat menyayat hati, yang pada anggapan ku tentulah suara itu datangnya dari hati seorang yang remuk remdam.
Aku pun mencari cari dari mana datangnya sumber suara itu, dan ternyata bahwa rintihan itu keluar dari mulut seorang pemuda yang sangat kurus, lemah, namun wajahnya bercahaya terang seperti bulan. Saya mendekatinya, ia membuka matanya dan langsung mengucapkan ..Assalamualaikum, ya Abul Qasim!!..
Waalaikumussalam! Jawab ku penuh kehairanan….Nak, siapakah yang memberitahukan nama ku pada mu, sedangkan kita belum pernah mengenal satu sama lain ? Aku bertanya kepadanya..
Wahai Abul Qasim ! Saya telah mengenali bapak sejak dialam Roh. Dan Allah lah yang memberikan nama bapak kepada ku. Demi Allah , wahai Abul Qasim, kalau aku sudah mati, maka mandikan dan bungkuslah aku dengan baju yang aku pakai ini, dan naiklah kebukit itu, lalu panggillah orang orang untuk menyalati ku, lalu tanamlah aku ditempat ini pula ! Hanya Allah lah yang akan membalas segala kebaikan bapak.
Berkata Abul Qasim Aljunaid lagi menyambung ceritanya :
Kemudian aku lihat anak muda tadi penuh berkeringat dahinya sehingga membasahi seluruh wajahnya, suaranya semakin menekan, barang kali , kerana kesakitan….Dalam pada itu ia sempat berpesan lagi, katanya:
Wahai ABUL Qasim ! Setelah anda selesai menunaikan haji mu, dan sudah mau kembali kenegeri mu, hendaklah anda menuju dulu ke Bagdad, dan tanyakan lah orang orang disana tentang kampung Darb Za’faran. Setelah tiba dikampung itu, tanyakan pula tentang ibu ku dan putra ku serta sampaikanlah salam kepada mereka!…. Baiklah, jawab ku.
Anak muda itu kemudian merintih makin lama makin lemah, dan tak lama sesudah itu pulanglah ia ke rahmatullah dengan tenangnya, sedang kan wajahnya tampak semakin bercahaya. Saya pun memandikannya, kemudian mengafankanya dengan bajunya. Sesudah itu saya naik keatas bukit dan berseru dengan suara keras sekali:: wahai orang orang sekalian ! marilah kita bersama sama menyalati mayat asing ini!.
Tiba tiba datanglah beribu ribu orang dari segenap penjuru, seperti ulat layaknya, sedang wajah wajah mereka bagaikan terangnya cahaya bulan purnama. Kami pun menuruti bersama menyalati mayat itu, kemudian menguburkannya. Setelah selesai penguburan mayat itu, maka dengan serta merta pula, hilanglah ribuan orang orang tadi secara mendadak dan tampa ada bekasnya. Saya benar benar kehairanan atas kejadian itu, juga atas kemuliaan mayat yang tidak saya kenal sebelumnya.
Setelah selesai ibadat haji, saya segera pergi ke Bagdad, dan terus menuju kekampung Darb Za’faran . setelah menemukanya tampak dilorong lorong kecil kampung itu ada anak anak sedang bermain main. Tiba tiba seorsng dari antara mereka memandang tajam kepada ku, seraya mendekati ku dan berkata:
Assalamualaikum, ya Abul Qasim! Mungkin kedatangan tuan untuk untuk memberitahu tentang kematian ayah ku, agaknya ?
Hati ku terkejut mendengar pertanyaan anak kecil itu. Ah, alangkah tepatnya apa yang dikatakan, padahal ia masih demikian kecil. Ia kemudian menuntun ku kesebuah rumah, lalu mengetuk pintunya. Seorang wanita tua membuka pintu, dan alangkah terangnya wajah wanita tua itu, dan alang kah salihan ia tampaknya. Saya mengucapkan salam kepadanya . Ia pun segera membalasnya, lalu menangis terisak isak . kemudian ia bertanya: Wahai Abul Qasim ! Dimanakah tempat kematian anak ku, dan cahaya mata ku.
Moga moga ia mati da Arafah ? Jawab ku , tidak!…..
apakah di Mina?……jawab ku , tidak ! ….
di Muzdalifah? ….jawab ku tidak…..
Habis dimana? Tanya ibu itu, Dipadang pasir, dibawah pohon ghailan?,jawab : Ya,,
Mendengar berita itu ia menjerit keras seraya berkata:; oh anak ku! Oh anak ku! Suaranya bercampur tangisan yang sungguh menyayat hati semua orang yang disitu. Oh! Anak ku ! Oh anak ku! Mengapa tidak disampaikannya ke rumah Nya (Baitullah) ,atau dibiarkanNya saja ia dengan kami? Ibu itu terus sesak dadanya, dan ketika itulah ia menghembuskan nyawanya meninggalkan dunia yang fana ini, kembali ke rahmatullah, moga moga Allah mencucuri rahmat ke atas rohnya.
Berkata Aljuniad seterusnya :
Melihat neneknya telah meninggal dunia, anak kecil itu pun mendekati manyatnya sambil menangis terisak isak. Kemudian menengadah kearah langit seraya berdoa :;
Ya Allah, ya Tuhan ku Mengapa Engkau tidak ambil aku bersama sama nenek ku ! Ya Allah , lebih baik Engkau ambil aku untuk pergi bersama sama mereka berdua!… Dengan tiba tiba saja sesaklah dada anak kecil itu, dan ia pun menghembuskan nafasnya yang terakhir, moga moga Allah merahmati mereka sekalian.
Saya benar benar tercengang menyaksikan segala peristiwa yang baru berlaku tadi itu, dan saya kira alangkah bahagianya keluarga itu. Saya merawati jenazah itu bersama dengan tetangga mayat itu dangan sempurna dan baik .
Setelah kami menguburkan jenazah jenazah itu, maka dangan hati yang penuh sedih dan hiba, saya meninggalkan kubur kubur mereka!
Syech Junaid al-Baghdadi adalah peletak dasar bagi mistisisme sadar dalam kontras dengan yang mabuk-Sufi Allah seperti al-Hallaj , Abu yazid Bustami dan Abu sa’id Abu al-khair . Dalam proses persidangan al-Hallaj , mantan murid, Khalifah waktu itu yang diminta fatwa dan ia mengeluarkan ini fatwa : "Dari penampilan luar dia mati dan kita menilai sesuai dengan penampilan luar dan Tuhan yang tahu" lebih baik. Dia disebut oleh para Sufi sebagai Taifa ut-Sayyid yaitu pemimpin kelompok.
Imam Junaid juga seorang ahli perniagaan yang berjaya. Beliau memiliki sebuah gedung perniagaan di kota Baghdad yang ramai pelanggannya. Sebagai seorang guru sufi, beliau tidaklah disibukkan dengan menguruskan perniagaannya sebagaimana sesetengah peniaga lain yang kaya raya di Baghdad.
Waktu perniagaannya sering disingkatkan seketika kerana lebih mengutamakan pengajian anak-anak muridnya yang dahagakan ilmu pengetahuan. Apa yang mengkagumkan ialah Imam Junaid akan menutup kedainya setelah selesai mengajar murid-muridnya. Kemudian beliau balik ke rumah untuk beribadat seperti solat, membaca al-Quran dan berzikir.
Setiap malam beliau berada di masjid besar Baghdad untuk menyampaikan kuliahnya. Ramai penduduk Baghdad datang masjid untuk mendengar kuliahnya sehingga penuh sesak.
Imam Junaid hidup dalam keadaan zuhud. Beliau redha dan bersyukur kepada Allah SWT dengan segala nikmat yang dikurniakan kepadanya. Beliau tidak pernah berangan-angan untuk mencari kekayaan duniawi dari sumber pekerjaannya sebagai peniaga.
Beliau akan membahagi-bahagikan sebahagian dari keuntungan perniagaannya kepada golongan fakir miskin, peminta dan orang-orang tua yang lemah.
Bertasauf Ikut Sunnah Rasulullah saw
Imam Junaid seorang yang berpegang kuat kepada al-Quran dan as-Sunnah. Beliau sentiasa merujuk kepada al-Quran dan sunnah Rasulullah saw dalam setiap pengajiannya.
Beliau pernah berkata:
“Setiap jalan tertutup, kecuali bagi mereka yang sentiasa mengikuti perjalanan Rasulullah saw. Sesiapa yang tidak menghafal al-Quran, tidak menulis hadis-hadis, tidak boleh dijadikan ikutan dalam bidang tasauf ini.”
Memiliki Beberapa Kelebihan dan Karamah
Imam Junaid mempunyai beberapa kelebihan dan karamah. Antaranya ialah berpengaruh kuat setiap kali menyampaikan kuliahnya. Kehadiran murid-muridnya di masjid, bukan saja terdiri daripada orang-orang biasa malah semua golongan meminatinya.
Masjid-masjid sering dipenuhi oleh ahli-ahli falsafah, ahli kalam, ahli fiqih, ahli tasawuf, ahli politik dan sebagainya. Namun begitu, beliau tidak pernah angkuh dan bangga diri dengan kelebihan tersebut.
Diuji Dengan Seorang Wanita Cantik
Setiap insan yang ingin mencapai keredhaan Allah selalunya menerima ujian dan cabaran. Imam Junaid menerima ujian daripada beberapa orang musuhnya setelah pengaruhnya meluas. Mereka telah membuat fitnah untuk menjatuhkan imej Imam Junaid.
Musuh-musuhnya telah bekerja keras menghasut khalifah di masa itu agar membenci Imam Junaid. Namun usaha mereka untuk menjatuhkan kemasyhuran Imam Junaid tidak berhasil.
Musuh-musuhnya berusaha berbuat sesuatu yang boleh memalukan Imam Junaid. Pada suatu hari, mereka menyuruh seorang wanita cantik untuk memikat Imam Junaid. Wanita itu pun mendekati Imam Junaid yang sedang tekun beribadat. Ia mengajak Imam Junaid agar melakukan perbuatan terkutuk.
Namun wanita cantik itu hanya dikecewakan oleh Imam Junaid yang sedikitpun tidak mengangkat kepalanya. Imam Junaid meminta pertolongan dari Allah agar terhindar daripada godaan wanita itu. Beliau tidak suka ibadahnya diganggu oleh sesiapa. Beliau melepaskan satu hembusan nafasnya ke wajah wanita itu sambil membaca kalimah Lailahailallah. Dengan takdir Tuhan, wanita cantik itu rebah ke bumi dan mati.
Khalifah yang mendapat tahu kematian wanita itu telah memarahi Imam Junaid kerana menganggapnya sebagai suatu perbuatan jenayah.
Lalu khalifah memanggil Imam Junaid untuk memberikan penjelasan di atas perbuatannya. “Mengapa engkau telah membunuh wanita ini?” tanya khalifah.
“Saya bukan pembunuhnya. Bagaimana pula dengan keadaan tuan yang diamanahkan sebagai pemimpin untuk melindungi kami, tetapi tuan berusaha untuk meruntuhkan amalan yang telah kami lakukan selama 40 tahun,” jawab Imam Junaid.
Syech Junaid dengan Muridnya
Junaid Al-Baghdadi, seorang tokoh sufi, mempunyai anak didik yang amat ia senangi. Santri-santri Junaid yang lain menjadi iri hati. Mereka tak dapat mengerti mengapa Syeikh memberi perhatian khusus kepada anak itu.
Suatu saat, Junaid menyuruh semua santrinya untuk membeli ayam di pasar untuk kemudian menyembelihnya. Namun Junaid memberi syarat bahwa mereka harus menyembelih ayam itu di tempat di mana tak ada yang dapat melihat mereka. Sebelum matahari terbenam, mereka harus dapat menyelesaikan tugas itu.
Satu demi satu santri kembali ke hadapan Junaid, semua membawa ayam yang telah tersembelih. Akhirnya ketika matahari tenggelam, murid muda itu baru datang, dengan ayam yang masih hidup. Santri-santri yang lain menertawakannya dan mengatakan bahwa santri itu tak boleh melaksanakan perintah Syeikh yang begitu mudah.
Junaid lalu meminta setiap santri untuk menceritakan bagaimana mereka melaksanakan tugasnya. Santri pertama berkata bahwa ia telah pergi membeli ayam, membawanya ke rumah, lalu mengunci pintu, menutup semua jendela, dan membunuh ayam itu. Santri kedua bercerita bahwa ia membawa pulang seekor ayam, mengunci rumah, menutup jendela, membawa ayam itu ke kamar mandi yang gelap, dan menyembelihnya di sana. Santri ketiga berkata bahwa ia pun membawa ayam itu ke kamar gelap tapi ia juga menutup matanya sendiri. Dengan itu, ia fikir, tak ada yang dapat melihat penyembelihan ayam itu. Santri yang lain pergi ke hutan yang lebat dan terpencil, lalu memotong ayamnya. Santri yang lain lagi mencari gua yang amat gelap dan membunuh ayam di sana.
Tibalah giliran santri muda yang tak berhasil memotong ayam. Ia menundukkan kepalanya, malu karena tak dapat menjalankan perintah guru, “Aku membawa ayam ke rumahku. Tapi di rumahku tak ada tempat di mana Dia (Allah) tak melihatku. Aku pergi ke hutan lebat, tapi Dia (Allah) masih bersamaku. Bahkan di tengah gua yang teramat gelap, Dia (Allah) masih menemaniku. Aku tak boleh pergi ke tempat di mana tak ada yang melihatku, aku merasa dimanapun dan kapanpun aku berada disitu selalu ada Dia (Allah). Demikian jawaban dari santri muda tersebut.
Abu Bakr ibnu Dulaf ibnu Jahdar (‘asy-Syibli’), dan Abul Qasim al-Junaid, si ‘Merak Kaum Terpelajar’, adalah dua guru Sufi awal. Mereka berdua hidup dan mengajar lebih dari seribu tahun yang lalu. Kisah tentang masa belajar asy-Syibli di bawah al-Junaid, diberikan di sini, diambil dari The Revelation of the Veiled, salah satu dari buku-buku penting dalam bidangnya. al-Junaid sendiri memperoleh spiritualitasnya melalui pengaruh Ibrahim ibnu Adham (‘Ibnu Adhem’ dalam puisi Leigh Hunt), ia sebagaimana Budha, adalah seorang pangeran yang turun tahta mengikuti tarekat (Jalan), dan meninggal pada abad kedelapan.
Asy-Syibli, anggota istana yang angkuh, pergi ke al-Junaid, mencari pengetahuan sejati. Katanya, “Aku dengar bahwa engkau mempunyai karunia pengetahuan. Berikan, atau juallah padaku.”
Al-Junaid berkata, “Aku tidak dapat menjualnya padamu, karena engkau tidak mempunyai harganya. Aku tidak memberikan padamu, karena yang akan kau miliki terlalu murah. Engkau harus membenamkan diri ke dalam air, seperti aku, supaya memperoleh mutiara.”
“Apa yang harus kulakukan?” tanya asy-Syibli.
“Pergilah dan jadilah penjual belerang.”
Setahun berlalu, al-Junaid berkata padanya, “Engkau maju sebagai pedagang. Sekarang menjadi darwis, jangan jadi apa pun selain mengemis.”
Asy-Syibli menghabiskan satu tahun mengemis di jalanan Baghdad, tanpa keberhasilan. Ia kembali ke al-Junaid, dan sang Guru berkata kepadanya:
“Bagi ummat manusia, kau sekarang ini bukan apa-apa. Biarkan mereka bukan apa-apa bagimu. Dulu engkau adalah gubernur. Kembalilah sekarang ke propinsi itu dan cari setiap orang yang dulu kau tindas. Mintalah maaf pada mereka.” Ia pergi, menemukan mereka semua kecuali seorang, dan mendapatkan pengampunan mereka.
Sekembalinya asy-Syibli, al-Junaid berkata bahwa ia masih merasa dirinya penting. Ia menjalani tahun berikutnya dengan mengemis. Uang yang diperoleh, setiap senja dibawa ke Guru, dan diberikan kepada orang miskin. Asy-Syibli sendiri tidak mendapat makanan sampai pagi berikutnya.
Ia diterima sebagai murid. Setahun sudah berlalu, menjalani sebagai pelayan bagi murid lain, ia merasa menjadi orang paling rendah dari seluruh makhluk.
Ia menggunakan ilustrasi perbedaan antara kaum Sufi dan orang yang tidak dapat diperbaiki lagi, dengan mengatakan hal-hal yang tidak dapat dipahami masyarakat luas.
Suatu hari, karena bicaranya tidak jelas, ia telah diolok-olok sebagai orang gila di masyarakat, oleh para pengumpat. Dia berkata:
Bagi pikiranmu, aku gila.
Bagi pikiranku, engkau semua bijak.
Maka aku berdoa untuk meningkatkan kegilaanku
Dan meningkatkan kebijakanmu
‘Kegilaanku’ dari kekuatan Cinta;
Kebijakanmu dari kekuatan ketidaksadaran
Tasawuf Syech Junaid al-Baghdadi
Al-Junaid barkata, "Tasawuf adalah bersama dengan Tuhan tanpa pertalian dengan apapun." Melalui definisi ini, sebenarnya Al-Junaid ingin menyatakan bahwa sufisme merupakan cara atau sarana menuju Tuhan dan bersatu dengan kehendak-Nya. Sedangkan pengertian yang demikian ini, dihasilkan dari kesadaran akan adanya suatu jurang yang sangat lebar memisahkan manusia dari Tuhan. Sehingga sufisme, dimaksudkannya untuk menjembatani jurang tersebut.
Dengan perantaraan sufisme, manusia dapat mendekati-Nya, bahkan dapat bersatu di dalam-Nya. Agar dapat mencapai persatuan tersebut, manusia harus mampu memisahkan ruhnya dari semua sifat kemakhlukan yang melekat pada dirinya. Jika hal ini dapat dilaksanakan, niscaya tujuan untuk mendekati Tuhan dan bersatu di dalam-Nya akan tercapai.
Namun demikian, Al-Junaid juga menyatakan bahwa, "Sufisme adalah suatu keadaan yang di dalamnya terdapat kehidupan manusia." Dan ketika ditanya apakah sifat itu sifat manusia atau sifat Tuhan? Al-Junaid menjawab, "Esensinya memang merupakan sifat Tuhan, namun gambaran lahiriahnya adalah sifat manusia." Melalui definisi ini, Al-Junaid ingin menggambarkan bahwa sesungguhnya dalam diri manusia telah dihiasi dengan sifat Tuhan, sehingga kondisi tertinggi dari pengalaman sufistik yang dicapai seorang sufi berupa persatuannya dengan Tuhan, juga dapat dilukiskan. Pada tingkat ini, seorang sufi akan kehilangan kesadarannya, tidak lagi merasa memiliki hubungan dengan lingkungannya. Bahkan semua yang ada di sekitarnya tidak lagi menjadi obyek pemikirannya, lantaran seluruh perhatiannya hanya tertuju kepada Tuhan. Sementara dengan hilangnya semua perhatian dan kesadarannya itu, maka dia otomatis sedang berada di tangan Tuhan.
Lebih jauh Al-Junaid menegaskan, bagaimanapun tingginya tingkatan yang telah dicapai, seorang sufi harus tetap meyakini Keesaan Tuhan dan menjalankan perintah-Nya serta menjauhi larangan-Nya sesuai dengan Al-Qur'an dan Sunnah Rasul.
Dalam ajaran Sufi, delapan sifat harus dilatih. Kaum Sufi memiliki:
1. Kemurahan hati seperti Ibrahim a.s.;
2. Penerimaan yang tak bersisa sedikit pun dari Ismail a.s.;
3. Kesabaran, sebagaimana dimiliki Ya’kub a.s.;
4. Kemampuan berkomunikasi dengan simbolisme, seperti halnya Zakaria a.s.;
5. Pemisahan dari para pendukungnya sendiri, sebagaimana halnya Yahya a.s.;
6. Jubah wool seperti mantel gembala Musa a.s.;
7. Pengembaraan, seperti perjalanan Isa a.s.;
8. Kerendah-hatian, seperti jiwa dari kerendahan hati Muhammad saw.
1. Ajaran Zuhud
Zuhud merupakan dasar dari segala ajaran yang terkandung dalam ajaran sufisme yang diyakini oleh para sufi. Yang merupakan langkah awal dari mereka yang menekuni tasawuf dalam usahanya untuk berada sedekat mungkin dengan Tuhan. Sehingga siapa saja yang tidak berhasil melalui tahap ini, maka niscaya tidak akan pernah berhasil mencapai hal dan maqam sesudahnya.
Menurut Al-Junaid, "Zuhud adalah kosongnya tangan dari kepemilikan dan hati dari hal yang mengikutinya (ketamakan)." Dengan kata lain, zuhud bagi Al-Junaid lebih merupakan sikap seorang sufi yang tidak begitu terikat dengan duniawi. Namun bukan berarti zuhud itu menjauhi dunia. Bahkan lebih jauh, pengertian zuhud ini melahirkan sikap kedermawanan dan suka bersedekah pada orang yang membutuhkan.
Al-Junaid juga bertutur, "Seorang sufi tidak seharusnya berdiam diri di masjid dan berdzikir saja tanpa bekerja untuk nafkahnya. Sehingga untuk menunjang kehidupannya, orang tersebut menggantungkan dirinya hanya pada pemberian orang lain." Bagi Al-Junaid, sifat dan sikap seperti itu sengatlah tercela, lantaran sekalipun sufi, orang tersebut harus tetap bekerja keras untuk menopang kehidupannya sehari-hari. Jika sudah mendapat nafkah diharapkan mau menggunakannya di jalan Allah, yaitu dengan mendermakan sebagian hartanya kepada siapa saja yang membutuhkan.
2. Ajaran Tawakal
Menurut Al-Junaid, "Hakikat tawakal adalah menjadi milik Tuhan seperti sebelum terjadi." Pengertian ini berarti bahwa seorang yang bertawakal menjadi seperti ketika belum diciptakan, yaitu sebagai milik Tuhan. Dan lantaran dia kepunyaan-Nya, maka apapun yang akan diperbuat Tuhan terhadapnya, dia akan menerimanya. Junaid juga bertutur, "Bahwasannya kamu harus puas dengan Tuhan daam segala keadaan, dan kamu tidak mengharapkan sesuatu yang lain kecuali Tuhan."
3. Ajaran Mahabbah
Junaid bertutur tentang mahabbah, "Mahabbah adalah masuknya sifat-sifat yang Dicintai ke dalam diri yang mencintai, sebagai ganti dari sifat-sifat yang mencintai." Maksudnya adalah jika seorang sufi telah benar-benar jatuh cinta kepada Tuhan, maka perhatiannya hanya akan tertuju pada-Nya. Tiada lagi perasaan yang tertuju kepada hal-hal lain yang masih tertinggal pada dirinya. Pada saat yang sama, dia akan menjadikan tempat di segala sudut dalam hatinya, hanya untuk Tuhan.
Namun demikian, semua ini hanya akan terjadi apabila diawali dengan menghilangkan sifat-sifat yang ada pada dirinya sebagai makhluk, dengan meyakini esensi Tuhan yang kekal. Lantaran ketika sifat-sifat kemanusiaannya hilang, pada saat itulah dia akan terhiasi oleh sifat-sifat Tuhan yang dicintai-Nya. Jika sufi tersebut masih merasakan sifat-sifat kemakhlukan pada dirinya, niscaya dia tidak akan dapat menghayati keindahan Tuhan yang dicintainya. Tetapi jika dia tahu bahwa keindahan Tuhan hanya dapat dicapai dengan usaha yang tekun dan pertolongan-Nya, maka ia pasti akan berusaha untuk meraihnya, sekalipun untuk itu, dia harus menghilangkan sifat-sifat dirinya. Sehingga dengan demikian, mahabbah yang sejati pada Tuhan akan terwujud.
4. Ajaran Mushahadah
Mushahadah berarti menyaksikan atau lebih jelasnya, "Melihat Tuhan dengan mata hati, tanpa keraguan sedikitpun, bagaikan melihat-Nya dengan mata kepala." Hal ini berarti bahwa dalam ajaran sufisme, seorang sufi dalam keadaan tertentu akan dapat melihat Tuhan dengan mata hatinya. Sehingga boleh jadi, hanya bagi mereka, Tuhan itu dapat dilihat. Menurut Al-Junaid, Tuhan hanya dapat dilihat melalui mata hati, bukan dengan mata kepala. Sehingga seandainya Tuhan dapat dilihat dengan mata kepala di akhirat nanti, maka Al-Junaid pun tidak ingin melakukannya.
Al-Junaid bertutur, "Apabila Tuhan berkata kepadaku: Lihatlah Aku, aku akan menjawab: Aku tidak dapat melihat Engkau ya Allah. Lantaran dalam cinta, mata adalah sesuatu yang lain selain Tuhan dan makhluk. Kecemburuan pada yang lain akan menjagaku dari melihat-Nya. Selain itu, ketika di dunia aku telah biasa melihat-Nya tanpa perantaraan mata kepala, maka bagaimana aku harus menggunakan perantaraan seperti itu di akhirat nanti."
5. Ajaran Mithaq
Menurut Al-Junaid, yang dimaksud dengan mithaq adalah perjanjian yang terjadi antara Tuhan dengan ruh, sebelum dia masuk ke dalam tubuh manusia. Dimana akad ini terjadi ketika ruh tersebut diciptakan-Nya pada masa azali.
6. Ajaran Tentang Fana dan Baqa
Junayd kontribusi terhadap tasawuf banyak. Nya ide dasar berurusan dengan kemajuan yang menyebabkan orang untuk "memusnahkan" diri (fana) sehingga berada dalam serikat lebih dekat dengan Ilahi. Orang perlu "melepaskan keinginan alam, untuk menghapus atribut manusia, untuk membuang motif egois, untuk menumbuhkan kualitas spiritual, untuk mengabdikan diri kepada pengetahuan yang benar, untuk melakukan apa yang terbaik dalam konteks keabadian, keinginan baik untuk seluruh masyarakat, harus benar-benar beriman kepada Allah, dan mengikuti Nabi dalam hal syariat ". Ini dimulai dengan praktek penolakan (zuhd) dan berlanjut dengan penarikan dari masyarakat, konsentrasi intensif pada pengabdian (Ibadat) & mengingati (zikir) Allah, ketulusan (Ikhlas), dan kontemplasi (muraqaba) masing-masing; kontemplasi menghasilkan fana. Jenis "perjuangan semantik" recreates pengalaman persidangan (bala) yang penting dalam tulisan-tulisan Junayd. Hal ini memungkinkan orang untuk masuk ke dalam keadaan fana. Junayd membagi atas keadaan fana menjadi tiga bagian: "1) yang meninggal dari atribut seseorang melalui upaya terus-menerus menentang ego-diri sendiri (nafs); 2) berlalu dari perasaan seseorang tentang prestasi, yaitu berlalu dari "kita berbagi salah satu padang pasir manis dan kenikmatan ketaatan '; dan 3) lewat jauh dari visi tentang realitas" dari ekstasi Anda sebagai tanda nyata mengalahkan Anda' ". Semua tahapan ini membantu seseorang untuk mencapai fana. Sekali yang telah dicapai, seseorang di negara bagian yang tersisa, atau baqa. Ini adalah melalui tahap baqa yang satu dapat menemukan Tuhan - atau lebih tepatnya, memiliki Allah menemukan dirinya. Menjangkau baqa bukanlah hal yang mudah dilakukan meskipun; mendapatkan melalui tiga tahap membutuhkan disiplin yang ketat dan kesabaran. Bahkan ada perdebatan antara ulama, apakah atau tidak tahap ketiga bahkan dimungkinkan untuk dicapai. Junayd membantu mendirikan "sadar" sekolah pemikiran sufi, yang berarti bahwa dia sangat logis dan ilmiah tentang definisi tentang berbagai kebajikan, Tauhid, dll Sober tasawuf dicirikan oleh orang-orang yang "Pengalaman [fana dan] tidak hidup dalam keadaan penyerapan tanpa pamrih pada Tuhan tetapi menemukan diri mereka kembali ke indera mereka oleh Allah. kembali tersebut dari pengalaman demikian dilarutkan mementingkan diri sebagai diri baru, "seperti orang mabuk serius sampai. Sebagai contoh, Junayd dikutip mengatakan, "Air mengambil warna dari cawan itu." Meskipun ini mungkin tampak agak membingungkan pada awalnya, 'Abd al-Hakeem Carney menjelaskan lebih baik: "Ketika air dipahami di sini untuk lihat Terang pengungkapan Ilahi diri, kita dituntun menuju konsep penting dari 'kapasitas,' dimana penampakan Ilahi diterima oleh hati setiap orang menurut orang itu tertentu menerima kapasitas dan akan 'berwarna' oleh alam seseorang ". Seperti yang dapat dilihat, seperti ungkapan yang sederhana memiliki arti yang mendalam seperti; ia membawa pembaca kembali ke pemahaman yang lebih dalam Tuhan melalui metafora yang lebih bijaksana.
Fana dan baqa ini merupakan sesuatu yang kembar dan datang bersamaan, sehingga jika seseorang mengalami fana (kesadaran diri hilang dan lenyap), maka bersamaan dengan itu muncul baqa (munculnya kesadaran akan kehadirannya di sisi Tuhan). Diri pribadi dengan segala sifatnya yang menyukai kesenangan dan keinginan duniawi, merupakan tabir penghalang bagi seorang sufi untuk mencapai persatuan dengan Tuhan. Sehingga semua penghambat tersebut, harus terlebih dahulu dihapuskan agar dapat mencapai puncak tertinggi dari sufisme. Atau dengan kata lain, untuk mencapai persatuan dalam Tuhan, maka semua sifat kemakhlukan yang ada pada diri manusia dan semua perasaan terhadap selain Tuhan, harus dihilangkan terlebih dahulu. Sehingga ketika hati benar-benar telah bersih dan siap ditempati Tuhan, maka inilah yang dimaksud dengan fana, yakni hilangnya kesadaran atas diri pribadi.
7. Ajaran Tauhid
Menurut Al-Junaid, tauhid adalah, "Pengesaan yang qidam (kekal) dari yang hadath (baru atau diciptakan)." Dengan pengertian ini, Al-Junaid ingin menegaskan bahwa tauhid merupakan pengesaan Tuhan yang kekal (qidam) dari makhluk ciptaan-Nya yang baru (hadith). Pengesaan ini berarti pemisahan Tuhan dari segala makhluk-Nya, termasuk di dalamnya pemisahan dari manusia.
8. Ajaran Makrifat
Menurut Al-Junaid, marifat adalah kesadaran akan adanya ketidaktahuan (kebodohan) ketika pengetahuan tentang Tuhan datang. Melalui definisi ini, dia ingin menyatakan bahwa pada hakikatnya manusia itu berada pada ketidaktahuan tentang hakikat Tuhan. Dimana keadaan yang demikian ini, baru disadarinya ketika datang makrifat kepadanya. Pada saat itu, dia akan mendapatkan pengetahuan tentang hal-hal yang berkenaan dengan Tuhan yang sebelumnya tidak pernah diketahuinya.
Makrifat atau pengetahuan tentang Tuhan, akan dapat dicapai oleh seorang sufi, dalam keadaan fana tertinggi. Dimana pada saat itu, segala sifat kemanusiaan yang ada dalam dirinya hilang seketika. Semua keinginannya pada benda-benda duniawi terhapus. Kesadaran akan dirinya lenyap, digantikan oleh kesadaran akan kedekatannya pada Tuhan. Sedangkan yang masih tinggal pada dirinya hanyalah perasaan akan bersatunya ruh dirinya dalam Tuhan. Dan pada titik itulah sesungguhnya makrifat ini muncul menguasai dirinya. Di mana Tuhan dengan segala rahmat-Nya telah berkenan menganugerahkan makrifat itu kepadanya.
Makrifat menurut Al-Junaid merupakan milik Tuhan, yang hanya didapatkan melalui Dia dan akan ada bersama dengan-Nya sendiri.
9. Sahw (Kembali Pada Kesadaran)
Dalam sufisme, istilah sahw adalah kembalinya seorang arif (sufi) pada kesadarannya, setelah sebelumnya mengalami ghaybah (fana) dan kehilangan kesadarannya. Al-Junaid menjelaskan masalah sahw ini sebagai berikut, "Tuhan mengembalikan sufi kepada keadaannya semula, adalah agar dia dapat menjelaskan bukti-bukti dari rahmat Tuhan kepadanya. Sehingga cahaya anugerah-Nya akan tampak gemerlap melalui pengembalian pada sifat-sifatnya sebagai manusia. Dengan demikian hal ini menjadikan masyarakat menghargai dan tertarik kepadanya."
Sahw ini merupakan tahap terakhir setelah seorang sufi mengalami fana dan baqa. Pada kondisi inilah ujian sebenarnya bahwa seorang sufi harus mampu kembali kepada kesadarannya dengan hati yang telah disucikan oleh Allah. Para sufi ini harus mampu menyucikan hatinya secara terus-menerus dalam kesadaran manusia sehingga dia benar-benar menjadi yang mencintai dan dicintai Allah
Ada beberapa masalah lain ketika menghadapi teks Junayd's. Junayd percaya bahwa Sufisme adalah jalan bagi elit untuk mencapai Allah, bukan orang biasa. "Tasawwuf," katanya, "adalah untuk membersihkan jantung dari setiap ingin mengikuti jalan orang-orang umum" . Hal ini lebih lanjut menguraikan tentang mengapa menulis begitu fasih Junayd. Juga, menurut Menjual, "... Junayd tampaknya mengandaikan bahwa pendengar-nya atau pembaca telah memiliki pengalaman tentang apa yang dia berbicara - atau, bahkan lebih radikal, bahwa pendengar atau pembaca dapat masukkan bahwa pengalaman, atau penciptaan kembali itu - pada saat pertemuan dengan kata-kata Junayd " . Pernyataan ini membuatnya tampak seperti Junayd sedang menulis untuk sebuah sekte tertentu dari elit bahwa ia telah dijelaskan sebelumnya. Elit bahwa ia merujuk kepada adalah memilih, atau "kelompok erat-merajut dari 'saudara' yang menunjuk Junayd oleh ungkapan-ungkapan seperti 'pilihan beriman' atau 'yang murni." Mereka memainkan peran penting dalam komunitas beriman ... " . Seperti disebutkan, Junayd selalu sulit untuk dibaca bagi para sarjana karena sebagian besar tulisan-tulisannya telah hilang ke waktu. Junayd terus-menerus menggunakan kata-kata yang tepat & bahasa yang spesifik untuk mencoba menggambarkan Allah, kerinduan bagi-Nya, dan kondisi manusia. bahasa berbunga-Nya segera mati kebanyakan orang, tetapi Junayd punya alasan untuk menulis begitu misterius. Menurut Ensiklopedi Islam, Junayd menemukan bahwa sebuah surat yang ditulis oleh orang asing dibuka sebelum itu sampai ke tujuannya: "tak diragukan lagi oleh beberapa orang fanatik berkeinginan untuk menemukan penyebab impugning ortodoksi Nya, dan bahaya ini selalu hadir harus sebagian disebabkan yang disengaja preciosity yang menandai semua tulisan-tulisan mistik dari itu periode Junayd " . Konstan ini khawatir tentang orang lain mendapatkan suatu pegangan dari ide-idenya menyebabkan Junayd menjadi sangat protektif terhadap tulisan-tulisannya.
Meninggal Dunia
Akhirnya kekasih Allah itu telah menyahut panggilan Ilahi pada 297 Hijrah. Imam Junaid telah wafat di sisi Abu Bakar As-Syibli, seorang daripada muridnya.
Ketika sahabat-sahabatnya hendak mengajar kalimat tauhid, tiba-tiba Imam Junaid membuka matanya dan berkata, "Demi Allah, aku tidak pernah melupakan kalimat itu sejak lidahku pandai berkata-kata."
Syaikh al-Sayyid Ahmad al-Badawi
Syaikh al-Sayyid Ahmad al-Badawi (Radi Allah Anhu) adalah seorang suci Muslim dan juga pendiri dari tatanan Badawiyyah sufi. Ia dilahirkan di Fez, Maroko pada 596 H dan meninggal di Tanta, Mesir pada 675 H. Dia terkenal karena perilaku asketis, dan juga dikenal banyak melakukan mukjizat. Banyak cerita palsu sayangnya juga telah dikaitkan dengannya, termasuk oleh mereka yang mengaku guru sufi.
Menurut penulis Muslim terkenal al-Sayyid Muhammad al-Murtadā Zabīdī (w. 1205 H.), penuh silsilah al-Sayyid Ahmad al-Badawi adalah Ahmad bin 'Ali bin Ibrahim bin Muhammad bin Abi Bakar bin Ismail bin' Umar bin 'Ali bin Usman bin Al-Husain bin Musa bin Muhammad bin Al-Ashhab Yahya bin' Isa bin 'Ali bin Hasan bin Ja'far bin Muhammad bin' ibn Ali al-Hadi bin Muhammad al-Jawad 'Ali ar-Ridha bin Musa al-Kazim bin Ja'far ash-Shadiq bin Muhammad bin Ali al-Baqir bin [Zain al-'Ābidīn] 'Fatimah bin al-Husain, putri Nabi Muhammad (sal-Lal-laho-Taala-alahi- wasalam), semoga Allah berkat dan damai mandi atasnya dan anggota keluarganya.
Kota Fas rupanya beruntung sekali karena pernah melahirkan sang manusia langit yang namanya semerbak di dunia sufi pada tahun 596 H. Sang sufi yang mempunyai nama lengkap Ahmad bin Ali Ibrahim bin Muhammad bin Abi Bakr al-Badawi ini ternyata termasuk zurriyyah baginda Nabi, karena nasabnya sampai pada Ali Zainal Abidin bin Husain bin Ali bin Abi Talib, suami sayyidah Fatimah binti sayyidina Nabi Muhammad SAW.
Keluarga Badawi sendiri bukan penduduk asli Fas (sekarang termasuk kota di Maroko). Mereka berasal dari Bani Bara, suatu kabilah Arab di Syam sampai akhirnya tinggal di Negara Arab paling barat ini. Di sinilah Badawi kecil menghafal al-Qur'an mengkaji ilmu-ilmu agama khususnya fikih madzhab syafi'i. Pada tahun 609 H ayahnya membawanya pergi ke tanah Haram bersama saudara-saudaranya untuk melaksanakan ibadah haji. Mereka tinggal di Makkah selama beberapa tahun sampai ajal menjemput sang ayah pada tahun 627 H dan dimakamkan di Ma'la.
Hidup-Nya:
Al-Sayyid Ahmad al-Badawi (Radi Allah Anhu) adalah bungsu dari tujuh anak-anak al-Sayyid 'Ali (Radi Allah Anhu). Muhammad, Fāţimah, Zainab, Ruqayyah, and Fiddah. saudara-Nya adalah Al-Hasan (yang tertua, lahir tahun 583 H), Bahkan dari usia muda, al-Sayyid Ahmad (Radi Allah Anhu) telah dikenal sebagai al-Badawi (Badui) karena ia suka menutup mukanya, meniru perilaku penghuni gurun.
Dan sementara ia masih tinggal di Fez, al-Sayyid Ahmad al-Badawi (Radi Allah Anhu) dibawa oleh saudaranya al-Sayyid al-Hasan untuk memenuhi syekh sufi dengan nama 'bin Abdul al-Jalil' Abd al -Rahman al-Naisabūrī, yang mengakui bakat spiritual anak muda dan memberinya inisiasi ke jalan sufi.
Jadi, dia membawa keluarganya, termasuk tujuh tahun tua al-Sayyid Ahmad al-Badawi, untuk pindah ke Mekah al-Mukarramah.. Perjalanan membutuhkan waktu sekitar empat tahun. Mereka berhenti di beberapa tempat termasuk Kairo, yang pada waktu itu di bawah kekuasaan al-Sultan al-'Adil Ayyūbī Sayfuddīn al-.
Ketika mereka akhirnya mencapai Makkah al-Mukarramah, mereka disambut hangat oleh para pemimpin shurafā '(keturunan Nabi Muhammad, semoga Allah pancuran berkat dan damai atas dia dan anggota keluarganya).
Dia juga menghadiri pelajaran pada al-Hadits dan al-Fiqih berdasarkan mazhab (aliran pemikiran di jurispudence Islam) dari al-Imam al-Syafi'i (Radi Allah Anhu).
. Setelah diperkenalkan ke dunia tasawuf, al-Sayyid Ahmad al-Badawi (Radi Allah Anhu) akan menghabiskan banyak waktu di pengasingan rohani. Salah satu tempat favoritnya adalah di Jabal Abi Qubais, yang terletak di dekat Masjid Al-Haram.
dalam visi, al-Sayyid Ahmad al-Badawi (Radi Allah Anhu) secara rohani dikunjungi oleh Abd al-Syaikh 'al-Qadir al-Jilani (Radi Allah Anhu) (wafat 561 H.) dan al-Syaikh Ahmad al-Rifā'ī (Radi Allah Anhu) (wafat 578 H.) yang mengundangnya untuk mengunjungi makam mereka.
Keesokan harinya, al-Sayyid Ahmad al-Badawi (Radi Allah Anhu) meninggalkan Mekah Al-Mukarramah dan berangkat untuk mengunjungi makam yang benar di Irak, ditemani oleh kakaknya al-Sayyid al-Hasan (Radi Allah Anhu ).
Sebelum mereka mencapai Ummu 'Abīdah, tempat peristirahatan al-Syaikh Ahmad al-Rifā'ī (Radi Allah Anhu), al-Sayyid al-Hasan memutuskan untuk kembali ke Mekah al-Mukarramah untuk ia merindukan keluarganya. Al-Sayyid Ahmad al-Badawi (Radi Allah Anhu) melanjutkan perjalanan sendirian dan bertemu dengan banyak petualangan termasuk mengalahkan enchantress disebut Fatimah dekat Ummu 'Abīdah.
Dalam salah satu anekdot yang paling kutip, hal tersebut terkait bahwa sementara al-Syaikh Ahmad al-Badawi (Radi Allah Anhu) berada di Irak, ia ditawari oleh Abd al-Syaikh 'al-Qadir al-Jilani (Radi Allah Anhu) dan al-Syaikh Ahmad al-Rifā'ī (Radi Allah Anhu) [dalam bentuk spiritual mereka] kunci kerajaan-kerajaan spiritual Irak, Yaman, India, Ikonium, dan semua negeri-negeri Muslim di Timur dan Barat, untuk tombol berada di tangan mereka.
Menurut salah satu versi cerita, al-Sayyid Ahmad al-Badawi berkata bahwa dia hanya akan mengambil kunci dari tangan Nabi Muhammad sendiri, semoga Allah pancuran berkat dan damai atas dia dan anggota keluarganya.]
Setelah mengunjungi makam yang saleh di Irak, termasuk leluhur Al-Imam nya Musa al-Kazim (Radi Allah Anhu), dan receving lebih lanjut iluminasi spiritual setelah menghabiskan beberapa waktu di meditasi sana, al-Sayyid Ahmad al-Badawi ( Radi Allah Anhu) menuju rumah.
Kembali di Makkah al-Mukarramah, al-Sayyid Ahmad al-Badawi (Radi Allah Anhu) melaporkan kepada saudaranya al-Sayyid al-Hasan (Radi Allah Anhu) pada penawaran dari kunci ke kerajaan rohani oleh dua kutub spiritual al -Syaikh 'Abd al-Qadir al-Jilani (Radi Allah Anhu) dan al-Syaikh Ahmad al-Rifā'ī (Radi Allah Anhu).
" Al-Sayyid al-Hasan (Radi Allah Anhu) kepada adiknya, "Sesungguhnya, mengundang orang ke jalan Allah adalah kunci untuk kebaikan. Apa al-Syaikh 'Abd al-Qadir al-Jilani (Radi Allah Anhu) dan al-Syaikh Ahmad al-Rifā'ī (Radi Allah Anhu) yang ingin adalah bahwa Anda mengikuti jalan mereka dalam mengundang orang kepada Allah Dan jalan mereka adalah tidak lain daripada mengikuti Quran dan Sunnah.. Ini adalah jalan yang benar (ţarīqah) dalam Islam. "
Sayyid Ahmad al-Badawi (Radi Allah Anhu) sependapat dengan dan menghargai penjelasan yang diberikan oleh kakaknya al-Sayyid al-Hasan (Radi Allah Anhu).
Dia memiliki hati yang berani, dan disebut al-Badawi karena gagap nya. Ketika karunia ilahi datang kepadanya, dia tenggelam dalam penyerapan lengkap kepada Allah, hidupnya sepenuhnya berubah. Ia diasingkan perusahaan orang; diadakan untuk diam, dan berkomunikasi hanya melalui gerakan. (Satu baris ditinggalkan).
Dalam tidurnya ia melihat tiga kali seseorang berkata, "Berdirilah dan pergi ke tempat matahari terbit. Jika Anda mencapai sana, lalu pergi ke tempat matahari terbenam. Kemudian perjalanan ke Tanta, karena pasti ini adalah tempat Anda, hai orang muda! "Ini dalam Syawal, 633 H.
Dia pergi ke Irak di mana dia disambut oleh Syaikh, baik yang hidup dan mati. Dia mengambil pada Kharqa diberkati sufi melalui izin dari Syaikh Bari (Radi Allah Anhu) yang diterima dari Na'im al-Baghdadi (Radi Allah Anhu) yang pada gilirannya menerima dari Syaikh Ahmad al-Rafa'I (Radi Allah Anhu ), semoga Allah senang dengan mereka semua. Setelah mencapai Tanta, al-Sayyid Ahmad al-Badawi (Radi Allah Anhu) tinggal di rumah seorang pedagang dengan nama Rukain (juga dikenal sebagai Ruknuddīn) Shuhaiţ bin.
Al-Sayyid Ahmad al-Badawi (Radi Allah Anhu) diterima dengan sangat baik di Tanta. Banyak orang datang mengunjunginya, karena mereka diuntungkan dari kehadiran dan ajarannya, dan juga dari barākah yang mengalir melalui dia. It " Dilaporkan bahwa al-Sayyid Ahmad al-Badawi (Radi Allah Anhu) pernah berkata, "The spiritual orang miskin (al-fuqarā ') adalah seperti buah zaitun antara mereka adalah orang-orang besar dan di antara mereka adalah orang-orang kecil.. Untuk mereka yang tidak memiliki "minyak", Aku akan menjadi "minyak" Aku akan membantu mereka dalam semua urusan mereka dan saya juga akan membantu mereka mengatasi kesulitan mereka.. Tidak pada upaya sendiri dan kekuatan, tetapi melalui barākah Nabi , semoga Allah pancuran berkat dan damai atas dia dan anggota keluarganya. "
Tarekatnya:
Dia mengambil bay'ah dari Syaikh Ibnu 'Abdullah al-Naysaburi (Radi Allah Anhu), dari yang ada rantai dari tujuh syekh yang menerima bay'a dari al-Imam Dawud al-Ta'iy yang menerimanya dari Habib Allah al-'Ajami yang diterima dari Master Tabi'een, al-Hasan al-Basri, yang menerimanya dari Sayyiduna 'Ali, semoga Allah menerangi wajahnya, yang menerimanya dari al-Mustafa, Rasulullah, mungkin Allah memberkati dia dan memberinya kedamaian.
Negara-nya:
Dia adalah seorang Quthb besar, ia dapat menyebabkan murids untuk tumbuh di ma'rifa dengan hanya melihat mereka. Jika ia memberi salah satu murids nya melihat khusus ia akan menaikkan dia ke Maqam al-Shuhud. Dia digunakan untuk berpuasa terus-menerus selama empat puluh hari, kemudian berbuka nya. Di sebagian besar negara, ia akan menatap ke atas ke langit dengan mata pembakaran batu bara, terus berteriak.
Atribut-nya:
Ia disebut satu dengan dua cadar, karena ia selalu memakai dua jilbab. Dia tinggi dengan kaki tebal, lengan penuh, dan wajah yang besar. complection adalah antara putih dan coklat.
PENDAPAT BELIAU
Sayyid Ahmad al-Badawi (semoga Allah senang dengan dia) berkata:
Para fuqarā seperti zaitun, di antaranya adalah besar dan kecil, dan dia yang tidak minyak; dan aku minyaknya. Artinya, siapa pun yang benar (Sadiq) dalam kemiskinannya, seperti minyak murni, yang hidup menurut Kitab dan Sunnah, maka saya membantu dalam semua hal, menyediakan untuk kebutuhan di dunia ini dan selanjutnya-bukan dengan kekuatan saya dan kekuatan, melainkan dengan barakah Nabi (Allah memberkatinya dan memberinya kedamaian).
O Abd al-'Al, waspadalah terhadap cinta dunia ini, karena merusak perbuatan orang benar seperti cuka merusak madu. Ketahuilah, 'Abd al-'Al, bahwa Allah berfirman: "Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang memiliki taqwa dan orang-orang yang berbuat baik" (16:128).
'Abd al-'Al, prihatin dengan kain, anak yatim yang telanjang, memberi makan lapar, menghormati orang asing dan tamu, maka Anda mungkin akan termasuk orang-orang yang menerima Allah.
'Abd al-'Al, Anda harus melakukan zikir berkelimpahan, dan berhati-hatilah menjadi antara orang-orang yang lalai dari Allah yang Tinggi. Ketahuilah bahwa setiap raka'ah pada malam hari adalah lebih baik dari seribu pada siang hari.
Yang terbaik dari Anda dalam karakter adalah orang yang memiliki keyakinan kepada Allah yang paling Tinggi. Evil karakter korup perbuatan baik seperti merusak madu cuka.
Abd al-'Al, cara kita dibangun di atas Kitab, Sunnah, şidq, kemurnian, kesetiaan, bantalan ketidakadilan terhadap diri sendiri, dan memenuhi janji.
Syaikh Abdul '-'Al berkata: Ketika Syaikh melayani selama empat puluh tahun aku tidak pernah melihatnya terganggu dari menyembah Allah sesaat. Suatu hari aku bertanya kepadanya tentang realitas kemiskinan di jalan hukum agama (al-faqr al-syar'i) dan dia berkata: Menurut 'Ali bin Abi Thalib (ra dengan dia) yang faqīr (dalam Allah) memiliki 12 tanda-tanda berikut: (1) ia adalah arif sebuah 'llah bi (yaitu, setelah pengetahuan langsung dari Allah); (2) dia taat kepada perintah Allah; (3) ia memegang kepada Sunnah Nabi ( Allah memberkati dia dan memberinya kedamaian); (4) dia selalu murni; (5) dalam setiap situasi ia senang dengan Allah; (6) dia yakin apa yang di sisi Allah; (7) dia putus asa dari apa yang di tangan manusia; (8) ia dikenakan [sabar] dengan kesulitan; (9) ia buru-buru untuk memenuhi perintah Allah; (10) ia menunjukkan belas kasih untuk umat manusia; (11) ia rendah hati sebelum orang; (12) ia tahu bahwa setan adalah musuh-Nya sesuai dengan apa yang Allah Tinggi berkata: "Sesungguhnya setan adalah musuh Anda, sehingga membawanya untuk musuh" (35:6).
Kemudian Abd al Syaikh '-'Al bertanya tentang refleksi, tawbah, dzikir, cinta Allah (wajd), sabar, zuhd, Iman, dan syekh dan guru, Ahmad al-Badawi, menjawab sedemikian rupa sehingga padam api dendam, menghibur yang sakit, dan menunjukkan pengetahuan Allah (segala sesuatu). Kata-kata ini, dikenal para bangsawan pengetahuan dan para Sufi, ditemukan berserakan, tapi Sayyid mengungkapkan realitas mereka, membuat mereka dengan kemurnian dan kejelasan. Dia mengatakan hal berikut mengenai istilah teknis tersebut di atas:
Refleksi (tafkīr): Refleksi atas Allah dan makhluk-Nya menciptakan bukan pada hakikat-Nya, karena pasti berpikir tidak dapat meliputi-Nya.
Tawbah adalah penyesalan untuk kesalahan yang dilakukan, meninggalkan ketidaktaatan, meminta ampun kepada Allah dengan lidah, tekad untuk tidak kembali ke ketidakpatuhan, dan kemurnian hati. Ini adalah Taubatan nashuha (tawbah tulus) yang Allah Maha Perkasa perintah kita dalam Buku-Nya: "Hai orang yang beriman, bertobat kepada Allah suatu berbalik tulus" (66:8).
Dzikir: Realitas zikir adalah bahwa dengan hati bukan dengan lidah saja. Dzikir dengan lidah tanpa hati adalah dangkal. Ingat Allah dengan hati yang hadir dan berhati-hati menjadi terganggu (ghaflah) dari Allah, karena sesungguhnya hal itu menyebabkan hati menjadi keras.
Wajd adalah ketika dzikir dari Real, la ilaha illa hu, peningkatan sehingga sebuah lampu dilemparkan ke dalam hati dari kehadiran Allah, sampai kulit gairah, dan ada kerinduan untuk Kekasih, la ilaha illa hu. Para murid untuk wajd menempel dan melekat dirinya sepenuhnya kepada Allah. Ketika meningkat wajd dan dia menjadi bingung cinta penuh gairah sehingga menjadi berlebihan, maka murid mencapai peringkat tinggi elevasi spiritual.
Sabar (sabar): Ini adalah kenikmatan dengan hukm (hukum) Allah dan kepatuhan kepada perintah-Nya. Ini adalah ketika manusia bergembira dalam kemalangan seperti dia bergembira dalam keberuntungan. Allah berfirman: "Dan memberi kabar baik kepada pasien, yang ketika musibah menimpa mereka, mengatakan: sesungguhnya kami adalah Allah dan kepada-Nya kami pasti kembali" (2: 155-156).
Zuhd: Zuhd adalah menentang nafs dengan meninggalkan keinginan duniawi, dan meninggalkan tujuh pintu diizinkan dalam ketakutan bahwa seseorang bisa jatuh ke dalam dilarang.
Iman: Iman adalah hal yang paling mulia; Dia, yang memiliki keyakinan yang paling (Iman) memiliki paling taqwa. Ketika karakter (akhlaq) dari murid yang baik, meningkatkan Iman-nya; yang terbaik dari Anda dalam karakter adalah orang yang memiliki keyakinan yang paling kepada Allah.
Ketika menyampaikan nasihat kepada khalifah-Nya, "kata Abd al-'Al, Syaikh al-Badawi: Jangan bersukacita atas malapetaka dari setiap makhluk Allah atau mengucapkan kata-kata yang fitnah atau mencemarkan. Tidak pernah menyakiti seseorang yang telah merugikan Anda. Tunjukkan perhatian untuk seseorang yang telah bersalah padamu. Berbuat baik kepada siapa pun yang telah melakukan kejahatan dan Anda berikan kepada siapa pun yang telah dipotong dari Anda. Apakah Anda tahu siapa itu faqīr, pasien yang benar. Aku berkata: Tolong, terus memberikan apa yang bermanfaat. Syaikh al-Badawi (Radi Allah Anhu) melanjutan: Dia adalah orang yang ketika ia memberi ia tidak meminta untuk berterima kasih. Dan ketika kerugian orang yang sabar karena kesabaran hukm Allah (yang berkuasa; yaitu, Dia menyebabkan terjadi peristiwa yang melanggar kesabaran faqīr itu), ia bertindak menurut Kitab dan Sunnah.
Kata-kata berikut dikirimkan oleh Sayyid al-Bakri adalah ekspresi tertinggi rahasia (Radi Allah Anhu) alam rohani yang besar Syaikh al-Badawi: Dia yang tidak memiliki pengetahuan ('ilm) tidak akan memiliki nilai (qīmah) di dunia ini atau berikutnya Dia yang tidak memiliki kesabaran (hilm) tidak akan menemukan manfaat dalam pengetahuan. Dia yang tanpa kemurahan hati (Sakha ') tidak akan memiliki sebagian kekayaannya. Dia yang tidak memiliki simpati dan kepedulian (shafaqah) untuk manusia tidak akan menemukan syafaat untuk mengajukan kasus itu (shifā'ah) sebelum Allah. Dia yang tidak memiliki kesabaran (sabar) tidak akan mendapatkan kesuksesan dan kebaikan dalam urusan-Nya. Dia yang tidak memiliki taqwa (godfearingness) tidak memiliki stasiun (manzilah) dengan Allah. Dan orang yang dicabut dari enam kualitas tidak memiliki tempat di Taman (Jinnah).
AHMAD BADAWI MASUK MESIR
Sang sufi yang selalu mengenakan tutup muka ini suatu ketika ber-khalwat selama empat puluh hari tidak makan dan minum. Waktunya dihabiskan untuk meihat langit. Kedua matanya bersinar bagai bara. Sekonyong-konyong ia mendengar suara tanpa rupa. "Berdirilah !" begitu suara itu terus menggema, Carilah tempat terbitnya matahari. Dan ketika kamu sudah menemukannya, carilah tempat terbenamnya matahari. Kemudian...beranjaklah ke Thantha, suatu kota yang ada di propinsi Gharbiyyah, Mesir. Di sanalah tempatmu wahai pemuda".
Suara tanpa rupa itu seakan membimbingnya ke Iraq. Di sana ia bertemu dengan dua orang yang terkenal yaitu Syekh Abdul Kadir al-Jailani dan ar-Rifa'i. "Wahai Ahmad " begitu kedua orang itu berkata kepada Ahmad al-Badawi seperti mengeluarkan titah. " Kunci-kunci rahasia wilayah Iraq, Hindia, Yaman, as-Syarq dan al-Gharb ada di genggaman kita. Pilihlah mana yang kamu suka ". Tanpa disangka-sangka al-Badawi menjawab, "Saya tidak akan mengambil kunci tersebut kecuali dari Dzat Yang Maha Membuka.
Perjalanan selanjutnya adalah Mesir negeri para nabi dan ahli bait. Badawi masuk Mesir pada tahun 34 H. Di sana ia bertemu dengan al-Zahir Bibers dengan tentaranya. Mereka menyanjung dan memuliakan sang wali ini. Namun takdir menyuratkan lain, ia harus melanjutkan perjalanan menuju tempat yang dimaksud oleh bisikan gaib, Thantha, satu kota yang banyak melahirkan tokoh-tokoh dunia. Di sana ia menjumpai para wali, seperti Syaikh Hasan al-Ikhna`I, Syaikh Salim al- Maghribi dan Syaikh Salim al-Badawi. Di sinilah ia menancapkan dakwahnya, menyeru pada agama Allah, takut dan senantiasa berharap hanya kepada-Nya.
Badawi yang alim
Dalam perjalanan hidupnya sebagai anak manusia ia pernah dikenal sebagai orang yang pemarah, karena begitu banyaknya orang yang menyakit. Tapi rupanya keberuntungan dan kebijakan berpihak pada anak cucu Nabi ini. Marah bukanlah suatu penyelesaian terhadap masalah bahkan menimbulkan masalah baru yang bukan hanya membawa madarat pada orang lain, tapi diri sendiri. Diam, menyendiri, merenung, itulah sikap yang dipilih selanjutnya. Dengan diam orang lebih bisa banyak mendengar. Dengan menyendiri orang semakin tahu betapa rendah, hina dan perlunya diri ini akan gapaian tangan-tangan Yang Maha Asih. Dengan merenung orang akan banyak memperoleh nilai-nilai kebenaran. Dan melalui sikap yang mulia ini ia tenggelam dalam zikir dan belaian Allah SWT.
Laksana laut, diam tenang tapi dalam dan penuh bongkahan mutiara, itulah al-badawi. Matbuli dalam hal ini memberi kesaksian, "Rasulullah SAW bersabda kepadaku, " Setelah Muhammad bin Idris as-Syafiiy tidak ada wali di Mesir yang fatwanya lebih berpengaruh daripada Ahmad Badawi, Nafisah, Syarafuddin al-Kurdi kemudian al-Manufi.
Suatu ketika Ibnu Daqiq al-'Id mengutus Abdul Aziz al- Darini untuk menguji Ahmad Badawi dalam berbagai permasalahan. Dengan tenang dia menjawab, "Jawaban pertanyaan-pertanyaan itu terdapat dalam kitab "Syajaratul Ma'arif" karya Syaikh Izzuddin bin Abdus Salam.
KAROMAH AHMAD BADAWI
Kendati karomah bukanlah satu-satunya ukuran tingkat kewalian seseorang, tidak ada salahnya disebutkan beberapa karomah Syaikh Badawi sebagai petunjuk betapa agungnya wali yang satu ini.
Al-kisah ada seorang Syaikh yang hendak bepergian. Sebelum bepergian dia meminta pendapat pada Syaikh al-Badawi yang sudah berbaring tenang di alam barzakh. "Pergilah, dan tawakkallah kepada Allah SWT"tiba-tiba terdengar suara dari dalam makam Syekh Badawi. Syaikh Sya'roni berkomentar, "Saya mendengar perkataan tadi dengan telinga saya sendiri ".
Tersebut Syaikh Badawi suatu hari berkata kepada seorang laki-laki yang memohon petunjuk dalam berdagang. "Simpanlah gandum untuk tahun ini. Karena harga gandum nanti akan melambung tinggi, tapi ingat, kamu harus banyak bersedekah pada fakir miskin". Demikian nasehat Syekh Badawi yang benar-benar dilaksanakan oleh laki-laki itu. Setahun kemudian dengan izin Allah kejadiannya terbukti benar.
Syekh Badawi wafat
Pada tahun 675 H sejarah mencatat kehilangan tokoh besar yang barangkali tidak tergantikan dalam puluhan tahun berikutnya. Syekh Badawi, pecinta ilahi yang belum pernah menikah ini beralih alam menuju tempat yang dekat dan penuh limpahan rahmat-Nya. Setelah dia meninggal, tugas dakwah diganti oleh Syaikh Abdul 'Al sampai dia meninggal pada tahun 773 H.
Beberapa waktu setelah kepergian wali pujaan ini, umat seperti tidak tahan, rindu akan kehadiran, petuah-petuahnya. Maka diadakanlah perayaan hari lahir Syaikh Badawi. Orang-orang datang mengalir bagaikan bah dari berbagai tempat yang jauh. Kerinduan, kecintaan, pengabdian mereka tumpahkan pada hari itu pada sufi agung ini. Hal inilah kiranya yang menyebabkan sebagian ulama dan pejabat waktu itu ada yang berkeinginan untuk meniadakan acara maulid. Tercatat satu tahun berikutnya perayaan maulid syekh Badawi ditiadakan demi menghindari penyalahgunaan dan penyimpangan akidah. Namun itu tidak berlangsung lama, hanya satu tahun. Dan tahun berikutnya perayaan pun digelar kembali sampai sekarang
Ahmad al-Badawi adalah seorang wali yang sangat terkenal di semua kalangan Sufi. Beliau menyatakan Aku tidak membutuhkan seorang pemandu. Pemanduku adalah al-Quran, sebagaimana yang dikatakan orang Wahhabi sekarang, dan cara hidup Rasulullah saw. Beliau mencoba mendekati Tuhannya sebagaimana Rasulullah saw bersabda atas nama Tuhannya, Hambaku tidak berhenti untuk mendekati-Ku melalui ibadah sunnah atau perbuatan baik, sampai Aku mencintainya. Dan bila Aku Mencintainya, pada saat itu Aku akan menjadi telinga yang digunakan untuk mendengar, mata yang dipakainya untuk melihat, tangan untuk merasakan, dan kaki untuk berjalan. Jika dia meminta, Aku akan memberi. Jika dia memohon perlindungan, Aku akan melindunginya. Aku akan menjadi dia, dan dia dapat mengatakan kepada sesuatu, Jadilah! maka jadilah ia. ( Hadist Nabi saw )
(Orang-orang Wahhabi biasanya memotong bagian terakhir dari hadits tersebut, tetapi kita mengucapkannya secara lengkap).
Ahmad al-Badawi berusaha mendekatai Tuhannya sampai mencapai pintu Kehadirat Ilahi, lalu dia berkata, Ya Tuhanku! Bukakanlah pintu ini untukku. Tetapi dia tidak mendapat jawaban. Dia mencobanya berulang-ulang sampai akhirnya dia bertemu secara tidak sengaja dengan seseorang. Saya bilang tidak sengaja tetapi sebetulnya itu sudah direncanakan dengan sangat rapi, karena itu adalah Kehendak Allah untuk mengujinya. Dia bertemu orang itu di jalan, seseorang yang kelihatannya biasa saja. Orang itu lalu memanggilnya, Hei Ahmad! bahkan dia tidak menyebutnya Syaikh Ahmad! sebagai tanda penghormatan. Dia berkata, Wahai Ahmad! Engkau perlu kunci untuk mencapai kehadirat Ilahi? Aku punya kuncinya dan jika Kau mau, datanglah kepadaku dan akan kuberikan kepadamu.
Setiap hari, dari pagi hingga sore, ia menatap matahari, sehingga kornea matanya merah membara. Apa yang dilihatnya bisa terbakar, khawatir terjadinya hal itu, saat berjalan ia lebih sering menatap langit, bagaikan orang yang sombong. Sejak masa kanak kanak, ia suka berkhalwat dan riyadhoh, pernah empat puluh hari lebih perutnya tak terisi makanan dan minuman. Ia lebih memilih diam dan berbicara dengan bahasa isyarat, bila ingin berkomunikasi dengan seseorang. Ia tak sedetikpun lepas dari kalimat toyyibah, berdzikir dan bersholawat. Dalam perjalanan riyadhohnya, ia pernah tinggal di loteng negara Thondata selama 12 tahun, dan selama 8 tahun ia berada diatas atap, riadhoh siang dan malam. Ia hidup pada tahun 596-675 H dan wafat di Mesir, makamnya di kota Tonto, setiap waktu tak pernah sepi dari peziarah.
Pada usia dini ia telah hafal Al-Qur’an, untuk memperdalam ilmu agama ia berguru kepada Syeikh Abdul Qadir al-Jailani dan syeikh Ahmad Rifai. Ia adalah Waliullah Qutbol Gaust, Assayyid, Assyarif Ahmad al Badawi. Suatu hari, ketika sang Murid telah sampai ketingkatannya, Sjech Abdul Qodir Jaelani, menawarkan kepadanya ; ”Manakah yang kau inginkan ya Ahmad Badawi, kunci Masriq atau Magrib, akan kuberikan untukmu”, hal yang sama juga diucapkan oleh gurunya Sayyid Ahmad Rifai, dengan lembut, dan menjaga tatakrama murid kepada gurunya, ia menjawab; ”Aku tak mengambil kunci kecuali dari Al Fattah (Allah )”.
Suatu hari datang kepadanya, seorang janda mohon pertolongan, anak lelakinya ditahan di Perancis, dan sang ibu ingin agar anak itu kembali dalam keadaan selamat. Oleh Sayyidi Ahmad Al Badawi, janda itu disuruhnya untuk pulang, dan berkata sayidi : “Insya Allah anak ibu sudah berada dirumah”. Bergegas sang ibu menuju rumahnya, dan betapa bahagia, bercampur haru, dan penuh keheranan, ia dapati anaknya telah berada di rumah dalam keadaan terbelenggu. Sayyidi al badawi banyak menolong orang yang ditahan secara Dholim oleh penguasa Prancis saat itu, dan semua pulang ke rumahnya dalam keadaan tangannya tetap terbelenggu.
Pernah suatu ketika Syaikh Ibnul labban mengumpat Sayyidi Ahmad Badawi, seketika itu juga hafalan Al-Qur’an dan iman Syaikh Ibnul labban menjadi hilang. Ia bingung dan berusaha dengan beristighosah dan meminta bantuan do’a, orang orang terkemuka di zaman itu (agar ilmu dan imannya kembali lagi), tetapi tidak satupun dari yang dimintainya doa, berani mencampuri urusannya, karena terkait dengan Sayyidi Ahmad Badawi. Padahal diriwayatkan, saat itu Sayyidi Al Badawi telah wafat. Orang terkemuka yang dimintainya doa, hanya berani memberi saran kepada Syaikh Ibnul labban, agar dia menghadap Syeikh Yaqut al-‘Arsyiy, waliullah terkemuka pada saat itu, dan kholifah sayyidi abil hasan Assadzili. Ibnu labban segera menemui Sjech Yaqut dan minta pertolongannya, dalam urusannya dengan sayyidi Ahmad Al badawi. Setelah dimintai pertolongan oleh Syaikh Ibnul labban, Syeikh Yaqut Arsyiy berangkat menuju ke makam Sayyidi al-Badawi dan berkata : “ Wahai guru, hendaklah tuan memberi ma’af kepada orang ini!”. Dari dalam makamnya, terdengar jawaban “Apakah kamu berkehendak untuk mengembalikan tandanya orang miskin itu ? ya…sudah, tapi dengan syarat ia mau bertaubat”. Syeikh Ibbnul Labbanpun akhirnya bertaubat, dan tidak lama kemudian kembalilah ilmu dan imannya seperti sedia kala dan ia juga mengakui kewalian Syeikh Yaqut, karena peristiwa tersebut. Ia kemudian dinikahkan dengan putrinya Syeikh Yaqut. (Di ambil dari kitab al-Jaami’).
Syeikh Muhammad asy-Syanawi menceritakan, bahwa pada waktu itu ada orang yang tidak mau menghadiri dan bahkan mengingkari peringatan maulidnya Syeikh Ahmad Badawi, maka seketika hilanglah iman orang itu dan menjadi merasa tidak senang terhadap agama Islam. Orang itu kemudian berziarah ke makamnya Sayyid Badawi untuk minta tolong dan memohon maaf atas kesalahannya. Kemudian terdengarlah suara sayyidi Badawi dari dalam kubur : “iya, saya ma’afkan, tapi jangan berbuat lagi. Na’am (iya) jawab orang itu, spontan imannya kembali lagi. Beliau lalu meneruskan ucapannya : “Apa sebabnya kamu mengingkari kami semua”. Dijawabnya : “Karena di dalam acara itu banyak orang laki-laki dan perempuan bercampur baur menjadi satu” (tanpa ada garis pembatas). Sayyidi Badawi lalu mengatakan : “Di tempat thowaf sana, dimana banyak orang yang menunaikan ibadah haji disekitar Ka’bah, mereka juga bercampur laki-laki dan perempuan, kenapa tidak ada yang melarang”. Demi mulianya Tuhanku, orang-orang yang ada untuk menghadiri acara maulidku ini tidaklah ada yang menjalankan dosa kecuali pasti mau bertaubat dan akan bagus taubatnya. Hewan-hewan di hutan dan ikan-ikan di laut, semua itu dapat aku pelihara dan kulindungi diantara satu dengan lainnya sehingga menjadi aman dengan idzin Allah. Lalu, apakah kiranya Allah Ta’ala, tidak akan memberi aku kekuatan untuk mampu menjaga dan memelihara keamanannya orang-orang yang menghadiri acara maulidku itu ?”
Suatu ketika Syeikh Ibnu Daqiqil berkumpul dengan Sayyidi Badawi, dan ia bertanya kepada beliau : “Mengapa engkau tidak pernah sholat, yang demikian itu bukanlah perjalanannya para shalihin“. Lalu beliau menjawab : “Diam kamu! Kalau tidak mau diam aku hamburkan daqiqmu (tepung)”. Dan di tendanglah Syeikh Daqiqil oleh beliau hingga berada disuatu pulau yang luas dalam kondisi tidak sadarkan diri. Setelah sadar, iapun termangu karena merasa asing dengan pulau tersebut. Dalam kebingungannya, datanglah seorang lelaki menghampirinya dan memberi nasehat agar jangan mengganggu orang type al-Badawi, dan sekarang kamu berjalanlah menuju qubah yang terlihat itu, nanti jika sudah tiba di sana kau berhentilah di depan pintu hingga menunggu waktu ‘ashar dan ikutlah shalat berjamaah dibelakangnya imam tersebut, sebab nanti Ahmad Badawi akan ikut di dalamnya. Setelah bertemu dia ucapkanlah salam, peganglah lengan bajunya dan mohonlah ampun atas ucapanmu tadi. Ia menuruti kata-kata orang itu yang tidak lain adalah Nabiyullah Khidir a.s. Setelah semua nasehatnya dilaksanakan, betapa terkejutnya ia karena yang menjadi imam sholat waktu itu adalah Sayyidi Badawi. Setelah selesai sholat ia langsung menghampiri dan menciumi tangan dan menarik lengan Sayyidi al-Badawi, sambil berkata seperti yang diamanatkan orang tadi. Dan berkatalah Sayyidi Badawi sambil menendang Syeikh Daqiqil,” Pergilah sana murid-muridmu sudah menantimu dan jangan kau ulangi lagi!. Seketika itu juga ia sudah sampai di rumahnya dan murid-muridnya telah menunggu kedatangan Syeikh Daqiqil. Dijelaskan bahwa yang menjadi makmum sholat berjamaah dengan Sayyidi Badawi pada kejadian itu adalah para wali.
Syekh Imam al Munawi berkata : “Ada seorang Syeikh yang setiap akan bepergian selalu berziarah di makamnya Syeikh Ahmad al Badawi untuk minta ijin, lalu terdengar suara dari dalam kubur dengan jelas :”Ya pergilah dengan tawakkal, Insya Allah niatmu berhasil, kejadian tersebut didengar juga oleh Syeikh abdul wahab Assya’roni, padahal saat itu Syeikh Ahmad al Badawi sudah meninggal 200 tahun silam, jadi para aulia’ itu walaupun sudah meninggal ratusan tahun, namun masih bisa emberi petunjuk.
Berkata Syeikh Muhammad al-Adawi : Setengah dari keindahan keramat beliau ialah, pada saat banyaknya orang yang ingin berusaha membatalkan peringatan maulidnya beliau, dimana orang-orang tersebut menghadap dan meminta kepada Syeikh Imam Yahya al-Munawiy agar beliau mau menyetujuinya. Sebagai orang yang berpengaruh dan berpendirian kuat pada masa itu, Syeikh Yahya tidak menyetujuinya, akhirnya orang-orang tersebut melapor kepada sang raja azh-Zhohir Jaqmaq. Sang rajapun berusaha membujuk agar Syeikh Yahya bersedia memberi fatwa untuk membatalkan maulidnya Sayyidi Badawi. Akan tetapi Syeikh Yahya tetap tidak mau dan hanya bersedia memberikan fatwa melarang keharaman-haraman yang terjadi di acara itu. Maka acara maulid tetap dilaksanakan seperti biasa. Dan Syeikh Yahya bekata kepada sang raja: “Aku tetap tak berani sama sekali berfatwa yang demikian, karena Sayyidi Badawi adalah wali yang agung dan seorang fanatik (malati = bahasa jawanya). Hai raja, tunggu saja, kamu akan tahu akibat bahayanya orang-orang yang berusaha menghilangkan peringatan maulid Sayyidi Badawi. Memang benar, tak lama kemudian mereka yang bertujuan menghilangkan peringatan maulid Sayyidi Badawi tertimpa bencana. Orang-orang tersebut ada yang dicopot jabatannya dan diasingkan oleh rajanya. Ada yang melarikan diri ke Dimyath akan tetapi kemudian ditarik kembali dan diberi pengajaran, dirantai dan dipenjara selama setengah bulan. Bahkan diantara mereka yang mempunyai jabatan tinggi dikerajaan itu lalu banyak yang ditangkap, disidang dengan kelihatan terhina, disiksa dan diborgol besi di depan majlis hakim syara’ lalu dihadapkan raja yang kemudian dibuang di negara Maghrib.
Sayyidi Ahmad Badawi pernah berkata kepada seseorang : “Bahwa pada tahun ini hendaknya kamu menyimpan gandum yang banyak yang tujuanmu nanti akan kau berikan kepada para fakir miskin, sebab nanti akan terjadi musim paceklik pangan. Kemudian orang tadi menjalankan apa yang diperintahkan beliau, dan akhirnya memang terbukti kebenaran ucapan Sayyidi Badawi.
Berkata al-Imam Sya’roni : “Pada tahun 948 H aku ketinggalan tidak dapat menghadiri acara maulidnya Sayyidi Badawi. Lalu ada salah satu aulia’ memberi tahu kepadaku bahwa Sayyidi Badawi pada waktu peringatan itu memperlihatkan diri di makamnya dan bertanya : “Mana Abdul Wahhab Sya’roni, kenapa tidak datang ?” Pada suatu tahun, al-Imam Sya’roni juga pernah berkeinginan tidak akan mendatangi maulid beliau. Lalu aku melihat beliau memegang pelepah kurma hijau sambil mengajak orang-orang dari berbagai negara. Jadi orang-orang yang berada dibelakangnya, dikanan dan kirinya banyak sekali tak terhingga jumlahnya. Terus beliau melewati aku di Mesir, sayyidi Badawi berkata : “Kenapa kamu tidak berangkat ?”. Aku sedang sakit tuan, jawabku. Sakit tidak menghalang-halangi orang cinta. Terus aku diperlihatkan orang banyak dari para aulia’dan para masayikh, baik yang masih hidup maupun yang sudah wafat, dan orang-orang yang lumpuh semua berjalan dengan merangkak dan memakai kain kafannya, mereka mengikuti dibelakang sayyidi Badawi menghadiri maulid beliau. Terus aku juga diperlihatkan jama’ah dan sekelompok tawanan yang masih dalam keadaan terbalut dan terbelenggu juga ikut datang menghadiri maulidnya. Lalu beliau berkata: lihatlah ! itu semua tidak ada yang mau ketinggalan, akhirnya aku berkehendak untuk mau menghadiri, dan aku berkata : Insya Allah aku hadir tuan guru ?. Kalau begitu kamu harus dengan pendamping, jawab sayyidi Badawi. Kemudian beliau memberi aku dua harimau hitam besar dan gajah, yang dijanji tidak akan berpisah denganku sebelum sampai di tempat. Peristiwa ini kemudian aku ceritakan kepada guruku Syeikh Muhammad asy-Syanawi, beliau lalu menjelaskan: memang pada umumnya para aulia’ mengajak orang-orang itu dengan perantaraan, akan tetapi sayyidi Ahmad Badawi langsung dengan sendirinya menyuruh orang-orang mengajak datang. Sungguh banyak keramat beliau, hingga al-Imam Sya’roni mengatakan,”Seandainya keajaiban atau keramat-keramat beliau kalau ditulis di dalam buku tidaklah akan muat karena terlalu banyaknya. Tetapi ada peninggalan Syeikh ahmad Badawi yang sangat utama, yaitu bacaan sholawat badawiyah sughro dan sholawat badawiyah kubro.
Demikianlah sekelumit manakib Sayyidi Ahmad Al Badawi disajikan kehadapan pembaca, untuk dapat diambil hikmahnya
Menurut penulis Muslim terkenal al-Sayyid Muhammad al-Murtadā Zabīdī (w. 1205 H.), penuh silsilah al-Sayyid Ahmad al-Badawi adalah Ahmad bin 'Ali bin Ibrahim bin Muhammad bin Abi Bakar bin Ismail bin' Umar bin 'Ali bin Usman bin Al-Husain bin Musa bin Muhammad bin Al-Ashhab Yahya bin' Isa bin 'Ali bin Hasan bin Ja'far bin Muhammad bin' ibn Ali al-Hadi bin Muhammad al-Jawad 'Ali ar-Ridha bin Musa al-Kazim bin Ja'far ash-Shadiq bin Muhammad bin Ali al-Baqir bin [Zain al-'Ābidīn] 'Fatimah bin al-Husain, putri Nabi Muhammad (sal-Lal-laho-Taala-alahi- wasalam), semoga Allah berkat dan damai mandi atasnya dan anggota keluarganya.
Kota Fas rupanya beruntung sekali karena pernah melahirkan sang manusia langit yang namanya semerbak di dunia sufi pada tahun 596 H. Sang sufi yang mempunyai nama lengkap Ahmad bin Ali Ibrahim bin Muhammad bin Abi Bakr al-Badawi ini ternyata termasuk zurriyyah baginda Nabi, karena nasabnya sampai pada Ali Zainal Abidin bin Husain bin Ali bin Abi Talib, suami sayyidah Fatimah binti sayyidina Nabi Muhammad SAW.
Keluarga Badawi sendiri bukan penduduk asli Fas (sekarang termasuk kota di Maroko). Mereka berasal dari Bani Bara, suatu kabilah Arab di Syam sampai akhirnya tinggal di Negara Arab paling barat ini. Di sinilah Badawi kecil menghafal al-Qur'an mengkaji ilmu-ilmu agama khususnya fikih madzhab syafi'i. Pada tahun 609 H ayahnya membawanya pergi ke tanah Haram bersama saudara-saudaranya untuk melaksanakan ibadah haji. Mereka tinggal di Makkah selama beberapa tahun sampai ajal menjemput sang ayah pada tahun 627 H dan dimakamkan di Ma'la.
Hidup-Nya:
Al-Sayyid Ahmad al-Badawi (Radi Allah Anhu) adalah bungsu dari tujuh anak-anak al-Sayyid 'Ali (Radi Allah Anhu). Muhammad, Fāţimah, Zainab, Ruqayyah, and Fiddah. saudara-Nya adalah Al-Hasan (yang tertua, lahir tahun 583 H), Bahkan dari usia muda, al-Sayyid Ahmad (Radi Allah Anhu) telah dikenal sebagai al-Badawi (Badui) karena ia suka menutup mukanya, meniru perilaku penghuni gurun.
Dan sementara ia masih tinggal di Fez, al-Sayyid Ahmad al-Badawi (Radi Allah Anhu) dibawa oleh saudaranya al-Sayyid al-Hasan untuk memenuhi syekh sufi dengan nama 'bin Abdul al-Jalil' Abd al -Rahman al-Naisabūrī, yang mengakui bakat spiritual anak muda dan memberinya inisiasi ke jalan sufi.
Jadi, dia membawa keluarganya, termasuk tujuh tahun tua al-Sayyid Ahmad al-Badawi, untuk pindah ke Mekah al-Mukarramah.. Perjalanan membutuhkan waktu sekitar empat tahun. Mereka berhenti di beberapa tempat termasuk Kairo, yang pada waktu itu di bawah kekuasaan al-Sultan al-'Adil Ayyūbī Sayfuddīn al-.
Ketika mereka akhirnya mencapai Makkah al-Mukarramah, mereka disambut hangat oleh para pemimpin shurafā '(keturunan Nabi Muhammad, semoga Allah pancuran berkat dan damai atas dia dan anggota keluarganya).
Dia juga menghadiri pelajaran pada al-Hadits dan al-Fiqih berdasarkan mazhab (aliran pemikiran di jurispudence Islam) dari al-Imam al-Syafi'i (Radi Allah Anhu).
. Setelah diperkenalkan ke dunia tasawuf, al-Sayyid Ahmad al-Badawi (Radi Allah Anhu) akan menghabiskan banyak waktu di pengasingan rohani. Salah satu tempat favoritnya adalah di Jabal Abi Qubais, yang terletak di dekat Masjid Al-Haram.
dalam visi, al-Sayyid Ahmad al-Badawi (Radi Allah Anhu) secara rohani dikunjungi oleh Abd al-Syaikh 'al-Qadir al-Jilani (Radi Allah Anhu) (wafat 561 H.) dan al-Syaikh Ahmad al-Rifā'ī (Radi Allah Anhu) (wafat 578 H.) yang mengundangnya untuk mengunjungi makam mereka.
Keesokan harinya, al-Sayyid Ahmad al-Badawi (Radi Allah Anhu) meninggalkan Mekah Al-Mukarramah dan berangkat untuk mengunjungi makam yang benar di Irak, ditemani oleh kakaknya al-Sayyid al-Hasan (Radi Allah Anhu ).
Sebelum mereka mencapai Ummu 'Abīdah, tempat peristirahatan al-Syaikh Ahmad al-Rifā'ī (Radi Allah Anhu), al-Sayyid al-Hasan memutuskan untuk kembali ke Mekah al-Mukarramah untuk ia merindukan keluarganya. Al-Sayyid Ahmad al-Badawi (Radi Allah Anhu) melanjutkan perjalanan sendirian dan bertemu dengan banyak petualangan termasuk mengalahkan enchantress disebut Fatimah dekat Ummu 'Abīdah.
Dalam salah satu anekdot yang paling kutip, hal tersebut terkait bahwa sementara al-Syaikh Ahmad al-Badawi (Radi Allah Anhu) berada di Irak, ia ditawari oleh Abd al-Syaikh 'al-Qadir al-Jilani (Radi Allah Anhu) dan al-Syaikh Ahmad al-Rifā'ī (Radi Allah Anhu) [dalam bentuk spiritual mereka] kunci kerajaan-kerajaan spiritual Irak, Yaman, India, Ikonium, dan semua negeri-negeri Muslim di Timur dan Barat, untuk tombol berada di tangan mereka.
Menurut salah satu versi cerita, al-Sayyid Ahmad al-Badawi berkata bahwa dia hanya akan mengambil kunci dari tangan Nabi Muhammad sendiri, semoga Allah pancuran berkat dan damai atas dia dan anggota keluarganya.]
Setelah mengunjungi makam yang saleh di Irak, termasuk leluhur Al-Imam nya Musa al-Kazim (Radi Allah Anhu), dan receving lebih lanjut iluminasi spiritual setelah menghabiskan beberapa waktu di meditasi sana, al-Sayyid Ahmad al-Badawi ( Radi Allah Anhu) menuju rumah.
Kembali di Makkah al-Mukarramah, al-Sayyid Ahmad al-Badawi (Radi Allah Anhu) melaporkan kepada saudaranya al-Sayyid al-Hasan (Radi Allah Anhu) pada penawaran dari kunci ke kerajaan rohani oleh dua kutub spiritual al -Syaikh 'Abd al-Qadir al-Jilani (Radi Allah Anhu) dan al-Syaikh Ahmad al-Rifā'ī (Radi Allah Anhu).
" Al-Sayyid al-Hasan (Radi Allah Anhu) kepada adiknya, "Sesungguhnya, mengundang orang ke jalan Allah adalah kunci untuk kebaikan. Apa al-Syaikh 'Abd al-Qadir al-Jilani (Radi Allah Anhu) dan al-Syaikh Ahmad al-Rifā'ī (Radi Allah Anhu) yang ingin adalah bahwa Anda mengikuti jalan mereka dalam mengundang orang kepada Allah Dan jalan mereka adalah tidak lain daripada mengikuti Quran dan Sunnah.. Ini adalah jalan yang benar (ţarīqah) dalam Islam. "
Sayyid Ahmad al-Badawi (Radi Allah Anhu) sependapat dengan dan menghargai penjelasan yang diberikan oleh kakaknya al-Sayyid al-Hasan (Radi Allah Anhu).
Dia memiliki hati yang berani, dan disebut al-Badawi karena gagap nya. Ketika karunia ilahi datang kepadanya, dia tenggelam dalam penyerapan lengkap kepada Allah, hidupnya sepenuhnya berubah. Ia diasingkan perusahaan orang; diadakan untuk diam, dan berkomunikasi hanya melalui gerakan. (Satu baris ditinggalkan).
Dalam tidurnya ia melihat tiga kali seseorang berkata, "Berdirilah dan pergi ke tempat matahari terbit. Jika Anda mencapai sana, lalu pergi ke tempat matahari terbenam. Kemudian perjalanan ke Tanta, karena pasti ini adalah tempat Anda, hai orang muda! "Ini dalam Syawal, 633 H.
Dia pergi ke Irak di mana dia disambut oleh Syaikh, baik yang hidup dan mati. Dia mengambil pada Kharqa diberkati sufi melalui izin dari Syaikh Bari (Radi Allah Anhu) yang diterima dari Na'im al-Baghdadi (Radi Allah Anhu) yang pada gilirannya menerima dari Syaikh Ahmad al-Rafa'I (Radi Allah Anhu ), semoga Allah senang dengan mereka semua. Setelah mencapai Tanta, al-Sayyid Ahmad al-Badawi (Radi Allah Anhu) tinggal di rumah seorang pedagang dengan nama Rukain (juga dikenal sebagai Ruknuddīn) Shuhaiţ bin.
Al-Sayyid Ahmad al-Badawi (Radi Allah Anhu) diterima dengan sangat baik di Tanta. Banyak orang datang mengunjunginya, karena mereka diuntungkan dari kehadiran dan ajarannya, dan juga dari barākah yang mengalir melalui dia. It " Dilaporkan bahwa al-Sayyid Ahmad al-Badawi (Radi Allah Anhu) pernah berkata, "The spiritual orang miskin (al-fuqarā ') adalah seperti buah zaitun antara mereka adalah orang-orang besar dan di antara mereka adalah orang-orang kecil.. Untuk mereka yang tidak memiliki "minyak", Aku akan menjadi "minyak" Aku akan membantu mereka dalam semua urusan mereka dan saya juga akan membantu mereka mengatasi kesulitan mereka.. Tidak pada upaya sendiri dan kekuatan, tetapi melalui barākah Nabi , semoga Allah pancuran berkat dan damai atas dia dan anggota keluarganya. "
Tarekatnya:
Dia mengambil bay'ah dari Syaikh Ibnu 'Abdullah al-Naysaburi (Radi Allah Anhu), dari yang ada rantai dari tujuh syekh yang menerima bay'a dari al-Imam Dawud al-Ta'iy yang menerimanya dari Habib Allah al-'Ajami yang diterima dari Master Tabi'een, al-Hasan al-Basri, yang menerimanya dari Sayyiduna 'Ali, semoga Allah menerangi wajahnya, yang menerimanya dari al-Mustafa, Rasulullah, mungkin Allah memberkati dia dan memberinya kedamaian.
Negara-nya:
Dia adalah seorang Quthb besar, ia dapat menyebabkan murids untuk tumbuh di ma'rifa dengan hanya melihat mereka. Jika ia memberi salah satu murids nya melihat khusus ia akan menaikkan dia ke Maqam al-Shuhud. Dia digunakan untuk berpuasa terus-menerus selama empat puluh hari, kemudian berbuka nya. Di sebagian besar negara, ia akan menatap ke atas ke langit dengan mata pembakaran batu bara, terus berteriak.
Atribut-nya:
Ia disebut satu dengan dua cadar, karena ia selalu memakai dua jilbab. Dia tinggi dengan kaki tebal, lengan penuh, dan wajah yang besar. complection adalah antara putih dan coklat.
PENDAPAT BELIAU
Sayyid Ahmad al-Badawi (semoga Allah senang dengan dia) berkata:
Para fuqarā seperti zaitun, di antaranya adalah besar dan kecil, dan dia yang tidak minyak; dan aku minyaknya. Artinya, siapa pun yang benar (Sadiq) dalam kemiskinannya, seperti minyak murni, yang hidup menurut Kitab dan Sunnah, maka saya membantu dalam semua hal, menyediakan untuk kebutuhan di dunia ini dan selanjutnya-bukan dengan kekuatan saya dan kekuatan, melainkan dengan barakah Nabi (Allah memberkatinya dan memberinya kedamaian).
O Abd al-'Al, waspadalah terhadap cinta dunia ini, karena merusak perbuatan orang benar seperti cuka merusak madu. Ketahuilah, 'Abd al-'Al, bahwa Allah berfirman: "Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang memiliki taqwa dan orang-orang yang berbuat baik" (16:128).
'Abd al-'Al, prihatin dengan kain, anak yatim yang telanjang, memberi makan lapar, menghormati orang asing dan tamu, maka Anda mungkin akan termasuk orang-orang yang menerima Allah.
'Abd al-'Al, Anda harus melakukan zikir berkelimpahan, dan berhati-hatilah menjadi antara orang-orang yang lalai dari Allah yang Tinggi. Ketahuilah bahwa setiap raka'ah pada malam hari adalah lebih baik dari seribu pada siang hari.
Yang terbaik dari Anda dalam karakter adalah orang yang memiliki keyakinan kepada Allah yang paling Tinggi. Evil karakter korup perbuatan baik seperti merusak madu cuka.
Abd al-'Al, cara kita dibangun di atas Kitab, Sunnah, şidq, kemurnian, kesetiaan, bantalan ketidakadilan terhadap diri sendiri, dan memenuhi janji.
Syaikh Abdul '-'Al berkata: Ketika Syaikh melayani selama empat puluh tahun aku tidak pernah melihatnya terganggu dari menyembah Allah sesaat. Suatu hari aku bertanya kepadanya tentang realitas kemiskinan di jalan hukum agama (al-faqr al-syar'i) dan dia berkata: Menurut 'Ali bin Abi Thalib (ra dengan dia) yang faqīr (dalam Allah) memiliki 12 tanda-tanda berikut: (1) ia adalah arif sebuah 'llah bi (yaitu, setelah pengetahuan langsung dari Allah); (2) dia taat kepada perintah Allah; (3) ia memegang kepada Sunnah Nabi ( Allah memberkati dia dan memberinya kedamaian); (4) dia selalu murni; (5) dalam setiap situasi ia senang dengan Allah; (6) dia yakin apa yang di sisi Allah; (7) dia putus asa dari apa yang di tangan manusia; (8) ia dikenakan [sabar] dengan kesulitan; (9) ia buru-buru untuk memenuhi perintah Allah; (10) ia menunjukkan belas kasih untuk umat manusia; (11) ia rendah hati sebelum orang; (12) ia tahu bahwa setan adalah musuh-Nya sesuai dengan apa yang Allah Tinggi berkata: "Sesungguhnya setan adalah musuh Anda, sehingga membawanya untuk musuh" (35:6).
Kemudian Abd al Syaikh '-'Al bertanya tentang refleksi, tawbah, dzikir, cinta Allah (wajd), sabar, zuhd, Iman, dan syekh dan guru, Ahmad al-Badawi, menjawab sedemikian rupa sehingga padam api dendam, menghibur yang sakit, dan menunjukkan pengetahuan Allah (segala sesuatu). Kata-kata ini, dikenal para bangsawan pengetahuan dan para Sufi, ditemukan berserakan, tapi Sayyid mengungkapkan realitas mereka, membuat mereka dengan kemurnian dan kejelasan. Dia mengatakan hal berikut mengenai istilah teknis tersebut di atas:
Refleksi (tafkīr): Refleksi atas Allah dan makhluk-Nya menciptakan bukan pada hakikat-Nya, karena pasti berpikir tidak dapat meliputi-Nya.
Tawbah adalah penyesalan untuk kesalahan yang dilakukan, meninggalkan ketidaktaatan, meminta ampun kepada Allah dengan lidah, tekad untuk tidak kembali ke ketidakpatuhan, dan kemurnian hati. Ini adalah Taubatan nashuha (tawbah tulus) yang Allah Maha Perkasa perintah kita dalam Buku-Nya: "Hai orang yang beriman, bertobat kepada Allah suatu berbalik tulus" (66:8).
Dzikir: Realitas zikir adalah bahwa dengan hati bukan dengan lidah saja. Dzikir dengan lidah tanpa hati adalah dangkal. Ingat Allah dengan hati yang hadir dan berhati-hati menjadi terganggu (ghaflah) dari Allah, karena sesungguhnya hal itu menyebabkan hati menjadi keras.
Wajd adalah ketika dzikir dari Real, la ilaha illa hu, peningkatan sehingga sebuah lampu dilemparkan ke dalam hati dari kehadiran Allah, sampai kulit gairah, dan ada kerinduan untuk Kekasih, la ilaha illa hu. Para murid untuk wajd menempel dan melekat dirinya sepenuhnya kepada Allah. Ketika meningkat wajd dan dia menjadi bingung cinta penuh gairah sehingga menjadi berlebihan, maka murid mencapai peringkat tinggi elevasi spiritual.
Sabar (sabar): Ini adalah kenikmatan dengan hukm (hukum) Allah dan kepatuhan kepada perintah-Nya. Ini adalah ketika manusia bergembira dalam kemalangan seperti dia bergembira dalam keberuntungan. Allah berfirman: "Dan memberi kabar baik kepada pasien, yang ketika musibah menimpa mereka, mengatakan: sesungguhnya kami adalah Allah dan kepada-Nya kami pasti kembali" (2: 155-156).
Zuhd: Zuhd adalah menentang nafs dengan meninggalkan keinginan duniawi, dan meninggalkan tujuh pintu diizinkan dalam ketakutan bahwa seseorang bisa jatuh ke dalam dilarang.
Iman: Iman adalah hal yang paling mulia; Dia, yang memiliki keyakinan yang paling (Iman) memiliki paling taqwa. Ketika karakter (akhlaq) dari murid yang baik, meningkatkan Iman-nya; yang terbaik dari Anda dalam karakter adalah orang yang memiliki keyakinan yang paling kepada Allah.
Ketika menyampaikan nasihat kepada khalifah-Nya, "kata Abd al-'Al, Syaikh al-Badawi: Jangan bersukacita atas malapetaka dari setiap makhluk Allah atau mengucapkan kata-kata yang fitnah atau mencemarkan. Tidak pernah menyakiti seseorang yang telah merugikan Anda. Tunjukkan perhatian untuk seseorang yang telah bersalah padamu. Berbuat baik kepada siapa pun yang telah melakukan kejahatan dan Anda berikan kepada siapa pun yang telah dipotong dari Anda. Apakah Anda tahu siapa itu faqīr, pasien yang benar. Aku berkata: Tolong, terus memberikan apa yang bermanfaat. Syaikh al-Badawi (Radi Allah Anhu) melanjutan: Dia adalah orang yang ketika ia memberi ia tidak meminta untuk berterima kasih. Dan ketika kerugian orang yang sabar karena kesabaran hukm Allah (yang berkuasa; yaitu, Dia menyebabkan terjadi peristiwa yang melanggar kesabaran faqīr itu), ia bertindak menurut Kitab dan Sunnah.
Kata-kata berikut dikirimkan oleh Sayyid al-Bakri adalah ekspresi tertinggi rahasia (Radi Allah Anhu) alam rohani yang besar Syaikh al-Badawi: Dia yang tidak memiliki pengetahuan ('ilm) tidak akan memiliki nilai (qīmah) di dunia ini atau berikutnya Dia yang tidak memiliki kesabaran (hilm) tidak akan menemukan manfaat dalam pengetahuan. Dia yang tanpa kemurahan hati (Sakha ') tidak akan memiliki sebagian kekayaannya. Dia yang tidak memiliki simpati dan kepedulian (shafaqah) untuk manusia tidak akan menemukan syafaat untuk mengajukan kasus itu (shifā'ah) sebelum Allah. Dia yang tidak memiliki kesabaran (sabar) tidak akan mendapatkan kesuksesan dan kebaikan dalam urusan-Nya. Dia yang tidak memiliki taqwa (godfearingness) tidak memiliki stasiun (manzilah) dengan Allah. Dan orang yang dicabut dari enam kualitas tidak memiliki tempat di Taman (Jinnah).
AHMAD BADAWI MASUK MESIR
Sang sufi yang selalu mengenakan tutup muka ini suatu ketika ber-khalwat selama empat puluh hari tidak makan dan minum. Waktunya dihabiskan untuk meihat langit. Kedua matanya bersinar bagai bara. Sekonyong-konyong ia mendengar suara tanpa rupa. "Berdirilah !" begitu suara itu terus menggema, Carilah tempat terbitnya matahari. Dan ketika kamu sudah menemukannya, carilah tempat terbenamnya matahari. Kemudian...beranjaklah ke Thantha, suatu kota yang ada di propinsi Gharbiyyah, Mesir. Di sanalah tempatmu wahai pemuda".
Suara tanpa rupa itu seakan membimbingnya ke Iraq. Di sana ia bertemu dengan dua orang yang terkenal yaitu Syekh Abdul Kadir al-Jailani dan ar-Rifa'i. "Wahai Ahmad " begitu kedua orang itu berkata kepada Ahmad al-Badawi seperti mengeluarkan titah. " Kunci-kunci rahasia wilayah Iraq, Hindia, Yaman, as-Syarq dan al-Gharb ada di genggaman kita. Pilihlah mana yang kamu suka ". Tanpa disangka-sangka al-Badawi menjawab, "Saya tidak akan mengambil kunci tersebut kecuali dari Dzat Yang Maha Membuka.
Perjalanan selanjutnya adalah Mesir negeri para nabi dan ahli bait. Badawi masuk Mesir pada tahun 34 H. Di sana ia bertemu dengan al-Zahir Bibers dengan tentaranya. Mereka menyanjung dan memuliakan sang wali ini. Namun takdir menyuratkan lain, ia harus melanjutkan perjalanan menuju tempat yang dimaksud oleh bisikan gaib, Thantha, satu kota yang banyak melahirkan tokoh-tokoh dunia. Di sana ia menjumpai para wali, seperti Syaikh Hasan al-Ikhna`I, Syaikh Salim al- Maghribi dan Syaikh Salim al-Badawi. Di sinilah ia menancapkan dakwahnya, menyeru pada agama Allah, takut dan senantiasa berharap hanya kepada-Nya.
Badawi yang alim
Dalam perjalanan hidupnya sebagai anak manusia ia pernah dikenal sebagai orang yang pemarah, karena begitu banyaknya orang yang menyakit. Tapi rupanya keberuntungan dan kebijakan berpihak pada anak cucu Nabi ini. Marah bukanlah suatu penyelesaian terhadap masalah bahkan menimbulkan masalah baru yang bukan hanya membawa madarat pada orang lain, tapi diri sendiri. Diam, menyendiri, merenung, itulah sikap yang dipilih selanjutnya. Dengan diam orang lebih bisa banyak mendengar. Dengan menyendiri orang semakin tahu betapa rendah, hina dan perlunya diri ini akan gapaian tangan-tangan Yang Maha Asih. Dengan merenung orang akan banyak memperoleh nilai-nilai kebenaran. Dan melalui sikap yang mulia ini ia tenggelam dalam zikir dan belaian Allah SWT.
Laksana laut, diam tenang tapi dalam dan penuh bongkahan mutiara, itulah al-badawi. Matbuli dalam hal ini memberi kesaksian, "Rasulullah SAW bersabda kepadaku, " Setelah Muhammad bin Idris as-Syafiiy tidak ada wali di Mesir yang fatwanya lebih berpengaruh daripada Ahmad Badawi, Nafisah, Syarafuddin al-Kurdi kemudian al-Manufi.
Suatu ketika Ibnu Daqiq al-'Id mengutus Abdul Aziz al- Darini untuk menguji Ahmad Badawi dalam berbagai permasalahan. Dengan tenang dia menjawab, "Jawaban pertanyaan-pertanyaan itu terdapat dalam kitab "Syajaratul Ma'arif" karya Syaikh Izzuddin bin Abdus Salam.
KAROMAH AHMAD BADAWI
Kendati karomah bukanlah satu-satunya ukuran tingkat kewalian seseorang, tidak ada salahnya disebutkan beberapa karomah Syaikh Badawi sebagai petunjuk betapa agungnya wali yang satu ini.
Al-kisah ada seorang Syaikh yang hendak bepergian. Sebelum bepergian dia meminta pendapat pada Syaikh al-Badawi yang sudah berbaring tenang di alam barzakh. "Pergilah, dan tawakkallah kepada Allah SWT"tiba-tiba terdengar suara dari dalam makam Syekh Badawi. Syaikh Sya'roni berkomentar, "Saya mendengar perkataan tadi dengan telinga saya sendiri ".
Tersebut Syaikh Badawi suatu hari berkata kepada seorang laki-laki yang memohon petunjuk dalam berdagang. "Simpanlah gandum untuk tahun ini. Karena harga gandum nanti akan melambung tinggi, tapi ingat, kamu harus banyak bersedekah pada fakir miskin". Demikian nasehat Syekh Badawi yang benar-benar dilaksanakan oleh laki-laki itu. Setahun kemudian dengan izin Allah kejadiannya terbukti benar.
Syekh Badawi wafat
Pada tahun 675 H sejarah mencatat kehilangan tokoh besar yang barangkali tidak tergantikan dalam puluhan tahun berikutnya. Syekh Badawi, pecinta ilahi yang belum pernah menikah ini beralih alam menuju tempat yang dekat dan penuh limpahan rahmat-Nya. Setelah dia meninggal, tugas dakwah diganti oleh Syaikh Abdul 'Al sampai dia meninggal pada tahun 773 H.
Beberapa waktu setelah kepergian wali pujaan ini, umat seperti tidak tahan, rindu akan kehadiran, petuah-petuahnya. Maka diadakanlah perayaan hari lahir Syaikh Badawi. Orang-orang datang mengalir bagaikan bah dari berbagai tempat yang jauh. Kerinduan, kecintaan, pengabdian mereka tumpahkan pada hari itu pada sufi agung ini. Hal inilah kiranya yang menyebabkan sebagian ulama dan pejabat waktu itu ada yang berkeinginan untuk meniadakan acara maulid. Tercatat satu tahun berikutnya perayaan maulid syekh Badawi ditiadakan demi menghindari penyalahgunaan dan penyimpangan akidah. Namun itu tidak berlangsung lama, hanya satu tahun. Dan tahun berikutnya perayaan pun digelar kembali sampai sekarang
Ahmad al-Badawi adalah seorang wali yang sangat terkenal di semua kalangan Sufi. Beliau menyatakan Aku tidak membutuhkan seorang pemandu. Pemanduku adalah al-Quran, sebagaimana yang dikatakan orang Wahhabi sekarang, dan cara hidup Rasulullah saw. Beliau mencoba mendekati Tuhannya sebagaimana Rasulullah saw bersabda atas nama Tuhannya, Hambaku tidak berhenti untuk mendekati-Ku melalui ibadah sunnah atau perbuatan baik, sampai Aku mencintainya. Dan bila Aku Mencintainya, pada saat itu Aku akan menjadi telinga yang digunakan untuk mendengar, mata yang dipakainya untuk melihat, tangan untuk merasakan, dan kaki untuk berjalan. Jika dia meminta, Aku akan memberi. Jika dia memohon perlindungan, Aku akan melindunginya. Aku akan menjadi dia, dan dia dapat mengatakan kepada sesuatu, Jadilah! maka jadilah ia. ( Hadist Nabi saw )
(Orang-orang Wahhabi biasanya memotong bagian terakhir dari hadits tersebut, tetapi kita mengucapkannya secara lengkap).
Ahmad al-Badawi berusaha mendekatai Tuhannya sampai mencapai pintu Kehadirat Ilahi, lalu dia berkata, Ya Tuhanku! Bukakanlah pintu ini untukku. Tetapi dia tidak mendapat jawaban. Dia mencobanya berulang-ulang sampai akhirnya dia bertemu secara tidak sengaja dengan seseorang. Saya bilang tidak sengaja tetapi sebetulnya itu sudah direncanakan dengan sangat rapi, karena itu adalah Kehendak Allah untuk mengujinya. Dia bertemu orang itu di jalan, seseorang yang kelihatannya biasa saja. Orang itu lalu memanggilnya, Hei Ahmad! bahkan dia tidak menyebutnya Syaikh Ahmad! sebagai tanda penghormatan. Dia berkata, Wahai Ahmad! Engkau perlu kunci untuk mencapai kehadirat Ilahi? Aku punya kuncinya dan jika Kau mau, datanglah kepadaku dan akan kuberikan kepadamu.
Setiap hari, dari pagi hingga sore, ia menatap matahari, sehingga kornea matanya merah membara. Apa yang dilihatnya bisa terbakar, khawatir terjadinya hal itu, saat berjalan ia lebih sering menatap langit, bagaikan orang yang sombong. Sejak masa kanak kanak, ia suka berkhalwat dan riyadhoh, pernah empat puluh hari lebih perutnya tak terisi makanan dan minuman. Ia lebih memilih diam dan berbicara dengan bahasa isyarat, bila ingin berkomunikasi dengan seseorang. Ia tak sedetikpun lepas dari kalimat toyyibah, berdzikir dan bersholawat. Dalam perjalanan riyadhohnya, ia pernah tinggal di loteng negara Thondata selama 12 tahun, dan selama 8 tahun ia berada diatas atap, riadhoh siang dan malam. Ia hidup pada tahun 596-675 H dan wafat di Mesir, makamnya di kota Tonto, setiap waktu tak pernah sepi dari peziarah.
Pada usia dini ia telah hafal Al-Qur’an, untuk memperdalam ilmu agama ia berguru kepada Syeikh Abdul Qadir al-Jailani dan syeikh Ahmad Rifai. Ia adalah Waliullah Qutbol Gaust, Assayyid, Assyarif Ahmad al Badawi. Suatu hari, ketika sang Murid telah sampai ketingkatannya, Sjech Abdul Qodir Jaelani, menawarkan kepadanya ; ”Manakah yang kau inginkan ya Ahmad Badawi, kunci Masriq atau Magrib, akan kuberikan untukmu”, hal yang sama juga diucapkan oleh gurunya Sayyid Ahmad Rifai, dengan lembut, dan menjaga tatakrama murid kepada gurunya, ia menjawab; ”Aku tak mengambil kunci kecuali dari Al Fattah (Allah )”.
Suatu hari datang kepadanya, seorang janda mohon pertolongan, anak lelakinya ditahan di Perancis, dan sang ibu ingin agar anak itu kembali dalam keadaan selamat. Oleh Sayyidi Ahmad Al Badawi, janda itu disuruhnya untuk pulang, dan berkata sayidi : “Insya Allah anak ibu sudah berada dirumah”. Bergegas sang ibu menuju rumahnya, dan betapa bahagia, bercampur haru, dan penuh keheranan, ia dapati anaknya telah berada di rumah dalam keadaan terbelenggu. Sayyidi al badawi banyak menolong orang yang ditahan secara Dholim oleh penguasa Prancis saat itu, dan semua pulang ke rumahnya dalam keadaan tangannya tetap terbelenggu.
Pernah suatu ketika Syaikh Ibnul labban mengumpat Sayyidi Ahmad Badawi, seketika itu juga hafalan Al-Qur’an dan iman Syaikh Ibnul labban menjadi hilang. Ia bingung dan berusaha dengan beristighosah dan meminta bantuan do’a, orang orang terkemuka di zaman itu (agar ilmu dan imannya kembali lagi), tetapi tidak satupun dari yang dimintainya doa, berani mencampuri urusannya, karena terkait dengan Sayyidi Ahmad Badawi. Padahal diriwayatkan, saat itu Sayyidi Al Badawi telah wafat. Orang terkemuka yang dimintainya doa, hanya berani memberi saran kepada Syaikh Ibnul labban, agar dia menghadap Syeikh Yaqut al-‘Arsyiy, waliullah terkemuka pada saat itu, dan kholifah sayyidi abil hasan Assadzili. Ibnu labban segera menemui Sjech Yaqut dan minta pertolongannya, dalam urusannya dengan sayyidi Ahmad Al badawi. Setelah dimintai pertolongan oleh Syaikh Ibnul labban, Syeikh Yaqut Arsyiy berangkat menuju ke makam Sayyidi al-Badawi dan berkata : “ Wahai guru, hendaklah tuan memberi ma’af kepada orang ini!”. Dari dalam makamnya, terdengar jawaban “Apakah kamu berkehendak untuk mengembalikan tandanya orang miskin itu ? ya…sudah, tapi dengan syarat ia mau bertaubat”. Syeikh Ibbnul Labbanpun akhirnya bertaubat, dan tidak lama kemudian kembalilah ilmu dan imannya seperti sedia kala dan ia juga mengakui kewalian Syeikh Yaqut, karena peristiwa tersebut. Ia kemudian dinikahkan dengan putrinya Syeikh Yaqut. (Di ambil dari kitab al-Jaami’).
Syeikh Muhammad asy-Syanawi menceritakan, bahwa pada waktu itu ada orang yang tidak mau menghadiri dan bahkan mengingkari peringatan maulidnya Syeikh Ahmad Badawi, maka seketika hilanglah iman orang itu dan menjadi merasa tidak senang terhadap agama Islam. Orang itu kemudian berziarah ke makamnya Sayyid Badawi untuk minta tolong dan memohon maaf atas kesalahannya. Kemudian terdengarlah suara sayyidi Badawi dari dalam kubur : “iya, saya ma’afkan, tapi jangan berbuat lagi. Na’am (iya) jawab orang itu, spontan imannya kembali lagi. Beliau lalu meneruskan ucapannya : “Apa sebabnya kamu mengingkari kami semua”. Dijawabnya : “Karena di dalam acara itu banyak orang laki-laki dan perempuan bercampur baur menjadi satu” (tanpa ada garis pembatas). Sayyidi Badawi lalu mengatakan : “Di tempat thowaf sana, dimana banyak orang yang menunaikan ibadah haji disekitar Ka’bah, mereka juga bercampur laki-laki dan perempuan, kenapa tidak ada yang melarang”. Demi mulianya Tuhanku, orang-orang yang ada untuk menghadiri acara maulidku ini tidaklah ada yang menjalankan dosa kecuali pasti mau bertaubat dan akan bagus taubatnya. Hewan-hewan di hutan dan ikan-ikan di laut, semua itu dapat aku pelihara dan kulindungi diantara satu dengan lainnya sehingga menjadi aman dengan idzin Allah. Lalu, apakah kiranya Allah Ta’ala, tidak akan memberi aku kekuatan untuk mampu menjaga dan memelihara keamanannya orang-orang yang menghadiri acara maulidku itu ?”
Suatu ketika Syeikh Ibnu Daqiqil berkumpul dengan Sayyidi Badawi, dan ia bertanya kepada beliau : “Mengapa engkau tidak pernah sholat, yang demikian itu bukanlah perjalanannya para shalihin“. Lalu beliau menjawab : “Diam kamu! Kalau tidak mau diam aku hamburkan daqiqmu (tepung)”. Dan di tendanglah Syeikh Daqiqil oleh beliau hingga berada disuatu pulau yang luas dalam kondisi tidak sadarkan diri. Setelah sadar, iapun termangu karena merasa asing dengan pulau tersebut. Dalam kebingungannya, datanglah seorang lelaki menghampirinya dan memberi nasehat agar jangan mengganggu orang type al-Badawi, dan sekarang kamu berjalanlah menuju qubah yang terlihat itu, nanti jika sudah tiba di sana kau berhentilah di depan pintu hingga menunggu waktu ‘ashar dan ikutlah shalat berjamaah dibelakangnya imam tersebut, sebab nanti Ahmad Badawi akan ikut di dalamnya. Setelah bertemu dia ucapkanlah salam, peganglah lengan bajunya dan mohonlah ampun atas ucapanmu tadi. Ia menuruti kata-kata orang itu yang tidak lain adalah Nabiyullah Khidir a.s. Setelah semua nasehatnya dilaksanakan, betapa terkejutnya ia karena yang menjadi imam sholat waktu itu adalah Sayyidi Badawi. Setelah selesai sholat ia langsung menghampiri dan menciumi tangan dan menarik lengan Sayyidi al-Badawi, sambil berkata seperti yang diamanatkan orang tadi. Dan berkatalah Sayyidi Badawi sambil menendang Syeikh Daqiqil,” Pergilah sana murid-muridmu sudah menantimu dan jangan kau ulangi lagi!. Seketika itu juga ia sudah sampai di rumahnya dan murid-muridnya telah menunggu kedatangan Syeikh Daqiqil. Dijelaskan bahwa yang menjadi makmum sholat berjamaah dengan Sayyidi Badawi pada kejadian itu adalah para wali.
Syekh Imam al Munawi berkata : “Ada seorang Syeikh yang setiap akan bepergian selalu berziarah di makamnya Syeikh Ahmad al Badawi untuk minta ijin, lalu terdengar suara dari dalam kubur dengan jelas :”Ya pergilah dengan tawakkal, Insya Allah niatmu berhasil, kejadian tersebut didengar juga oleh Syeikh abdul wahab Assya’roni, padahal saat itu Syeikh Ahmad al Badawi sudah meninggal 200 tahun silam, jadi para aulia’ itu walaupun sudah meninggal ratusan tahun, namun masih bisa emberi petunjuk.
Berkata Syeikh Muhammad al-Adawi : Setengah dari keindahan keramat beliau ialah, pada saat banyaknya orang yang ingin berusaha membatalkan peringatan maulidnya beliau, dimana orang-orang tersebut menghadap dan meminta kepada Syeikh Imam Yahya al-Munawiy agar beliau mau menyetujuinya. Sebagai orang yang berpengaruh dan berpendirian kuat pada masa itu, Syeikh Yahya tidak menyetujuinya, akhirnya orang-orang tersebut melapor kepada sang raja azh-Zhohir Jaqmaq. Sang rajapun berusaha membujuk agar Syeikh Yahya bersedia memberi fatwa untuk membatalkan maulidnya Sayyidi Badawi. Akan tetapi Syeikh Yahya tetap tidak mau dan hanya bersedia memberikan fatwa melarang keharaman-haraman yang terjadi di acara itu. Maka acara maulid tetap dilaksanakan seperti biasa. Dan Syeikh Yahya bekata kepada sang raja: “Aku tetap tak berani sama sekali berfatwa yang demikian, karena Sayyidi Badawi adalah wali yang agung dan seorang fanatik (malati = bahasa jawanya). Hai raja, tunggu saja, kamu akan tahu akibat bahayanya orang-orang yang berusaha menghilangkan peringatan maulid Sayyidi Badawi. Memang benar, tak lama kemudian mereka yang bertujuan menghilangkan peringatan maulid Sayyidi Badawi tertimpa bencana. Orang-orang tersebut ada yang dicopot jabatannya dan diasingkan oleh rajanya. Ada yang melarikan diri ke Dimyath akan tetapi kemudian ditarik kembali dan diberi pengajaran, dirantai dan dipenjara selama setengah bulan. Bahkan diantara mereka yang mempunyai jabatan tinggi dikerajaan itu lalu banyak yang ditangkap, disidang dengan kelihatan terhina, disiksa dan diborgol besi di depan majlis hakim syara’ lalu dihadapkan raja yang kemudian dibuang di negara Maghrib.
Sayyidi Ahmad Badawi pernah berkata kepada seseorang : “Bahwa pada tahun ini hendaknya kamu menyimpan gandum yang banyak yang tujuanmu nanti akan kau berikan kepada para fakir miskin, sebab nanti akan terjadi musim paceklik pangan. Kemudian orang tadi menjalankan apa yang diperintahkan beliau, dan akhirnya memang terbukti kebenaran ucapan Sayyidi Badawi.
Berkata al-Imam Sya’roni : “Pada tahun 948 H aku ketinggalan tidak dapat menghadiri acara maulidnya Sayyidi Badawi. Lalu ada salah satu aulia’ memberi tahu kepadaku bahwa Sayyidi Badawi pada waktu peringatan itu memperlihatkan diri di makamnya dan bertanya : “Mana Abdul Wahhab Sya’roni, kenapa tidak datang ?” Pada suatu tahun, al-Imam Sya’roni juga pernah berkeinginan tidak akan mendatangi maulid beliau. Lalu aku melihat beliau memegang pelepah kurma hijau sambil mengajak orang-orang dari berbagai negara. Jadi orang-orang yang berada dibelakangnya, dikanan dan kirinya banyak sekali tak terhingga jumlahnya. Terus beliau melewati aku di Mesir, sayyidi Badawi berkata : “Kenapa kamu tidak berangkat ?”. Aku sedang sakit tuan, jawabku. Sakit tidak menghalang-halangi orang cinta. Terus aku diperlihatkan orang banyak dari para aulia’dan para masayikh, baik yang masih hidup maupun yang sudah wafat, dan orang-orang yang lumpuh semua berjalan dengan merangkak dan memakai kain kafannya, mereka mengikuti dibelakang sayyidi Badawi menghadiri maulid beliau. Terus aku juga diperlihatkan jama’ah dan sekelompok tawanan yang masih dalam keadaan terbalut dan terbelenggu juga ikut datang menghadiri maulidnya. Lalu beliau berkata: lihatlah ! itu semua tidak ada yang mau ketinggalan, akhirnya aku berkehendak untuk mau menghadiri, dan aku berkata : Insya Allah aku hadir tuan guru ?. Kalau begitu kamu harus dengan pendamping, jawab sayyidi Badawi. Kemudian beliau memberi aku dua harimau hitam besar dan gajah, yang dijanji tidak akan berpisah denganku sebelum sampai di tempat. Peristiwa ini kemudian aku ceritakan kepada guruku Syeikh Muhammad asy-Syanawi, beliau lalu menjelaskan: memang pada umumnya para aulia’ mengajak orang-orang itu dengan perantaraan, akan tetapi sayyidi Ahmad Badawi langsung dengan sendirinya menyuruh orang-orang mengajak datang. Sungguh banyak keramat beliau, hingga al-Imam Sya’roni mengatakan,”Seandainya keajaiban atau keramat-keramat beliau kalau ditulis di dalam buku tidaklah akan muat karena terlalu banyaknya. Tetapi ada peninggalan Syeikh ahmad Badawi yang sangat utama, yaitu bacaan sholawat badawiyah sughro dan sholawat badawiyah kubro.
Demikianlah sekelumit manakib Sayyidi Ahmad Al Badawi disajikan kehadapan pembaca, untuk dapat diambil hikmahnya
Syeikh Ahmad Al Rifa’i
Sayyidi Ahmad Al Rifa’i dilahirkan pada tahun 500 Hijriah. Pertama kali beliau belajar Ilmu Fiqih Mazhab Syafi’i dengan mempelajari Kitab Al-Tanbih, akan tetapi beliau lebih cenderung kepada ilmu tasawuf. Beliau terkenal sebagi rujukan pimpinan ilmu thoriqoh, karena memiliki ilmu haqiqat yang tinggi dan sebagai wali qutub yang agung dan masyhur di zaman sesudah syeikh Abdul Qodir al Jailany ra. Beliau sangat terkenal dan memiliki pengikut yang banyak. Para pengikutnya terkenal dengan sebutan “Al-Thoifah Al-Rifa’iyah”.
Dalam kitab Tobaqot diterangkan, pada saat mengajar syeikh Ahmad Rifa’i tidak mau sambil berdiri. Orang-orang yang tinggalnya jauh bisa mendengar apa yang disampaikan beliau sama seperti orang yang dekat dengan tempat pengajian. Sehingga penduduk disekitar desa Ummi Abidah banyak yang keluar dari rumahnya untuk mendengarkan apa yang disampaikan oleh syeikh Ahmad Rifa’i ini. Bahkan orang yang tadinya tuli jika mau hadir mengaji oleh Allah, dibukakan pendengarannya sehingga bisa mendengar apa yang disabdakan oleh syeikh Ahmad Rifa’i. Para guru thoriqoh banyak yang hadir untuk mendengarkan sabda-sabda dari Syeikh Ahmad Al Rifa’i dengan menggelar sajadah sebagai tempat duduk. Setelah syeikh Ahmad selesai memberi pelajaran, mereka pulang sambil menempelkan sajadah kedadanya masing-masing, sehingga sesampai di rumah mereka bisa menjelaskan kepada para muridnya.
Banyak hal aneh yang sering terjadi pada diri murid Syeikh Ahmad Rifa’i seperti, mereka dapat masuk ke dalam api yang sedang menyala. Mereka juga dapat menjinakkan binatang buas, seperti harimau di mana hewan ini akan menuruti apa yang mereka katakan. Sehingga harimau ini dapat dijadikan kendaraan oleh mereka. Banyak lagi keajaiban-keajaiban lain yang ada pada mereka.
Ketika pertama kali Sayyidi Ahmad bertemu dengan seorang Wali bernama Syeikh Abdul Malik Al-Khonubi. Syeikh ini memberinya pelajaran berupa sindiran tetapi sangat berkesan buat Syeikh Ahmad Al Rifa’i. Sindiran itu berbunyi ; Orang yang berpaling dia tiada sampai. Orang yang ragu-ragu tidak dapat kemenangan. Barangsiapa tidak mengetahui waktunya kurang, maka semua waktunya telah kurang. Setahun lamanya Sayyidi Ahmad Al-Rifa’i mengulang-ulang perkataan ini.
Setelah setahun dia datang kembali menemui Syeikh Abdul Malik Al-Khonubi. Sayyidi Ahmad Al-Rifa’i minta wasiat lagi, maka berkata Syeikh Abdul Malik; Sangatlah keji kejahilan bagi orang-orang yang mempunyai Akal; Sangatlah keji penyakit pada sisi semua doktor; Sangatlah keji sekalian kekasih yang meninggalkan Wusul (sampai kepada Allah). Sayyidi Ahmad Al-Rifa’i mengulang-ulang pula perkatan itu selama setahun dan beliau banyak mendapat manfaat dari perkataan itu karena perkataan itu diresapi, dihayati dan diamalkan.
Salah satu dari sekian budi pekerti Syeikh Ahmad Al Rifa’i yang mulia ialah beliau seringkali membawa serta membersihkan pakaian orang-orang yang berpenyakit kusta dan beberapa penyakit yang sangat menjijikkan menurut pandangan umum. Dipeliharanya orang-orang yang sedang sakit itu; diantarkan makanan untuk mereka dan beliau juga turut makan bersama-sama dengan orang-orang sakit itu tanpa ada rasa jijik.
Dia sentiasa menghina dirinya. Salah satu dari sekian budi pekertinya yang mulia ialah beliau seringkali membawa pakaian orang-orang yang berpenyakit kusta dan sakit yang telah menahan yang sangat keji bagi pandangan umum. Dipelihara orang-orang yang sedang sakit itu; dihantarkan makanan untuk mereka dan dia juga turut makan bersama-sama dengan orang-orang sakit itu.
Kalau Syeikh Ahmad Al Rifa’i datang dari perjalanan, apabila telah dekat dengan kampung halamannya maka dipungutnya kayu bakar, setelah itu dibagi-bagikan kepada orang-orang sakit, orang buta, orang-orang jompo atau orang tua yang membutuhkan pertolongan. Syeikh Ahmad berkata : “Mendatangi orang-orang yang semacam itu bagi kita wajib bukan hanya sunah. Bahkan Nabi bersabda : “Barang siapa yang memuliakan orang tua yang Islam, maka Allah akan meluluhkan orang untuk memuliakannya apabila ia sudah tua”.
Beliau setiap dijalan selalu menanti datangnya orang buta, kalau ada orang buta datang lalu dipegang dan dituntun sampai tujuan. Beliau mempunyai kasih sayang bukan hanya kepada manusia saja, tetapi juga kepada binatang, sehingga kalau bertemu dengan siapa saja selalu mendahului memberi salam, bahkan juga kepada hewan. Diriwayatkan bahwa ada seekor anjing yang menderita sakit kusta. Kemana saja anjing itu pergi, ia akan diusir. Anjing tersebut diambil oleh Sayyidi Ahmad Al-Rifa’i lalu dimandikan dengan air panas, diberikan obat dan makan secukupnya, sampai anjing tersebut sembuh dari penyakit yang dideritanya. Kalau ada orang yang bertanya tentang apa yang diperbuatnya beliau berkata : “Aku selalu membiasakan pekerjaan yang baik. Syeikh Ahmad ini kalau dihinggapi nyamuk beliau membiarkannya dan tidak boleh ada orang lain yang mengusirnya. Beliau berkata, “Biarkanlah dia meminum darah yang dibagikan Allah kepadanya. Pada suatu hari ada seekor kucing sedang nyenyak tidur di atas lengan bajunya. Waktu sholat telah masuk, lalu digunting lengan bajunya itu karena tidak sampai hati mengejutkan kucing yang sedang lelap tidur itu. Seusai sholat lengan bajunya diambil dan dijait lagi.
Budi pekerti mulia yang lain ialah beliau tidak mau membalas kejahatan dengan kejahatan. Apabila beliau dimaki oleh orang, beliau terus menundukkan kepalanya mencium bumi dan menangis serta meminta maaf kepada yang memakinya. Beliau pernah dikirimi surat oleh Syeikh Ibrohim al Basity yang isi suratnya merendahkan martabat beliau, lalu beliau berkata kepada orang yang menyampaikan surat itu : “Coba bacalah surat itu, dan ternyata isinya adalah : “Hai orang yang buta sebelah, hai dajjal, hai orang yang bikin bid’ah dan berbagai macam perkataan yang menyakitkan hati. Setelah selesai membaca surat kemudian surat itu diterima oleh syeikh Ahmad, dibaca kemudian berkata : “Ini semua betul, smoga Allah membalas kebaikan kepadanya. Beliau terus berkata dengan syiir, “Maka tidaklah aku peduli kepada orang yang meragukan aku yang penting menurut Allah, aku bukanlah orang yang meragukan. Kemudian syeikh berkata : “Tulislah sekarang jawaban balasanku yang berbunyi “Dari orang rendahan kepada tuanku syeikh Ibrohim. Mengenai tulisanmu seperti yang tertera dalam surat, memang Allah telah menjadikan aku menurut apa yang dikehendaki-Nya dan aku mengharapkanmu hendaknya sudi bersedekah kepadaku dengan mendo’akan dan memaafkanku. Setelah surat balasan ini sampai pada syeikh Ibrohim dan dibaca isinya, kemudian syeikh Ibrohim pergi entah kemana tidak ada orang yang tahu.
Di antara Keramatnya yang besar pula ialah apabila dia mengajar, suaranya dapat didengar oleh orang yang berada di sekitar kampung tempat dia mengajar itu, bahkan orang yang tuli sekalipun dapat mendengar dengan jelas penerangan beliau itu.
Jika ada orang minta dituliskan azimat kepadanya, maka Syeikh Ahmad mengambil kertas lalu ditulis tanpa pena. Sewaktu beliau pergi Haji, ketika berziarah ke Maqam Nabi Muhammad Saw, maka nampak tangan dari dalam kubur Nabi bersalaman dengan beliau dan beliau pun terus mencium tangan Nabi SAW yang mulia itu. Kejadian itu dapat disaksikan oleh orang ramai yang juga berziarah ke Maqam Nabi Saw tersebut. Salah seorang muridnya berkata ; “Ya Sayyidi! Tuan Guru adalah Qutub”. Jawabnya; “Sucikan olehmu syak mu daripada Qutubiyah”. Kata murid: “Tuan Guru adalah Ghauts!”. Jawabnya: “Sucikan syakmu daripada Ghautsiyah”. Al-Imam Sya’roni mengatakan bahwa yang demikian itu adalah dalil bahwa Sayyidi Ahmad Al-Rifa’i telah melampaui “Maqaamat” dan “Athwar” karena Qutub dan Ghauts itu adalah Maqam yang maklum (diketahui umum).
Barangsiapa berserta Allah Taala dan dengan Dia, maka tiada diketahui baginya Maqam dan jika ada baginya pada tiap-tiap Maqam itu Maqam sekalipun.
Ketika Sayyidi Ahmad Al-Rifa'i sakit yang mengakibatkan kewafatan beliau, berkata khadamnya kepada beliau;
"Tajallilah bagi Tuan Guru oleh pengantin pada tahun ini"
Jawabnya: "Ya, Bahkan!
Kata khadam: "Dari kerana apa?"
Jawabnya:
"Telah berlaku beberapa perkara yang telah kami belikan dengan Ruh kami. Dan demikian itu telah berlaku bala yang sangat besar atas makhluk. Maka aku menanggungnya dengan yang tinggal daripada umurku. Maka dijualkan kepadaku"
Menangislah Sayyidi Ahmad Al-Rifa'i sambil menelengkup mukanya sambil berkata;
"Ampunilah olehmu hai Tuhanku. Jadikanlah aku sebagai atap bala daripada sekelian makhluk engkau".
Yang dideritai oleh Sayyidi Ahmad Al-Rifa'i ialah sakit "Muntah Berak"(Kolera). Setiap hari keluar dari perutnya. Sakit itu dialaminya selama sebulan. Demikianlah mulia dan besarnya pengorbanan Aulia Allah ini sehingga sanggup menderita sakit menanggung bala yang sepatutnya tersebar ke atas manusia lain.
Orang bertanya kepadanya;
"Dari mana ini? sedangkan sudah dua puluh hari Tuan Guru tidak makan dan tidak minum?"
Jawab Sayyidi Ahmad Al-Rifa'i;
"Ini adalah daging yang hancur. Maka keluarlah ia. Sesungguhnya telah habis daging. Tiada tinggal melainkan hanya sehari ini. Besoknya kami pergi kepada Allah".
Sebelum wafat beliau telah menceritakan kapan waktunya akan meninggal dan sifat-sifat hal ihwalnya beliau. Beliau akan menjalani sakit yang sangat parah untuk menangung bilahinya para makhluk. Sabdanya, “Aku telah di janji oleh Allah, agar nyawaku tidak melewati semua dagingku (daging harus musnah terlebih dahulu). Ketika Sayyidi Ahmad Al-Rifa’i sakit yang mengakibatkan kewafatannya, beliau berkata, “Sisa umurku akan kugunakan untuk menanggung bilahi agungnya para makhluk. Kemudian beliau menggosok-ngosokkan wajah dan uban rambut beliau dengan debu sambil menangis dan beristighfar . Yang dideritai oleh Sayyidi Ahmad Al-Rifa’i ialah sakit “Muntah Berak”. Setiap hari tak terhitung banyaknya kotoran yang keluar dari dalam perutnya. Sakit itu dialaminya selama sebulan. Hingga ada yang tanya, “Kok, bisa sampai begitu banyaknya yang keluar, dari mana yaa kanjeng syeikh. Padahal sudah dua puluh hari tuan tidak makan dan minum. Beliau menjawab, “Karena ini semua dagingku telah habis, tinggal otakku, dan pada hari ini nanti juga akan keluar dan besok aku akan menghadap Sang Maha Kuasa. Setelah itu ketika wafatnya, keluarlah benda yang putih kira-kira dua tiga kali terus berhenti dan tidak ada lagi yang keluar dari perutnya. Demikian mulia dan besarnya pengorbanan Aulia Allah ini sehingga sanggup menderita sakit menanggung bala yang sepatutnya tersebar ke atas manusia lain. Wafatlah Wali Allah yang berbudi pekerti yang halus lagi mulia ini pada hari Kamis waktu duhur 12 Jumadil Awal tahun 570 Hijrah. Riwayat yang lain mengatakan tahun 578 Hijrah.
Demikian sejarah riwayat hidup Syech Ahmad al-Rifa’i sebagai pendiri dari tarekat Rifa’iyah, semoga perjalanan hidupnya dapat kita jadikan contoh yang baik.
Dalam kitab Tobaqot diterangkan, pada saat mengajar syeikh Ahmad Rifa’i tidak mau sambil berdiri. Orang-orang yang tinggalnya jauh bisa mendengar apa yang disampaikan beliau sama seperti orang yang dekat dengan tempat pengajian. Sehingga penduduk disekitar desa Ummi Abidah banyak yang keluar dari rumahnya untuk mendengarkan apa yang disampaikan oleh syeikh Ahmad Rifa’i ini. Bahkan orang yang tadinya tuli jika mau hadir mengaji oleh Allah, dibukakan pendengarannya sehingga bisa mendengar apa yang disabdakan oleh syeikh Ahmad Rifa’i. Para guru thoriqoh banyak yang hadir untuk mendengarkan sabda-sabda dari Syeikh Ahmad Al Rifa’i dengan menggelar sajadah sebagai tempat duduk. Setelah syeikh Ahmad selesai memberi pelajaran, mereka pulang sambil menempelkan sajadah kedadanya masing-masing, sehingga sesampai di rumah mereka bisa menjelaskan kepada para muridnya.
Banyak hal aneh yang sering terjadi pada diri murid Syeikh Ahmad Rifa’i seperti, mereka dapat masuk ke dalam api yang sedang menyala. Mereka juga dapat menjinakkan binatang buas, seperti harimau di mana hewan ini akan menuruti apa yang mereka katakan. Sehingga harimau ini dapat dijadikan kendaraan oleh mereka. Banyak lagi keajaiban-keajaiban lain yang ada pada mereka.
Ketika pertama kali Sayyidi Ahmad bertemu dengan seorang Wali bernama Syeikh Abdul Malik Al-Khonubi. Syeikh ini memberinya pelajaran berupa sindiran tetapi sangat berkesan buat Syeikh Ahmad Al Rifa’i. Sindiran itu berbunyi ; Orang yang berpaling dia tiada sampai. Orang yang ragu-ragu tidak dapat kemenangan. Barangsiapa tidak mengetahui waktunya kurang, maka semua waktunya telah kurang. Setahun lamanya Sayyidi Ahmad Al-Rifa’i mengulang-ulang perkataan ini.
Setelah setahun dia datang kembali menemui Syeikh Abdul Malik Al-Khonubi. Sayyidi Ahmad Al-Rifa’i minta wasiat lagi, maka berkata Syeikh Abdul Malik; Sangatlah keji kejahilan bagi orang-orang yang mempunyai Akal; Sangatlah keji penyakit pada sisi semua doktor; Sangatlah keji sekalian kekasih yang meninggalkan Wusul (sampai kepada Allah). Sayyidi Ahmad Al-Rifa’i mengulang-ulang pula perkatan itu selama setahun dan beliau banyak mendapat manfaat dari perkataan itu karena perkataan itu diresapi, dihayati dan diamalkan.
Salah satu dari sekian budi pekerti Syeikh Ahmad Al Rifa’i yang mulia ialah beliau seringkali membawa serta membersihkan pakaian orang-orang yang berpenyakit kusta dan beberapa penyakit yang sangat menjijikkan menurut pandangan umum. Dipeliharanya orang-orang yang sedang sakit itu; diantarkan makanan untuk mereka dan beliau juga turut makan bersama-sama dengan orang-orang sakit itu tanpa ada rasa jijik.
Dia sentiasa menghina dirinya. Salah satu dari sekian budi pekertinya yang mulia ialah beliau seringkali membawa pakaian orang-orang yang berpenyakit kusta dan sakit yang telah menahan yang sangat keji bagi pandangan umum. Dipelihara orang-orang yang sedang sakit itu; dihantarkan makanan untuk mereka dan dia juga turut makan bersama-sama dengan orang-orang sakit itu.
Kalau Syeikh Ahmad Al Rifa’i datang dari perjalanan, apabila telah dekat dengan kampung halamannya maka dipungutnya kayu bakar, setelah itu dibagi-bagikan kepada orang-orang sakit, orang buta, orang-orang jompo atau orang tua yang membutuhkan pertolongan. Syeikh Ahmad berkata : “Mendatangi orang-orang yang semacam itu bagi kita wajib bukan hanya sunah. Bahkan Nabi bersabda : “Barang siapa yang memuliakan orang tua yang Islam, maka Allah akan meluluhkan orang untuk memuliakannya apabila ia sudah tua”.
Beliau setiap dijalan selalu menanti datangnya orang buta, kalau ada orang buta datang lalu dipegang dan dituntun sampai tujuan. Beliau mempunyai kasih sayang bukan hanya kepada manusia saja, tetapi juga kepada binatang, sehingga kalau bertemu dengan siapa saja selalu mendahului memberi salam, bahkan juga kepada hewan. Diriwayatkan bahwa ada seekor anjing yang menderita sakit kusta. Kemana saja anjing itu pergi, ia akan diusir. Anjing tersebut diambil oleh Sayyidi Ahmad Al-Rifa’i lalu dimandikan dengan air panas, diberikan obat dan makan secukupnya, sampai anjing tersebut sembuh dari penyakit yang dideritanya. Kalau ada orang yang bertanya tentang apa yang diperbuatnya beliau berkata : “Aku selalu membiasakan pekerjaan yang baik. Syeikh Ahmad ini kalau dihinggapi nyamuk beliau membiarkannya dan tidak boleh ada orang lain yang mengusirnya. Beliau berkata, “Biarkanlah dia meminum darah yang dibagikan Allah kepadanya. Pada suatu hari ada seekor kucing sedang nyenyak tidur di atas lengan bajunya. Waktu sholat telah masuk, lalu digunting lengan bajunya itu karena tidak sampai hati mengejutkan kucing yang sedang lelap tidur itu. Seusai sholat lengan bajunya diambil dan dijait lagi.
Budi pekerti mulia yang lain ialah beliau tidak mau membalas kejahatan dengan kejahatan. Apabila beliau dimaki oleh orang, beliau terus menundukkan kepalanya mencium bumi dan menangis serta meminta maaf kepada yang memakinya. Beliau pernah dikirimi surat oleh Syeikh Ibrohim al Basity yang isi suratnya merendahkan martabat beliau, lalu beliau berkata kepada orang yang menyampaikan surat itu : “Coba bacalah surat itu, dan ternyata isinya adalah : “Hai orang yang buta sebelah, hai dajjal, hai orang yang bikin bid’ah dan berbagai macam perkataan yang menyakitkan hati. Setelah selesai membaca surat kemudian surat itu diterima oleh syeikh Ahmad, dibaca kemudian berkata : “Ini semua betul, smoga Allah membalas kebaikan kepadanya. Beliau terus berkata dengan syiir, “Maka tidaklah aku peduli kepada orang yang meragukan aku yang penting menurut Allah, aku bukanlah orang yang meragukan. Kemudian syeikh berkata : “Tulislah sekarang jawaban balasanku yang berbunyi “Dari orang rendahan kepada tuanku syeikh Ibrohim. Mengenai tulisanmu seperti yang tertera dalam surat, memang Allah telah menjadikan aku menurut apa yang dikehendaki-Nya dan aku mengharapkanmu hendaknya sudi bersedekah kepadaku dengan mendo’akan dan memaafkanku. Setelah surat balasan ini sampai pada syeikh Ibrohim dan dibaca isinya, kemudian syeikh Ibrohim pergi entah kemana tidak ada orang yang tahu.
Di antara Keramatnya yang besar pula ialah apabila dia mengajar, suaranya dapat didengar oleh orang yang berada di sekitar kampung tempat dia mengajar itu, bahkan orang yang tuli sekalipun dapat mendengar dengan jelas penerangan beliau itu.
Jika ada orang minta dituliskan azimat kepadanya, maka Syeikh Ahmad mengambil kertas lalu ditulis tanpa pena. Sewaktu beliau pergi Haji, ketika berziarah ke Maqam Nabi Muhammad Saw, maka nampak tangan dari dalam kubur Nabi bersalaman dengan beliau dan beliau pun terus mencium tangan Nabi SAW yang mulia itu. Kejadian itu dapat disaksikan oleh orang ramai yang juga berziarah ke Maqam Nabi Saw tersebut. Salah seorang muridnya berkata ; “Ya Sayyidi! Tuan Guru adalah Qutub”. Jawabnya; “Sucikan olehmu syak mu daripada Qutubiyah”. Kata murid: “Tuan Guru adalah Ghauts!”. Jawabnya: “Sucikan syakmu daripada Ghautsiyah”. Al-Imam Sya’roni mengatakan bahwa yang demikian itu adalah dalil bahwa Sayyidi Ahmad Al-Rifa’i telah melampaui “Maqaamat” dan “Athwar” karena Qutub dan Ghauts itu adalah Maqam yang maklum (diketahui umum).
Barangsiapa berserta Allah Taala dan dengan Dia, maka tiada diketahui baginya Maqam dan jika ada baginya pada tiap-tiap Maqam itu Maqam sekalipun.
Ketika Sayyidi Ahmad Al-Rifa'i sakit yang mengakibatkan kewafatan beliau, berkata khadamnya kepada beliau;
"Tajallilah bagi Tuan Guru oleh pengantin pada tahun ini"
Jawabnya: "Ya, Bahkan!
Kata khadam: "Dari kerana apa?"
Jawabnya:
"Telah berlaku beberapa perkara yang telah kami belikan dengan Ruh kami. Dan demikian itu telah berlaku bala yang sangat besar atas makhluk. Maka aku menanggungnya dengan yang tinggal daripada umurku. Maka dijualkan kepadaku"
Menangislah Sayyidi Ahmad Al-Rifa'i sambil menelengkup mukanya sambil berkata;
"Ampunilah olehmu hai Tuhanku. Jadikanlah aku sebagai atap bala daripada sekelian makhluk engkau".
Yang dideritai oleh Sayyidi Ahmad Al-Rifa'i ialah sakit "Muntah Berak"(Kolera). Setiap hari keluar dari perutnya. Sakit itu dialaminya selama sebulan. Demikianlah mulia dan besarnya pengorbanan Aulia Allah ini sehingga sanggup menderita sakit menanggung bala yang sepatutnya tersebar ke atas manusia lain.
Orang bertanya kepadanya;
"Dari mana ini? sedangkan sudah dua puluh hari Tuan Guru tidak makan dan tidak minum?"
Jawab Sayyidi Ahmad Al-Rifa'i;
"Ini adalah daging yang hancur. Maka keluarlah ia. Sesungguhnya telah habis daging. Tiada tinggal melainkan hanya sehari ini. Besoknya kami pergi kepada Allah".
Sebelum wafat beliau telah menceritakan kapan waktunya akan meninggal dan sifat-sifat hal ihwalnya beliau. Beliau akan menjalani sakit yang sangat parah untuk menangung bilahinya para makhluk. Sabdanya, “Aku telah di janji oleh Allah, agar nyawaku tidak melewati semua dagingku (daging harus musnah terlebih dahulu). Ketika Sayyidi Ahmad Al-Rifa’i sakit yang mengakibatkan kewafatannya, beliau berkata, “Sisa umurku akan kugunakan untuk menanggung bilahi agungnya para makhluk. Kemudian beliau menggosok-ngosokkan wajah dan uban rambut beliau dengan debu sambil menangis dan beristighfar . Yang dideritai oleh Sayyidi Ahmad Al-Rifa’i ialah sakit “Muntah Berak”. Setiap hari tak terhitung banyaknya kotoran yang keluar dari dalam perutnya. Sakit itu dialaminya selama sebulan. Hingga ada yang tanya, “Kok, bisa sampai begitu banyaknya yang keluar, dari mana yaa kanjeng syeikh. Padahal sudah dua puluh hari tuan tidak makan dan minum. Beliau menjawab, “Karena ini semua dagingku telah habis, tinggal otakku, dan pada hari ini nanti juga akan keluar dan besok aku akan menghadap Sang Maha Kuasa. Setelah itu ketika wafatnya, keluarlah benda yang putih kira-kira dua tiga kali terus berhenti dan tidak ada lagi yang keluar dari perutnya. Demikian mulia dan besarnya pengorbanan Aulia Allah ini sehingga sanggup menderita sakit menanggung bala yang sepatutnya tersebar ke atas manusia lain. Wafatlah Wali Allah yang berbudi pekerti yang halus lagi mulia ini pada hari Kamis waktu duhur 12 Jumadil Awal tahun 570 Hijrah. Riwayat yang lain mengatakan tahun 578 Hijrah.
Demikian sejarah riwayat hidup Syech Ahmad al-Rifa’i sebagai pendiri dari tarekat Rifa’iyah, semoga perjalanan hidupnya dapat kita jadikan contoh yang baik.
Langgan:
Catatan (Atom)